
Perdebatan terus terjadi diantara Aiden dan Raizel, Keduanya sama-sama tidak ingin mengalah. Bahkan Chloe sudah pusing dengan tingkah kedua pria itu, Kepalanya berdenyut seakan ingin meledak.
"Cukup! Sudah cukup kalian berdua!" Bentak Chloe pada akhirnya, Melepas secara paksa pelukan kedua pria itu.
Seketika Aiden dan Raizel menoleh, Menatap Chloe yang sudah terlepas. Keduanya sama-sama terdiam saat melihat raut wajah sang gadis yang tampak kesal. Chloe bersidekap sesaat.
"Kedatanganku ke Asrama ini cuma untuk mengantar Pak Ezra, Bukannya buat masalah disini!"
"Tapi kan aku cuma gak ingin keduluan yang lain," Lirih Raizel menunjukkan ekspresi muramnya.
Sedangkan Aiden hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun lagi, Dia gak mau membuat Chloe semakin kesal.
Chloe menghela napas, Mencoba menenangkan diri. "Aku bukan milik siapa-siapa! Aku milikku sendiri oke! Aku permisi,"
"Hah?!" Kedua lelaki itu tersentak setelah mendengar perkataan Chloe.
Raizel menoleh berniat menghentikan langkah Chloe, Namun terlambat. Chloe sudah melangkah keluar pergi dari area dapur.
Sesaat Chloe berpapasan dengan Ian, Rion, Dan Felix yang baru saja memasuki area dapur. Ian menatap heran Chloe yang berpapasan dengan mereka lalu mengalihkan pandangannya pada Aiden dan Raizel.
"Ada apa dengan Chloe?" tanya Ian heran.
"Enggak ada apa-apa," Sahut Aiden dan Raizel serempak, Sama-sama menggeleng pelan untuk menutupi tingkah mereka tadi.
Sejenak Felix memilih diam menyimak percakapan itu tak lama tiba-tiba dia teringat sesuatu yang dia lupakan, Segera badannya berbalik melangkah pergi dari area dapur tanpa mengucapkan sepatah kata meski Rion sempat memanggilnya.
*************
[Luar Asrama]
"Memang lebih enak kalau pulang ke rumah aja," Gerutu Chloe pelan sembari menendang kecil kerikil yang berada di bawah kakinya.
Langkah kaki membawanya menuju keluar gerbang Asrama, Namun saat melewati Gazebo tak sengaja netra birunya menangkap siluet seseorang tengah berbaring menatap langit biru di atasnya.
"Devian...?" Gumam Chloe pelan.
Karna dia memiliki urusan dengan sang pemuda, Chloe putuskan untuk mendekati Devian yang sedang berbaring di gazebo. Menyapa pemuda bersurai hitam kecoklatan itu.
"Devian, Pagi," Sapa Chloe dengan senyum mengembang di bibirnya.
Mendengar sebuah suara menyapu pendengarannya sontak membuat Devian menoleh sesaat, Sorot netra coklat mudanya menatap dingin. Perlahan dia bangun dari rebahannya, Duduk santai di gazebo.
"Mau apa kesini?" Tanya Devian datar tanpa menyapa balik.
"Kebetulan kita bertemu disini, Aku ingin bertanya. Apa kau tahu cara melewati CCTV tanpa ketahuan penjaga?"
Sejenak alis Devian mengerut, Merasa aneh dengan pertanyaan Chloe. "Untuk apa tanya begitu? Kak Chloe mau maling ya?"
Seketika Chloe mendelik lalu berkacak pinggang. "Hei! Bukan begitu, Ini ada hubungannya dengan misiku! Aku perlu satu bukti lagi untuk diberikan ke Pak Justin. Dan masalahnya bukti itu adalah CCTV sendiri tapi para karyawan yang bertugas mengawasi CCTV tidak memperbolehkanku masuk selain Staff mereka,"
"Ck! Masalah seperti itu mudah sekali bagiku," Devian bersidekap dengan percaya diri, Menyandarkan punggungnya pada tiang Gazebo.
"Jika kau bisa, Apa kau mau membantuku Devian?" Chloe menatap penuh harap.
