System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Justin dan Ezra


__ADS_3

[Warning: Bagi yang gak suka BxB tolong jangan baca chapter ini. Takutnya nanti kalian jadi geli sendiri😅 Soalnya di Chapter ini gak ada Chloe. Dan diambil khusus dari sisi Ezra. Tapi kalau tetap maksa baca Author gak tanggung jawab lho. Dan bagi yang Fujo atau suka Yaoi silakan baca aja. Happy Reading]


Ezra Side Pov


Disebuah kamar sederhana seorang pemuda tengah tertidur nyenyak, Dia terbangun saat cahaya matahari menyinari wajahnya melalui celah-celah gorden. Pemuda bersurai hitam dengan netra hijau emerland itu membuka kelopak matanya. Sesaat mengernyit berusaha melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 7 pagi.


Dengan ekspresi sayu dia bangun dari kasur, Mendudukkan dirinya sejenak. Lalu menyibak selimutnya, Meranjak dari kasur untuk melakukan ritual paginya.


Tak sampai 20 menit kini sang pemuda tampak sudah rapi dengan pakaian kantornya, Sesaat netra hijau itu melirik jas yang sudah tak berbentuk tergeletak di kasurnya. Ezra mengambil jas itu, Menatap sendu sesaat. Jas berharga miliknya sudah tak bisa dipakai lagi.


Dia menghela napas, Menyimpan jas itu dalam lemari sebagai kenangan lalu mengambil jas lainnya yang baru saja dia beli kemarin. Ezra mendekati cermin kamarnya, Memakai jas tersebut sambil merapikan jas yang dipakai dengan ekspresi datar. Menatap pantulan bayangannya sendiri di cermin.



Sesaat Ezra diam memandang bayangannya itu, Meneliti penampilannya sekali lagi. Netra nya beralih melihat sebuah figura yang terletak di atas nakas, Tangan Ezra terulur mengambil figura kecil itu, Menatap sebuah foto di dalamnya.


Kenangan dia bersama Justin saat mereka masih SMA, Di foto itu mereka selalu bersama. Kemana pun Justin pergi Ezra selalu disampingnya.



(Justin dan Ezra sewaktu SMA👆)


Tanpa sadar sudut bibir Ezra tertarik membentuk senyum kecil, Dia mengusap pelan foto tersebut.


"Tuan Justin andai kita bisa bermain bersama lagi seperti masa-masa SMA, Pasti lebih menyenangkan," Gumam Ezra masih tersenyum kecil, Dia meletakkan kembali figura itu ketempatnya.


Setelahnya Ezra kembali menghela napas entah keberapa kalinya. "Sayangnya sekarang tidak bisa seperti dulu lagi,"


Dia melengokkan kepalanya menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 7 tepat. Segera Ezra melangkahkan kakinya keluar kamar tak lupa mengunci kamarnya.


**************


[Kamar Justin]


TOK! TOK! TOK!


"Tuan Justin," Kata Ezra sambil mengetuk pintu kamar Justin.


Sejenak dia menunggu sahutan dari dalam beberapa saat, Namun tak terdengar sahutan apapun disana. Dengan perlahan Ezra membuka pintu kamar Justin, Mengintip untuk memastikan Justin sudah bangun atau belum.


KKRRIIEETT!


Ezra melangkah masuk mendekati kasur Justin, Dimana saat itu Justin masih tertidur nyenyak. Kemudian dia menuju gorden dan menyibaknya agar cahaya matahari masuk menyinari kamar sang pemilik asrama.


Ezra berniat kembali mendekati kasur Justin namun dia merasa ada yang aneh dengan Tuannya, Justin terlihat gelisah dalam tidurnya. Bahkan ekspresi pemuda bernetra orange itu terlihat takut dan resah, wajahnya juga tampak berkeringat.


"Ugh...!"


Mendengar lenguhan dari Justin, Ezra bergegas mendekati sisi kasur Justin dan berusaha membangunkan tuannya.


"Tuan Justin, Anda baik-baik saja?" Kata Ezra cemas sambil mengguncang pelan pundak Justin.


Merasa seseorang mengguncang pundaknya, Kelopak mata itu terbuka menampakkan netra orange miliknya. Ekspresinya tampak sayu menatap langit-langit kamarnya.


Justin bangun dari tidurnya, mendudukkan dirinya sesaat. Surai hitam miliknya tampak acak-acakan khas bangun tidur. Ezra hanya diam memandangi tuannya.


"Ezra...," Kata Justin pelan, Dia memegangi jas hitam Ezra. Menghadap Bodyguardnya itu.


"Ya Tuan?"


GREP!


Justin tiba-tiba memeluk perut Ezra yang masih berdiri di sisi kasurnya membuat Ezra agak tersentak tapi kemudian Ezra membalas pelukan Justin dengan heran. Sesaat Ezra merasakan tubuh Justin bergetar kecil.



"Apa anda mimpi buruk lagi Tuan?" Tanya Ezra sambil mengusap pelan punggung Justin.


"Iya, Mimpi itu datang lagi," Lirih Justin pelan, Menyandarkan kepalanya pada dada Ezra.


"Saya disini Tuan, Semua akan baik-baik saja," Ezra berusaha menenangkan Justin.

__ADS_1


"Ezra...,"


"Ya?"


