
"Hentikan!"
BUGH!
BRUK!
Ezra berdiri cepat dengan gesit menendang wajah anggota Red Devil yang memegang kerah pakaian sang gadis hingga terpental beberapa meter dari tempatnya.
Tidak ada yang membuka suara setelah kejadian itu, Hanya keheningan yang terasa di sana. Ezra menatap Vivian dengan amarah yang menguar di sekitar tubuhnya, Ia berteriak lantang sehingga seisi ruangan bisa mendengar suaranya.
"AKU INGIN MENGAJUKAN TANTANGAN! DUEL SATU LAWAN SATU. JIKA AKU MENANG LEPASKAN KAMI!"
Sesaat Vivian terpaku pada tantangan Ezra, Senyum licik terpatri di bibir tipisnya. "Ah~, Tantangan yang menarik. Tidak kusangka kau berani juga,"
Vivian mengetuk-ngetuk singgasananya dengan jari telunjuknya, Terlihat berpikir tantangan apa yang cocok untuk pria pemberani dihadapannya.
"Oke, Aku terima tantanganmu. Tantangannya adalah melawan Liam. Jika kau menang akan kulepaskan bersama cewek itu dan Ian. Tapi jika kau kalah...," Vivian masih tersenyum licik, Netra merahnya melirik Chloe yang terdiam ditempat.
"Cewek itu akan menjadi mainan para anggotaku, dan kau serta Ian kalian berdua akan kujadikan pajangan di kamarku. Bagaimana?"
"Pak Ezra," Chloe menatap Ezra berharap Ezra tidak mengambil keputusan yang salah.
Sejenak Ezra diam membisu, Ia mengalihkan pandangannya pada Chloe. Menatap sang gadis balik, Tatapan penuh harapan. Ezra paham apa yang Chloe pikirkan tapi keputusannya sudah bulat.
"AKU TERIMA KESEPAKATANMU!" Teriak Ezra lantang dengan ekspresi seriusnya. Sedangkan Chloe tercengang tak percaya, Dirinya menjadi cemas saat mendengar Ezra menerima tantangan itu.
"Bagaimana pun, Aku tidak bisa mundur lagi. Aku akan mengulur waktu sampai Aiden datang. Semoga saja dia menyadari ketidakhadiran kami," Pikir Ezra.
"Baiklah, Bawa cewek itu kesana!" Vivian menunjuk Chloe lalu beralih menunjuk sebuah kurungan besar seukuran truk.
Para anggota Red Devil menarik sang gadis secara paksa menuju kurungan itu, Chloe sempat memberontak namun kekuatannya masih kalah dari keempat anggota Red Devil yang membawanya.
"Pak!" Chloe memberontak mencoba melepaskan diri. Dia di dorong masuk ke dalam kurungan oleh salah satu anggota red devil, Mereka menguncinya disana.
KLANG!
"Mau kau apakan dia?!" Ezra yang sempat melihat Chloe di kurung kembali menatap tajam Vivian.
"Oh, Tenang saja. Dia akan menjadi jaminan agar tidak kabur, Setidaknya selama kau bertarung dengan Liam," Vivian tersenyum smirk.
Kepalanya menoleh pada Liam yang duduk disamping Victor. Mengkode pada anggotanya itu untuk maju. "Liam!"
Liam segera melangkah menuju Ezra berhadapan dengan sang pemuda beberapa meter. Para anggota Red Devil lainnya, Melepaskan rantai serta tali yang mengikat Ezra.
Sejenak Ezra mengusap kedua pergelangan tangannya yang memar usai terlepas, Netra hijaunya melirik Liam tepat dihadapannya beberapa meter.
"Pertarungan ini mempunyai aturan, Kalian berdua harus mendengarkannya dengan baik!" Teriak Vivian lantang. "Pertama, Tidak boleh memakai kekuatan. Kedua, Tidak boleh memakai senjata. Dan Ketiga, Siapapun diantara kalian berdua yang jatuh melewati garis ini maka akan dianggap kalah. Kurasa sudah jelas aturan itu,"
"Artinya aku harus melawannya dengan tangan kosong, Tidak akan kubiarkan dia menang," Pikir Ezra yang sudah siaga dengan sikap kuda-kudanya.
Sedangkan Liam masih berdiri tenang di tempat. Dalam dirinya ia masih meremehkan kemampuan Ezra.
