
Chloe menarik napas dalam lalu menghembuskan sesaat sebelum menjawab pertanyaan Revan.
"Iya, Semua yang dikatakan Ivy benar. Aku hampir terbunuh oleh kenalanku. Bukan! Lebih tepatnya musuh yang mengincar ku sejak lama. Tapi saat itu terjadi aku juga berusaha melindungi Ivy saat pertarungan!" Bela Chloe serius.
Revan mengernyit masih bersidekap. "Kau menyeret Ivy kedalam masalahmu?! Kau ingin membuatnya ikut terbunuh ya?!"
"Itu tidak benar! Aku tidak berniat membuatnya ikut terlibat! Kami kebetulan bertemu Victor diwaktu yang tidak tepat. Hanya itu saja, Bahkan Ivy tidak terluka sedikit pun karna aku melindunginya!" Balas gadis bersurai biru itu balik.
"Aku tidak peduli siapa kenalanmu itu! Tetap saja kau telah membuatnya terlibat dengan masalahmu, Bahkan jika dia sampai terluka sedikit pun waktu itu meski kau melindunginya. Aku benar-benar akan menghancurkanmu saat ini juga!" Revan menggertak, Menunjukkan kepalan tangannya seolah ingin menghajar Chloe.
Chloe menatap kepalan tangan Revan yang tertuju padanya, Hingga gadis itu melangkah maju dan menyodorkan pipi kirinya.
"Kalau kak Revan mau menghajarku, Ayo hajar! Aku gak takut!" Tantang Chloe yang sudah habis kesabaran menghadapi sikap Revan.
Netra hijau Revan melebar mendengarnya, Tatapan murka ia tujukan pada Chloe. Tangannya semakin terkepal hingga....
BUAK!
Chloe mundur sambil memegangi pipinya yang barusan di pukul Revan, Ekspresi gadis itu tampak datar seolah tak merasakan sakit. Chloe yakin pipinya pasti memar sekarang, Tak lama gadis itu merasakan perih di sudut bibirnya.
Ia mengusap bibirnya, Melihat darah yang menempel di ibu jarinya. Sedangkan Revan yang sudah dikuasai amarah kembali maju dan mengcengkeram kerah pakaian gadis itu. Mengepalkan tangan bersiap memukul lagi.
"Anak ini memang perlu di beri pelajaran rupanya biar jera!" Kata Revan marah.
WWUUSSHH!
GREP!
BRAK!
Sebelum Revan melayangkan pukulannya Chloe bergerak gesit menahan tangan Revan yang terkepal lalu membanting tubuh pria bersurai silver itu.
Bantingan itu sedikit membuat lantai yang mereka pijaki bergetar, Chloe mengunci tangan Revan di belakang punggung si pria. Menatap kesal.
"Kak Revan! Ternyata kau senekat ini! Sejak awal kau memang tidak suka padaku kan! Kalau sejak sejak awal begitu lebih baik kau protes sama nona Michelle sebelum aku diterima jadi bodyguard Ivy!" Balas Chloe balik, Ia benar-benar kesal sekarang.
"Heh! Protes? Kau bahkan tidak peduli bagaimana tidak sukanya kami dengan keberadaanmu di mansion ini!" Revan menggerakkan kakinya, Menjegal kaki Chloe hingga gadis itu jatuh dan kunciannya terlepas.
Revan lantas berdiri dan menarik gadis itu untuk berdiri juga lalu menendangnya kuat hingga punggung Chloe menghantam tembok.
BRAK!
"Ukh! Tendangannya gak main-main," Chloe menatap Revan menahan sakit, Ia perlahan berdiri sambil bertumpu pada lututnya.
Revan mendekat kembali ingin menyerang namun disaat yang bersamaan Al datang sambil berlari menghampiri Revan dan menahannya.
"Revan! Cukup! Tahan dirimu!" Kata Al marah menahan tubuh Revan dan menjauhkan pria itu dari Chloe yang sudah berdiri sepenuhnya.
