System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Red Devil (4)


__ADS_3

Holy dan Vivian berlari menuju lawan masing-masing, Mereka mengayunkan pedang mereka dengan cepat.


"Hiiiyaaa!"


"Hiiiyaaa!"


TRING!


Pedang beradu dengan pedang menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga, Keduanya saling dorong ingin menjatuhkan, Tak ada yang ingin mengalah.


TRING!


TRING!


TRING!


Holy memukul mundur Vivian dengan sekuat tenaga, Membuat Vivian mundur sesaat. Disaat yang bersamaan, Selagi Holy bertarung dengan Vivian. Karna seisi ruangan terfokus dengan pertarungan itu, Ian tak membuang-buang waktu. Dia menerjang salah satu anggota red devil yang menahannya, Dan berlari kabur dari sana menuju Holy.


BRUK!


"Dia kabur!" Teriak salah satu anggota Red Devil yang diterjang Ian.


Liam lantas mengejar Ian setelah melihat pemuda itu kabur, Sedangkan Ian mempercepat larinya menuju Holy.


TAP! TAP! TAP!


"CHLOE!"


Teriakan Ian membuat Vivian lengah dan menoleh pada Ian, Tanpa membuang-buang waktu Holy langsung mengayunkan pedangnya hingga melukai lengan Vivian.


CCRRAASS!


"Akh!"


Vivian memegangi lengannya yang terluka cukup lebar, Holy lantas ikut berlari menjauhi Vivian menuju Ian. Saat cukup dekat dia mengayunkan pedangnya untuk memutuskan rantai yang mengikat tangan Ian.


PRANG!


"Bawa Pria itu pergi, Biar aku yang menghadapi Vivian dan Liam!" Kata Holy serius menghadapkan pedangnya pada Liam yang berjarak cukup dekat dari mereka.


"Tapi aku juga ingin membantu!" Balas Ian sembari membuang sisa rantai di tangannya ke sembarangan arah.


"Kau bukan tandingan Liam! Dia terlalu kuat untukmu," Nada Holy sedikit meninggi, Merasa kesal karna Ian tak mendengarkan sarannya.


"Begitu juga kau, Meski kau Chloe Amberly yang asli. Bukan berarti kau juga bisa mengalahkannya dengan mudah," Ian bersiaga, Dia mengambil pistol dari balik sakunya. Pistol yang dia ambil dari salah satu anggota red devil.


Ian mengarahkan pistolnya pada Vivian membelakangi Holy, Sedangkan Holy mengarahkan pedangnya pada Liam dengan tatapan serius.


"Kalau terjadi sesuatu padamu bukan urusanku, Aku hanya punya chemistry dengan Chloe Watson," Kata Holy dingin tanpa memandang Ian.


Setelahnya ia berlari menghadapi Liam yang sudah bersiaga dengan beberapa rantai di balik punggungnya.


WWOOSSHH!


TRING!


TRING!


Terjadilah pertarungan antara Liam dan Holy dibantu beberapa anggota Red Devil, Tapi gadis bersurai biru itu masih bisa menyeimbangi kekuatan Liam dan anggota red devil lainnya.


Disisi Ian, Pemuda itu tak menjawab kata-kata terakhir Holy. Netra merahnya hanya terfokus pada Vivian yang memandangnya.


"Sayang, Kau tidak akan membunuhku kan?" Vivian tersenyum manis sembari perlahan mendekati Ian, Agar sang pemuda luluh padanya.


Sudut bibir nya tertarik membentuk senyum sinis, Ian mengarahkan pistol pada Vivian. "Menurutmu? Kau pikir bisa mengubah keputusanku?"


DOR!


TRING!


Vivian refleks menangkis peluru yang hampir mengenainya, Tatapannya menajam marah. "Huh! Baiklah, Akan kuladeni!"


