
BLAM!
Chloe meletakkan Ransel nya di lantai, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Sesaat Chloe memejamkan mata sambil memijit keningnya.
Dia tidak mengira kalau Felix mengatakan sesuatu yang sulit rasa nya di percaya oleh Chloe sendiri, alasan Felix meminjam bahu nya sebagai sandaran saat itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakak angkat nya? Semua ini membuat Chloe bingung dan heran. Felix seolah-olah menyembunyikan sebuah rahasia sama seperti Grup HE@VEN.
"Holy, apakah yang dikatakan Kak Felix benar?" Chloe mendongak menatap Holy yang terbang di sampingnya.
"Entahlah Chloe, Holy tidak bisa menanyakan Program apakah perkataan Felix benar atau tidak," Holy hanya menggeleng pelan tanda tak tahu.
"Hah~...Dia membuatku cemas," gumam Chloe sambil menutup wajahnya dengan lengan.
Chloe teringat dengan perkataan Felix sebelum dia pulang dari Cafe.
Memory Chloe On
"Kak Felix, Apa terjadi sesuatu di keluargamu? Kau ada masalah ya?"
Dengan sabar Chloe masih mengusap punggung Felix, Sedangkan Felix masih diam saja menyembunyikan wajahnya di helai-helai rambut Chloe.
"Tidak ada, aku hanya ingin beristirahat sebentar. Maaf meminjam bahu mu Chloe,"
Gadis bersurai biru itu teringat kalau Felix sejak bekerja tadi tidak mendapat waktu istirahat, ada sih Felix beristirahat tapi cuma 10 menit doang tadi.
"Gak apa-apa Kak Felix, Kak Felix bisa meminjam bahu ku untuk sandaran kapan pun Kak Felix mau,"
"Hm...,"
Suasana nya kembali hening, Chloe tidak tahu entah sudah berapa lama posisi mereka begini. Sang gadis hanya diam menerima. Sampai pada akhirnya Chloe merasa mata nya agak mengantuk, Beberapa saat Netra biru nya sempat terpejam.
"Kak Felix masih istirahat ya? Mataku rasanya berat, Tidur di jam kerja sebentar tidak apa-apa kan?" Batin Chloe, Kelopak matanya perlahan terpejam. Dan kini giliran kepala Chloe yang menyandar pada bahu Felix.
Felix menyadari pelukan Chloe terlepas dan kepala Chloe yang menyandar pada bahunya, Sontak sang pemuda langsung memegangi bahu Chloe agar Chloe tidak jatuh merosot. Kini malah Felix yang memeluk Chloe.
"Dia tidur!?" batin Felix sambil memandangi wajah Chloe ketika tertidur. Namun sesaat sang pemuda tersenyum tipis.
"Chloe kalau misalnya Semua yang kau lihat hanya palsu, Dan kakak tidak sebaik kelihatannya. Apa yang akan kau lakukan?" Lirih pemuda bersurai coklat tua itu masih memeluk Chloe, dia meletakkan dagu nya di bahu sang gadis berbisik pelan tepat di kuping Chloe.
"Kakak tau, kau masih bangun Chloe," bisik nya pelan.
Ketahuan! Chloe sejujurnya tidak benar-benar tidur tadi, sang gadis hanya memejamkan mata nya. Dan mendengarkan semua perkataan Felix termasuk bisikan sang pemuda. Refleks Kelopak mata Chloe langsung terbuka memperlihatkan Netra biru nya.
Chloe segera menjauhkan wajah nya dari bahu Felix, ingin menatap sang pemuda tapi Netra nya terpaku pada Netra Aqua milik Felix, Netra Aqua itu terlihat gelap seperti kehilangan cahaya nya. Jarak wajah mereka hanya 5 cm saja.
"Bagaimana kalau kakak bukan kakak yang baik bagimu, Dan tidak bisa melindungimu dengan baik seperti janji kakak? Dan bagaimana kalau orang-orang terdekatmu...akan menjadi penghianat. Apa yang akan kau lakukan Chloe?" Chloe bisa melihat ekspresi serius dari Felix sendiri dalam jarak dekat.
