System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Rencana (2)


__ADS_3

[J.G Intertainment, Siang hari]


Disebuah ruangan terdapat dua orang gadis tengah duduk santai sembari memakan sarapan masing-masing. Salah satu gadis itu tampak mengibas-ngibaskan tangan ke wajah sambil menggerutu.


"Ya ampun, cuaca nya panas banget hari ini. Manalagi AC nya rusak belum diperbaiki, Makin panas aja nih ruangan," Gerutu Gracia yang mendapat senyum kecil dari Chloe.


"Sabar kak, Mungkin OB Service nya sedang sibuk jadi AC nya belum diperbaiki," Jelas Chloe perlahan sembari mengunyah rotinya.


"Huh, Andai disini punya Ac cadangan pasti udah adem ruangannya. Kayaknya udah nasib kita sebagai OG," Gracia cemberut hampir mewek.


"Udahlah kak, Nanti juga pasti baik lagi kok," Netra birunya melirik AC yang berada di sudut ruangan sesaat.


Gracia mengangguk kecil pasrah dengan keadaan mereka, Cepat-cepat ia menghabiskan sarapannya.


Chloe menghabiskan mineralnya usai sarapan dirinya langsung meranjak dari sana dan segera melakukan pekerjaan mereka.


**************


[Lantai 5]


SRET! SRET! SRET!


Tangannya dengan lincah terus mengusap kaca jendela, Sedetik kemudian ia kembali mencelupkan kain di genggamannya dalam ember dan kembali mengusap kaca jendela.


Selesai dengan tugasnya sang gadis memutuskan pergi dari sana, Namun seorang karyawan pria tiba-tiba menghadang jalannya, Seolah tidak membiarkannya pergi dari sana.


"Hei! Tunggu dulu!" Seru pria itu menghalangi jalan Chloe, Di tangannya terdapat sebungkus makanan.


"Iya, Kenapa Pak?"


"Nih, Tolong anterin ke parkiran. Katanya ada karyawan yang nunggu disana," Kata pria itu sembari menyerahkan makanan di tangannya pada Chloe barsama sebuah kerta kecil.


"Oke pak,"


Tangannya menerima makanan dan kertas kecil itu, lalu bergegas menaiki lift menuju parkiran mobil.


*************


[Parkiran]


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kakinya bergema di lorong parkiran itu, Beberapa mobil terlihat berjejer rapi. Hanya saja parkiran itu tampak sepi dan sunyi karna tidak terlihat seorang pun disana.


Sejenak langkahnya terhenti, Sesekali kepalanya menoleh memperhatikan kondisi sekitar. Tidak menemukan orang yang dia cari, Chloe putuskan untuk menelpon nomor yang tertera di kertas kecil itu.


Disaat dirinya tengah sibuk tiba-tiba seseorang mengambil Hp nya dan membekap mulutnya dengan sebuah kain dari belakang, Sontak bungkus makanan di tangan Chloe jatuh. Gadis itu tersentak dan segera berusaha melepaskan diri.


KRAKK!


"Aduh!"


Sosok itu mengaduh kesakitan saat Chloe dengan kencang menginjak kakinya, Tentu saja dirinya tak tinggal diam. Bekapan itu terlepas dan tanpa menunggu lama tangannya terkepal meninju dagu sosok tersebut hingga mundur beberapa meter.


Netranya menangkap jelas sosok itu, Ekspresi sang gadis berubah serius dengan sikap waspada.


"Siapa pria ini? Aku tidak pernah melihatnya sama sekali di kantor," Pikir Chloe masih memandang pria itu.


"Sialan kau! Kau tidak akan lolos dariku!" Pria itu berlari cepat menuju sang gadis, Kembali ingin membekap gadis itu.


Chloe berhasil menghindar dia menangkis tangan sang pria, Disaat bersamaan tangannya meninju perut pria itu dan melakukan gerakan memutar hingga menendang kepala sang pria dengan kakinya.


BBRRUUKK!


"uhuk! Uhuk!"


