System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Duo Maut


__ADS_3

DUAR!


Ledakan itu begitu besar hingga membuat gelombang yang membuat semuanya yang berada di sana terpental beberapa meter termasuk Michelle dan Maximillian brother.


Ezra yang sempat meraih tangan Chloe langsung menarik gadis itu kepelukannya sebelum ledakan itu terjadi.


Asap dari ledakan mengepul ke udara hampir mencemari udara sekitar mereka.


Merasa sudah aman, Chloe perlahan bergerak di pelukan Ezra setelah beberapa detik memejamkan mata. Dia mendongak, Bertemu pandang dengan Ezra yang balik menatapnya. Mempertemukan netra biru sebiru samudra dan netra hijau emerland.


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya, Makasih sudah melindungiku pak,"


"Sudah tugasku sekarang,"


Ezra melepas pelukannya, Dia perlahan berdiri dan membantu Chloe ikut berdiri. Di sisi lain tak jauh dari mereka, Michelle dan Maximillian brother berdiri kecuali Revan, Ash, dan Azura yang dekat dengan tempat ledakan, Mereka tampak terluka parah.


"Ash, Azura, Revan! Kalian terluka!" Rafael mendekati adik-adiknya berusaha tidak terlihat panik meskipun jantungnya berdegup kencang merasa cemas. Dia membantu Ash untuk duduk.


Ivy ikut membantu Revan sedangkan Leo membantu Azura. Xavier berdiri sambil mengibaskan tangannya menghalau asap yang sempat terhirup membuatnya terbatuk kecil.


"Uhuk!...Uhuk!...,"


"Kak, Aku akan menelpon Kenzo dan ambulan. Mereka terluka parah," Kata Vallen memegangi pundak Xavier agar berdiri tegak.


"Cepatlah! Mereka butuh bantuan," Suaranya yang menjadi serak akibat tak sengaja menghirup asap ledakan membuatnya agak kesulitan bernapas dan merasa tenggorokannya kering, Xavier kembali terbatuk beberapa saat.


Sedangkan Vallen bergegas menelpon Kenzo untuk meminta pertolongan. Berbeda dengan Alex, Dia bergegas mendekati Ezra dan Chloe memastikan keduanya baik-baik saja.


Tap! Tap! Tap!


"Kalian berdua baik-baik saja?"


"Seperti yang kau lihat," Balas Ezra setelah Alex sampai dihadapan mereka.


"Tidak apa kak Alex, Aku dan pak Ezra tidak terluka sedikit pun kok," Chloe tersenyum tipis, Menenangkan Alex.


"Yosh, Baguslah,"


"Dari pada mengkhawatirkan kami, Lebih baik kau urusi mereka, Luka mereka lebih parah," Ezra memandang Ash, Azura, dan Revan. Ketiganya tampak mengerang kesakitan.


"Kak Vallen sudah menelpon kak Kenzo dan ambulan tadi, Kita hanya perlu menunggu,"


"Tapi mereka tidak bisa menunggu terlalu lama, Kalau luka separah itu tidak segera ditangani maka bisa mengancam nyawa. Apalagi radiasi dari ledakan tadi sangat besar, Itu bisa berpengaruh ke kesehatan," Jelas Chloe.


"Lalu apa yang harus kita perbuat?! Kita tidak bisa melakukan apapun! Tidak ada pertolongan pertama disini!" Alex menatap kesal, Pasalnya dia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa.


"Biar kucoba,"


Chloe bergegas menghampiri Revan, Ash, dan Azura yang sedang dipangku Rafael, Ivy, dan Leo. Dia berjongkok dan mengarahkan tangannya ke luka Ash.


"Apa yang kau lakukan?! Jangan coba-coba lakukan sesuatu pada Ash!" Peringat Rafael dingin, Namun di acuhkan oleh Chloe.


"Akan kucoba menyembuhkan mereka, Kekuatan ku mungkin hanya bisa mengurangi rasa sakit dan menyembuhkan luka luar. Setidaknya aku akan memberi pertolongan pertama sebelum lukanya semakin besar," Jelas Chloe serius. Perlahan kedua telapak tangannya memunculkan cahaya hijau, Mengarahkan healingnya ke luka Ash.


