
[Keesokan paginya]
Sinar mentari menyinari seorang gadis yang tengah tertidur lelap, Sesaat dia mengerutkan alisnya merasa terganggu. Lalu perlahan membuka kelopak mata memperlihatkan Netra biru miliknya.
Chloe bangun perlahan dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur, Dengan wajah sayu dia menatap sekitarnya, Menemukan Felix sedang merapikan pakaiannya di depan cermin.
Tampaknya pria itu sudah mandi, Wajahnya terlihat segar bugar dengan surai coklatnya yang tampak rapi.
"Pagi kak Felix," Sapa Chloe sambil menyibak selimutnya.
"Oh pagi, Bagaimana tidurmu?" Felix melirik Chloe sesaat sebelum mendekati sang adik yang masih duduk di sisi kasur.
"Lumayan nyenyak,"
"Baguslah, Kamu siap-siap dulu. Nanti kakak antar ke kampus,"
"Iya," Chloe cuma manggut-manggut sesaat menguap kecil sebelum meranjak dari sisi kasur.
Felix memperhatikan gerak-gerik adiknya, Netra coklatnya tak sengaja menangkap bekas memar di kaki kiri Chloe. Refleks Felix kembali mendudukkan sang adik di sisi kasur. Dia berjongkok di depan adiknya sambil menatap kaki Chloe.
Chloe tersentak karna Felix kembali mendudukkannya di sisi kasur, Memperhatikan tindakkan Felix dalam diam.
"Kakimu kenapa memar begini? Apa terjadi sesuatu di kampus atau kantor?" Tanya Felix curiga sambil memegang kaki kiri Chloe.
Chloe tersenyum gugup dia memilin ujung bajunya sambil lirik-lirik ke arah lain. "Etto...Cuma bekas terpeleset pas ngepel lantai di kantor kok, 3 hari juga sembuh,"
"Benarkah? Masa memar begini cuma gara-gara terpeleset? Pasti ini juga keseleo, Kalau gak dipijit bakal bengkak,"
Felix secara perlahan dan lembut memijit Kaki kiri Chloe, Agar adiknya lebih nyaman saat berjalan.
"Eh? Gak usah kak. Kakiku baik-baik aja–"
KREK!
"Akh! Sakit! Kakiku...!" Chloe histeris meringis sesaat merasakan sakit di kakinya, Saat Felix memijit kakinya lebih kencang.
"Tahan, Kau mau cepat sembuh gak? Biar jalanmu lebih nyaman," Kata Felix serius, Masih fokus memijit kaki kiri Chloe.
"Hee? Kakak nyadar ya kalau jalanku tadi–" Chloe menjeda perkataannya, Agak ragu melanjutkan.
"Ya iyalah, Emangnya kakak gak perhatiin gerak gerikmu tadi," Felix mendongak menatap Netra biru Chloe, Mendengus sesaat.
Sang gadis hanya cecengesan malu, Ketahuan kalau kakinya sakit.
Usai memijit kaki Chloe, Felix berdiri. Sejenak Chloe menggerakkan kaki kirinya secara perlahan, Otot-otot kaki kirinya yang tadinya tegang kini sudah mulai rilex karna pijatan dari Felix.
"Gimana? Udah mendingan?"
"Iya udah, Malah sekarang kakiku lebih rilex. Makasih kak Felix," Kata Chloe ceria sambil meranjak dari duduknya.
"Sama-sama,"
"Oh iya, balasannya ada di kulkas. Kemarin malam aku bikin kue, Makan aja sama anggota lainnya," Kata Chloe menuju pintu kamar Felix berniat ke kamarnya.
"Kue? Sepertinya enak. Baiklah, cepetan ya siap-siapnya," Felix menaikkan satu oktaf nada suaranya agar Chloe mendengarnya sebelum benar-benar pergi.
"Oke kak," Sesaat Chloe mengancungkan jempolnya, Lalu menutup pintu.
BLAM!
******************
__ADS_1
Usai menyiapkan diri Chloe segera pakai ranselnya tak lupa jaket biru kesayangannya. Dia bergegas menuju dapur bersama Felix yang sudah menunggunya depan pintu kamar.
Sesampainya di dapur sejenak Chloe menatap punggung Aiden yang sedang masak, Sejujurnya dia masih agak takut sih dengan Aiden tapi dia juga berpikir ulang bahwa tindakkannya tadi malam juga terlalu berlebihan. Chloe terlalu takut waktu itu jadi dia tidak bisa berpikir jernih.
Sesaat sebelum duduk sang gadis merasakan tepukan pelan di pundaknya, Dia menoleh sebentar dan menemukan Felix yang tersenyum tipis seolah mengatakan 'tidak apa-apa' pada Chloe. Gadis bersurai biru itu hanya membalas dengan senyuman.
Lalu keduanya duduk di tempat masing-masing bersama anggota lainnya, Suasananya sama seperti sebelum-sebelumnya. Hening dan tenang, Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Rutinitas setiap pagi yang tidak bisa dihindarkan kecuali ketika sedang buru-buru.
