
Mendapat kenyataan yang tiba-tiba membuat Chloe syok berat, Mulutnya seakan terkunci rapat, Lidahnya begitu kelu untuk mengatakan sepatah kata pun. Tubuhnya seakan terpaku dalam waktu yang cukup lama.
Tanpa sadar bulir-bulir air mata menggenang di pelupuk mata sang gadis hingga mengalir membasahi kedua pipi cubby nya. Ray yang melihat Chloe menangis sontak tersentak, Pandangannya berubah cemas.
"Chloe–"
PLAK!
"....!"
"....!"
Saat itu Ray tidak pernah menyangka kejadiannya akan berakhir seperti ini, Tidak ia perkirakan sebelumnya akan mendapat perlakuan menyakitkan dari adiknya sendiri. Pipinya begitu kebas, Perih, Dan sakit. Mungkin bisa dibilang telapak tangan Chloe akan membekas disana.
Eli diam mematung, Dia juga tak bisa melakukan apapun selain berdiam diri ditempat. Jika dirinya ikut campur maka permasalahan antara Chloe dan Ray semakin besar.
Ray juga tak kalah terkejut, Pandangannya tertuju pada wajah gadis bersurai biru itu yang sudah dipenuhi air mata.
"K-Kenapa baru sekarang kau menemuiku?! Kenapa tidak sejak dulu saja?!" Chloe mengepalkan kedua tangannya, Air matanya tak kunjung berhenti mengalir. "Kakak macam apa kau? Jika saja sejak awal kau menemuiku, Semuanya tidak akan menjadi begini!"
"Tidak tahu kah perjuanganku untuk mencarimu! Mencari keluarga kandungku! Aku sampai terlibat banyak masalah hanya karna mencarimu, Kau tidak tahu kan?!" Bentak Chloe marah, Amarah yang sudah meluap-luap membuatnya sulit mengontrol dirinya sendiri.
Ray menunduk sedih, Tidak tahan menatap wajah Chloe yang tampak membencinya. Ia berseru lirih. "Maaf...Maafkan aku,"
"Andai saja kau menemui Chloe Amberly lebih awal, Dia tidak akan mati seperti ini. Kau terlambat Ray Maximillian!" Batin Chloe berusaha mengontrol amarahnya, Gadis itu semakin mengepalkan tangan.
Chloe manatap Ray, Tatapan pemuda itu tampak terluka. Sang gadis menyeka air matanya dengan kasar. Untuk saat ini, Ia perlu menjernihkan pikirannya.
"Aku tahu kalau aku salah, Tidak menemuimu sejak awal. Tapi aku juga melakukan itu semua demi kebaikanmu," Jelas Ray lirih. menunduk merasa bersalah.
"Jadi apa keputusanmu?"
Ray mengangkat tangannya berniat mengusap surai milik Chloe, Namun tangannya ditepis begitu saja oleh sang gadis.
BATS!
"Maaf...Aku perlu memikirkannya, Permisi!"
Chloe berbalik, Air matanya kembali mengalir. Gadis itu buru-buru keluar dari ruangan Ray tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
"Chloe..."
Ray menatap sendu kepergian sang adik, Dia juga tidak bisa menghentikannya jika bukan kemauan Chloe sendiri untuk berhenti. Eli meranjak dari duduknya, Perlahan mendekati Ray. Ia menepuk pelan pundak tunangannya itu, Berusaha menenangkan sang pria.
"Aku tahu aku terlambat menemuinya, Tapi aku tidak menyangka dia akan membenciku seperti ini," Kata Ray sedih, Kepalanya tertunduk menatap lantai di bawahnya.
Bulir-bulir air mata menggenang di pelupuk matanya, Ray berusaha menutupi wajahnya dengan punggung tangan, Wajahnya memerah menahan tangis.
"Apa yang harus kulakukan Eli?" Tubuh Ray bergetar kecil, Merasa sebentar lagi air matanya akan tumpah.
"Biarkan dia sendiri dulu, Keputusan ada ditangannya. Kau tidak bisa memaksanya tinggal bersamamu Ray," Eli perlahan memeluk Ray dari samping, Mengusap punggung tunangannya.
Ray memeluk Eli balik, Ia menyembunyikan wajahnya di pundak Eli. Bahkan Eli bisa merasakan pundaknya basah, Namun gadis itu hanya diam dan membiarkan Ray larut dalam kesedihannya.
Dia tidak bisa meninggalkan tunangannya dalam keadaan seperti ini.
******************
[Mansion Michelle]
Bruk!
"Huah! Capek sekali hari ini,"
__ADS_1
Al menghempaskan tubuhnya di sofa sembari menguap lebar, Dengan pandangan mengantuk ia menatap Azura yang sedang duduk di sofa lain tak jauh darinya.
"Sampai kapan kau terus membuat sarung tangan itu, Memangnya mau diberikan ke siapa?" Tanya Al memandang Azura yang asyik membuat sarung tangan rajutannya.