Vivian berlari cepat ke arah Ian, Dia mengayunkan pedangnya berusaha mengenai sang pemuda. Sedangkan Ian menghindar dengan gesit, Sesekali ia menembakkan pelurunya.


DOR! DOR! DOR!


"Semuanya meleset, Kecepatannya tidak bisa diremehkan," Pikir Ian masih berusaha menghindar, Dirinya hampir terpojok saat menyadari terdapat tembok di belakangnya.


Untungnya sebuah pipa besi tergeletak tak jauh darinya, Ian lantas mengambil pipa besi tersebut dan melawan balik Vivian.


TRING! TRING! TRING!


Ian berhasil mendorong balik Vivian, Serta merta dia juga menendang tubuh sang gadis tepat mengenai perutnya.


BUGH!


Vivian terdorong mundur, Dia kembali menyerang Ian kali ini secara bertubi-tubi, Tanpa kenal lelah terus mengayunkan pedangnya dengan amarah.


"Sialan! Selama ini aku mencintaimu Ian! Tapi kenapa kau ingin membunuhku hah! Apa kau tidak mencintaiku?!" Teriak Vivian marah, Terus menyerang tanpa henti.


"Dasar wanita aneh! Aku tidak sedikitpun memiliki rasa padamu! Jangan banyak berharap!" Balas Ian balik.


Ian mulai kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari Vivian, Yang dia lakukan hanya bisa menangkis dan menghindar. Tenaganya mulai melemah hingga pertahanannya roboh, Sayatan demi sayatan mengenai sebagian tubuhnya, Lengan dan pipi tergores meninggalkan bekas luka cukup dalam. Darah mengucur deras dari luka-luka nya.


Melihat pertahanan Ian yang sudah melemah, Tanpa menunggu lama Vivian menghunuskan pedangnya tepat mengenai pundak kiri sang pemuda. Memojokkan Ian ke tembok hingga ujung pedangnya menembus pundak sang pemuda sampai tertancap ke tembok.


"Aarrgg!"

__ADS_1


Ian menahan rasa sakit, Mencoba melepaskan pedang Vivian dari pundaknya. Namun Vivian kembali menyerang Ian, Kini dia mengambil sebuah pisau dari balik jubahnya merahnya, Menancapkan pisau tersebut ke tembok menembus tangan kanan Ian.


Kini seluruh tubuh sang pemuda dipenuhi dengan darahnya sendiri, Cairan merah itu terus mengalir tanpa henti dari luka-luka ditubuhnya serta pundak dan tangan kanannya.


Vivian tertawa kecil, Lalu mendekatkan wajahnya beberapa cm ke wajah pemuda bernetra merah itu. "Bagaimana? Sakitkan? Inilah yang kurasakan saat kau mengabaikan perasaanku,"


Meski kesadarannya mulai diambang batas, Ian tetap tersenyum sinis membuat tawa Vivian terhenti.


"Orang sepertimu tidak pantas mendapatkanku, Perasaanku hanya untuk satu orang. Dan pastinya orang itu bukanlah kamu," Kata Ian masih tersenyum sinis. Dia membuka suaranya kembali setelah menarik napas sejenak. "Aku lebih baik mati daripada harus bersama orang sepertimu!"


"Aku hanya ingin bersama dengan Chloe Watson, Bukan bersama yang lain," Lanjut Ian dalam hati memandang ekspresi terkejut dari Vivian.


Wajah Vivian yang tadinya senang berubah menjadi merah padam karna amarah dalam dirinya yang sudah meledak-ledak mendengar penuturan Ian. Ia menarik pedangnya dari pundak sang pemuda, Memandang tajam ingin mengayunkan pedangnya kembali.


"Kau berani sekali–"


CCRRAASS!


kalimat Vivian terpotong saat merasakan rasa nyeri di belakang punggungnya, Darah mengalir begitu saja dari luka yang di dapatnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk menghantam lantai.


BRUK!


