System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Pengakuan


__ADS_3

"Huft...Bagaimana bisa aku harus partner dengan Pak Ezra? Huh, Apa Pak Justin gak peka kalau Pak Ezra gak suka denganku?" Gerutu Chloe berjalan menuju kamarnya.


Padahal sudah jelas mereka bakalan gak cocok jadi partner, Tapi Justin tetap memaksa. Chloe harap dia bisa bertahan dengan sikap Ezra yang begitu membencinya.


"Aku tidak yakin orang seperti itu bisa akur denganmu Chloe," Balas Holy santai duduk di pundak Chloe.


"Aku juga berpikir begitu sih, Tapi aku akan berusaha bertahan. Kalau Pak Ezra gak cari gara-gara," Sejenak Chloe menghela napas lelah, Dia merasa tubuhnya agak sakit karna terlalu banyak gerak, Dan sampai saat ini dia belum istirahat sama sekali.


Hari menjelang tengah malam, Disaat seperti ini biasanya Asrama udah sepi gak ribut lagi. Mungkin sebagian Anggota sudah tidur, Dan Chloe juga perlu istirahat agar dia bisa bangun pagi besok.


Disaat melewati tangga menuju Rooftop, Chloe tak sengaja melihat Ian tengah duduk sisi Rooftop melalui jendela kaca. Pemuda bernetra merah itu terlihat muram dan melamun.


"Apa yang Ian lakukan disana? Dia belum tidur ya?" Pikir Chloe masih memandangi Ian melalui jendela lantai 2.


Karna kasian ngeliat Ian sendirian disana, Chloe putuskan untuk ke dapur sebentar membuat coklat panas sekaligus mengambil selimut tebal.


****************


[Rooftop Asrama]


Ian menatap lantai dasar Asrama yang agak jauh dari posisinya saat ini, Tatapannya bagitu kosong seperti tengah memikirkan sesuatu. Dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya tak dia hiraukan. Kakinya menjuntai ke bawah bangunan, Duduk di sisi Rooftop begini membuatnya lebih tenang namun dia masih memikirkan sesuatu.


Sesaat semilir angin malam menerbangkan helai-helai rambut hitamnya, Dan Netra merahnya hanya memandang ke satu titik di lantai dasar. Sejenak Ian mendongak menatap langit malam yang kosong, Tak ada bintang ataupun bulan disana. Kemungkinan Bintang dan bulan itu terhalang awan hitam.


"Malam ini bintang dan bulannya gak keliatan, Langitnya terlihat mendung," pikir Ian masih menatap langit malam.


TAP! TAP! TAP!


SRUK!


Pundaknya sedikit menegang, Tersentak karna tiba-tiba seseorang memakaikan selimut ke tubuhnya. Ian lantas menoleh dan menemukan Chloe yang meletakkan sebuah gelas berisi coklat panas di sampingnya. Di tangan sang gadis satunya juga terlihat gelas serupa.


TUK!


"Kalau ingin diam di Rooftop seharusnya bawa selimut Moonshi, Apalagi cuaca malam ini agak dingin. Kau tidak takut kedinginan ya?" Kata Chloe usai meletakkan segelas coklat panas di samping Ian.


Kemudian dia ikut duduk disisi Rooftop, Sambil memegangi gelasnya dengan kedua tangan. Meresapi hangat dari coklat panas itu.


Ian memandang Chloe sejenak, Menggeleng pelan sebagai jawaban. "Tidak, Aku sudah biasa. Hawa dingin seperti ini tidak akan mempan untukku,"


"Masuk angin baru tau rasa," Cibir Chloe pelan, Dia meminum coklat panasnya. Sungguh sangat menyenangkan di suhu dingin seperti ini minum coklat panas sambil bersantai di udara terbuka.


Ian tak menjawab dia hanya kembali memandang lantai dasar sambil merapatkan selimut di tubuhnya, Tak lama dia juga meminum coklat panas bagiannya.


"Thanks," Kata Ian dingin.


"Hm...," Chloe hanya menjawab seadanya, Pandangannya tertuju pada lantai dasar Asrama.


"Rooftop Asrama gak pake pagar pembatas, Apa gak takut jatuh ya kalau duduk di sisi Rooftop begini? Manalagi tinggi Asrama ini 7 meter begini," Pikir Chloe masih menatap lantai dasar, Sesaat dia bergidik ngeri dengan ketinggian Asrama ini.


"Oh iya, Moonshi ngapain disini? Gak bisa tidur ya?" Chloe menoleh manatap Ian disampingnya.


