
"Kau pilih ikut dengan siapa Sweety? Aku atau Ian?" Kata Raizel datar.
"Pilih saja Sunshin, Jangan membuat kami menunggu lama," Ian menatap dingin dengan Netra merahnya tajam.
Seketika Chloe langsung kicep, Tau begini dia gak usah ke perpus tadi. Kalau ujung-ujung nya bakal ketemu juga sama ni dua cool boy.
Chloe ingin menjawab pertanyaan dari Ian dan Raizel namun tak lama, Netra nya menangkap kedatangan Felix dari arah belakang kedua lelaki dihadapannya.
PLETAK!
PLETAK!
"Awww!"
"Ugh!"
Seketika Ian dan Raizel langsung memegangi kepala masing-masing, Mengerutkan alis sambil meringis mengusap kepala yang baru saja di jitak oleh Felix dengan aura suram. Sedetik kemudian Felix merangkul Ian dan Raizel.
"Aku dengar semuanya lho tadi saat mau masuk kesini, Kalian berdua main rebutan aja. Lewati kakaknya dulu dong, Baru ngajak adiknya," Kata Felix dengan senyum ramahnya seperti biasa, Namun aura nya begitu suram dengan wajah tertekuk.
Raizel dan Ian terdiam tak menyahut, Dibanding menyahut perkataan Felix. Keduanya sibuk mengusap kepala masing-masing.
"Kak Felix, Sejak kapan kesini?"
"Barusan, Tentunya saat Raizel sama Ian rebutan," Felix melepaskan rangkulannya dari kedua pemuda itu, Tersenyum menatap Chloe.
"Oh iya, Aku cari-cari kalian tadi. Tuh si Devian sama Justin udah nungguin kita di Lab,"
"Emangnya udah bel?" Raizel menoleh sesaat pada Felix.
"10 menit lagi bel,"
Ian hanya diam sibuk menatap beberapa rak buku yang menarik perhatiannya, Namun dia tidak berniat mengambil buku-buku itu.
"Kalian berdua pergi ke Lab duluan sana! Nanti Aku sama Chloe nyusul," Pinta Felix menatap Raizel dan Ian bergantian.
Sesaat keduanya menatap tajam Felix, Mencoba membaca mimik wajah pemuda bersurai coklat itu.
"Awas kalau macem-macem!" Kata Raizel pelan yang hanya bisa didengar Felix dan Ian.
"Ngapain? Chloe adikku kok,"
Kakak adek tapi gak sedarah, Mungkin itulah yang Raizel dan Ian pikirkan saat itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Keduanya pergi dari hadapan Felix dan Chloe.
Chloe menatap novel di tangannya, Niatnya membaca novel itu sedikit berkurang karna kejadian tadi. Felix memperhatikan Chloe dalam diam, Kecanggungan sesaat meliputi keduanya.
Felix mendekat perlahan, Tersenyum ramah. "Mau baca buku bersama?"
Chloe mendongak menatap Felix. "Bukannya sebentar lagi bel? Nanti Kak Justin marah kalau kita telat,"
"Telat sedikit gak apa-apa, Kan kakak yang ngajarin kamu Sastra. Jadi kakak rasa gak masalah,"
"Ya udah, Aku ngikut kakak aja,"
"Hm...Tunggu bentar ya, Kakak cari buku dulu,"
Chloe hanya mengangguk menanggapi, Felix segera pergi menuju beberapa rak buku yang menarik perhatiannya. Selagi menunggu Felix, Chloe duduk di kursi perpus. Membuka lembar demi lembar novel yang akan dibacanya.
Holy terbang mendekati Chloe hingga tepat dihadapan sang gadis.
"Holy, Kapan aku bisa pulang? Aku rindu dengan keluarga asliku," Batin Chloe merasa sedih, mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Holy.
"Aku juga tidak tahu, Program bilang masih dalam tahap proses perbaikan tapi sampai sekarang tidak terdengar kabarnya lagi,"
"Bagaimana keadaan keluargaku di dunia asli?"
"Baik kok, Mereka terus mendoakan mu agar cepat sadar dan pulih dari koma,"
Sejujurnya Holy menyembunyikan fakta bahwa salah satu adik dari Chloe sedang sakit, Namun Holy tidak ingin mengatakannya karna takut membuat Chloe cemas dan semakin sedih.
