System Prince Charming

System Prince Charming
Sisi Gelap Felix


__ADS_3

"Chloe, poin hati Ian naik 3 poin, Poin hati Raizel naik 3 poin, Dan Poin hati Felix naik 7 poin. Tinggal Devian sama Felix nih poin nya yang paling tinggi diantara yang lain," Kata Holy sedikit meloncat girang.


Poin Hati ke-5 karakter utama pria:


1.) Devian Orlindo: 25 Poin


2.) Felix Edricson: 29 poin


3.) Raizel Freymon: 3 Poin


4.) Justin Garfield: 0 poin


5.) Ian Maxwell: 4 poin


Chloe yang mendengarnya tersenyum tipis. Sambil memperhatikan hologram tersebut.


"iya, kak Felix 1 poin lagi nih,"


"Yey, nanti dapat barang Favorit Felix deh,"


Holy sangat girang, namun tiba-tiba gerakkan girang itu terhenti. Tubuh Holy menjadi lemas, seperti tidak makan sehari, terbangnya pun tidak setinggi tadi. Chloe menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Holy, mulai cemas dan heran.


"Holy, ada apa? Kenapa tubuh mu lemas begitu?"


"Sepertinya waktu energiku sudah habis Chloe, aku harus mencharger nya kembali deh," Kata Holy lesu.


"Hah!? Kok bisa gitu, Seharusnya kan System gak butuh makan dan minum!? Terus yang kadang makan permen sama kue itu apa?" Chloe heran deh, masa iya System bisa di Charger? Ada-ada aja.


"Itu cuma energi tambahan sementara, tapi gak bikin kenyang. Kayak nya Holy harus pergi ke tempat Program dulu, nanti Holy balik lagi,"


"Eh, masa aku sendirian sih? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" Protes Chloe tak terima.


"Tenang aja, Holy sudah memperkuat bela diri Chloe dan ada tambahan paper spray selama Holy pergi. Paper Spray nya dalam saku seragam Chloe," Jelas Holy masih lesu.


Sesaat Netra biru Chloe melihat ke dalam saku seragamnya, benar saja. Disana sudah terdapat Paper Spray yang entah sejak kapan muncul.


"Ya sudah deh, aku gak tega juga ngeliat Holy kayak gini. Semoga cepat sembuh ya Holy, biar gak pergi lama-lama," Kata Chloe dalam hati memandangi Holy yang mengangguk kecil.


"Baiklah, sampai jumpa Chloe,"


"Sampai jumpa,"


Berlahan tubuh Holy dikelilingi sinar cahaya lalu menghilang menjadi serpihan-serpihan kecil, sama seperti saat jiwa Chloe menghilang saat masuk ke dunia game.


Usai Holy pergi, Chloe kembali melanjutkan perjalanannya. Ini pertama kalinya, dia berjalan sendirian tanpa sang System/Holy jadi selama tidak ada Holy. Chloe akan berusaha mempertahankan diri nya sebisa mungkin.


KKRRIINNGG!


Langkahnya memasuki dalam Cafe yang seperti biasa sangat ramai, dengan tenang Chloe melewati para pengunjung dan Barista. Sesaat pandangannya bertemu dengan Finnian yang kebetulan berpapasan dengan Chloe. Finnian hanya tersenyum memandangi Chloe, dan dibalas senyum oleh sang gadis.


"Selamat Sore, kak Felix," Sapa Chloe saat melewati meja pesanan, menuju ruang Staff.


Felix yang tengah mengaduk bubuk kopi, mendongak mendengar namanya di panggil. Sang pemuda menyapa balik sambil tersenyum.


"Sore Chloe,"


Seperti biasa itulah rutinitas Chloe kalau sudah memasuki dalam Cafe, mengganti pakaiannya. Dan Mulai bekerja dengan semangat.


****************


[Waktu istirahat]


Pengunjung mulai berkurang, itulah saat-saat dimana para barista sebagian mulai beristirahat termasuk Chloe yang kini bersantai di ruangan Staff, sambil makan roti yang di beli nya sebelum ke Cafe.