"Tidak, Aku hanya ingin bersantai sejenak,"


Chloe manggut-manggut sesaat lalu kembali meminum coklat panasnya. Keheningan melingkupi mereka berdua setelahnya. Hanya terdengar suara hewan malam karna sekarang Asrama begitu sepi dan sunyi.


"Sekarang aku ingat semuanya Sunshi,"


Perkataan Ian yang begitu tiba-tiba lantas membuat Chloe menoleh dan mengerutkan alisnya.


"Huh? Apa maksudmu Moonshi?"


Ian sejenak terdiam, Agak ragu mengatakan hal sejujurnya pada Chloe. Tingkah gadis disampingnya ini Benar-benar mirip dengan gadis yang selalu muncul di mimpinya, Seolah-olah lebih mirip potongan ingatan yang hilang. Walau hanya warna rambut dan mata sang gadis saja yang berbeda.


Tapi sekarang Ian mengingat jati dirinya yang sebenarnya, Bahwa sebenarnya dia bukanlah berasal dari dunia ini. Semua ingatan masa lalu nya di dunia asli masuk perlahan dalam otaknya, Termasuk ingatan tentang teman masa kecilnya yang kini di dunia asli masih terbaring koma. Ingatan Ian terakhir kali di dunia asli adalah Saat itu dia sudah lulus SMA, Lalu mengunjungi rumah sakit tempat Chloe Watson di rawat dan Terakhir dia mengunjungi pemakaman tempat peristirahatan ibunya.


Saat diperjalanan pulang, Dia mengalami kecelakaan maut akibat sebuah truk besar menghantam para pejalan kaki dan kendaraan Tranportasi yang sedang menunggu lampu merah. Itulah ingatan terakhir Ian di dunia asli, Dia tidak tahu raga nya di dunia asli bagaimana sekarang, Entah dia memang sudah mati atau sedang koma seperti Chloe. Yang Ian tahu saat bangun jiwanya sudah berada dalam raga Ian Maxwell.


Untuk sekarang yang paling penting Ian harus memastikan gadis di sampingnya ini Chloe Watson atau bukan. Mengingat sikap yang ditunjukkan Chloe selama ini sangat mirip dengan teman masa kecilnya itu.


Ian menghela napas sesaat, Sebelum kembali membuka suara.


"Sebenarnya aku bukan berasal dari dunia ini, Nama asliku adalah Ian Salvatore. Aku mengingat semua ingatan dari dunia asliku saat kau pertama kali menginjakkan kaki di Asrama ini," Kata Ian dingin, Dia memandang ekspresi Chloe yang sangat terkejut.


DEG!


Sesaat Chloe merasa jantungnya berhenti berdetak, Ingatan mimpi tentang Ian di dunia asli yang terkena kecelakaan maut itu terlintas di benaknya. Seketika Chloe merasa sesak ketika mengingat kejadian itu. Dia tanpa sadar meremas pakaiannya dimana letak jantungnya berada.


"Tidak mungkin!" Lirih Chloe pelan dengan sendu namun masih bisa di dengar Ian.


"Mendengar dari jawabanmu, Sepertinya kau juga bukan berasal dari dunia ini Sunshi,"


Chloe agak tersentak, Dia menatap tajam Ian.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu!? Atau jangan-jangan kau hanya sok tahu!?" Chloe agak geram karna hal itu mengingatkannya dengan Ian di dunia asli.


"Kalau kau tidak percaya padaku, Pasti jawaban yang kau berikan tadi bukan itu. Kau pasti langsung menganggapku gila karna tidak percaya atau menertawakan perkataanku barusan," Jelas Ian dingin yang membuat Chloe langsung terdiam mematung.


"Tapi sikap yang kau tunjukkan tadi seolah kau sedang mengingat sesuatu yang membuatmu sedih. Apa kau ingat dengan kejadian di atap sekolah dulu?" Ian mengalihkan pandangannya menatap lantai dasar Asrama.


"Saat itu kau menangis karna teringat dengan teman masa kecilmu, Dan kau juga pernah bilang aku mirip dengannya. Itu artinya kutebak kau memang bukan berasal dari dunia ini. Melainkan berasal dari dunia asli. Aku benarkan, Chloe Watson?"


Ian kembali menoleh memandang Chloe yang masih diam dengan wajah yang sedikit pucat.


"D-Dia jeli dengan sikapku? Apa benar di sampingku ini adalah Ian Salvatore? Tapi dia bilang dia mengingat semuanya. Namun dia juga tahu nama asliku di dunia asli. Tidak, Tidak aku tidak bisa langsung percaya begitu saja. Aku harus mengujinya," Pikir Chloe memandang Ian dalam diam.


