
[1 bulan kemudian...]
Hari-hari berlalu cukup damai setelah insiden penculikan yang dilakukan oleh para Red Devil, Setelah kejadian itu anggota yang tersisa hanyalah Ezra dan Chloe di asrama. Walau pun Chloe masih mempunyai Ezra sebagai partnernya, Tidak bisa dipungkiri bahwa Chloe sejujurnya masih merasa sedih telah kehilangan sebagian teman-temannya. Begitu pun dengan Ezra, Meski di luar ia terlihat tegar namun ia juga merasa terpuruk bahkan lebih buruk dari Chloe.
Sejak kematian teman-teman mereka Ezra lebih memilih menyendiri sekaligus menyibukkan diri dengan setumpuk dokumen-dokumen di mejanya, Alhasil ia jarang keluar dari kamarnya bahkan bertemu dengan Chloe saja hanya 2 kali seminggu meski mereka tinggal seatap. Sedangkan untuk urusan kebersihan asrama dan tugas lainnya berpindah tangan menjadi tanggung jawab Chloe. Dengan begitu Ezra hanya terfokus dengan urusan kantor dan dokumen yang memang sejak awal sudah menjadi tanggung jawabnya.
Meski sekarang mereka jadi jarang berkomunikasi, Chloe tetap berusaha melakukan tugas semampunya, Berusaha meringankan beban Ezra agar tak semakin terpuruk dengan kondisinya. Walau Chloe sendiri pun masih dalam pemulihan dari rasa sedihnya, Karna bagaimana pun Ezra adalah partner nya. Semuanya pasti akan semakin damai di waktu yang tepat.
*************
Srak!
Tangannya terulur meletakkan sekeranjang bahan makanan dan beberapa cemilan di kasir, Senyum ceria terpatri di bibir cantiknya hingga matanya sedikit menyipit. Penjaga kasir balas tersenyum dan mulai menghitung barang perbelanjaan satu-persatu.
"Totalnya 200$,"
Ia merogoh tas selempangnya menyerahkan beberapa lembar uang, Setelahnya ia menerima sekantong perbelanjaan miliknya. Ia berniat pergi dari sana, Tapi suara dari siaran televisi menghentikan langkahnya. Sejenak ia mencuri dengar apa yang dikatakan pembawa acara berita dalam siaran itu.
[Breaking New: Telah ditemukan sosok mayat di sebuah danau dengan kedalaman 10 meter, Diketahui sosok ini sudah tenggelam 2 bulan yang lalu, Dan baru ditemukan oleh salah satu masyarakat yang saat itu sedang memancing disini. Belum diketahui identitas dari mayat ini, Berikut cuplikan dari tempat kejadian...]
Detik berikutnya suara dari pembawa acara terdengar samar di kuping sang gadis, Netra birunya hanya terfokus pada layar kamera yang saat ini menyoroti sesosok mayat yang baru diangkat dari kedalaman danau.
Dia tidak terkejut lagi mendengar berita semacam ini, Sudah kebal dan berulang kali berita seperti itu diterimanya. Baginya kematian serta pembunuhan bukan lagi hal yang baru setelah dirinya melewati banyak cobaan di asrama maupun sekitarnya.
Para pengunjung disekitarnya mulai berbisik setelah berita itu tersebar di seluruh penjuru ruangan, Bahkan beberapa bisikan mereka sampai terdengar oleh sang gadis.
"Benar-benar aneh ya, Akhir-akhir ini banyak kasus pembunuhan,"
"Ya, Bahkan tak sedikit orang-orang kaya dicurigai sebagai pelakunya,"
"Mengerikan, Apa untungnya mereka membunuh orang-orang yang tak berdosa seperti itu?! Aku geram tapi juga takut,"
"Tentunya untuk keuntungan mereka sendiri,"
"Hei, Kudengar juga dari gosip lainnya kalau Raizel Freymon menghilang sebelum berita ini muncul. Apa kalian ada yang tau?"
