System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Pasar Malam


__ADS_3

TAP! TAP! TAP!


BRAK!


Chloe membuka pintu dapur dengan kasar, Napasnya tak beraturan. Netra beriris biru itu menatap liar sekeliling ruangan mencari keberadaan Ezra, Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada sosok pemuda bersurai hitam yang tengah menyantap sereal di mejanya.


Lantas Chloe berlari mendekati Ezra dan menggebrak meja yang digunakan sang pemuda untuk makan, Membuat meja itu agak bergetar karna gebrakan Chloe.


BRAK!


"Pak Ezra!"


"Uhuk...Uhuk...!"


Ezra sontak tersedak karna ulah sang gadis, Buru-buru ia meraih gelas di dekatnya dan meminumnya hingga setengah.


TAK!


"Apaan sih?! Pagi-pagi udah ribut!" Kata Ezra jengkel, Ia menatap sinis karna waktu sarapannya terganggu.


"Pak, Kemarin malam makan gak?"


"Gak!"


"Oh, Baguslah" Chloe mengusap dadanya lega.


Kening Ezra mengerut lalu tak lama dia menjitak kepala sang gadis tanpa perasaan.


PLETAK!


"Gimana mau makan tengil, Kau saja tidak masak!"


"Waadoww!"


Chloe berjongkok kesakitan sembari memegangi kepalanya yang barusan di jitak oleh Ezra, Tenaga pemuda bernetra hijau itu tidak main-main. Sekali jitakan saja membuat Chloe tak bisa berkutik.


"P-Pak Ezra jahat banget, Aku gak sempat masak kemarin malam karna ketiduran. Masa cuma perkara itu aku dijitak sih," Chloe mendongak dengan ekspresi memelas dan mendapat tatapan datar dari Ezra.


"Jangan lebay, Lagipula gak sakit-sakit amat. Dasar kau ini!" Ezra menepuk pelan surai biru milik Chloe yang berjongkok disampingnya.


"Aku gak lebay, Ini beneran sakit tau!" Protes Chloe sembari berdiri, bibirnya mengerucut kesal.


"Diem deh, Cepat makan sarapanmu nih! Udah dibikinin masih aja protes," Ezra menyodorkan semangkuk sereal tepat dihadapan Chloe setelah sang gadis duduk berhadapan dengannya.


Chloe menatap sereal di depannya, Agak merasa aneh dengan sikap Ezra. Ada apa gerangan dengan partnernya ini? Kepalanya habis terbentur kah? Tumben-tumbenan buat makanan untuk Chloe. Biasanya Chloe terus yang masak, Kalau Chloe gak masak biasanya Ezra bakalan masak buat dirinya sendiri tanpa memikirkan Chloe sudah makan atau belum.


Mulut sang gadis terbuka ingin mengatakan sesuatu namun Ezra lebih dulu menyahut seolah mengetahui isi pikirannya.


"Jangan tanya apapun tentang sikapku! Makan saja sarapanmu!"


Mendapat tatapan tajam dari Ezra sontak Chloe menunduk menghindarinya, Buru-buru sang gadis menyantap sarapannya tanpa berkomentar apapun lagi.


"Dua hari lagi kita akan bekerja seperti biasa di kantor, Jadi setelah sarapan kau bantu aku menyelesaikan sisa dokumen yang dulu sebelum dokumen yang baru berdatangan," Ezra meletakkan sisa peralatan makannya ke wastafel.


Chloe yang mendengar hal itu refleks mendongak menatap sang pemuda. "Lho? Bukannya itu tugas bapak ya? Aku mana paham kalau soal dokumen kayak gini. Pekerjaanku di kantor kan cuma jadi OG," Ujar Chloe bingung sembari meneguk air mineral bagiannya.


Ezra menghembuskan napas, Dia kembali duduk berhadapan dengan sang gadis lalu menopang dagunya. "Itu memang tugasku tapi aku sudah merasa lelah mengerjakan semuanya, Aku butuh bantuanmu,"


"Aku gak paham sama dokumennya pak," Senyum hambar tersungging di bibir gadis bersurai biru itu.


