
Tok! Tok! Tok!
"Chloe, Apa kau masih tidur?"
Pagi itu Ash mengetuk pintu kamar Chloe, Berniat mengajak sang gadis untuk sarapan bersama di dapur. Kamarnya terletak tepat bersebrangan dengan kamar si gadis.
"Chloe?" Ash kembali mengetuk, Setelah memastikan tidak mendapat respon apapun dari pemilik kamar. Perlahan dia membukanya.
KKRREEIITT!
Pemandangan yang pertama kali ia lihat hanyalah tempat tidur yang rapi, Semua benda tertapi rapi disana. Hanya suasana sunyi dan senyap memenuhi kamar itu tanpa ada tanda-tanda keberadaan si pemilik kamar. Sejenak Ash termenung diam memandang sekelilingnya, Bahkan suara di kamar mandi pun tidak ada.
"Mungkinkah Chloe saat ini sedang pergi? Tapi mengapa pagi sekali, Waktu sarapan bersama saja belum mulai," Pikir Ash masih diam ditempatnya, Hingga pria itu memutuskan menutup kembali pintu kamar sang gadis.
Blam!
Ash melangkah menjauhi kamar si gadis, Dan beralih ke kamar Ezra. Hasilnya sama, Dia tak menemukan Ezra dimana pun sama seperti Chloe.
"Dimana mereka berdua? Pergi tanpa bilang-bilang dulu," Ash mulai bingung karna Ezra dan Chloe hilang secara mendadak. Dia menjauhi kamar itu setelah menutup pintu.
Masih sibuk dengan pikirannya. Tanpa diduga dia malah menabrak seseorang yang berjalan berlawan arah dengannya.
Bruk!
"Aduh!"
Keduanya sama-sama meringis, Untung tidak ada yang jatuh diantara mereka berdua. Menyadari kesalahannya, Buru-buru Ash membungkukkan badan meminta maaf.
"Maaf, Aku sungguh tidak sengaja,"
"Kau harusnya melihat sekitarmu saat berjalan Michelle,"
Mendengar suara yang tak asing memasuki pendengarannya, Sontak Ash mendongak dan menemukan Vallen tengah berdiri dihadapannya. Pria bersurai coklat muda itu tampak tersenyum palsu sembari membersihkan jasnya yang terkena tabrakan Ash, Seolah ada kuman yang menempel disana.
"Oh, Maximillian ya...," Ash membalas dengan senyum ramahnya. Tidak bisa ditepis bahwa sejujurnya ia tak senang dengan kedatangan Vallen di Mansion Michelle. "Ada apa kemari? Seingatku seharusnya kemarin adalah hari terakhir Maximillian berkunjung ke mansion kami, Atau kau sedang tidak ada kerjaan sampai-sampai datang kemari?"
Mendengar hal itu refleks Vallen tertawa, Ia memegangi perutnya sambil menyeka sudut matanya yang sedikit berair.
"Hahaha! Kau ini sedang ngelawak ya Michelle. Ge-er sekali, Aku datang kesini bukan untuk bertemu denganmu atau Michelle lain tahu!" Tawa Vallen mereda, Namun ia masih memegangi perutnya. "Lawakanmu garing juga, Padahal aku kesini juga karna pekerjaanku,"
"Oh benarkah?" Ash masih mempertahankan senyumannya, Ia merasa tidak ada yang lucu dari perkataannya barusan. "Aku serius lho Maximillian, Aku sedang tidak ngelawak sekarang,"
"Aku juga serius Michelle," Vallen kembali memasang senyum palsunya. Sedangkan Ash menatap netra Vallen mencoba mencari-cari kebohongan disana.
Setelah beberapa menit tidak menemukan kebohongan satu pun, Ash menyerah. Dia melangkah melewati Vallen perlahan.
"Jika kau sedang mencari Chloe dan pak Ezra, Mereka sedang pergi," Kata Ash tenang sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
Vallen sontak menoleh. "Pergi kemana?"
"Entahlah, Jalan-jalan mungkin," Kini Ash tidak peduli, Dia melangkah meninggalkan Vallen yang merasa geram karna Ezra dan Chloe menghilang.
"Sial! Mereka kabur! Seharusnya aku tidak membiarkan mereka tinggal sementara di mansion Michelle, Seharusnya langsung kuseret saja mereka berdua ke jeruji besi," Pikir Vallen yang kini dipenuhi amarah.
BUAK!
Dia memukul tembok disampingnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya, Merasa telah dibohongi oleh Ezra dan Chloe. Dengan langkah tergesa, Dia mendatangi kamar Chloe dan membukanya kasar.