"Syukurlah, Aku senang keluargaku baik-baik saja. Misiku sebentar lagi akan selesai kan? Tinggal menaklukan Devian dan Justin?"
"Iya, Sayang sekali Program menghapus System poin hati. Jadi kita tidak tahu poin hati mereka berapa, Apalagi target yang sulit seperti Devian dan Justin," Holy mengangguk setuju sambil bersidekap.
__ADS_1
"Kupikir di awal-awal misi, Devian adalah target yang mudah ditaklukan. Nyatanya malah kebalikannya, Berasa dibohongin njir,"
"Hehehe, Terus berusaha dong. Mungkin nanti dia perlahan akan luluh,"
"Iya sih, tapi...," Chloe menunduk terdiam sesaat, Memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. "Jika misalnya semuanya sudah menyukaiku dan misi ku berhasil sepenuhnya, Aku pasti akan meninggalkan dunia game ini. Saat mereka tau, Mereka pasti akan kecewa denganku,"
Holy terdiam, Menurunkan kakinya hingga menapak meja. Memandang ekspresi Chloe yang agak murung. Terdiam tidak bisa membalas perkataan Chloe.
"Aku merasa seperti mempermainkan perasaan mereka, Jadi serba salah. Meski mereka hanya karakter game, Tapi entah mengapa aku merasa semua ini adalah nyata. Perasaan mereka terhadapku dan tingkah mereka yang tidak sesuai alur game aslinya. Semua itu benar-benar bisa kurasakan, Apa jangan-jangan semua yang ada dalam game ini bukanlah ilusi dan fake semata?" Pikir Chloe sambil memandang Holy.
"Mana mungkin! Jangan berlebihan Chloe, Bukannya game ini dibuat memang semirip mungkin dengan dunia asli, Jadi wajar kalau semuanya terasa nyata untukmu. Jadi kurasa tidak ada hubungannya sifat para karakter utama dan alur ceritanya yang berbeda dengan teori mu,"
"Aku hanya menduga saja," Chloe mengangkat kedua bahunya acuh, Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat.
TAP! TAP! TAP!
"Maaf Chloe, Nungguin kakak lama. Soalnya banyak buku-buku yang menarik perhatian kakak," Felix tersenyum canggung, Mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Di tangannya tampak memegang 4 buku dari berbagai ukuran.
"Gak papa kak, Lagian aku juga sempat baca novelku sambil nunggu kakak," Yah, Walaupun Chloe cuma bolak balik lembarannya doang.
"Hu'um," Felix mengangguk kecil, Lalu dia menunjukkan sebuah buku pada Chloe. "Lihat, Kakak menemukan buku Sastra yang baru. Kakak lihat buku ini lebih lengkap dari buku sebelumnya. Kita bisa sekalian belajar di luar, Tadi kakak juga sudah minta Izin sama Justin untuk mengajarimu di luar Lab. Biar gak stress kalau di dalam Lab terus,"
Chloe memperhatikan buku tersebut sesaat, Mengangguk setuju dengan usulan Felix. "Ide bagus, Terkadang aku merasa bosan di dalam Lab karna yang kulihat itu-itu saja,"
Apalagi ngeliat wajah Devian sama Justin dalam satu ruangan yang sama ditambah ketemu tiap hari, Entah kenapa Chloe merasa enek liat wajah mereka mulu.
"Ya udah, Ayo kita isi daftar pinjam buku dulu ke penjaga perpus," Ajak Felix sambil berjalan terlebih dahulu diikuti Chloe.
***************
[School Garden]
Duduk diantara ribuan bunga adalah salah satu impian Chloe sewaktu kecil, Dia sangat munyukai bunga karna aroma mereka yang sangat harum (Tidak semua bunga, Hanya beberapa bunga saja yang Chloe sukai). Tentu saja dia dan Felix tidak langsung duduk di tanah berisi ribuan bunga itu, Mereka duduk di salah satu bangku yang memang khusus disediakan untuk Warga sekolah.
"Baru kali ini kakak, Berada di antara ribuan bunga sambil baca buku. Benar-benar tempat referensi yang bagus," Puji Felix senang, Menatap bunga-bunga disekitarnya.