"Tidak masalah, Jika ada soal yang tidak kau pahami kau bisa bertanya padaku," Sesaat Ezra memalingkan wajahnya, Sembari berdehem kecil. "Hanya kali ini saja, Untuk kedepannya aku kerjakan sendiri,"


Chloe menimbang-nimbang permintaan Ezra, Jujur saja dia benar-benar tak paham dengan isi dari map-map dokumen yang dikerjakan Ezra. Tapi melihat ekspresi lelah dari sang pemuda membuat Chloe merasa kasihan juga sih, Akhirnya kepalanya mengangguk menyetujui permintaan itu.


"Baiklah, Tapi sebelum itu aku harus cuci piring dulu,"


Sontak Ezra memandang Chloe, Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun tapi dari netra hijaunya terlihat menyiratkan rasa senang. Meski Chloe tidak menyadari hal itu.


"Hm, Temui aku di ruang kerja kalau sudah selesai,"


Ezra meranjak dari sana, Melangkah pergi dari dapur meninggalkan Chloe sendirian.


Setelah ditinggal Ezra, Chloe kembali menghabiskan sarapannya. Sungguh suasananya begitu sunyi dan sepi, Tidak ada lagi suara canda tawa ataupun keributan disana selain suara burung-burung berkicau yang melintasi asrama.


Bayang-bayangan saat anggota asrama masih lengkap muncul di hadapannya. Suara canda tawa dan keributan yang dihasilkan oleh mereka terdengar jelas di kuping Chloe, Sejenak matanya mengerjap tak lama bayangan-bayangan itu menghilang membuat perasaan kecewa dalam diri Chloe. Karna ia sadar bahwa bayangan-bayangan tadi hanyalah ilusinya semata.


Plak!


Chloe menepuk kedua pipinya pelan sembari menggeleng dan bergumam kecil. "Sadarlah Chloe, Mereka sudah tiada. Jangan berharap lebih,"


Sang gadis menghela napas berat, Kemudian pikirannya melayang teringat mimpi yang dia dapatkan. Seakan mimpi-mimpi itu nyata atau kejadian itu memang dia alami sendiri?


"Holy diambil oleh Liam, Dan Aiden mati karna memberikan jantungnya padaku," Chloe menyentuh dadanya, Netra birunya agak meredup. "Pantas saja, Aku merasa jantungku berbeda dari biasanya,"


Kemudian perkataan terakhir Aiden sebelum pergi terlintas di benak Chloe. "Oh iya, Aiden bilang Rion meninggalkan sesuatu di laci kamarnya. Aku harus mencari benda yang dia maksud,"


Chloe bergegas menghabiskan sarapannya lalu buru-buru ia mencuci bekas makan dirinya dan Ezra. Setelah selesai sang gadis bergegas pergi menuju kamar Rion yang terletak di lantai 2.


****************


Cklek!


Blam!


Kepalanya menoleh kesana kemari mencari laci yang dimaksud Aiden, Setelah menemukan laci itu. Chloe segera membukanya dan melihat isi didalamnya.


Tidak ada apapun yang tersimpan disana selain selembar kertas dan sepasang gelang dengan liontin burung merpati berwarna silver. Chloe meraih sepasang gelang itu, Memperhatikan dalam diam sesaat.


"Indah sekali..." Chloe terpana dengan sepasang gelang yang ditemukannya. Lalu dia meraih selembar kertas, Membacanya dengan seksama.


To: Chloe Amberly


...Nona Chloe, Aku baru saja membeli sepasang gelang ini. Bagaimana cantik bukan? Akan sangat cocok jika nona yang memakainya. Hehe, Aku membelikannya khusus untukmu, Karna gelang ini sepasang jadi satunya bisa kau berikan ke siapa saja atau seseorang yang menurutmu pantas memilikinya....


...Sejujurnya aku ingin menyerahkan saat ulang tahunmu sih, Biar jadi kejutan gitu. Sayangnya aku terlalu sibuk untuk sekedar memberitahumu tentang gelang ini, Tenang saja aku akan mengingatnya saat hari ulang tahunmu, Semoga kau menyukainya nona Chloe....


