
[Bioskop]
Malam ini begitu ramai dengan pengunjung, entah ada yang berpasangan, bersama keluarga, sendiri, bersama teman, dan yang lainnya. Felix tengah memesan dua buah popcorn dan dua minuman soda di loket.
Sedangkan Chloe sendiri, memperhatikan sekitarnya. Holy menepati janji nya untuk kembali berada di samping Chloe, Kini Holy terbang sambil makan permen dalam posisi rebahan.
"Chloe, ngerasa gak sih. Sikap Felix kayak berubah gitu?"
"Berubah gimana? Aku lihat dia selalu bersikap biasa kok," Chloe sesaat menoleh pada Holy yang terbang di samping kepala Chloe.
"Masa gak nyadar sih!? Felix sekarang lebih sering menyendiri di Cafe. Setiap jam istirahat Cafe, dia selalu berada di ruangannya. Tanpa mau ngumpul sama teman-temannya lagi kayak Finnian contohnya," Jelas Holy agak greget sama ketidakpekaan Chloe.
"Hm...Sore itu pun Kak Finnian bilang hal yang sama, Kak Felix sekarang lebih senang menyendiri dalam ruangannya. Sejujurnya aku merasa aneh sih, biasanya dia ngumpul tuh sama Kak Finni kalau pas jam istirahat, sekarang gak lagi,"
"Nah itu maksudku, Kita gak bisa terlalu percaya sama orang lain Chloe. Soalnya Chloe juga baru kenal Felix beberapa hari, dan kayaknya Felix menyembunyikan sesuatu yang kita aja gak tahu," Saran Holy agak cemas, sejujurnya Holy juga merasa aneh dengan sikap Felix.
"Hm...aku akan berhati-hati sekarang, karna aku merasa ada yang mengawasi dari jauh," Balas Chloe dalam hati. Sambil sedikit mengangguk kecil.
Meski Holy adalah System yang membantu Chloe dalam dunia game ini, tapi Holy tidak tahu apapun tentang ke-5 karakter utama Pria selain dari biodata mereka sama seperti Chloe. Holy pernah bertanya pada Program, kenapa sifat ke-5 karakter utama Pria mulai bertolak belakang dengan Biodata mereka, padahal alur cerita ini seharusnya tidak jauh beda dari dari game aslinya. Namun Program tidak menjawab apa alasannya dan hanya bilang seiring berjalannya waktu semuanya akan terungkap.
Bisa jadi Holy dan Chloe harus bersabar menjalankan tugas mereka selama dalam game ini, karna itu mereka harus berhati-hati dan waspada setiap saat. Karena mereka tidak akan tahu apa yang terjadi kedepannya.
"Chloe, Aku sudah membeli Popcorn dan soda nya. Ayo kita segera masuk, Film nya akan dimulai sebentar lagi," ajak Felix sambil mendekati Chloe yang berdiri di dekatnya.
"Baiklah, biar aku pegang Popcorn dan soda satunya," pinta Chloe meraih Popcorn dan soda di tangan Felix.
Felix hanya mengangguk membiarkan, Lalu kedua nya berjalan menuju Teater tempat Film yang akan mereka tonton.
**************
"Hahaha, kak Felix lihat kan kelakuannya tadi. Lucu banget," Chloe agak tertawa usai mereka menonton Film nya, perutnya merasa tergelitik mengingat alur cerita Film yang mereka tonton.
"Hahaha, iya. Padahal gak diapa-apain loh," Felix ikut tertawa kecil. Hanya sebagai topeng, sejujurnya Felix tidak terlalu suka dengan Film tadi. Dia tak suka dengan Film genre komedi.
Tapi melihat Chloe tertawa karna Film itu, dia hanya mengikuti saja. Tidak ada yang lucu dari Film tersebut menurut Felix.
"Lain kali, kita nonton Film kalau ada waktu ya Kak Felix," Kata Chloe dengan ceria, meminum soda yang tersisa.
"Tentu saja, Kita bisa nonton Film yang lain nanti," Felix hanya mengangguk kecil dengan senyum palsu nya.
Mereka berjalan santai beriringan menikmati suasana bioskop sebentar. Namun tiba-tiba Felix merasa HP nya bergetar. Sang pemuda langsung melihat layar nya, memastikan siapa yang menelpon.
JUSTIN
Di layar tertera nama seseorang yang sangat di kenal Felix, sang pemuda buru-buru mengalihkan perhatiannya pada Chloe Yang masih melihat sekitar bioskop.
