System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Dijebak


__ADS_3

[Disisi lain, Cafetaria Universitas Souland]


Banyak hal yang terjadi belakangan ini, Hal itu pula yang membuat Ian kepikiran. Belum lagi masalah kematian Felix dan Rion yang masih misteri, Ia tidak yakin namun sejujurnya ia mulai mencurigai salah satu anggota Asrama.


"Apa jangan-jangan ada yang berhianat diantara kami? Dari kesaksian Finnian sahabat dekat Felix yang Chloe ceritakan, Dia bilang mereka diserang sosok misterius. Gerakannya sangat cepat dan memiliki kekuatan rantai yang bisa dikendalikan," Ian menyeruput teh miliknya sambil mencatat informasi yang ia dapatkan dari Finnian melalui Chloe sebagai perantara.


"Diantara semua anggota Asrama setahuku hanya Aiden yang memiliki teleportasi dan kekuatan semacam itu, Tapi aku tidak pernah melihatnya mengendalikan rantai sebagai senjata. Mungkinkah memang Aiden?" Pemuda bernetra merah itu terdiam sejenak, Hiruk pikuk orang-orang disekitar tak ia hiraukan selama mereka tak mengganggunya.


"Rasanya tidak mungkin, Jika dia melakukan itu gunanya untuk apa? Setahuku dia hanya dendam pada para ilmuan dan organisani yang membuatnya menjadi setengah mutan, Jadi kurasa tidak ada hubungannya dengan kematian Felix dan Rion,"


Ian mencoret daftar nama Aiden dari buku catatannya, Kemudian netra merah itu memandang nama lainnya di bawah nama Aiden.


"Ezra Miracle, Aku tidak tahu banyak tentang dia. Yang kutahu dari awal bertemu dia sahabat dekat Justin, Sering nempel kayak prangko ke Justin, Mudah emosi. Hmm...Kepribadiannya sangat buruk sekali, Malas rasanya kalau harus membahas anggota yang satu ini," Ian mencoba mengingat latar belakang Ezra. Meskipun diri tak berniat mengingatnya.


"Seingatku Justin pernah cerita kalau Ezra adalah anak dari pelayan pribadinya sewaktu kecil, Awal bertemu Ezra terlihat seperti anak broken home, Penyendiri, Dan Justin bilang Ezra pernah dipaksa jadi pelayan juga oleh orang tuanya untuk dijadikan sebagai pelayan pribadi Justin,"


"Jadi mereka bisa cepat akrab karna seumuran meski lebih tua Ezra setahun dibanding Justin, Dan kebetulan mereka punya hobi yang sama yaitu bermain skateboard. Jika dipikir-pikir masa lalu Ezra tidak ada hubungannya dengan masalah ini, Dia hanya anak broken home dan penyendiri. Pas gede nya jadi kayak singa, gampang emosian. Skip aja,"


Ian kembali menyeruput teh, Sembari menatap nama selanjutnya.


"Justin Garfield, Kurasa tidak ada yang mencurigakan darinya. Jika dia melakukan itu dengan cara membunuh anggota sendiri, Lalu untuk apa dia repot-repot membangun Asrama Black Shadow dan mengumpulkan semua anggota? Membuang-buang waktu," Ian mendengus kecil menatap nama selanjutnya dari daftar catatan sembari mencoret nama Justin.


"Chloe Watson," Ian terdiam beberapa detik, Alisnya langsung mengerut tampak berpikir. "Polos sama bego beda tipis, Jangankan pegang pistol, lihat darah aja dia langsung mual. Mana mungkin anak yang gak tau tentang hal-hal berbau kriminal bisa membunuh seseorang apalagi jika yang dibunuh Felix dan Rion. Kakak angkat dan temannya sendiri, Meski kutahu dia memiliki kekuatan teleportasi hasil dari pemberian Jiwa asli Chloe Amberly,"


"Aku yakin dia tidak akan melakukan tindak kriminal seperti itu, Aku sangat mengenalnya di dunia asli, Dia memang sering terkena masalah dan sering dipanggil ke ruang BK tapi dia tidak pernah berniat membunuh siapapun, Jadi kurasa tidak ada hubungannya,"


Sang pemuda kembali mencoret nama yang tertera disana lalu memandang list nama terakhir dalam buku catatannya.


