
"CHLOE!"
Ray memanggil nama adiknya dengan panik, Takut adiknya terluka. Dia melangkah berniat menuju pertarungan itu, Namun langsung ditahan oleh Xavier dan Vallen.
"Kak, Jangan kesana! Bahaya," Seru Xavier menahan tubuh Ray yang memberontak.
"Lepaskan! Aku harus membantu Chloe!"
"Tidak bisa! Kau yang juga akan mati kalau ikut campur!" Balas Vallen sambil menggeleng.
"Enggak! Adikku..." Ray menatap nanar Chloe yang berusaha mengalahkan Liam.
Disisi Ezra dan Chloe, Ezra menggerakkan tangannya memunculkan beberapa sulur mawar dari bawah tanah. Menahan pergerakan Liam dengan sulur itu, Namun tampaknya hal itu tidak mempan terhadap Liam. Dia memotong sulur-sulur itu dengan cakarnya berkali-kali.
Vivian yang sudah menyembuhkan lukanya sendiri setelah tangannya terpotong langsung menyerang Chloe, Meski kini dia hanya bisa memakai satu tangan sekarang.
"Meski tangannya terpotong, Dia masih bisa bertahan hidup?! inikah kemampuan Holy yang sebenarnya?" Pikir Chloe terkejut, Baru mengetahui fakta bahwa kekuatan Holy bisa membuat pemiliknya bertahan hidup.
TRANG! TRANG! TRANG!
Chloe tidak sengaja melihat Ezra yang sudah hampir kewalahan, Pria itu sekarang hanya bisa menangkis dan menahan serangan Liam dengan sulur mawarnya.
CCRRAASS!
Chloe tersentak kaget saat merasakan rasa perih di pundaknya, Kini luka sebelumnya kembali terbuka. Gadis itu sontak mundur, Dan Ray yang terus meneriaki nama Chloe untuk segera pergi dari sana.
"Saat masih ada lawan di depanmu, Jangan lengah," Vivian menyerigai.
DOR! DOR!
Peluru kembali meluncur tapi kali ini Vivian menangkisnya dengan mudah, Dia menatap tajam Xavier dan Vallen yang menembakkan peluru padanya. "Kalian benar-benar pengacau!"
DRAK!
WUUSSHH!
"Ukh! Hentikan!...," Chloe memegangi pundaknya saat sebuah kurungan cahaya muncul dari bawah tanah dan mengurung para Michelle dan Maximillian family.
Eli memegangi lengan Ray saat tanah yang dipijaki mereka bergetar, Semuanya panik saat kurungan kaca itu muncul. Mengurung mereka semua didalamnya tanpa bisa keluar.
"Nah, Sekarang tidak ada pengganggu lagi," Vivian tersenyum penuh kemenangan.
"Arrgghh! Menyebalkan!" Alex menendang-nendang kurungan kaca itu, Mencoba memecahkannya. Namun usahanya sia-sia, Tidak ada yang retak satu pun dari hasil tendangannya. Bahkan Xavier menembakkan peluru beberapa kali ke kurungan kaca itu tapi tetap tidak berhasil.
"Bagaimana caranya kita keluar?" Kata Leo usai menendang kacanya.
"Kita hanya bisa menunggu hingga pertarungan mereka selesai, Berharap saja Chloe dan Ezra menang," Eli menatap cemas adik iparnya dari kejauhan, Merasa khawatir dengan keadaan Chloe.
Mereka hanya bisa pasrah, Tidak bisa membantu apapun untuk menolong Ezra dan Chloe selain berharap agar keduanya menang pertarungan.
Disisi Ezra, Dengan tenaga yang masih tersisa, Ezra menembakkan pisatolnya pada Liam. Pelurunya berhasil mengenai pria itu, Tapi tidak membuat nya terluka sedikit pun. Liam hanya menatap datar peluru yang menancap di pundaknya.
"Tidak sakit sedikit pun, Apa pistol itu pistol asli?" Kata Liam datar.