Tak lama Ash menyusul, Melihat Chloe dalam keadaan terluka. Dia bergegas menghampiri gadis itu lalu memegangi pundaknya.
"Chloe, Tenang oke. Jangan ikut terbawa emosi," Ash menenangkan Chloe, Menepuk pundak gadis itu perlahan.
Chloe hanya diam, Napasnya tidak beraturan sambil memandangi Revan tajam.
"Lepas! Dia harus diberi pelajaran biar jera!" Teriak Revan marah, Mencoba melepaskan diri dari Al.
"Hentikan Revan! Dia itu perempuan! Semarah apapun jangan pernah memukul perempuan!" Balas Al balik.
"Apa perduliku! Aku tidak peduli dia perempuan atau lelaki, Gara-gara dia. Ivy hampir terbunuh tau! Dia gak becus jadi bodyguard!" Revan meronta masih mencoba melepaskan diri.
Tap! Tap! Tap!
Saat keributan itu masih terjadi, Dari jauh terdengar beberapa suara derap langkah kaki. Eli, Ray, Alice, dan Michelle brother yang lain berlari mendekat.
__ADS_1
Melihat Revan yang meronta mencoba melepaskan diri dan Al yang mulai kewalahan menahan Revan, Rafael bergegas menghampiri keduanya lalu menarik Revan jauh dari jangkauan Chloe dan lainnya.
"Ada apa ini sebenarnya?!" Elizabeth mengernyitkan alisnya, Memandangi Chloe dan Revan bergantian.
Alice yang melihat bekas memar di pipi Chloe dan sudut bibir sang gadis yang berdarah langsung menghampiri. Ia menatap cemas sambil memegangi pundak Chloe.
"Ya ampun! Chloe pipimu memar begini, Terus bibirmu juga berdarah! Kau habis berantem sama kak Revan?!" Gadis bersurai coklat panjang itu memperhatikan pipi Chloe dengan cemas.
Chloe hanya memangguk lemah tanpa berkata-kata, Ash disampingnya menunduk kecil lalu memandang Elizabeth.
"Maaf kak Eli, Ini salahku karna tidak cepat melerai mereka berdua. Aku melihat mereka bertengkar sejak awal bersama Al. Tapi kami hanya memperhatikan dari jauh saja, Kami pikir Revan tidak serius dengan perkataannya," Kata Ash penuh penyesalan.
"Aku juga minta maaf kak Eli," Kata Al tak enak setelah melihat ekspresi Eli tampak muram.
Eli tanpa berkata-kata mendekati Revan yang masih memberontak hingga ia berhenti tepat dihadapan pria bersurai silver itu. Tangan kanannya terangkat di udara hingga melayangkan sebuah tamparan.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema memenuhi seisi lorong saking kencangnya membuat semua orang yang ada disana terdiam. Revan terdiam membisu merasakan pipinya yang kebas habis mendapat tamparan dari Eli, Selama ini Eli tak pernah menamparnya meski dia berbuat kesalahan sekalipun.
"Kali ini sikap mu keterlaluan Revan! Belajar dari mana kamu?! Selama ini kakak tidak pernah mengajarimu bersikap dan berkata seperti itu! Kamu ini laki-laki, Dan laki-laki harus tahu batasan meski saat emosi sekalipun!" Bentak Eli menatap marah adik ke-3 nya itu.
Revan melotot menatap tajam Eli. "Jadi maksudnya semua ini salahku?!"
"Kakak tidak bilang ini salahmu, Kakak hanya memberitahu bahwa kamu harus tahu batasan Revan!"
"Tetap saja itu artinya kakak menyalahkanku! Oh atau kakak lebih memilih bocah itu dibanding aku, Adik kakak sendiri?!" Revan menyentak tangannya membuat tahanan Al terlepas dan menyingkirkan Rafael yang juga menahannya hingga kini Revan berhadapan Eli.