Sang gadis diam mematung, Apakah Felix serius mengatakan hal itu? Chloe sendiri rasanya tidak akan percaya kalau tidak melihatnya sendiri. Siapa yang akan menjadi penghianat? Chloe merasa cemas, perasaannya menjadi campur aduk.
"Apa maksud Kak Felix? Kak Felix pasti bercanda kan?" Kata Chloe merasa cemas. Cemas karena Felix terlihat serius mengatakannya.
Felix diam sesaat. Memikirkan ulang atas perkataan nya itu, tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan sang pemuda. Hingga akhirnya Felix kembali memasang senyum nya kembali. Menjauhkan wajah serta dirinya dari Chloe, menjaga jarak.
"Hahaha, kau benar chloe. Kakak hanya bercanda, jangan dipikirkan," Felix tertawa kecil sambil menepuk pelan rambut biru Chloe. "Dan jangan tidur disaat jam kerja ya, nanti gaji nya kakak potong,"
"Ah, begitu ya. Syukurlah, kupikir kak Felix serius mengatakannya, Baiklah lain kali aku tidak akan tidur pas kerja," Kata Chloe merasa lega. Sang gadis mengangguk pelan.
"Tidak kok, ayo kita bereskan semuanya, biar cepat pulang," Felix kemudian kembali melanjutkan bersih-bersih nya yang sempat tertunda.
"Iya,"
Memory Chloe Off
Masa sih hanya bercanda? Chloe benar-benar tidak yakin. Ekspresi Serius Felix di Cafe itu menunjukkan bahwa sang pemuda tidak sedang bercanda saat itu. Atau kata 'bercanda' itu hanya sebagai tolakkan, untuk menghindari pertanyaan Chloe?
Bahkan Felix juga menyembunyikan sesuatu dari nya. Ah, semua teka-teki ini membuat Chloe semakin tertekan, belum lagi alasan kenapa Justin mengirim mata-mata untuk mengawasinya. Semoga saja perkataan Felix saat itu memang hanya bercanda.
"Aku pengen nangis aja rasanya," Kata Chloe dengan murung, sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jangan sedih Chloe, kalau pun memang ada penghianat dari orang-orang terdekat yang sudah susah payah kau dapatkan. Masih ada Holy dan Program yang akan membantu Chloe, Holy akan selalu disisi Chloe kok," Si System menepuk-nepuk pelan kepala Chloe.
__ADS_1
"Huhuhu...Holy memang terbaik," Chloe pura-pura sedih tapi tangannya ikut menepuk kepala Holy kecil.
"Kan aku sayang Chloe, nih poin hati Felix naik 7 poin,"
Poin Hati ke-5 karakter utama pria:
1.) Devian Orlindo: 25 Poin
2.) Felix Edricson: 22 poin
3.) Raizel Freymon: 0 Poin
4.) Justin Garfield: 0 poin
5.) Ian Maxwell: 1 poin
"Aku juga sayang Holy, bentar lagi dapat barang Favorit Devian nih," Chloe menatap poin hati Devian yang total nya 25 poin. 5 Poin lagi Fitur barang Favorit Devian akan terbuka.
"Yup benar, udah Cepetan tidur sana! Biar besok gak terlambat lagi,"
"Oke-Oke,"
Chloe pun mulai menyamankan dirinya di kasur dan terlelap ke alam mimpi.
**************
[Perjalanan menuju sekolah]
"Ayo Chloe semangat! Lari lebih cepat lagi," Holy tiba-tiba saja sudah memakai pakaian Cheerleader entah dapat dari mana. Menyemangati Chloe yang sedang berlari selama perjalanan menuju sekolah.
"Aku lagi lari tau, jangan menyemangati di depanku. Aku tidak bisa melihat jalannya, Minggir sana!" usir Chloe berusaha melihat jalan larinya.