"Tentu saja asli!" Ezra menatap nyalang, Menusukkan pipa runcing di tangannya ke jantung Liam.
BRUK!
CCRAASS!
Liam mengayunkan senjatanya, Tidak kali ini dia tidak menahan serangan Ezra melainkan langsung menusukkan senjatanya di pundak Pria itu. Sedangkan Ezra juga berhasil menusukkan pipa runcingnya di jantung Liam. Keduanya sama-sama memuntahkan darah segar dari mulut mereka. Disusul tubuh Ezra yang ambruk, sedangkan Liam masih berdiri meski kini napasnya tidak beraturan. Dia mengusap bibirnya yang berdarah.
Chloe yang melihat tubuh Ezra ambruk, Membuat napasnya menjadi sesak. Hatinya seperti hancur berkeping-keping. Tidak! Chloe tak bisa membiarkan keluarga angkatnya yang tersisa meninggalkannya. Gadis itu mencengkeram erat pedang ditangannya, Menyalurkan rasa amarah.
"Oh, Sepertinya temanmu itu hampir kalah," Vivian tersenyum miring, Chloe menggerakkan pedangnya, Kini netra biru sebiru samudra itu menajam.
"Tidak akan kubiarkan kalian lolos lagi!" Chloe mengambil sebuah benda di dari balik saku jaketnya, Sebuah crystal berbentuk bunga lotus. Dia baru mengingat kegunaan benda itu.
SYYAATT!
"LIAM!"
Merasakan kehadiran seseorang didekatnya, Liam refleks mengayunkan cakar disaat bersamaan Chloe menebaskan pedangnya ke lengan Liam. Membuat kedua lengan pria itu terpotong.
"Jadi begitu rencanamu," Liam menatap datar, Dia menggerakkan rantai-rantai di sekitarnya sebagai pengganti tangan. Selagi Liam bertarung dengan Chloe, Vivian menyembuhkan dirinya sendiri. Mencoba memasang lengannya yang terpotong.
TRING!
Sang Gadis menunjukkan crystal itu setelah menangkis serangan Liam. "Apa kau ingat crystal ini?"
Sejenak Liam terdiam membeku begitu pun dengan Vivian yang termangu memandang crystal di tangan Chloe.
Liam menyentuh dadanya yang terluka tepat di jantung habis mendapat tusukan dari Ezra, Dia ingat betul kegunaan crystal yang saat ini di pegang oleh Chloe. Crystal itu adalah separuh jiwanya dan sumber kekuatannya. Selama ini dia tidak menyadari kalau benda sepenting itu hilang dari genggamannya.
"Kembalikan! Atau kau akan menyesal," Rantai-rantai di belakang Liam kini semakin banyak, Dan disertai panas yang menyengat dari rantai-rantai itu.
Chloe diam tak bergeming, Tak lama Chloe langsung melempar crystal itu ke udaranya. Sang gadis melompat sedangkan Liam berusaha meraih crystal dengan rantainya.
WUUSSHH!
PRANG!
CRASS!
"LIAM!"
Vivian sontak berdiri menatap tak percaya kejadian yang begitu cepat di depannya. Liam tampak diam mematung, Crystal itu sudah hancur berkeping-keping. Disana juga terlihat Ezra yang entah sejak kapan bangun, Menusukkan pipa runcing yang tersisa di tengkuk Liam. Kini tubuh Liam dipenuhi genangan darah sebelum ambruk, Terlebih Ezra menembakkan pelurunya yang seketika membuat kepala Liam hancur.
Ivy bergidik ngeri sekaligus menutup matanya tak ingin melihat adegan berdarah itu, Dan Alex yang tampak menatap kagum Ezra dengan netra berbinar-binar.
"Ezra keren, Aku tidak menyangka dia secepat itu dalam bertindak," kata Alex.
"Chloe, Kakak harap kau menang," Gumam Ray sedih yang hanya bisa ditenangkan oleh Eli.