Pria itu terbatuk-batuk, Bernapas tak beraturan. Ia mendongak menatap Chloe dengan seringai yang terpatri di bibirnya.


"Kau pikir, Kau sudah menang?! Bodoh sekali!" Pria itu terkekeh kecil.


Netra birunya membulat sesaat kaget karna baru menyadari satu hal setelah melihat seringai pria itu.


"Ini jebakan! Dia dan pria ini bekerja sama menjebakku," Pikir Chloe masih kaget, Dia tak bisa membiarkan dirinya diam disini.


Tanpa berkata satu kata pun dirinya lantas segera mengambil Hpnya yang sempat tergeletak di lantai, Ia bergegas lari dari sana meninggalkan pria itu.


Disaat bersamaan tangannya terulur ingin meraih gagang pintu, Namun sosok pria asing lainnya tiba-tiba muncul dengan membawa sebuah balok kayu, Bertepatan dengan Chloe yang hampir membuka pintu keluar.

__ADS_1


Kepalanya menoleh melihat pria asing lainnya dan balok kayu itu berayun menuju kepalanya.


BBRRAAKK!


BBRRUUKK!


**************


[Ruangan Ezra]


Ruangan itu tampak hening hanya terdapat sosok Ezra yang tengah mengerjakan dokumennya. Netra hijau emerland miliknya terus terfokus pada lembar demi lebar dokumen.


Sesekali netra miliknya melirik ruangan Justin yang tampak kosong tak terdapat pemiliknya. Dirinya kembali fokus dengan tugasnya, Detik demi detik terus bergulir tanpa henti.


Hingga akhirnya pekerjaan miliknya selesai, Sesaat Ezra melemaskan jari-jari tangannya yang agak kaku. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, Sesaat netra nya memandang langit-langit ruangannya.


Pikirannya teringat dengan perintah Justin yang menyuruhnya menangkap si penghianat.


"Aku butuh bantuan seseorang untuk melancarkan rencanaku," Pikir Ezra masih menatap langit-langit ruangannya, Sedetik kemudian wajah seseorang terlintas di benaknya.


Ia segera menghubungi seseorang lewat jam arlojinya, Mengutak-atik jam itu beberapa saat. Tak lama layar hologram muncul memperlihatkan wajah seseorang di dalamnya.


"Ada apa? Tidak biasanya kau menghubungiku,"


"Aku butuh bantuanmu untuk menangkap penghianat itu," Jelas Ezra to the point dengan ekspresi datarnya.


"Huh?! Sudah kubilang aku tidak ingin ikut campur urusan kantor. Kau bisa minta yang lain kan?"


"Tidak bisa, Lagipula tugasmu cuma menangkapnya di luar dan aku yang akan memancingnya. Tugasmu sudah cukup mudah!"


"Tch, Baiklah. Aku akan menunggu diluar,"


Setelah perbicaraan yang cukup serius, Sambungan itu terputus secara sepihak. Layar hologram itu menghilang.


Ezra meletakkan berkas-berkasnya dalam laci dan membereskan mejanya. Tak lama suara ketukan pintu mengintrupsi kegiatan sang pemuda.


TOK! TOK! TOK!


"Masuklah,"


Gracia masuk secara perlahan setelah Ezra memperbolehkannya masuk, Di tangannya terdapat nampan dengan segelas teh es segar. Langkahnya mendekati meja Ezra lalu meletakkan teh itu meja.


Ezra yang tengah membereskan berkasnya hanya mengangguk kecil. "Terima kasih, Kau bisa pergi sekarang,"


"Baik pak,"


Gracia buru-buru melangkah pergi dari sana namun suara Ezra kembali menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu! Kenapa kau tidak bersama temanmu itu?" Ezra menoleh menatap punggung Gracia, Ia sengaja memakai kata teman karna tidak ingin gracia curiga kalau dirinya dan Chloe saling kenal.


Gracia berbalik pelan menghadap Ezra masih berdiri di tempatnya sembari memeluk nampannya erat.