"Tidak! Misi itu bukan urusanku. Lagipula aku tidak ingin ikut campur dengan misi anggota lain. Kak Chloe minta saja pada anggota lain yang satu kantor denganmu," Balas Devian cuek, Memandang arah lain tanpa minat dengan permintaan Chloe.
Chloe mendengus sebal ikut bersidekap. "Huh! Ya sudah kalau gak ingin bantu. Beri tahu aku saja caranya!"
__ADS_1
"Pastikan karyawan yang mengawasi CCTV cuma satu orang, Lalu buat dia pingsan kalau perlu pingsannya lebih lama. Dan Kak Chloe bisa melihat rekaman CCTV itu. Tapi lebih aman kalau dilakukan malam hari,"
"Oh begitu, Sepertinya kau banyak pengalaman soal sembunyi-sembunyi gitu," Chloe manggut-manggut paham.
Berbeda dengan Devian yang hanya diam tak menyahut lagi, Pemuda itu segera meranjak dari duduknya. Memasukkan kedua tangan dalam saku sembari berjalan pelan membelakangi Chloe.
"Yah, Tugasku kan menjaga keamanan Asrama jadi aku cukup pengalaman dalam hal itu,"
Chloe menatap diam Devian yang membelakanginya, Tidak ada salahnya dia mencoba saran Devian tadi. Namun kini memorynya kembali mengingat perilaku Devian terhadapnya dulu. Dimana Devian berusaha membunuhnya saat itu.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki bergema dalam keheningan pagi itu, Devian berniat memasuki dalam Asrama karna sudah waktunya sarapan pagi tapi suara Chloe yang tiba-tiba membuat langkahnya terhenti.
"Aku...Meski dulu kau berusaha membunuhku, Tapi sekarang aku sudah memaafkan semua tindakkanmu. Dibalik semua rencana pembunuhan itu kau pasti punya alasan sendiri,"
Devian terdiam mematung di tempat setelah suara Chloe menyapu pendengarannya, Sesaat netra berwarna coklat muda itu meredup. Dulu dia memang berniat membunuh Chloe agar dia mendapat perhatian Justin lebih baik dari anggota lainnya. Namun sekarang dia punya alasan lain dibanding mendapat perhatian Justin.
Kepalanya tertunduk sesaat hingga helai-helai rambut menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya mengepal di sisi kanan kiri tubuhnya. Bayangan kejadian dia berusaha membunuh Chloe waktu itu terlintas secara tiba-tiba di pikirannya.
Tak lama Devian merasakan genggaman tangan seseorang menggenggam tangan kanannya, Refleks Devian mendongak. Perlahan kepalan tangannya mulai rilex saat tahu Chloe lah yang menggenggam tangannya.
Gadis bersurai biru itu tersenyum ceria, Menangkup salah satu tangan Devian dengan kedua tangannya. Kini sosok Chloe berdiri tepat dihadapan Devian membuat mata sang pemuda mengerjap sesaat.
"Devian, Lupakan soal masa lalu. Kini kita hidup dalam lembaran yang baru. Kita hidup dalam lingkaran yang sama, Satu keluarga. Kau sudah kuanggap sebagai salah satu keluargaku, Semua yang berada di Asrama ini adalah keluarga. Jadi apapun masalah dan perselisihan kita semua di masa lalu tidak ada hubungannya di masa kita sekarang,"
Chloe masih tersenyum ceria, Masih menggenggam erat tangan Devian. Sesaat tangannya terulur untuk merapikan helai-helai rambut Devian yang diterpa semilir angin kecil. Tatapan sang gadis begitu hangat. Perlakuan Chloe membuat Devian tak bisa berkata-kata, Tanpa disadari perasaannya menghangat, Perasaan aneh yang pernah dia rasakan sebelumnya kini muncul lagi.
Seakan ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Rasa yang tiba-tiba muncul, Rasa senang, aneh, gembira, dan semua itu campur aduk hingga Devian tak bisa berpikir jernih dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba jadi aneh karna perlakuan Chloe tadi. Dan lagi-lagi jantungnya berdetak tak karuan membuat mulutnya terkunci rapat.
