System Prince Charming

System Prince Charming
Keributan (End Season 1)


__ADS_3

[Episode ini agak panjang ceritanya, Jadi Happy ReadingšŸ˜šŸ˜‰].


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2 Menit...


5 Menit...


7 Menit...


HENING!


"Kok gak kerasa apa-apa ya?"


Justin masih memejamkan matanya, Mengerutkan alis karna tak kunjung merasakan sakit di kepalanya. Dia merasa heran dan bingung, Memangnya Chloe ngapain sampai mau bunuh dia aja lama amat?


Kesal karna tidak ada suara pergerakan sama sekali di sekitarnya, Justin memutuskan membuka mata. Dan terlihat lah Chloe masih berdiri diam di depannya dengan pisau yang masih terangkat di udara.


"Kenapa diam? Ayo bunuh aku!" Justin menatap tajam dengan Netra orangenya.


WWUUSSHH!


CRAK!


Justin terdiam saat Chloe melempar pisau di tangannya ke sembarangan arah hingga menancap di tanah.


PLAK!


Pemuda bernetra orange itu terdiam membeku menerima sebuah tamparan yang mengenai pipi kanannya, Tentu saja pelakunya adalah Chloe. Dengan mendengus Chloe menatap kesal Justin.


"Aku tidak mau mengikuti jejakmu! Sudah cukup, Kau saja yang punya mental bermasalah seperti itu," Jelas Chloe, Sedangkan Justin masih diam. Rasa sakit di pipi kanan kirinya tidak dia hiraukan.


Dia malah memikirkan kenapa Chloe tidak membunuhnya duluan saja? Bukankah ini kesempatan yang bagus? Dengan begitu Chloe tidak akan pernah lagi berurusan dengannya jikalau dia mati.


Tangan Chloe terulur di depan Justin, Berniat menolong sang pemuda yang masih diam dalam posisi duduknya.


"Mari kubantu," Tawar Chloe masih mengulurkan tangannya.


Sejenak Justin tertegun sebentar, Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menerima uluran tangan Chloe. Berdiri berlahan, Hingga sejajar dengan sang gadis.


"Kenapa...?" Justin sejenak menjeda kata-kata, Terlalu bingung dengan jalan pikiran Chloe. "Kenapa kau tidak membunuhku saja? Bukankah tadi kesempatan yang bagus? Kau malah membantuku,"


"Sudah kubilang, Aku bukan Psikopat yang hobi bunuh-bunuh orang kayak Kak Justin. Seenggak aku masih memiliki hati nurani tau!" Jelas Chloe sambil berkacak pinggang.


Sesaat Justin merasa tersinggung karna Chloe menyebutnya Psikopat (Memang bener sih sifatnya Psikopat).


"Tau dari mana kalau hobiku bunuh-bunuh orang?"


"Ada deh, Kepo banget!"


"Kau mematai-mataiku!?" Tuding Justin tajam.


"Idih geer, Siapa juga yang memata-matai situ! Lagipula ngapain aku memata-matai Kak Justin kalau Kak Justin aja ngirim mata-mata untuk mengawasiku,"


Bener juga sih apa yang dikatain sama Chloe, Mana mungkin Chloe menyewa mata-mata. Chloe saja paling gak bakalan sanggup menyewa mata-mata yang harga sewanya bisa sampai berjuta-juta bahkan sampai ratusan juta.


"Lalu maksudmu aku gak punya hati nurani begitu!?"


"Iya kan bisa aja, Selama ini yang kulihat Kak Justin mempunyai ambisi besar untuk membunuhku jadi bisa aja Kak Justin gak punya hati nurani sebagai pembunuh atau Psikopat," Jelas Chloe dengan ekspresi tenang, Tanpa beban sama sekali mengeluarkan semua pendapatnya.


"Huh! Anak ini...," Pikir Justin, Sesat keningnya berkedut kesal dengan kata-kata Chloe yang menurutnya terlalu blak-blakan.