"Hehehe, ayo semangat!" Holy cecengesan dan menyingkir masih menyemangati Chloe.
Pagi yang cerah seperti ini tentu tidak akan Chloe lewatkan, Chloe sengaja bangun pagi-pagi selain karna tidak ingin terlambat, Dia juga ingin olahraga tentu nya bertujuan menaikkan tinggi badannya yang hanya 145 cm.
Baru setengah perjalanan, Chloe melihat seorang Pria memakai Hoodie berwarna coklat tua sedang berlari menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri, Sang Pria terlihat buru-buru seperti sedang dikejar sesuatu. Chloe tidak bisa melihat wajah sang Pria karna tertutup masker.
Namun Netra biru sang gadis menyadari, dari arah berlawanan sebuah Mobil sedan Putih melaju dengan kecepatan tinggi menuju Sang Pria yang masih menyebrang jalan. Mobil itu terlihat sedikit oleng, entah pengendaranya sedang mengantuk atau yang lainnya.
Seketika Chloe Refleks berlari mendekati sang Pria yang menyebrang jalan itu. Karna Posisi Chloe lebih dekat dengan Sang Pria di banding pejalan kaki lainnya.
"AWAS!"
Sang Pria ingin menghindari Chloe Namun Chloe sudah terlanjur menariknya, hingga keduanya jatuh membentur aspal jalan. Sedangkan Mobil sedan putih itu menabrak tiang listrik di samping mereka, beberapa meter lagi jika Chloe dan Sang pria tidak sempat menghindar, mungkin keduanya akan mati karna tertabrak mobil putih itu.
BBRRUUKK!
BBRRAAKK!
Pecahan kaca dari mobil itu bertebaran, Dengan cepat Chloe melindungi kepalanya agar tidak terkena pecahan kaca termasuk sang pemuda yang kini berada di atasnya. Sejenak keduanya diam setelah pecahan kaca itu tidak bertebaran lagi.
Chloe menatap Pria di atasnya, mencoba melihat wajah sang pria yang kini tertutup tudung Hoodie dan masker. Yang paling mencolok menurut Chloe adalah rambut hitam bercampur coklat di ujung rambut nya dengan Netra berwarna ungu. Ciri-Ciri nya mirip sekali dengan Raizel Freymon.
"Apa dia Raizel Freymon?" batin Chloe penasaran.
"Kau baik-baik saja?"
Kedua tangan sang Pria masih menahan gaya gravitasi agar tidak berdekatan dengan tubuh Chloe, menatap sang gadis yang berada di bawahnya. Sesaat pemuda itu menatap tajam Netra biru Chloe.
"Seharusnya kau pikirkan dirimu sendiri!"
"Apa!?" Chloe mengernyitkan alisnya, nada ketus sang pria membuatnya tersinggung. Bukannya berterima kasih karna Chloe sudah menolong sang Pria.
Pria itu berdiri dari posisinya, membersihkan tangannya dan pakaiannya yang terkena debu aspal. Chloe ikut berdiri berlahan, meski kaki nya agak sakit sempat tergores jalan aspal saat terjatuh tadi.
"RAIZEL, KAU DIMANA!?"
"JANGAN LARI RAIZEL!"
__ADS_1
"KAK RAIZEL, AKU INGIN MEMINTA TANDA TANGANMU,"
Suara sorak-sorak dari beberapa orang perempuan di sebrang jalan membuat Raizel dan Chloe menoleh. Raizel mendengus, sesaat sang pemuda menatap sinis kumpulan cewek-cewek yang berlari ke arahnya itu.
"Cih, mereka lagi!"
Raizel segera menutup kembali sebagian wajahnya dengan tudung Hoodie, Dan berlari pergi meninggalkan Chloe tanpa mengucap apa pun lagi.
