System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Partner


__ADS_3

[Malam hari]


BRUK!


"Ini berkas yang kau minta Justin," Felix melempar sebuah map berisi banyak berkas ke meja Justin, Dia Bersidekap sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Justin tanpa banyak bicara langsung mengambil map coklat itu, Melihat berbagai isi dalam berkas.


"Jadi ternyata benar orang itu memata-matai Asrama kita? Tampaknya dia sudah memilih lawan yang salah," Justin tersenyum sinis, Memandangi beberapa foto Asrama mereka serta para anggotanya. Hanya saja foto Chloe dan Rion tidak ada dalam berkas itu, Tentu saja keduanya adalah anggota baru.


"Dia sengaja menyembunyikan identitasnya. Orang itu juga menyelidiki latar belakangmu bahkan sampai melibatkan Asrama ini. Kudengar sempat ada beberapa hacker suruhannya yang berusaha menyabotase akun perusahaan J.G Entertainment," Jelas Felix tenang masih memandangi Justin yang fokus dengan berkas-berkas tersebut.


"Dia ingin menjatuhkanku rupanya," Justin mengangkat kepalanya memandang Felix. "Bagaimana dengan tangan kanannya? Apa kau mendapat informasi darinya?"


Felix mengangkat kedua pundaknya acuh. "Aku membunuhnya, Habisnya dia tidak mau memberikan informasi apapun. Hanya berkas itu dan kunci brangkas serta Tabletnya saja yang kudapat,"


"Hm...Begitu rupanya, Apa kau bisa mencari biodata para hacker yang berusaha menyabotase akun perusahaanku? Mereka perlu diberi hadiah karna sudah berani macam-macam dengan perusahaanku," Kata Justin sambil tersenyum penuh makna.


"Yah, itu masalah kecil. Akan kucari identitas mereka yang asli. Tapi kusarankan kau mengirim mata-mata ke perusahaanmu untuk mencari informasi tentang orang itu, Aku curiga seperti nya dia terlibat dengan sebuah organisasi," Saran Felix.


Justin terdiam memikirkan saran Felix, memang apa yang dikatakan Felix ada benarnya juga, Terlebih orang itu kini sudah mengetahui Asrama rahasianya.


Ezra yang sejak tadi berdiri di belakang Justin diam mendengarkan, Dia membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dengan kepala Justin.


"Tuan, Saya bisa menjadi mata-mata anda dan mencari informasi tentang orang itu yang sudah membuat keresahan di perusahaan anda," Tawar Ezra dengan ekspresi datarnya.


Sesaat Justin melirik Ezra dengan netra orangenya lalu menggeleng pelan.


"Maaf Ezra, Sudah banyak tugas yang kau kerjakan. Aku tidak bisa lagi memberimu tugas, Nanti kau akan jatuh sakit jika terlalu memaksakan diri," Jelas Justin serius membuat Ezra sedikit tersentak.


"Apa Tuan mengkhawatirkanku? Rasanya senang sekali kalau Tuan peduli padaku," Pikir Ezra tersenyum tipis. Merasa senang karna kepedulian Justin.


"Saya tidak memaksakan diri, Ini demi reputasi perusahaan anda Tuan,"


"Aku tahu itu, Tapi aku tidak ingin kau mengabaikan kesehatanmu sendiri Ezra. Kau sering mengkhawatirkan kondisiku tapi kondisimu sendiri diabaikan. Jadi tolong jangan memaksakan diri jika tidak sanggup," Justin menoleh memandang Ezra yang tersenyum tipis.


"Baiklah Tuan," Kata Ezra memasang ekspresi datar namun sebenarnya dalam hati dia senang karna perhatian Justin.


Felix sejak tadi menyimak pembicaraan itu, Sejenak dia memilih sibuk dengan Tablet yang dia dapatkan saat membunuh tangan kanan orang itu. Felix membaca informasi disana. Tentu saja Tablet itu berisi pesan antara si tangan kanan dan Bos yang menyuruhnya ke dermaga.


"Disini tertulis kalau sebenarnya Bos yang menyuruh tangan kanannya ke dermaga adalah staff dari J.G Entertainment. Kemungkinan besar ada penghianat di perusahaanmu. Kau memang sedang membutuhkan mata-mata untuk mencari penghianat itu," Jelas Felix usai membaca pesan di Tablet tersebut.


"Cih, Berani sekali dia menghianati Tuan Justin. Tuan, Kita tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja," Kata Ezra tak terima.


"Aku tahu, Masalahnya kita harus mencari tahu siapa orangnya. Bisa jadi dia salah satu dari Kepala Staff atau yang menempati posisi tertinggi di Staff itu," Justin mengambil tehnya, Minum sesaat untuk merilexkan pikirannya.


