
"Permisi," Felix membuka pintu ruang kepala sekolah, Diikuti Chloe yang berada di belakangnya.
Kepala sekolah yang saat itu tengah mengurus dokumen, Menoleh sesaat. Tersenyum tipis.
"Oh, Iya. Silakan masuk pak,"
Felix dan Chloe masuk. Setelah dipersilakan duduk sebelumnya oleh kepala sekolah. Chloe berusaha untuk tidak terlihat gugup, Menyamankan diri sesaat di tempat duduk nya.
"Jadi, Ada perlu apa anda kesini pak?" Tanya Kepala sekolah masih tersenyum.
"Begini, Saya dengar adik saya terlibat masalah. Dan dia tadi sempat pingsan. Apa benar?" Felix menatap dingin, Pertama kalinya Chloe lihat ekspresi Felix tanpa senyum sama sekali.
"Iya, Itu benar. Chloe bisa menceritakan apa yang terjadi sampai pingsan begitu?" Kepala sekolah mengalihkan perhatiannya pada Chloe. Chloe sedikit tersentak.
Kemudian Chloe memandang Felix, Meminta persetujuan. Felix tersenyum lembut menatap Chloe balik, Mengangguk kecil.
"Katakan sejujurnya," Balas Felix tersenyum tipis.
Sesaat Chloe menghembuskan napas untuk membuatnya sedikit rilex, Lalu mulai menceritakan semuanya seperti yang dia ceritakan pada Alice dan Evelyn. Felix dan kepala sekolah mendengarkan nya dengan seksama.
Usai cerita itu selesai, Kepala sekolah terlihat terkejut lalu menggeleng pelan seolah tidak mempercayai cerita Chloe.
"Itu tidak mungkin! Anak saya gak mungkin membully orang lain, Dia itu Ketos. Selama ini yang saya lihat, Anak saya memiliki sikap yang baik kepada teman-temannya dan mengajarkan hal-hal baik. Chloe Amberly, Kamu jangan asal menuduh anak saya ya!" Kata Kepala sekolah menatap tajam Chloe, Tak terima Vivian di tuduh pembully oleh Chloe.
"Tapi saya mengatakan hal sejujur nya bu, Vivian bersama Viola dan Chelsia mencegat saya di tangga. Lalu menampar saya karna alasan tidak ada yang boleh mendekati Ian, Ya saya tampar balik. Saya hanya mencoba membela diri," Sahut Chloe tenang, Membela diri dengan kepala dingin.
"Saya gak percaya ceritamu! Kamu sudah menuduh anak saya, Saya bisa saja mengeluarkan kamu dari sekolah ini!" Ancam Kepala sekolah marah.
Chloe sesaat terdiam, Bingung harus mengatakan apa lagi. Kepala sekolah saja tak percaya padanya. Sedangkan Felix memejamkan matanya sesaat, Memikirkan suatu cara.
"Bagaimana kalau kita tanya saja saksinya? Siapa namanya, Ian Maxwell kan?" Tanya Felix pura-pura tidak mengenal Ian, Dia menoleh pada Chloe yang mengangguk kecil.
"Maaf pak, Tapi dia masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Saya mendengarnya sendiri dari Guru penjaga UKS," Tolak Kepala sekolah secara tegas.
"Bagaimana, Kalau kita lihat dari CCTV sekolah ini? Sekolah sebesar dan se elit ini mana mungkin kan tidak punya CCTV," Jawab Felix masih terlihat tenang.
Kepala sekolah itu terdiam, ekspresi nya terlihat sedikit pucat. Lalu menatap sinis Felix sesaat.
"Baik! Mari kita periksa, Kalau sampai semua yang diceritakan oleh Chloe bohong, Maka saya gak akan segan-segan melaporkan kalian ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik sekolah,"
Felix hanya mengangguk tenang, Sedangkan Chloe saling lirik dengan Holy. Kalau Chloe berbohong dia pasti sudah sangat ketakutan sekarang, Tapi semua yang diceritakannya itu benar. Jadi Chloe tenang-tenang saja sama seperti Felix.
Mereka beralih ke bagian monitor CCTV, Semua kelas, Kantin, dan sudut-sudut seperti tangga dipasang CCTV. Mereka menemukan rekaman kekerasan yang dilakukan Vivian, Viola, dan Chelsia terhadap Chloe. Selama beberapa menit mereka menonton rekaman yang berdurasi pendek tersebut.
Tentu Felix merasa sangat marah dengan perlakuan yang dilakukan ketiga gadis itu terhadap adiknya, Tapi dia berusaha menyembunyikan amarah di balik topeng tenangnya.
Berbeda dengan kepala sekolah yang merasa syok dengan tindakkan anaknya, Lalu tanpa berkata apa-apa langsung menelpon salah satu guru yang mengajar di kelas Vivian.
"Permisi pak, Tolong panggilkan Vivian, Viola, dan Chelsia. Suruh mereka untuk ke ruangan kepala sekolah sekarang!"