"Ah, Ini hadiah buat Kak Eli. Jangan bilang-bilang padanya ya," pinta Azura tersenyum tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Ulang tahun Kak Eli masih lama, Giat sekali membuat hadiahnya sekarang," Celetuk Revan tanpa mengalihkan pandangan dari game yang tengah ia mainkan.
"Tidak masalah, Mempersiapkan lebih dulu lebih baik,"
"Aku senang kita akhirnya berkumpul seperti dulu lagi," Ash ikut membuka suara, Memakan cemilan yang tersedia disana.
"Memangnya kau pikir kegunaan Ruang keluarga apa?" Balas Al melirik malas Ash disampingnya, Yang hanya ditanggapi tawa kecil dari Ash.
"Tapi sayang sekali Kak Rafael dan Kak Eli tidak ikut berkumpul," Kata Revan.
"Yah, Mereka kan sibuk," Balas Al. Sedangkan Azura memilih diam setelah mendengar nama Rafael disebut.
Tap! Tap! Tap!
Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat, Ivy menuruni tangga perlahan agar dirinya tidak jatuh. Perhatian Azura, Al, Dan Ash beralih menatap Ivy yang baru datang (Kecuali Revan yang asyik main game nya).
"Um...Kak, Kalian melihat Chloe? Aku tidak menemukannya sejak siang tadi," Tanya Ivy sembari mendekati sofa dimana para kakak-kakak nya duduk.
"Chloe? Entahlah, Kami juga tidak melihatnya," Balas Ash menggeleng tak tahu.
"Bukannya dia pergi dengan kak Eli? Aku melihat mereka pergi tadi pagi, Tidak tahu mereka kemana," Celetuk Azura.
"Ah, begitu ya," Ekspresi Ivy berubah murung sesaat.
"Memangnya kau ada urusan apa dengan Chloe?" Tanya Ash memandang adiknya yang bersurai ungu itu.
"Um...Tidak ada, Aku hanya ingin bermain dengannya,"
Ivy menggeleng menandakan dirinya tak ingin bermain dengan Revan. "Tidak perlu Kak Revan, Aku istirahat saja,"
Revan hanya memandang sejenak sebelum melanjutkan permainannya.
Tap! Tap! Tap!
Cklek!
"Aku pulang,"
Suara itu membuat semua tatapan tertuju pada seorang pria bersurai coklat yang baru saja memasuki Mansion, Penampilan sang pria sedikit berantakan dengan jas hitam yang tersampir di pundaknya. Sejenak Pria itu mengacak pelan rambutnya sendiri.
"Selamat datang kak Rafael, Sepertinya hari ini pun kau cukup sibuk," Sapa Ash ramah, Karna ia tahu para saudaranya yang lain pasti akan mengacuhkan kedatangan Rafael.
"Yah, Seperti biasa. Aku tidak punya waktu untuk sekedar bersantai," Rafael melonggarkan dasinya, Raut lelahnya tergambar jelas di wajahnya.
Pakaiannya agak sedikit basah karna sempat menerobos hujan setelah keluar dari mobil. Kemudian netra birunya melirik para adik-adiknya yang berkumpul di ruang tamu, Termasuk Ivy yang baru saja beberapa langkah menaiki tangga.
"Apa kalian menungguku?"
"Jangan ge-er, Kami disini hanya bersantai saja. Lagipula siapa juga yang mau menunggumu pulang," Jawab Al menatap malas kakak pertamanya itu.
Set!
"Kak Rafael apakah bertemu Chloe?" Ivy yang tadinya menaiki tangga kini berhenti melangkah, Menatap Rafael yang masih berdiri di dekat pintu.
"Tidak, Kenapa mencari anak itu?"
"Oh, Tidak apa-apa," Ekspresi Ivy kembali murung sebelum melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Hm?"
Tok! Tok! Tok!
Rafael yang masih berdiri disamping pintu lantas langsung membuka pintunya, Memastikan siapa yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam.
Kkreeiitt!
"Leo, Leon!" Rafael agak terkejut karna ternyata yang mengetuk pintu rumahnya adalah adik ke-7 dan adik ke-8. Pakaian si kembar juga agak basah bahkan rambut mereka juga, Lalu kantong belanja yang mereka bawa juga terdapat bulir-bulir air bekas terkena guyuran hujan.
Namun yang paling menarik perhatiannya adalah keberadaan Chloe yang berada ditengah-tengah si kembar. Penampilan gadis itu lebih mengenaskan dari Leo dan Leon, Semua pakaiannya basah dari ujung rambut sampai kaki tidak menyisakan tempat kering satu pun dipakaiannya, Iya sampai pakaian dalam Chloe pun ikut basah. Beruntung Leo berbaik hati menyimpan tas selempangnya dalam kantong kresek sehingga tidak ikut basah.
Chloe cukup beruntung bulir-bulir air hujan menyamarkan air matanya sekaligus wajah menyedihkannya, Namun tetap saja pasti mata bengkaknya sehabis menangis akan tetap terlihat juga. Dirinya seperti mirip gelandangan sekarang.