Liam kalah, Kini pandangan Chloe beralih menatap Vivian yang marah besar. Wanita bernetra merah itu menerjang Chloe dengan pedangnya, membuat Chloe terseret oleh Vivian.
BRUK!
TRANG!
"Kita akhiri disini!" teriak Vivian.
CCRRAASS!
Chloe menarik napas dalam-dalam, Sayatan demi sayatan terus dia terima. Tubuhnya penuh luka, Dan Vivian tidak peduli lagi.
"Flame!"
__ADS_1
WWUUSSHH!
TRANG!
Sulur-sulur tanaman Chloe ditebas oleh Vivian dengan mudah, Kini Chloe merasa lelah menghadapi Vivian yang terus menyerangnya. Bukan hanya serangan bertubi-tubi, Vivian juga melancarkan tendangan tepat mengenai dagu Chloe hingga membuat gadis itu terpental. Mendadak tubuhnya seakan mati rasa, Dan Chloe hampir kesulitan bernapas.
TAP! TAP! TAP!
"Bagaimana racunnya, Kau merasakannya?" Vivian tertawa evil, Menatap Chloe yang terduduk di bawah kakinya.
"K-Kau melakukannya lagi seperti terakhir kali kita bertarung," Kata Chloe dengan napas tersegal-segal, Dia berusaha menghirup udara dengan rakus.
"Heh? Inilah yang kuinginkan untuk terakhir kalinya kita bertemu. Pergilah ke alam baka Chloe Watson!"
Vivian menghunuskan pedangnya, Chloe hanya bisa memejamkan mata pasrah. Sudahlah, Mungkin memang begini akhirnya. Dia menyerah.
JLEB!
Tapi mengapa rasanya dia tidak merasakan sakit apapun? Sang gadis membuka matanya perlahan merasakan pelukan yang hangat di tubuhnya, Tubuhnya gemetar saat menyadari sosok yang memeluknya saat ini. Tangan Chloe mencengkeram pakaian Ezra, Bulir-bulir air mata menuruni pipinya.
Ezra terbatuk beberapa saat, Dia memeluk erat Chloe ketika merasakan pedang Vivian menembus dadanya. Mulutnya kini di penuhi darah yang dia muntahkan, berbisik pelan tepat disamping kuping Chloe meski kini Chloe menangis dalam diam.
"K-Kau jangan pasrah dulu, Masih ada kesempatan. Kau tidak sendiri tengil," Bisik Ezra, Dia melepas pelukannya setelah Vivian mencabut pedang dari punggungnya.
Chloe hanya diam, Ia perlahan membaringkan tubuh Ezra ke tanah. Membiarkan pria itu beristirahat. Netra birunya menatap Vivian dengan pandangan yang sulit diartikan. Menggenggam pedangnya erat lalu berdiri.
"Kau selamat lagi, Sungguh beruntung ya memiliki orang-orang yang rela berkorban untukmu," Vivian tersenyum mengejek.
"Ya, Dan kini kau selanjutnya," Netra Chloe berkilat marah, Dia berlari menyerang Vivian.
WWUUSSHH!
TRANG! DOR!
Kini Chloe juga memakai pistolnya, Dua tembakan berhasil mengenai kaki dan lengan Vivian. Tapi Vivian tidak peduli, Mereka bertarung dengan sengit hingga keduanya sama-sama kewalahan. Mereka berhenti untuk menghirup udara sejenak, Saling berhadapan dengan pedang di tangan masing-masing. Kemudian mereka saling menyerang kembali satu sama lain, Sama-sama mengerahkan seluruh kekuatan terakhir.
"HIIYYAAH!"
"HIIYYAAH!"
TRANG!
CRASS!
CRASS!
kini keduanya saling memunggungi, Berhenti ditempat masing-masing tanpa ada satu pun yang berbalik. Sejenak Vivian menunduk menatap dadanya yang bolong, Menyadari jantungnya sudah tidak ada lagi disana. Sebelum kemudian tubuhnya ambruk menghantam tanah dan tidak bernapas lagi.
