
[Malam harinya, 12.00 A.M]
Setelah merasa berangsur-angsur pulih dari sakitnya (Mungkin juga karna bantuan dari pil penambah darah itu), Chloe mulai menjalankan rencana nya. Dia secara perlahan memasukkan semua barangnya dalam ransel. Pikirannya cuma satu yaitu pulang. Tak lupa Chloe juga menyimpan obat tersebut di laci nakas, Dia tidak perlu membawa obat itu pulang. Chloe juga tadi memutuskan untuk tidak ikut makan malam karna masih memikirkan rencananya.
Sedangkan Holy diminta untuk mengawasi lantai bawah kalau-kalau Ian atau anggota lainnya masih bangun atau terjaga. Setelah selesai, Holy bergegas melaporkan pengawasannya pada Chloe.
"Chloe, Di lantai bawah aman. Gak ada siapa-siapa, Di dapur sama ruang tamu juga kosong," Lapor Holy dengan semangat.
"Oke, Sekarang kita akan keluar secara mengendap-endap," Chloe memakai jaketnya lalu masker untuk menutupi wajahnya tak lupa menutupi kepalanya dengan tudung jaket, Terakhir memakai ranselnya.
Setelahnya secara perlahan dia membuka pintu kamarnya diikuti Holy, Sejenak Chloe memperhatikan kondisi di luar kamarnya tak lupa memastikan pintu kamar Ian masih tertutup rapat. Dia menduga sepertinya Ian sudah tidur.
Chloe pun secara berlahan menuruni anak tangga, Mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara.
***************
Di lantai dasar Chloe juga memastikan bahwa semua kondisi ruang tamu dan dapur aman, Sunyi, sepi, dan senyap tanpa seorang pun di bawahnya. Kesempatan yang bagus untuk Chloe lari.
Tangannya meraih gagang pintu Asrama, Membukanya secara berlahan. Namun sayangnya yang tidak diharapkan Chloe terjadi. Pintu itu ternyata terkunci, Sebisa mungkin Chloe berusaha Membuka pintu tersebut tapi tetap saja tidak mau terbuka.
"Holy, Apa kau bisa membuka kuncinya?" Kata Chloe dalam hati was-was, Takut kalau seseorang memergokinya kabur dari Asrama.
"Tunggu sebentar, Biar kuperiksa dulu,"
Holy mendekati pintu Asrama, Memproses dengan hologramnya. Sesaat Holy tersentak, Lalu menggeleng pelan.
"Maaf Chloe, Pintu ini dilengkapi dengan sistem pendeteksi suara. Jadi jika seseorang berniat keluar di atas jam 11.00 malam maka pintu ini akan membunyikan semua alarm yang ada di dalam Asrama," Jelas Holy menatap pintu tersebut dengan kecewa.
"Sial! Asrama ini ternyata memiliki sistem penjagaan yang ketat. Selain pintu depan, Seingatku masih ada pintu belakang penghubung antara dapur dan kebun serta hutan tapi kita harus melewati dapur terlebih dahulu," Bisik Chloe agar tak seorang pun mendengarnya.
"Kita coba saja, Semoga tidak ada siapa-siapa di dapur. Tapi kurasa tadi sudah kuperiksa jadi kurasa dapurnya aman,"
Chloe mengangguk, Kembali mengendap-endap memasuki area dapur. Tampaknya kali ini lampu dapur menyala, Tidak seperti kemarin lampunya mati. Jadi Chloe bisa melihat dengan jelas kondisi dapur.
"Baguslah disini sepi, Tapi aku baru sadar kalau dapur ini sangat bersih. Pasti yang jadi juru masak di sini sangat mementingkan kebersihan dapurnya," Pikir Chloe sempat terkagum dengan kondisi dapur saat itu.
"Chloe, Jangan melamun. Ayo cepat sebelum ketahuan," Tegur Holy menyadari Chloe sempat berhenti berjalan karna mengagumi kondisi dapur.
"Ah, Iya maaf maaf," Bisik Chloe pelan.
Sang gadis kembali melanjutkan perjalanannya, Tinggal sedikit lagi dia akan sampai pada pintu belakang penghubung antara dapur dan kebun serta hutan. Dengan antuasias Chloe memegang gagang pintu setelah sampai disana.