"Devian Orlindo, Dari awal masuk asrama dia yang paling sering bermasalah entah di sekolah maupun di asrama, Aku tahu dia juga ketua geng Black Devil. Dia pernah bilang bahwa dia bukan orang jahat maupun orang baik, Bisa jadi ada kemungkinan dia berhianat di asrama dan sifat sok akrabnya hanya topeng belaka untuk mengelabui kami,"


Jarinya mengetuk-ngetuk meja kantin untuk menghilangkan rasa bosan. "Itu hanya dugaan sementara, Yang terpenting aku harus tetap waspada mengawasinya untuk mendapatkan info lebih dalam,"


Ian menyimpan buku catatannya dalam ransel, Masih banyak yang belum ia ketahui tentang Devian karna sosok Devian sangat tertutup dan misterius menurutnya.


Sang pemuda menghabiskan tehnya dan berniat pergi dari sana, Baru dua langkah ia sudah mendapat rangkulan dari seseorang secara tiba-tiba.


"Hei, Ian. Nongkrong yuk,"


"Ck! Kau terlambat. Aku sudah ingin pulang," Ian berdecih sinis sembari melepaskan rangkulan di pundaknya.


"Cuma sebentar doang kok, Lagipula kau lagi gak buru-buru kan. Revan juga sebentar lagi nyusul," Al sang pelaku perangkul kembali mendudukkan Ian di kursinya.


Sedangkan Ian hanya mengernyit kesal, Pasrah dengan permintaan Al. Tak berselang lama Revan pun datang sambil membawa dua kaleng soda dan meletakkannya di hadapan Al.


"Nunggu lama?" Revan duduk berhadapan dengan Ian.


"Enggak, Aku juga baru dateng," Al cecengesan sembari meminum soda bagiannya.


"Untuk apa kalian mengajakku?" Tanya Ian dingin.


"Santai saja, Kau seperti tidak pernah ngumpul-ngumpul kayak gini," Balas Revan tak kalah dingin.


Al yang menyimak obrolan itu melirik antara Ian dan Revan, Sambil menyeruput soda miliknya.


"Hm...Beginilah kalau es batu ketemu es batu. Bisa-bisa aku ikut-ikutan dingin kayak mereka," Pikir Al bergidik pelan.


"Langsung intinya saja," Al membuka suaranya untuk mencairkan suasana yang menurutnya agak dingin. Ia mengalihkan pandangannya pada Ian. "Ian, Diantara kita berempat hanya kau yang dekat dengan Raizel Setahuku. Jadi apa kau tahu dia dimana?"


"Tidak juga, Aku hanya bicara padanya jika perlu saja," Ian mengidikkan pundaknya acuh sembari mengalihkan pandangan. "Kudengar dia pergi ke paris untuk membantu ibunya mengelola perusahaan mendiang ayahnya disana,"


"Benarkah? Kenapa dia tidak bilang pada Pak Willy lebih dulu? Masa langsung Pergi begitu saja?!" Al mengerutkan keningnya kurang percaya dengan kata-kata Ian.


"Mana kutahu, Tanya saja sendiri padanya,"


"Kami sudah berulang kali menghubunginya tapi nomornya tidak aktif bahkan Pak Willy juga sudah berusaha menghubungi Raizel," Jelas Al menggeleng pelan.


"Dari mana kau tahu dia pergi ke paris?" Revan bersidekap sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Dia memang tidak bicara secara langsung tapi dia meninggalkan surat untukku (Kami),"


"Aneh sekali, Seharusnya orang yang pertama tahu tentang hal ini adalah Pak Manejer. Ian, Kau yakin dia hanya memberitahu hal itu? Tidak ada hal lain lagi?" Tanya Al heran.


"Ya, Hanya itu. Tidak ada tambahan lagi. Dia mungkin buru-buru sehingga tidak sempat menyampaikan kepergiannya pada Pak Manajer,"


"Aku masih belum yakin, Tapi aku tidak ingin obrolan ini terus berlanjut," Revan menghabiskan sodanya dan membuang sisa kaleng ke tempat sampah tak jauh dari posisi mereka.


"Positif thingking saja jika Raizel memang benar-benar ke paris, Mungkin hanya beberapa bulan dia disana nanti balik lagi kok," Balas Al tenang ikut menghabiskan sodanya.

__ADS_1


"Aku akan pergi sekarang, Hari ini aku tidak latihan dulu," Ian meranjak dari duduknya bersiap untuk pergi dari sana.


"Well, Memang hari ini tidak latihan," Revan menggidikkan pundaknya acuh.