"Hah, aku makan roti ini saja sudah syukur. Gak berani kalau harus mengambil bahan-bahan Cafe buat makanan sendiri. Nanti gaji ku dipotong Kak Felix," Pikir Chloe sambil mengunyah roti nya.


Netra biru Chloe melihat Finnian baru masuk ruangan Staf, sang pemuda kelihatannya baru selesai mengerjakan tugasnya.


"Oh, Chloe. Kau bersantai disini?" Tanya Finnian sambil mengambil kursi kosong disana, dan duduk berhadapan dengan Chloe.

__ADS_1


"Iya, kak Finni. Biasa nya aku selalu bersantai disini," Sahut Chloe sambil memakan roti nya kembali.


"Kenapa gak ikut santai di dapur aja, nongkrong sama yang lain?"


"Hm...aku agak malu kak, soalnya aku gak terlalu kenal yang lain selain Kak Felix dan Kak Finni. Nanti canggung," Chloe cecengesan kecil, mengusap tekuknya yang tidak gatal.


"Iyalah, aku gak mau nongkrong sama yang lain. Wong aku cewek sendiri kok disini," Tambah Chloe dalam hati.


Finnian tertawa kecil mendengarnya, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sejenak mengistirahatkan diri.


"Aku kagum padamu Chloe, umurmu masih 17 tahun kan?"


"Iya, masih. Memangnya kagum kenapa kak?"


"Aku kagum karna di umurmu yang masih remaja gini, udah bekerja. Padahal pagi nya kau sekolah kan, lalu sore nya bekerja. Hampir kau gak ada waktu untuk istirahat beberapa jam, hanya istirahat beberapa menit. Apa kau gak lelah?"


"lelah sih kak, tapi ya mau gimana lagi. Kalau Chloe gak kerja, Chloe mau dapat uang dari mana buat biaya sehari-hari," Mau bagaimana lagi, Chloe Amberly sudah gak punya keluarga lagi di game ini. Dia hidup sendirian di dunia yang keras ini.


"Kau gadis yang kuat, seorang Strong Girl. Kuharap suatu saat nanti kau tumbuh besar menjadi orang yang sukses, karna hasil gak menghianati usaha,"


Finnian menepuk pelan rambut biru Chloe. Sejujurnya Finnian sangat kasihan dengan Chloe yang hidup sendiri, pasti sangat berat bagi sang gadis. Tapi dia bukan siapa-siapa nya Chloe, jadi sang pemuda hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi sang gadis.


Chloe tersenyum lebar mendengar doa dari Finnian, Sikap Finnian seperti seorang kakak sama seperti Felix. Namun dari Netra Finnian, sikapnya terlihat lebih tulus bagai seorang kakak pada adiknya.


"Terima kasih kak Finni, aku akan berusaha keras agar menjadi sukses. Karna itu aku akan bekerja keras di Cafe ini,"


Finnian hanya tersenyum melihat sikap optimis dan semangat Chloe, lalu dia menarik tangannya tadi.


"Oh iya, kulihat akhir-akhir ini Felix terlihat tertekan dan tidak bersemangat. Chloe juga dekat kan dengan Felix? Dia biasanya selalu menceritakan keluh kesahnya padaku tapi akhir-akhir ini dia lebih sering menyendiri. Apakah Chloe tahu apa yang terjadi dengan Felix?"


Chloe mengernyitkan alisnya, Chloe tidak pernah tahu apapun tentang Felix kecuali di biodata sang pemuda, pemuda itu memiliki sikap yang ramah, dan pewaris dari perusahaan keluarga Edricson. Hanya itu yang Chloe tahu berdasarkan biodata sang pemuda, sisanya Chloe tak tahu apapun.


"Aku juga tidak tahu Kak Finni, akhir-akhir ini aku lihat dia biasa saja. Tersenyum dan ramah seperti biasa, seperti tidak ada masalah apa-apa," Sahut Chloe sambil menggeleng. Oh Chloe baru ingat kejadian di Cafe kemarin, Waktu Felix tiba-tiba menjadi lesu dan tidak bersemangat.