^^^Kazuhara Rion^^^

__ADS_1


Seketika Chloe diam terpaku memandang kertas di tangannya, Tatapan beralih memandang sepasang gelang dalam genggamannya.


"Jadi ini hadiah untukku?" Chloe tersenyum lembut, Dia tidak pernah tahu kalau Rion sudah menyiapkan hadiah untuknya jauh-jauh hari. Meski ulang tahunnya sudah lewat 3 minggu yang lalu dan bahkan Rion sudah mati sebelum hari ulang tahunnya.


"Terima kasih Rion," Kata Chloe lirih masih tersenyum meski ia tahu Rion sudah tenang disana.


Chloe melipat kertas itu kembali dan mengembalikannya ke tempat semula, Hanya sepasang gelang berliontin merpati itulah yang dia ambil.


Chloe memakai salah satu dari gelang itu sembari memandanginya dengan gembira, Lalu dia memandang gelang satunya. "Hm, Satunya kasih ke siapa ya? Atau nanti aja deh. Pak Ezra pasti sudah nunggu lama,"


Dia menyimpan gelang satunya dalam saku bajunya lalu bergegas pergi menuju ruangan Ezra, Tak lupa mengunci kembali pintu kamar Rion.


*****************


Srek!


Lembar demi lembar Chloe kerjakan dengan susah payah, Sesekali dirinya bertanya pada Ezra jika menemukan soal yang tidak dia pahami. Jujur, Dirinya benar-benar pusing dengan soal-soal yang ia temukan, Selembar dokumen saja sudah membuatnya pusing apalagi banyak seperti yang dikerjakan Ezra tiap hari. Benar-benar menguras tenaga.


Sejenak Chloe mengistirahatkan diri sembari merenggangkan otot-otot jarinya yang kaku, Punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Melirik Ezra yang tengah fokus dengan dokumennya.


"Pak, Gak capek tiap hari ngeliatin tulisan mulu?" Yang Chloe maksud adalah dokumen yang sedang dikerjakan Ezra.


"Menurutmu?" Balas Ezra tanpa mengalihkan pandangannya.


Netra biru Chloe menatap bingkai jendela di samping Ezra. "Lelah dan menguras tenaga, Jadi gini rasanya jadi Ceo. Tiap hari harus mengerjakan dokumen lalu kalau ada kolega pasti ketemuan terus meeting,"


"Kau tahu sendiri kan bagaimana rasanya, Aku pun merasa lelah tapi mau bagaimana lagi ini sudah jadi pekerjaanku, Lagipula aku sedang memegang kepercayaan Tuan Justin disini. Salah sedikit saja maka reputasi perusahaan akan turun,"


"Aku tahu itu, Kuakui pekerjaan ini agak berat tapi cukup menyenangkan juga. Itung-itung aku jadi punya pengalaman bagaimana cara mengerjakan dokumen perusahaan,"


Aktivitas Ezra terhenti sesaat, Ia mendongak memandang Chloe dihadapannya, Senyum miring tercetak jelas dari bibirnya. "Heh! Jadi kau mulai merasa nyaman dengan pekerjaan ini? Kalau begitu kau pasti bisa membantuku menyelesaikan dokumen ini tiap hari,"


Seketika Chloe gelagapan, Pundaknya menegang saat mendengar sahutan Ezra. Refleks kepalanya menggeleng cepat. Sambil menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X.


"Gak mau! Bisa capek mataku kalau liat tulisan kayak gini tiap hari. Tapi kalau kadang-kadang mungkin bisa, Kalau aku gak sibuk sih,"


Ekspresi Ezra berubah datar, Ia merotasikan matanya sesaat lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


Srek!


Chloe meraih dokumen selanjutnya, Membaca setiap baris kalimat dengan teliti. Ia menatap Ezra kembali setelah membaca dokumen itu.


"Pak, Saham perusahaan terbesar di dunia dipegang oleh siapa?"


"Brisken Company,"


"Kenapa mereka?"