CTAK!


"Akh...Sakit!" Refleks Chloe langsung mengusap keningnya yang barusan di sentil Justin, Meringis sekaligus menggerutu.


"Kalau ngomong disaring dulu napa! To the poin banget ya. Pantas saja waktu itu Devian dan Raizel pernah cerita kalau omonganmu kadang pedes kayak mulut netizen," Sindir Justin sinis, Kesal dengan perkataan Chloe yang menyinggungnya.


Chloe cemberut sesaat teringat dengan perkataannya dulu pada Devian dan Raizel, Kedua pemuda itu pernah jadi bad mood gara-gara omongannya yang terlalu jujur, Bahkan terkesan jujur sampai-sampai bikin orang sakit hati.


"Tapi aku kan cuma berkata yang sejujurnya,"


"Gak usah terlalu jujur juga! Yang ada orang pada sakit hati dengernya,"


"Apa benar ya? Kadang aku gak sadar kalau omonganku terlalu jujur dan malah menyakiti orang lain. Tapi kan aku begitu cuma saat kalau emosi," Chloe menunduk kecil, Menyadari letak kesalahannya.


Justin menghela napas lalu melirik kecil Chloe yang masih menunduk. Kabar bagusnya tidak ada yang mati diantara mereka dan buruknya adalah Mereka masih berstatus musuh saat ini. Justin masih belum bisa mempercayai Chloe karna misinya belum selesai, Chloe tidak membunuhnya dan otomatis misi Justin masih berjalan.


Sesaat Justin bersidekap, Memandang Chloe sejenak.


"Kau sudah menyia-nyiakan kesempatan ini, Maka untuk seterusnya kau masih akan berurusan denganku. Sampai saat itu tiba, Aku akan membunuhmu duluan. Jadi jangan salahkan aku karna aku masih akan mengusikmu kedepannya,"


Chloe menoleh menatap Justin yang kini berjalan mendekat dan berdiri berhadapan dengannya. Keduanya saling memandang.


"Tapi aku cukup tersanjung dengan kemampuan bela dirimu dan kebaikanmu untuk tidak membunuhku. Sebagai gantinya ambil ini," Justin mengambil sesuatu dalam jas hitamnya, Melempar kecil pada Chloe.


HAP!


Sontak Chloe segera menangkap benda yang diberikan kepadanya, Sebuah jam tangan digital dengan berbagai macam tombol kecil yang tidak dia mengerti dan dua buah plester luka.


"Jam apa ini? Kenapa banyak sekali tombol di sisinya?" Tanya Chloe heran, Menatap keseluruhan jam tangan tersebut.


"Itu jam tangan digital yang sudah di modifikasi, Semua lengkap disana tanpa perlu membuka HP lagi. Di jam itu terdapat pesan, nomor kontak, dan sebagainya. Bisa dipakai untuk berkomunikasi jarak jauh, Disana juga terdapat nomor kontak Felix, Ian, dan Raizel. Kau bisa menelpon mereka kalau butuh bantuan, Dan juga terdapat System bantuan untuk menjelaskan fungsi-fungsi setiap tombol, Jadi kau tidak perlu bingung lagi,"


"Kedengarannya keren, Tapi kenapa Kak Justin memberikannya padaku? Apa Kak Justin punya tujuan lain?" Chloe menatap Justin dengan curiga.


"Tidak, Jam itu murni pemberianku. Anggap saja pertukaran atas nyawaku yang tidak jadi kau bunuh. Tapi ingatlah, Aku bukan orang yang baik dan bukan juga orang yang jahat. Jadi berhati-hatilah denganku," Peringat Justin, Dia lalu sedikit menjauh dari Chloe.