Perlahan Ian mendongak menatap sosok pemuda bersurai ungu campur hitam di belakang Vivian.


"Aiden..." Lirih Ian menyadari perubahan pada Aiden.



Pemuda bersurai ungu campur hitam itu terlihat dikelilingi sulur-sulur tanaman mawar di sekitar tubuhnya, sepasang cakar tajam sebagai senjata terbentuk di kedua tangannya.


Aiden melewati tubuh Vivian yang terbaring di lantai, Mendekati Ian yang sudah diambang batas kesadarannya. Segera dia melepas pisau yang menancap di tangan Ian, Membuangnya ke sembarangan arah.


"Ian, Tetap jaga kesadaranmu. Aku akan membawamu dan Ezra keluar dari sini. Chloe masih bisa menghadapi Liam," Kata Aiden menahan tubuh Ian yang hampir jatuh, Dia tidak memperdulikan darah sang pemuda yang mengotori pakaiannya.


"Aiden kau terlambat," Ian menggeleng lemah, Tangannya mencengkeram pakaian Aiden. "Tidak, Bawa saja Chloe dan Ezra pergi. Aku disini saja, Lagipula sekilas aku melihat ayah dan ibuku ada disini,"


"Maafkan aku," Aiden merasa bersalah karna sudah membuat teman-temannya menunggu. Kemudian alis Aiden mengerut, Dia tetap memapah Ian meski sang pemuda hampir tidak bergerak sama sekali. "Jangan bicara yang aneh-aneh, Kau harus pikirkan teman-teman yang menunggumu,"


Ian melepaskan papahan Aiden secara paksa, Dia mendorong pemuda bersurai ungu campur hitam itu menjauh hingga dirinya terjatuh sendiri karna tak kuat menopang berat tubuhnya.


BRUK!


"Pergi Aiden!" Tubuh Ian gemetar hebat, Ia kehilangan banyak darah hal itu membuat dirinya tidak kuat lagi untuk bergerak. Berbicara pun hanya tinggal seberapa.


Aiden lantas mendekati Ian kembali dia mengeluarkan kekuatannya, Mencoba menyembuhkan luka-luka yang didapat sang pemuda.


"Sedikit penyembuhan pasti akan membuatmu bisa bertahan, Tenanglah," Cahaya hijau muncul dari telapak tangan Aiden, Dia mengarahkan kekuatannya pada luka Ian. Menggunakan tangan lainnya untuk menopang kepala sang pemuda.


Napas Ian mulai tak beraturan, Netra merahnya semakin meredup. Perlahan suhu tubuhnya mendingin sedingin es.


"Ian, Tetaplah sadar. Sedikit lagi lukanya menutup," Aiden menepuk-nepuk pelan pipi Ian, Menjaga sang pemuda agar tetap sadar.


Ian tersenyum tipis sesaat sebelum kelopak matanya menutup dengan sendirinya, Menghembuskan napas terakhir. Aiden diam terpaku, Dia tak merasakan denyut nadi lagi pada sang pemuda. Sesaat Aiden memegang tangan Ian, Yang ia rasakan hanyalah suhu dingin dari tubuh pemuda itu.


"Denyut nadinya...Tidak ada," Perasaannya campur aduk, Menyadari tidak ada lagi pergerakan dari pemuda bernetra merah itu. Setelahnya Aiden memeluk tubuh dingin Ian untuk terakhir kalinya.


"Ian, Maaf dan juga aku berterima kasih atas sebagian darahmu yang kuminum. Kuharap kau bertemu keluargamu disana sesuai impianmu,"


Setelahnya Aiden melepaskan pelukannya lalu membaringkan tubuh Ian dengan hati-hati. Tak lama terdengar suara derap langkah dibelakangnya membuat Aiden menoleh.


TAP! TAP! TAP!


"Satu persatu dari angota asrama mati, Aku merasa kasihan dengan kalian yang tersisa," Victor tertawa kecil, ia memutar-mutar pisau ditangannya bagai mainan.