"Hati-hati dijalan Ian," Sahut Al dengan senyum tipis.


"Hm..."


Tap! Tap! Tap!


Ian berjalan pergi dari sana meninggalkan teman-temannya dan area kantin. Ia menuju parkiran khusus mobil dimana parkiran itu berjarak agak jauh dari kantin.


Blam!


Ian meletakkan ranselnya di jok belakang dan mulai menyalakan mesin mobil, Setelahnya mobil perlahan mulai melaju meninggalkan area kampus.


************


Ditengah keramaian kota sore hari banyak para pengendara hilir mudik disepanjang jalan. Termasuk Ian yang masih dalam perjalanan pulang, Sesaat netra merahnya melirik beberapa toko perbelanjaan yang ia lewati.


Tak lama ia menepikan mobilnya tepat di depan sebuah toko, Ian bergegas keluar dari mobil dan memasuki dalam toko. Tidak sampai setengah jam Ian kembali masuk kedalam mobil sambil meletakkan sekantong bahan makanan.


Sejenak ia membaca sebuah pesan yang tertera di ponselnya.


From: Aiden


To: Ian


Tolong belikan beberapa sayur, daging segar, dan cemilan. Persediaan kita hampir habis.


"Kurasa ini sudah cukup," Ian melirik sesaat sekantong bahan makanan yang barusan dibelinya.


Mesin mobil kembali menyala bersiap untuk pergi dari sana, Namun entah secara kebetulan atau tak sengaja, Ian melihat sosok pemuda yang dikenalnya sedang memasuki toko perbelanjaan. Dan tak lama sosok pemuda itu kembali keluar menuju sebuah motor yang terparkir tak jauh dari toko.


Ian mengerutkan alisnya. "Devian? Apa yang dia lakukan diluar sore-sore begini?"


Ian memutuskan untuk mengikuti motor Devian yang sudah melaju memasuki jalan raya, Sesuai dengan misinya tadi untuk terus mengawasi tindakkan Devian yang mencurigakan menurutnya.


*****************


Ian terus mengikuti motor Devian sepanjang perjalanan hingga motor Devian berbelok memasuki sebuah gang sepi, Untungnya gang itu masih muat dimasuki satu mobil dan gak sempit-sempit amat.


Devian memasuki rumah tersebut hingga tak terlihat lagi dari pandangan Ian. Sementara Ian masih berada dalam mobil dan ia mulai mengutak-atik jam arlojinya untuk mengakses pesan pribadi langsung pada Aiden.


From: Ian


To: Aiden


...Aiden, Aku bertemu dengan Devian tapi dia tidak tahu kalau aku mengawasi dan mengikutinya. Dia pergi ke sebuah rumah kosong dan masuk kedalamnya. Aku curiga dia melakukan sesuatu disana tanpa sepengetahuan kita. Apakah aku harus ikut masuk ke rumah itu?...


Tak lupa Ian juga mengirimkan lokasi dimana ia berada sekarang, Dengan begitu jika anggota lain mencarinya mereka bisa menemukan lokasinya dengan mudah.


From: Aiden


To: Ian


...Perlukah kau bertanya tentang itu padaku? Apa kau tidak ingat dengan yang terjadi pada Felix dan Rion. Apapun yang dilakukan Devian jangan ikut campur urusannya, Jika kau ingin selamat maka pulanglah dan kita akan diskusi tentang ini dengan anggota lain....


Setelahnya Ian diam beberapa detik dia tidak membalas pesan Aiden lagi, Tapi tatapannya terfokus pada rumah kosong yang dimasuki Devian. Ia menghembuskan napas sejenak.


"Baiklah, Aku pulang saja,"


Mesin mobil terdengar menyala dan Ian berniat memundurkan mobilnya, Tapi sebelum itu terjadi tiba-tiba puluhan rantai yang entah datang dari mana bergerak dan menahan seluruh tubuh mobil hingga Ian tidak bisa menjalankan mobilnya.


Wuuuusshhh!


"Huh?! Mobilnya tidak bisa dijalankan,"


Berulang kali Ian mencoba menekan pedal gas namun mobil nya tetap tidak bisa dijalankan hanya mesinnya saja yang menyala.


Suara tanpa wujud tiba-tiba saja terdengar entah berasal dari mana.


"Wah wah wah, Lihat ini. Seekor tikus kecil sedang terjebak disini,"


Deg!