Sesaat Chloe tertawa kecil. "Lucu sekali, Kau memperingatkanku untuk berhati-hati pada dirimu sendiri? Dengar Kak Justin, Aku tidak akan semudah itu mati di tanganmu,"


"Kalau begitu, Buktikan saat kita bertemu lagi lain kali. Tapi tidak dalam waktu dekat,"


"Lihat saja nanti," Chloe tersenyum, Menggenggam jam serta plester luka di tangannya. Netra birunya melirik luka di pipi dan jari Justin. "Btw, Luka di pipimu dan jarimu...,"


"Tidak usah diperdulikan, Aku bisa mengobatinya nanti. Lagipula ini tidak terlalu sakit,"


"Aku lupa kalau Kak Justin ini adalah seorang masokis," Kata Chloe sesaat menepuk keningnya.


"Ck!" Justin hanya berdecak tanpa berniat menjawab perkataan Chloe, Dia mendengus sesaat. "Aku pergi, dah,"


Justin berbalik berniat pergi dari area taman dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam saku celananya, Sebelum pergi dia menoleh sesaat pada Chloe.


"Jangan lupa obati lenganmu," Usai mengingatkan Chloe, Justin melangkah pergi menjauhi area taman. Meninggalkan sang gadis sendirian disana.


Sesaat Chloe terdiam, Lalu melirik dua buah pisau lipat tergeletak di tanah tak jauh dari tempat berdiri Chloe. Dua pisau yang dipakai mereka berdua untuk bertarung.

__ADS_1


"Masa pisaunya main ditinggal aja? Gak sayang tuh," Gumam Chloe heran.


"Ah, Bodo amat. Mending aku mengurus luka ku dulu,"


Chloe segera bergegas pergi dari area taman, Tak lupa menyimpan Jam tangan serta plaster luka dalam saku seragamnya.


**************


[Hari—H Olimpiade]


Hari Olimpiade yang ditunggu-tunggu pun tiba, Semua peserta tampak riuh dalam sebuah ruangan (Untuk sebagian Siswa-Siswi, Ada juga yang diem aja). Tentu saja Devian, Ian, Dan Chloe sudah dalam ruangan itu.


"Psstt...Ian, Nanti kasih jawaban ya," Bisik Devian, Berbalik menatap Ian yang duduk di belakangnya.


"Gak!" Balas Ian dingin.


Chloe yang duduk di samping Ian hanya tersenyum kecut mendengarnya. Devian beralih menatap Chloe.


"Nanti bagi jawaban ya Kak Chloe,"


"Aku kan mengerjakan Sastra Devian," Jelas Chloe mendengus.


Devian langsung mayun, Kembali menghadapkan tubuhnya ke depan. Sesekali menggerutu kesal.


Tak lama datang Kepala sekolah yang menyelenggarakan Olimpiade tahun ini, Memberikan bacotan panjang kali lebar pada para peserta dalam ruangan. Setelahnya Olimpiade itu dimulai.


Para Siswa-Siswi pilihan mulai sibuk mengerjakan kertas ujian masing-masing yang sudah dibagikan oleh pengawas, Membuat suasana dalam ruangan itu menjadi tegang dan hening.


TIK! TOK! TIK! TOK!


Waktu tanpa terasa berjalan begitu cepat, Suasana dalam ruangan itu semakin tegang. Chloe menatap nomor terakhir di lembar kertas soalnya, Mengingat-ingat jawaban yang benar. Tak lama akhirnya jawaban terakhir pun dia dapatkan.


"Selesai," Batin Chloe senang, Dia meletakkan pulpennya di meja. Netra nya melirik Jam yang berada di sudut ruangan, Tinggal 10 menit lagi maka waktu ujian itu akan berakhir.


Namun tampaknya Ian dan Devian belum selesai, Chloe berniat menawarkan bantuan pada Ian tapi Ian tiba-tiba saja menyodorkan sebuah kertas kecil secara diam-diam pada Chloe.


"Kasih ke Devian!"


"Lalu ujianmu?" Bisik Chloe pelan sambil menerima kertas kecil itu dengan cepat.