Benar, Apa yang dikatakan Ash. Ruangan itu begitu sunyi tanpa ada tanda-tanda kehadiran si pemilik kamar. Vallen juga melakukan hal yang sama pada kamar Ezra, Kedua kamar itu kosong seperti tak berpenghuni. Tidak! Disaat seperti ini dia tidak bisa termakan amarah dulu, Mau bagaimana pun ia harus memberitahu Xavier tentang hilangnya Chloe dan Ezra.
Vallen menarik napas sejenak menenangkan diri dari amarahnya, Merasa lebih tenang. Pria bersurai coklat itu mengambil handphonenya dan menghubungi Xavier.
Klik!
"Ada apa?" Suara agak berat menyahut disebrang sana.
"Mereka tidak ada disini, Tidak ada yang tahu mereka dimana. Kamarnya pun kosong," Jelas Vallen serius tanpa basa-basi.
"....." Sesaat hanya terdengar suara hembusan napas disebrang sana, Sampai suara lainnya menyusul. "Kabur ya?"
"Aku tidak tahu, Michelle itu bilang mungkin mereka jalan-jalan," Vallen menggeleng meski ia tahu Xavier tidak dapat melihatnya.
"Dari informasi terakhir yang kita dapat, Mereka tinggal di asrama kan?"
__ADS_1
"Masalahnya kita tidak tahu alamat asrama itu ada dimana,"
"Ck! Kembali ke mobil, Kita akan melacak mereka. Jika baru pergi sebentar, Seharusnya mereka masih belum jauh dari sini,"
"Baik, Aku segera kesana," Jawab Vallen tegas.
Dia lantas mematikan sambungan handphonenya secara sepihak, Lalu Vallen bergegas keluar mansion menemui Xavier yang menunggu di mobil.
****************
Sepanjang perjalanan hanya terlihat pepohonan rindang, Sebuah mobil sedan itu melaju dengan kecepatan sedang melewati sepanjang jalanan aspal.
Chloe menyandarkan kepalanya pada kaca mobil, Menatap bosan jalanan di depan mereka.
"Pak, Jalanannya mirip jalan mau ke asrama. Hutan semua yang dilewati, Bapak yakin kita gak pulang ke asrama?" Tanya Chloe menatap bosan semua pepohonan rindang sepanjang mata memandang.
"Gak, Meski hutannya mirip jalan menuju asrama tapi kita tidak kesana. Tempat yang kita tuju adalah tempat kenangan berhargaku," Ezra menatap lurus jalanan dihadapannya.
"Oh, Tempat kenangan toh," Chloe cuma manggut-manggut kecil. Netra birunya sesaat melirik Ezra yang fokus menyetir.
Keheningan menyelimuti suasana dalam mobil, Hingga tak lama perlahan mobil mulai berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari lapisan kayu dan beton dengan cat berwarna ungu campur hijau muda. Rumah itu tidak besar juga tidak kecil.
Mata Chloe mengerjap sejenak lalu melepas seatbeltnya dan langsung keluar mobil, Pandangannya terus tertuju pada rumah sederhana didepan matanya. Suasananya begitu asri dengan banyaknya tanaman hias di sekitar rumah.
Ezra keluar dari mobil, Berdiri disamping Chloe yang masih diam terpaku. Ekspresi pria bersurai hitam itu tampak teduh setelah memandang rumah sederhana didepannya.
"Pak Ezra.....Apa ini rumahmu?" Tanya Chloe pelan.
Ezra mengangguk kecil membenarkan perkataan Chloe, Netra hijaunya terpejam sesaat. "Iya, Orang tuaku tinggal disini. Aku sudah lama tidak pulang, Jadi aku ingin menemui mereka,"
"Ah, Bertemu orang tuamu. Tapi aku belum sempat membawa oleh-oleh. Bapak juga gak bilang kalau mau ketemu keluarga," Chloe agak panik, Bingung karna dirinya tak membawa buah tangan untuk orang tua Ezra.
"Memang sengaja. Tidak apa-apa, Bunda pasti memakluminya kok," Senyum tipis terbit dibibir Ezra, Ia menoleh lalu meraih tangan Chloe. Menggenggam lembut. "Ayo masuk,"
"Ta-Tapi pak...," Ezra melangkah lebih dulu membuat Chloe tak bisa menyelesaikan kalimatnya, Akhirnya gadis itu pasrah mengikuti langkah Ezra memasuki rumah sederhana tersebut.
*************
Tok! Tok! Tok!
