System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Holy dan Program sebenarnya adalah...?


__ADS_3

Setelah pulang dari pemakaman mereka berkumpul di ruang tamu tanpa satu pun dari mereka yang memulai obrolan, Masing-masing termenung masih dalam suasana duka. Hanya terdengar suara detak jarum jam yang memecah keheningan itu.


Devian menunduk kecil merasa sedih sekaligus bersalah. "Ini semua salahku, Jika saja aku tidak mengusulkan untuk berpencar waktu itu. Rion tidak akan mati seperti ini, Begitu bodohnya aku,"


Ia tersenyum getir, Masih dalam keadaan menunduk.


Semuanya terdiam membisu tidak ada yang bersuara beberapa detik setelah pernyataan Devian.


"Tidak ada yang salah disini, Jangan menyalahkan dirimu sendiri Devian," Ucap Felix menatap iba Devian yang merasa bersalah dan terpukul. "Semua manusia pasti akan mati, Mungkin ini sudah takdir Rion. Kita tidak bisa mencegah kapan kematian itu akan datang,"


"Aku juga merasa begitu," Sahut Ian lirih, Memilih menatap vas bunga dihadapannya.


Devian tak menjawab ia hanya diam lalu memilih pergi dari sana dengan ekspresi murung. "Aku ingin sendiri dulu, Jika sudah waktunya makan malam panggil aku,"


TAP! TAP! TAP!


Mereka hanya memandangi kepergian Devian dalam diam, Lalu tak lama Aiden mengambil sesuatu dalam saku jaketnya dan mengamati benda tersebut dengan seksama.


"Entah kenapa aku merasa kematian Rion tidak wajar. Saat ditempat dia terbunuh polisi menemukan setangkai bunga Lily tergeletak diatas perutnya dan kristal merah ini," Kata Aiden sambil menunjukkan bunga Lily dan kristal merah di tangannya.


Raizel agak tersentak lalu mendekatkan dirinya pada Aiden agar melihat kedua benda tersebut dengan jelas.


"Bunga lily?! Simbol dari kematian dan duka cita. Lalu kristal itu apa gunanya?" Raizel masih memperhatikan kristal di tangan Aiden.


"Apa mungkin pembunuh itu yang meninggalkan bunga nya di sana? Atau orang lain yang tidak sengaja melihat jasad Rion tapi tidak ingin menolong dan hanya memberikan bunga itu sebagai simbol berduka?" Kata Chloe sembari berpikir melihat bunga di tangan Aiden.


"Tidak mungkin! Coba pikir dengan logika. Jika orang lain melihat jasad Rion pasti sudah menghubungi polisi dan keluarga yang bersangkutan seperti tadi," Kilah Ezra sambil mendengus kecil.


"Sudahlah, Bunga itu tidak penting. Tidak ada gunanya kita berdebat siapa yang meletakkan bunga itu ditempat Rion terbunuh," Lerai Justin mendesah pelan, Ia memijit keningnya sesaat tak habis pikir kenapa para anggotanya berdebat hanya karna setangkai bunga yang bahkan tidak berguna. Justru kristal lah yang lebih menarik untuk dibahas menurutnya.


"Lalu dari kedua benda itu, Apa yang kau rasakan Aiden? Apa salah satu dari mereka adalah petunjuk?" Tanya Justin melirik kecil pada Aiden.


Aiden diam sejenak ia menatap kedua benda di tangannya, menatap dengan teliti lalu menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Aku tidak merasakan apapun dari bunga ini, Bunga ini murni bunga biasa pada umumnya. Tapi.....," Aiden kembali menatap kristal. "Aku merasakan aura yang tidak biasa dari kristal ini, Kristal berbentuk lotus ini termasuk jenis langka dan hanya ditemukan 8 kristal lotus di dunia ini,"


"Biasanya kristal lotus hanya ditemukan di dataran tinggi dengan suhu yang sangat dingin dan biasanya hanya dimiliki oleh para manusia modifikasi yang dijadikan objek percobaan dan penelitian," Jelas Aiden datar membuat seisi ruangan saling pandang dan mencoba memahami perkataan Aiden.