"Liam, Buat tontonan ini menarik untukku," Vivian tersenyum miring menatap Liam yang menoleh padanya.
"Baik Tuan," Liam kembali memandang Ezra, Ia mulai bersiaga dengan sikap kuda-kudanya.
Salah satu anggota red devil yang berada di tengah melirik Ezra dan Liam bergantian sesaat. "Pertarungan di mulai dalam. 1,2,3 mulai!"
Pprriitt!
Pluit berbunyi menandakan pertarungan mereka dimulai. Ezra dan Liam mulai saling menghajar satu sama lain, Sorak-sorak dari para anggota red devil terdengar seisi ruangan menyemangati Liam.
Victor masih duduk ditempatnya menikmati tontonan pertarungan antara Ezra dan Liam, Sesekali netra merahnya melirik Chloe dalam kurungan. Memastikan sang gadis tidak kabur dari sana.
Disisi Ian, Pemuda dengan surai hitam itu melenguh dari pingsannya. Perlahan kelopak matanya terbuka menampakkan netra beriris merah darah miliknya.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
__ADS_1
Dirinya mendengar suara pukulan dari jauh, Sesaat matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu. Hal pertama yang ia lihat adalah pertarungan antara Ezra dan Liam lalu Chloe yang berada dalam kurungan.
Seketika Ian membulatkan netranya terkejut memandang sabahat masa kecilnya yang dikurung. Dia berseru lirih dengan suara yang sedikit parau. "Chloe!"
"Oh, Kau sudah bangun sayang?"
Pandangannya beralih setelah mendengar suara asing menyapu pendengarannya, Menatap sosok Vivian yang duduk disinggasana.
"Siapa kau?!" Desis Ian tajam.
"Ian sayang, Apa kau tidak mengingatku? Padahal aku sering memperhatikanmu di sekolah dulu," Vivian menunjukkan ekspresi sedihnya, Tangannya terulur mengusap pipi Ian dengan lembut.
Ian refleks memalingkan wajahnya menjauh dari tangan Vivian, Ia melirik sinis. "Aku tidak mengenalmu! Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu!"
Tangan Vivian terpaku sesaat, Dia menatap Ian dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian dia menarik tangannya kembali sembari menghembuskan napas pelan.
"Begitu ya, Kurasa kita memang tidak saling mengenal dengan baik,"
"Bukan urusanku! Sebenarnya apa yang kau lakukan pada mereka?!" Netra merahnya kembali menatap tajam Vivian.
"Hanya bersenang-senang sebentar, Pria itu menantang anggotaku. Jadi kuturuti saja kemauannya, Jika dia menang kalian akan kulepaskan tapi jika dia kalah cewek itu akan menjadi mainan para anggotaku. Dan kau serta pria itu akan menjadi pajangan di kamarku," Vivian melirik Ezra, Senyum seringai terpatri di bibir tipisnya.
Sesaat netra merah Ian membulat kaget, Ia memandang Chloe yang masih terkurung. Menjadikan gadis itu mainan?! Tidak! Tentu Ian tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
BRAK!
Ian lantas mengalihkan pandangannya cepat setelah mendengar suara jatuh menyapu pendengarannya, Ia melihat Ezra terjatuh dengan banyak luka-luka diseluruh tubuhnya. Kening pemuda bernetra hijau itu juga mengeluarkan banyak darah. Namun Ezra masih bertahan, Ia kembali bersiaga meski tubuhnya hampir limbung. Sedangkan Liam tidak terlihat luka satupun di tubuhnya, Dia masih berdiri tenang.
"Kau lihat kan? Pasti sebentar lagi temanmu itu akan kalah," Vivian terkekeh pelan melihat pertarungan kembali antara Ezra dan Liam.
Ian tidak menjawab dia berusaha melepaskan rantai yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya.
"Aku tidak bisa membiarkan Ezra berjuang sendiri," Pikir Ian, Menarik rantai yang membelegunya sekuat tenaga.
"Ian sayang, Yang kau lakukan hanya sia-sia. Hanya buang-buang tenaga, Kau diam saja ya,"
"Hentikan panggilan menjijikan itu! Aku muak mendengarnya darimu!" Bentak Ian marah, Netra merahnya berkilat tajam.