"Hehehe kakak suka berada di sini ya? Aku juga baru pertama kali kesini, Sebenarnya salah satu temanku sudah merekomendasikan tempat ini sebagai tempat ketenangan terbaik di sekolah. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk sekedar mampir, Jadilah ini yang pertama kali untukku,"
"Semua warga sekolah, Setiap hari biasanya ada beberapa Siswa piket khusus yang bertugas menyiram bunga-bunga ini bergantian," Jelas Chloe sambil membuka buku Sastranya yang barusan Felix kasih.
"Hm, Begitu ya," Felix mengangguk kecil, Lalu Netra Aqua nya memandang Chloe yang sudah mulai belajar.
Ah, Kalau Felix pikir-pikir lagi. Dia jarang menghabiskan waktu berdua dengan adiknya, Mengingat akhir-akhir ini dia selalu sibuk dengan Cafe dan Tugas kuliahnya. Chloe juga mulai jarang bekerja di Cafe karna sibuk belajar untuk ujian kelulusannya.
Memiliki kesempatan berdua seperti ini yang jarang terjadi, Dan suasana sekitar yang mendukung. Membuat Felix tidak ingin memikirkan apa-apa sejenak selain ketenangan di sekitar bersama adiknya.
Tangan Felix terulur menutup buku Sastra yang Chloe baca, Membuat sang gadis sontak mendongak menatapnya. Felix tersenyum lembut, Menyingkirkan buku-buku yang menjadi pembatas di antara keduanya. Felix meletakkan buku-buku tersebut ke samping tempat duduk kirinya, Hingga kini tak ada lagi pembatas antara dirinya dan Chloe.
"Nah, Mari kita bersantai dan menjernihkan pikiran sejenak. Mumpung lagi di kebun sekolah, Jarang-jarang kan dapat pemandangan sebagus ini," Kata Felix masih tersenyum, Menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku. Merilex kan dirinya sejenak.
"Eh? Tapi bagaimana belajarnya?"
"Lupakan soal belajar sebentar, Kakak tau kau juga merasa bosan dan suntuk karna belajar terus kan?" Felix menoleh menatap Chloe disampingnya.
Sesaat Chloe terdiam dan mengangguk kecil sebagai jawaban. "Iya sih,"
"Nah, Sekarang lebih baik nikmati saja pemandang yang ada dihadapanmu. Jangan terlalu menekan pada diri sendiri, Nanti jadi stress dan depresi," Felix kembali mengalihkan pandangannya menatap hamparan kebun bunga yang tertiup semilir angin.
Seperti biasa, Felix selalu bijak dan dewasa menanggapi suatu hal. Itulah kenapa diam-diam Chloe selalu kagum dengan wibawa kakak angkatnya.
Akhirnya Chloe mengalah dan membiarkan matanya melihat pemandangan yang sungguh memanjakan mata, Andai ada cemilan. Mungkin akan sangat lengkap rasanya.
Di kebun ini tidak buruk juga, Selain karna udaranya yang sejuk. Pemandangan indah dari hamparan bunga ini juga tak kalah menarik.
"Anggap saja ini kencan,"
Perkataan Felix yang tiba-tiba, Membuat Chloe hampir tersedak selivanya sendiri. Sejenak dia menoleh pada Felix yang masih memandangi bunga-bunga itu, Lalu tak lama sang pria memejamkan matanya. Entah cuma merem atau pengen tidur, Chloe gak tahu.
"Heh! Kencan!?" Kalau diingat-ingat, Chloe memang jarang sih mendapat waktu berdua dengan Felix. Terlebih mereka sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing.
Chloe memilih diam menikmati suasana sepi disekitarnya, Hanya terdengar suara semilir angin kecil dan kicauan burung di sore hari.
__ADS_1
Gadis bersurai biru itu meranjak dari duduknya, Mendekati beberapa kumpulan bunga Lavender dimana seekor kupu-kupu tengah hinggap di atasnya.
Chloe berjongkok menatap lekat dan dekat kupu-kupu yang tengah terbang tersebut, Mengagumi betapa indah nya corak serta warna sayap dari kupu-kupu tersebut. Tanpa diduga kupu-kupu itu terbang tinggi dan tiba-tiba saja hinggap di hidung Chloe, Membuat sang gadis mendongak kecil agar bertatapan dengan kupu-kupu itu.