Chloe agak heran dan curiga sebenarnya, entah kenapa tiba-tiba sikap Felix berubah saat di Cafe kemarin. Dari yang awalnya murah senyum dan ramah, tiba-tiba berubah menjadi lesu dan tidak bersemangat. Namun Chloe memilih tidak menceritakan kejadian kemarin pada Finnian, malu-maluin saja.


"Hm...begitu ya, mungkin dia perlu liburan agar tidak terlalu tertekan dengan pekerjaan nya disini," Saran Finnian sambil memasang pose berpikir.


Buru-buru Chloe mendekati loker tempat pakaiannya berada, lalu mencari Tiket bioskop itu. Setelah dapat, Chloe langsung menunjukkannya pada Finnian.


"Bagaimana dengan liburan menonton bioskop kak Finni? Kebetulan aku beli dua tiket ini, tapi gak sempat dipakai gara-gara temanku membatalkan janjinya. Jadi tiket ini masih tersimpan, dan batas waktunya tinggal malam ini," Jelas Chloe, mengancungkan dua tiket bioskop tepat di hadapan Finnian.


"Tiket bioskop? Boleh juga, kau bisa kasih tiket itu ke Felix. Dia memang butuh liburan sepertinya," Finnian setuju dengan usulan Chloe.


Dengan cepat Chloe mengangguk patuh, masih memegangi dua tiket itu.


"Kalau begitu, aku pamit ke ruangan Kak Felix dulu ya Kak Finni,"


"Iya, kuharap dia suka,"


Setelahnya Chloe bergegas pergi menuju ruangan Felix yang bersebelahan dengan dapur.


*************


[Ruangan Felix]


"Kak Felix, Apa kakak di dalam?" Chloe memasuki ruangan Felix usai mengetuk pintunya.


Felix yang saat itu tengah memejamkan matanya, duduk tenang di kursi kerjanya. Sang pemuda membuka matanya, memperlihatkan Netra Aqua nya yang indah.


"Chloe? Silakan duduk, Ada apa menemui kakak?" Sesaat Felix mengerjapkan matanya agar bisa menyesuaikan dengan cahaya di ruangannya.


"Apa aku mengganggu istirahat kak Felix?" Chloe mendekati kursi di hadapan Felix dan duduk disana berhadapan dengan sang pemuda.


"Tidak, aku hanya memejamkan mata sebentar. Jadi kenapa kesini?"


Chloe meletakkan dua buah tiket bioskop di meja Felix sambil tersenyum riang.


"Akhir-akhir ini kulihat Kak Felix terlihat lelah dan lesu, Dan kupikir Kak Felix butuh liburan. Jadi kebetulan aku punya dua tiket bioskop yang belum sempat dipakai, aku kasih ini buat kak Felix. Kakak boleh mengajak siapa saja untuk tiket satunya,"

__ADS_1


Felix memandangi dua tiket di atas mejanya, memperhatikan waktu tiket yang akan berakhir malam ini. Sang pemuda mengambilnya dan mengangguk pelan.


"Tidak buruk, Kakak sepertinya memang butuh liburan. Tiket ini akan berakhir malam ini kan?"


"Iya, kakak bisa mengajak Kak Finni kalau mau,"


Pemuda bernetra Aqua itu tersenyum kecut mendengar usulan Chloe. Mana mau dia mengajak si Finnian yang rada-rada suka gak tahu malu kalau di tempat umum.


"Ogah, mana mau aku mengajak si bodoh itu," Batin Felix tidak suka.


"Hm...begini saja, tiket ini kan dari Chloe. Jadi kakak bakal ajak Chloe aja buat ikut nonton, Bagaimana?" Tawar Felix segera mungkin memasang senyumnya.


"Chloe sih mau aja kalau Kak Felix mengajak Chloe," Chloe mengangguk kecil menerima tawaran itu.


"Baiklah, setelah selesai Kerja nanti. Kita akan langsung ke bioskop ya?"


"Iya,"


Felix masih tersenyum, ini waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Karna sekarang Chloe berada di ruangannya, dan mereka hanya berdua disini. Jika Ian dan Devian belum memulai rencana mereka, maka Felix duluan yang akan memulainya. Dengan begitu semua tugasnya akan selesai dan tidak perlu repot-repot lagi mengurus Chloe.


