
Justin menunduk kecil menatap lengan Ezra yang melingkar di perutnya, Jantungnya masih berdetak tak karuan hingga akhirnya perlahan Justin melepaskan pelukan Ezra. Berbalik menghadap Bodyguard nya.
"Ezra, Apa kata-kata mu itu serius?" Tanya Justin menatap lekat netra hijau milik Ezra, Dia menempelkan telapak tangan kanannya ke pipi kiri Ezra.
"Tentu saja Tuan, Saya serius dengan kata-kata saya," Balas Ezra ikut menatap lekat Justin, Memegang tangan Justin yang menempel di pipinya.
Justin diam sesaat, Merasa tak percaya Ezra akan mengatakan hal itu padanya. Dia menarik kembali tangannya dari genggaman Ezra, Memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
"Maaf Ezra, Bersikaplah Profesional. Kau tahu batasan kita, Sekarang kita sekedar atasan dan bawahan, Tidak lebih. Kau paham kan?" Kata Justin dingin menatap Ezra yang tersentak. Kemudian ekspresi Ezra kembali muram dan sedih.
"Saya paham, Maaf Tuan Justin," Ezra menunduk kecil.
Justin hanya menghela napas sesaat, Lalu tangannya terangkat mengusap pelan surai hitam Ezra. Membuat Ezra kembali mendongak agak terkejut dengan tindakkan Justin.
"Kita tetap bersahabat Ezra, Jangan terus menunjukkan ekspresi murammu itu di hadapanku," Justin tersenyum tipis masih mengusap surai Ezra.
Mendengar hal itu tak lama Ezra ikut tersenyum tipis, Ekspresinya berubah senang. "Ya tentu saja Tuan,"
TOK! TOK! TOK!
"Permisi Tuan Ceo, Ini saya OG yang diminta mengantar minuman kesini,"
Mendengar suara dari luar ruangan, Justin berhenti mengusap surai Ezra. Dia melangkah mendekati kursinya dan duduk disana. Diikuti Ezra yang berdiri di belakang kursi Justin.
"Ya, Masuklah,"
Tak lama seorang OG masuk membawa sebuah nampan dengan dua minuman di atasnya, OG itu mendekati meja kerja Justin dan meletakkan kedua minuman itu disana. Setelahnya dia pamit pada Justin dan Ezra.
Ezra Side Pov End
***************
[Ruangan Staff]
Chloe baru saja selesai mengganti seragamnya, akhirnya setelah bekerja di perusahaan Justin beberapa bulan. Chloe mendapat seragam OG resmi nya. Seragam itu berwarna abu-abu dengan celana hitam.
Sejenak Chloe menatap penampilannya di cermin tak lupa memakai ID Card nya. Dia tersenyum puas lalu keluar dari toilet untuk menyimpan ransel serta jaketnya.
"Yo'i, Akhirnya kau dapat seragam resmi juga Chloe," Kata Gracia yang baru datang sambil merangkul Chloe.
"Eh kak Gracia. Hehehe iya, Senang akhirnya aku resmi jadi pegawai di sini," Kata Chloe terkekeh pelan, Memasukkan ransel dan jaketnya dalam loker diikuti Gracia.
"Selamat kalau gitu. Ya udah, Kita mulai kerja yuk," Ajak Gracia yang sudah pakai seragamnya.
"Iya,"
Keduanya segera mengambil ember berisi air dan pel lalu segera mengerjakan pekerjaan masing-masing.
***********
Chloe mengusap keningnya yang agak berkeringat, Memfokuskan diri dengan pekerjaannya. Sesaat netranya melirik jam arjoli yang terpasang di lengannya. Beberapa menit lagi kantin akan penuh dengan para karyawan.
Secepat mungkin Chloe mengeringkan piring-piring yang barusan dia cuci bersama Gracia. Agar mereka bisa fokus melayani para karyawan setelahnya.
Tak lama terdengar suara gerombolan langkah kaki dan suara berisik dari luar kantin. Benar saja, Para karyawan itu berdatangan. Mereka segera mencari tempat duduk masing-masing untu memesan.
"Siap-siap, Pasti banyak yang pesan," Bisik Gracia.
"Oke kak, Aku kedepan duluan,"
"Iya,"
Segera gadis bersurai biru itu mengambil pulpen dan note lalu bergegas menuju meja para karyawan, Mencatat pesanan mereka satu persatu.