"Astaga! Aku tidak percaya apa yang terjadi di depanku," Leon menatap kaget begitu pun dengan yang lain (Kecuali Ezra dan Ivy).


"Kekuatan macam apa itu?!" Leo menunjuk kaget.


"Healing," Balas Chloe masih fokus menyembuhkan Ash.


Perlahan-lahan Ash merasa lukanya mulai membaik meski tidak sepenuhnya sembuh karna dia juga merasakan sakit dari luka di dalam tubuhnya karna radiasi dari ledakan itu.


WWUUSSHH!

__ADS_1


Tiba-tiba angin kencang muncul di sekitar mereka, Beberapa kelopak bunga lily beterbangan entah berasal dari mana. Tiga buah pipa runcing muncul dari arah danau dan meluncur cepat ke arah Chloe yang sibuk menyembuhkan Ash.


DOR! DOR! DOR!


Ezra menyadari hal itu dan bergerak cepat menghancurkan ketiga pipa runcing tersebut dengan pistolnya sebelum mengenai Chloe, Mengakibatkan ketiga pipa runcing hancur lebur.


"Datang dari mana pipa-pipa itu?!" Alex lantas bersiaga bersama Leon, Xavier, dan Vallen.


"Sepertinya dari arah danau, Ledakan tadi juga berasal dari danau," Kata Ezra serius, Dia menyiapkan peluru-peluru dalam pistolnya. Mengisinya kembali.


"Ada yang tidak beres di danaunya, Tetap siaga!" Kata Xavier menyiapkan pistol.


Xavier, Vallen, Leon, Alex, dan Ezra yang tersisa bersiaga kalau-kalau ada serangan mendadak, Setelah menyembuhkan Ash, Chloe beralih ke Azura. Sejak tadi dia merasakan jam arlojinya bergetar dan terus menampilkan tanda peringatan jika mereka sedang dalam bahaya.


KRAK!


WWUUSSHH!


Kemunculan rantai-rantai yang bergerak dari danau membuat semuanya terkejut, Rantai-rantai itu bergerak cepat dan menarik Ivy dari tempatnya. Melilit erat pemuda bersurai ungu itu agar tidak memberontak.


"Ah! Tolong!" Teriak Ivy saat dirinya ditahan oleh rantai-rantai yang mengikat tubuhnya.


"IVY!" Rafael, Leo, dan Leon menatap panik. Ash ingin bergerak menolong Ivy, Namun tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama, Dia tidak bisa bergerak meski Chloe sudah menyembuhkan lukanya.


kelopak bunga lily semakin beterbangan mengikuti arah angin, Dan kelopak-kelopak itu berhenti di suatu tempat dekat danau. Berkumpul menjadi satu dan membentuk dua sosok yang sangat Chloe dan Ezra kenali. Liam dan Vivian, Mereka datang.


Liam menarik rantainya yang mengikat tubuh Ivy, Mendekatkan Ivy ke arahnya. Sejenak Liam mengendus aroma yang terpancar dari pemuda bersurai ungu itu yang seketika membuat Ivy merasa geli sekaligus jijik saat Liam mengendusnya.


"Manusia, Aroma nya manis,"


"Hohoho, Tentu saja Liam. Aku tidak akan salah pilih mangsa untukmu," Vivian tertawa kecil menepuk pundak bawahannya itu, Dia mengulurkan tangannya mencengkeram dagu Ivy. Ivy hanya bisa gemetar ketakutan.


"Bukankah boneka ku ini terlalu cantik untuk menjadi manusia?" Vivian menunjukkan seringainya, Membolak-balikkan wajah Ivy, Sesaat dia mengusap pipi tirus itu.


"Lepaskan Ivy! Ini tidak sesuai perjanjian kita!" Bentak Revan, Meski menahan sakit akibat luka yang diterimanya. Dia tetap berusaha berdiri, Perlahan melangkah menghadap Vivian dan Liam dengan tertatih.