"Tidak tuh, Bahkan pihak agensi tidak memberitahu alasan Raizel Freymon tidak muncul lagi di layar televisi beberapa bulan belakangan,"
"Mungkinkah berita ini ada hubungannya dengan dia?"
"Tidak mungkin, Pasti si Raizel itu hanya mengambil libur panjang untuk istirahatnya. Maklum saja dia kan idol,"
"Tanpa grupnya, Dia tidak akan pernah melakukan itu apalagi jika belum memiliki izin dari manejernya,"
"Ssttt...sudahlah, Ini hanya gosip belum tentu benar. Kita hanya segelintir orang awan yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan para idol. Cepatlah, giliran kau!"
Sejenak gadis bersurai biru itu bungkam setelah mendengar gosip miring tentang Raizel menyapu pendengarannya, Tanpa sadar kedua tangannya terkepal erat tanpa diketahui orang-orang disekitarnya. Kepalanya kembali menoleh menatap layar televisi.
Hanya jam arloji yang dipakai mayat itu yang membuat sang gadis dengan cepat mengenali sosoknya, Ya tidak salah lagi. Itu adalah Raizel Freymon. Karna terakhir kali bertemu pun pakaian yang dikenakan Raizel sama persis dengan sosok mayat tersebut, Itulah yang dia ingat.
Ia mengalihkan pandangannya tak kuasa melihat berita itu, Jika menduga-duga siapa pelaku pembunuhan itu maka dia akan menebak Liam jawabannya, Tidak salah lagi karna memang Liam sejak awal mengincar para anggota asrama bahkan tanpa alasan yang diketahui atau memang Vivian lah yang menyuruhnya untuk menghancurkan semua anggota asrama.
Untuk saat ini dia tak ingin terus-menerus larut dalam kesedihan, Bagaimanapun semuanya sudah berlalu, yang perlu ia lakukan hanyalah meneruskan perjuangan Justin dan anggota lainnya bersama Ezra. Namun masalahnya ia perlu mengeluarkan Ezra dari rasa terpuruknya walau ia menduga akan sulit.
Ia menarik tudung hoodie nya hingga menutupi separuh wajahnya, Dengan langkah santai gadis bersurai biru itu pergi meninggalkan area toko.
****************
Cklek!
Blam!
"Aku pulang!"
__ADS_1
Keheningan menyambutnya hanya ruangan yang penuh kesunyian sepanjang mata memandang, Sejenak hembusan napas terdengar dari sang gadis. Ia melepas sepatunya dan meletakkan di rak sepatu. Perlahan ia melangkah memasuki ruang dapur, Berniat meletakkan barang-barang yang barusan dia beli sekaligus memasak makan siang untuk mereka berdua.
Blam!
Sesaat netra birunya menangkap sosok yang tak asing baginya sedang duduk di meja makan, Terlihat fokus mengerjakan map-map dokumen yang menumpuk dengan layar laptop yang menyala ditemani secangkir kopi.
"Oh, Pak Ezra. Sedang apa bapak disini?" Chloe menatap heran, Pasalnya setelah kematian teman-teman mereka Ezra akan jarang terlihat keluar dari kamarnya. Dalam sebulan ini baru sekali ini saja Chloe bertemu Ezra.
Pria itu bahkan lebih memilih berkencan dengan map-map dokumen itu dibanding harus keluar kamar, Setiap jam makan pun harus Chloe yang mengantar makanannya. Jadi Chloe anggap ini pertemuan pertamanya dengan Ezra dalam sebulan ini.
"Dari mana saja kau?!" Bukannya menjawab Ezra malah bertanya balik tanpa menatap Chloe dan lebih memilih fokus dengan dokumennya.
"Um...dari toko, Aku belanja sebentar karna bahan makanan kita tinggal sedikit," Sang gadis berjalan melewati Ezra, Ia membuka pintu kulkas dan memasukkan bahan makanan kedalamnya. "Tidak biasanya bapak keluar kamar, Bapak menungguku?"