"Tunggu, Bagaimana dengan Laboratorium tempat kau dulu dijadikan objek percobaan? Bisa jadi masih ada beberapa objek yang selamat dari sana," Sahut Ian dan dibalas gelengan Aiden.


"Itu tidak mungkin terjadi, Kemungkinan mereka selamat sangat kecil. Aku sudah membunuh semuanya bahkan para peneliti itu, Tempat itu mungkin sudah tidak ada lagi karna aku sudah membakarnya,"


Mendengar kata membunuh dan membakar membuat Chloe merinding, Ia mengusap kedua lengannya sesaat sembari bergidik kecil. "Hei! Kenapa kau lakukan itu Aiden?"


"Karna aku BENCI mereka," Aiden menatap datar menekan kata benci untuk menunjukkan dirinya benar-benar tidak suka dengan tempat Laboratorium itu termasuk para penelitinya.


"Ah begitu ya," Chloe merenung sejenak teringat dengan mimpinya dulu yang pernah melihat masa kecilnya Aiden sebelum dijadikan objek penelitian. Sudah sewajarnya Aiden merasa dendam karna keluarganya dibunuh tepat dihadapannya sendiri.


"Untuk kasus Rion kita sudahi dulu sampai disini, Kita akan rapat lagi lain kali. Untuk bunga dan kristalnya disimpan dulu sebagai bukti," Jelas Justin sembari meranjak dari tempatnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Ezra ikut meranjak menuju kamarnya, Semuanya merasa lelah dan letih jadi satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan hingga tertinggal Aiden dan Chloe yang berada di ruang tamu. Chloe berniat ikut pergi namun suara Aiden membuatnya mengurungkan niat.


"Tetap disini! Aku ingin bicara empat mata denganmu!"


Chloe yang sudah berdiri refleks langsung kembali mendudukkan dirinya saat tatapan serius Aiden tertuju padanya. Tanpa sadar keringat dingin menetes dari pelipisnya.


"Ada apa?" Kata Chloe pelan.


"Bunga itu....,"


"Bunga? Bunga yang mana?"


"Bunga mawar biru yang kuberikan padamu, Apa kau membawanya dan masih menyimpannya?"


"Ya, Memangnya ada apa dengan bunga itu? Apa mau kau ambil kembali?"


"Iya, Aku rasa kau sudah menjaga bunga itu dengan baik. Sudah waktunya aku mengambil kembali,"


"Ah, Kalau begitu aku akan mengambilnya dulu," Chloe meranjak berniat pergi menuju kamarnya, Namun suara Aiden menghentikan langkah kakinya.


"Tidak perlu, Aku bisa mengambilnya sendiri,"


Aiden menunduk perlahan kelopak bunga mawar biru bermunculan entah datang dari mana dan berkumpul di telapak tangannya hingga membentuk setangkai mawar biru yang agak lebih besar dibanding bunga mawar pada umumnya.


Chloe mengerjap pelan setelah melihat bunga yang ia jaga sudah berada di tangan Aiden, Ia kembali duduk sembari memperhatikan apa yang akan Aiden lakukan selanjutnya.

__ADS_1


"Apa kau memakai teleportasi?"


"Ya, Selain berpindah tempat secara cepat. Aku juga bisa memindahkan benda tanpa perlu mengambil atau menyentuhnya," Jelas Aiden datar sambil menyodorkan kristal lotus dan bunga lily pada Chloe.


"Jaga kristal dan bunga ini, Aku percayakan mereka padamu,"


"Baiklah, Artinya aku tidak menjaga bunga mawar (jantung) mu lagi kan?" Chloe menerima bunga lily dan kristal lotus yang diberikan padanya.


"Iya, Kau hanya perlu menjaga kedua benda itu sampai kita menemukan bukti lainnya yang berhubungan dengan kematian Rion,"


"Aku mengerti," Chloe mengangguk kecil sembari memegangi kristal dan bunga di tangannya erat. "Kalau begitu aku duluan,"


Aiden hanya mengangguk sebagai tanggapan, Lantas Chloe segera pergi dari sana. Dia juga cukup lelah dan letih hari ini.


*************


[Kamar Chloe]


BRUK!


Chloe menghempaskan tubuhnya di kasur usai ganti pakaian, Sesaat netra birunya melirik vas bunga yang tadinya berisi mawar biru kini sekarang kosong tak berbekas.