Namun entah kenapa tangannya tiba-tiba enggan membuka pintu tersebut seolah tidak ingin mengikuti perintah otaknya, Tangan pun kini sedikit bergetar.
"Chloe, Kau baik-baik saja. Tanganmu...,"
"Aku juga gak tahu kenapa tanganku tiba-tiba getar sendiri. Pintu ini juga gak mau di buka seolah ada yang menahan tanganku," Jelas Chloe dalam hati panik, Dia berusaha melepaskan tangannya dari gagang pintu dan entah kenapa tangannya tiba-tiba malah jadi berat dan gak bisa digerakkan.
Seketika Chloe teringat satu hal yang dia lupakan di Asrama ini, Makhluk yang menggigitnya tadi malam juga berada di dapur dan Ian pernah memperingatinya jangan terlalu lama berada di sini. Apa jangan-jangan dapur adalah daerah kekuasaannya? Dan saat ini dia ada disini?
Oh tidak, Chloe harus kabur kembali ke kamarnya. Dia tak ingin digigit untuk kedua kalinya, Tapi masalahnya tangannya kini gak mau lepas dari gagang pintu. Chloe berusaha melepaskan tangannya di bantu Holy.
"Ugh...Le-Leherku sakit!" Rintih Chloe yang akhirnya bisa melepaskan tangannya dari gagang pintu, Tapi kini tiba-tiba lehernya merasakan rasa sakit dan panas yang luar biasa tepat di tanda atau tato di lehernya itu.
"Akh...Ke-Kenapa sakit sekali!...Leherku sakit!...Uhuk...Uhuk!" Chloe memegangi lehernya, Terbatuk-batuk menahan sakit yang begitu perih.
"Chloe! Chloe tenanglah!" Holy panik melihat Chloe yang berusaha menahan sesuatu dalam dirinya.
BBRRUUKK!
__ADS_1
Gadis itu jatuh terduduk di lantai, Masih memegangi lehernya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi saat Chloe kembali terbatuk-batuk, Kali ini bukan batuk biasa melainkan sedikit mengeluarkan darah.
"Uhuk!...Uhuk!," Chloe menutup mulutnya, Mata nya terbelalak kaget saat tahu dia batuk darah terlihat dari telapak tangannya yang habis menutup mulut.
Tubuhnya mati rasa, Tenggorokannya seperti terbakar dengan rasa sakit dan perih di lehernya. Chloe berusaha berdiri dari duduknya. Namun kakinya seolah tak mau bergerak sedikit pun.
"ber-Berhenti...T-Tolong berhenti!" Kata Chloe terbata-bata sambil menunduk, Masih terbatuk-batuk. Rasanya dia ingin mati saja daripada menderita begini.
TAP! TAP! TAP!
Terdengar suara langkah kaki mendekat perlahan ke arah sang gadis yang masih berusaha mati-matian menahan rasa sakit yang menyerang lehernya.
"Anda mau kabur kemana nona? Siapa yang meminta anda pergi dari sini!?"
DEG!
Suara nada dan Intonasi yang datar itu seolah tanpa emosi di dalamnya, Mirip suara Ian. Tapi Chloe yakin sosok di depannya bukanlah Ian, Meski memiliki nada dan intonasi suara yang mirip. Chloe bisa membedakan suara Ian asli yang sesungguhnya.
Sesaat kepalanya mendongak, Masih menahan sakit dilehernya. Netra birunya bertemu dengan Netra ungu tua dari sosok di depannya. Wajah tanpa ekspresi dan dingin melebihi kutub selatan. Chloe ingat betul Netra ungu tua sosok yang menggigitnya kemarin malam, Dan warna Netra itu sama persis dengan sosok di hadapannya saat ini.
"K-Kau yang ke-kemarin menggigitku kan?" Sebisa mungkin Chloe berusaha membuka suara yang kini terdengar bergetar.
"Anda adalah anggota baru, Sudah tugas saya menandai anggota yang datang ke asrama ini," Jelas sosok itu dengan ekspresi datarnya.
Chloe terdiam, Napasnya tersegal-segal. Hampir kehilangan pasokan Oksigen gara-gara rasa sakit di lehernya. Holy menatap cemas, Dia tidak bisa membantu Chloe saat ini setelah tahu kalau sosok di depan Chloe ini lebih kuat darinya. Dan Holy merasa takut dengan sosok itu.