Sedangkan Chloe diam sesaat sebelum memuntahkan darah segar dari mulutnya, Dia terbatuk-batuk saat tubuhnya semakin mati rasa dan sulit digerakkan. Kini jantung Holy kembali ketangannya, Tapi tidak berdetak lagi. Chloe memutuskan menusuk dan menghancurkan jantung itu dengan pedangnya hingga hancur lebur.
PRANG!
Kurungan kaca yang mengurung Michelle dan Maximillian family seketika pecah berkeping-keping, Mereka lantas bergegas keluar dari sana. Ray dan Eli menghampiri Chloe yang terbaring di tanah, Sedangkan Alex menghampiri Ezra.
"Chloe, Kamu dengar kakak?" Kata Ray memangku kepala Chloe, Dia berusaha agar tidak menangis saat ini juga. "Bertahanlah! Ambulan akan segera datang,"
"He-Hentikan kak Ray, Kau dengar sendiri kan tadi. Aku bukan adikmu melainkan Chloe Watson," Kata Chloe terbata-bata.
"Gak! Mau kamu Chloe Watson, Chloe Amberly, Atau Chloe Maximillian kakak gak peduli! Kamu tetap adik kakak!"
"Hah~, Jangan menepis kenyataan kak, Chloe Amberly yang asli sudah mati dan aku hanya sebagai penggantinya. Dia ingin ketemu kakak untuk terakhir kali," Chloe menghembuskan napas kecil, tersenyum lembut meski dirinya sempat batuk.
Disisi lain, Kenzo berusaha menghubungi pihak ambulan agar datang secepatnya.
"Dimana ambulannya, Kenapa lama sekali?!" Ucap Leon kesal.
"Aku sedang berusaha menghubungi mereka sekarang! Tenanglah!" Balas Kenzo, Dia terus menunggu telponnya tersambung ke pihak ambulan.
Vallen juga menghubungi pihak kepolisian termasuk rekan polisinya yang lain.
Chloe melihat Michelle dan Maximillian yang tampak panik dan cemas, Gadis itu hanya bisa tersenyum lemah. Dalam situasi begini dirinya tidak bisa apa-apa selain hanya bisa menunggu nasib selanjutnya.
Dia memaksakan tubuhnya bergerak, Bangun dari pangkuan Ray. Meski sebagian tubuhnya seperti merasa hancur, Gadis itu tetap melangkah tertatih menghampiri Ezra yang terbaring lemah dengan Alex yang memangku kepalanya.
"Chloe? Mau kemana kau?!" Eli sontak berdiri, Melihat Chloe yang hampir jatuh dia lantas memegangi lengan si gadis, Luka sayatan terlihat sangat jelas di seluruh tubuh Chloe.
"Pak Ezra...," Gumam Chloe lirih, Memandangi tubuh Ezra.
Eli mengikuti arah pandang Chloe, Dia mengangguk paham. "Biar kubantu berjalan,"
Chloe hanya mengangguk lemah, Dengan bantuan Eli yang memapahnya. Gadis itu menghampiri Ezra.
Sesampainya di dekat si pria, Chloe bersimpuh di samping Alex. Menyadari kehadiran Chloe, Alex memindahkan kepala Ezra dengan hati-hati kepangkuan Chloe, Sang gadis lantas menempelkan telapak tangannya ke pipi Ezra.
"Pak Ezra, Aku disini. Kau masih bisa mendengarkanku?" Tanya lembut.
Ezra membuka matanya, Mempertemukan netra hijau emerland miliknya dengan netra sebiru samudra milik Chloe. Dengan tangan gemetar, Ezra memegang tangan Chloe yang menempel di pipinya.
"Tanganmu masih hangat ya, Rasanya sudah lama tidak begini sejak terakhir kali aku memegang tanganmu," Ezra tersenyum tipis, Dia mencium sesaat punggung tangan Chloe yang terdapat cincin lamaran.
Alex dan Eli memilih sedikit menjauh agar bisa memberikan privasi untuk Ezra dan Chloe.