"Ternyata memang sudah diambil ya," Gumam Chloe pelan, Ia segera meletakkan setangkai bunga lily dalam vas bunga lalu meletakkan kristal lotus berbentuk kecil itu dalam kotak kecil.


Ia kembali membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar, Perlahan kelopak matanya mulai berat dan akhirnya menutup.


***************


"Chloe...,"


Chloe mengernyit dalam tidurnya saat samar-samar suara seseorang memanggilnya terdengar.


"Chloe, Bangun!"


Kini suara itu kembali dan terdengar jelas disertai dengan tepukan pelan di pipi kirinya.


"Chloe Watson! Bangun!"


Sontak Chloe membuka kelopak matanya merasa terkejut sekaligus bingung karna seseorang memanggilnya dengan nama asli. Padahal yang tahu nama aslinya hanya Ian dan dirinya sendiri.


"Hai, Sudah lama tidak bertemu ya Chloe," Kata Holy tersenyum lebar, Sayap kecilnya mengepak senang.


"Holy?! Ini beneran kamu?!" Chloe menatap terkejut sekaligus tak percaya, Kini Holy benar-benar muncul dihadapannya.


"Yap benar sekali," Holy menjentikkan jarinya pelan lalu tersenyum senang. "Tapi sebenarnya aku bukanlah Holy, Ini hanya wujud palsuku. Sudah lama aku ingin mengatakan yang sejujurnya padamu Chloe. Namun terkadang aku merasa ragu karna kulihat kau sepertinya sudah merasa nyaman di dunia ini,"


"Hah?! Apa maksudmu Holy? Kalau kau bukan Holy lalu dimana Holy yang asli?"


Holy menghela napas ia menjejakkan kakinya diantara rerumputan. "Nama Holy itu tidak nyata, Dia tidak ada di dunia ini. Aku cuma memakai nama dan wujud palsu agar kau mau membantuku,"


Chloe tercengang tak terima selama ini ia di bohongi. "Kau berbohong padaku? Lalu siapa kau sebenarnya?"


Holy tidak menjawab ia hanya menjauh beberapa langkah lalu tak lama sinar cahaya bermunculan dan mengelilingi tubuh Holy. Perlahan tubuh Holy yang tadinya kecil seperti peri mulai besar seperti manusia pada umumnya, Tingginya pun hampir setara dengan Chloe.



(Chloe Amberly yang asli👆)


"Aku Chloe Amberly yang asli, Itu namaku sebenarnya. Chloe Amberly yang selama ini jiwa nya menghilang dan digantikan oleh jiwamu. Dalam artian sebenarnya kau hanya meminjam ragaku saja,"


"Hee...? Jadi selama ini jiwamu tinggal disini, Lalu Holy adalah Chloe Amberly dan Chloe Amberly adalah Holy. Jadi kalian adalah orang yang sama?!" Chloe merasa dirinya seakan habis tersambar petir disiang bolong, Saking terkejutnya dan tidak disangka.


"Yup benar, Bedanya Holy itu nama palsuku dan wujud peri tadi adalah palsu juga,"


"Untuk apa kau membohongiku seperti itu?! kenapa tidak jiwamu saja yang kembali ke ragamu, Kenapa harus jiwaku yang menggantikannya?!"


Holy diam sejenak ia melangkahkan kakinya menuju danau dan duduk disisinya sembari mencelupkan kakinya ke air. Chloe yang melihat Holy duduk disana segera menyusul ikut duduk sambil menunggu penjelasan dari Holy.


"Aku tidak bisa kembali lagi ke ragaku karna aku sudah mati di dunia kalian, Sekarang di sinilah aku tinggal. Lebih tenang dan damai," Holy menggoyang-goyangkan kakinya hingga membuat air dibawahnya bergelombang kecil.


"Mati? Apa karena kekerasan dari ke-5 karakter utama pria?" Tanya Chloe dengan prihatin, Ia teringat dengan alur cerita system prince charming yang diceritakan waktu itu Chloe Amberly mati karena tindak kekerasan dari ke-5 nya.