"Chloe, kakak ke Toilet dulu sebentar. Kau tunggu disana ya," Kata Felix sambil menunjuk deretan kursi yang disediakan khusus pengunjung Bioskop.
"Baiklah," Dengan patuh Chloe berjalan menuju deretan kursi tersebut.
Sedangkan Felix hanya tersenyum menanggapi dan bergegas pergi menuju toilet terdekat.
BLAM!
Toilet itu sepi tidak ada siapa-siapa, Felix merasa lega. Dengan begitu tidak ada yang akan mendengarkan pembicaraannya dengan Justin.
PIP!
"Halo, ada apa menelponku?" Tanya Felix dengan ekspresi tenang.
"Bagaimana keadaan disana? Mata-mata lain bilang, kalian pergi ke Bioskop,"
"Yah, aman-aman saja. Memang benar kami pergi ke sana, hanya untuk menghilangkan kejenuhan saja. Tidak ada yang salah dengan itu,"
"Tugasmu bagaimana?"
__ADS_1
"Hm...tadi nya hampir berhasil, tapi temanku yang bodoh itu menggagalkan rencanaku. Jadi dia masih selamat,"
"Sayang sekali, mungkin kau harus menyingkirkan para pengganggu itu agar rencanamu berhasil,"
Felix mendengus kecil, memandang bayangannya sendiri di cermin.
"Aku tidak bisa melakukannya, mereka temanku sejak SMP. Tidak mungkin aku menyingkirkan semuanya hanya karna tidak ingin diganggu. Lagipula nanti siapa yang akan mengurus Cafe ku, kalau aku sedang pergi?"
"Tutup saja Cafe mu Felix, bukannya kau pewaris dari Edricson? Ayahmu punya perusahaan terbesar no 3 di dunia, jadi perusahaan itu akan jatuh ke tanganmu. Kau tidak perlu repot-repot mengurus Cafe kecil itu,"
Ekspresi Felix berubah datar, dia menyandarkan punggungnya di tembok.
"Aku mendapatkan Cafe itu susah payah, sejak kecil aku sudah ingin memiliki Cafe sendiri. Jangan libatkan Cafe ku dan teman-temanku! Mereka tidak ada hubungannya dengan kesepakatan kita! Dan jangan bawa-bawa nama Ayahku lagi!" Sesaat Felix menggeram kecil, giginya bergemeletuk kesal.
"Kalau begitu segera singkirkan nona kecil itu. Jangan membuatku kecewa Felix, Kau sudah kuanggap sebagai salah satu anggota Black Shadow terbaikku,"
Sesaat Felix terdiam mencerna perkataan Justin, Selama ini dia selalu royal dengan Justin dan selalu mengikuti perintahnya tapi Sejak Justin bertemu dengan Chloe. Entah Kenapa Justin bersikeras untuk menyingkirkan sang gadis, Pastinya dia harus menerima alasan yang logis dulu sebelum memutuskan menyingkirkan Chloe atau tidak.
"Justin, selama ini aku selalu royal padamu dan selalu mengikuti perintahmu. Tapi Sejak kau bertemu dengan Chloe, kau bersikeras untuk menyingkirkan nya. Apa sebenarnya tujuanmu? Bukankah Chloe hanya gadis biasa? Dia bahkan tidak terlihat istimewa,"
Beberapa detik terdengar tawa kecil di sebrang telepon. Tawa layaknya penjahat di film-film. "Hahaha, aku sudah menduga kalian pasti tidak menyadarinya,"
Felix mengernyitkan alisnya, tidak paham apa yang dimaksud oleh Justin. Justin memang tipe orang yang penuh kejutan dan tidak terduga.
"Dia punya sesuatu yang membuatku tertarik sejak awal, sesuatu yang selalu menjaga nya dan berada di sisinya dimana pun nona kecil itu berada,"
"Kau pikir aku akan percaya dengan takhayul? Jangan main-main Justin!? Jelaskan apa maksudmu itu!?"
"Sekarang kau mungkin tak paham, tapi seiring berjalannya waktu kau akan mengerti kenapa aku menyuruh kalian untuk menyingkirkan nona kecil itu. Kuberi waktu untuk kalian, tapi kalau kalian semua gagal. Aku yang akan menyingkirkannya dengan tanganku sendiri, dan kalian tak akan bisa mendapatkan apa yang kalian mau,"
PIP!