"Yah, Aku juga menduga begitu," Felix mengangkat kedua pundaknya acuh, Kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Hm...Baiklah, Kau bisa pergi Felix. Aku akan menyimpan berkas-berkas ini," Justin membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya dibantu Ezra.


Sedangkan Felix mengangguk dan meranjak dari sana, Keluar ruangan untuk segera mengerjakan misinya.


**********************


BLAM!


"Oh, Chloe," Felix agak tersentak karna Chloe sudah berada di depannya dengan ekspresi bingung, Felix bahkan tidak sadar sejak kapan Chloe berdiri disana.


"Ada apa kesini?" Tanya Felix ramah seperti biasa menunjukkan senyum tipis.


"Ano, Menemui Pak Justin. Pak Justin bilang segera keruangannya malam ini, Ini soal misiku," Jelas Chloe masih menunjukkan raut bingung. "Kak Felix sendiri habis ngapain di ruangan Pak Justin?"


"Hanya memberi beberapa laporan misi yang sudah selesai kakak kerjakan. Kau bisa langsung masuk, Justin ada didalam,"


Felix segera menyingkir dari pintu, Memberi jalan pada sang adik. "Kalau begitu kakak pergi dulu,"


"Iya,"


Felix segera pergi dari sana, Tampak terburu-buru karena harus segera menyelesaikan misinya. Sedangkan Chloe sejenak memandang kepergian Felix sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada pintu di depannya.


"Semuanya akan baik-baik saja Chloe, Kau terlihat ragu," Kata Holy yang terbang di samping kepala Chloe.

__ADS_1


"Aku hanya merasa sedikit gugup, Bukan ragu,"


"Untuk apa gugup? Bukannya kau sudah sering bertemu Justin?"


"Umm...Yah tapi ini rasanya tetap saja aku tidak bisa mengendalikan kegugupanku,"


"Tenang dan hembuskan napas, Aku yakin kau akan merasa lebih baik setelahnya," Dengan sabar Holy menepuk pundak Chloe sebelum duduk disana.


Chloe melakukan saran Holy dan kini dia merasa sudah lebih baik. Dengan percaya diri Chloe mengetuk pintu sesaat lalu membukanya.


CKLEK!


"Permisi," Chloe menyembulkan kepalanya untuk melihat situasi dalam ruangan sebelum memutuskan untuk masuk.


Justin yang sedang minum teh nya menoleh menatap Chloe begitu pun dengan Ezra yang sejak tadi berdiri disamping Justin.


"Sudah datang ya, Kemarilah dan duduk disana," Pinta Justin datar.


Chloe cuma nurutin aja, Sesaat Netranya melirik Ezra dan Kembali Ezra melayangkan tatapan tajam seolah mengatakan 'Jangan-Macam-Macam-disini'.


"Baiklah Pak Ezra, Aku tidak akan dekat-dekat dengan Pak Justin tapi Bapak gak perlu menatapku seperti itu seolah ingin memakanku hidup-hidup," Jerit Chloe dalam hati, Dia berusaha untuk tidak menatap Ezra.


Setelah posisi duduknya sudah nyaman, Chloe membuka suara. Mulai serius.


"Jadi Misi apa yang akan Pak Justin berikan ke saya?"


Justin masih santai meminum tehnya sebelum akhirnya membalas pertanyaan Chloe.


"Tidak perlu buru-buru, Santai saja. Ekspresimu terlalu tegang, Cobalah untuk tenang dan rilex," Justin tersenyum tipis, Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Gimana mau tenang! Itu Pak Ezra auranya serem banget Pak Justin. Udah kayak setan," Jerit Chloe dalam hati, Pengen Chloe langsung bilang kayak isi hatinya tadi namun gak berani karna tatapan elang Ezra.


Alhasil Chloe cuma bisa diam sambil senyum canggung, Menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. "Etto...Langsung intinya aja Pak, Soalnya saya juga harus buru-buru tidur buat kuliah pertama besok,"


"Oh, Aku lupa besok kau sudah mulai kuliah. Padahal besok bertepatan dengan mulainya misimu. Tapi kau masuknya jam 8 pagi juga kan?"


"Iya Pak, Kemungkinan Sore baru pulang. Apalagi besok MOS dulu selama 3 hari," jelas Chloe menautkan kedua tangannya.