Waktu terus berjalan, Tak terasa Chloe sudah terlalu lama berada di kantin. Dia sibuk cuci piring disana usai selesai mencatat pesanan. Sedangkan OG lainnya melayani para karyawan.
Tak lama Gracia mendekati Chloe lalu menepuk pundak sang gadis, Membuat Chloe menoleh.
"Chloe, Nih tolong anterin ke ruangan Pak Ceo," Kata Gracia sambil menyodorkan nampan berisi sepiring Telur gulung dan jus anggur di atasnya.
"Oke kak,"
Dengan cepat Chloe mengeringkan tangannya dan segera mengambil alih nampan itu. Dia bergegas pergi menaiki lift menuju ruangan Justin.
************
TOK! TOK! TOK!
"Pak Justin, Ini saya nganterin makanan," Chloe mengetuk pelan pintu ruangan Justin.
"Masuk!"
Mendengar perintah itu, Chloe membuka pintu dan segera memasuki ruangan Justin. Dengan hati-hati dia meletakkan sepiring telur gulung dengan jus anggur itu di meja sang pemuda.
"Silakan dinikmati Pak Justin," Chloe tersenyum ceria, Memegangi nampannya.
"Makasih," Balas Justin datar, Meminum Jus nya sesaat.
Sejenak Chloe melirik samping ruangan Justin dimana Ezra terlihat jelas menatapnya tajam dari balik kaca. Chloe hanya bisa tersenyum kecut sambil meringis kecil.
"Lagi-lagi Pak Ezra menatapku begitu," Pikir Chloe meringis.
TAK!
Suara hentakkan kecil itu membuat Chloe mengalihkan perhatiannya pada Justin. Justin tampak menghela napas, Wajah pemuda bernetra orange itu juga tampak pucat, Bahkan ekpresinya agak sayu. Yang Chloe lihat Justin terlihat memijit keningnya, Mungkin merasa pusing.
"Pak anda baik-baik saja?" Tanya Chloe cemas, Jelas Justin tidak terlihat sehat hari ini.
Justin mendongak sesaat lalu tersenyum tipis. "Oh, Aku baik-baik saja. Hanya pusing sedikit,"
__ADS_1
Pemuda itu berdehem pelan mengalihkan topik pembicaraan. "Btw kau sudah dapat info tentang penghianat itu?"
"Belum, Saya masih berusaha. Tapi jika saya gagal, Bapak bisa mengeluarkan saya dari kantor," Chloe menunduk kecil agak merasa sedih jika dia kehilangan pekerjaannya.
"Berusahalah, Aku masih memberimu waktu. Kau tidak perlu khawatir,"
Chloe mendongak menatap Justin, Merasa senang setelah mendengarnya. "Benarkah? Saya akan berusaha sebisa mungkin,"
Justin tersenyum tipis setelah melihat Chloe tersenyum ceria kembali, Namun hal itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba Justin merasakan kepalanya berdenyut sakit. Sontak dia memegang kepalanya sendiri, Berusaha menahan rasa nyeri dikepalanya.
"Sial, Jangan-jangan kambuh lagi," Pikir Justin. Tangan kanannya sibuk mencari sesuatu di laci meja kerjanya dengan asal, Membuat barang-barang di lacinya berantakan.
Chloe menyadari ada yang tidak beres dengan Justin kembali cemas. "Pak, Apa terjadi sesuatu? Perlu saya bantu?"
"Obat...," Lirih Justin pelan. Tangannya masih sibuk mencari obat yang dia sebutkan dalam laci. Perlahan pandangan semakin buram.
Chloe refleks ikut membantu mencari obat yang dimaksud dalam laci, Namun sayang Justin keburu pingsan dan ambruk hampir jatuh dari kursinya kalau saja Chloe tak refleks memegang pundak Justin.
"Pak?! Pak Justin, Pak!" Chloe sangat panik, Dia menepuk-nepuk pelan pipi Justin namun tak ada respon dari sang pria.
Ezra saat itu sibuk menulis sesuatu di laptop nya, Saat mendengar keributan di samping ruangannya membuatnya mendongak dan melihat Justin sudah pingsan dalam dekapan Chloe. Ezra kesal dan dadanya merasa panas melihat kedekatan Chloe dengan Justin tapi juga panik, Dengan cepat dia meranjak dari kursinya dan langsung secepat kilat memasuki ruangan Justin.
BBRRAAKK!
Dengan kasar Ezra membuka pintu ruangan Justin, Bergegas mendekati Justin yang sudah pingsan.
