System Prince Charming

System Prince Charming
Naksir


__ADS_3

Ian terbangun karna cahaya matahari bersinar cerah melewati celah-celah gorden yang tertutup. Pemuda bersurai hitam itu membuka matanya saat merasakan dia menggenggam tangan seseorang.


Ian menoleh dan menemukan Chloe yang tertidur di sisi kasur, kepala sang gadis menyandar pada sandaran tempat tidurnya. Sesaat Netra merahnya menatap tajam, mencoba mengingat apa yang terjadi kemaren sore.


"Dia masih disini!? Sudah berapa lama dia duduk dengan posisi begitu?" Netra merahnya beralih pada tangannya sendiri yang memegang tangan Chloe. Sontak sang pemuda langsung melepaskan tangannya sendiri.


Ian perlahan bangun dari tempat tidurnya agar tak mengganggu tidur Chloe, melepaskan kain yang melekat di keningnya lalu meletakkan di baskom. Beberapa detik sang pemuda terdiam di tempat, mencoba mencerna kejadian kemaren.


"Kayaknya aku mulai ingat apa yang terjadi kemaren sore," Lirih Ian menghela napas, kemudian punggung tangannya memeriksa suhu tubuhnya sendiri.


Sang pemuda sudah merasa lebih baik sekarang, Dia menoleh mencari jam dinding di kamarnya dan mendapati Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Hari sabtu libur untuk sekolah mereka, jadi Ian tidak perlu khawatir kalau dia terlambat.


Pemuda bersurai hitam itu meranjak dari tempat tidur dari sisi yang lain, lalu mendekati Chloe yang masih tidur. Kini Ian membaringkan sang gadis di tempat tidurnya tadi, Pertama kalinya ada orang asing dalam rumah sang pemuda.


Ian menatap datar wajah Chloe yang masih tenang dengan tidurnya, Sang gadis sama sekali tak terganggu ketika Ian memindahkan nya tadi. Ian menarik selimut dan menutupi tubuh Chloe dengan selimutnya.


Kemudian sang pemuda mengambil pakaian ganti dan handuk dalam lemarinya, Tak lupa membawa baskom dan gelas kosong yang berada di atas nakas. Mana mungkin Ian mandi dalam kamarnya sendiri ketika dalam kamarnya terdapat orang lain. Ian memutuskan untuk mandi di kamar kosong lain dalam rumahnya.


**************


SREK!


Ian membuka gorden dalam kamarnya membiarkan cahaya matahari masuk sepenuhnya, Netra merah nya sesaat melirik Chloe yang masih tidur tapi tampaknya sang gadis mulai merasa terganggu karna cahaya matahari yang mengenai wajahnya.


"Bangun atau kusiram!"


Suara Ian membuat Chloe mengernyitkan alisnya meski matanya masih terpejam, perlahan Chloe membuka matanya memperlihatkan Netra biru sang gadis. Hal pertama yang dilihat Chloe adalah wajah datar Ian dan segelas air mineral yang terdapat pada tangan sang pemuda serta sebuah pakaian perempuan di tangan satunya.


"Ian!? Kenapa kau ada dikamarku!?" Sontak Chloe bangun dari rebahannya, agak terkejut karna kedatangan Ian.


Tidak ada sahutan dari Ian, dia hanya menatap datar dengan Netra merah nya. Beberapa detik Chloe ikut diam, menyadari ada sesuatu yang berbeda pada kamarnya.


"Tunggu dulu, ini bukan kamarku. Aku dimana?" Chloe langsung melihat sekitarnya, menyadari kalau ini bukan kamar dan rumah sang gadis. Chloe pun juga baru menyadari kalau dia tidur di tempat tidur Ian.


"Mandi dan segera ganti pakaian mu, Kutunggu di dapur. Jangan lama atau kutendang dari sini!" Kata Ian dingin, dia melempar pakaian di tangannya pada Chloe yang langsung di terima dengan baik.


Kemudian Ian berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Chloe sendiri.


