
[Ruang tamu Michelle]
Al Michelle, Pemuda bersurai biru dengan netra ungu muda. Salah satu cowok populer di kampusnya, Saat ini sedang menulis lagu untuk debut solo pertamanya.
Tatapannya tak lepas dari lembar buku yang sedang ia pegang, Sesekali ia akan bernyanyi kecil menyesuaikan lirik dalam lagu buatannya. Suara merdu itu bergema sepanjang ruangan, Membuat siapa saja yang mendengar akan ikut terhanyut dalam melodinya.
Al diam sejenak menghentikan acara latihannya, Pandangannya kembali fokus dalam setiap lirik tanpa henti. Sesekali ia akan menambahkan atau mengubah lirik lagu yang menurutnya kurang enak didengar.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya sejenak, Hanya Al seorang diri disana. Tentu saja harus dirinya yang membukakan pintu, Ia meletakkan bukunya dan meranjak menuju pintu Mansion.
"Sebentar,"
CKLEK!
Al diam termangu, Keningnya sedikit mengernyit menemukan Ray Maximillian bersama para saudaranya yang lain berdiri tepat didepan pintu.
"Halo Al, Maaf kami datang lagi. Elizabeth mengundang kami untuk datang menemuinya, Ini masalah penting," Ray tersenyum ramah, Menjelaskan kedatangannya bersama para Maximillian brother.
"Ya, Masuk saja. Kak Ray langsung temui saja Kak Eli di ruangannya," Al menyingkirkan tubuhnya dari pintu, Mempersilahkan para Maximillian family untuk masuk.
Ray mengangguk, Ia melangkah masuk lebih dulu diikuti adik-adiknya. Setelahnya dia berbalik menghadap para adik-adiknya itu.
"Kalian tunggulah disini, Kakak temui Eli dulu. Baru setelahnya kita semua berkumpul," Kata Ray yang langsung diangguki adik-adiknya.
Ray bergegas pergi menemui Eli meninggalkan adik-adiknya bersama Al. Al menutup pintu lalu mendudukkan diri tanpa mempersilahkan Maximillian brother untuk duduk.
"Sepertinya kau sibuk sekali ya Al," Kata Kenzo sambil tersenyum ramah, Memperhatikan Al yang fokus dengan bukunya.
"Jangan sok akrab denganku! Lagian untuk apa juga kalian disini?" Al melirik sinis, Memperhatikan para Maximillian brother yang satu persatu duduk di sofa.
"Jaga bicaramu, Kami tamu disini," Tegur Xavier sambil bersidekap dengan tatapan serius, Ia menyilangkan satu kakinya. "Kalau bukan karna kak Ray bilang ingin membicarakan hal yang penting dengan keluarga Michelle, Kami juga tidak ingin menjejakkan kaki kami disini,"
Al berdecih sinis, Ia menurunkan bukunya yang menghalangi pandangan. "Tamu? Tamu apa yang datang-datang membuat keributan?"
"Al, Tolong sopan sedikit ya. Kami juga bakal pergi kok kalau urusan kami sudah selesai. Lagipula kau kan idol, Seorang idol kan harusnya punya sikap ramah ya kan?" Vallen tersenyum miring, Meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir. Seolah sedang tersenyum mengejek.
Al mendelik kesal, Pandangannya beralih menatap Kenzo dan Black. Sama seperti Vallen. Kenzo dan Black pun menatapnya dengan pandangan mengejek, Tersenyum penuh kemenangan karna berhasil membuat Al tak bisa membalas kata-kata mereka.
"Maximillian brother sialan!" Runtuk Al dalam hati geram, Setiap dia bertemu para Maximillian brother mereka selalu berhasil membuat dirinya kesal setengah mati. Bukan hanya dirinya, Para saudaranya pun (Michelle brother) juga dibuat kesal oleh mereka.
Seakan sejak dulu keluarga Michelle dan Maximillian tidak bisa disatukan. Dari dulu pihak keluarga mereka tidak pernah akur, Bukan kepala keluarganya (Ray dan Eli) Melainkan adik-adik mereka yang tidak pernah akur. Ketika Michelle dan Maximillian brother bertemu pasti salah satunya akan ada pertengkaran.
TAP! TAP! TAP!
Suara beberapa derap langkah kaki menarik perhatian para Maximillian brother kecuali Al. Kini Michelle brother berdatangan satu persatu ke ruang tamu, Mereka mengambil tempat duduk masing-masing.
Pandangan Rafael bertemu dengan Vallen, Senyum mengejek Vallen tampak menyebalkan di mata Rafael. Pria bersurai coklat itu mendelik sembari mengumpat dalam hati.
"Dia sedang mengejekku ya? Tanganku gatal, Ingin rasanya kupukul wajahnya yang menyebalkan itu," Pikir Rafael kesal.