Disisi Chloe, Sang gadis masih diam dalam kurungan. Memperhatikan pertarungan di depannya, Cemas? Sudah pasti ia merasakan hal itu. Bagaimana melihat Ezra mati-matian berjuang untuk membebaskan mereka semua membuat Chloe semakin cemas apalagi pria itu sudah hampir diambang batas kemampuannya, Selalu Liam yang berhasil memukul Ezra.
Netra birunya beralih menatap Ian yang berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya, Sejenak netra nya membulat terkejut.
"Ian, Sudah sadar? Kalau begini aku harus mencari cara untuk kabur. Tapi Pak Justin selalu melihat kesini, Dia memperhatikanku," Pikir Chloe sadar kalau Victor sedari tadi mengawasinya (Chloe belum tahu kalau raga Justin diambil alih oleh Victor, Jadi dia mengira itu Justin).
BRAK!
Refleks Chloe mengalihkan pandangan setelah mendengar suara jatuh untuk kedua kalinya. Disana Ezra sudah kehabisan tenaga, Pemuda itu terbaring di lantai dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya dipenuhi bercak-bercak darah disertai debu kecil yang menempel. Pakaiannya pun tak luput dari bercak-bercak darah.
Netra hijau itu menatap sayu wajah Liam yang tak terlihat sedikit pun bekas pukulan, Padahal dia yakin sudah memukul wajah Liam dengan kuat tapi tetap saja dirinya kalah telak. Sejenak pandangannya beralih menatap Ian yang juga balik menatapnya, Ekspresi Ian terlihat kaget. Lalu beralih menatap Chloe, Netranya bertemu dengan netra biru milik sang gadis. Dengan jelas Ezra menangkap ekspresi cemas dan tak percaya dari Chloe.
Sampai akhirnya pandangannya menjadi buram dan perlahan kegelapan menguasainya.
Liam memandang wajah pingsan Ezra sesaat lalu beralih memandang Vivian yang bertepuk tangan sebagai penghargaan atas kerja keras Liam diikuti anggota Red Devil lainnya.
PLOK! PLOK! PLOK!
Suara riuh tepuk tangan terdengar diseluruh penjuru ruangan, Hanya Ian dan Chloe yang diam terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bagus! Kerja bagus Liam!" Kata Vivian senang.
"Terima kasih Tuan," Liam membungkuk hormat tanpa ekspresi.
"Jaa, Sekarang sesuai kesepakatan," Vivian tersenyum miring lalu memandang Ian yang masih terpaku. "Sejujurnya akan sangat disayangkan kalau kau jadi pajangan di kamarku, Tapi ini sudah sesuai janji,"
Vivian memandang para anggotanya dan berseru lantang. "Bawa pria itu dan Ian ke ruang eksekusi, Aku tak sabar menjadikan mereka manekin dan dipajang di kamarku,"
Para anggota Red Devil mulai bergerak sebagian dari mereka mengangkat Ezra untuk pergi ke ruang eksekusi dan sebagian lainnya melepas rantai Ian.
Anggota Red Devil lainnya mendekati tempat Chloe dikurung, Dia menyerigai dengan tatapan liar seperti hewan buas. Memandang sang gadis sebagai mangsa.
KLANG!
__ADS_1
Pintu kurungan terbuka namun gadis bersurai biru itu hanya diam, Ia memandang dengan tatapan kosong tanpa terlihat cahaya kehidupan di matanya pada anggota red devil itu.
"Sini kau gadis manis~" Kata salah satu anggota red devil terkekeh senang, Tangannya terulur berniat memegang tangan Chloe.
Namun saat tangannya mulai dekat secara tiba-tiba pergerakannya terhenti seakan ada kekuatan yang menahan tangannya agar tidak mendekat lebih jauh lagi. Anggota Red Devil itu berkeringat dingin, Ia berusaha menarik tangannya kembali tapi usahanya sia-sia karna tangannya tidak bergerak se inchi pun dari tempatnya.
"A-Apa ini?! Kenapa tanganku tidak bisa bergerak?" Pikir Anggota Red Devil itu mulai ketakutan, Apalagi saat tatapan kosong Chloe terarah padanya membuat salah satu anggota red devil itu mulai was-was.
"Jangan sentuh dia...." Bisik Chloe pelan.
"A-Apa?"
Salah satu anggota red devil itu terpaku saat netra biru Chloe mulai bercahaya, Dengan tatapan menusuk.
"KUBILANG JANGAN SENTUH DIA?!"
PRANG!