Mendengar hal itu membuat Eli tambah murka. "Apa maksudmu Revan?! Sudah kakak bilang kakak tidak menyalahkanmu, Kakak hanya mengingatkan saja! Kakak tidak pernah membandingkan kamu dengan Chloe!"
"Mengingatkan?! Sejak awal keberadaan dia disini sudah membuat banyak masalah di keluarga kita! Dia hanya membawa sial bagi kita! Kak Eli tidak seharusnya–"
Tap! Tap! Tap!
PLAK!
Ray berdiri disamping Eli, Ekspresinya tampak dingin dengan sorot mata tajam. Menatap Revan lekat, Sembari menurunkan kembali tangannya usai menampar Revan.
"Jaga ucapanmu Revan Michelle, Jangan pernah menyebut adikku pembawa sial! Apa masalahmu kalau Chloe disini? Kalau kau tidak suka, Seharusnya sejak awal kau bilang padaku! Biar aku yang akan membawanya tinggal di mansionku," Kata Ray dingin, Kini tidak ada senyum apapun di wajah tampan itu.
"Heh! Jadi kalian semua lebih memilih membela bocah itu ya?" Revan tersenyum sinis sambil memegangi pipi kanannya yang memerah bekas tamparan. "Baiklah kalau itu mau kalian, Suruh saja dia menggantikan posisiku di sini! Aku tidak butuh keluarga yang tidak mendukungku!"
Revan melangkah pergi dengan penuh amarah dalam dirinya, Namun Ash segera mencegat pria bersurai silver itu.
"Revan! Apa yang kau katakan?! Jangan main-main, Ayo kita selesaikan ini," Kata Ash mencoba membujuk Revan.
"Gak usah! Aku muak melihat kalian semua!" Revan menendang Ash membuat pria bersurai hijau itu melepas tangan Revan dan jatuh tersungkur.
"Kak Ash!" Azura yang berdiri paling dekat bergegas menolong Ash untuk berdiri.
Ivy menutup mulutnya tak percaya dengan kata-kata Revan, Al dan Rafael hanya bisa menatap sedih, Eli dan Ray hanya diam ditempat tanpa memandang Revan, Leo dan Leon memilih diam tak ikut campur. Sedangkan Alice dan Chloe juga tak bisa berkata-kata.
Revan melangkah pergi tidak menoleh lagi, Amarah dalam dirinya menguasainya. Revan tidak peduli lagi dengan keluarganya karna dia memilih untuk keluar dari sana.
Usai kepergian Revan, Terjadi keheningan beberapa detik disana. Hingga Alice menoleh memandangi Chloe yang masih diam.
"Chloe aku obatin dulu ya lukamu," Kata Alice lembut yang hanya mendapat anggukan kecil dari Chloe.
*************
[Disisi lain]
Revan menendang penuh amarah kerikil kecil sepanjang jalan trotoar, Melampiaskan emosinya disana. Kendaraan transportasi tampak hilir mudik di sepanjang jalan. Revan berhenti disebuah vending machine, Ia memasukkan koin dan memilih minuman kesukaannya disana. Setelah minumannya datang dia langsung duduk di sebuah kursi, Membuka penutup kalengnya dan meminumnya hingga setengah.
__ADS_1
"Cih! Gara-gara bocah itu semua keluargaku benci padaku, Dasar pembawa sial!" Maki Revan marah sambil mengganggam kaleng di tangannya hingga kaleng itu sedikit remuk.
Dia kembali meminumnya sampai habis dan membuangnya ke tempat sampah disamping kursi. Revan mengacak kasar rambutnya sesaat, Diam dalam keheningan.
Tap! Tap! Tap!
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat disusul suara asing disampingnya.
"Permisi, Boleh saya duduk disini?"
Revan menoleh memandangi seseorang yang barusan bicara padanya, Seorang wanita bersurai silver dengan netra merah tersenyum padanya. Pria itu mengernyit sesaat lalu memalingkan pandangannya.
"Terserah,"
Wanita itu masih tersenyum lalu mendudukkan dirinya disamping Revan. Sebelum kembali mengajak si pria bicara.
