System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Pak Ezra


__ADS_3

Tidak ada yang istimewa di hari Mos terakhir Chloe, Hanya ada pertunjukkan dari beberapa Club untuk para mahasiswa yang berminat mengikuti salah satu Club. Untungnya Universitas ini tidak mewajibkan setiap mahasiswa untuk mengikuti Club apapun.


Tapi masalahnya Chloe sama sekali gak punya teman yang sejurusan dengannya, Bahkan sejak hari pertama mos.


Usai hari mos ketiga selesai, Dia bergegas pergi naik taksi menuju kantor Justin.


****************


[Kantor]


"Chloe, Selamat kau sudah menyelesaikan misimu. Hadiahnya sudah dikirim dan selama beberapa hari kedepan aku akan pergi ke tempat Program untuk revolusi. Jadi selama itu kau tidak bisa pakai mode apapun," Jelas Holy yang terbang di samping kepala Chloe.


"Hm...Kapan perginya?" Balas Chloe dalam hati sambil meletakkan minuman salah satu karyawan di meja.


"Ini minumannya kak," Kata Chloe ramah pada karyawan yang sedang bekerja itu.


"Oh, Iya makasih," Karyawan itu hanya mengangguk, Matanya masih fokus menatap layar komputer.


"Sekarang, Jadi selama aku pergi. Chloe harus berusaha sendiri ya," Holy menepuk-nepuk pundak Chloe sambil tersenyum lebar.


"Oke, Hati-hati," Balas Chloe tersenyum tipis, Menjauhi meja karyawan itu. Dia memegangi nampannya dengan erat.


"Iya, Bye bye,"


Holy pun menghilang setelah melambai kecil pada Chloe sebelumnya. Sejujurnya Chloe sedih karna Holy pergi lagi, Namun apa boleh buat hal itu untuk meningkatkan kekuatan Holy juga.


Setelah kepergian Holy Chloe kembali melanjutkan langkah santainya menuju ruang Staff sebelum itu dia mengembalikan nampan dulu ke kantin kantor.


Chloe berniat naik lift, Namun seorang karyawan laki-laki mendekat padanya sambil membawa sebuah kardus di dekapannya.


"Hei! Kau, OG yang disana!" Panggil karyawan itu pada Chloe.


"Ya, Pak? Ada apa?" Tanya Chloe sambil berbalik menatap karyawan itu.


"Nih, Tolong antar ke ruangan itu ya. Saya harus buru-buru soalnya," Kata karyawan itu sambil menyodorkan kardus besar tersebut. Dan menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan.


"Siap Pak," Chloe menerima kardus itu dan bergegas pergi menuju ruangan yang dimaksud.


CKLEK!


Suhu yang lembab serta debu-debu yang berterbangan membuat Chloe agak terbatuk-batuk saat masuk dalam ruangan itu. Dia menatap sekelilingnya yang dipenuhi kursi atau meja kantor yang sudah rusak dan beberapa rak berkarat.


Perlahan Chloe mendekati salah satu meja lalu meletakkan kardus tersebut di atasnya, Dia tak tahu isi kardus itu tapi yang penting dia sudah mengantarnya.


"Tempat ini lebih mirip gudang, Banyak sekali kursi dan meja kantor yang sudah rusak," Pikir Chloe masih memandang sekelilingnya.


Tak lama netra birunya tak sengaja menangkap beberapa kertas yang tergeletak di atas salah satu meja. Chloe segera mendekati salah satu meja tersebut, Memeriksa tulisan dari kertas itu.


"Apa kertas ini milik salah satu karyawan kantor? Tampaknya masih baru, Tulisannya juga bagus banget," Pikir sang gadis sambil meraih kertas itu dan membolak-balikkan kalau-kalau terdapat tulisan lainnya lagi di kertas itu.


Sampai akhirnya Chloe menemukan nama pemilik kertas di bagian atas kertas tersebut.


Ezra Miracle


"Hee? Kertas ini milik Pak Ezra!?" Kata Chloe agak terkejut, Setelah membaca nama sang pemilik kertas.


"Kukembalikan saja deh, Mungkin Pak Ezra masih butuh kertas ini. Kayaknya penting," Gumam nya lagi sambil berjalan keluar dari ruangan itu. Mencari keberadaan Ezra.