"H-Hentikan...To-Tolong hentikan rasa sakit ini...Aku sudah tidak kuat...Uhuk...Uhuk," Chloe kembali terbatuk-batuk, Kini tubuhnya perlahan menjadi lemas. Punggungnya menyandar pada daun pintu.
Sosok itu hanya menatap dingin tanpa memiliki perasaan kasihan sedikit pun, Dia tetap berdiri di tempatnya.
"Anda berniat kabur dari sini. Saya rasa itu adalah hukuman yang pantas untuk para anggota yang melanggar salah satu aturan di Asrama. Padahal Tuan Ian sudah memperingatkan anda untuk tidak coba-coba kabur dari sini," Sosok itu berjongkok, Memakai satu lututnya untuk menahan beban.
Chloe memilih diam, mendengarkan ancaman itu. Dia menyadari sosok di depannya ini bukanlah sosok biasa. Dia terlalu kuat untuk ukuran manusia normal. Rasa sakit dan perih itu masih menjalar di lehernya, Semakin menjadi-jadi. Hampir membuat Chloe ingin pingsan.
"Apakah anda masih nekat ingin keluar dari sini?" Tanya sosok itu masih memandang dengan ekspresi datarnya.
Perlahan Chloe menggelengkan kepala nya lemas, Sudah cukup dengan rasa sakitnya. Dia sudah tak bisa lagi menahannya.
"A-Aku...Tidak akan...Mengulanginya lagi, Aku...Tidak akan...Melanggar aturan Asrama ini lagi...A-Aku janji!" Kata Chloe terbata-bata, Dia kembali terbatuk-batu sesaat.
Sejenak sosok itu terdiam, Memandang lekat ekspresi sang gadis. Mencari kejujuran di sana, Setelah memastikan. Sosok itu berdiri dari jongkoknya,Berjalan menjauh mendekati rak piring.
Sedangkan Chloe, Secara ajaib berangsur-angsur rasa sakit dan perih di lehernya perlahan menghilang. Sesaat gadis itu masih terbatuk-batuk karna sisa-sisa rasa terbakar di tenggorokannya masih ada.
Tak lama sosok itu kembali mendekatinya, Menyodorkan segelas air mineral yang baru saja di ambilnya pada Chloe.
"Minumlah,"
Tanpa diperintah dua kali Chloe langsung menerima gelas itu dan menghabiskan isi nya dalam sekali teguk, Akhirnya rasa terbakar itu hilang dan Chloe mulai lega.
Sosok itu mengambil gelas di tangan Chloe tanpa membuang waktu, Padahal Chloe belum memberikannya balik. Sosok tersebut berdiri dari jongkoknya kembali lalu berbalik menuju meja counter.
"Anda duduklah dulu di meja makan, Biar saya buatkan makanan untuk anda. Anda tidak ikut makan malam tadi," Kata Sosok itu dingin, Mulai menyiapkan bahan makanan untuk Chloe.
Chloe memilih masih diam di tempat, Masih menyenderkan tubuhnya pada daun pintu. Kaki dan tubuhnya masih terlalu lemas untuk di gerakkan, Yah mungkin karna efek gak ikut makan malam dan efek dari rasa sakit dan perih di lehernya tadi.
Setelah beberapa menit mengistirahatkan diri, Secara perlahan Chloe bangun dari posisi nya lalu berjalan pelan mendekati salah satu kursi di meja makan. Duduk di sana sambil mengusap-usap lehernya yang terdapat tanda melingkar itu. Rasanya sulit dipercaya kalau tanda di lehernya bisa membuatnya merasakkan sakit yang luar biasa jika nekat kabur dari Asrama.
Tapi sekarang Chloe lebih memilih mematuhi peraturan Asrama ini dari pada nanti lehernya bakal sakit lagi kayak tadi kalau nekat lagi. Nasi sudah menjadi bubur, Dia sudah menerima kesepakatan dan berkontrak dengan sosok bernetra ungu tua yang sedang memasak itu. Apa boleh buat, Pasrah saja deh tinggal di Asrama ini sampai kesepakatan nya dengan pemilik Asrama selesai.
__ADS_1
Chloe meletakkan ranselnya di kursi lain bersama jaket dan masker nya yang sudah di lepas. Tak lama kemudian sosok bernetra ungu tua itu selesai memasak, Dia meletakkan sepiring Omurice dan jus jambu tepat di depan meja Chloe.