"Sepertinya tuan terlihat banyak pikiran ya. Mau cerita?" Tanya si wanita ramah.
Revan melirik sambil mengernyitkan alis. "Apa-apaan wanita ini?! Tiba-tiba sok akrab. Kenal saja tidak tiba-tiba menawarkan ingin berbagi cerita atau tidak. Cih!"
Menyadari Revan hanya diam membuat wanita itu tertawa pelan. "Aduh~ saya minta maaf tiba-tiba mengatakan hal itu, Tuan pasti merasa tidak nyaman karna kita tidak saling kenal,"
"Wanita aneh," Revan melirik dingin lalu meranjak dari duduknya, Berniat pergi.
"Kalau saya lihat sepertinya anda sedang bermasalah dengan seseorang, Saya penasaran apa anda kenal dengan orang yang bernama Chloe Amberly?"
Baru beberapa langkah, Seketika langkah si pria terhenti setelah mendengar wanita itu menyebut nama seseorang yang membuatnya begitu marah tadi. Revan berbalik menghadap si wanita yang tersenyum.
"Bagaimana kau tahu nama orang itu?" Tanya Revan dingin.
"Oh tentu saya tahu namanya karna saya mengenalnya sejak SMA, Dia orang yang licik dan manipulatif, Bahkan berpura-pura terlihat lemah agar bisa mengelabui orang lain," Kata si wanita, Kemudian ia berpura-pura memasang ekspresi sedih. "Saya sangat membencinya karna sifatnya itu, Dia bahkan pernah hampir membunuh saya hanya karna saya tidak sengaja menabrak temannya. Makanya saya ingin balas dendam padanya,"
Revan terdiam usai mendengarkan curhatan si wanita, Ia mengepalkan tangan menahan amarah yang kembali timbul.
"Aku juga membencinya, Dia merebut kasih sayang dan kepercayaan keluargaku. Dia bahkan tidak becus menjaga adikku dan hampir membuat adikku terbunuh. Aku rasanya ingin menyingkirkan bocah parasit itu dari rumahku dan keluargaku!" Kata Revan geram.
Diam-diam si wanita menyerigai licik tanpa di ketahui Revan. "Bagus, Dia terpancing dengan ceritaku,"
"Kalau begitu, Bagaimana kalau kita bekerja sama?" Tawar si wanita ramah.
"Kerja sama?"
"Ya, Kita sama-sama membenci dan ingin menyingkirkan orang yang bernama Chloe Amberly itu kan? Akan lebih bagus jika kita bekerja sama dan kau akan mendapatkan kembali kepercayaan dan kasih sayang keluargamu,"
Revan berpikir sejenak, Dia diam sembari memandangi si wanita dengan tatapan serius. Menimbang-nimbang penawaran yang ditujukan padanya.
"Ingatlah, Chloe Amberly adalah orang yang sudah merebut kepercayaan dan kasih sayang keluargamu. Dia orang yang jahat," Bisik wanita itu mendekatkan dirinya pada Revan, Kembali menghasut si pria.
Revan menggertak dia kembali mengepalkan tangannya lalu mengangguk mantab dengan tatapan serius.
"Aku terima tawaranmu,"
Si wanita tersenyum licik. "Keputusan yang bagus, Kamu memang pria yang bijak. Aku suka pria sepertimu,"
Revan hanya mengernyit sebelum si wanita kembali melanjutkan perkataannya.
"Kalau begitu bergabunglah dengan Red Devil,"
"Red Devil? Aku belum pernah mendengar nama seperti itu?"
"Itu nama kelompokku, Kita akan berdiskusi tentang strateginya dan kita akan bersama-sama menghancurkan Chloe Amberly," Si wanita mendekatkan bibirnya tepat disamping kuping Revan, Tersenyum menggoda sebelum melanjutkan kata-katanya sembari berbisik pelan. "Dan namaku Vivian Scarlet,"
TBC
__ADS_1