BLAM!


Chloe memandangi sesaat pintu yang barusan di tutup oleh Ian, mencibir kesal.


"Huh! Mulutnya masih pedas aja, ini nih contoh orang kebanyakan makan cabe," Cibir Chloe sambil mendengus.


Matanya beralih ke nakas dimana Holy tengah tidur disana dengan posisi terbaring, Pantas saja Holy tak membangunkannya ternyata Holy juga ikut tidur.


Chloe pun pergi menuju kamar mandi Ian sesuai intruksi sang pemuda. Hanya membutuhkan 15 menit bagi Chloe untuk mandi, setelahnya dia segera mengganti pakaiannya. Tak lupa mengikat rambut biru panjangnya ponytail.


Chloe bergegas keluar kamar Ian tak lupa merapikan kasur sang pemuda dan membangunkan Holy serta membawa pakaian sebelumnya.


**************


[Dapur Ian]


Aroma harum dari masakan seketika menyebar saat Chloe memasuki ruangan dapur, dilihatnya sang pemuda baru saja meletakkan sepiring makanan. Entah kenapa tiba-tiba Chloe merasa tidak enak hati karna tidak membantu Ian.


"Ian, maaf aku agak terlambat," Kata Chloe canggung.


Ian hanya menatap Chloe dalam diam sambil menarik kursi untuknya duduk, tidak ada sahutan dari Ian. Sang pemuda hanya mengacuhkannya saja.


"Duduk!"


Chloe menatap beberapa detik, bengong karna Ian tidak menyahut perkataannya dan hanya menyuruh sang gadis untuk duduk saja.


"Hm...baiklah," Chloe menarik salah satu kursi dan duduk berhadapan dengan Ian. Memperhatikan semua hidangan makanan di hadapannya. Aroma nya pun tercium harum.


"Apa tidak ada yang tinggal di rumah ini selain kau?" Chloe memperhatikan Ian yang mengambil beberapa lauk.

__ADS_1


"Tidak ada, aku memang sendirian disini," Balas Ian tenang.


"Keluargamu bagaimana?"


"....Apa itu penting untukmu!?" Netra merah Ian memandang tajam mata Chloe, sedikit menusuk memang.


"Ah, tidak...maaf membuatmu tersinggung," elak Chloe, menatap ke arah lain sesaat.


"Makan!"


Mendengar perintah itu sang gadis menoleh, agak susah mengobrol dengan Ian karna sang pemuda masih terlihat menjaga jarak. Masih belum bisa terbuka pada Chloe, Chloe tidak mengharapkan apapun dari Ian. Dia hanya berharap bisa menjadi teman Ian karna sang pemuda selalu terlihat menyendiri.


Akhirnya Chloe memutuskan untuk mengikuti perintah Ian, dia mengambil beberapa lauk dan mulai menyantapnya. Atmosfer nya benar-benar cangggung karna tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya.


"Maaf," Kata Chloe disela-sela makannya.


Membuat Ian yang sedang minum menatap Chloe sesaat, mendengarkan perkataan Chloe tanpa berniat menyela nya.


"Kau benar, aku sebenarnya tidak bisa bermain tenis dengan benar. Aku hanya tahu teknik dan gerakannya saja, tapi aku tidak pernah benar-benar mendalami gerakkannya sampai jadi perwakilan seperti ini. Aku sejujurnya ragu untuk mengikuti perlombaan ini," Kata Chloe menunduk, dia bahkan tidak yakin bisa bekerja sama dengan Ian kalau mereka terus kaku seperti ini.


Ian masih diam tak bersuara, memikirkan kejadian kemarin dimana dia juga sempat bilang tidak ingin melihat wajah Chloe lagi. Tapi apa sekarang? Gadis itu masih berbaik hati mengantarnya pulang dan merawatnya saat sakit meski dia juga pernah bilang membenci Chloe.