***************


[Di sisi lain]


"Ck! Dimana kertas itu!? Sudah kucari-cari malah gak ketemu, Dasar OB gak guna! Udah tau kertas itu penting, Malah dihilangin," Gerutu Ezra kesal sambil mencari-cari sesuatu diantara berkas-berkas yang menumpuk.


Sesekali dia beralih mencari di laci meja kerjanya, Berharap kertas itu hanya terselip diantara barang-barang berharganya. Namun nihil, Kertas itu tak kunjung ditemukan.


Ezra bahkan sempat mencari di lantai tapi kertas itu juga tak berada disana. Dia sudah mencari di seluruh penjuru ruang kerjanya, Namun tampaknya tak berada di sana.


"Hah~...Dimana kertas itu hilang!?" Kata Ezra menghela napas gusar sambil mengacak pelan surai hitamnya. Sejenak dia duduk di kursinya, Sekedar menghilangkan rasa letih usai mencari kertas penting itu beberapa menit.


Dia termenung beberapa detik, Sesaat netra hijau emerland nya melirik ruang kerja Justin dari balik kaca. Disana tampaknya Justin sangat serius dalam bekerja, Terbukti netra orange sang pemuda tak lepas dari layar laptop nya.


Seketika Ezra merasa rasa letihnya menguap entah kemana hanya dengan memandang Justin dari balik kaca, Dia senang namun juga merasa cemas dengan keadaan Justin.


"Tuan Justin akhir-akhir ini terlalu memaksakan diri untuk lembur, Apa dia tidak merasa lelah? Kurasa aku harus meminta nya istirahat walau cuma sebentar," Pikir Ezra cemas sambil meranjak dari duduknya. Dia segera keluar dari ruangannya dan mengetuk pintu ruangan Justin.


TOK! TOK! TOK!


"Tuan Justin, Ini aku,"

__ADS_1


"Masuklah,"


Mendengar sahutan dari dalam, Ezra segera membuka pintu dan mendekati Justin hingga berhadapan dengan meja pemuda bernetra orange itu.


CKLEK!


TAP! TAP! TAP!


"Ada apa Ezra?" Justin mendongak menatap Ezra yang berhadapan dengannya.


"Maaf mengganggu pekerjaan anda sebelumnya Tuan Justin, Tapi saya perhatikan sejak tadi anda tidak beristirahat sama sekali. Jadi tolonglah istirahat dulu Tuan, Saya khawatir penyakit anda akan kambuh," Kata Ezra cemas.


Justin terdiam sesaat, Lalu dia tersenyum tipis. Melepaskan kacamata yang dipakainya, Dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Ezra, Kuakui kau peduli padaku. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku semenit saja, Lagipula tinggal sedikit lagi akan selesai,"


Ezra mengerutkan alisnya, Merasa tak senang jika Justin mulai keras kepala. "Tapi Tuan, Bagaimana kalau nanti anda kambuh lagi?"


"Semua akan baik-baik saja, Aku juga punya obat penangkalnya. Kau tidak perlu khawatir Ezra," Kata Justin masih tersenyum tipis. "Lagipula ruanganmu berada di samping ruanganku, Jadi kalau terjadi apa-apa aku bisa memanggilmu,"


"Hah, Baiklah Tuan. Tapi ingat kalau sudah selesai langsung istirahat," Nasihat Ezra sambil menghela napas sesaat, Pasrah dengan keras kepala Justin.


"Baiklah, Sikapmu mirip seperti ibuku saja Ezra," Justin terkekeh kecil yang membuat Ezra Merona tipis, Untungnya tidak disadari Justin.


"Saya hanya mengingatkan saja Tuan, Ibu anda dulu pernah berpesan ke saya untuk selalu memperhatikan anda," Jelas Ezra sedikit malu namun dia tetap bersikap formal seperti biasa.


"Baiklah, Baiklah. Tolong pesankan aku pizza sebelum kau pergi ya Ezra," Pinta Justin sebelum kembali pakai kacamatanya untuk mengerjakan sisa tugasnya yang belum selesai.


"Baik Tuan,"


Ezra segera memesan Pizza seperti perintah Justin, Setelahnya dia pamit pada atasannya itu sebelum kembali mencari kertas pentingnya.