Aiden memandang datar, Menatap wajah Victor dalam. Kemudian dia bersiaga menyiapkan senjata kedua cakarnya.


"Sekali lihat pun aku sudah tahu kalau kau bukan Tuan Justin, Kau pasti kembarannya kan?" Kata Aiden serius masih bersiaga.


Victor tertawa senang. "Wah, Tidak diragukan lagi kekuatan anggota ke-2 Justin benar-benar hebat. Kekuatan analisismu keren juga,"


Victor mendekat beberapa meter dari hadapan Aiden. "Benar, Aku adalah kembaran sekaligus kepribadian lain Justin. Aku mengambil alih raganya sebentar,"


"Jika kau menyerangku, Itu artinya kau juga menyerang Justin," Victor tertawa sesaat lalu mengayunkan pisaunya menyerang Aiden.


TRING!


TRING!


TRING!


Keduanya bertarung dengan gesit, Sama-sama mempunyai kecepatan di luar logika.


Sedangkan disisi Holy, dia hampir kewalahan menghadapi Liam begitupun dengan Liam. Kaduanya sama-sama mendapat luka yang cukup parah.


Holy mengusap sudut bibirnya yang berdarah, Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Netra beriris biru itu menatap tajam.


"Apa dia tidak bisa mati? Sulit sekali mengalahkannya," Pikir Holy dengan deru napasnya yang tak beraturan, ia kembali mengancungkan pedangnya lalu berlari ke arah Liam.


Liam menggerakkan rantai-rantai milik sebelum Holy bisa menyerangnya dari jarak dekat.


WWUUSSHH!


PRAK!


TRING!


Holy memutuskan beberapa rantai itu satu persatu, Mengayunkan pedangnya pada Liam sayangnya Liam berkelit hingga serangan Holy meleset.

__ADS_1


"Tuanku, Menginginkan kekuatanmu," Kata Liam selagi menghindari serangan Holy.


"Tidak akan kuberikan sampai kapanpun!" Teriak Holy kini menyerang secara bertubi-tubi.


"Jika tidak secara baik-baik, Maka aku tidak punya pilihan lain," Liam memandang tanpa ekspresi, Dia menggerakkan tangannya.


"Sword"


Tak lama sebuah pedang besi dengan aura api disekelilingnya terbentuk di tangan Liam. Liam melawan balik.


PRAK!


WWOOSSHH!


"Akh...!" Holy meringis saat serangan Liam mengenai tangannya, Pedang di tangan Holy pun terlempar entah kemana. Disaat bersamaan Liam menghunuskan pedangnya ke dada Holy dan tangan lainnya menarik paksa jantung sang gadis.


CCRRAASS!


DEG!


Holy memuntahkan seteguk darah segar, Dia terbatuk-batuk saat tak merasakan jantungnya tidak berada ditempatnya lagi. Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya, Hingga akhirnya tubuh Holy ambruk menghantam lantai. Tidak terdengar lagi deru napas dari sang gadis.


BRUK!


Liam menggenggam jantung di tangannya, Jantung dimana kekuatan Holy serta Holy berada. Jantung itu tidak berdetak lagi setelah ditarik paksa dari tempatnya, Hanya cairan merah kental yang mengalir mengotori tangan Liam.


"Aku sudah mendapat systemnya, Sekarang tinggal membantu Tuan Vivian," Gumam Liam tenang, Memandang tubuh Holy yang sudah tak bernyawa di bawahnya.


Disisi Aiden, Dia berhasil memukul mundur Victor hingga jatuh. Mendengar suara jatuh tak jauh darinya membuat Aiden menoleh, Netra ungu tuanya membulat sempurna saat melihat tubuh Chloe yang dipenuhi genangan darah terlebih saat dirinya melihat Liam yang memegang sebuah jantung di tangannya.