"Hm...Rafael Michelle, Tampaknya kau tidak akan bisa bersabar kali ini," Pikir Vallen masih tersenyum mengejek, Sekilas menatap Rafael.
Berbeda dengan Xavier, Keningnya langsung mengerut ketika bertemu pandang dengan Ash yang balik memandang sambil menunjukkan senyum ramah.
"Ada apa dengan si gila senyum itu? Apa dia benar-benar tak waras terus tersenyum pada setiap orang?" Pikir Xavier masih mengernyit dengan ekspresi seriusnya.
"Hahaha, Aku tak yakin si gila kerja ini bisa tahan berada di sini. Ah, Pandangannya benar-benar tak bersahabat ya," Pikir Ash masih tersenyum ramah, Sesaat ia menatap balik Xavier.
Kenzo menyandarkan tubuhnya, Bersidekap memandang balik Azura yang memandangnya. Seringai mengejek terpatri jelas di wajah tampannya.
"Tampaknya kali ini level kemampuanmu masih jauh dibawahku Azura. Melihat senyummu yang aneh itu, Rasanya sudah bisa kutebak," Pikir Kenzo.
"Lagi dan lagi kau tersenyum seperti itu, Kau pikir bisa merendahkanku dengan mudah sekarang? Lihatlah, Akan kutunjukkan kalau level kemampuanku bisa lebih diatasmu nanti Kenzo," Azura tersenyum misterius, Membalas pandangan Kenzo.
Pandangan Leon jatuh pada Black yang duduk berhadapan dengannya, Raut jengkel ia tunjukkan pada pemuda itu.
__ADS_1
"Apa-apaan dia? Kenapa terus menatapku? Apa dia meremehkanku? Si pembuat masalah ini, Alex Maximillian. Memangnya kau pikir aku juga tidak bisa sinis padamu huh?!" Pikir Leon menatap jengkel, Ia mendelik tajam.
Merasa mendapat tatapan tajam dari Leon, Alex Maximillian yang mempunyai nama samaran 'Black' ini tak mau kalah.
"Tch! Kenapa juga harus memandangku begitu?! Leon Michelle, Kau pikir aku takut hah?! Aku tidak takut dengan apapun termasuk dengan orang gila masak sepertimu!" Pikir Alex geram, Ikut menatap tajam.
Alhasil suasana ruang tamu menjadi panas karna aura permusuhan yang dikeluarkan para Michelle dan Maximillian brother begitu ketat. Seakan ada aliran listrik di antara masing-masing kubu. Suasana begitu hening karna mereka hanya melempar tatapan permusuhan tanpa ada satu pun yang berniat membuka obrolan.
"Ck! Kenapa kak Eli menyuruh kami untuk berkumpul. Muak sekali harus melihat wajah para Maximillian brother ini lama-lama," Pikir Revan sambil mendengus, Ia bersidekap dengan kesal.
TAP! TAP! TAP!
Disaat bersamaan derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menuruni tangga. Chloe berlari dengan panik, Sesampainya di lantai bawah dirinya menghentikan langkah dengan napas yang tak beraturan layaknya habis lari maraton.
"Hosh...Hosh...Hosh...," Chloe menghirup udara dengan rakus untuk mengisi paru-parunya.
Mendengar suara deru napas, Membuat perhatian Ash dan yang lainnya teralihkan. Ash refleks berdiri dan meranjak dari duduknya.
"Chloe!"
Segera pemuda bersurai hijau itu mendekati dan memegangi pundak Chloe agar kembali berdiri tegak.
"Hei, Ada apa? Kenapa kau buru-buru sekali?" Tanya Ash berusaha menenangkan Chloe yang masih ngos-ngosan.
"Dokter!...Aku butuh dokter...," Kata Chloe terputus-putus. Ia memegangi pakaian Ash agar membantunya berdiri tegak.
Mendengar kata dokter membuat semuanya keheranan, Kenzo pun meranjak dari duduknya. Perlahan mendekati Ash dan Chloe yang berdiri tak jauh dari sofa mereka.
"Tenang dulu, Atur pernapasanmu dengan perlahan," Kenzo tersenyum ramah, Menepuk-nepuk pelan punggung sang gadis. Sedangkan Ash hanya melirik sembari menunjukkan senyum miring, Mungkin baginya Kenzo termasuk serangga pengganggu.
Chloe mengatur pernapasannya sesuai perkataan Kenzo, Usai mulai tenang. Dirinya segera mengatakan kadatangannya ke tempat itu.
"Kebetulan anda disini. Pak Ezra...Maksudku temanku, Dia sedang sakit! Dan sekarang aku butuh bantuan anda untuk memeriksanya," Kata Chloe to the point, Dirinya begitu panik sampai-sampai tak sadar berkata begitu cepat.