*******************


Ezra menekan tombol lift menuju lantai 5, Berniat mencari kertas miliknya disana. Sesaat netra hijau emerland nya terus menatap pintu lift.


TING!


Pintu lift perlahan terbuka setelah sampai di tujuan Ezra, Ezra berniat keluar dari sana. Namun pemandangan Chloe yang ingin masuk lift lah pertama kali dia lihat. Gadis itu tampaknya juga terkejut karna bertemu secara kebetulan di lift.


"Ck! Kenapa aku harus ketemu si tengil ini disini!?" Pikir Ezra kesal, Dia menatap datar Chloe yang berada dihadapannya.


Belum sempat Chloe menyelesaikan kalimatnya, Ezra langsung menekan tombol lantai 8 di dalam lift tanpa ekspresi. Bahkan sebelum Chloe masuk, Pintu lift itu sudah perlahan menutup.


"Pak! Pak Ezra! Tunggu Pak!" Chloe berusaha menahan pintu lift agar tak menutup, Namun sayangnya dia terlambat pintu itu sudah menutup sepenuhnya membawa Ezra ke lantai lain.


Berbeda dengan Ezra yang menghela napas lega, Dia kembali menunggu lift sampai di tempat tujuannya lagi.


"Dasar! Si tengil itu selalu berada dimana-mana, Menggangguku saja!" Gerutu Ezra sambil mendengus kecil. Untuk sementara Ezra memutuskan mencari kertasnya di lantai lain, Dia tak mau harus bertemu dengan Chloe.


TING!


Tak lama lift sampai di lantai 8, Ezra melangkah tenang keluar lift. Dia menoleh ke salah satu ruangan, Berjalan melewati beberapa pintu sambil netranya sesekali melirik nama yang tertera di papan atas pintu.


Hingga tiba-tiba suara timer lift yang terdengar Menghentikan langkahnya.


TING!


"Pak Ezra! Tunggu Pak!"


Ezra melotot dia hapal betul suara di belakangnya, Refleks Ezra menoleh dan menemukan Chloe berlari kecil keluar dari lift menghampirinya dengan sebuah kertas di tangan sang gadis.


"Sial! Bocah itu mengikutiku," Pikir Ezra jengkel, Sontak dia berlari menjauhi Chloe yang mengejarnya.


"Pak! Berhenti!"


TAP! TAP! TAP!


Ezra mengacuhkan teriakan Chloe, Dia tetap berlari menghindari sang gadis. Pikirannya hanya terfokus mencari tempat sembunyi yang aman dari kejaran Chloe.


Alhasil Ezra sama Chloe main kejar-kejaran ala india, Saking gak maunya Ezra diikutin sama Chloe. Sesampainya di tikungan, Dia segera berbelok dan sembunyi di antara tumpukan kardus.


"Semoga di sini aman dari Si tengil itu," Pikir Ezra penuh harap.


Sedangkan Chloe langsung berhenti mengejar Ezra saat sampai ditikungan. Menyadari dia kehilangan jejak Ezra.


"Eh? Kemana Pak Ezra? Larinya cepat sekali, Padahal aku cuma mau ngembaliin kertas ini," Chloe menatap kertas di tangannya, Menghela napas lelah sesaat.


"Mungkin lebih baik aku letakkan saja di ruangan Pak Ezra," Gumam Chloe sambil berbalik, Berniat pergi menuju ruangan Ezra.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja Ezra sudah berada di sampingnya sambil memegangi sebuah kantong plastik hitam besar, Pemuda itu tampak mengangkat tinggi-tinggi kantong plastik tersebut.



"Jadi ternyata benar kau dari tadi mengikutiku!" Kata Ezra kesal sambil mengayunkan plastik itu.


Sontak Chloe menoleh mendengar suara Ezra disampingnya, Netra birunya membulat saat kantong plastik besar itu mengenai tubuhnya.


"GGYYAA!"


SRUK!


"Hmph...Rasakan ini, Macam-macam denganku! Aku akan membuangnya setelah ini," Pikir Ezra licik, Setelah berhasil menangkap sang gadis dengan kantong plastik itu.


Tapi perlahan senyum liciknya memudar menyadari bahwa rencananya tidak semulus yang dia pikirkan.


