System Prince Charming

System Prince Charming
L I M A |Berkunjung|


__ADS_3

Wanita paruh baya yang bernama Lina itu mengajak Freya masuk dan duduk di ruang keluarga, sedangkan ia menuju dapur membuatkan Freya minuman dan mengambil cemilan.


Freya tak mengikuti ucapannya dan malah mengikuti Lina dari belakang.


Tadi Lina sempat terkejut keponakan satu-satunya berada di depan rumahnya. Sempat berbicara, Freya menjelaskan bahwa ia ke kota itu sendirian untuk melanjutkan study nya.


Saat itu juga Lina menghela nafas.


*Gadis penurut ini sangat lemah lembut dan pemalu, bagaimana bisa dia pergi sendirian tanpa seseorang pun yang menemaninya, *pikirnya Lina.


Sekarang dirinya berada di dapur dengan Freya yang membantunya menyiapkan minuman dan cemilan. Setiap tindakan kecil Freya membuat ia tersenyum.


*Gadis ini selalu berperilaku baik, *pikirnya lagi.


Sampai di ruang keluarga, Freya menaruh nampan di meja sebelum duduk. Sebenarnya ia sangat haus sekarang, hanya saja ia tak mau berprilaku tak sopan.


Freya tak menyadari bahwa semua pikirannya tertuang di ekspresi wajahnya. Lina yang memperhatikan menepuk kepalanya. Berpikiran sama dengan Agam, gadis itu benar-benar sangat menggemaskan.


[Ding! Skill pengendali emosi naik tingkat lv.2]


"Minumlah, kamu pasti haus," ucap Lina tersenyum lembut.


Senyum sumringah terpancar di wajah Freya. Ia mengambil es jeruk yang dibawanya tadi. Menjadi lebih lega, dahaga di tenggorokannya yang tadi menyiksa telah hilang.


"Kenapa kamu tidak memberitahu om dan tante?" tanya Lina setelah Freya meneguk habis minumannya.


"Kejutan," senyum indah terbit di bibirnya.


"Lalu kamu tinggal dimana?"


"Apartemen L'anueve tante," terlihat Lina mengangguk.


"Hm. Itu apartemen terbaik di kota ini, syukurlah Rendy memilih apartemen terbaik di kota ini. Kamu sudah mengenal lingkungan disana?"


Freya mengangguk ribut. "Aku sudah berkeliling di sekitar apartemen sebelum kemari,"


Untuk pertama kali baginya memakan makanan siap saji, seperti kemarin. Dirumah, Rendy selalu menjaga pola makannya oleh karena itu ia tak diperbolehkan memakan makanan siap saji.


Ia juga tak lupa membeli cemilan di supermarket dekat apartemen. Jaga-jaga ketika ia ingin mengemil sesuatu.


Lagi-lagi pikirannya dituangkan lewat ekspresinya. Lina tertawa, sepertinya keponakan satu-satunya ini telah mencoba banyak hal baru yang tak pernah dilakukan dirumah akibat kekangan Rendy, adik kandungnya itu.


"Oh iya tante, Om Herry, Kak Lian, dan Kak Jenneth mana?" sepertinya Freya terlalu asik berbincang dengan tante nya sampai melupakan Om dan kakak sepupunya.


"Herry dan Lian sedang bekerja di kantor, sedangkan Jenneth tinggal di apartemennya sendiri. Dia sudah tak tinggal disini. Kalau kamu butuh bantuan bisa ke apartemen Bluee's untuk menemuinya,"


Freya mengangguk mengerti.


"Aku pulang,"


Suara bariton yang seksi terdengar disaat keduanya melanjutkan perbincangan membuat Lina dan Freya menoleh ke asal suara.


Mereka segera berdiri dari duduknya. Dapat Freya lihat sesosok pemuda tampan itu berjalan kearahnya.