"Itu juga termasuk, Tapi lebih tepatnya aku mati karna kehabisan oksigen dan telat mendapat pertolongan dari pihak rumah sakit sehingga membuatku tidak tertolong lagi," Jelas Holy (Chloe Amberly) tenang seolah tanpa beban kemudian ia menoleh dengan senyum tipis.


"Tapi sekarang aku bahagia disini, Tidak ada yang menggangguku dan mengusikku,"

__ADS_1


"Lalu kenapa kau menarikku masuk ke dalam ragamu sebagai pengganti jiwa? Apa hubungannya denganku?"


"Saat itu aku sedang mencari penggantiku, Dan disaat bersamaan aku tidak sengaja melihatmu sedang sekarat di rumah sakit ditambah kau berharap bisa memasuki dunia otome game yang kau mainkan sebelum mati. Jadi kukabulkan saja permintaan terakhirmu itu, Lagipula kau hanya koma di dunia asli,"


"Tapi sampai kapan aku terus disini? Apakah aku bisa kembali? Terus kenapa Ian juga berada dalam dunia game ini? Jelaskan semuanya padaku!" Pinta Chloe lirih sambil memeluk kedua lututnya, Tatapannya berubah sendu teringat dengan keluarga aslinya.


Holy memandang sesaat ia mendongak menatap langit cerah di atas mereka. "Sampai misimu selesai, Aku sengaja menarik jiwamu kesini untuk meminta bantuanmu. Kau bisa kembali sampai tubuh aslimu benar-benar pulih, Masalahnya saat kau kecelakaan waktu itu tubuh aslimu terluka sangat parah Chloe, Hampir sebagian anggota tubuhmu tidak bisa digerakkan dan mengalami sedikit patah tulang dibagian lengan kiri,"


"Dan soal Ian sahabatmu itu, Aku juga sengaja menarik jiwanya masuk ke dunia ini agar bisa menemanimu selama disini. Bagaimana pun kulihat dia begitu menyedihkan saat kau koma di dunia asli, Dia terlihat terpuruk dan depresi apalagi setelah kematian kedua orang tuanya," Jelas Holy memainkan kelopak bunga di tangannya.


Chloe memilih diam sejenak menatap kosong danau dihadapan mereka. "Begitu ya, Aku tidak tahu kalau kepergianku akan membuatnya begitu terpuruk. Apalagi aku belum sempat bertemu dengan Bibi Elvi untuk yang terakhir kalinya sebelum beliau tiada,"


Holy menoleh lalu menepuk-nepuk pelan pundak Chloe memberi ketenangan pada sang gadis. "Tidak apa-apa, Dia juga sudah mengetahui semuanya tentangmu Chloe kalau kau juga berasal dari dunia asli. Selama kau berada di dekatnya dia mungkin akan merasa lebih tenang,"


"Bisa jadi kau benar, Aku mungkin tidak bisa menggantikan posisi Bibi Elvi di hidupnya tapi setidaknya aku bisa jadi pendengar dan tempat keluh kesah yang baik untuk Ian,"


"Ya, Sebagai sahabat kau sudah seharusnya mendukung dan memberinya semangat kayak gitu," Holy mengangguk setuju.


Chloe mencelupkan kakinya di air sembari menatap pantulan bayangannya sendiri. "Btw, Apa Program yang memberiku misi adalah kau juga?"


"Benar, Aku juga yang menggerakkan Program. Holy dan Program adalah aku juga Chloe Amberly yang asli. Jadi jangan heran kalau terkadang aku tidak berada disampingmu karna aku juga harus mengurus tempat ini,"


"Hooo...Seperti penjaga ya?"


"Iya, Tempat ini suci jadi aku harus menjaganya,"


Chloe manggut-manggut kecil. "Kau kupanggil Holy saja ya, Biar lebih enak didengar,"


Holy sontak menoleh dengan satu alisnya yang sedikit terangkat, Menatap heran. "Kenapa? Bukannya Holy itu nama palsuku?"


"Ya karna nama panggilan kita sama, Kan jadi terdengar aneh kalau kupanggil Chloe juga. Rasanya kayak manggil diri sendiri," Chloe mendengus pelan sambil menggoyangkan kedua kakinya pelan hingga menimbulkan gelombang air kecil.


"Oh iya benar juga, Boleh deh biar gampang,"


"Terus bantuan apa yang kau minta sampai-sampai menarik jiwaku ke ragamu?"