Ian menghela napas kecil, kalau begini dia tidak bisa membenci Chloe. Gadis itu sudah menolong walau mereka sempat tidak saling bicara saat latihan kemarin tapi Chloe tetap membantunya. Kayak nya Ian harus memikirkan ulang perkataannya kemarin.


"Kau tidak bisa mundur, waktu kita cuma seminggu lagi. Meminta siswa lain untuk menggantikanmu juga percuma, kau sudah masuk daftar," Balas Ian memandangi Chloe dengan Netra merahnya datar. "Kita akan mempelajarinya secara perlahan, dengan begitu kau bisa mengejar gerakkan yang tertinggal,"


Perkataan Ian membuat Chloe mendongak, tidak menyangka Ian akan berkata sepanjang itu tapi tatapan sang pemuda masih datar-datar saja.


"Maksudmu, apa kita akan bekerja sama secara perlahan mulai sekarang?"


"Ya, kita tidak bisa terus kaku seperti ini. Aku akan mengajarimu dasarnya saat latihan senin nanti sisanya kita akan belajar sama-sama,"


Chloe tersenyum lebar mendengarnya, Dia senang akhirnya Ian mau bekerja sama dengannya. Kalau begini Chloe tidak perlu cemas lagi, ketika dia melakukan kesalahan Ian akan membantunya.


"Terima kasih Ian, gerakkan dasarmu akan sangat berguna untukku nanti, Kalau begitu semoga kita bisa bekerja sama dengan baik senin nanti" Balas Chloe senang.


Chloe mengangguk senang, kembali memakan sarapannya riang.


"Btw dapat dari mana pakaian ini?" Chloe menunjuk pakaian nya sendiri yang diberikan oleh Ian.


"Pakaian bekas ibuku, ambil saja untukmu. Aku tidak memerlukannya,"


"Oh baiklah, terima kasih kalau begitu,"


***************


[Taman]


Usai dari rumah Ian gara-gara tak sengaja tidur di rumah sang pemuda, Chloe jadi menginap disana. Untungnya Ian gak marah Chloe tidur dirumahnya. Yah lumayan bagi Chloe karna bisa makan gratis sepuasnya dan kini Chloe berada di taman sekaligus jalan-jalan menikmati hari liburnya.


"KKKYYAAA RAIZEL!"


"Hm, apaan tuh ribut-ribut?" Kata Chloe saat tak sengaja melihat segerombolan cewek-cewek yang meneriaki nama seseorang.


"Kayaknya kudengar tadi ada yang neriakin nama Raizel deh. Jangan-jangan Raizel ada disekitar sini," Sahut Holy ikut memandang, dan duduk di pundak Chloe.


"Raizel ada disekitar sini!? Haduh bisa gawat kalau sampai ketemu dia,"


"Pulang aja yuk, Kita bisa kesini lagi besok,"


"Ya udah deh,"


Chloe berniat pergi dari taman itu tanpa mau ikut campur urusan para segerombolan cewek-cewek yang sedang mencari Raizel tak jauh dari tempat Chloe berada.


"Chloe Amberly,"


Suara seseorang yang memanggilnya membuat langkah Chloe berhenti, Sang gadis menoleh mendapati seorang Pria dengan Hoodie Coklat tua dan tudung yang menutupi rambut hitam kecoklatan di ujung rambutnya serta masker yang menutupi setengah wajah sang pria.

__ADS_1


Chloe sangat mengenali ciri-ciri itu, Pria itu adalah Raizel Freymon. Disaat Chloe berharap tidak akan bertemu dengan Raizel, Takdir selalu membalikkan harapannya.


Segera Chloe menurunkan sedikit topi biru yang dipakainya, berniat menutupi setengah wajahnya dari sang pria.


"Maaf, anda salah orang. Permisi," Chloe kembali berbalik, buru-buru menjauhi Raizel.


"Aku tahu itu kau. Jangan coba-coba menghindariku,"


Chloe mempercepat jalan nya menghiraukan perkataan sang pria, dia tidak ingin bertemu dengan Raizel sama sekali tidak ingin. Tiba-tiba Chloe merasa seseorang menahan pundaknya.