Ezra mendongak menghentikan aktivitasnya, Keningnya mengerut sesaat. "Apanya yang kenapa? Tentu saja karna Brisken Company adalah perusahaan terbesar no.1 di dunia. Saham mereka banyak dimana-mana bukan hanya satu perusahaan saja belum lagi perusahaan keluarga Brisken yang lainnya,"


"Apa bapak pernah kerja sama dengan salah satu perusahaan dari Brisken Company?"


"Gak, Lagipula tidak ada untungnya kerja sama dengan mereka. Mereka pasti beranggapan bahwa saham perusahaan-perusahaan kurang terkenal seperti kita ini hanya dianggap rendahan,"


"Apa begitu ya pandangan orang-orang yang derajatnya lebih tinggi dari kita?" Chloe menopang dagunya tampak berpikir.


"Entahlah, Itu hanya pemikiranku. Yang pastinya aku gak mau berurusan dengan orang-orang seperti mereka,"


Tak lama sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya, Netra birunya kemudian memandang Ezra dengan antusias. "Pak, Bagaimana kalau malam ini kita pergi ke pasar malam di alun-alun kota?"


Ezra melirik kecil. "Ngapain? Paling juga gak ada yang seru disana,"


"Ayolah pak, Kita gak pernah sekali-sekali ke pasar malam. Banyak yang seru kok disana, Ada bianglala dan permainan seru lainnya. Disana juga ada yang menjual berbagai macam makanan lho. Mau ya?" Bujuk Chloe dengan ekspresi memelasnya.


"Dari mana kau tahu informasi tentang pasar malam itu?"


"Dari brosur ini, Aku mendapatkannya di toko saat aku berbelanja kemarin," Chloe menunjukkan sebuah brosur yang dia simpan di saku bajunya.


"Berikan padaku!" Ezra meraih brosur itu dan membacanya secara perlahan.


"Hm, Jika dokumen-dokumen ini selesai sebelum jam 8 malam maka kita akan pergi kesana," Ezra meletakkan brosur itu di mejanya, Memandang Chloe yang tampak senang.


Sejujurnya ia tidak terlalu tertarik dengan pasar malam, Namun dari pada dia terus mendengar ocehan dan rengekan dari gadis ini jika dia menolaknya. Ezra putuskan menerima ajakan itu.


"Benarkah? Semuanya akan selesai secepatnya," Dengan antusias Chloe kembali mengerjakan dokumen dihadapannya, Kali ini lebih fokus dan teliti agar cepat selesai sebelum waktu yang sudah ditentukan.


"Hm,"


*****************


[Pasar Malam]


Tap! Tap! Tap!


Suara-suara riuh terdengar di sekitar mereka, Banyak para pedagang yang menjajakan dagangannya serta para pejalan kaki yang hilir mudik. Seperti pasar malam pada umumnya, Netra biru Chloe banyak menangkap berbagai macam permainan disana bahkan teater untuk menonton pertunjukkan juga ada.


Netra birunya langsung berbinar senang, Kepalanya menoleh kekanan-kekiri tanpa henti seolah tidak ingin melewatkan permainan satupun.


Meski sekitar mereka cukup ramai hal itu tidak menyurutkan semangat Chloe untuk berkeinginan mencoba permainan yang ada. Ezra yang berjalan disamping Chloe hanya mendengus kecil melihat tingkah sang gadis, Dia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana sembari menatap ke depan.


"Permainan apa yang ingin kau coba?" Tanya Ezra disela-sela langkah mereka.


"Bagaimana kalau makan dulu, Kulihat disana ada cumi bakar," Tunjuk Chloe pada salah satu stand yang menjual makanan dan minuman.


"Hm,"


Ezra melangkah lebih dulu mendekati stand yang dimaksud, Chloe bergegas menyusul Ezra. Sesampainya disana sang gadis segera memesan dua cumi bakar dan dua jus jeruk. Karna Ezra tidak pilih-pilih makanan jadi Chloe memesan makanan yang sama dengannya.