"Maksud bapak, Chloe?"


"Iya,"


"Eh, Itu...Tadi pagi sih saya masih kerja bareng dia, Cuma pas udah selesai pekerjaannya. Tiba-tiba aja ada salah satu karyawan yang minta Chloe buat anterin makanan ke parkiran mobil, Setelah nya saya gak tau lagi dia kemana soalnya sampai sekarang Chloe belum balik-balik,"


Ezra mengerutkan alisnya sesaat, Ia bersidekap masih memandang Gracia dari tempat duduknya.


"Udah berapa lama?"


"Umm...3-5 jam yang lalu,"


Gracia heran tidak biasanya Ezra menanyakan keadaan Chloe, Biasanya Pak Manager itu selalu cuek dengan sekitarnya. Tapi dia tetap berpikir positif.


"Kau boleh pergi sekarang,"


"Baik pak,"


Sang OG buru-buru pergi tak ingin berlama-lama berada di ruangan Ezra.


Setelah memastikan Gracia pergi, Ezra lantas segera menghubungi Chloe dengan jam nya. Menunggu terhubung dengan jam arloji milik Chloe. Namun setelah menunggu beberapa menit, Layar hologram miliknya malah menunjukkan simbol X.


"Ada apa ini, Kenapa tiba-tiba saja si tengil ini tidak bisa dihubungi?" Pikir Ezra merasa aneh, Dia melakukan panggilan sekali lagi. Sayangnya setelah ditunggu hologram miliknya kembali menunjukkan simbol X menandakan tidak ada respond dari panggilan itu.


"Justin juga sedang meeting dengan klien lain lagi, Bagaimana aku bisa memberitahunya? Si tengil ini juga tidak bisa dihubungi," Gerutu Ezra sesekali netra hijaunya melirik ruangan Justin yang kosong.

__ADS_1


Merasa ada yang aneh, Ezra segera mencari sesuatu di laci kerjanya hingga membuat barang-barang di laci itu agak berantakan. Setelah dapat ia segera memakai Handsfree di kupingnya sambil memperhatikan sebuah layar tablet yang memunculkan beberapa titik merah disana.



Tablet itu berfungsi untuk mengetahui posisi dari para anggota yang memakai jam arloji, Selain itu jam arloji memiliki sensor untuk merekam suara dari penggunanya maupun suara orang lain. Jadi Ezra bisa mendengar dengan jelas suara-suara asing dari Handsfree miliknya.


"Sensor jam si tengil itu menunjukkan dia tidak berada di sekitar J.G Entertaintment, Tidak mungkin kan dia pergi sebelum jam kerja berakhir?" Netra hijaunya terus memperhatikan satu titik merah yang terus bergerak menjauhi gedung kantor.


Tak lama samar-samar Ezra mendengar suara asing dari handsfree miliknya, Suara itu terdengar berat dan serak khas pria.


"Hahaha, Akhirnya anak ini tertangkap juga. Gara-gara dia rencana kita hampir gagal,"


"Tenang saja, Kita masih punya waktu sehari sebelum Presentasi si Justin itu,"


"Aku tak sabar melihatnya hancur, Btw enaknya anak ini diapain ya?"


"Kasih ke Ethan, Dia yang akan menentukan hukumannya,"


Ezra terdiam bungkam tak mendengarkan suara-suara asing itu lagi, Tatapannya terus tertuju pada layar tablet dengan pandangan kosong.


"Dia...Diculik?!" Gumamnya lirih tak percaya.


Tanpa pikir panjang Ezra segera menghubungi seseorang lewat jam miliknya, Mengutak-atik jamnya terburu-buru.


"Apa lagi–"


"Devian, Halangi mobil dengan plat nomor xxxxx berwarna putih di jalan xxxxx. Aku akan segera menyusul," Potong Ezra cepat sembari memakai jas nya dengan terburu-buru.


"Hei! Tenang dulu! Memangnya ada apa?"