"Jus jambu sangat baik untuk menambah darah selain itu mempunyai vitamin A," Kata sosok tersebut usai meletakkan makanan dan minuman itu.
Sesaat Chloe mengangkat alisnya sekaligus memandang sang sosok pria tersebut.
"Apa kau akan mengambil darahku lagi setelah aku selesai makan?"
"Tidak, Saya sudah kenyang. Tuan Ian sudah memberikan darahnya pada saya saat makan malam tadi," Jelas sang pria bernetra ungu tua itu sambil mencuci gelas bekas Chloe tadi di wastafel.
Sejenak Chloe merasa kasihan juga sama Ian, Tapi mungkin memang sistemnya secara berkala atau gantian dengan anggota lain. Chloe pikir Ian mungkin juga menyimpan obat pil yang sama dengannya, Jadi Chloe tak terlalu khawatir.
Dengan perlahan Chloe mulai memakan sarapannya, Yah masakan pria itu enak juga. Bahkan lebih enak dari masakan Chloe. Netra birunya terus memandangi punggung sang pria yang sedang cuci piring. Pria itu memiliki surai berwarna ungu dengan Netra ungu tua, Yah perpaduan yang sangat cocok menurut Chloe.
"Btw, Kita belum kenalan? Aku belum tahu namamu," Tanya Chloe di sela-sela makannya.
Pria itu selesai mencuci piringnya, Dia melepas celemek yang dipakainya. Mencuci celemeknya di wastafel dengan sabun.
"Nama saya Aiden, Tuan pemilik Asrama yang memberikan nama itu,"
"Aiden? Hanya itu?" Kata Chloe sambil menguyah makanannya.
"Ya," Aiden kemudian memeras celemeknya hingga sisa-sisa air di kain itu berkurang.
"Bagaimana dengan marga?"
"Marga? Apa itu?" Sesaat Aiden menoleh pada Chloe dengan sorot Netra yang terlihat bingung.
Sejenak Chloe mengerjapkan matanya. Lha zaman modern gini masih ada yang gak tahu arti marga? Chloe jadi ikut bingung jadinya.
"Hah? Serius kau tidak tahu arti marga?"
"Iya, Tuan pemilik Asrama tidak pernah menjelaskan arti marga pada saya," Aiden menggeleng pelan dengan ekspresi datarnya. Kemudian pria itu menuju pintu yang menghubungkan ke kebun untuk mengeringkan celemek di tangannya.
Chloe cuma diam memperhatikan langkah sang pemuda, Sedikit bengong sih. Tak lama Aiden kembali, Tak lupa pria itu mengunci pintu kebun lalu berjalan menuju kursi duduk berhadapan dengan sang gadis.
"Nama nona?"
"Oh, Aku Chloe Amberly. Aiden bisa memanggilku Chloe," Chloe menunjukkan senyum tipisnya, Relasi terhadap orang asing.
"Nona Chloe,"
"Umm...Chloe saja," Sejujurnya Chloe masih canggung dan belum terbiasa dipanggil dengan sebutan nona.
Aiden menggeleng pelan dengan arti bahwa dia menolak permintaan Chloe, Sang gadis hanya menghela napas kecil lalu kembali menghabiskan sisa makanannya. Sudahlah, Dia lelah dan pengen tidur.
"Mungkin saat ini Nona Chloe belum memiliki tugas, Tapi saat pemilik Asrama datang nanti...Nona Chloe akan diberi tugas sama seperti Anggota lainnya,"
"Memangnya tugas apa?"
"Setiap anggota memiliki tugas masing-masing, Contohnya saya bertugas menandai anggota baru dan menjadi juru masak di Asrama ini," Jelas Aiden datar.
"Oh, Begitu ya," Chloe manggut-manggut. "Kapan pemilik Asrama akan pulang?"
"Saya tidak tahu, Beliau akan memberi kabar nanti jika ingin pulang ke Asrama,"
Sepertinya Chloe harus tetap bersabar di Asrama ini sampai sang pemilik Asrama datang dengan waktu yang tidak di tentukan.
Selama Chloe makan, Aiden tetap duduk di kursinya sambil menemani Chloe. Mungkin menunggu Chloe selesai makan dan kembali ke kamar barulah Aiden akan mengurus sisanya di dapur.
__ADS_1
TBC