Chloe lantas berdiri dan menghampiri Ezra. Berdiri disamping pria itu, Dia menyiapkan pedangnya sambil menatap waspada.


Vivian menatap remeh Revan dihadapannya. "Perjanjian apa? Kau sudah babak belur begini masih mengingat perjanjian itu? Jangan mimpi! Aku menyuruhmu hanya menculik gadis itu, Bukan bertarung dengannya!"


Netra Revan melebar mendengarnya, Dia mengepalkan tangan. "Tapi kau bilang waktu itu jika aku membunuhnya, Aku akan mendapat kepercayaan keluargaku lagi. Gadis itu sejak awal adalah penyebab semua masalah yang terjadi di keluarga kami!"


"Sejak kapan aku bilang kau boleh membunuhnya?! Kau itu hanya pion bagiku, Kalau pun kau mati aku tidak akan peduli!" Balas Vivian angkuh, Dia melangkah beberapa meter dihadapan Revan. "Mudah sekali kau ku bohongi,"


Revan terkejut setelah mengetahui fakta bahwa Vivian hanya menjadikannya pion, Bahkan wanita itu juga tidak peduli jika dia mati. Padahal wanita itu sendiri yang mengajaknya masuk kelompok Red Devil. Tangan Revan semakin terkepal, Dia menatap marah Vivian yang menyerigai.


Kemudian dia menyiapkan pisaunya, Tidak peduli dengan tubuhnya yang penuh luka. Revan berlari dan menyerang Vivian. Dia menghunuskan pisau itu tapi sebelum mengenai Vivian yang berdiri tenang. Sebuah rantai bergerak dan menghempaskan Revan hingga membuat Revan terpental beberapa meter, Punggungnya menabrak batang pohon.


BRAK!


"REVAN!"


Rafael sontak berdiri dan menatap marah Liam dan Vivian. "Beraninya kalian melukai adik-adikku!"


Pria bersurai coklat itu langsung berlari ingin menyerang Liam, Namun rantai Liam kembali bergerak dan menghempaskan tubuh Rafael hingga Rafael ikut terpental. 


Vivian tertawa karna tidak ada yang bisa melukainya, Pandangannya dia alihkan ke Chloe yang masih bersiaga dengan pedangnya, Menyerigai sinis. "Kau lihatkan Chloe? Tidak ada yang bisa mengalahkan kami berdua. Sekarang bagaimana menurutmu hm...?"


Chloe menatap tajam, Genggaman di pedangnya mengerat. "Kalau kau ingin menyelesaikan masalah kita, Selesaikan berdua! Jangan libatkan mereka!"


"Pfftt!...Siapa yang melibatkan?" Vivian menahan tawa. "Mereka sendiri yang ingin ikut campur, Jadi mereka harus menerima konsekuensinya. Kau lihat sendiri kan Revan Michelle? Dia ingin menghancurkanmu tapi dia sendiri tidak mampu melakukannya kalau aku tidak menghasutnya lebih dulu. Sekarang dia pun sama sekali tidak berguna,"


"Chloe tolong!" Ivy menatap memelas pada Chloe, Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis. Liam menatap datar Ivy sesaat, Sebelum mendekatkan wajahnya ke leher Ivy.


"Tidak! Jangan lakukan itu!" Teriak Revan, Dia berusaha berdiri dan ingin meraih Ivy yang sudah tertangkap. Namun tubuhnya seperti remuk tak bisa digerakkan.

__ADS_1


WUUSSHHTT!


PRANG!


BRUK!


Memakai teleportasinya Chloe sudah berada disamping Liam dan memotong rantai-rantai yang mengikat Ivy secepat kilat, Membuat Ivy terlepas dari cengkeraman Liam dan  jatuh ke tanah. Sadar mangsanya lepas, Liam menatap tajam Chloe. Dia mengayunkan senjata cakarnya itu.


WUUSSHHTT!


TRANG!


Ezra secepat kilat menahan serangan Liam dengan pipa besi, Melindungi Chloe dan Ivy. Sedangkan Vivian manatap marah, Dia memunculkan pedangnya yang pernah digunakan Chloe saat Holy masih bersama Chloe. Wanita bernetra merah itu mengayunkan pedangnya pada Chloe.