"Baik bu,"
Panggilan itu berakhir, Kepala sekolah merasa sangat malu dengan tingkah anaknya. Dia merasa gagal mendidik Vivian sebagai seorang ibu. Chloe hanya menatap dalam diam, Lalu beralih menatap Felix yang tampak memejamkan mata. Seperti kembali memikirkan sesuatu.
Selama beberapa menit ruangan itu dipenuhi keheningan, Chloe menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi selagi menunggu ketiga gadis itu datang.
TOK! TOK! TOK!
__ADS_1
"Permisi,"
Suara ketukan membuat ketiganya menoleh, Tak lama Vivian, Viola, dan Chelsia masuk dengan gugup. Mereka menutup pintu dan mendekati kepala sekolah yang menatap ketiganya tajam.
"Ada apa bu, memanggil kami?" Tanya Vivian berusaha tidak terlihat gugup.
"Bisa jelaskan apa yang kalian perbuat pada Chloe!?" Suara kepala sekolah yang penuh penekanan membuat ketiganya bergetar takut, Apalagi saat melihat kepala sekolah menunjuk layar monitor CCTV.
Vivian terdiam membisu, Dia lupa kalau sekolah ini dilengkapi kamera CCTV. Jadi semua tindakkan Siswa-Siswi akan terekam sangat jelas di sana.
"Bohong bu, Itu pasti hanya Siswi yang mirip Vivian. Vivian mana mungkin melakukan kekerasan pada Siswa-Siswi sekolah," Elak Vivian tanpa sadar keringat dingin mengalir di keningnya.
BBRRAAKK!
"Gak usah bohong, Ibu tau ini kamu Vivian! Name Tag kamu itu sudah terlihat jelas dari seragammu," Bentak kepala sekolah marah, Menggebrak meja sambil menunjuk layar monitor yang menunjukkan seragam Vivian bertuliskan OSIS.
Vivian diam tak berkutik lagi, Begitu pun dengan Viola dan Chelsia. Ketiganya menunduk takut dengan mata yang sudah berair. Siap menangis kapan saja.
Kepala sekolah kembali duduk, Menghela napas sambil memijit kepalanya yang agak pusing. Merasa sangat kecewa dengan perlakuan Vivian yang membuat nya malu sebagai kepala sekolah.
"Saya mewakili anak saya dan teman-temannya, Saya benar-benar minta maaf atas perlakuan mereka," Kepala sekolah berdiri sambil membungkukkan badannya dalam-dalam pada Chloe dan Felix.
"Kami benar-benar minta maaf," Sahut Vivian, Viola, dan Chelsia ikut membungkuk.
Felix hanya diam menatap datar, Chloe membuka mulutnya berniat menjawab permintaan maaf itu namun Felix memotongnya.
"Aku menolak!"
Sontak semua pasang mata menatap Felix termasuk Chloe dan Holy, Kemudian pandangan Felix beralih pada Chloe.
"Kau ingin mereka diberi hukuman apa?"
Felix menatap kepala sekolah, Mengacuhkan perkataan Chloe.
"Baiklah adikku tidak ingin memberi hukuman, Biar aku yang menggantikannya. Aku ingin mereka bertiga di skor selama 1 tahun, Dan saat masuk sekolah kembali mereka harus di hukum membersihkan seluruh area sekolah selama seminggu,"
Kepala sekolah, Vivian, Viola, dan Chelsia melotot tak percaya dengan perkataan Felix barusan. Berbeda dengan Chloe yang tersentak, Menggeleng pelan tak setuju.
"Kak Felix, Jangan memutuskan seenaknya dong!" Protes Chloe.
Vivian menjadi geram, menatap menyalang pada Felix tanpa takut sedikit pun.
"Memangnya kau siapa hah!? Berani sekali memerintah kepala sekolah,"
Felix mengacuhkan Vivian yang marah, Menatap lembut Chloe.
"Chloe, Bisakah kau tunggu kakak di luar. Kakak ingin bicara dulu dengan mereka termasuk kepala sekolah,"
"Siapa yang menyuruhmu memperbolehkan Chloe untuk pergi!?" Kini kepala sekolah yang tak terima karna Felix dengan seenaknya menyuruh mereka.
Chloe diam memandangi Felix, Pemuda bernetra Aqua itu mengangguk kecil dengan senyum penuh arti di bibirnya. Sejujurnya Chloe penasaran apa yang akan Felix bicarakan, Tapi karna tatapan serius Felix. Chloe mengurungkan niatnya.
"Saya permisi," Chloe meranjak dari duduknya, Menuju pintu keluar.
"Chloe! Saya belum menyuruhmu untuk pergi! Kembali kesini!" Teriak kepala sekolah, Tapi sayangnya Chloe tetap keluar dari ruangan itu. Menyerahkan semuanya pada Felix.
BLAM!
__ADS_1
Pintu tertutup rapat, Kepala sekolah sangat geram, Begitu pun dengan ketiga gadis disana.