Sejak memasuki ruang tamu, Lian langsung mengenali Freya adik sepupu kesayangannya yang sedang duduk bersama ibunya.


"Hei Yaya," sapa nya mengacak rambut Freya halus. Lian memang selalu memanggil Freya sama seperti Rendy. Panggilan kesayangan katanya.

__ADS_1


"Kak Lian! Rambutku jadi acak-acakan," ucap Freya cemberut. Segera ia menyingkir dari hadapan kakak sepupunya itu bersembunyi dibelakang Lina.


Freya mengintip dari belakang Lina.Freya termasuk pendek di keluarga apalagi jika dibandingkan kakak sepupu laki-lakinya mungkin ia hanya sebatas dada Lian.


"Yaya untuk apa bersembunyi dariku? Kemarilah~" ucap Lian lembut sambil merentangkan tangannya minta dipeluk.


"Tidak mau! Kak Lian pasti akan memelukku dan mengacak rambutku seharian,"


Freya teringat saat terakhir kali bertemu, Lian memeluknya terus sampai akhirnya ia tertidur karena lelah memberontak dari pelukan erat kakak sepupunya itu.


"Ah! Dada ku sakit saat Yaya mengucapkan itu. Padahal aku hanya merindukan Yaya kecilku saja," Lian berkata sambil memegang dada dramatis.


Siapa yang akan mengira pemuda cuek yang dikenal banyak orang akan bertingkah kekanakan didepan adik sepupunya.


"Eh? Kak Lian kenapa? Kak Lian sakit? Ayo kerumah sakit," sayangnya adik sepupunya ini tidak tau arti dari candaan yang Lian berikan malah menjadi panik. Inilah yang dinamakan polosnya kebangetan.


Freya yang panik segera keluar dari belakang Lina dan menghampiri Lian.


"Tertangkap," Lian segera memeluk Freya erat agar tak dapat kabur darinya.


Freya termenung sebentar, ia dibohongi.


Lian dan Lina hanya tertawa renyah. Mereka tidak pernah merasa bosan melihat Freya dan tingkah lakunya yang menggemaskan.


*


*


"Jadi Freya akan tinggal di kota X untuk melanjutkan study nya?" Herry bertanya setelah mendengar keseluruhan cerita.


Freya mengangguk membenarkan.


Herry memijat pangkal hidungnya.


Awalnya dia terkejut saat melihat Freya ke kota ini seorang diri tanpa pengawasan. Tak ayal ia khawatir pada keponakannya ini. Gadis kecil yang berani berjalan-jalan padahal baru dua hari berada di kota X.


Apalagi belum mengenal daerah dan pertama kalinya jauh dari rumah. Bagaimana jika ditipu atau bahkan diculik?


"Freya, jangan berjalan-jalan sendirian lagi. Itu berbahaya," tegur nya. Lina dan Lian nampak menyetujuinya.


Freya bisa menarik perhatian banyak orang secara alami. Bagaimana jika ada seseorang yang berniat jahat kepadanya saat dirinya sendirian?


"Baik. Maafkan aku, aku janji tak akan mengulanginya lagi," Freya menunduk sedih tak bisa berjalan-jalan mencoba hal-hal baru.


Herry yang melihat itu menghela nafas. Ia tak tega keponakannya sedih, tapi lebih tak bisa jika Freya berjalan-jalan sendiri tanpa pengawasan.


"Kalau kamu sudah mengenal lingkungan kota X dan bisa menjaga diri sendiri, kamu boleh berkeliling sendirian lagi. Untuk saat ini Om akan menyuruh Jenneth untuk menemanimu, bagaimana?"


Herry terpaksa harus membuat penawaran agar wajah sedih itu menghilang. Apalagi dengan tatapan tajam yang membuatnya berkeringat. Hey bukankah kalian juga menginginkan hal yang sama? Kenapa hanya aku yang disalahkan! batin nya berteriak.


Poor Om Herry.