"Minggir Kau! Jangan berani dekati Tuan Justin!" Bentak Ezra marah, Mendorong Chloe kasar ke samping. Menggantikan posisi sang gadis.
Chloe hanya diam ketika Ezra mendorongnya menjauh dari Justin, Gadis itu memegang lengannya yang agak nyeri karna barusan didorong oleh Ezra. Ekspresi Chloe masih cemas, Tak menghiraukan rasa sedikit nyeri di lengannya.
"Tapi Pak Ezra, Saya juga ingin bantu–"
"Diam kau! Urusi pekerjaanmu sana! Aku yang akan membawa Tuan Justin ke rumah sakit,"
Tanpa memperdulikan Chloe, Ezra bergegas mengangkat Justin ala Bridel style dan segera membawanya keluar dari ruangan tersebut menuju parkiran mobil.
Sejenak Chloe terdiam menatap kepergian Ezra dengan Justin, Gadis itu masih berdiri di ruangan Justin. Mengusap lengannya yang agak nyeri bekas dorongan Ezra. Kepalanya menunduk pelan menatap lantai dengan ekspresi sedih.
"Padahal aku cuma ingin membantu Pak Justin, Tapi Pak Ezra selalu menghalang-halangi niatku. Sebenarnya dia menganggapku ada atau tidak sih di kantor ini?!" Gumam Chloe sedih.
Sang gadis menghela napas lelah dia membereskan piring dan jus di meja Justin, Lalu melangkah keluar dari sana.
*************
[Asrama]
Sesaat dia membenarkan tali ranselnya yang agak kendor, Melangkah memasuki ruang tamu Asrama. Malam ini suhu udaranya lebih dingin dari yang Chloe kira. Untungnya dia sudah sampai di Asrama. Sepulang kantor menurutnya lebih enak minum coklat panas.
CKLEK!
"Aku pulang," Kata Chloe membuka pintu depan Asrama, Dia meletakkan sepatunya di rak sepatu yang sudah tersedia.
Tak lama gadis itu kembali ke ruang tamu dengan sebuah selimut tebal di tangannya, Dia sudah mengganti pakaian sebelumnya. Secara perlahan Chloe menyelimuti Raizel dan Rion yang masih tidur nyenyak.
SRUK!
"Selamat malam Raizel, Rion. Semoga mimpi indah," Bisik Chloe pelan agar tak membangunkan keduanya. Dia tersenyum lembut, Merasa gemas dengan keimutan Raizel dan Rion saat tidur.
Tanpa sadar Chloe mengusap pelan surai milik Raizel dan Rion, Tak tahan dengan keimutan keduanya.
"Ugh...,"
Refleks sang gadis langsung menarik kembali tangannya mendengar lenguhan dari Raizel, Sesaat kepala Raizel bergerak pelan tanpa membuka mata lalu kembali tidur. Untungnya keduanya tak terbangun, Hampir saja jantung Chloe copot takut membangunkan keduanya.
"Ups...Lebih baik aku pergi sekarang deh, Nanti mereka bangun," Pikir Chloe secara perlahan mundur menjauhi Raizel dan Rion yang masih tidur. Lalu segera menuju keluar Asrama untuk jalan-jalan sebentar.
**************
[Halaman depan Asrama]
Dengan santai Chloe berkeliling Asrama sekedar menghirup udara malam, Netra birunya menatap sekeliling yang agak gelap ditemani suara-suara dari hewan malam.
Tak lama Chloe duduk di Gazebo menyandarkan kepalanya pada tiang Gazebo, Diam dalam hening. Pikirannya melayang teringat rumah yang sudah dia tinggalkan telalu lama.
"Pasti rumahku bakalan banyak debunya saat kembali nanti, Rasanya aku tak punya waktu untuk berkunjung ke rumah lamaku. Gimana ya nasib kulkas sama TV ku? Semoga aja gak dicuri," Pikir Chloe teringat kulkas dan TV nya.
Sesaat tiba-tiba Chloe mendengar suara mesin mobil memasuki halaman depan Asrama menuju parkiran Asrama, Chloe menoleh dan mendapati mobil sedan hitam milik Justin melewati gerbang.
Sesampainya di parkiran mesin mobil itu mati, Lalu tak lama Ezra keluar dari sana tidak lupa mengunci mobilnya kembali. Tidak ada Justin disana, Membuat Chloe penasaran. Ekspresi Ezra pun tampak muram dan sedih.