Tanpa disadari Chloe, Felix sejak tadi memperhatikan semua pergerakannya dari tempat duduk usai memejamkan mata sebentar, Sejenak Felix tersenyum tipis memperhatikan tingkah sang adik.
Tidak ingin melewatkan momen tersebut, Dia segera mengambil HP nya dan memotret Pose Chloe yang masih berjongkok di dekat kebun bunga sambil menatap kupu-kupu yang hinggap di hidungnya.
"Cantik," Gumam Felix senang usai mendapatkan foto Chloe, Menatap lekat foto sang adik di layar HP nya.
"Hachu!"
Mendengar suara bersin, Lantas perhatian Felix teralihkan menatap sang adik yang kini menatap seekor kupu-kupu yang terbang tinggi menjauhi Chloe.
"Yah, Kupu-kupunya pergi," Kata chloe menatap dengan sorot kecewa.
Sesaat Felix tersenyum tipis, Menyimpan HP nya dan berjalan mendekati Chloe. Dia menepuk pundak adiknya hingga Chloe menatap Felix.
"Mau main sesuatu?" Tawar Felix dengan senyum lembutnya.
"Mau! Memangnya main apa?" Tanya Chloe antusias. Berdiri dari jongkoknya.
"Kejar-kejaran,"
"Eh? Main itu ya?" Chloe manggut-manggut sesaat, Lalu Netra biru melirik sepatu Felix. Seketika ide licik terlintas di otaknya.
Tanpa peringatan Chloe dengan puas menginjak salah satu sepatu Felix, Gak terlalu kencang sih. Membuat Felix terkejut sesaat.
"Kak Felix Kejar aku kalau bisa," Tantang Chloe, Yang kemudian lari menjauh dengan cepat. Tertawa puas karna berhasil menjahili Felix.
"Awas kamu ya dek!" Kata Felix dengan ekspresi senyum suram dan wajah sedikit tertekuk.
Tanpa membuang waktu Felix segera mengejar Chloe, Mengelilingi kebun bunga dengan Chloe yang tertawa ceria. Udah mirip kayak film india deh.
"Andai Chloe punya lagu india di HP nya, udah kuputerin dari tadi," Pikir Holy yang memandang kejar-kejaran antara Felix dan Chloe dari jauh sambil makan popcorn.
Tak lama akhirnya Felix bisa menangkap Chloe, Memeluk tubuh gadis bersurai biru itu dari samping.
"Kena kau! Harus diberi hukuman karna sudah menginjak sepatu kakak," Felix tersenyum penuh kemenangan lalu menggelitik perut sang adik.
"Hahaha, Kak berhenti. Geli ih," Chloe tertawa berusaha menjauh dari Felix yang menggelitik perutnya, Namun Felix tetap tidak mau berhenti dengan senyum jahil.
"Minta maaf dulu, Baru kakak berhenti,"
"Gak mau!"
"Ya udah, Gak bakalan berhenti,"
Chloe sudah tak tahan karna tertawa terus menerus, Sudut matanya sedikit berair terlalu banyak ketawa. Pipinya dan perutnya pun sudah mulai keram.
"Iya, iya. Aku minta maaf kak. Udah berhenti dong! Perutku sakit nih," Kata Chloe dengan nada memelas.
Felix tersenyum puas, Menghentikan aksinya. Menatap sang adik yang kini tengah mengatur napas.
"Capek ya?"
"Iyalah,"
Felix hanya tertawa kecil, Lalu meraih tangan Chloe dan menggenggamnya. Menarik menuju tempat duduk mereka.
"Sini, Istirahat dulu,"
Mereka duduk di kursi, Chloe menyandarkan tubuhnya saking capeknya keliling kebun.
"Kayaknya bentar lagi Justin sama yang lain bakal selesai belajar," Felix menatap jam arloji nya yang menunjukkan hampir pukul 4 sore.
"Oh iya, Aku sampai lupa sama mereka,"
"Ya udah, Balik yuk. Sebelum mereka selesai,"
Chloe mengangguk kecil, Dia meranjak dari duduknya dan membereskan buku-buku perpus di bantu Felix. Lalu mereka segera pergi dari kebun.
__ADS_1
TBC