"Hm...Chloe, bisakah kau hitungkan pemasukkan Cafe bulan ini? Kakak perlu datanya sekarang, kepala kakak agak sakit karna terlalu banyak pemasukkan yang harus dihitung," kata Felix berpura-pura memegangi kepalanya, seakan dia benar-benar pusing sekarang.


"Tentu saja, aku akan bantu sebisaku. Dimana hitungannya?"


"Ini," Felix menyerahkan sebuah berkas berisi pemasukkan Cafe mereka pada Chloe yang langsung diterima sang gadis termasuk pulpen nya.


"Tunggu sebentar ya kak, aku hitung dulu,"


Chloe mulai fokus menghitung pemasukkan Cafe, sedangkan Felix diam-diam mengambil gunting yang terlihat masih baru dan tajam dari meja kerjanya.


Sang pemuda meranjak dari duduknya, berjalan menuju belakang Chloe yang tengah sibuk. Berpura-pura ingin melihat hasil dari hitungan sang gadis.


"Tolong hitung yang benar ya, Biar nanti gak salah waktu pembagian gaji," Felix berdiri di belakang Chloe, ekspresi wajahnya begitu dingin dan kosong. Seolah dikendalikan oleh seseorang.


"Iya, kak Felix. Chloe akan berusaha,"


Tanpa membuang waktu lagi, Felix mengangkat gunting di tangannya sedikit tinggi. Mengarahkan benda tajam itu pada leher Chloe. Sang pemuda benar-benar akan melakukan hal gila.


"Maaf Chloe, mari kita akhiri permainan ini disini. Kakak sangat sayang padamu, adikku," Tangan Felix mengayun kan gunting tersebut pada leher Chloe, Pemuda bernetra Aqua itu menyerigai senang.


KKRRIIEETT!


Mendengar suara pintu yang terbuka, sontak membuat Felix langsung menyembunyikan gunting tersebut di belakang punggungnya. Menghadap sang pelaku pembuka pintu. Guntingnya bahkan belum sempat mengenai leher Chloe.


"Maaf mengganggu Felix, Tapi sekarang waktu istirahat sudah habis. Chloe ayo keluar sekarang," Finnian tersenyum di ambang pintu, memandangi Chloe dan Felix.


Chloe pun menoleh ketika namanya dipanggil, Kebetulan Chloe juga sudah selesai menghitung.


"Iya, sebentar kak Finni," Chloe kemudian menyerahkan berkas pemasukkan Cafe bersama hitungannya pada Felix. "Ini, kak Felix. Aku sudah selesai,"


Felix memasang senyum ramah, menerima hitungan Chloe. "Terima kasih sudah membantu kakak, Chloe,"


"Sama-sama kak, Chloe mau lanjut kerja dulu,"


Pemuda dengan Netra Aqua itu mengangguk kecil menanggapinya. Chloe pun segera pergi bersama dengan Finnian dari ruangan Felix.


BLAM!


Pintu tertutup rapat menyisakan Felix sendiri disana. Sang pemuda mendengus kasar, dia meletakkan guntingnya di atas meja sedikit hentakkan hingga menimbulkan bunyi.


TAK!


"Sial! Seharusnya aku mengunci pintunya dulu, sebelum melakukannya!" Felix mengacak rambut coklak tua nya gusar. Sesaat dia menggeram kesal.


Padahal tadi tinggal sedikit lagi Felix akan menyelesaikan tugasnya, Tapi gara-gara Finnian rencananya gagal total. Sangat mengesalkan bagi sang pria karna rencananya terganggu.


"Lain kali aku harus lebih teliti lagi sebelumnya, Aku tidak ingin Justin kecewa padaku," Pikir Felix sambil mendudukkan dirinya di kursi dan menyandarkan punggungnya.


"Lihat saja nanti Chloe, kali ini kau lolos tapi kedepannya kau akan hancur!" Felix tertawa sinis sesaat. Memandangi sebuah Foto di laci meja kerja nya yang ternyata adalah foto Chloe yang diambil secara diam-diam di sekolah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2