System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Ezra dan Chloe


__ADS_3

Sejenak Chloe sempat melirik ke arah tembok dimana Revan dan yang lain bersembunyi, Dia yakin bukan hanya Revan yang mendengar pembicaraannya dengan Pak Ezra tadi. Gadis itu memutuskan mengacuhkan keberadaan mereka dan melewati begitu saja menuruni anak tangga.


Hal itu membuat Ash tertegun, Dan yang lainnya menatap heran. Jelas-jelas mereka bersembunyi di balik tembok dekat tangga, Seharusnya pasti Chloe sudah melihat keberadaan mereka kan? Lha ini langsung lewat aja seakan gak lihat apa-apa atau mungkin Chloe lihat mereka tapi sengaja diacuhkan?


"Apa dia sudah tahu kita disini, Makanya diacuhkan?" Tanya Al dengan raut bingungnya.


"Sepertinya iya, Mungkin Chloe marah karna kita menguping pembicaraan mereka," Ash merasa bersalah, Seharusnya ia tidak ikut menguping dan mencegah para saudaranya. Ah, Dirinya jadi serba salah sekarang.


Kenzo menghembuskan napasnya pelan lalu berbalik menuruni tangga. "Aku akan kembali lagi nanti,"


"Huh! Lebih baik kita pulang saja Vallen," Ajak Xavier melangkah pergi.


"Iya," Vallen mengikuti Xavier lalu menoleh ke arah Michelle brother sambil melambaikan tangannya dan tersenyum miring. "Bye bye, Jangan kangen ya. Kami pergi dulu,"


Revan menatap garang, Memicingkan netra hijau zambrutnya. "Jangan asal bicara kau! Gak sudi kami kangen dengan kalian!"


Vallen hanya menjulurkan lidahnya mengejek dan mempercepat langkah menyusul Xavier. Sedangkan Ash menepuk pelan pundak Revan yang menegang karna marah.


"Sudahlah Revan, Jangan kau ladeni. Dia hanya semakin ngelunjak jika diladeni," Kata Ash.


"Emang ya, Maximillian brother senang sekali membuat kita emosi," Al merotasikan matanya jengah sebelum melangkah pergi.


Revan berdecih kesal, Ash menggidikkan pundak sebelum mengikuti Al pergi dan disusul oleh Revan yang masih dikuasai emosi gara-gara perkataan Vallen.


**************


Tak! Tak! Tak!


Perlahan Chloe memotong sayur yang sudah dia cuci sebelumnya. Saat ini ia berada di dapur dan sedang membuat bubur untuk Ezra. Usai memotongnya dia memasukkan potongan sayur itu dalam panci yang sudah berisi bubur setengah matang.


Chloe mengaduk sesaat, Meratakan bumbu-bumbu yang barusan dia masukkan.


Disaat Chloe sibuk dengan aktivitasnya, Perlahan suara langkah kaki terdengar menggema memenuhi ruang dapur. Hingga suara familiar terdengar membuat aktivitas Chloe terhenti sejenak.


"Sedang masak apa kau?"


Sang gadis menoleh, Mencari pemilik suara itu hingga menemukan Leon yang berdiri jauh dibelakangnya.


"Oh ini, Aku sedang masak bubur buat Pak Ezra. Temanku itu perlu makanan yang sehat untuk kesembuhannya," Jelas Chloe sesaat menoleh sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.


Kening Leo mengerut kecil, Ia mendekati Chloe sembari memandangi bubur yang masih dimasak.


"Memangnya anak ini bisa masak? Baru pertama kali aku melihatnya masak begini, Entah kenapa tiba-tiba aku meragukan kemampuan memasaknya," Pikir Leon dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


"Kakak mau cobain masakanku? Aku ingin tahu pendapat kakak, Jadi aku bisa tahu bumbunya kurang apa aja," Tawar Chloe tersenyum tipis, Gadis itu mengambil sedikit bubur dengan sendoknya lalu menyodorkan pada Leon. "ini...,"


"Kalau masakkanmu gak enak, Aku gak akan membiarkanmu mendekati dapur lagi termasuk membantuku dan Leo masak," Kata Leon datar, Dia mengambil alih sendok ditangan Chloe.