Justin bersidekap tampak sedang memikirkan sesuatu, Sesaat dia menghela napas. "Kau memilih Kuliah pagi ya, Baiklah. Kalau begitu kau bisa mulai misinya saat sore saja setelah kuliah dan pulangnya malam,"


"Aku ingin kau bekerja di perusahaanku sebagai Staff OG (Office Girl), Dan mencari penghianat itu yang sudah mengetahui Tempat persembunyian Asrama kita," Kata Justin serius sambil menautkan kedua tangannya. "Dia bisa saja menyamar jadi Staff di perusahaanku, Kau harus hati-hati saat menyelidiki mereka dan jangan sampai ketahuan,"


Sejenak Chloe tersentak, Jadi misinya saat ini menjadi mata-mata untuk mencari penghianat itu. Yang benar saja? Diantara ribuan orang-orang yang berada di sana pasti sangat sulit mencari si penghianat itu karna dia berbaur dengan orang-orang disana.


"Tapi bukannya akan sulit mencarinya jika dia berbaur dengan banyak orang?"


"Justru itu kenapa aku memintamu menjadi OG karna OG adalah jabatan terendah di Perusahaanku dan tidak akan mencolok karna orang-orang disana memandang OG sebelah mata, Mereka menganggap pekerjaan OG tidak terlalu penting dan Kau tidak akan menjadi pusat perhatian jika mengambil posisi itu,"


"Jadi maksudnya aku menjadi OG agar bisa bergerak bebas tanpa dicurigai kalau pekerjaanku yang sebenarnya adalah mata-mata, Dan bisa mengawasi orang-orang yang terlihat mencurigakan begitu?" Papar Chloe dengan ekspresi serius, Justin tersenyum kecil dan mengangguk pelan.


"Cepat tanggap juga kau, Yah seperti itulah maksudku,"


"Tapi bagaimana dengan batas usia para pekerja perusahaan? Bukankah minimal batas pekerja itu diatas 20 tahun? Sedangkan umurku masih 19 tahun,"


"Pekerjaan OG di tempatku tidak mementingkan batasan umur, Bisa diatas 20 tahun atau dibawah 20 tahun tapi minimal paling rendah umur 18 tahun baru bisa jadi OG ataupun OB. Kecuali jika jabatan menjadi GM (General Manajer) atau diatasnya sepertiku, Nah itu baru harus minimal di atas 20 tahun," Jelas Justin sambil meminum tehnya kembali.


Chloe manggut-manggut paham, Dia baru tahu tingkat jabatan yang seperti itu.


"Hm...Tapi aku kan masih kuliah, Apa gak dilarang anak yang masih kuliah kerja?"


"Yah, Tidak akan ketahuan jika kau tidak memberi tahu kepala Universitasmu," Dengan santai Justin menyandarkan punggungnya.


"Kalau ketahuan tanpa kuberitahu bagaimana?"


"Tenang saja, Akan kuurus masalah itu. Siapa yang berani melawan keluarga Garfield?" Justin tersenyum angkuh.


"Sudah kuduga, Pasti akan memakai jalur kekuasaan," Pikir Chloe yang hanya bisa spcheeles.


"Jadi bagaimana? Misi ini sangat mudah untuk pemula sepertimu, Kau hanya perlu mencari orangnya dan ambil informasi sebanyak yang kau bisa. Setelah misimu selesai sisanya serahkan pada yang lain,"


"Hah~...Baiklah, Anggap saja balas budiku karna kau sudah mau menampungku disini. Tapi berikan aku gaji yang sepadan dengan misiku," Kata Chloe sejenak menghela napas.

__ADS_1


"Gaji?" Sesaat Justin mengerutkan alisnya. "Untuk apa? Apa fasilitas di Asrama ini kurang untukmu?"


"Bukan begitu, Tapi gaji ini khusus buat keperluanku sendiri alias keperluan cewek gitu. Pak Justin paham kan? Masa mentang-mentang semua anggota rata-rata cowok, keperluanku dilupain," Sungut Chloe dengan cemberut.


Seketika pikiran Justin langsung blank, Dia paham maksud Chloe cuma gak nyangka aja dia lupa sama keperluan pribadi nih cewek satu-satunya di Asrama.


"Ya, Ya. Aku bisa mengurusnya. Kau tenang saja," Balas Justin dingin.


"Oke, Apa saya sudah bisa keluar Pak?"


Pemuda bernetra orange itu mendadak terdiam, Sejenak dia melirik Ezra di belakangnya yang terus memandang Chloe tajam. Seketika sebuah ide terlintas di benaknya.


"Oh benar, Ada satu lagi tugas untukmu,"


Perkataan Justin yang tiba-tiba membuat Chloe penasaran, Sepertinya tugasnya akan banyak kali ini.


"Aku ingin kalian berdua, Ezra dan Chloe jadi partner," Justin tersenyum yang seketika membuat Ezra dan Chloe melotot kaget.


"APA!?" Seru keduanya serempak tak percaya.


Ezra langsung mandang Chloe tajam bak elang.