"Ini pesanannya," Penjual itu menyerahkan pesanan Chloe, Setelahnya Ezra membayar pesanan mereka.


Keduanya lantas menjauh dari stand, Chloe menoleh mencari bangku yang kosong untuk mereka berdua. Tak lama Ezra menunjuk sebuah bangku cukup panjang tak jauh dari posisi mereka.


"Tuh ada bangku kosong,"


"Ayo cepetan, Keburu didudukin sama orang lain," Chloe bergegas mendahului Ezra menuju bangku itu. Sesampainya disana ia mendudukkan diri dan mulai menyantap cumi bakar miliknya.


Setelah Ezra menyusul sang pemuda ikut duduk lalu menyantap cumi bakarnya, Sesekali netra hijaunya melirik Chloe yang duduk disampingnya.

__ADS_1


"Makannya pelan-pelan, Kaya gak pernah makan cumi bakar aja," Sindir Ezra menyadari cara makan Chloe yang agak berantakan.


"Ya namanya juga laper," Chloe memakannya dengan lahap lalu meminum jus jeruknya hingga habis. Puas menghabiskan makanannya, Sang gadis membuang sisa bekas makannya ke tempat sampah terdekat.


Suara hiruk pikuk dalam pasar itu masih terdengar, Semakin menjelang malam maka semakin ramai pengunjung yang datang. Tentunya karna ingin melihat pertunjukkan teater yang biasanya dimulai menjelang malam.


"Sekarang kau ingin apa?" Kata Ezra mendekati Chloe setelah membuang sisa bekas makannya.


"Hm...," Chloe mengedarkan pandangannya melihat satu-persatu permainan yang ingin dia coba. Tak lama jari telunjuknya menunjuk sebuah stand berisi banyak berbagai hadiah, Entah itu boneka atau hadiah lainnya.


"Main itu yuk," Chloe dengan antusias menarik ujung baju Ezra pelan.


Ezra tanpa banyak bicara segera menarik tangan sang gadis menuju stand yang dimaksud. Disana juga terdapat dua orang pria dan salah satu pria itu sedang memainkan permainan tersebut.


Bruk!


Ezra memandang pria yang sedang melempar bola dan tak lama bola itu melayang mengenai setumpuk kumpulan kaleng hingga kaleng-kaleng itu berjatuhan.


"Selamat, Anda berhasil. Hadiah apa yang anda inginkan?" Kata penjaga stand dengan senyum ramah.


"Aku ingin boneka itu," Sang pria menunjuk salah satu boneka yang terpajang disana, Sebuah boneka kelinci berukuran kecil berwarna pink.


Hal itu membuat Ezra dan Chloe saling lirik. Seolah sedang bertukar pikiran.


"Kukira cuma cewek aja yang suka boneka," Pikir Chloe. Sedangkan Ezra menggidikkan pundaknya acuh.


Sang penjaga stand tanpa bertanya apapun mengambilkan boneka tersebut lalu menyerahkannya pada pria tadi.


"Ini silakan,"


"Terima kasih,"


Kedua pria itu pun pergi setelah menerima hadiah mereka. Setelahnya Ezra dan Chloe mendekat ke arah stand, Ezra membayar permainan itu sembari menoleh pada sang gadis.


"Kau ingin hadiah apa?"


Chloe mengedarkan pandangannya menatap satu persatu hadiah disana, Lalu netranya menangkap sebuah papan skateboard bercorak orange dengan sedikit corak biru disisinya.


"Itu, Aku ingin skateboardnya,"


"Hm...," Ezra mengambil satu bola kecil dan bersiap melemparnya, Namun sebelum mulai Chloe segera mencegatnya.


"Tunggu pak!"


"Kenapa?"


"Ini Handphone siapa?" Tanya Chloe menyadari sebuah handphone tergeletak di meja stand, Ezra lantas ikut menatap arah pandang sang gadis.


"Oh, Jangan-jangan ini handphone milik pria tadi yang tertinggal," Seru penjaga stand ikut menyadari keberadaan benda persegi itu di mejanya.