"Itu urusan belakangan, Yang penting aku sukarela membuat makanan ini untuk temanku,"


Leon tak menjawab, Dia mengacuhkan kata-kata Chloe. Lantas lidahnya mencicipi sedikit bubur yang ada disendok itu. Mengecap rasa luar biasa dilidahnya.


"Huh! Bagaimana bisa?! Meski hanya bubur tapi rasanya bahkan lebih nikmat dan persis seperti masakan buatan kak Eli. Walau baru pertama kalinya dia masak disini tapi percobaan pertama langsung berhasil. Semua rasa buburnya sangat pas," Leon menjauhkan sendoknya, Memandang Chloe yang memandangnya balik dengan netra berbinar cerah.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Chloe antusias.


Leon melirik sembari memasang ekspresi datarnya. "Yah...lumayan, Kurasa tidak perlu menambahkan bumbu apapun lagi,"


"Syukurlah, Kuharap pak Ezra menyukainya," Chloe tersenyum ceria, Mematikan kompor dan segera menuangkan bubur itu ke mangkuk dengan hati-hati.


Leon mengerutkan alisnya. "Kau hanya membuat bubur untuk temanmu itu? Tidak sekalian untuk kami?"


"Tidak, Aku hanya membuat untuk dua porsi. Lagian kalian kan tidak sakit, Jadi tidak perlu makan bubur. Aku juga tidak ingin mengganggu kak Leon dan kak Leo masak," Chloe meletakkan dua mangkuk itu ke nampan bersamaan dengan dua gelas air mineral dan membawanya. "Nanti kucuci pancinya kalau sudah selesai makan,"


Sang gadis melengos pergi meninggalkan Leon yang terdiam, Seolah ada panah yang tak kasat mata menusuk jantungnya. Pria itu mendengus.


"Dasar! Anak itu tidak membantu sama sekali. Huh! Siapa juga yang butuh bantuannya?! Aku dan Leo bisa membuat makanan sendiri untuk keluarga ini!" Leon menggerutu, Meletakkan panci bekas pakai Chloe ke wastafel dan memakai celemeknya. Dia mulai mengambil bahan-bahan makanan untuk makan siang.


***************


Cklek!


Langkah kaki membawanya memasuki kamar Ezra, Perlahan Chloe meletakkan nampan di atas nakas. Dia mengambil buket bunga yang tergeletak di lantai. Chloe mengambil bunga-bunga itu lalu memasukkannya ke dalam vas, Semerbak aroma mawar dan bunga anggrek tercium memenuhi ruangan.


Gadis itu juga mengambil sekantong cemilannya dan meletakkan di samping nakas. Sesaat netra birunya memandangi wajah Ezra yang tertidur pulas, Wajah damai tercetak jelas dari wajah tampan pria itu.


Chloe menyungging senyum lembut, Dia mengguncang pundak Ezra pelan.


"Pak, Bangun. Aku sudah bawakan buburnya, Saatnya makan," Mendapati Ezra tak merespon apapun, Chloe semakin mengguncang pundak Ezra kali ini agak kencang. "Pak!"


"Apa pak Ezra pingsan lagi? Perasaan hari ini dia sudah banyak tidur," Chloe menjauhkan tangannya, Otaknya berpikir keras memikirkan cara agar Ezra bisa bangun dari tidurnya. "Memangnya pak Ezra pikir, Dirinya Putri tidur ya?"


Seketika ide jahil terlintas di pikiran Chloe, Gadis itu menurunkan tubuhnya dan berbisik tepat di kuping Ezra. "Pak Ezra, Bangun! Nanti aku gak mau ngerawat pak Ezra lagi kalau pak Ezra susah dibangunin lho~"


Netranya melirik, Sayang sekali Ezra masih betah dalam tidurnya. Gadis itu menjauhkan wajah sembari menghela napas lirih. Ide nya gagal, Ezra bahkan masih tak merespon.

__ADS_1


"Haah~, Kuburu dingin buburnya. Ya sudahlah aku akan kembali lagi nanti," Chloe berbalik berniat mengambil nampan. Namun belum sempat mengambil nampan, Chloe merasakan tangannya ditarik hingga membuatnya terseret jatuh menghantam kasur.


Kini tubuhnya tenggelam dalam pelukan seseorang, Sontak Chloe menoleh kesamping agak panik. Menemukan Ezra yang menatapnya balik, Netra hijau emerland itu berkilat tajam.