"Kenapa sih?! Kenapa kak Chloe masih perhatian dan baik padaku dan semua anggota Asrama ini meski dulu kami pernah berniat membunuhnya? Kalau begini kan aku...,"
Chloe dan Devian seketika sama-sama terdiam, Mereka tersentak bersamaan apalagi saat Chloe tak sengaja melihat netra berwarna coklat muda itu berkaca-kaca. Sontak Devian segera melepaskan genggaman tangan Chloe, Pemuda itu berbalik membelakangi sang gadis.
Tangannya refleks mengusap matanya yang agak basah, Berusaha menghilangkan jejak air mata itu menggunakan lengan bajunya.
"Sial ada apa denganku?! Kenapa aku malah ingin menangis?! Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang muncul secara tiba-tiba ini," Pikir Devian masih berusaha mengusap matanya.
"Devian...?" Chloe merasa cemas karna Devian secara tiba-tiba membelakanginya, Tangannya terulur berniat menepuk pundak Devian namun diurungkan saat sang pemuda menoleh dengan senyum tipis.
"Aku baik-baik saja, Mataku hanya kelilipan kak Chloe," Dustanya masih tersenyum tipis, Kepalanya kembali menatap lurus tanpa menoleh lagi. "Terima kasih sudah memaafkanku dan anggota lainnya, Lebih baik kak Chloe pulang sekarang,"
Dap! Dap! Dap!
Chloe berniat membalas perkataan Devian namun sang pemuda sudah terlanjur pergi memasuki Asrama membuat Chloe mengurungkan niatnya. Padahal dia berniat menanyakan satu hal lagi tapi Devian sudah keburu pergi.
Alhasil netra birunya hanya bisa menatap kepergian Devian, Disaat bersamaan netranya menangkap Felix dan Devian yang saling berpapasan. Sesaat Felix menoleh heran dengan tingkah Devian lalu menghampirinya bersama sebuah benda di tangan sang pria.
Tap! Tap! Tap!
"Apa terjadi sesuatu disini?" Tanya Felix heran.
"Tidak, Kami hanya membicarakan tentang misiku lalu dia pergi begitu saja," Balas Chloe seadanya sesaat menggeleng pelan melengkapi jawabannya.
"Hm...Sikapnya memang begitu, Tidak usah kau pikirkan. Oh, Iya..." Felix menyodorkan sebuah benda pada Chloe, Mengkode sang gadis untuk mengambilnya.
"Nih kakak kembalikan, Meski kau sekarang tinggal pisah sama kami bukan berarti kau bisa memutuskan komunikasi seenaknya. Kau masih jadi bagian dari anggota kami. Ambillah!" Kata Felix tersenyum masih menyodorkan jam tangan itu.
__ADS_1
Sesaat tatapan Chloe tertuju pada jam tangan yang pernah dipakainya itu, Perasaan ragu muncul di hatinya.
"Tapi kan jam tangan itu punya Pak Justin, Aku tinggal pisah dengan kalian jadi kurasa aku tak berhak memiliki jam itu,"
"Justin pernah bilang jam tangan yang sudah diberikan adalah milik anggota masing-masing. Jadi tidak ada alasan untuk menolak jam ini," Felix perlahan meletakkan jam itu di tangan Chloe, Menuntun tangan Chloe untuk menggenggam jam tersebut.
Chloe masih menatap jam yang kini sudah berpindah ke tangannya, Lalu mendongak kecil.
"Jam ini benar-benar punyaku?!" Tanyanya masih tak percaya.
"Iya," Felix mengangguk pelan masih tersenyum.
Dengan bahagia Chloe kembali memakai jam tersebut di lengan kirinya, Dia kira tidak akan bisa memiliki jam modifikasi sekeren ini lebih lama tapi ternyata memang diberikan untuknya.
"Oh, Satu lagi," Suara Felix mengalihkan perhatian Chloe, Sang pemuda tampak mengambil sesuatu dari balik saku jaketnya. Tak lama disodorkan kehadapannya.