Dalam sekejap anggota red devil itu terpental keluar seolah ada gelombang dorongan yang mendorongnya, Kurungan yang mengurung Chloe ikut hancur hingga berkeping-keping dan terpental kemana-mana. Tali serta rantai yang mengikat sang gadis sudah hilang entah kemana.
Seisi ruangan memandang asal suara tersebut, Semuanya terdiam larut dalam keheningan. Vivian sampai berdiri karna terkejut dengan perubahan drastis dari Chloe. Ian pun juga melihat hal itu.
Aura biru terlihat mengelilingi sang gadis, Sebuah pedang terbentuk begitu saja ditangannya dengan sulur-sulur yang berasal dari pedang itu terhubung melingkari lengan kanannya.
Chloe berdiri dengan tegap, Netra birunya memandang liar seisi ruangan. Tatapannya terpaku pada anggota Red Devil yang membawa tubuh Ezra, Dalam secepat kilat ia menggerakkan pedang di tangannya.
"Twister!"
TRING!
CCRRAASS!
BRUK!
Angin kencang berhembus melewati para anggota Red Devil yang membawa Ezra, Dalam sekejap Chloe sudah berada di antara mereka. Ia menghunuskan pedang nya satu persatu pada anggota red devil itu, Beberapa diantara mereka kepalanya dipenggal oleh Chloe.
Percikan darah yang mengenai wajah serta pakaiannya tak dihiraukan sang gadis. Darah mengucur dimana-mana dari tubuh anggota red devil yang sudah tak bernyawa.
Vivian tercengang dibuatnya bahkan Liam sampai terpaku dengan pemandangan dihadapan mereka, Victor menatap tak percaya bahwa gadis biasa seperti Chloe bisa mendapatkan kekuatan sekuat itu.
"Bagaimana bisa...Semua anggotaku...!" Vivian terpaku memandang sebagian anggotanya sudah mati.
"Hanya dalam beberapa tebasan dia sudah membunuh anggota Vivian sebanyak itu?!" Victor masih tak percaya apa yang dilihatnya nyata atau tidak.
Sekali lihat saja Ian sudah menyadari kalau dihadapannya itu bukan Chloe yang dia kenal, Chloe yang dia kenal tidak bisa membunuh orang lain tanpa alasan.
Chloe melirik dengan tatapan dinginnya, Sesaat mengusap pipinya yang terkena cipratan darah. Memandangi Vivian balik.
Ia mengancungkan pedangnya ditujukan pada gadis bersurai silver itu. "Vivian Scarlett! Kalau kau sampai menyakiti mereka termasuk Chloe Watson, Aku tidak akan tinggal diam. Belum puaskan kau menjebakku? Membuatku terpaksa mencari jiwa lain untuk membantuku,"
"Suaranya agak berubah, Apa jangan-jangan dia Chloe Amberly yang asli?" Pikir Ian sadar kalau suara Chloe agak berbeda dibanding biasanya.
Vivian diam sesaat kemudian ia tertawa kecil. "Ah~, Chloe Amberly. Sudah lama aku tidak mendengar suaramu, Yang selama ini selalu bersembunyi di balik wujud sistem. Kau tahu, Kekuatanmu lah yang membuatku tertarik,"
Holy yang mengambil alih raga Chloe memandang dingin, Tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata Vivian. "Aku sudah tahu rencanamu sejak awal, Kau sengaja menculik Chloe kesini bersama teman-temannya agar aku muncul kan? Aku sudah dihadapanmu sekarang, Jangan harap bisa mengambil kekuatanku semudah itu,"
"Memang seperti rencananya, Kalau kau tidak memberikan kekuatanmu secara baik-baik maka aku akan mengambilnya dengan paksa," Vivian menyerigai, Ia mengambil sebuah pedang didekatnya secara asal.
"Liam, Kau awasi Ian dan pria itu. Aku ingin bermain-main dulu dengan teman lamaku,"
"Baik Tuan," Liam mundur secara teratur mendekati anggota red devil lainnya.
Kini tertinggal Vivian dan Holy di tengah ruangan, Saling berhadapan dengan senjata masing-masing. Aura mencekam menguar dari masing-masing kubu. Mereka berdua sama-sama bersiaga dengan tatapan serius.
Tekad Holy sudah bulat, Ia akan menghadapi Vivian karna ini adalah urusan diantara mereka berdua.
TBC
__ADS_1