"Hm...Begini saja, Bagaimana kalau kita menguji pengetahuan masing-masing tentang Ian Salvatore dan Chloe Watson di dunia asli?" usul Chloe.


"Boleh, Kau yang mulai," Dengan santai Ian menatap langit malam di atas mereka.


"Bunga yang disukai Chloe Watson?"


"Mawar dan Lavender,"


"Dia tahu bunga favoritku," Sesaat Chloe melirik Ian.


"Nama boneka Chloe sewaktu kecil?"


"Jessi, Kukasih saat ulang tahunmu yang ke-8,"


"Yah, Boneka itu masih kusimpan sampai sekarang," Agak malu sih Chloe bertanya nama boneka nya sewaktu kecil, Namun hanya pertanyaan itu yang terlintas di benaknya tadi.


"Makanan Favoritku dan tempat pertemuan pertama Ian dan Chloe?" Chloe sesaat menoleh kembali.


"Cake berry dan taman bunga dekat pegunungan. Kita sering main disana sewaktu kecil karna tempatnya tenang dan sejuk," Jelas Ian agak tersenyum kecil, Teringat dengan nostalgianya di taman itu.


"Taman itu sangat indah, Kuharap taman itu masih bertahan di sana. Taman itu adalah salah satu kenangan terindah di hidupku," Chloe tersenyum lebar, Dia benar-benar jadi nostalgia sekarang.


Sesaat Ian tertegun mendengarnya, Dia memilih diam sebentar.


"Kenangan terindah? Maksudnya kenangan saat pertemuan pertama kami di taman itu?" Pikir Ian melirik Chloe sesaat.


"Sekarang giliranku, Judul Novel pertama yang Sunshi belikan saat ultahku yang ke-9?"


"Pirate Adventure, Dulu kau senang baca novel bertema petualangan kayak gitu,"


"Hm...Ada sebuah kalimat yang sangat kita sukai di salah satu novel yang sama, Tepatnya di Bab 2. Pertanyaannya kalimat apa?"


"Kalau tidak salah, Pertemuan pertama selalu memiliki kesan. Selalu abadi dalam hubungan...," Chloe ingin melanjutkan perkataannya, Namun Ian memotongnya.


"Jika dekat akan selalu bersama," Lanjut Ian datar. "Itu kata kiasan bukan?"


"iya, Walau aku gak ngerti maksudnya apa. Tapi entah kenapa kita menyukai kalimat di salah satu novel itu," Chloe mengangguk pelan sebagai jawaban.


Sejenak mereka kembali larut dalam keheningan, Ian semakin merapatkan selimutnya lalu meminum coklat panasnya.


"Sekarang baru aku percaya kalau kau ini Ian Salvatore," Gadis bersurai biru itu tersenyum kecil, Ian hanya melirik sesaat.


"Dan kau benar-benar Chloe Watson?"


"Yup, Benar. Tidak kusangka kita bertemu lagi di dunia ini, Dunia yang berbeda. Namun dengan sifat dan perilaku yang sama,"


"Hanya warna rambut dan matamu saja yang beda, Jadi selama ragamu koma. Jiwamu masuk ke tubuh gadis itu?"


"Iya, selama di dunia ini aku menjalankan misi,"


"Misi?" Ian mengangkat satu alisnya sesaat merasa heran. "Misi apa?"


Seketika Chloe langsung terkesiap, Akan sangat memalukan jika dia mengatakan misi pertama nya dulu adalah menaklukan ke-5 pemeran utama pria. Yang pada akhirnya misi itu gagal dan diganti misi lainnya.


"Ada deh, Kepo," Kata Chloe agak malu, Dia tidak ingin memberi tahu misinya. Bisa-bisa Ian mengejeknya.


"Sekarang kau pintar menyembunyikan rahasia rupanya," Ian menggeleng pelan, Menatap dingin sesaat.


"Ah, Jangan dibahas lagi. Aku malu tahu! Lagipula misi itu sudah gagal. Dan sekarang aku menjalankan misi pengganti," Chloe menutup mulutnya dengan punggung tangannya malu, Gadis itu melirik menatap ke arah lain menghindari tatapan Ian.


Ian hanya tersenyum geli. "Chloe Watson yang kukenal gak pernah mengatakan hal itu, Tampaknya setelah tinggal di dunia ini cukup lama. Sikapmu agak berubah. Btw bagaimana langganan ruang BK nih? Masih ngerusuh?"