TRANG!  TRANG!  TRANG!


Keduanya bertarung sengit menangkis serangan satu sama lain, Ezra dan Liam juga bertarung tak jauh dari sana. Vivian mengepalkan tangannya dan memukul Chloe, Membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Tanpa membuang waktu, Vivian terus melancarkan serangan bertubi-tubi.


Ivy yang sudah lepas dari cengkeraman Liam lantas mundur dan berlari menjauhi area pertarungan. Menghampiri Revan yang sudah tak bisa bergerak karna mendapat luka yang sangat parah.


Disisi Xavier dan Vallen, Keduanya fokus untuk membidik Liam dan Vivian. 


"Bidik yang benar, Jangan sampai mengenai Chloe dan temannya," Kata Xavier serius.


"Tentu saja, Aku gak sepayah itu dalam membidik," Vallen tersenyum. Kedua nya kembali fokus sebelum menembakkan pelurunya.


DOR!  DOR!  DOR!


Suara tembakkan bergema diiringi aroma asap bubuk mesiu disana. Tembakkan Xavier berhasil menembus perut Vivian, membuat Vivian menghentikan serangan disana. Tangan lentik itu tampak gemetar, Menyadari kesempatannya. Chloe langsung menebaskan pedang ke tubuh Vivian, Membuat luka baru yang sangat dalam di tubuh serta pundak Vivian.


CRRAASS!


BUAK!


Vivian terpental beberapa meter setelah diiringi pukulan Chloe, Gadis itu berdiri perlahan dengan gemetar. Mengusap kasar keringat yang membasahi wajahnya, Napas Chloe tampak tak beraturan.


Sedangkan tembakkan Vallen meleset karna Liam sempat menangkisnya.


Vivian berdiri, Dia menggengam pedangnya lalu menoleh menatap Xavier dan Vallen. Membuat kedua pria itu menatap kaget, Tidak menyangka Vivian masih bisa berdiri setelah terkena tembakkan yang menembus perutnya. 


"Hee? Akurat juga tembakan kalian, Nyata nya aku jadi semakin bersemangat untuk bertarung. Tapi sayang peluru ini tidak mempan dan kalian hanyalah tikus pengganggu," Vivian Menyerigai, Dia mengarahkan tangannya ke arah Michelle dan Maximillian brother yang berkumpul.


Sebelum terjadi sesuatu pada keluarga angkatnya, Chloe langsung menebas tangan Vivian , Yang membuat tangan itu terpotong seketika.


CCRRAASS!


"Arrrgghh!"


Vivian jatuh memegangi tangannya yang mengeluarkan darah segar, Liam yang menyadari Vivian sedang kesakitan langsung menyerang Ezra dan membuat pria itu terpental jauh. Dia menggunakan teleportasinya untuk menyerang Chloe.


TRANG!


Chloe menangkis, Mempertahankan serangannya agar cakar Liam tidak menggores tubuhnya.


Disaat pertarungan itu terjadi, Kenzo baru datang bersama Al, Ray, dan Elizabeth. Mereka mendekat dengan panik setelah melihat Revan yang terluka dan Azura yang pingsan. Sedangkan Ash masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.


"Apa yang terjadi disini?!" Tanya Kenzo kaget.


"Revan, Ash, dan Azura terluka parah. Mereka butuh pertolongan pertama," Kata Rafael yang mengalami luka ringan, Dia hanya terbentur tanah tadi karna hempasan Liam.


"Aku sudah memanggil ambulan, Mereka akan menyusul beberapa menit lagi," Kenzo bergegas membuka kotak P3K miliknya, Dan memberi pertolongan pertama pada Revan, Ash, dan Azura.


"Itu bukannya Pak Ezra dan Chloe?" Al memperhatikan pertarungan Ezra dan Chloe dari jauh. Tampaknya Chloe tersudut oleh serangan Liam.


Ray yang melihat adiknya tampak kewalahan menghadapi Liam membuat nya cemas sekaligus panik.

__ADS_1


"CHLOE!"


TBC


__ADS_2