"Jangan ge-er! Aku disini karna lapar, Dan kau sama sekali tidak meninggalkan satupun cemilan atau sereal dikulkas," Ezra mendengus sinis, Melirik sang gadis sesaat. "Kemana perginya semua cemilan itu? Ngaku saja kau kan yang menghabiskannya?!" tuding Ezra kesal.
"Hehehe, Aku tidak sengaja menghabiskannya. Makanya aku beli lagi yang banyak untuk stok sampai 2 minggu kedepan," Chloe tertawa hambar, Mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia menoleh kembali ke freezer. "Bukannya masih ada sebutir telur, Mengapa bapak tidak masak sendiri saja?"
Ezra merotasikan matanya, Menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kau ingin dapur ini meledak?! Lagipula aku hanya bisa membuat sushi dan sejenisnya yang tidak dimasak, Kecuali ramen dan makanan instan. Kau juga tidak menyisakan ramen disini!"
"Eh? Bukannya sejak awal di asrama ini tidak menyediakan ramen kecuali makanan instan ya?" Chloe menutup pintu kulkas dengan keheranan, Seketika Ezra kehilangan kata-katanya mendengar jawaban Chloe. Tidak salah juga, Yang dikatakan sang gadis memang benar.
"Ck! Cepatlah masak, Aku sudah lapar tahu!" Ezra berdecak kesal mengalihkan topik, Ia kembali melanjutkan aktivitasnya sembari menunggu Chloe selesai masak.
"Iya iya," Dengan patuh Chloe mencuci tangannya dan mulai masak untuk makan siang mereka berdua.
Yah, Walaupun sebenarnya ia terkesan jadi seperti kacungnya Ezra. Tapi Chloe tidak masalah selama perintah Ezra tidak aneh-aneh, Ia menghargai itu untuk meringkan beban Ezra. Urusan menjadi Ceo tidaklah mudah, Makanya Chloe berusaha membantu semampunya.
TAK! TAK! TAK!
"Ngomong-ngomong apa bapak mendengar berita pagi ini, Tentang mayat yang ditemukan dikedalaman danau?" Chloe memulai obrolan sembari memotong daun bawang.
"Hm, Aku sudah tahu berita itu,"
"Dari jam arloji yang dipakainya sama persis dengan jam arloji milik kita, Pasti sudah bisa ditebak kan siapa?"
Aktivitas Chloe terhenti sang gadis bungkam sejenak teringat dengan berita tadi. Nada suaranya terdengar ragu. "Apakah Raizel Freymon?"
"Hm...,"
"Mengapa bapak bisa langsung menduga seperti itu, Bukankah identitas mayatnya belum diketahui?"
Ezra menghentikan aktivitasnya, Kepalanya sedikit menunduk menatap layar laptop. "Apa kau lupa perkataan Liam hari itu?! Dia bilang berpura-pura menjadi Devian setelah membunuhnya dan menyusup ke asrama untuk mengelabui kita semua. Terlebih mayat Rion, Felix, Devian, Ian, dan Aiden ditemukan lalu dimakamkan di pemakaman yang sama,"
"Hanya tinggal Raizel kan yang belum diketahui dia pergi kemana," Tambah Ezra tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jadi surat yang ditemukan di dapur dan tempat reruntuhan Cafe kak Felix tempo lalu adalah..."
"Palsu," Potong Ezra sejenak memejamkan matanya lalu membukanya kembali, Hembusan napas terdengar dari sang pria. "Tulisan yang tertulis di surat itu hanya akal-akalan Liam untuk mengelabui kita, Aku ingat terakhir kali melihat Raizel adalah saat dia keluar asrama dengan pistol milik Felix,"
Chloe memegang erat pisau di tangannya, Kepalanya tertunduk menatap potongan daun bawang di depannya. "Sekarang semuanya masuk akal. Bunga lily yang ditemukan di reruntuhan Cafe kak Felix dan potongan rantai itu menjadi bukti bahwa Liam berada di sana untuk membunuh kak Felix kan,"
"Hm...rencananya sangat matang tanpa ada celah sedikit pun hingga kita bahkan tidak curiga padanya yang berpura-pura jadi Devian," Ezra kembali menghela napas, Ia melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Chloe diam beberapa saat kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya. "Kuharap kejadian itu tidak terulang lagi,"
Ezra tidak menjawab membiarkan kesunyian melingkupi mereka, Pikirannya melayang-layang teringat beberapa waktu yang lalu sebelum Chloe pulang.