"Aku berusaha jadi anak baik, Mungkin karna itu sikapku agak sedikit berubah," Mendengar kata langganan ruang BK, Chloe mendengus kecil. "Gak ngerusuh lagi, Capek aku dapet masalah melulu,"


"Akhirnya tobat juga, Di sekolah elit kayak GHS (Guard High School) itu paling anti yang namanya pembuat masalah, Kalau sampai 3 kali masuk ruang BK bakalan di keluarin,"


"Ternyata masuk dunia ini ada manfaatnya juga," Chloe ngangguk-angguk kecil. "Btw, Aku lihat saat di dunia asli. Kejadian Moonshi sebelum terkena kecelakaan maut itu di lampu merah, Aku melihat dan mendengar semua yang kau katakan. Jadi kau benar-benar sudah lulus di dunia asli?"


"Iya, Kau melihat kejadian kecelakaan itu dimana?"


"Di mimpi, Saat aku berada di rumah sakit setelah terjadi kerusuhan di sekolah saat kelulusan hari itu,"

__ADS_1


Sejenak Ian terdiam, Dia mengingat apa yang dikatakannya sebelum kecelakaan maut itu di dunia asli.


"Itu artinya Sunshi mendengar semua pernyataanku di rumah sakit dimana raga aslimu masih koma saat itu?" Ian menoleh, Dia pikir semua yang dirasakannya dulu sudah berlalu namun ternyata perasaannya tetap sama seperti di dunia asli.


"Iya, Aku mendengar semuanya. Aku hanya menganggapmu sebagai saudara Moonshi," lirih Chloe pelan, Menunduk dalam diam. Sampai saat ini pun anggapan itu masih ada, tak lebih dari sekedar saudara.


Ian terdiam ikut menunduk sendu hingga helai-helai poninya sedikit menutupi wajah.


"Maaf, Andai perasaan ini tidak ada. Mungkin aku tak akan merasa takut menghancurkan hubungan persahabatan kita. Aku jadi merasa bersalah," Kata Ian pelan.


"Jangan minta maaf, Kau tidak salah Moonshi. Perasaan itu muncul dengan sendirinya, Kita tak tahu kapan perasaan itu muncul. Hanya saja maafkan aku, Aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu,"


Walau merasa sedih, Ian tidak mungkin juga memaksa Chloe untuk memiliki perasaan yang sama dengannya. Pemuda bernetra merah itu tak ingin sahabat baiknya merasa tidak nyaman dengannya. Dia memutuskan lebih baik memendam perasaan itu, Setidaknya sampai Chloe memilih pasangannya sendiri.


"Aku mengerti," Kata Ian pelan, Dia mengeratkan genggaman tangannya pada gelas coklat yang tinggal setengah. Sesaat Netra merahnya meredup sendu.


Sedangkan Chloe memilih diam sambil memandang hutan di seberang jalan Asrama, Kembali hanya suara hewan malam yang menemani mereka.


WWHUUSS!


Semilir angin malam kembali menerbangkan helai-helai rambut keduanya, Chloe menghabiskan coklat panasnya. Tak lama dia menguap kecil, Rasa kantuk mulai menyerangnya.


"Ah, Aku pengen tidur. Kayaknya gak kerasa keasikan ngobrol malah udah tengah malam aja. Udah pukul 12 malam lagi," Pikir sang gadis sambil melirik jam tangannya yang terpasang manis di lengan kiri.


Ian meletakkan gelasnya di sisi lainnya. Sesaat Netra melirik sang gadis yang sudah mulai terlihat mengantuk. Perlahan dia mendekatkan tubuhnya dengan Chloe lalu membagi selimut yang dipakainya ke tubuh sang gadis. Tanpa aba-aba Ian menyandarkan kepala Chloe di pundaknya.


"Eh!?" Sesaat Chloe tersentak kaget karna tindakkan Ian, Matanya kembali terbuka padahal tadi dia hampir menutup matanya karna mengantuk.


"Lihatlah, Suhu tubuhmu dingin. Kau pasti kedinginan disini. Maaf aku baru menyadarinya," Ian merapatkan selimut yang mereka pakai agar tubuh Chloe tertutup sepenuhnya, Sesaat dia menempelkan tangan nya ke pipi sang gadis.


"Aku baik-baik saja, Lagipula ini tidak terlalu dingin," Chloe tersenyum tipis, Menurunkan telapak tangan Ian yang menempel di pipinya. Meski Chloe akui, Di Rooftop ini dia mulai merasa kedinginan. Dia hanya membiarkan kepalanya menyandar pada pundak Ian.


"Kalau kau tidak peduli dengan kondisimu, Kalau begitu berhenti mengutamakan orang lain dibanding dirimu sendiri," Balas Ian dingin, Dia kesal dan paling tidak suka jika Chloe mulai mengkhawatirkan orang lain namun kondisinya sendiri diabaikan. Sejak dulu di dunia asli sikap Chloe yang seperti itu tidak berubah.