"Eh sakit? Tapi saat ini aku tidak sedang membawa peralatan kesehatanku," Jelas Kenzo, Mengingat dirinya datang ke sini bukan sebagai dokter melainkan tamu keluarga Michelle, Ditambah saat ini dirinya sedang tidak memakai pakaian dokter miliknya.
Chloe mencengkeram lengan pakaian milik Kenzo erat, Netra birunya berkaca-kaca sembari menundukkan tubuhnya pada Kenzo. "Kumohon bantu aku, Kali ini saja. Akan kulakukan apapun asal anda mau menolong teman saya,"
"Hei! Chloe pundakmu!" Kata Ash kaget seketika ikut panik karna darah di pundak Chloe semakin besar.
Sejujurnya sejak lari tadi Chloe memang merasakan luka di pundaknya berdenyut sakit sepertinya luka itu kembali terbuka, Namun ia mengacuhkannya karna menolong Ezra lebih penting ketimbang mengurus lukanya.
Kenzo ikut terkejut bahkan membuat para Michelle dan Maximillian brother terperangah karna Chloe yang begitu memohon pada Kenzo.
"Tapi lukamu...Bagaimana bisa kau masih memikirkan keadaan orang lain sedangkan kau sendiri juga sedang terluka?!" Kenzo bingung, Dirinya harus berbuat apa. Disisi lain Chloe terluka namun disisi lainnya gadis ini memohon agar ia menolong temannya.
Chloe menggeleng seolah mengatakan dirinya baik-baik saja meski ia sendiri merasakan lukanya semakin berdenyut sakit, Menghiraukan sebagian pakaiannya yang kini dipenuhi darah.
"Jangan pedulikan luka saya. Yang terpenting mohon bantu teman saya, Dia lebih membutuhkan bantuan anda," Chloe masih tetap pada posisinya, Membungkukkan badan lebih dalam. Kini setetes cairan bening menetes dari pelupuk matanya.
Xavier yang melihat permohonan Chloe menghembuskan napas, Ia bersidekap sembari memandangi Kenzo. Membuka suara.
"Kenzo, Berikan apa yang dia inginkan! Setelah dia dan temannya sembuh, Aku masih harus memberikan proses hukum pada mereka," Kata Xavier serius.
"Ah, Kedengarannya kejam sekali ya," Celetuk Vallen dengan senyum miringnya yang malah menambah suasana semakin memanas.
"Diamlah kau!" Kata Leo mendelik kesal dan dibalas tatapan mengejek dari Vallen.
Kenzo menghembuskan napas, Lalu mengangguk pelan. "Aku mengerti, Akan kuhubungi asistenku untuk membawa peralatan pribadiku. Sekarang bawa aku ke tempat temanmu itu,"
Mendengar persetujuan Kenzo sontak membuat Chloe kembali menegakkan tubuhnya, Ia tersenyum lega sekaligus haru.
"Terima kasih, Saya benar-benar bersyukur anda mau menolong teman saya," Chloe mengangguk cepat lalu dirinya menaiki tangga berniat menuju kamar Ezra.
"Hei tunggu dulu!"
Seketika Chloe menghentikan langkahnya ketika suara itu menyapu pendengarannya, Sesaat ia menoleh memandangi Alex yang sudah berdiri dengan ekspresi serius.
__ADS_1
"Aku ikut denganmu! Aku juga ingin menjenguknya," Sela Alex meranjak dari duduk berniat menyusul Chloe dan Kenzo yang sudah menaiki tangga.
Gadis itu seketika membeku, Wajahnya pucat pasi dan langsung menggeleng menolak permintaan Alex. "Tidak! Tetap disana! Maksudku, Untuk saat ini Pak Ezra gak bisa dijenguk siapapun. Dan aku harus buru-buru sebelum keadaan Pak Ezra semakin buruk,"
"Kenapa?! Aku kan sahabatnya! Dia sedang sakit dan aku hanya ingin menjenguknya! Siapa kau baginya sampai-sampai berani menghalangiku seperti ini?! Aku lebih tahu tentangnya dibanding kau!" Bentak Alex marah, Tangannya mengepal kesal sembari memandangi Chloe tajam.
"Alex!" Tegur Xavier namun diacuhkan oleh Alex.
Alex melangkah cepat mendekati Chloe, Vallen bergegas menahan tangan Alex sebelum sampai mendekati sisi tangga.
"Lepas kak Vallen," Desis Alex tajam namun Vallen hanya menatap diam tak bergeming.
Tak mendapati respons apapun, Alex menyentak tangannya membuat tangan Vallen terlepas. Tanpa membuang waktu, Alex berlari menaiki tangga.
Chloe tak tinggal diam, Dia langsung berusaha mencekal tangan Alex.
"Kumohon, Jangan sekarang!" Pinta Chloe.