Panggilan itu berakhir, Felix memasukkan HP nya dalam saku. Dia kemudian membasuh wajahnya di Wastafel, mencoba menjernihkan pikirannya yang kacau. Lalu mematikan air keran.
Andai saja Ayahnya dulu tidak membuat kepribadiannya berubah seperti ini, Mungkin Felix tidak akan pernah ikut dengan keluarga gelap Justin, dan menjalani hari-hari nya dengan tenang. Apakah dia merasa menyesal sudah ikut dengan sang pria bernetra orange itu? Entahlah, Felix tidak tahu. Sang pemuda hanya merasa kosong seolah tidak merasakan apa-apa.
Alasannya mendekati Chloe adalah atas perintah Justin sendiri, namun dia tak tahu kenapa Justin memerintahkan seperti itu. Bukan hanya dirinya, melainkan juga Devian, Ian, dan Raizel. Di antara mereka ber-4 tidak ada yang menanyakan alasan itu saat menjalankan tugas. Dan baru kali ini Felix menanyakannya, Namun jawaban Justin bukan lah yang Felix harapkan.
Felix tidak tahu harus melakukan apa, antara memberontak dari perintah Justin atau tetap Royal dengan sang pemuda? Karna Felix sendiri merasa Chloe adalah gadis baik-baik, gadis polos yang bahkan tidak tahu apa-apa dengan rahasia mereka. Apa karna Justin sendiri yang egois?
"Ck! Aku tidak bisa terus begini, Aku masih perlu waktu untuk memantau Chloe. Membuktikan apakah yang dikatakan Justin benar atau tidak," Felix berdecak sesaat, dia mengambil tisu yang tersedia disana dan mengelap wajahnya yang basah. Membuang tisu itu ke tempat sampah.
Dan pergi dari sana dengan tergesa-gesa.
****************
"Maaf Chloe, apa kakak terlalu lama?" Felix mendekati Chloe yang menyandar pada sandaran kursi.
Ekspresi sang gadis tampak mengantuk, kemudian Chloe mendongak menatap Felix yang berada di hadapannya.
"Lumayan sih," Jawab Chloe sejenak mengusap wajahnya yang agak mengantuk.
"Hehehe, maaf kalau lama. Kakak habis ditelpon sama seseorang juga tadi," Felix terkekeh kecil sambil menepuk pelan bahu Chloe, agar tak terlalu mengantuk.
"Gak apa-apa kak, Yang penting Chloe cuma pengen cepat pulang,"
"Baiklah, kakak antar ya?"
"Hu'um oke, kalau kakak tidak keberatan,"
Felix pun membantu Chloe untuk bangun dari duduk sang gadis dan menggenggam tangan Chloe agar gadis bersurai biru itu tidak ketinggalan.
***************
[8 Bulan Kemudian....]
__ADS_1
Tidak terasa Chloe sudah tinggal lama dalam game itu, kini dia pun sudah kelas 12 dan sebentar lagi akan lulus dari Guard High School. Selama menjalankan kesehariannya disana, Chloe selalu berolahraga dan belajar dengan giat (Akhirnya tobat juga si Chloe, gak masuk bolak-balik ruang BK lagi😂). Agar bisa masuk ke universitas yang diinginkannya.
Selama 8 bulan itu Chloe manfaatkan untuk menikmati hidupnya dengan tenang, untungnya tidak banyak masalah selama 8 bulan itu. Jadi dia bisa bersantai sejenak, Meski masih merasa diawasi sih. Akhir-akhir ini pun tidak banyak misi dan tugas yang Chloe kerjakan. Rambutnya juga bertambah panjang sampai lutut, hingga saat Chloe melewati teman-teman sekolahnya. Mereka tidak mengenali Chloe.
"Dia siapa ya? Murid baru?"
"Gak tahu, cantik banget. Kayak model,"
"Apa itu Chloe? Masa bisa secantik itu sih!?"
"Enggak tahu, bisa jadi. Tubuhnya pendek tapi bisa secantik itu,"
Dan masih banyak bisikan-bisikan lainnya yang berasal dari siswa-siswi yang menatapnya selama Chloe berjalan melewati mereka, Jujur saja Chloe merasa risih karna di tatap insten oleh siswa-siswi disana seakan mereka tak percaya kalau itu Chloe.
"Mereka kayak gak pernah lihat cewek rambut panjang aja," Batin Chloe dalam hati risih.
"Iya iyalah, mereka heran karna selama ini rambutmu terlihat pendek. Jadi pada heboh dan ngeliatin terus ke rambutmu," Sahut Holy ikut terbang di samping Chloe.