"Aku!? Partner dengan anak ini!? Tidak mungkin!? Gak sudi aku partner sama dia," Pikir Ezra benci.


"Partner sama Pak Ezra!? Yang bener aja!? Yang ada Pak Ezra makin benci aku, Kami bakalan gak cocok jadi partner," Pikir Chloe bergidik ngeri, Dia balas natap Ezra yang keliatan banget aura kebenciannya makin menguar jelas.


"Aku!? Partner dengan si tengil ini!?" Ezra dengan ekspresi jutek menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk Chloe.


"Iya, dengan Chloe, Kalian akan bekerja sama di perusahaanku," Kata Justin dengan senyum tipis.


"Kerja sama dengan Pak Ezra? Pak Justin apa kau tak lihat bagaimana tidak sukanya Pak Ezra pada ku?" Pikir Chloe histeris dalam hati, dia berkeringat dingin sesaat.


"Enggak! Kenapa harus aku!? Maaf Tuan Justin, Ini pertama kalinya aku menolak keputusan anda. Tapi sejujurnya aku tak suka dia, Kenapa aku harus nempel-nempel dengan Si Tengil-Kucel ini!?," Protes Ezra tak terima sambil nunjuk-nunjuk Chloe.


"Si Tengil-kucel!? Huh, Pak Ezra gak usah ngatain juga dong! Aku juga gak mau partner dengan bapak!" Pikir Chloe sesaat mendelik menatap Ezra.


"Umm...Pak Justin, Lebih baik saya tak usah punya partner. Saya tak ingin merepotkan Pak Ezra," Tolak Chloe secara halus, lagipula dia tak ingin dekat-dekat dengan Ezra.


Justin memejamkan matanya, Bersidekap sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Menghela napas lelah sesaat.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Untuk kau Ezra, Chloe mungkin bisa membantumu selama mengerjakan misinya di perusahaan. Dengan begitu pekerjaanmu sebagai Road Manejer sedikit berkurang karena bantuan Chloe, Lebih tepatnya Chloe cuma akan jadi Partner Standby mu kalau kau perlu sesuatu atau jika sedang dalam masalah," Justin memandang Ezra yang terkejut sesaat.


Lalu tatapan Justin beralih ke Chloe. "Dan untuk Chloe, Kau masih tahap pemula dan pelatihan di perusahaanku, Kau juga belum memiliki seragam OG resmi. Jadi kurasa kau perlu bimbingan dan pengawasan dari Ezra. Dengan begitu Ezra bisa langsung mengawasimu kalau terjadi apa-apa denganmu,"


"Sekarang yang aktif di perusahaan hanya kita bertiga, Jadi alangkah baiknya kalian berdua bekerja sama," Tambah Justin masih tersenyum tipis.


Chloe terdiam memikirkan perkataan Justin, Berbeda dengan Ezra yang masih tak terima dengan keputusan itu.


"Tapi Tuan Justin, Aku tak butuh partner yang hanya bisa menyusahkan seperti dia," Kata Ezra kesal masih bersikukuh menolak keputusan itu.


Sesaat Chloe mengerutkan alisnya tak terima dikatain menyusahkan oleh Ezra.


Sedangkan Justin mulai memijit keningnya pusing, Kepalanya jadi nyut-nyutan seakan ingin meledak.


"Ezra tolong beri dia kesempatan, Kau jangan egois! Aku sudah bilang ini demi kebaikan kalian berdua, Keputusanku tidak bisa diubah. Sekarang kalian keluar dari ruanganku!" Nada Justin sedikit meninggi, Mulai pusing dengan tingkah para anggotanya.


Ezra dan Chloe langsung diam setelahnya, Lalu keduanya buru-buru keluar dari ruangan Justin.


BLAM!


Tak lupa Chloe kembali menutup pintunya, Sejenak terjadi keheningan di antara keduanya. Lalu Chloe melirik Ezra disampingnya yang menatap tajam.


"Kau!"


Perhatian Chloe terpusat pada Ezra yang menatapnya jutek dan benci.


"Jangan macam-macam denganku! Awas aja kalau kau coba-coba buat laporan jelek tentangku," Kata Ezra sinis, Menggerakkan tangan kanannya memperagakan seolah sedang memotong kepalanya sendiri. Seolah berkata 'You're Dead!' pada Chloe jika Chloe sampai membuat laporan jelek tentang Ezra.


Chloe cuma bisa diam memandang, Memasang ekspresi waspada dengan sedikit keringat dingin di keningnya.


"Ugh!...Pak Ezra tampaknya bersungguh-sungguh dengan perkataannya," Pikir Chloe masih waspada.

__ADS_1


"Tapi kenapa juga Partnerku harus Pak Ezra sih!?"


TBC


__ADS_2