"Minggir! Jangan menghalangi jalanku!" Alex menggeram kesal berusaha melepaskan tangan Chloe darinya.
"Alex, Berhenti!" Ash ikut menghalangi jalan Alex, Memegangi kedua pundak si pemuda.
"Diam kau Michelle! Jangan ikut campur!" Alex mengalihkan pandangannya, Netranya menajam memandangi Chloe. "Kau seharusnya juga tak menghalangiku!"
Chloe mengatup mulutnya rapat-rapat kesabarannya sudah habis sekarang, Tanpa sadar ia berteriak kencang bahkan mungkin seisi Mansion mendengar suaranya.
"DIAM! HENTIKAN!"
Seketika semua pandangan tertuju padanya, Ivy sampai terpekik kaget karna pertama kali dirinya mendengar Chloe berteriak sekencang itu. Semuanya diam tak ada yang bersuara.
Chloe menarik napas panjang usai mengeluarkan semua suaranya, Kini ia menatap tepat di netra Alex. Rasa amarah dalam dirinya bergejolak bahkan Alex sampai diam mematung karna tatapan Chloe.
"Kau tidak mengerti! Bagiku...Pak Ezra adalah bagian dari keluargaku, Keluarga angkatku! Setelah kepergian mereka...," Chloe menjeda kata-katanya, Sesaat rahangnya mengeras menahan sedih. "Karna aku...Mereka tiada! Mereka semua pergi. Hanya Pak Ezra yang tersisa, Kalau terjadi sesuatu seperti ini pada Pak Ezra, Aku...Aku...,"
Bulir-bulir air mata berjatuhan dari pelupuk mata sang gadis, Bahkan kini ia tidak peduli lagi dengan rembesan darah dari lukanya yang mengenai sebagian pakaiannya. Kini darahnya ikut menetes mengenai lantai. Chloe tak melanjutkan kata-katanya, Ia malah terhanyut dalam kesedihan.
Alex melepaskan tangan Chloe darinya dengan kuat hingga pegangan itu terlepas, Kini Alex menjauhkan diri dengan tatapan yang sulit diartikan. Ash menatap iba, Ia memegangi pundak Chloe perlahan. Membantu gadis itu berdiri.
"Jangan seperti ini, Aku paham perasaanmu. Tapi kau tidak perlu memohon begitu padanya," Bisik Ash pelan agar hanya Chloe yang mendengar suaranya.
"Tapi temanku...Sakitnya akan semakin parah jika terlambat menolongnya," Kata Chloe dengan suara gemetar, Berusaha menahan sesegukannya. Gadis itu perlahan menyeka air matanya dengan lengan baju.
Ash mengambil sesuatu dalam saku celananya, Sebuah sapu tangan. Dengan lembut ia ikut menyeka air mata Chloe, Mengusap perlahan surai sang gadis.
"Aku mengerti," Ia melirik Kenzo sejenak, Berniat memberi kode. Namun Kenzo tanpa berkata-kata lebih dulu menarik pelan pundak Chloe.
Kenzo mengalihkan pandangannya menatap lantai atas. "Tunjukkan kamarnya padaku, Jangan buang-buang waktu,"
Chloe tersentak sesaat ketika pundaknya dipegang Kenzo, Setelahnya ia mengangguk kecil. Melangkah lebih dulu menaiki tangga.
"Kenzo!" Alex memandang Kenzo dengan kesal.
"Jangan ikuti kami!" Hanya tiga kata itu yang Kenzo katakan tanpa menoleh pada Alex, Setelahnya dia mengikuti Chloe menuju kamar tamu tempat Ezra berada.
TAP! TAP! TAP!
Alex mengepalkan tangannya geram memandangi punggung Kenzo dan Chloe yang semakin menjauh, Kemudian kepalan tangan itu melonggar. Ash yang berada disamping Alex hanya diam, Sebelum membuka suaranya.
"Kacau sekali, Kupikir kalian akan senang punya anggota keluarga baru,"
"Jangan harap berpikir begitu, Anak antah berantah yang tiba-tiba muncul di keluarga kami. Malah jadi pengacau," Balas Xavier dingin.
"Punya adik baru, Rasanya seperti mimpi apalagi adiknya perempuan. Pasti tidak menyenangkan sekali ya," Vallen kembali tersenyum misterius, Entah maksudnya menyindir atau merasa tak senang dengan kehadiran Chloe yang tiba-tiba di keluarga mereka.
Ivy dan Michelle brother lainnya hanya mendengarkan sebelum kemudian Ivy angkat bicara.
"Kalau kalian para Maximillian tidak suka ada anggota keluarga baru, Mengapa tidak serahkan ke kami saja? Aku malah lebih senang kalau Chloe jadi bagian dari Michelle," Perkataan Ivy sontak membuat semua pasang mata di ruangan itu memandangnya.
__ADS_1
"....!"
TBC