"Kayaknya Chloe Amberly ini perlu membiarkan rambutnya panjang, biar gak jadi pusat perhatian lagi," Chloe menatap tenang siswa-siswi di sekitarnya.
Langkahnya sampai di depan pintu kelas, Chloe melangkah masuk dan duduk di kursinya dengan tenang. Menunggu hingga pelajaran di mulai.
Tak lama Devian masuk menuju bangkunya, diikuti Ian dibelakang sang pemuda. Dua cowok Most Wanted yang paling populer di sekolah. Sudah idol banyak penggemarnya juga. Kadang Chloe heran, apa mereka berdua gak jenuh di teriakin penggemarnya sampai dikejar-kejar segala. Chloe jadi teringat dengan kejadian dia menolong Raizel dari tabrakan maut itu, Kalau tidak salah sang pemuda lari gara-gara di kejar penggemarnya bukan?
Memang ya, kalau cowok sudah jadi idol aura keren nya bisa terpancar jelas.
"Pagi kak Chloe," sapa Devian sambil mendudukan dirinya, meletakkan ransel di samping meja.
"Pagi Devian," balas sang gadis, menahan dagu dengan tangannya. Kemudian Netra biru nya menatap Ian sesaat. "Pagi Ian,"
Ian hanya melirik tak membalas sapaan itu, dengan acuh melewati kursi Devian dan Chloe. Chloe sudah kebal dengan acuhan itu, jadi sang gadis tidak masalah kalau Ian tidak membalas sapaannya.
Tak terasa Chloe sudah kelas 12 dan sebentar lagi akan lulus, Chloe akan berusaha agar bisa mendapat beasiswa di Universitas impiannya agar tidak merepotkan Felix. Yah, Chloe kasihan pada Felix, karna bagaimana pun Chloe bukan dari keluarga Edricson dan hanya berstatus adik angkat saja.
Beberapa menit bel akan berbunyi tapi tiba-tiba saja salah satu dari Siswa dari kelas sebelah memanggil Ian dan Chloe.
"Ian Maxwell dan Chloe Amberly di panggil ke ruangan kepala sekolah tuh," Kata Siswa itu dari ambang pintu.
Ian tidak berkata apa-apa, memandangi sebentar Siswa tersebut lalu meranjak dari duduknya keluar kelas, Sedangkan Chloe agak bengong karna dia tidak tahu kenapa di panggil ke ruangan kepala sekolah.
"Loh bukannya aku gak bikin masalah lagi ya? Kenapa di panggil ke ruangan kepala sekolah!?" Pikir Chloe bingung dan heran.
"Mungkin ada pemberitahuan yang penting. Lebih baik kan ikuti saja," Saran Holy, dan hanya bisa ditatap oleh Chloe. Kemudian Chloe pun pergi mengikuti Ian menuju Kantor.
****************
"Permisi bu, ada apa ya memanggil kami kesini?" Kata Chloe setelah masuk ke ruangan kepala sekolah, Ian disamping Chloe hanya memperhatikan.
"Nah, kebetulan kalian sudah datang. Langsung ke intinya saja ya biar gak telat masuk kelas," Kepala sekolah meletakkan sebuah kertas di meja nya.
"Iya bu," Sahut Ian dan Chloe serempak.
"Hm...begini, setelah penilaian Olahraga Semester 2 waktu di kelas 11. Yang saya dengar dari guru olahraga kalian, Kalian sangat berbakat dan tahu teknik dari Olahraga Tenis, jadi ibu ingin kalian mewakili sekolah kita dalam Olahraga Kejuaraan Tenis Tingkat Nasional. Sebagai Tim dan Partner," Kata kepala sekolah dengan serius sambil menautkan kedua tangannya.
"Ibu sudah mendaftarkan kalian di sana, Bagaimana menurut kalian?" tambah kepala sekolah lagi, memandangi kedua siswa nya itu.
"Eh!?"
Ekspresi Chloe langsung horror mendengar bahwa dia akan mewakili sekolah dalam kejuaraan Olahraga Tenis, masa sih? Dan Partner nya dengan Ian? Satu tim dengan Si muka tembok itu!?
Oh, Rasanya Chloe ingin kabur saja dari sana. Sedangkan Ian diam membisu, tampak terlihat berpikir dengan tawaran itu.
"Huuwaa....Aku gak mau satu tim sama Ian," Pikir Chloe yang hanya bisa menangis dalam hati.
TBC
__ADS_1