Sarapan pagi adalah rutinitas kesukaan Chloe, karna hanya saat sarapan mereka berkumpul bersama. Kalau dulu Chloe makan sendiri di rumahnya, Kini sejak tinggal di Asrama dia punya teman makan walau gak ada obrolan sama sekali.
Satu persatu dari mereka mulai selesai makan termasuk Chloe, Sesaat netra birunya menatap Ezra yang masih menghabiskan sarapannya. Sekarang Ezra tidak menatap tajam dirinya lagi namun aura benci dan seram itu masih ada pada sang pemuda.
Sejenak Chloe menghela napas pelan, Satu persatu para anggota Asrama meranjak pergi keluar dari dapur untuk melakukan kegiatan masing-masing. Kini hanya tertinggal Felix, Aiden, Dan Chloe di dapur.
"Chloe, Ayo pergi sekarang," Ajak Felix tersenyum ramah sambil meranjak dari tempatnya.
Chloe terdiam tampak memikirkan sesuatu, Sedangkan Aiden membereskan sisa-sisa makan mereka dan mencucinya di wastafel.
"Kakak duluan aja ke halaman depan Asrama, Ada yang perlu kukerjakan sebentar," Jawab Chloe balas tersenyum.
"Hm...Oke, Cepetan yah,"
"Iya,"
Felix jalan keluar dari dapur meninggalkan Chloe bersama Aiden disana, Berpikir sekalian ingin memanaskan mobil sebelum berangkat.
Sedangkan Chloe menatap Aiden sebentar, Lalu meranjak dari duduknya mendekati sang pemuda agak gugup.
"Aiden," Panggil Chloe pelan.
"Hm...," Aiden tak menoleh sama sekali, Dia masih fokus mencuci piringnya.
Tak ada sahutan lagi dari Aiden, Hanya terdengar suara air mengalir dan suara piring-piring yang sedang dicuci.
"Huft...Sepertinya dia benar-benar marah, Sikapku agak berlebihan tadi malam. Padahal bukan cuma aku yang darahnya diambil. Tapi karna terlalu takut, Aku jadi begitu," Pikir Chloe merasa agak bersalah karna tak sengaja mukul perut Aiden pakai lututnya.
"Umm...Aiden, Aku minta maaf kalau sikapku tadi malam agak berlebihan, Padahal bukan cuma aku. Tapi karna takut, Aku jadi begitu. Aku benar-benar menyesal," Kata Chloe menunduk kecil, Dia meremas jari-jarinya gugup.
Suara air keran tak terdengar lagi, Hanya terdengar suara piring-piring yang disusun. Tak lama Chloe merasakan sebuah elusan di pucuk kepalanya, Sontak gadis bersurai biru itu mendongak. Menatap netra ungu tua milik Aiden yang menatapnya balik.
"Sudah lama saya tidak mengusap rambut seseorang, Rambut anda sangat lembut. Saya menyukainya," Sesaat Aiden mencium pelan helai-helai rambut milik Chloe.
Berbeda dengan sang gadis yang tampak kebingungan.
"Rambut? Kenapa pembahasannya jadi nyimpang begini? Apa yang Aiden pikirkan?" Pikir Chloe menatap serius Aiden yang sudah menjauhkan wajahnya dari rambut Chloe.
"Saya tahu anda takut, Dan mungkin sikap saya juga agak agresif. Kemungkinan itulah yang membuat anda takut pada saya," Jelas Aiden datar, Kembali melanjutkan ucapannya. "Saya memaklumi hal itu, Anggota lain juga melakukan hal yang sama seperti anda dulunya tapi seiring berjalannya waktu mereka terbiasa,"
Chloe terdiam menatap netra ungu Aiden.
"Saya harap anda juga terbiasa dan tidak keberatan kalau sewaktu-waktu saya mengambil darah anda. Kalau anda tenang saya tidak akan agresif tapi kalau anda menolak, maka sebaliknya," Tambah Aiden sambil meraih tangan Chloe perlahan.
"Begitu ya, Aku mengerti. Jadi aku hanya perlu tenang begitu?"
"Ya,"
Chloe manggut-manggut pelan, Dia paham sekarang kenapa anggota lain tenang-tenang saja sewaktu darah mereka diambil. Rupanya kalau mereka tenang maka Aiden tidak akan agresif seperti kemarin malam. Yah, Kalau Aiden tidak menjelaskan mana Chloe tahu ada peraturan kayak gitu.
Tak lama Chloe merasakan sakit seperti jarum kecil yang menembus kulit lengannya, Namun rasa sakit itu hanya sementara, Perlahan rasa sakit itu menghilang dan sekarang yang Chloe rasakan hanya darahnya yang tersedot keluar. Sesaat alisnya terangkat sebelah.
"Aku tidak merasakan sakit apapun saat Aiden mengambil darahku, Jadi begini ya caranya agar tidak merasa sakit. Tenang dan tidak menolak," Sang gadis manggut-manggut kecil.
__ADS_1
Namun mendadak kepalanya jadi merasa pusing sedikit demi sedikit, Sepertinya Aiden sudah terlalu banyak ngambil darahnya.
"Aiden, Apa kau sudah selesai? Kepalaku mulai pusing," Sesaat Chloe memegangi kepalanya dengan tangan satunya.