Mendengar tawaran Herry, Freya mengangkat kepalanya bersemangat. "Baik Om, Freya janji," ucapnya bersungguh-sungguh.


Ketiganya hanya menampilkan senyum lembut. Akhirnya hilang sudah wajah sedihnya itu tergantikan dengan wajah secerah matahari menghangatkan siapa saja yang melihat.


"Hari ini Freya menginap saja ya? Besok tante akan panggil Jenneth untuk menemanimu,"

__ADS_1


"Iya, makasih tante," ucap Freya tulus.


*


*


Freya semalam tidur dikamar Jenneth. Lina menyuruhnya memakai kamar Jenneth dan barang-barang  yang berada dikamar. Karena tidak pernah dipakai lagi semenjak Jenneth pindah.


Setelah Freya bangun pagi-pagi untuk mandi dan memakai pakaian, ia turun ke lantai bawah menuju dapur untuk membantu membuat sarapan.


Walaupun dia putri pengudaha yang memiliki segalanya, dia tidak menjadi anak yang manja. Selalu bangun pagi untuk membuat sarapan adalah kegiatan sehari-hari Freya saat di rumah.


Apalagi Daddy nya hanya ingin memakan masakan buatan sang anak tercintanya. Jadi bisa dibilang memasak adalah hobby nya sejak dulu.


"Pagi tante," sapa nya yang melihat Lina sedang berkutat di dapur.


"Pagi, sayang. Kenapa bangun pagi sekali?"


"Aku sudah terbiasa bangun pagi," Walau ia bukan Freya yang asli, tapi kebiasaan tubuhnya kadang sulit dikendalikan olehnya sendiri. Jadi kadang apa yang tidak ingin ia lakukan, selalu diambil alih oleh tubuhnya.


"Biarkan aku membantu tante," pinta nya.


Lina hanya tersenyum, membiarkan Freya membantu menyiapkan sarapan.


Bisa dilihat keterampilan Freya sangat baik. Lina hanya melihatnya memasak. Freya berkata ingin membantu tapi LIna tidak dapat kesempatan untuk memasak.


Lina hanya bisa menggelengkan kepala. Keponakannya ini jika sudah memasak, dia tidak akan memperhatikan yang lain dan hanya fokus dengan kegiatannya.


Lina keluar dari dapur. Masakan sudah diambil alih Freya, dia hanya bisa menata meja makan.


"Selesai," Freya mengembangkan senyum, senang dengan hasilnya.


"Woah, sangat harum. Aku jadi lapar,"


Lian datang dari tangga lantai atas dan langsung duduk. Herry juga datang dan langsung duduk ditempatnya.


Lina segera mengambil tempat disamping sang suami sementara Freya duduk di samping Lian.


"Enak," Lia memuji masakan Freya sedangkan yang lain mengangguk mengiyakan.


"Freya yang memasak semua ini. Dia bilang ingin membantu, tapi aku bahkan tidak dapat kesempatan untuk memasak," Lina memberitahu suami dan anaknya, sedikit mengeluh.


Freya yang mendengar baru menyadari, ternyata dia memasak sendiri. Menggaruk tengkuk, dia tertawa canggung. Kebiasaan buruknya saat memasak kambuh.


Herry, Lina, dan Lian terkekeh geli. Gadis ini benar-benar tidak bisa membuat orang lain membencinya. Sudah baik, cantik, manis, lucu, penurut, rajin, bahkan bisa memasak makanan enak.


Fiks istri/menantu idaman. Batin mereka bertiga.


Tanpa tahu itu hanya muslihat~


Note : Selamat hari raya Idul Fitri! Minal a'idzin Wal fa'izin


Maaf jika author telat update dikarenakan sibuk dan juga ga mood buat ngetik.


Karena author lama update jadi chapter ini sengaja dipanjangin.


Jangan lupa like cerita ini supaa author mood untuk ngetik.

__ADS_1


See you^^


__ADS_2