"Jangan pernah tinggalkan aku, Cukup orang-orang itu saja. Jangan kau juga," Pinta Justin sambil menatap netra hijau milik Ezra dengan tatapan memelas.


Deg!


Sesaat netra hijaunya membulat, Justin lebih mirip anak kucing jika sedang memelas begitu di mata Ezra. Ezra tersenyum senang mendengarnya.


"Tentu saja Tuan, Saya tidak akan pernah meninggalkan anda," jawab Ezra senang.


Justin ikut tersenyum melepaskan pelukannya dari Ezra, Dia membenarkan surai hitamnya sesaat. Menyibak selimutnya dan meranjak dari kasur.


"Siapkan pakaianku, Aku mau mandi dulu," Kata Justin mengambil handuknya dan segera menuju kamar mandi.


"Baik Tuan,"


Ezra segera melakukan apa yang Justin perintahkan, Mood nya sangat bagus hari ini. Jadi dia melakukannya seperfect mungkin.


**************


Selama perjalanan menuju kantor Ezra dan Justin hanya diam tak ada pembicaraan. Ezra lebih fokus dengan kemudinya dan Justin yang bersidekap di jok belakang sambil memandangi jalanan kota dari balik kaca mobil.


"Tuan, Tentang penghianat itu bagaimana? Dia tampaknya masih berkeliaran di kantor dan si tengil itu belum mendapat info apapun soal misinya," Tanya Ezra melirik kecil Justin.


"Hm...Kita tunggu saja waktu yang tepat, Lihat saja apakah Chloe berhasil menjalankan misi pertamanya atau tidak. Kita beri waktu sedikit lagi untuk dia," Jelas Justin tersenyum tipis, Masih memandangi jalanan kota.


"Bagaimana kalau si tengil itu gagal?"


"Tidak ada yang tahu Ezra, Hanya waktu yang bisa menjawabnya,"


Ezra terdiam, Entah kenapa dia jadi kesal sendiri saat nama Chloe disebut apalagi oleh Justin. Sesaat tangannya mencengkeram erat kemudi mobil.


"Kuharap si tengil itu gagal, Tuan Justin pasti akan mengeluarkannya dari Asrama kalau misinya gagal," Pikir Ezra diam-diam tersenyum sinis.


"Ezra, Aku baru sadar satu hal," Justin menoleh menatap kemudi di mana Ezra duduk. "Kenapa Jas yang kau pakai hari ini berbeda? Kemana Jas pemberianku itu?"


Tatapan Ezra berubah sendu kembali, Tangannya yang memegang kemudi agak bergetar kecil. "Maafkan aku Tuan Justin. Aku tidak bisa menjaga Jas itu dengan baik,"


"Maksudmu apa Ezra?" Justin mengerutkan alinya sesaat.


"Jas itu sudah hancur dan tak berbentuk lagi. Seseorang sengaja menghancurkan jas itu dan pelakunya adalah Chloe Amberly,"


Justin diam sesaat mendengar penuturan Ezra. "Kenapa kau langsung menuduh anak itu?"


"Aku melihatnya sendiri Tuan Justin! Dia memegang gunting di tangannya dan memegang jasku. Sudah jelas kalau dia pelakunya!" Kata Ezra berusaha kalem namun nadanya sedikit meninggi. Tatapannya terus fokus pada jalan raya.


"Hal itu tidak mungkin terjadi kalau kau tidak lengah bukan?" Kata Justin dingin masih bersidekap, Membuat Ezra bungkam sesaat.


"Iya, Maaf Tuan. Saat itu aku juga sedang tidur sambil menunggu jas ku kering. Kupikir ketika aku tidur, Jasku akan aman-aman saja karna aku juga berada disana. Tapi....," Ezra menunduk kecil sendu, Tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.


Justin menghela napas kecil. "Ezra, Aku sudah sering mendengar laporan dari beberapa karyawan. Dan semua laporan itu mengenai sikapmu. Kau sering bersikap kasar pada mereka, Dan membuat beberapa dari mereka membencimu bukan?"


"Hm...," Ezra mengangguk kecil sebagai jawaban. Lalu menjawab lirih. "Tapi mereka duluan yang memulai, Mereka berbicara buruk tentangku dibelakang,"


"Hadapi dengan kepala dingin Ezra, Bicara baik-baik pada mereka. Kalau kau kasar begitu, Mereka juga bakal membencimu," Justin memijit keningnya sesaat.


Ezra kembali bungkam, Kembali menunduk kecil. "Akan kuusahakan Tuan,"


Justin tersenyum tipis sesaat, Menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok. Kembali menatap pemandangan di jalanan kota.


**************


[J.G Entertainment]


Ezra mengusap keningnya yang sedikit berkeringat dengan tisu, Tatapannya terus tertuju pada layar laptop. Jari-jarinya dengan lincah terus menari di atas keyboard, Berusaha menyelesaikan pekerjaannya.


Usai selesai mengerjakan tugasnya, Ezra segera pergi ke samping ruangannya dimana ruangan Justin berada. Dia mengetuk pelan pintu ruangan Justin.


TOK! TOK! TOK!

__ADS_1


"Tuan, ini saya,"


"Masuklah,"


Ezra segera membuka pintu memasuki dalam ruangan, Tak lupa kembali menutup pintunya. