
Freya pergi ke kampus setelah satu Minggu berkeliling. Sejak pertemuan dirinya dan Agam saat keluar dari apartemen, Freya tak pernah melihatnya lagi. Pada waktu berlibur yang singkat, ia sering menemui sepupunya Jenneth, meminta untuk menemani berkeliling.
Yah, walau acuh tak acuh, Jenneth tetap menemaninya berkeliling. Hanya saja memang ia tidak terlalu menyukai Freya sejak kecil entah karena apa.
Memasuki SMA barunya, semua mata langsung tertuju kearahnya. Freya tak nyaman! Membuatnya gelisah saja.
Dengan wajah yang memerah, ia segera mencari kakak sepupunya. Untung nya ia bisa melihat kakak sepupunya itu tengah menunggu tak jauh dari dirinya. Membuat hatinya menjadi lega.
Freya segera berlari kecil mendekat. Rambut yang berkibar dan senyuman yang membuat semua orang terpana melangkah melewati semua pelajar disekitar.
"Kak Jen," suara halus yang terdengar familiar memasuki gendang telinga Jenneth membuatnya menoleh ke asal suara. Freya berada empat langkah darinya.
"Ikut aku," tanpa menunggu jawaban Freya, Jenneth berbalik menuju dimana kelasnya berada.
Setelah sampai di ruang kelas, dapat dilihat kelas itu sudah dipenuhi oleh para siswa-siswi lain. Ketika memasuki kelas bersama Jenneth, perhatian semua orang tertuju pada keduanya. Tidak. Lebih tepatnya tertuju pada Freya. Lagi.
Dimata semua orang, penampilan Freya terlihat sangat feminim dengan seragam yang melekat ditubuhnya. Ia sangat cantik dan tampak murni.
Wajah putih bersih tanpa make up, mata jernih yang menatap polos, bibir merah muda dengan pipi chubby. Jangan lupa dengan rambut halus di bahunya. Dia terlihat lebih pendek dibandingkan dengan Jenneth.
Saat ini matanya terlihat sedikit berkabut, bulu matanya bergetar. Menatap takut dan malu semua orang. Jari yang ramping mengerat di ujung roknya. Berharap kegugupannya sedikit berkurang.
Jenneth tak peduli dengan Freya. Tanpa banyak bicara ia langsung duduk di salah satu bangku.
Freya memandang Jenneth yang sudah duduk di kursinya. Sedikit sedih karena awalnya ingin duduk bersama. Tapi sudah ditolak bahkan sebelum mengajak.
Freya mengedarkan pandangan ke seluruh kelas sampai matanya tertuju satu objek. Kursi kosong. Hanya satu kursi yang berada di belakang kosong.
Dengan perlahan Freya berjalan ke arah kursi. Tangannya masih mencengkeram roknya, berharap kegugupannya tidak di ketahui teman sekelasnya.
Menaruh tas di atas meja, ia segera mengambil posisi duduk dekat jendela. Mengeluarkan pulpen dan buku. Mencoret-coret, menggambar semua yang ada di pikirannya di atas kertas kosong.
__ADS_1
Tak berselang lama, seseorang memasuki ruang kelas. Semua perhatian beralih ke arah Agam yang baru saja masuk. Agam melihat seseorang yang familiar sedang duduk di posisi paling belakang.
Walaupun perhatian tertuju padanya, Agam hanya memandang Freya, seseorang yang dikenalnya baru-baru ini. Gadis polos yang tinggal di depan apartemennya sendirian tanpa pengawasan.
Freya yang sibuk dengan gambarnya tidak menyadari seseorang mendekatinya. Agam melirik sebentar, kemudian duduk di bangku sebelah.
"Hai Freya,"
Freya tersentak. Ia menutup bukunya dan menoleh kesamping, wajah tampan Agam yang lembut terlihat.
"Eh? Kamu?" Freya bingung, kenapa ia disini? Kebetulan macam apa ini?
Agam terkekeh. Semua pikiran Freya selalu ditampilkan di wajah cantiknya. "Aku sekolah disini. Kau boleh duduk disini," tambahnya melihat Freya yang beranjak pergi.