"Sudah selesai,"


Segera Chloe memanggil Devian pelan, Untungnya pengawas saat ini sedang keluar. Dan Siswa-Siswi lain masih sibuk dengan ujian masing-masing jadi mereka tidak akan memperhatikan tingkah Chloe.


"Devian," Panggil Chloe pelan.


Devian yang mendengar namanya di panggil lantas menoleh ke belakang, Chloe menunjuk kertas kecil di tangannya mengkode Devian untuk mengambil kertas tersebut. Lalu Chloe memberikan melewati bawah meja. Paham, Devian segera mengambil kertasnya, Tersenyum tipis sesaat.


"Thanks," Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu bergegas mengerjakan tugasnya kembali dengan waktu yang tersisa 5 menit.


Sungguh kerja sama tim yang somplak sekali.


*************


"Setelah melewati pemeriksaan secara berulang, Kami dari pihak penyelenggara Olimpiade Nasional tahun ini memberikan keputusan bahwa sekolah yang menang tahun ini adalah....," Pihak penyelenggara sengaja menjeda kata-katanya, Memperhatikan ekspresi beragam para peserta di Aula sekolah.


"Guard High School!" Teriak Pihak penyelenggara dengan gembira, Membuat seisi Aula langsung ribut dan bisik-bisik.


Justin, Raizel, Dan Felix yang memperhatikan dari sisi Aula agak terkejut, Tidak menyangka bahwa peserta pilihan dari sekolah yang mereka ajari menang Olimpiade.


"Wah, Sungguh sangat beruntung kita menang," Kata Felix dengan senyum mengembang.


"Kupikir gak bakalan menang karna selama seminggu belajar di Lab, Mereka kelihatan gak serius," Raizel memperhatikan Devian, Ian, Dan Chloe dari jauh.


"Yah, Setidaknya usaha kita gak sia-sia mengajari bocah-bocah itu," Justin dengan tampang datar, Bersidekap.


"Bocah!?" Raizel dan Felix menoleh menatap Justin, Merasa aneh karna Justin menyebut Devian, Ian, Dan Chloe bocah.


"Maju Devian," Kata Ian dingin.


"Kenapa harus aku!?" Protes Devian, Gak ingin maju.


"Halah, Lama kalian! Biar aku aja. Cuma ngambil piala sama piagam aja dorong-dorongan," Sindir Chloe melewati kedua pemuda itu menuju panggung.


"Males," Sahut Devian pelan.


PROK! PROK! PROK!


Suara riuh tepuk tangan dari seisi Aula terdengar nyaring saat Chloe menaiki panggung, Dia menerima piala dan piagam. Lalu memberikan ucapan terima kasih pada tim nya dan dosen pembimbing mereka (Justin, Raizel, dan Felix). Usai mengucapkan kata-kata mutiara, Chloe turun dari area panggung.


Sisanya seisi Aula mendengarkan kata-kata penutup dari pihak penyelenggara. Dan mulai membubarkan diri usai acara penutupan selesai.


**************


"Akhirnya aku dapat Beasiswa lagi," Kata Chloe senang, Menunjukkan Piala dan Piagam di tangannya.


Saat ini mereka sedang berjalan menuju parkiran mobil, Berjalan santai di tengah hiruk pikuk para peserta Olimpiade lainnya.


"Kak Chloe, Berikan Piagamnya. Aku juga ingin lihat," Pinta Devian. Yang langsung dikasih sama Chloe.


"Gak nyangka bisa menang gini, Padahal dari tampang kalian semua gak meyakinkan untuk menang," Raizel melirik Devian, Ian, Dan Chloe.


"Iyalah bisa menang, Kan Devian dikasih kunci jawaban sama Moonshi," Jawab Chloe yang kelewat jujur, Sampai-sampai di tatap tajam sama Devian dan Ian.


PLETAK!


"Kenapa dikasih tau, Sunshi!?" Kata Ian dingin, Saking keselnya dia menjitak gadis bersurai biru itu.