"Chloe...Tidak mungkin...," Aiden memandang tak percaya setelahnya dia berlari cepat menghampiri Liam dengan amarah yang tiba-tiba muncul begitu saja.


TAP! TAP! TAP!


"Kembalikan jantungnya!"


WWUUSSHH!


Angin kencang menghantam Liam dengan keras, Aiden mengayunkan senjatanya secara bertubi-tubi. Liam tak mau kalah, Dia ikut mengayunkan pedangnya melawan Aiden.


"Kubilang kembalikan!"


"Tidak akan!"


TRING! TRING! TRING!


Keduanya beradu dengan sengit, Saling melukai dengan kekuatan masing-masing.


"Living forest,"


" Flamethrower,"


Akar-akar tanaman besar tiba-tiba muncul dari bawah lantai menyerang Liam, Akar-akar itu terus mengikuti kemana Liam pergi. Liam berlari dengan teleportasinya, Ia menggerakkan tangannya tak lama beberapa bola api muncul dan menyerang Aiden dari segala arah.


Benda-benda disana mulai terbakar karna terkena bola api Liam termasuk pakaian yang dikenakan para anggota red devil yang sudah mati.


BLAR!


Awalnya api-api itu kecil tapi lama-kelamaan menjadi beaar dan menyebar kesegala arah namun Aiden dan Liam tak peduli. Mereka terus bertarung tanpa henti.


Akar milik Aiden berhasil menjerat kaki Liam lalu melemparkan Liam ke tembok dengan keras.


BRAK!


Aiden kembali bersiaga saat Liam berdiri cepat dari jatuhnya, Liam menggerakkan pedang di tangannya, Melesat cepat menuju Aiden.


TRING!


Aiden tersentak saat seseorang menahan serangan Liam. Padahal tadi orang itu dipihak Red Devil.


"Tuan Justin!" Kata Aiden menyadari pemilik netra orange di hadapannya.


Justin yang berhasil mengambil alih tubuhnya kembali, Berusaha menahan Liam agar tak mendekati Aiden. Sesaat ia menoleh pada Aiden, Ekspresi Justin terlihat seperti menahan sakit.


"Aiden cepat pergi! Sebelum Victor mengambil alih tubuhku lagi! Dia sedang memberontak sekarang!" Teriak Justin agar Aiden segera meninggalkan tempat itu. Dadanya kembali sakit karna Victor berusaha mengambil alih tubuhnya lagi.


"Tuan–"


"Pergi sekarang!"


Aiden memandang sejenak lalu tanpa berkata-kata lagi ia berlari dari sana sambil membawa tubuh Chloe dan Ezra dengan kekuatan tanamannya. Dan menggunakan teleportasi untuk menjauhi tempat itu sejauh mungkin.


CCRRAASS!


Liam berhasil memukul mundur Justin. "Minggir! Jangan menggangguku!"


Liam berniat mengejar Aiden, Namun Justin tak tinggal diam. Dia memeluk tubuh Liam agar tak bisa leluasa bergerak.


"Matilah bersamaku!" Justin memeluk tubuh Liam erat. Dia tidak bisa membiarkan Liam mengejar Aiden, Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan anggotanya sekaligus menebus kesalahan Victor pada mereka.


"Lepas!" Liam memberontak berusaha melepaskan Justin dari tubuhnya.


KKRRAAKK!


DUUAARR!


Beberapa pondasi bangunan mulai berjatuhan, Api semakin membesar melahap semua yang ada disekitarnya. Tak lama sebuah atap bangunan roboh menuju Liam dan Justin yang masih berada di bawahnya.

__ADS_1


Keduanya mendongak mereka tak punya banyak waktu untuk menghindar sehingga atap bangunan itu menghantam keduanya, Pondasi-pondasi bangunan pun roboh satu persatu tanpa tersisa lagi. Hanya api yang terus berkobar tanpa henti.


TBC


__ADS_2