"Gadis badung! Sudah kubilangkan jangan menggodaku! Aku lagi sakit, tapi kau tetap melakukannya,"


Mendadak Chloe semakin panik merasakan pelukan Ezra yang mengerat. "Eh?! T-Tunggu dulu pak! Maksudku bukan begitu, Aku cuma berniat bangunin bapak,"


"Lalu untuk apa kau sampai berbisik begitu?!"


"Kan sudah kubilang aku cuma mau bangunin bapak! Pak Ezra aja yang tidur terus," Bela Chloe dengan pipinya yang merona tipis karna ternyata Ezra mendengar semua perkataannya.


Ezra tersenyum tipis, Dia menahan tawa melihat Chloe yang tampak salah tingkah. Entah mengapa baginya itu terlihat lucu.


"Dasar! Kau selalu punya banyak alasan untuk menghindar,"


"A-Aku gak menghindar kok!" Chloe melirik ke arah lain, Menghindari tatapan Ezra. Ia yakin wajahnya pasti sudah memerah sekarang.


"Oh ya? Bagaimana kalau ini?" Ezra mengusap bibir Chloe dengan ibu jarinya, Senyum seringai tertampang di wajah tampannya. Dirinya merasa senang saat melihat wajah gadis dihadapannya ini memerah.


Chloe terpaku sesaat, Netra hijau itu seakan membuat Chloe bisa melihat sisi Ezra yang lain. Seolah membuatnya bisa terhanyut dalam kilauan permata hijau emerland, Terlebih ketika Chloe menyadari wajah pria dihadapannya semakin dekat.


Tapi bukannya mencium di bibir, Pria itu malah membungkam bibir Chloe dengan tangan kanannya lalu mencium punggung tanggannya sendiri seolah menjadikan tangannya sendiri sebagai penghalang antara dirinya dan Chloe.


Cup!


Ezra menjauhkan wajah sambil tersenyum puas. "Untuk saat ini ciumnya di wakilkan dulu. Kau bilang gak mau tertular sakitku kan?"


Chloe tak menjawab, Mata gadis itu hanya mengerjap dengan pandangan melongo. Tak mendapat respon apapun, Ezra menjauhkan tangannya lalu setelahnya menyentil kening sang gadis agak kencang.


Ctak!


"Aaww!"


Chloe tersadar saat merasakan keningnya berdenyut sakit, Sembari memegangi keningnya gadis itu protes. "Pak Ezra! Kenapa keningku disentil lagi?!"


Ezra mendengus dengan ekspresi masam. Tanpa menjawab pertanyaan Chloe sebelumnya, Dia membuka suara. "Aku jadi penasaran, Apa yang kau pikirkan di kepala kecilmu itu?"


Kemudian seringai sinis kembali terpatri di wajahnya sambil menunjuk-nunjuk kening Chloe dengan jari telunjuknya. "Oh, Atau jangan-jangan kau berpikir macam-macam ya?"


Sontak wajah Chloe kembali memerah lalu menggeleng cepat. "Mana mungkin! Jangan-jangan pak Ezra yang sengaja menjahiliku biar aku malu tadi?!" Tuding Chloe balik.


Ezra hanya menahan tawa sembari melirik ke arah lain. "Mungkin saja, biar impas. Salahmu sendiri menjahiliku duluan, Kau pikir tadi aku benar-benar tidur? Aku hanya memejamkan mata saja,"


"Ukh...Sudah kutebak, Pak Ezra pasti sengaja untuk membalasku tadi," Pikir Chloe kesal sesaat. Ia seperti termakan jebakan Ezra saja, Atau mungkin ini senjata makan tuan?


"Dimana buburnya? Aku ingin segera kembali istirahat,"


Chloe mengambilkan satu mangkuk bubur, Sedangkan Ezra perlahan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Nih, Jangan istirahat dulu sebelum minum obat," Kata sang gadis sambil menyodorkan mangkuk itu kehadapan Ezra.


"Aku tahu," Dia menerima mangkuk tersebut, Membiarkan Chloe duduk di sisi kasur.


Chloe mengambil mangkuk satunya dan ikut memakan bubur buatannya itu, Sesekali netra birunya melirik Ezra yang sibuk memakan bubur bagiannya.