"Oh, Pak Ezra sudah pulang. Dimana Pak Justin? Dia tidak terlihat bersama Pak Ezra," Dengan penasaran Chloe meranjak dari Gazebo bermaksud mendekati Ezra yang ingin memasuki dalam Asrama.
"Pak Ezra," Panggil Chloe ragu, Menatap punggung pria yang lebih tua sekitar 4 tahun darinya itu.
Langkah Ezra terhenti setelah mendengar suara Chloe, Dia tidak berbalik menghadap sang gadis. Namun hanya diam ditempat.
"Apa?!" Kata Ezra dingin tanpa menoleh. Sungguh, Dirinya sudah lelah secara batin dan mental. Tapi entah kenapa dia selalu bertemu Si tengil (Chloe) yang membuat suasana hatinya selalu buruk dan selalu ingin emosi jika berhadapan dengan Chloe.
"Bisakah aku tidak diganggu Si tengil ini sehari saja? Aku lelah bertemu dia terus," Pikir Ezra sambil menghembuskan napas lelah.
Chloe menautkan jari-jarinya ragu, Teringat dengan sikap Ezra saat di kantor tadi. Sesaat dia mengusap lengannya yang masih agak nyeri. Teringat juga dengan kondisi Justin.
"Bagaimana kondisi Pak Justin? Apa dia sudah siuman?" Tanya Chloe cemas, Nadanya terdengar ragu menanyakan hal itu pada Ezra namun Chloe juga merasa berhak mengkhawatirkan kondisi Justin karna dia juga berada disana.
Pemuda bersurai hitam itu diam, Kedua tangannya terkepal di sisi kiri dan kanan. Dia tak bisa menahan emosinya lagi, Teringat dengan kondisi Justin membuat perasaannya kacau balau. Ezra berbalik menghadap Chloe, Mendekati sang gadis hingga berdiri tepat di depan Chloe. Netra hijau emerland nya tampak berkilat penuh emosi.
"Kau ingin tahu?" Nada suara sang pemuda tampak berat, Tatapannya terus tertuju pada netra biru Chloe.
__ADS_1
"Umm...Iya," Chloe berkeringat dingin saat tatapan Ezra tak seperti biasanya. Lagi-lagi aura suram dan seram itu muncul.
GLEK!
"Ada apa dengan Pak Ezra? Entah kenapa aku merasa dia terlihat berbeda dan lebih suram dari sebelumnya," Pikir Chloe masih berkeringat dingin, Bulu kuduknya secara tiba-tiba meremang sendiri.
"Ikut aku!"
Ezra berbalik melangkah pergi menuju belakang Asrama, Memimpin jalan menuju sebuah tempat. Awalnya Chloe merasa ragu namun salah kan rasa penasarannya yang begitu besar, Dengan patuh Chloe mengikuti Ezra menuju sebuah tempat.
Hanya beberapa menit mereka sampai di sebuah gubuk kecil dan gelap tepat di belakang Asrama berdekatan dengan hutan dan sedikit melewati kebun, Chloe pernah melihat gubuk itu sebelumnya. Namun dia tak berani masuk kesana karna berpikir mungkin gubuk itu sebuah gudang.
"Pak, Ngapain kita kesini?"
"Mengambil sesuatu," Balas Ezra datar sambil membuka kunci pintu gubuk itu. Dia membuka pintu gubuk perlahan.
KKRREEIITT!
Chloe mengintip kecil setelah pintu gubuk itu terbuka, Didalamnya sangat gelap hampir tak ada penerangan sama sekali. Ezra melirik kecil Chloe yang berada di sampingnya.
"Kenapa gak dinyalain lampunya?"
"Di gubuk ini gak ada lampu, Saat malam hari memang gelap. Jadi biasanya kalau ingin mengambil sesuatu disini saat siang hari aja," Jelas Ezra datar, Menatap gelapnya dalam gubuk itu.
"Etto...Terus bapak mau ngapain malam-malam kesini kalau penerangannya cuma disiang hari?" Tanya Chloe bingung, Dia heran sebenarnya Ezra mau ngapain sih?
"Bodoh!" Ezra tersenyum sinis, Membuat Chloe tersentak. Gadis itu merasakan alarm bahaya di pikirannya. Sontak dia ingin berlari menjauh namun Ezra lebih dulu menahan tangannya.