Aiden berhenti setelah mendengar keluhan Chloe, Ah sepertinya dia terbawa suasana sesaat. Habisnya darah gadis bermarga Amberly itu sangat manis dan menyegarkan untuknya. Perlahan Aiden menjauhkan wajahnya dari lengan Chloe. Mengusap bekas gigitan di lengan sang gadis dengan ibu jarinya.
Tak lupa dia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, Menatap Chloe sesaat. Tangannya terulur menyentuh kening sang gadis.
"Hee?" Gadis bersurai biru itu mengerjapkan matanya sesaat, Tiba-tiba saja Chloe merasakan hembusan angin kecil disekitar kepalanya sebelum perlahan rasa pusingnya berangsur-angsur menghilang. Setelah Aiden menyentuh keningnya.
"Kekuatan macam apa yang dimiliki Aiden? Hebat sekali dia bisa menyembuhkan rasa pusing secepat ini," Pikir Chloe kagum.
"Sudah selesai, Nona Chloe bisa pergi sekarang sebelum terlambat," Kata Aiden menjauhkan tangannya dari kening Chloe.
"Oh iya, Kak Felix pasti sudah menunggu lama," Sesaat Chloe menepuk keningnya kaget, Melupakan fakta bahwa Felix masih menunggunya.
Aiden dengan ekspresi datar mengambil kotak bekal yang sudah dia sediakan sebelumnya bersama dua bungkus plastik hitam berisi potongan kue Rasberry buatan Chloe tadi malam.
"Ini bekal Nona, Dan tolong berikan kue ini untuk Tuan Justin dan Tuan Ezra," Kata Aiden sambil menyerahkan ketiga makanan itu.
"Oh iya, Makasih Aiden. Kuenya buatanku kemarin malam kan?" Tanya Chloe sambil memeriksa bungkus plastik berisi kue tersebut.
"Iya,"
"Ya udah, Aku pergi dulu. Oh sebentar,"
Chloe mendekati Aiden lalu berjinjit kecil sambil mengusap surai ungu milik Aiden dengan senyum. Sedangkan Aiden menatap dalam diam tindakkan gadis di depannya.
"Rambutmu juga lembut, Hehehe,"
TEP!
Aiden menahan satu tangan Chloe yang mengusap rambutnya membuat sang gadis agak tersentak. Netra ungu tua itu tampak serius.
"Dari dekat aroma Nona adalah aroma manusia, Tapi kenapa anda bisa menghilang secepat itu pakai teleport tadi malam? Kekuatan anda mirip seperti punya saya. Apa jangan-jangan anda setengah manusia?" Kata Aiden serius, Netra ungunya menatap lekat netra biru Chloe.
Seketika tanpa sadar keringat dingin mengalir di pelipisnya. Chloe meneguk selivanya kasar, Dia melupakan fakta bahwa dia teleport di depan Aiden saking takutnya kemarin malam. Dan tidak menyadari bahwa Aiden memperhatikan hal itu.
"Njir aku lupa Aiden ada disana waktu itu, Dan bodohnya aku malah menunjukkan mode yang kudapatkan di depannya. Pura-pura gak tau aja lah," Pikir Chloe panik, Dia menarik tangannya dari genggaman Aiden secara perlahan.
"Hahaha, Aiden kamu ngomong apa sih? Teleport apa? Aku gak paham maksudmu," Chloe tertawa canggung, Berusaha menutupi kepanikannya.
Aiden menyipitkan matanya sesaat, Menatap ekspresi sang gadis lekat. Mencoba menebak kejujuran Chloe dari ekspresi sang gadis. Mulutnya terbuka kecil ingin menyahut perkataan Chloe namun suara Felix yang baru datang ke dapur membuat Aiden mengurungkan niatnya.
TAP! TAP! TAP!
"Chloe, Kenapa lama sekali? Cepatlah, Waktu kita tidak banyak," Kata Felix di ambang pintu dapur.
Sontak Chloe menoleh saat mendengar suara Felix, Dia mengangguk kecil sesaat. "Iya, Kak sebentar,"
Gadis bersurai biru itu kembali melengokkan kepalanya menatap Aiden. "Kami pergi dulu ya Aiden, Tenang saja kue nya akan kuberikan ke Pak Justin dan Pak Ezra di kantor nanti. Dah!"
Chloe melambai sesaat lalu berlari kecil mendekati Felix di ambang pintu.
"Huft...Untunglah kak Felix datang tepat waktu, Kalau tidak mungkin Aiden akan terus menanyaiku tentang teleport itu," Pikir Chloe tenang, Sesaat dia menghela napas lega sambil jalan keluar dapur bersama Felix.
Berbeda dengan Aiden yang terus menatap Chloe, Netra nya terus mengikuti langkah sang gadis hingga keluar area dapur.
"Untuk saat ini rahasia yang anda sembunyikan mungkin masih tersimpan rapat nona Chloe, Tapi lihatlah bagaimana kedepannya," Gumam Aiden datar, Ikut keluar dari dapur usai kepergian Chloe dan Felix.
TBC
__ADS_1