"Aku heran, Sifat pak Ezra terkadang berubah-ubah. Dia mudah sekali tersulut emosi tapi tidak lama juga mudah bersikap baik, Meski awal bertemu lebih banyak kasarnya tapi aku lega sekarang pak Ezra lebih banyak terbuka padaku. Walau sikapnya cepat sekali berubah sesuai suasana hatinya, Tapi setidaknya pak Ezra tidak sekasar dulu,"


Chloe mengunyah buburnya sembari melamun memandangi vas bunga, Hingga suara Ezra menyadarkan Chloe dari lamunannya.


"Bunga itu kau yang beli?"


"Oh...," Sesaat Chloe mengerjap lalu memandang Ezra yang menatap vas bunga. "Iya, Biar pak Ezra merasa lebih segar saat bangun. Dan juga biar ruangan ini dipenuhi aroma bunga dan lebih segar, Bapak gak alergi bunga kan?"


"Gak, Hanya saja bunga anggrek itu mengingatkanku dengan bunga anggrek pemberianmu dulu,"


"Bapak masih menyimpannya ya, Dimana bunga itu?" Chloe tersenyum kecil.


"Ada dirumahku, Aku pernah bilang dulu kalau bunga itu akan kupakai sebagai pembatas buku," Ezra menghabiskan buburnya lalu meletakkan di nampan, Perlahan ia meminum setengah dari air mineral setelahnya disusul dengan obat yang dibawa Chloe.


"Jadi masih bapak simpan sampai sekarang ya, Aku jadi penasaran bagaimana rupa bunganya sekarang setelah bertahun-tahun," Chloe menoleh, Seketika dirinya agak terkejut mengetahui Ezra telah meminum obat yang ia letakkan di nakas. "Pak! Bapak udah baca petunjuknya kan?!"


"Udah, Aku juga tahu kok. Gak usah panik begitu, Aku bukan anak kecil," Sahut Ezra tenang, Dia meletakkan gelasnya.


Chloe menghembuskan napas, Dia pikir Ezra asal minum tadi. Sang gadis buru-buru menghabiskan buburnya lalu meminum air mineralnya sampai tak bersisa.


TAK!


"Ya udah, Bapak istirahat lagi ya. Aku juga ingin istirahat habis ini," Chloe meletakkan mangkuk bubur dan gelas kosongnya di nampan, Bersiap membawa nampan itu.


Ezra hanya diam memperhatikan pergerakan Chloe sampai pandangannya jatuh pada pundak kiri Chloe. "Pundakmu...Kenapa diperban?"


Sesaat Chloe ikut memandang pundaknya. "Oh ini, Aku terluka saat melawan Vivian. Dia berhasil menusukkan pedangnya ke pundakku terlebih pedangnya sudah dilumuri racun terlebih dahulu. Untung racunnya sudah dikeluarkan, Jadi aku juga meminum obat untuk menetralkan sisa-sisa racunnya,"


Netra hijau Ezra melebar kaget, Ia memandang tak percaya. "Vivian datang lagi? Serius?!"

__ADS_1


"Iya, Waktu itu aku terpaksa melawannya karna dia menjadikan Ivy sebagai tawanannya," Jelas Chloe mengangguk.


"Apa dia membawa anggotanya? Kenapa kau melawan sendirian? Kenapa tidak minta bantuanku?!" Tanya Ezra bertubi-tubi, Dirinya merasa kesal karna Chloe melawan Vivian sendirian waktu itu. Dia hanya merasa cemas jika terjadi hal yang buruk pada Chloe, Terlebih dia tidak ingin pengorbanan Aiden memberikan jantungnya pada Chloe berakhir sia-sia.


"Dia tidak membawa anggotanya, Hanya Liam yang datang saat didetik-detik terakhir pertarungan kami," Chloe sedikit menunduk, Ia tersenyum kikuk. "Maaf pak Ezra, Waktu itu aku panik jadi tidak terpikirkan untuk menelpon bapak,"


Ezra menghela napas kasar, Dia mengacak rambutnya sesaat, Menatap kesal. "Lain kali telpon aku kalau kau bertemu dengannya lagi! Jangan bertindak gegabah sendirian, Mereka bukan lawan yang mudah dikalahkan dalam sekali pertarungan! Kau mengerti?!"