"Ugh...Kenapa harus kepalaku terus yang jadi sasaran," Ringis Chloe sambil mengusap Kepalanya yang agak nyut-nyutan habis dijitak sama Ian.


"Wah, Curang tuh," Tuding Felix. Menoleh menatap Devian dan Chloe.


"Tapi kalau gak begitu, Kita juga gak bakal menang," Kini Justin yang membuka suara.


Dia membuka kunci mobilnya setelah sampai di parkiran, Lalu masuk di bagian kemudi. Yang lain ikut masuk dari sisi lain, Masing-masing mengambil tempat duduk yang menurut mereka nyaman. Chloe memilih duduk sendirian di belakang mobil dekat bagasi.


Tak lama mobil Justin melaju menuju jalan raya keluar dari area parkiran.


****************


[Hari Kelulusan]


Hari yang mengembirakan bagi semua angkatan kelas 12, Di Aula ini. Mereka akan melepas Status pelajar mereka dan akan menjalani kehidupan masing-masing setelahnya. Yang mempertemukan mereka semua adalah sekolah, Tapi yang memisahkan mereka adalah masa depan.


Kepala sekolah Guard High School memberikan kata-kata mutiaranya di panggung, Sejenak terdengar isak tangis dari beberapa Siswi di Aula. Ada yang sedih karna akan berpisah, Ada juga yang biasa-biasa aja.


Usai acara perpisahan selesai, Semua angkatan 12 berfoto bersama dengan kepala sekolah dan para guru. Setelahnya mereka membubarkan diri, Entah untuk mengucapkan kata perpisahan dengan teman atau yang lainnya entahlah.


Chloe masih berdiam diri di tempat, Memperhatikan Siswa-Siswi di sekitarnya. Mencari keberadaan Alice dan Evelyn.


Tak lama sebuah tepukan di pundaknya membuat sang gadis menoleh, Itu adalah Alice dan Evelyn baru saja datang.


"Chloe, Huuwaaa! Kita akan berpisah," Kata Alice dengah Netra caramelnya yang berkaca-kaca, Memeluk Chloe secara tiba-tiba.


"Gak kerasa kita bakal pisah gini, Huhuhu," Evelyn ikut memeluk Chloe.


"Iya, Mau gimana lagi," Chloe tersenyum sambil memeluk Alice dan Evelyn balik.


"Eh, Gimana kalau kita satu kuliahan aja nanti? Biar beda fakultas tapi masih bisa ketemu kan?" Usul Alice melepaskan pelukannya.


"Emangnya kau udah nentuin mau kuliah dimana?" Evelyn ikut melepaskan pelukannya, Memandang Alice yang nyengir.

__ADS_1


"Belum sih, Kalau Chloe gimana?"


"Belum juga, Masih bingung,"


"Hm...Cari dulu deh, Nanti kalau udah ketemu. Kabarin yang lain," Kata Evelyn, Dan diangguki oleh Chloe dan Alice.


Mereka kemudian masih asik membicarakan hal lainnya, Namun tak berselang lama tiba-tiba saja terdengar suara kaca pecah seperti habis dilempari batu.


PPRRAANNGG!


"WOI! KELUAR KALIAN SEMUA! HADAPI KAMI DISINI!"


Teriakan seseorang dari luar lapangan membuat seisi Aula kebingungan terlebih lagi di luar sana juga terdengar suara mesin motor yang sengaja di besarkan hingga seisi Aula memutuskan untuk keluar melihat apa yang terjadi.


Di depan gerbang tampak anak-anak geng motor yang berjumlah puluhan orang berdiri berjejer menutupi jalan keluar masuk gerbang, Seragam mereka tampak acak-acakan khas berandalan dengan gaya rambut yang juga tak beraturan. Serta mereka juga membawa senjata tajam seperti pisau, Celurit, Kapak, Gergaji, Dan lain-lain.


"Anak geng motor!? Tunggu sepertinya aku kenal dengan seragam yang mereka pakai," Pikir Chloe menatap lekat salah satu seragam para anak geng motor itu.


"Chloe mereka berasal dari Florion High School, Sekolah tetangga," Jelas Holy usai memeriksa seragam para geng motor itu.


"What!? Ngapain mereka kesini pakai bawa senjata tajam segala?"


"Entahlah,"


Para Siswa perempuan tampak ketakutan melihat para anak geng motor itu, Termasuk Alice dan Evelyn kecuali Chloe.


Kepala sekolah memajukan diri, Berusaha menenangkan emosi para berandalan itu.


"Tolong tenang dulu, Kenapa kalian menyerang sekolah kami?" Kata Kepala sekolah berusaha tidak terpancing emosi.


"KAMI TIDAK TERIMA DENGAN KEMENANGAN SEKOLAH KALIAN, KALIAN SUDAH MEMENANGKAN DUA PERLOMBAAN SEKALIGUS. JADI KAMI INGIN KALIAN MEMILIH SALAH SATUNYA ATAU SEKOLAH INI AKAN KAMI HANCURKAN!"


"BENAR!" para anak-anak geng motor lain setuju dengan perkataan ketua mereka.


"Mana bisa begitu! Kemenangan ini atas usaha murid-murid saya sendiri! Kalian tidak bisa menghakimi kami seenaknya!" Jelas kepala sekolah marah.


"Oh, jadi gak mau ya?" Ketua geng motor itu mengangkat tangannya, Mengkode para anak buah di belakangnya. "Semuanya serang mereka! Hancurkan sekolah ini!"


Para geng motor itu segera menyerang Siswa-Siswi disana termasuk para guru dan kepala sekolah, Para Siswi berteriak histeris dan berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri.


Sedangkan para Siswa dan guru laki-laki mencoba menghalau dan menghentikan para geng motor tersebut, Namun karena para geng motor itu memiliki senjata maka Sebagian Siswa ada yang terluka.


Mereka bukan hanya membuat kerusuhan di sekolah tapi juga merusak properti sekolah itu, Beberapa Siswi ada yang menangis dan sebagian lagi berlarian memasuki gadung sekolah untuk Bersembunyi.


Chloe sangat panik dan juga bingung, Dia masih berdiri diantara lautan manusia yang sedang bertarung. Ingin keluar dari area Sekolah pun percuma karena gerbang sekolah di tutupi oleh anak buah geng motor itu.


"Chloe, Jangan berdiam diri saja disana! Cepat bersembunyi dalam gedung," Holy mencoba menyadarkan Chloe yang tampak kacau.


"Tapi, Bagaimana dengan Alice dan Evelyn? Aku tidak bisa melihat mereka diantara ratusan manusia ini!" Netra birunya mencari-cari diantara kerusuhan itu, Beberapa Siswi berlarian menabraknya namun Chloe tidak menghiraukan hal tersebut.


"Lupakan soal mereka dulu, Yang terpenting adalah keselamatan diri sendiri,"


"Cih! Hari yang seharusnya bahagia malah berubah menjadi kerusuhan karna ulah para geng motor dari Florion High School ini," Kata Chloe frustasi.


Dia segera berlari memasuki dalam gedung, Melewati kerusuhan yang terjadi. Banyak para Siswa yang terluka parah karna terkena tebasan benda tajam dari para anggota geng motor.


TRANG!


"Hah?" Chloe berhenti berlari sesaat setelah mendengar suara benda jatuh tepat di hadapannya beberapa meter.


Tak lama tiba-tiba Suasana disekitar mulai berlahan-lahan berkabut dan semakin lama menjadi kabut pekat hingga Chloe hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi dalam jarak 1 meter, Bahkan dia tidak bisa melihat keberadaan Holy.


Refleks Chloe menutup mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang dibawanya dalam saku.


"Ini gas air mata! Selain membawa benda tajam, Mereka ternyata juga membawa gas air mata. Aku tidak bisa melihat keberadaan Holy," Pikir Chloe melihat sekitarnya yang berkabut, Dengan waspada.


"Holy! Kau dimana?" Kata Chloe berusaha melihat ke sekelilingnya.


"Chloe, Aku disini. Tepat di arah barat,"


Chloe menoleh, Mencari keberadaan Holy sesuai intruksi dari suara Holy. Namun Chloe tetap tidak menemukan apa-apa, Dia tetap tidak melihat apa-apa selain kabut.


Gadis itu memutuskan untuk melanjutkan larinya ke sembarangan arah, Bahkan dia masih bisa mendengar suara kericuhan yang disebabkan oleh geng motor itu. Pandangan Chloe sedikit mengabur karna efek yang disebabkan oleh gas air mata itu.


Hingga tiba-tiba saja sebuah vas bunga melayang mengenai kepala Chloe. Sesaat tubuhnya limbung hampir jatuh gara-gara Vas bunga itu.


NYUT!


"Akh! Kepalaku sakit," Chloe berhenti sejenak, Memegangi kepalanya yang sedikit berdarah.


Seseorang tiba-tiba saja berada di belakang Chloe, Membalikkan tubuh gadis bersurai biru itu kasar menghadapnya.


CCRRAASS!


Chloe terdiam membeku, Matanya melotot memandangi sosok pria yang memakai masker di wajahnya, Wajah pria itu tidak terlalu terlihat jelas karna pandangan Chloe terhalang kabut. Chloe menunduk menatap sebuah pisau yang kini menancap tepat di perutnya. Darah segar berlahan mengalir dari sana.


"Uhuk!"


Gadis bersurai biru itu memuntahkan darah segar dari mulutnya, Tubuhnya ambruk menghantam lantai marmer yang keras. Sosok pria asing itu segera pergi dari hadapannya, Usai menyelesaikan urusan.


Setelah mendeteksi keberadaan Chloe, Holy segera terbang menuju Chloe. Mereka sempat terpisah karena kabut tadi. Namun pemandangan Chloe yang sedang sekaratlah yang pertama kali Holy lihat, Holy sangat panik dan takut, Sang System bergegas terbang mendekati Chloe.


"Chloe! Jangan mati!"


Samar-Samar Chloe mendengar suara tanpa wujud di kepalanya sebelum pandangannya menghitam.


"Misi gagal, Karakter Chloe Amberly mati,"


"Peringatan! Misi gagal, Jiwa Chloe Watson akan hilang dan mati!"


Ya itulah suara dari Program yang selama ini tidak pernah Chloe temui, Sejenak Chloe merasakan jantungnya sakit dan Napasnya sesak. Detak jantung nya berlahan melemah dan akhirnya Kelopak matanya menutup selamanya meninggalkan Holy yang masih berteriak memanggil nama Chloe.


TAMAT


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gak bercanda ding:v.


Wkwkwk, Pasti banyak yang protes gara-gara Sad endingšŸ˜…, Yah sejujurnya masih ada kelanjutannya sih. Yang ini sudah selesai. Author akan melanjutkannya di Season baru alias Season 2. Cuma mungkin Author akan libur menulis beberapa hari (Enggak tahu sampai kapan, Kalau lagi mood bakalan cepat Up nya), Dikarenakan ingin mendinginkan pikiran sekaligus mencari inspirasi untuk Season 2 nanti (Halah bilang aja lagi fase mageršŸ˜‘ Plak:v).


Ehem, Abaikan yang tadi. Author Sekalian ingin berterima kasih kepada para pembaca Author yang sudah mendukung karya ini dari Episode pertama sampai terakhir. Terima kasih sebesar-besarnya untuk kalian ya guys😘.


Nantikan perjalanan Chloe yang baru di season 2 ya, Bersama ke-5 pria yang malu-malu kambing tapi mau (Plak:v).


See You Next later....šŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2