"Mereka menculik Chloe! Identitas kita semua di Asrama akan terancam jika sampai mereka tahu semuanya," Jelas Ezra tanpa melepas handsfree nya, Ia bergegas mengambil kunci mobil dalam laci tak lupa membawa tabletnya.


"Wow! Mereka sudah berani macam-macam ya. Baiklah, Aku akan terlibat kali ini saja,"


Sambungan suara itu terputus secara sepihak, Ezra terburu-buru keluar dari ruangannya tanpa menghiraukan pandangan kebingungan dari para karyawan yang dia lewati.


Dia pergi menuju parkiran mobil menaiki lift, Sesekali mencoba menghubungi Chloe dengan Hp miliknya.


Sesampainya di parkiran, Pemuda bernetra hijau itu samar-samar mendengar suara alarm telpon. Lantas kakinya bergerak mencari asal suara tersebut.


Suasana parkiran yang sunyi dan sepi memudahkan Ezra mendengar suara itu lebih jelas, Tak lama Ezra menemukan sebuah Hp tergeletak di lantai bersama sebungkus makanan di sampingnya. Segera sang pemuda mengambil Hp yang berkedip-kedip tersebut sembari memperhatikan lebih jelas.


"Ini Hp milik Chloe, Dia benar-benar diculik oleh bawahan Ethan," Kakinya bergerak cepat menuju mobil miliknya tak lupa menyimpan Hp tersebut di sakunya.


Sesampainya dalam mobil Ezra dengan tergesa-gesa menyalakan mesin mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan area gedung kantor.


**************


[Disisi lain]


Chloe POV


Ugh, Kepalaku sakit sekali. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Perlahan kubuka mataku dan mendongak kecil memperhatikan sekitarku yang begitu asing.


"Ini mobil siapa?" Pikirku menyadari saat ini berada dalam mobil asing yang tidak kukenal. Kulihat sosok pria berada di kemudi depan sedang menyetir. Lalu sosok pria lainnya duduk disamping pengemudi.


Aku ingin teriak namun sadar ternyata mulutku kini tengah terkunci oleh lakban, Dan tanganku diikat sangat kencang hampir tidak bisa bergerak. Aku diculik?! Sial! Seharusnya aku sadar dan lebih waspada. Kukira yang kuhadapi cuma satu orang ternyata mereka berdua.


Serta merta sebisa mungkin aku melepaskan ikatan di tanganku, Namun sepertinya sia-sia karna salah satu dari mereka menyadari aku sudah terbangun.


"Percuma saja melepaskan diri, Kalau pun lepas kau akan tersesat di tempat ini,"


Aku menatap tajam kedua pria dihadapanku, Mereka menertawakan kondisiku. Dan aku baru menyadari kalau jalan yang kami lewati begitu asing bagiku, Banyak pohon-pohon besar dan ilalang di kanan kiri jalan. Terlebih lagi tempat ini sunyi.


Sesaat aku terdiam mencoba mencari cara agar lolos dari kedua pria yang munculikku. Namun tiba-tiba saja kulihat sosok asing tengah mengetuk pintu kaca mobil bagian kemudi, Sosok asing itu mengendarai motor, Wajahnya tak terlihat karna tertutup kaca helm.


Kedua pria dihadapanku menoleh pada sosok asing itu. Berbeda denganku yang terfokus pada sesuatu di hadapan kami. Sebuah batu besar berdiri kokoh di tengah jalan membuatku refleks menendang salah satu jok depan dimana kedua pria itu duduk. Berusaha memberitahu di depan ada batu besar.


"Hei! Apa-apaan kau!" Bentak salah satu dari mereka marah.


Aku menunjuk batu dihadapan kami dengan daguku, Membuat kedua pria itu serentak ikut menatap batu yang kutunjuk hingga akhirnya salah satu dari mereka membanting setir berusaha menghindari kecelakaan.


CCKEEIITT!


BBRRAAKK!


Terlambat, Semuanya terlambat. Sepertinya aku akan mati lagi kali ini.

__ADS_1


Chloe POV END


TBC


__ADS_2