"Kalau begitu, Biar saya aja yang mengembalikannya," Chloe menoleh pada Ezra setelah mengambil handphone tersebut. "Pak Ezra tunggu disini ya,"


"Hm, Nanti kususul. Kau kembalikan saja dulu handphonenya,"


Chloe mengangguk kecil dan berlari pelan dari sana mengejar kedua pria tadi. Ia harap semoga saja kedua pria tadi belum pergi terlalu jauh.


*****************


Tap! Tap! Tap!


"Ah, Itu mereka," Chloe melihat kedua pria tadi sedang duduk di sebuah bangku panjang, Setelah berlari beberapa menit untungnya tidak sia-sia Chloe mencari keberadaan mereka.


"Ano, Permisi," Kata Chloe setelah sampai di dekat kedua pria itu, Napasnya sedikit tak beraturan.


Obrolan keduanya berhenti setelah merasakan keberadaan Chloe di dekat mereka, Pria itu memakai kacamata hitam dengan pakaian formal dan memiliki rambut berwarna coklat muda. Sedangkan Pria satunya juga memakai kacamata hitam dengan pakaian formal dan memiliki rambut berwarna silver.


"Ya ada apa?" Sahut pria bersurai silver.


Chloe menyodorkan handphone yang barusan dia temukan. "Apa handphone ini milikmu? Aku menemukannya di salah satu stand permainan,"


Sesaat Pria bersurai silver memeriksa pakaiannya, Dan menyadari handphone miliknya benar-benar hilang. Dia kembali memandang Chloe dengan senyum tipis.


"Ah iya, Itu Handphone milikku. Terima kasih," Katanya sembari menerima handphone tersebut.


"Sama-sama," Balas Chloe dengan ceria.


Pria bersurai coklat muda menepuk pelan pundak pria bersurai silver disampingnya. "Kakak, Kau ceroboh lagi. Masih untung ada seseorang yang berbaik hati mengembalikan handphonenya, Jika tidak kau akan kehilangan lagi untuk kesekian kalinya,"


"Aku hanya tidak sengaja melupakannya," Balas pria bersurai silver dengan hembusan napas.


Pria bersurai coklat muda memandang Chloe tanpa ekspresi. "Sekali lagi terima kasih,"


"Ah, Iya. Tidak masalah," Chloe tersenyum kikuk, Mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Kalau begitu aku permisi,"


Kedua pria itu mengangguk, Sang gadis buru-buru pergi dari sana dari pada suasananya semakin canggung baginya.


Usai kepergian Chloe, Pria bersurai coklat muda kembali membuka mulutnya mengatakan sesuatu.


"Bukankah gadis itu mirip seseorang yang kita kenal, Kak?"


"Iya, Mirip. Tapi apa benar dia ya?" Sahut pria bersurai silver ragu.


"Dia mirip kakak pertama, Tatapan itu benar-benar sama persis dengan kakak pertama," Jelas pria bersurai coklat muda dengan serius.


"Kita tidak bisa langsung membandingkan dengan gadis itu, Meski mirip bukan berarti sedarah. Ayo pulang," Pria bersurai silver meranjak dari duduknya disusul pria bersurai coklat muda.


Mereka lantas pergi dari sana meninggalkan keramaian pasar malam.


***************


"Pak Ezra, Sudah dapat hadiahnya?" Chloe berhenti di sebuah bangku menemui Ezra yang menunggunya disana.


"Udah, Nih," Ezra menyerahkan skateboard yang sudah terbungkus rapi sambil berdiri dari duduknya. "Tumben minta skateboard, Buat apa? Aku gak pernah tuh melihatmu main ini selama tinggal di asrama,"


Dengan senang hati Chloe menerima skateboard yang dia inginkan. "Ada deh, Pengen aja rasanya main skateboard,"


Ezra hanya merotasikan matanya, Lalu berbalik melangkah duluan. "Ayo pulang, Udah hampir tengah malam,"

__ADS_1


"Hm," Chloe mengangguk patuh dengan gembira, Mengikuti langkah Ezra pergi dari keramaian pasar malam.


TBC


__ADS_2