"Kau mau kabur!?"


Suara dingin dan tajam Raizel membuat Chloe sedikit merinding, Terpaksa sang gadis berbalik. Menghadapi Raizel yang menatapnya dengan tajam. Sudah tertangkap sekalian aja nyebur.


"Mau nya apa sih? Tahu dari mana coba namaku!?" Pikir Chloe agak kesal.


"Apa kita saling mengenal sebelumnya? Aku bahkan tidak pernah memberitahu namaku padamu, tahu dari mana?" Kata Chloe pura-pura tidak ingat, sebisa mungkin Chloe ingin menghindari Raizel ini.


"Kau pikir aku tidak ingat denganmu!? Cewek yang saat itu berani masuk Back Stage secara diam-diam demi meminta tanda tanganku. Jangan kau pikir aku bodoh sampai melupakan orang-orang yang mengusik kami," Kata Raizel tajam, dia tidak memegang pundak Chloe lagi.


"Huh, ingatannya kuat juga. Tapi kenapa malah membahas yang sudah berlalu sih!?" Chloe mendengus kecil.


"Bukankah kejadian itu sudah lama? Lagipula aku sudah minta maaf secara terbuka. Dan lagi waktu itu aku pernah menolongmu dari kecelakaan mobil, Aku kurang baik apa lagi hah!"


"Udah gitu, kau gak pakai terima kasih lagi. Sampai kakiku lecet gara-gara tergores aspal jalan cuma buat menolongmu tahu!" Tambah Chloe dalam hati dengan menggebu-gebu.


"Apa kecelakaan mobil itu termasuk permintaan maafmu?"


Chloe mengernyitkan alisnya, Apa-apaan si Raizel!? Kok malah nanya balik sih?


"Terserah kau mau mengganggap apa, Aku tidak peduli lagi. Sekarang aku ingin pulang, jangan menggangguku!"


Sang gadis menggertakkan gigi nya kesal, berbalik pergi. Lama-lama bisa rontok rambutnya kalau terus menerus berdebat dengan Raizel.


"Siapa bilang kau boleh pergi? Aku belum selesai,"


Kali ini tak segan-segan Raizel menahan tangan Chloe yang hendak pergi, membuat sang gadis menatap horror plus kesal pada sang pemuda.


"Gelud yuk, Aku dari tadi mau pulang gak dibolehin mulu," Chloe tersenyum miring dalam hati memaki-maki si Raizel.


"Maksa lagi, sekalian aja ku rontok kan tuh gigi nya," Pikir Chloe yang mulai emosi.


"Kau akan kalah kalau gelud denganku," Sahut Raizel dengan wajah datarnya.


"Mau mu apa sih!? Kalau mau bilang, ya bilang aja! Gak usah muter-muter!"


"Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan,"


Mendengar kata kesepakatan membuat Emosi Chloe langsung menurun, Sekarang sang gadis mulai bingung. Raizel datang padanya hanya ingin menawarkan sebuah kesepakatan? Hm...mencurigakan. Chloe gak bisa terlalu percaya dengan salah satu anggota HE@VEN yang notabanenya adalah anak didik Justin.


"Kesepakatan apa?"


"Yah sebuah kesepakatan, jika kau mau, aku akan melindungimu dan memberikan apa pun yang kau inginkan. Syaratnya cuma satu,"


Chloe sekilas saling lirik dengan Holy, dari pada tergiur dengan hadiahnya. Chloe lebih penasaran dengan Syarat Raizel jika Chloe menerima kesepakatan itu.


"Apa Syaratnya?" Kata Chloe penasaran.


"Jadilah Pacarku,"


"APA!"


"APA!"


Seketika Chloe dan Holy langsung syok dengan Syarat dari kesepakatan itu, Apa sebenarnya tujuan Raizel memberikan kesepakatan itu pada Chloe?


TBC

__ADS_1


__ADS_2