"Ya, Aku senang sekarang kita bisa menepati janji kita dulu pak Ezra," Chloe tersenyum lembut, Meski bibirnya memucat dan tampak jejak sisa-sisa darah dimulutnya karna sempat muntah darah.
"Aku juga. Lalu bagaimana dengan Liam dan Vivian? Apa mereka benar-benar sudah mati?"
"Iya, Kita berhasil pak Ezra. Kita berhasil menyelesaikan misi kita," Chloe memeluk tubuh Ezra lembut.
"Syukurlah, Sekarang akhirnya aku bisa pergi dengan tenang,"
"Bapak tidak pergi sendiri, Aku akan menemani bapak. Sampai kapan pun, Selamanya tidak akan pernah meninggalkan bapak,"
Ezra hanya tersenyum, Tak lama Chloe merogoh saku jaketnya. Memperlihatkan cincin bunga yang dia dapat dari seekor angsa.
"Pak, Karna pak Ezra belum punya cincin nikah. Sebagai ganti sementara, Aku kasih cincin bunga ini ya?"
"Iya, Apapun gantinya aku tetap senang selama kau yang memberi,"
Chloe memasangkan cincin bunga itu di jari Ezra. Cincin bunganya pas sekali. Usai memasangkan cincin sang gadis menempelkan telapak tangan Ezra ke pipinya sendiri, Dia tidak ingin berpisah begitu cepat.
"Chloe...,"
"Ya?"
Sudut bibir Ezra tertarik membentuk senyum manis yang pertama kali Chloe lihat, Membuat bulir-bulir air mata menuruni pipi gadis itu.
"Aku mencintaimu, Sangat mencintaimu Chloe Watson,"
__ADS_1
"Aku juga mencintai pak Ezra, Ezra Miracle adalah milikku selamanya," Bibir Chloe bergetar saat mengucapkan kalimat itu, Bulir-bulir air matanya semakin mengalir deras saat merasakan tangan Ezra yang menempel di pipinya mulai sedingin es.
"Aku telah melihat banyak orang jatuh di depanku, Ini pertama kalinya aku yang jatuh di depan orang lain. Terlebih orang ini adalah sosok yang berharga bagiku," Pandangan Ezra terarah pada Chloe yang masih menangis. "Tidak ada yang spesial, Aku hanya sedikit mengantuk,"
Ezra mengusapkan ibu jarinya di pipi Chloe, Menyeka sedikit air mata si gadis yang mengalir.
"Kuharap...Kita bertemu lagi...Didunia mu...,"
Ezra memejamkan matanya perlahan, Menghembuskan napas terakhir dengan senyum bahagia, Bahagia karna cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Chloe tidak menjawab kata-kata terakhir Ezra, Dia hanya menangis dalam diam. Telapak tangan Ezra yang menempel di pipinya itu sekarang sudah tidak hangat lagi, Perlahan Chloe menjauhkan tangan Ezra dari pipinya.
Menyadari Chloe yang hanya diam dan menangis membuat Alex kembali mendekati Ezra, Dia memegang tangan Ezra yang dingin.
"Chloe apa yang terjadi? Kenapa tangan Ezra dingin begini?!" Tanya Alex panik, Namun dia tidak mendapatkan respon apapun dari si gadis.
Chloe menyeka air matanya, Berusaha menghentikan tangis. Dia menatap Alex balik, Menyunggingkan bibirnya membentuk senyum manis.
"Kak Alex, Makasih selama ini juga telah menjaga pak Ezra dan pak Justin. Aku tidak menyangka misiku ini mempertemukanku dengan kalian. Keluarga Michelle dan Maximillian, Dan kak Eli jaga kak Ray baik-baik ya. Aku tahu setelah ini dia akan sangat sedih, Tapi selama kak Eli disisinya, Aku yakin dia bisa bertahan,"
Chloe mengalihkan pandangannya pada Eli yang bersimpuh di samping Alex, Gadis bersurai coklat itu tampak menatap kaget.