"Lagi-lagi, kau diacuhkan ya Chloe,"
"Pengen kutendang wajah sok kerennya itu. Bukannya bilang terima kasih, ini malah langsung di tinggal. Mana kakiku sakit lagi," Keluh Chloe dalam hati kesal, sesaat dia mengusap kakinya yang agak sakit.
"Yang penting Chloe enggak terluka, paling keseleo dikit,"
"Keseleo apa nya!? Memar gini, dibilang keseleo!?"
Orang-orang yang melihat kecelakaan itu mulai berkumpul, bertanya-tanya pada Chloe apakah Chloe terluka atau tidak. Padahal Kecelakaannya sudah beberapa menit yang lalu dan para pejalan kaki baru menanyai keadaan Chloe sekarang. Bahkan si pengemudi mobil sedan putih itu sudah pergi entah kemana, meninggalkan mobilnya yang penyok akibat membentur tiang listrik.
"KECELAKAANNYA UDAH SELESAI WOI! BUBAR KALIAN!"
**************
[Lab Seni]
"Hah~ entah kenapa, hari ini penuh masalah," Chloe menghela napas sambil mendudukkan diri di kursi pilihannya.
"Masalah lagi? Belum kelar ya?" Devian sesaat melirik Chloe di sampingnya, lalu mengambil peralatan melukis yang sudah tersedia.
"Sudah kelar sih, cuma yah masih nyangkut dipikiran," Elak Chloe ikut mengambil peralatan melukis karna sekarang jam pelajaran seni.
"Kalau begitu gak usah dipikirin, gampang kan,"
"Ngaco ah, ngomong sama Devian ujung-ujung nya gak nyambung," Sesaat Sang gadis mendengus kecil. Pandangannya kemudian beralih pada sebuah pohon di luar jendela Lab.
"Ya kali, bisa aja masalah kak Chloe bisa berkurang karna bicara denganku," Kata Devian dengan pede.
"Ngomong lagi kujahit tuh mulut," Jengkel dengan obrolan yang semakin absurd, Chloe mendelik pada sang empunya.
"Ya maaf, galak amat sih," Cibir sang pemuda, sedikit cemberut.
KKRREEIITT!
Tak lama setelahnya, Guru yang mengajar pun langsung masuk. Ditangan sang guru sudah terdapat sebuah buku absen dan buku penilaian.
"Selamat pagi semuanya,"
"Pagi pak,"
"Sesuai pemberitahuan minggu kemarin, hari ini kita akan penilaian melukis per kelompok terdiri dari 2 orang. Kelompoknya akan bapak bagikan sesuai no absen,"
Satu persatu pun kelompok mulai dibagikan, Hingga tiba giliran kelompok Chloe.
"Ian Maxwell dan Chloe Amberly,"
Chloe yang sudah siap dengan alat lukisnya seketika langsung bengong gak bisa ngomong lagi, dia pikir akan sekelompok dengan Devian tapi malah sekelompok sama si muka tembok.
Devian gak terima, sang pemuda langsung angkat tangan. "Pak, saya gak setuju kalau Kak Chloe sekelompok sama Ian,"
Pak guru pun menoleh pada Devian yang masih angkat tangan. "Saya gak terima tawar menawar, Kita sedang belajar bukan jualan,"
Tangan Devian langsung turun setelahnya, Ekspresi sang pemuda terlihat cemberut. Paham maksud dari jawaban Pak Guru.
"Ada lagi yang protes sama kelompoknya?"
Seisi kelas tidak ada yang menyahut, Pak guru pun kembali melanjutkan pembagian kelompok. Sampai selesai.
"Sekarang kalian segera melukis bersama kelompok kalian masing-masing, lukisan bebas. Waktunya 2 jam,"
Chloe meneguk seliva nya kasar? Haruskah dia kembali mendekati Ian? Kayaknya Chloe ragu deh. Netra biru Chloe melirik Ian yang berada di belakangnya, ekspresi sang pemuda tampak datar dan dingin.
__ADS_1
"Ugh...menyeramkan,"
TBC