Tak lama Ezra mencekik leher Chloe lagi dengan tatapan datar, Chloe berusaha memberontak.
"P-Pak!...Kenapa....,"
"Untuk sementara kau tidur disini, Aku akan menjemputmu besok pagi," Kata Ezra datar sambil melempar tubuh Chloe memasuki gubuk gelap dan lembab.
BRUK!
BLAM!
CKLEK!
"Pak Ezra!" Dengan terbatuk-batuk Chloe berdiri dari jatuhnya, Menepuk-nepuk kencang pintu gubuk dari dalam.
"Pak! Biarkan saya keluar! Pak Ezra!"
Duk! Duk! Duk!
Chloe berusaha menggedor pintu tersebut memanggil-manggil nama Ezra. Sedangkan Ezra yang berada di luar gubuk, Sudah menggembok pintu gubuk itu. Pura-pura menulikan telinganya, Dia hanya menatap dingin pintu yang digedor-gedor oleh Chloe dari dalam.
"Pak Ezra! Tolong keluarkan saya!"
"Hei! Aku sudah bilang aku tidak suka padamu, Kau sangat bodoh bocah. Dari dulu aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati Tuan Justin, Karna kau tidak mendengarkan peringatanku. Lebih baik kau terima hukumannya,"
Dengan santai Ezra melangkah pergi dari sana, Membiarkan Chloe terjebak dalam gubuk gelap dan lembab itu.
"Pak!"
Duk! Duk! Duk!
Brak!
Chloe kembali menggedor pintu itu sesaat dia menabrakan dirinya pada daun pintu, Berharap pintu itu terbuka. Namun usaha nya sia-sia, Pintu itu tak kunjung terbuka karna Ezra menguncinya dari luar. Suasana gelap dan lembab membuat Chloe perlahan mulai takut apalagi saat dirinya mendengar suara hewan malam mulai bersahut-sahutan.
"Hp, Hp ku. Dimana?" Chloe dengan panik memeriksa saku celana dan bajunya. Tapi sayang benda persegi panjang itu tak berada dalam genggamannya.
Seketika sang gadis teringat bahwa dia meninggalkan HP nya di nakas tepat di kamarnya, Yang dia miliki hanya jam arloji yang terpasang manis di lengan kirinya. Badan Chloe mulai bergetar, Bulir-bulir air mata mulai keluar dari pelupuk matanya.
Saat ini Holy tidak ada disisinya, Dia merasa sendirian sekarang. Chloe mulai memeluk lututnya, terduduk dalam diam dan gelap. Pundak dan seluruh tubuhnya bergetar, Isak tangis mulai keluar dari bibir mungilnya.
Tak lama Netra birunya terbelalak seolah melihat sesuatu yang menyeramkan berada dalam kegelapan.
*************
[Kamar Felix]
BRUK!
Felix menghempaskan tubuhnya di kasur, Meletakkan lengan kanannya di wajah. Memejamkan mata sesaat. Ekspresi wajahnya tampak sayu serta pucat dan agak memerah tipis.
"Hari ini melelahkan sekali," Lirih Felix pelan, Menempelkan punggung tangannya sendiri ke keningnya yang berkeringat.
"Panas," Pikir Felix setelah menyadari suhu tubuhnya agak tinggi. Sepertinya dia perlu istirahat sekarang.
Pemuda bersurai coklat itu kembali memejamkan mata berniat untuk tidur saking lelahnya pulang kerja. Namun tiba-tiba dia merasa lengannya bergetar kecil.
Dengan malas Felix menekan tombol hijau di jam arlojinya yang berkedip-kedip tanpa melihat nama sang pemanggil. Tak lama muncul layar hologram di jam itu, Menunjukkan wajah seseorang dalam kegelapan dan Felix hanya bisa mendengar suara isak tangis orang itu tanpa bisa melihat wajahnya karna gelap.
"Halo?"
"Kak Felix....Huhuhu...Hiks, Tolong aku...Hiks,"
Deg!
Netra aquanya terbelalak saat suara tak asing itu menyapu pendengarannya, Tubuhnya sesaat bergetar kecil saat suara itu kembali terdengar.
"Kakak...Tolong...Huaaa...," Tangis Chloe disebrang sana semakin kencang.
"Chloe, Bertahanlah!" Felix dengan panik memaksakan tubuhnya bergerak dari kasur, Dia meranjak dari sana secepat kilat. Keluar kamar demi menyelamatkan adiknya.
TBC
__ADS_1