Ezra mengetuk pintu rumahnya, Berharap bunda atau ayahnya membuka pintu. Rasa rindu, senang, bahagia bercampur jadi satu dalam dirinya setelah bertahun-tahun tidak pulang. Jujur saja dia merindukan sosok lembut seperti bundanya dan sosok tegas namun ramah seperti ayahnya.
Selama menunggu, Chloe hanya berdiri diam disamping Ezra. Dirinya sangat gugup, Merasa narvous kalau-kalau penampilannya begitu aneh atau berantakan dimata bunda atau ayahnya Ezra. Sang gadis menautkan jari-jari tangannya gugup.
"Duh, Kok jantungku jadi berdebar-debar gini? Aku kenapa sih?" Pikir Chloe yang bingung mengapa dirinya sendiri merasa gugup padahal cuma mau bertemu dengan orang tua Ezra, Tapi rasanya kayak mau sidang skripsi saja.
Kkkrriieett!
Pintu perlahan terbuka menampakan sosok wanita paruh baya dengan sedikit kerutan di wajahnya dan helai-helai rambut yang sebagian tampak memutih, Netra hijau emerland wanita itu menatap teduh Ezra dihadapannya. Senyum lembut tersungging di bibir si wanita bersamaan dengan netra hijaunya yang berkaca-kaca.
"Bunda, Aku pulang," Ezra mengulangi kalimatnya, Ia tersenyum tipis memandangi wanita paruh baya itu.
"Ezra, Putraku. Akhirnya kau pulang nak," Si wanita menangis haru, Langsung memeluk Ezra dengan erat mengeluarkan semua kerinduannya. Ezra ikut memeluk balik, Mengusap punggung bundanya seolah menenangkan.
Melihat ibu-anak itu melepas rindu, Membuat Chloe tanpa sadar tersenyum senang. Namun di satu sisi dia juga tiba-tiba jadi merindukan mama nya di dunia asli.
"Ah, Aku jadi tiba-tiba merindukan mama. Sedih juga sih," Ekspresi Chloe muram sesaat sebelum suara bundanya Ezra menyadarkan lamunannya.
"Anak ini, Bertahun-tahun tidak pulang. Saat pulang tiba-tiba bawa calon mantu. Bunda kaget tau," Meski berkata seperti itu, Senyum si wanita tidak luntur. Sembari mencubit pelan pipi Ezra.
Sontak Ezra meringis sekaligus gelagapan, Sedangkan Chloe memandang bingung.
"Apa maksud bundanya pak Ezra, Calon mantu? Maksudnya aku?" Pikirnya bingung.
"Enggak bunda, Dia bukan calon mantu," Elak Ezra panik, Sambil melepas cubitan bunda dari pipinya.
"Walah, Jangan bohong sama bundamu ini," wanita paruh baya itu mengerling jahil. Membuat si pria makin gelagapan, Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan rona tipis menghiasi kedua pipinya.
Bunda Ezra mengalihkan pandangannya menatap Chloe, Ia tersenyum lembut. "Namamu siapa nak?"
"E-Eh? Chloe Maximillian," Mendapat pertanyaan mendadak membuat si gadis agak terbata-bata saat memperkenalkan namanya.
"Wah, Namanya cantik ya seperti orangnya. Beruntung Ezra bertemu gadis secantik kamu," Bunda Ezra tertawa pelan, Chloe mengusap tengkuknya kikuk sembari ikut tertawa kecil.
__ADS_1
"Enggak kok tante, Aku biasa aja. Gak ada yang menarik dariku,"
"Jangan merendah, Bunda tau kok tipe Ezra itu kayak gimana," Si wanita kembali mengerling jahil pada anaknya yang masih memandang ke arah lain.
Chloe hanya tertawa pelan menanggapi gurauan bunda Ezra. Sedangkan Ezra yang sudah tak tahan, Tampak merengut kesal.
"Bunda, Sudahlah. Apa bunda tidak capek berdiri diluar, Ayo masuk kedalam dulu," Ajak Ezra memegangi kedua pundak bundanya, Menuntun memasuki dalam rumah.
"Oh iya, Ayo nak," Bunda Ezra juga mengajak Chloe masuk.
Sang gadis dengan patuh mengikuti, Mereka menuju ruang tamu lalu bunda Ezra mempersilakan keduanya untuk duduk.
"Kalian duduklah, Bunda buatkan minum dulu,"
"Enggak usah repot-repot tante," Tolak Chloe halus, Merasa tak enak karna merepotkan bunda Ezra.
"Gak apa-apa, Kalian kan tamu. Bunda ke dapur dulu,"
Chloe berniat menyahut lagi, Namun bunda Ezra sudah keburu pergi ke dapur. Meninggalkan Ezra dan Chloe di ruang tamu. Ezra menghembuskan napas kecil, Mendudukkan diri sambil mengacak pelan surai hitamnya sesaat.