Chloe memandangi wajah kesal Ezra, Tangannya terulur mengusap sekaligus merapikan rambut Ezra yang berantakan. Senyum manis mengembang di bibirnya. "Iya, Aku mengerti pak. Lain kali aku akan minta bantuan bapak kalau bertemu mereka. Aku paham bapak cemas padaku,"


Ezra diam masih memasang ekspresi kesalnya, Namun dirinya membiarkan Chloe mengusap rambutnya. Tak berniat menepis tangan gadis itu. Sesaat samar-samar Chloe mendengar dengkuran kecil dari Ezra, Entah hanya halusinasinya atau Ezra benar-benar mendengkur?


Pria itu menundukkan kepalanya, Membuat Chloe semakin leluasa mengusap rambut sang pria. Ia memiringkan kepalanya bingung, Hingga suara Ezra kembali terdengar.


"Bukannya cemas, Aku hanya khawatir kalau kau merenggang nyawa lagi seperti waktu dirumah sakit saat itu. Aku tidak ingin sendirian lagi," Jantung Chloe berdegup kencang saat kepala Ezra mendongak, Pria itu menatapnya dengan pandangan sedih seolah seperti anak anjing yang kehilangan tuannya.


Deg! Deg! Deg!


Kini wajah Chloe merona tipis, Dimatanya kini Ezra terlihat seperti anak anjing yang murung namun disaat bersamaan juga terlihat imut.


"Astaga, Apa-apaan ekspresi itu?! Sulit mengatakan apakah pak Ezra ini anak anjing atau serigala? Dia bahkan terlihat imut dengan ekspresi itu tapi juga terlihat seperti anak anjing yang kehilangan tuannya (Justin)," Sesaat kepala Chloe menggeleng pelan. Bergelut dengan pikirannya sendiri. "Sadarlah Chloe, Pak Ezra adalah pria dewasa bukan anak kecil yang bisa dibilang imut, Masa kau samakan juga dengan hewan sih?!" Pekik Chloe dalam hati.


Yah, Walau Chloe akui Ezra memang lebih mirip anak anjing jika berekspresi seperti itu. Gadis itu berdehem pelan untuk menghilangkan pikiran anehnya tadi, Meski rona merah samar masih menghiasi pipinya.


Kini ia menjauhkan tangannya dari rambut Ezra. "Y-Ya, Aku tidak mungkin meninggalkan pak Ezra. Kan aku sendiri yang minta agar pak Ezra juga tidak meninggalkanku,"


"Oh, Benar juga. Aku sudah janji padamu dan kau juga sudah janji padaku. Jadi jangan mengingkari janji, Aku akan mencarimu keseluruh dunia jika kau mengingkarinya," Kini Ezra tersenyum senang, Seperti anak anjing yang ceria. Alhasil wajah Chloe semakin merah, Ah Ezra sekarang malah benar-benar mirip anak anjing yang kegirangan.


"Aaarrggg! Hentikan situasi aneh ini. Pikiranku jadi kacau gara-gara pak Ezra kan!" Pekik Chloe dalam hati sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Itu kan seharusnya kata-kataku waktu kecil!" Protes Chloe mengintip dari sela-sela jarinya.


"Tapi kau senangkan kalau aku juga mengatakan apa yang kau katakan waktu itu?"


Chloe diam, Dia tak mengelak dan hanya menganggukkan kepalanya. Chloe menjauhkan tangannya dari wajah, Memperlihatkan wajahnya yang memerah. Kemudian netranya melirik vas bunga yang berada di dekatnya, Dengan segera gadis itu mengambil salah satu bunga anggrek dari sana dan menyodorkan tepat dihadapan Ezra. Ia menunduk malu.


"B-Bunga ini kubelikan khusus untuk pak Ezra, Jadi biar pak Ezra waktu tidur gak mimpi buruk," Kata Chloe agak tergagap masih menunduk.


"Ah, Mengapa suaraku jadi gagap begini sih? Aku jadi merasa aneh dengan diriku sendiri, Mungkinkah karna pak Ezra?" Pikir Chloe berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.


"Jadi kau ingin aku selalu memimpikanmu?" Chloe merasakan genggaman Ezra pada bunga ditangannya secara bersamaan Ezra menggengam tangannya.


Mendengar perkataan Ezra, Sontak gadis itu mendongak. Rona merah masih menghiasi wajahnya.