"Chloe apa maksudmu?! Bertahanlah sebentar lagi!" Kata Eli cemas.
"Maafkan aku," Chloe tersenyum mendekap tubuh dingin Ezra ke pelukannya. "Tapi aku harus menemani pak Ezra, Aku tidak ingin dia sendirian lagi. Dia pasti sudah cukup kesepian saat sendirian di asrama,"
Alex tercengang dengan jawaban Chloe, Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Sedangkan Eli diam membisu.
"Sekali lagi terima kasih semuanya," Chloe masih mempertahankan senyumannya, Ia merasa kepalanya semakin pusing. Dan tubuhnya seakan mulai dingin.
Dia menyandarkan kepalanya di atas kepala Ezra. Matanya mulai terpejam, Ketika perlahan-lahan kegelapan menguasainya.
Chloe menghembuskan napas terakhir bersamaan memegangi tangan Ezra yang terdapat cincin bunga. Alex semakin panik saat Chloe tidak merespon lagi ketika dia memanggil namanya.
Begitu pun dengan Eli, Lantas Eli memanggil Kenzo dan lainnya.
"KENZO! SEMUANYA! CEPAT KESINI!" Teriak Eli.
Michelle dan Maximillian brother pun bergegas menghampiri Eli dan Alex.
"Eli ada apa? Apa yang terjadi pada Chloe?!" Ray menatap sedih adiknya yang tidak bergerak sama sekali.
"Aku juga tidak tahu. Kenzo, Periksa Ezra dan Chloe!" Eli mengalihkan pandangannya pada Kenzo.
Kenzo mengangguk, Dengan cepat memeriksa denyut nadi keduanya. Hingga tak lama dia tiba-tiba terdiam, Kemudian tertunduk lemas.
"Kenzo, Ada apa? Cepat katakan!" Paksa Ray sedikit mengguncang tubuh adiknya itu.
"Mereka berdua sudah mati, Aku tidak merasakan denyut nadi mereka dimana pun," Jelas Kenzo sedikit merasa sedih.
Ray tercekat lalu menggeleng pelan tak percaya. "Gak! Ini bohongkan? Pasti bohong! Adikku gak mungkin mati!"
Pria bersurai coklat muda itu mengguncang kedua pundak Chloe yang sudah tak bernapas lagi. "Chloe bangun! Jangan main-main! Kau gak mungkin mati kan?!"
"Kakak udah! Kakak gak bisa menentukan takdir seseorang! Kalau kakak begini, Chloe akan sedih tau!" Bentak Xavier menahan pundak Ray, Agar Ray tidak terus menerus mengguncang tubuh Chloe.
"Gak! Gak mungkin!" Bulir-bulir air mata turun membasahi pipi Ray, Pria itu mulai menangis. Eli juga terisak ikut menangis, Merasa kehilangan adik iparnya.
Ivy ikut menangis dan yang lainnya hanya bisa menunduk sedih.
Semilir angin disertai kelopak-kelopak bunga mawar biru yang beterbangan muncul disekitar mereka, Menjadi saksi bisu atas kematian Ezra dan Chloe.
******************
[Keesokan harinya]
Semua keluarga Michelle dan Maximillian menghadiri pemakaman kecuali Revan, Ash, dan Azura karna mereka masih di rawat di rumah sakit.
Setelah proses pemakaman selesai, Mereka semua berdoa. Alex meletakkan sebuket bunga di makam Ezra, Chloe, dan Justin usai berdoa. Mereka memutuskan memakamkan Ezra dan Chloe berdekatan dengan makam anggota asrama yang lain.
Dua makam baru yang baru terkubur disana. Ray yang paling terpukul karna kehilangan adiknya untuk selamanya dan mengetahui fakta bahwa adik kandungnya yang asli sudah lama mati. Ray sangat sedih hingga Eli berusaha menghiburnya.
Yang lain menatap Ray iba, Namun mereka juga tidak bisa melakukan apapun selain diam. Satu-persatu dari mereka meninggalkan pemakaman, Dan hanya menyisakan Ray dan Eli disana.