Holy menatap pantulan dirinya dari atas danau lalu berdiri dan melangkah menelusuri sisi danau sembari memegang setangkai bunga anyelir di tangannya. Chloe lantas mengikuti langkah Holy menjajarkan dirinya sambil menunggu penjelasan.


"Aku ingin kau mencari keluarga kandungku, Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu mereka. Sampai sekarang pun aku masih penasaran seperti apa rupa mereka sekarang meski aku sudah tiada. Tapi setidaknya bertemu dengan mereka saja sudah cukup bagiku yang penting aku cuma ingin bertemu mereka untuk yang terakhir kalinya,"


Sekilas netra merah Chloe melihat senyum getir terukir di bibir Holy, Chloe tahu betul rasanya meninggalkan orang-orang yang disayangi. Holy sama seperti dirinya.


"Aku sedang berusaha mencari keluarga kandungmu, Hanya kalung dan foto-foto saat kau kecil saja yang menjadi petunjuk, Itu pun saat kudatangi panti asuhan tempat kau ditemukan. Kata orang-orang sekitar sana panti asuhan itu sudah lama kosong dan tidak ada yang tahu kemana mereka pindah. Rasanya kau ikut denganku juga saat itu,"


Ekspresi Holy berubah murung. "Iya aku juga mendengarnya, Padahal aku berharap mereka mempunyai informasi soal keluarga kandungku. Andai aku masih ingat rupa wajah keluargaku saat itu, Mungkin kau tidak akan kesulitan mencari mereka,"


"Bagaimana dengan marganya? Apa kau masih ingat?"


"Tidak, Yang kutahu marga keluarga kandungku berawalan huruf 'M' sesuai simbol di kalung itu,"


"Astaga, Bagaimana mau ketemu kalau tidak ada petunjuk lagi selain kalung dan foto-foto itu," Chloe memijit keningnya sesaat merasa pusing dengan permintaan Holy, Ia menghembuskan napas pelan.


"Begini saja, Aku akan mencari mereka semampuku. Selain itu akan kucari dalang di balik di kelompok mafia yang meresahkan masyarakat sekitar,"


"Oke, Selalu berhati-hati dengan kelompok mafia itu. Selain itu sepertinya aku tidak bisa lagi membantumu dari luar dengan wujud peri. Aku hanya bisa membantumu dari sini, Tapi tenang saja semua mode yang kau dapatkan dan pedang itu bisa kau gunakan sekarang meski aku tidak berada disana,"


"Eh? Jadi bisa kugunakan meski kau tidak ada sekarang?"


"Iya, Dan jika butuh bantuanku panggil saja namaku,"


"Baiklah,"


Sejenak terjadi keheningan diantara mereka, Keduanya sama-sama memandang danau dalam diam membiarkan semilir angin menerbangkan dedaunan sekitar mereka.


"Disaat pertama kali aku berada di dunia ini, Kenapa kau memberikanku misi buatlah ke-5 karakter utama pria jatuh cinta padaku? Padahal ujung-ujungnya gagal juga,"


"Aku cuma mengujimu, Misi pertama cuma ujian. Aku hanya ingin tahu kau tahan dengan ancaman mereka atau tidak, Dan bisa membuat mereka percaya padamu atau tidak. Tapi kurasa sejauh yang kulihat kau berhasil menjalin perteman dengan mereka, Bahkan dengan Ezra yang sangat membencimu sejak awal kau masuk Asrama,"


Chloe menatap heran. "Bukannya Pak Ezra memang masih benci padaku sampai sekarang,"


Holy mengulum senyum ia melangkahkan kakinya menelusuri jalan taman. "Semua akan berubah pada waktunya, Tidak selamanya seseorang itu akan membenci orang lain terus menerus. Kebaikan dibalas dengan kebaikan,"


Beberapa saat Chloe terdiam ia menjajarkan langkahnya dengan langkah Holy, Tak terasa langkah mereka berhenti di sebuah hutan lebat dan rimbun. Chloe mendongak pelan menatap hutan dihadapan mereka.


"Kupikir masih banyak yang harus kulakukan disini," Pikir Chloe masih menatap hutan tersebut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2