"Jaga baik-baik ya, Jangan dikasih ke anggota lain lagi,"
Chloe menerima surat undangan berwarna merah dengan angka 8 di tengahnya itu. "Apa artinya aku balik tinggal di Asrama ini lagi?"
"Kalau soal itu aku sudah berdiskusi dengan Justin, Dia memberikan keringanan untukmu. Kau bisa tinggal di rumah lamamu atau di Asrama ini, Sekarang itu terserah keinginanmu. Kau juga bisa kembali ke Asrama ini kapan-kapan,"
Sejenak senyum tipis terukir di bibir sang gadis. "Baguslah, Aku bisa sedikit bebas sekarang,"
"Apa selama ini kau tidak nyaman tinggal bersama kami?" Sesaat alis Felix mengerut merasa heran.
"Antara ya dan tidak, Soalnya aku cewek disini sendirian. Jadi agak gak nyaman juga sih," Cicit Chloe sembari tersenyum garing, Mengusap tengkuknya yang tidak gatal dengan canggung.
Felix hanya mengulum senyum mendengarnya, Dia paham apa yang dimaksud adik angkatnya ini. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada sang adik.
"Kau mau pulang? Mau sekalian kakak antar?"
Netra birunya sesaat menatap diam tangan Felix yang terulur, Senyum perlahan mengembang dari bibirnya. Tangannya meraih tangan Felix, Menggenggam erat.
"Yes, Dengan senang hati," Sahutnya ceria.
Dengan hati gembira Felix balik menggenggam tangan Chloe. Ah, Betapa dia merindukan momen ini, Dimana dia dan Chloe hanya jalan berdua saja. Sesaat Felix sedikit membungkukkan badannya, Lalu perlahan mencium punggung tangan sang gadis yang ia genggam.
"Sesuai permintaanmu my princess," Balasnya tersenyum lembut usai mencium punggung tangan adiknya.
Melihat perlakuan Felix membuat Chloe tertawa kecil sembari menepuk pelan lengan kakak angkatnya itu dengan nada bercanda. "Kak, Aku gak secantik Princess kayak di dongeng-dongeng lho. Masa di panggil princess?"
"Ah masa? Di mata sama di hati kakak kamu cantik kok," Felix terkekeh pelan, Mengusap pelan surai biru milik Chloe sembari merapikan helai-helai surai sang gadis. "Dirapiin begini malah aura cantiknya makin keluar,"
"Wah, kakak belajar gombal dari mana tuh? Jangan puji aku terus nanti aku jadi besar kepala," Canda Chloe ikut terkekeh yang mendapat gelak tawa dari Felix.
"Ada deh, Yuk pulang entar keburu siang," Ajak Felix sambil merangkul pundak Chloe usai menghentikan tawanya, Sang adik hanya mengangguk patuh.
Mereka berjalan menuju parkiran Asrama disertai canda tawa.
Sedangkan disisi lain, Tampak Rion dan Ian yang sejak tadi mendengar obrolan Felix dan Chloe sedang duduk di Gazebo dengan pandangan datar masing-masing. Lebih tepatnya pandangan itu ditujukan untuk Felix.
Awalnya mereka berniat menyusul pemuda bersurai coklat itu namun karna saat itu Felix terlihat ngobrol dengan Chloe jadilah keduanya memilih nunggu di gazebo (sekalian nguping obrolan Felix dan Chloe). Namun setelah menunggu agak lama mereka justru mendapat pemandangan Felix dan Chloe yang tampak akrab dan mungkin mesra di mata mereka.
Ian dan Rion memandang Felix dengan kilat kecemburuan di netra masing-masing, Cemburu karna kini Chloe terlihat lebih dekat dengan Felix dibanding mereka. Bahkan mereka juga mendengar gombalan pemuda bersurai coklat itu.
"Masih ku pantau, Belum ku sleding. Awas aja nanti kau Felix," Pikir Ian dan Rion kesal bersamaan dengan aura suram masing-masing.
__ADS_1
Suasana hati Ian dan Rion langsung bad mood setelah melihat pemandangan itu. Setelahnya mereka pergi memasuki area Asrama.
TBC