System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Suasana penuh duka


__ADS_3

Di sebuah Universitas terdengar hiruk pikuk gaduh dari beberapa mahasiswa sepanjang koridor, Seorang gadis berjalan santai diantara para mahasiswa yang berpapasan dengannya. Sesekali ia bertegur sapa atau tersenyum pada mahasiswa lain yang ia kenal.


Setelah sampai di luar fakultas Chloe merasakan Handphone nya bergetar, Bergegas tangannya meraih handphone dari saku jaket miliknya. Dan mendapati Ian lah yang menelponnya, Ia mengangkat panggilan itu sembari berseru.


"Ya hallo, Ada apa Ian?"


"....."


"Umm, Aku masih di fakultas sih. Bentar lagi pulang kok, Emangnya kenapa?"


"....."


Setelahnya Chloe diam membisu, Bibirnya agak bergetar tak percaya. Sesaat dirinya diam mematung.


"A-Apa...Rion...!" Chloe menjeda kata-katanya masih dalam keterkejutan. "Berikan alamatnya! Aku segera kesana,"


Setelahnya Chloe buru-buru memesan taksi dan segera berlari pergi menuju gerbang kampus menemui taksi yang ia pesan.


****************


TAP! TAP! TAP!


Usai membayar taksi Chloe buru-buru memasuki lobby rumah sakit sesuai alamat yang diberikan Ian, Beberapa kali dirinya hampir menabrak orang-orang yang berpapasan dengannya.


Chloe mendekati meja administrasi dengan napas terengah-engah, Tak menghiraukan tatapan heran dari suster yang berjaga.


"Ada yang bisa saya bantu–"


"Pasien bernama Rion Kazuhara, Kamar nomor berapa?" Potong Chloe cepat dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


"Oh sebentar, Biar saya cari," Suster itu mencari daftar nama-nama pasien dalam sistem komputernya, Tak lama dia menemukan nama Rion disana.


"Kamar No.106, Sebentar lagi pasien akan dibawa ke–"


"Terima kasih suster,"


Tanpa mendengar balasan dari suster itu, Chloe bergegas menuju kamar yang dituju melewati orang-orang yang menghalangi jalannya.


Ia menemukan lift segera Chloe masuk ke dalamnya dan menekan angka lantai yang ditujunya.


TING!


TAP! TAP! TAP!


Dengan teliti bak elang netra biru miliknya terus memperhatikan setiap nomor yang terpasang di pintu kamar pasien, Hingga akhirnya netra biru itu menangkap kamar bernomor 106 yang dicarinya sejak tadi.


Refleks tangannya memegang engsel pintu dan membuka secara cepat.


Napasnya berhembus tak teratur, Tubuhnya seakan membeku dengan mulut yang terkunci rapat. Disana para anggota asrama lain sudah berkumpul, Aura kesedihan terpancar dari masing-masing anggota.


Netra biru nya menangkap sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia mendekati sosok yang terbaring di ranjang itu perlahan, Semakin dekat semakin berat Chloe untuk melangkah.


"Katakan padaku ini hanya candaan kan? Kalian pasti bercanda kan?" Kata Chloe tersenyum getir, Tubuhnya agak gemetar saat melihat sosok yang ditutupi kain putih itu.


"Kau bisa melihatnya sendiri, Rion...Sudah tiada," Lirih Raizel sembari menunduk sedih, Ia mencengkeram ujung pakaiannya erat melampiaskan rasa sedih dan marah secara bersamaan.


Chloe semakin mendekat hingga akhirnya berada di sisi sosok itu, Tangannya perlahan terangkat dengan gemetar menyingkap kain yang menutupi wajah sosok tersebut.


Sesaat jantungnya seakan berhenti berdetak setelah wajah sosok itu terlihat jelas, Refleks Chloe menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu terkejut, Perlahan air matanya keluar membasahi kedua pipinya, Sebagian menetes mengenai lantai.

__ADS_1


Sedangkan anggota lain memilih diam mendengar isak tangis Chloe, Mereka tertunduk sedih sekaligus merasa marah kepada sosok misterius yang sudah membunuh Rion.


Melihat Rion yang terbujur kaku membuat hatinya sedih sekaligus merasa sakit karna satu anggota keluarganya hilang. Felix mendekati adiknya yang masih menangis dalam diam, Lalu menuntun sang adik duduk di sofa yang tersedia.


"Kakak mengerti kau merasa kehilangan, Kami juga merasa begitu. Bagaimana pun juga kita harus merelakan Rion," Kata Felix pelan sembari mengusap pundak Chloe berusaha menenangkan adiknya. Walaupun dalam hati kecilnya ia juga merasa sakit kehilangan Rion.


Chloe tak menjawab, Dirinya masih menangis sembari menyembunyikan wajahnya menggunakan kedua tangan.


Aiden menatap Chloe sesaat, Lalu menatap anggota lainnya. Diantara anggota lain hanya dirinya yang tidak merasa sedih, Emosinya sudah hilang sejak lama. Tapi saat menatap wajah Rion yang pucat entah kenapa Aiden juga merasakan kehilangan yang begitu besar, Dalam hatinya ia merasa sakit.


Dia mendekati sisi ranjang Rion lalu kembali menutup wajah Rion dengan kain putih, Aiden membungkuk pelan berbisik tepat disamping kuping Rion walau ia tahu Rion tidak akan mendengarnya.


"Semoga kau tenang disana, Kami akan selalu mengingatmu dan mendoakanmu Rion," Bisik Aiden lirih, Dan ia menjauhkan tubuhnya.


"Aku akan memberi tahu dokter untuk segera memakamkan Rion sekaligus membayar biaya Administrasinya," Kata Justin pelan sejenak ia menatap tubuh Rion sendu, Setelahnya pemuda bernetra orange itu melangkah keluar dari sana.


**************


[Pemakaman]


Setelah upacara pemakaman selesai satu persatu orang-orang sekitar mereka pergi dari sana tak terkecuali para anggota Asrama, Mereka masih berdiam diri disana. Awan mendung dengan langit yang agak gelap menambah suasana duka mereka, Seolah saat ini langit juga ikut bersedih.


Chloe berjongkok lalu menaburkan beberapa kelopak bunga tepat di atas makam Rion di ikuti Devian dan Felix yang juga bersedih. Tidak ada satupun pembicaraan diantara mereka, Semuanya hanyut dalam duka masing-masing. Setelahnya mereka berdoa untuk ketenangan Rion di alam sana.


Tanpa sadar Chloe kembali meneteskan air matanya, Buru-buru sang gadis mengusap matanya dengan lengan baju. Awan mendung mulai bergemuruh menandakan hujan akan datang.


"Ayo kita pulang," Ajak Justin menatap para anggotanya setelah selesai berdoa.


Mereka mengangguk kecil dan mulai meninggalkan area pemakaman yang begitu sepi dan sunyi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2