Ray berjongkok mengusap batu nisan adiknya yang bertuliskan nama 'Chloe Maximillian'. Tatapannya tampak sendu.
"Maaf kakak tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu Chloe, Kakak tidak bisa menemui mu tepat waktu, Kakak benar-benar minta maaf," Ray menghembuskan napas lirih.
"Kakak juga minta maaf, Kalau pernah memperlakukanmu dengan buruk Chloe. Kakak hanya berusaha menjadi perantara antara kamu dan Ray," Eli ikut berjongkok disamping Ray, Menatap sedih batu nisan di depannya.
Ray menghela napas kecil, Lalu berdiri menegakkan tubuhnya. Pria itu mengulurkan tangan pada sang istri.
"Ayo pulang Eli, Nanti Chloe ikut sedih kalau aku terus sedih disini," Ray memaksakan senyumnya.
"Iya, Kau tidak perlu memaksakan senyum Ray. Tidak perlu terlihat seolah kau baik-baik saja," Eli tersenyum balik, Meraih tangan Ray.
Ray hanya tersenyum menanggapinya, Sesaat pandangannya tertuju pada sekitar pemakaman hingga tiba-tiba dia melihat sosok gadis bersurai biru di depannya. Gadis yang mirip sekali dengan adik kandungnya.
"Chloe...," Gumam Ray tanpa sadar.
Mendengar gumaman Ray membuat Eli heran, Dia ikut menatap arah pandang suaminya hingga ikut melihat sosok gadis bersurai biru.
"Chloe...Ini kamu?" Tanya Eli tak percaya.
Gadis bersurai biru itu tersenyum manis dan mengangguk. "Iya, Ini aku Chloe Amberly. Adik kandung kak Ray yang asli. Akhirnya aku bertemu kalian berdua, Keinginanku terakhir kali adalah bertemu dengan keluarga kandungku. Akhirnya keinginanku tercapai,"
"Chloe...adikku...," Ray menatap sedih, Tak lama Chloe Amberly mengulurkan tangannya, Menempelkan telapak tangannya di pipi Ray.
"Kakak gak perlu sedih dan menyalahkan diri kakak sendiri, Aku udah bahagia disana sekarang. Bahagialah dengan kak Eli, Aku senang kalian berdua sudah menikah," Chloe Amberly masih tersenyum sebelum tubuhnya perlahan mulai menghilang.
"Sekarang aku bisa pergi dengan tenang, Bahagialah kak Ray,"
Ray sontak memeluk tubuh adiknya itu meski pun dirinya merasa hanya memeluk udara kosong, Eli melakukan hal yang sama, Dia ikut memeluk Chloe Amberly. Chloe Amberly yang mendapat pelukan seperti itu tersenyum bahagia dan memeluk balik sebelum tubuhnya benar-benar menghilang meninggalkan udara kosong.
"Terima kasih kak,"
Kalimat itu lah yang Ray dan Eli dengar terakhir kali setelah Chloe Amberly hilang dari pandangan mereka.
Semilir angin berhembus pelan menerbangkan helai-helai rambut Ray dan Eli, Keduanya mendongak memandang langit cerah di atas mereka.
Sudut bibir Ray tersungging membentuk senyum lembut. Begitu pun dengan Eli.
"Selamat jalan adikku, Semoga kau mendapat kehidupan yang lebih baik di kehidupan selanjutnya,"
...TAMAT...
[Note Author: Yosh, Akhirnya Novel ini tamat juga. Butuh waktu setahun buat namatinnya😭. Maaf kalau masih ada typo di novel author.
__ADS_1
Gak nyangka episodenya sepanjang ini, Tapi makasih untuk para reader yang sudah mengikuti jalan cerita novel ini dari episode 1 sampai tamat. Bye bye, Sampai ketemu lagi di karya novel Author selanjutnya😘].
[Note: Kalau banyak yang minta ekstra chapter nya, Nanti author buatin. Kalau banyak yang minta aja ya hehehe😆].