"Huh?" Ezra mengerutkan alisnya tak senang.



Yap, Kantong plastik itu jebol yang membuat tubuh sang gadis tidak terperangkap sepenuhnya. Sedangkan Chloe sendiri hanya bisa specheless dengan penuh tanda tanya di kepalanya.


"Ano...Ini maksudnya apa ya Pak?" Kata Chloe bingung karna kini tubuhnya terperangkap di kantong plastik.


Ezra menggeram kesal, Dia mencengkeram kedua pundak Chloe kencang hingga membuat sang gadis meringis menahan sakit.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu! Kenapa kau mengikutiku dari tadi hah!?" Bentak Ezra marah.


"Itu...Saya hanya ingin menyerahkan kertas ini, Saya pikir kertas ini mungkin penting buat bapak," Kata Chloe susah payah menyerahkan kertas di tangannya.


Sesaat Ezra terdiam, Dia mengambil kertas tersebut lalu membaca isi nya secara perlahan.


"Ini kertas penting yang kucari-cari sejak tadi. Bagaimana bisa kertas ini berada di tangannya?" Pikir Ezra agak terkejut tapi dia kembali berekspresi datar.


"Dimana kau menemukan kertas ini?"


"Di gudang Pak, Saat saya meletakkan kardus,"


Ezra kembali melirik Chloe sesaat, Lalu dia merobek kantong plastik yang digunakan untuk menangkap sang gadis tadi.


"Udah lepas tuh, Urusi kerjaanmu sana!" Kata Ezra ketus, Berbalik melangkah pergi meninggalkan Chloe.


"Pak Ezra," Panggilan dari Chloe membuat Ezra berhenti melangkah sesaat, Namun sang pria tidak menoleh sama sekali.


"Apa bapak masih benci sama saya?" Tanya Chloe was-was, Menatap punggung Ezra yang membelakanginya.


Sejenak Ezra terdiam, Ekspresinya tetap datar tanpa menoleh. "Mau aku benci atau tidak, Bukan urusanmu. Yang pastinya di mataku kau hanyalah pengganggu di Asrama,"


Ezra melangkah pergi meninggalkan Chloe yang terdiam mematung, menaiki lift menuju ruangannya.


**************


[Ruangan Ezra]


TAP! TAP! TAP!


CKLEK!


Ezra membuka pintu ruangannya, Dia menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Merasa agak lelah karna berlari tadi.


Kemudian netranya tak sengaja menangkap sebuah kantong plastik hitam di mejanya, Dengan penasaran Ezra membuka kantong plastik itu dan menemukan potongan kue Rasberry.


"Kue?"


Sejenak Ezra terdiam penasaran siapa yang memberikan potongan kue itu padanya, Didalam plastik itu juga terdapat sebuah kertas berisi tulisan seseorang.


...Kue Rasberry ini untuk bapak, Aku membuatnya sendiri. Semoga Pak Ezra suka, Selamat menikmati Pak....


"Hah? Siapa sih yang bikin nih kue!?" Ezra mendengus bingung usai membaca tulisan tersebut tanpa nama pengirim.


Dia mengambil sendok yang sudah tersedia dalam plastik itu dan mencicipi kue tersebut. Masa bodo dengan pengirimnya, Toh kue itu memang ditujukan untuknya.


"Kue nya enak sekali," Gumam Ezra agak senang saat sudah mencicipi kue tersebut, Sudah lama juga dia tak makan kue Rasberry. Dia memakannya dengan lahap, Menikmati rasa rasberry di kue tersebut.


Sedangkan disisi lain, Chloe mengintip ruangan Ezra dan Justin dari balik tembok agar tak ketahuan, Meski Chloe tahu Ezra benci padanya. Namun Chloe tetap senang mengetahui Ezra makan kue buatannya dengan lahap.


"Pak Ezra makannya lahap sekali, Syukurlah kalau Pak Ezra suka kuenya. Dan Pak Justin tampaknya juga suka kue buatanku. Baguslah kalau mereka berdua menyukainya," Pikir Chloe senang.


Setelah memastikan beberapa saat dia kembali melanjutkan kerjaannya yang tertunda.

__ADS_1


TBC


__ADS_2