"Bakal terjadi salah paham ini," Kata Ezra memandang langit-langit rumahnya.
Chloe ikut mendudukkan diri disamping Ezra, Tersenyum kikuk beberapa saat. "Jelaskan saja kalau kita cuma rekan kerja pak,"
"Entahlah, Rasanya sulit kalau aku harus menjelaskan seperti itu,"
"Kalau bapak enggak bisa, Biar aku aja. Pasti ibu pak Ezra bakal mengerti kok," Kata Chloe mantab yang mendapat tatapan dari Ezra.
Ezra hanya menatap dalam diam, Tak menyahut sama sekali. Entah mengapa dirinya meragukan hal itu.
Usai obrolan singkat, Bunda Ezra datang mendekati meja tamu sambil membawa nampan berisi tiga gelas minuman disana. Dia meletakkan nampannya dan ikut duduk menghadap Ezra dan Chloe.
"Ayo, Silakan diminum. Kalian pasti merasa haus setelah perjalanan panjang," kata bunda Ezra ramah.
"Terima kasih tante," Chloe ikut tersenyum, Dia mengambil cangkirnya setelah Ezra mengambil cangkir lebih dulu.
Setelah meneguk minumannya, Sang gadis membuka suara. Memulai obrolan serius.
"Ano tante, Maaf sebelumnya. Tapi soal calon mantu itu, Tante salah paham. Aku cuma rekan kerja pak Ezra, Dan aku menganggap pak Ezra sudah seperti keluargaku," Jelas Chloe menatap bunda Ezra yang tampak kaget.
Ezra mengangguk membenarkan perkataan Chloe. "Dia benar. Bunda cuma salah paham. Kami sudah seperti keluarga, Jadi tolong jangan anggap dia sebagai calon mantumu bunda. Lagian aku masih belum memikirkan soal menikah–"
"Kalian sudah menikah?! Ya ampun, Kenapa kalian tidak mengundang ayah dan bunda ke pernikahan kalian? Aduh, Bunda harus kasih tahu ayah dulu soal ini," Potong bunda Ezra sebelum Ezra menyelesaikan kalimatnya.
"HAH?!" Ezra dan Chloe serempak menatap kaget, Tak percaya apa yang mereka dengar barusan.
Chloe sampai menganga dan Ezra yang terdiam membeku, Sedangkan bunda Ezra langsung meranjak dari duduknya dan bergegas pergi mencari ayah Ezra.
"Ayah! Ayah!" panggil bunda Ezra pergi menjauhi Ezra dan Chloe.
"T-Tunggu! Bunda! Bunda salah paham!" Ezra sontak berdiri dengan panik, Menatap kepergian bunda nya yang entah pergi kemana.
Pria itu mengusap wajahnya gusar, Mendudukkan kembali tubuhnya ke sofa. Berbeda dengan Chloe yang menepuk-nepuk kedua pipinya pelan, Berharap dia hanya salah dengar.
"Ugh...! Mengapa bunda makin salah paham?!" Ringis Ezra menepuk keningnya beberapa kali dengan pelan.
"Seharusnya aku tidak mengatakan kata 'Keluarga' tadi, Siapa coba yang gak salah paham kalau dijelaskan kaya gitu. Haduh, Gimana sih aku ini!" Chloe menyalahkan dirinya sendiri, Menutup wajahnya yang merona antara malu dan kesal.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki terdengar mendekat disertai suara berat seseorang yang membuat Ezra dan Chloe seketika merinding.
"Ezra Miracle!"
Ezra mendongak, Netra hijau emerlandnya menatap kaget sekaligus merinding ketika tatapan sosok pria paruh baya berwajah sangar menatapnya tajam. Netra hitam milik pria paruh baya itu tampak berkilat. Sedangkan bunda Ezra yang berdiri disamping pria paruh baya itu hanya menatap cemas Ezra tanpa membuka suara.
"A-Ayah?!"
Chloe meneguk selivanya kasar, Mau dilihat dari sisi manapun. Nyatanya sosok ayah Ezra sama-sama memiliki aura suram dan gelap seperti Ezra sendiri. Chloe akui wajah Ezra lebih dominan mirip seperti ayahnya, Ternyata memang benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Hiiih, Ayah pak Ezra sama-sama memiliki aura seram kayak pak Ezra. Maaf pak Ezra, Aku gak bisa bantu," Pikir Chloe merinding sekaligus gemetar kecil saat tatapan ayah Ezra beralih padanya.
TBC
__ADS_1