"Berani-berani nya kau mengambil alih posisi saya," Kata kepala sekolah geram.
Felix diam tak bergeming, Memejamkan matanya sesaat lalu kelopak matanya terbuka menampakkan Netra Aqua nya yang berkilat penuh amarah. Tersenyum misterius.
"Nah, Sekarang mari kita bicara dengan kepala dingin,"
"Cukup! Jangan bermain-main lagi! Katakan sebenarnya apa yang kau inginkan!?" Kesabaran kepala sekolah sudah di ubun-ubun, Wajahnya memerah karna sejak tadi menahan amarah.
Felix masih tersenyum tapi perlahan senyumannya berubah menjadi seringai sinis, Menatap menyalang orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Keinginanku? Sudah kubilang bukan, Aku ingin mereka bertiga di skor selama 1 tahun dan saat mereka masuk kembali, Mereka harus dihukum membersihkan semua area sekolah selama seminggu. Lakukan saja perintahku! Atau kalian semua akan mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dari pada yang kalian lakukan pada Chloe,"
"Huh! Siapa kau sampai berani-berani nya mengancam kepala sekolah!?" Viola membuka suara dengan nada sinis.
"Siapa aku?" Sesaat Felix tertawa pelan, Tatapannya semakin tajam seakan menemukan mangsa. "Keluarga Edricson tidak akan pernah membiarkan orang yang melukai salah satu anggota keluarga Edricson lolos, Mereka yang melukai anggota keluarga Edricson tidak akan pernah hidup tenang,"
Kepala sekolah dan ketiga gadis itu seketika terbelalak kaget, Tubuh mereka terlihat membeku. Sorot Netra ketakutan terlihat dari pancaran mata mereka masing-masing saat mendengar marga Edricson. Masing-masing tubuh mereka bergetar takut.
"Jangan-jangan K-Kau adalah Felix Edricson!?" Kata Chelsia dengan nada bergetar terdengar dari suaranya.
Pemuda bernetra Aqua itu hanya menunjukkan seringai sinis tanpa menyahut sama sekali, Kembali melanjutkan perkataannya.
"Keinginan ku tadi hanyalah hukuman kecil dari ku, Seharusnya kalian berterima kasih pada Chloe karna aku memberikan satu kesempatan lagi untuk kalian, Jika saja Chloe terluka sangat parah tadi saat jatuh di tangga. Akan kupastikan seisi sekolah ini akan meledak kurang dari 2 menit," Kata Felix dengan ekspresi nya yang berubah datar. Tentu saja Felix serius dengan ucapannya.
Wajah kepala sekolah langsung pucat pasi begitu pun dengan ketiga gadis yang ada disana. Mereka tak menyangka bahwa Chloe adalah adik dari Felix Edricson. Keluarga Edricson yang terkenal dengan perusahaan perdagangan dengan koneksi terbesar di dunia serta penyumbang saham terbesar no 3 di dunia.
Felix meranjak dari duduknya, Dengan santai menuju pintu keluar. Sebelum dia pergi, Sesaat Felix menoleh pada kepala sekolah.
"Oh, Iya jangan lupa dengan permintaan saya tadi ya bu, Mohon kerja sama nya. Dan tolong pindahkan Ian Maxwell ke rumah sakit, Saya yang akan menanggung biaya rumah sakitnya. Dan juga tolong beritahu wali kelas Chloe, Bahwa dia Izin hari ini. Permisi,"
Felix tersenyum lembut sesaat pada semua orang yang berada di ruangan itu, Meski mereka masih terlihat syok. Lalu Felix pun keluar dari sana untuk menemui Chloe.
BLAM!
Chloe menunggu di luar segera menoleh menyadari Felix sudah selesai dengan urusannya.
"Apa yang kak Felix bicarakan dengan mereka?" Tanya Chloe penasaran.
Felix tersenyum lalu mengusap rambut biru milik Chloe pelan. "Bukan hal yang penting, Hanya membicarakan proses belajarmu selama disini,"
Chloe membalas senyum Felix dengan lebar. "Begitu ya, Oh iya. Kakak bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting denganku,"
"Iya, Tapi tidak disini. Ayo kita pergi ke Cafe dulu,"
Chloe hanya mengangguk patuh, Mengikuti langkah Felix yang berjalan di depannya. Sedangkan Holy memilih tidur dalam saku seragam Chloe.
Sesaat Felix berhenti berjalan, Menoleh pelan pada Chloe yang berada di belakangnya.
"Chloe, Boleh kakak menggandeng tanganmu?"
Sang gadis tertegun sejenak, Menurutnya Felix benar-benar seorang pria yang gentleman. Sampai minta izin segala hanya untuk gandengan tangan. Chloe terkekeh pelan, Lalu mengulurkan tangannya pada Felix.
"Boleh kok,"
Felix memasang senyum senangnya, Menerima uluran tangan Chloe. Menggenggam sedikit erat. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
TBC