Sesaat Chloe mengerjapkan matanya menatap ekspresi dingin Ian. "Kau marah padaku?"


"Tentu saja, Sejak dulu kau selalu mengutamakan orang lain dibanding dirimu sendiri, Bahkan saat kau pernah di bully anak-anak lain sewaktu kecil kau hanya diam menerimanya. Aku itu khawatir dan cemas dengan kondisimu tahu!" Kata Ian kesal, Dia mulai mengerutkan alisnya. Menggerutu karna sikap Chloe.


Chloe tersenyum jahil, Melihat Ian yang begitu cemas dan khawatir terhadap dirinya entah mengapa malah terlihat menggemaskan di mata Chloe. Terlintas ide jahil untuk menggoda Ian di benaknya.


"Oh gitu, Ciee~...Yang perhatian...Ciee~ Yang peduli," Goda Chloe sambil ketawa ngeliat ekspresi Ian yang berubah.


"Sialan, Berhenti menggodaku!" Ian dengan kesal langsung nyentil kening Chloe sedikit kencang, Kemudian memalingkan wajahnya. Dia tak ingin Chloe melihat pipinya yang merona tipis, Saking tipisnya jadi gak keliatan.


CTAK!


"Aawww!...Sakit," Ringis Chloe pelan sambil mengusap keningnya yang barusan di sentil Ian. "Moonshi jahat banget sih!"


"Siapa suruh menggodaku," Cibir Ian melirik kesal Chloe.


"Punya temen gak ada akhlak gini," Pikir Chloe cemberut, Usai rasa sakit di keningnya hilang. Chloe kembali menguap kecil, Matanya kembali ngantuk.


Lalu Chloe kembali menyandarkan kepalanya pada pundak Ian, Saking ngantuknya gadis bersurai biru itu pun tertidur. Sedangkan Ian sesaat hanya melirik Chloe yang sedang tidur di pundaknya, Lalu dia merangkul pundak sang gadis agar merapat padanya tak lupa juga merapatkan selimut yang mereka pakai.


Hawa dingin malam tak membuat Ian kedinginan sama sekali, Tatapannya tertuju pada pemandangan hutan gelap di seberang jalan Asrama. Netra merahnya juga tak sengaja menangkap Rion di bawah sedang patroli mengawasi sekitar, Untungnya Rion tak menyadari dia dan Chloe sedang berada di Rooftop. Jika Rion mendongak sedikit saja, Mungkin Ian dan Chloe akan ketahuan kalau belum ke kamar masing-masing.


Ian melepas selimut bagiannya lalu menyelimuti Chloe sepenuhnya, Bagaimana pun Ian harus mengantar Chloe kembali ke kamarnya. Dengan perlahan Ian menggendong tubuh sang gadis yang sudah dipakaikan selimut sebelumnya ala Bridal style.


TAP! TAP! TAP!


Dengan hati-hati Ian melangkah meninggalkan area Rooftop menuju kamar Chloe.


******************


[Kamar Chloe]


Perlahan Pemuda bernetra merah itu membaringkan tubuh sang gadis di kasur, Tak lupa dia juga membenarkan selimut yang dipakai Chloe.


Ian mendekat lalu membungkukkan tubuhnya mendekati wajah Chloe yang tertidur pulas, Tanpa sadar Netra nya terpaku pada bibir tipis sang gadis, Sejenak Ian menggeleng pelan. Dia tidak mungkin melakukan itu. Wajahnya beralih ke kening sang gadis.


CUP!


"Selamat malam Chloe," Bisik Ian pelan usai mencium ke kening sahabatnya itu.


Dia menjauhkan tubuhnya, Lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara Ian pergi menjauhi kamar sang gadis, Tak lupa menutup pintu kamarnya.


BLAM!


Tanpa Ian sadari sejak tadi Holy memperhatikan tingkah sang pemuda, Holy tersenyum usai Ian pergi dari kamar Chloe.


"Wah, Aku baper njir. Gak disangka Ian ternyata punya sisi romantis kayak gitu juga. Kasih tahu ke Chloe besok gak ya? Kalau tahu bakalan kaget si Chloe," Holy terkikik kecil sambil ngelirik Chloe yang masih tertidur pulas. "Udahlah, Mending diem aja. Aku juga mau tidur,"


Holy pun dengan bahagia tidur di atas nakas, Tak lupa dia juga mengaktifkan mode tidur.

__ADS_1


TBC


__ADS_2