"Bu-Bukan, Bapak salah paham. Aku...,"


Belum sempat Chloe menyelesaikan kalimatnya, Ezra menarik tubuh Chloe mendekat. Untung saja gadis itu sigap memegangi sisi kasur dengan salah satu tangannya agar dia tak jatuh kepelukan Ezra. Kini jarak keduanya hanya tinggal beberapa cm. Ezra masih memegangi tangan Chloe yang memegangi bunga.


"Aku senang kau peduli padaku, Terima kasih juga kau sudah membelikan bunga ini khusus untukku. Aku pasti akan terus memimpikanmu. Ngomong-ngomong bisakah aku mendapat ciuman sebelum tidur?" Ezra tersenyum senang, Perlahan mengambil alih bunga ditangan Chloe.


"Ci-Cium...?" Wajah Chloe memerah seperti tomat matang, Semakin lama dirinya berada disini, Entah mengapa dirinya selalu mendapat godaan dari Ezra. Atau mungkin hanya perasaannya?


"Ukh! Benar-benar sulit sekali. Terkadang pak Ezra seperti anak anjing dan terkadang dia seperti serigala?! Ah, Kalau begini terus aku bisa-bisa terjebak bersamanya, Manalagi pak Ezra godain terus," Ingin sekali Chloe langsung kabur dari sana, Jantungnya terus berdetak kencang setiap Ezra menariknya mendekat seperti ini.


Gadis itu merasa gugup, Menyadari Chloe yang diam. Ezra menjauhkan tangannya, Ekspresinya berubah murung.


"Kau tidak mau ya? Tidak apa-apa, Permintaanku juga agak berlebihan. Kalau begitu aku istirahat dulu," Ezra menarik selimutnya, Masih dengan wajah murung.


Seketika Chloe histeris dalam hati. "Tidak! Jangan menunjukkan ekspresi murung seperti anak anjing begitu pak! Ah, Hatiku tidak kuat melihatnya!"


Sontak Chloe menahan tangan Ezra, Seketika Ezra mendongak dengan pandangan heran. Gadis itu menahan kedua pundak Ezra lalu mencium kening sang pemuda lembut.


Cup!


Chloe menjauhkan wajah dengan rona tipis menghiasi pipinya, Sedangkan Ezra menatap diam sambil mengerjapkan mata.


"Selamat beristirahat pak! Semoga mimpi indah,"


Senyum tipis mengembang dibibir pemuda bernetra hijau itu. "Semoga kau ada dimimpiku,"


Tak tahan dengan godaan Ezra, Chloe tanpa berkata apapun bergegas mengambil nampan masih dengan wajah memerah dan membawanya keluar meninggalkan Ezra yang masih tersenyum mengingat ciuman Chloe di keningnya.


Blam!


Pandangan Ezra jatuh pada bunga di tangannya, Lalu memeluk bunga itu perlahan. Membayangkan sosok Chloe yang dia peluk, Semerbak aroma bunga memenuhi indra penciumannya.


"Sampai membelikan bunga ini khusus untukku, Bolehkan aku berharap dia memiliki perasaan yang sama denganku meski hanya sedikit?" Guman Ezra pada dirinya sendiri kemudian dia menghela napas. "Jangan banyak berharap Ezra, Dia bisa saja menyukai Ian teman masa kecilnya dibanding aku yang memiliki sikap buruk ini,"


Ezra menepuk kedua pipinya pelan, Berusaha menyadarkan dirinya kalau masih ada Ian yang juga menyukai Chloe. Meski sejujurnya Ezra meragukan hal itu, Karna setiap dia berusaha menggoda Chloe, Wajah gadis itu selalu memerah. Ezra kembali tersenyum, Rasanya dia tidak menyesal sudah mencium gadis itu.


"Rasanya aku tidak menyesal telah melakukannya. Aku menyukai wajah malu-malunya itu," Gumam Ezra masih tersenyum, Kemudian dia kembali menepuk pipinya. "Ah, Sudahlah. Kalau aku terus kepikiran malah jadi gak bisa tidur,"


Pria itu menarik selimut sampai sebatas dadanya sambil memeluk bunga tersebut, Perlahan dirinya tertidur, masuk ke alam bawah sadar.


TBC

__ADS_1


Bonus Picture:



__ADS_2