"Masuk dulu," Ajak Rafael menyingkir dari pintu, Merasa iba dengan kondisi si kembar termasuk Chloe.
"Eh? Ada apa dengan penampilan kalian?!" Al yang sejak tadi rebahan langsung mengambil posisi duduk setelah melihat kondisi ketiganya yang mengenaskan.
"Chloe!" Ivy yang bahkan masih berdiri di tangga refleks mendekati Chloe dengan ekspresi cemas, Dia mencengkeram kedua pundak sang gadis agak erat.
"Kamu kenapa?! Kenapa matamu bengkak?! Siapa yang melakukan ini padamu?!" Tanya Ivy bertubi-tubi, Dirinya semakin cemas saat Chloe hanya diam menatapnya tanpa menjawab sama sekali, Hanya air mata gadis itu saja yang kembali mengalir membasahi pipinya.
"Ano...Kami tidak sengaja menemukannya dalam keadaan seperti ini," Kata Leo melirik sebentar pada Chloe.
"Ya, Kami baru saja selesai belanja dan dalam perjalanan pulang lalu kami tidak sengaja menemukannya menangis sendirian di taman, Jadi kami ajak dia pulang," Jelas Leon ikut mengiyakan, Meletakkan kantong berisi belanjaannya di meja.
"Ugh! Menyusahkan saja, Kau mau cosplay jadi gelandangan hah?!" Kata Revan sinis, Menghentikan permainannya.
Chloe tertunduk, Hal itu membuat Ivy langsung mendelik pada Revan.
"Kak Revan!" Tegurnya tak terima lalu Ivy kembali menatap Chloe, Tak melepas cengkeramannya. "Jangan dengarkan Kak Revan! Katakan sesuatu Chloe!"
"Meski aku ceritakan, Kalian tidak akan mengerti masalahku," Kata Chloe lirih membuat Ivy dihadapannya diam.
"Kau sedang galau?" Leo disampingnya menoleh.
"Tidak! Mana ada aku galau!" Netra biru Chloe mendelik sesaat pada Leo, Kemudian ia menutupi matanya dengan lengannya sejenak.
Rafael meski hanya menatap interaksi itu dalam diam, Ia juga memperhatikan sikap Chloe. "Kudengar jika seseorang menangis itu tandanya kondisinya belum stabil, Belum bisa berpikir jernih. Pasti dia merasa tidak nyaman dikelilingi banyak orang seperti ini,"
"Aku ingin sendiri. Maaf," Chloe menjauhkan tangan Ivy dari pundaknya secara perlahan, Sebelum melangkah pergi dari sana begitu saja. Menyembunyikan isak tangisnya yang ingin tumpah kembali.
"Uh...Sepertinya karna kak Eli ya?" Kata Ivy menatap sedih punggung Chloe yang semakin menghilang dari pandangan mereka.
"Tidak tahu apa yang terjadi padanya, Lebih baik kita bertanya pada Kak Eli nanti," Kata Azura yang aktivitasnya sempat terhenti.
"Hah! Anak itu sejak pertama kali bertemu memang pembuat masalah, Bikin repot!" Revan mengacak sesaat surai miliknya, Ingatan tentang dirinya saat bertemu pertama kali dengan Chloe di backstage terlintas di benaknya.
Ash menunduk diam sejenak, Menatap kue dihadapannya. "Entah kenapa setiap aku melihat Chloe, Aku seakan merasakan kehadiran Ian didekatnya. Tapi Ian kan sudah...,"
Sontak Al yang mendengarnya menoleh, Ia menegur Ash. "Ash, Jangan membicarakan orang yang sudah meninggal!"
"Berita itu kan sudah tersebar, Banyak gosip-gosip miring tentang kematian Ian dan Raizel yang tidak wajar. Menurut kalian kenapa?" Kata Revan ikut nimbrung.
"Kak Revan, Kak Al, Kak Ash. Tolong jangan membicarakan teman satu grup kalian yang sudah meninggal. Kasihan mereka, Nanti mereka tidak tenang disana," Sela Azura menggeleng pelan agar ketiga kakaknya itu menghentikan obrolan mereka.
"Apa memangnya salah?" Revan melirik kecil.
Rafael memijit keningnya mendengar obrolan para adik-adiknya. "Aku juga sudah mendengar berita itu, Dan informasi dari pihak kepolisian tentang tragedi kebakaran sebuah rumah kosong beberapa bulan yang lalu. Tapi benar kata Azura, Lebih baik kalian jangan mengungkit cerita itu lagi,"
"Maaf," Kata Al, Revan, Dan Ash serempak. Membuat keheningan memenuhi ruangan itu setelahnya.
Leo dan Leon sudah sejak tadi pergi keruang dapur, Rafael langsung pergi kekamarnya bersama Ivy. Sedangkan sisanya melanjutkan aktivitas masing-masing.
__ADS_1
TBC