"Eh? Uh, ya," gugup Freya. Bagaimana tidak? Perhatian teman sekelasnya masih tertuju pada mereka berdua, termasuk Jenneth yang mengerutkan keningnya menerka-nerka hubungan mereka.
Banyak yang terkejut. Walaupun Agam terkenal dengan keramahannya ia lebih suka duduk menyendiri entah karena apa.
"Selamat pagi semua. Hari ini ada seseorang yang akan menjadi teman baru kalian. Freya, silahkan berdiri dan perkenalkan dirimu," ucap Rio, wali kelasnya.
Freya berdiri. Meremas jari-jari putih mungilnya dengan kencang. Dia sangat gugup saat ini, Agam yang berada di sampingnya menyadarinya langsung berbisik kepadanya.
"Tenanglah, tidak perlu gugup," suara lembutnya membuat Freya sedikit lebih tenang.
Ia berdiri mengambil nafas sejenak. "Hai semua. Aku Freya Alleya Mahendra senang bertemu dengan kalian. Semoga kita bisa berteman baik," suara lembutnya membuat semua yang berada dikelas terkesan.
Ternyata bukan penampilannya saja yang seperti Dewi, melainkan suara lembutnya juga dapat menyaingi Dewi dan juga sikap malu-malu itu sangat sempurna, begitulah pikiran orang-orang.
Mereka semua menunggu kelanjutan dari Freya tapi ia hanya berdiam di tempat, menatap Rio bingung.
"Apa itu saja perkenalan darimu" Rio yang juga menunggu akhirnya bertanya pada Freya.
__ADS_1
Freya mengangguk. Apa lagi yang harus aku lakukan? pikirnya bingung dan tentunya semua tertuang pada ekspresi wajah nya.
"Ekhem... Kalau begitu selamat bergabung Freya. Silahkan duduk kembali," Rio hampir saja tersenyum melihat wajah bingung Freya, dengan berbatuk kecil ia harus tetap menjaga ekspresi berwibawa miliknya.
"Baik, terimakasih pak," Freya tersenyum. Senyumnya sangat cantik dan tulus membuat yang melihatnya tercengang. Terutama para laki-laki yang ada di sana, telinga mereka semua memerah.
Mengabaikan tatapan itu, Freya duduk kembali. Ia juga tak memperhatikan Agam yang sekarang sedang menutup setengah wajahnya yang memerah dengan satu tangannya. Walau begitu, dapat dilihat telinganya yang memerah.
[Akh, host sangat mengagumkan, mulai sekarang aku adalah pengikutmu!] Panpan mendeklarasikan dirinya dengan semangat.
"Aku memang sangat mengagumkan, tunggu saja aksi ku selanjutnya. Hohoho," pikir Freya narsis. Beda diluar beda didalam, itulah Freya. Jika seseorang tau sifat asli Freya, mungkin orang itu akan pingsan. Freya yang terkenal lembut ternyata aslinya orang yang narsis.
[Ding! Harap host segera tingkatkan system Prince Charming]
Notif dari sistem muncul di depan wajahnya. Mengerutkan kening menatap hologram biru dihadapannya. Jika dilihat dari luar, orang-orang akan berfikir Freya terlihat tengah memandang papan tulis dengan serius.
"Bagaimana cara meningkatkan system?"
Panpan yang mengambang(?) di sampingnya langsung menjawab.
[Host hanya perlu mengambil dukungan para tokoh pendukung untuk membuat host lebih bersinar dari protagonis wanita]
Freya memiringkan kepalanya tanpa sadar yang membuat orang disekitarnya memerah. "Bagaimana caranya?"
Panpan menghela nafas. [Dengan cara membuat protagonis wanita kehilangan kepercayaan dari para tokoh pendukung]
"Ah," Freya mengerti sepenuhnya. Memikirkan cara yang dapat membuat Jenneth kehilangan kepercayaan dari orang sekitarnya membuat ia tersenyum miring diam-diam.
Akan ku buat panggungmu yang bersinar meredup seketika...
Note: Maaf bagi pembaca cerita ini yang udah nunggu lama ceritanya, soalnya author lagi males untuk nulis cerita. Juga lagi kosong ide, jadi mohon maaf yang sebesar besarnya. Insya Allah besok author publish 1 chapter lagi kalo dibolehin megang laptop... Terimakasih
__ADS_1