*****************
[Ezra Memory On]
Detak jarum jam terus berbunyi dalam ruangan yang sunyi, Menemani seorang pria bernetra hijau emerland yang tengah fokus dengan pekerjaannya. Sesekali netra miliknya melirik jam yang terpasang di sudut ruangan.
__ADS_1
Sejenak dia menghentikan aktivitasnya, Mengistirahatkan diri dari rasa lelah yang menyerang. Punggungnya menyandar pada sandaran kursi dengan netra yang terfokus pada layar laptop.
Tidak terasa sudah 1 bulan sejak kematian teman-temannya, Hari-hari dia lewati dengan damai tanpa berniat keluar kamar lagi. Ia butuh waktu untuk sendiri walau rasa sedih dan penyesalan itu masih ia rasakan sampai sekarang. Ezra tidak tahu sampai kapan dirinya akan terus menghindari dunia luar, Menghindar dari keramaian, Termasuk menghindar dari gadis bersurai biru itu. Untuk saat ini rasanya ia masih merasa enggan bertemu dengan Chloe.
Dia menghembuskan napas, Beberapa saat dirinya membuka laci meja Justin sekedar mencari sesuatu yang menarik perhatiannya. Semenjak Justin menghilang, Ruangan kerja ini menjadi milik Ezra meski hanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada yang tahu apa saja yang Justin simpan diruang kerjanya termasuk Ezra maka dari itu sesekali Ezra mencari tahu disela-sela istirahatnya.
Tangannya menyentuh sebuah map di dalam sana bukan hanya map tapi juga sebuah surat yang terlipat rapi, Dengan rasa penasaran Ezra meraih map tersebut dan membukanya. Meski ia tahu ini lancang karna tidak meminta izin pada Justin sebelumnya tapi rasa penasarannya lebih besar ingin tahu isi dari map itu.
Srek!
Saat membuka map itu dia menemukan banyak sekali data serta asal muasal keluarga dari gadis bersurai biru itu, Bahkan golongan darah, ciri-ciri fisik, dan latar belakangnya lengkap dalam map tersebut. Ia membaca semua kalimat tanpa terkecuali.
"Jadi sebenarnya si tengil ini berasal dari keluarga ini? Tuan Justin bahkan tidak memberitahu apapun padaku tentang hal ini," Gumam Ezra membolak-balikkan map itu.
Alisnya mengerut setelah beberapa kali membaca ulang map ditangannya, Sampai saat ini pun Ezra masih belum tahu kesepakatan antara Justin dan Chloe. Karna yang dia tahu surat merah itu ada ditangan sang gadis.
Mendadak perasaan ragu muncul dalam hatinya, Jika dia menyerahkan map sepenting ini pada Chloe. Apa Chloe akan pergi dari asrama dan meninggalkannya? Entah kenapa Ezra tiba-tiba saja merasa sedih jika sampai hal itu terjadi. Rasanya sangat berat jika dia menyerahkan map ini.
"Mungkin lebih baik kusimpan dulu map ini sampai waktu yang tepat, Biarlah untuk saat ini si tengil itu tidak mengetahui apapun tentang keluarganya," Pikir Ezra sembari mengembalikan map itu ketempatnya semula.
Ia beralih pada sebuah surat disamping map, Perlahan Ezra membuka lipatan surat itu dan membacanya.
To: Ezra Miracle
...Maaf tidak memberitahumu sebelumnya tentang map itu, Kuharap kau bisa membantuku untuk menjelaskannya pada Chloe. Dia saat ini sedang mencari keluarga kandungnya sesuai kesepakatan kami, Jadi aku sudah mendapatkan informasi dan data-data tentang keluarga kandungnya. Sayang sekali aku tidak mempunyai waktu yang tepat untuk memberitahunya masalah ini....
...Ezra jika dimasa depan terjadi sesuatu padaku atau yang lainnya, Dan kau membaca surat ini. Tolong bantu Chloe menemukan keluarga kandungnya ya, Aku merasa kasihan melihat dia berjuang sendiri mencari keluarganya itu. Jadilah partner yang baik dan aku merasa lega semakin hari sikapmu mulai terkendali, Pertahankan itu....
...Ngomong-ngomong jika kau sudah merasa tidak nyaman dengan posisimu sebagai Ceo penggantiku, Kau bisa mengembalikan posisi itu pada keluargaku. Mereka pasti akan memakluminya, Dan aku senang kau bisa menjadi orang kepercayaanku yang paling setia. Terima kasih Ezra....
^^^Justin Garfield^^^
Tangan Ezra sedikit gemetar saat memegang surat itu, Kepalanya tertunduk lesu. Jadi itu alasan kenapa Chloe diundang ke asrama ini oleh Justin, Dia tidak pernah tahu tentang hal itu karna dirinya pun tidak ingin tahu kesepakatan antara Justin dan anggota lainnya.
"Dia kehilangan keluarganya, Aku sekarang paham kenapa dia menyebut kami bagian dari keluarganya karna si tengil itu tidak punya keluarga asli sebelum bertemu kami," Ezra mendesah lelah, Dia melipat kembali surat ditangannya dan meletakkan di tempat semula.
Kemudian netra beriris hijau itu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 siang, Sesaat ia berdecak kesal.
"Ck! Sebentar lagi makan siang, Dimana si tengil itu? Dia belum mengantar makanannya," Karna sudah merasa sangat lapar, Ezra memutuskan untuk membawa semua pekerjaannya ke dapur sekaligus mencari keberadaan sang gadis.
[Ezra Memory Off]
****************
"Apa kuberitahu saja soal map itu ya? Ini waktu yang tepat sih tapi...," Ezra merasa gelisah pikirannya jadi tak fokus dengan pekerjaannya, Sejujurnya ia merasa berat jika menyerahkan map itu sekarang ditambah dia rasanya ingin Chloe tinggal lebih lama lagi diasrama bersamanya.
TAK!
"Pak, Soal insiden penculikan itu bagaimana? Apa pihak polisi sudah menemukan mayat Pak Justin?"
Ezra tersentak mendengar suara Chloe yang begitu dekat dengannya, Sesaat netra hijaunya memandang makan siang mereka. Hembusan napas terdengar dari sang pria.
"Tidak, Mereka bilang tidak menemukan mayat Tuan Justin. Tuan Justin dinyatakan hilang, Mereka hanya menemukan mayat Ian dan Aiden saat kita dirumah sakit. Hanya banyak mayat anggota Red Devil disana kecuali Liam dan Vivian," Jelas Ezra menyingkirkan map dokumen miliknya agar dirinya leluasa untuk sarapan.
"Begitu ya, Apakah bisa kemungkinan Pak Justin, Liam, dan Vivian masih hidup?" Chloe duduk di kursinya sembari menuangkan segelas air mineral untuk dirinya dan Ezra.
"Entahlah, Aku berharap mereka berdua mati saja kecuali Tuan Justin," Balas Ezra cuek.
"Seperti biasa, Lidah Pak Ezra tajam ya," Pikir Chloe sembari tersenyum kecut. Dirinya ikut memakan sarapannya usai menuangkan minuman.
Yah, Chloe harap Justin benar-benar masih hidup walau kemungkinannya kecil. Dia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada keluarganya di asrama ini.
TBC
__ADS_1