Netra merahnya membulat sesaat di saat bersamaan semua kaca mobilnya pecah secara tiba-tiba berterbangan tak tentu arah.

__ADS_1


PPRRAANNGG!


Refleks Ian menunduk sembari memejamkan mata, Lengan dan pipinya tergores terkena pecahan kaca. Setelah kejadian itu sang pemuda bergegas membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana.


Blam!


Napas sang pemuda terlihat memburu melihat mobilnya terikat dengan banyak rantai yang entah berasal dari mana, Sisi-sisi mobilnya pun memiliki banyak goresan dengan kaca yang pecah.


"Keterlaluan! Jangan sembunyi kau!" Teriak Ian marah memandangi sekitarnya yang sunyi.


Wuusshhh!


Beberapa rantai bermunculan menyerang Ian dari belakang, Ian menyadari hal itu langsung menghindar.


sesaat ia meraba-raba saku pakaiannya seolah sedang mencari sesuatu.


"Sial! Aku lupa membawa pistol,"


Tap!


Sosok pria bertopeng meloncat turun dari sebuah tembok beton dan berdiri dihadapan Ian, Ian yang tak memiliki senjata apapun hanya menggunakan sikap kuda-kudanya dengan waspada.


Sejenak Ian teringat dengan perkataan Finnian yang mengatakan bahwa mereka diserang sosok misterius bertopeng dengan rantai yang bisa dikendalikan.


"Mungkinkah orang ini yang dimaksud teman Felix waktu itu? Dia bisa mengendalikan rantai artinya dia yang membunuh Felix dan Rion," Pikir Ian menatap tajam sosok di depannya.


"Hm...Sepertinya kau salah jalan tuan, Ini gang buntu. Untuk apa kau masuk kesini? Oh atau jangan-jangan kau mengikuti salah satu anggota kami?"


Sosok itu tersenyum sinis dari balik topengnya, Dalam sekejap rantai-rantai yang mengikat mobil Ian menghilang.


"Anggotanya? Masa sih Devian benar-benar menghianati kami?" Kedua tangan Ian terkepal, Merasa tak terima mereka ditipu oleh Devian.


"Kau pasti orang yang membunuh Felix dan Rion!" Tukas Ian tajam.


"Felix? Rion? Oh mereka berdua ya," Sosok misterius itu terkekeh pelan teringat dengan nama-nama korbannya. "Kalau begitu kau teman mereka berdua kan? Kebetulan sekali, Bos ku ingin bertemu denganmu. Kali ini aku takkan membunuh,"


Dengan gerakan cepat sosok itu menyerang Ian, Kali ini ia menggunakan pipa besi sebagai senjatanya.


Sebisa mungkin Ian hanya menghindar, Dia tak punya waktu untuk menghubungi Aiden. Serangan sosok itu sangat cepat membuat Ian tak punya banyak waktu.


"Gerakanmu mudah ditebak,"


"Apa...?"


BUAK!


Ian refleks mundur saat merasakan rasa ngilu di pipi kanannya, Sejenak ia mengusap pipinya. Dan sosok misterius itu kembali menyerang dengan menggerakkan rantai-rantainya.


Wuuussshh!


GREP!


"Huh?!"


Ian menghindar sesaat dan dia berhasil menahan serangan rantai yang hampir mengenainya, Sang pemuda langsung menarik rantai tersebut dari sosok misterius itu.


"Akh...punggungku..." Sosok Misterius itu tampak menahan sakit, Dan berusaha keras menarik rantainya kembali dari tahanan Ian.


"Aku paham sekarang, Kelemahannya ada di rantai ini. Rantai ini terhubung dengan punggungnya. Aku harus melepaskan rantainya,"


Sosok tersebut menggeram marah, Dia menggerakkan rantai lainnya untuk menyerang Ian.


"Fire!"


Dalam sekejap Ian merasakan panas yang luar biasa dari rantai yang dipegangnya, Seakan tangannya ingin melepuh akibat panas dari rantai tersebut. Sontak sang pemuda melepaskan rantai tersebut dan meniup-niup tangannya.


"Rantainya panas sekali!"


Tak membuang-buang kesempatan sosok tersebut menyerigai di balik topengnya. Rantai-rantainya pun melaju menuju Ian.


"Mimpi indah Ian Maxwell!"


"Hah?!" Ian mendongak dengan netra merahnya yang membulat terkejut.


Wuuusshhh!


Brraaakk!

__ADS_1


TBC


__ADS_2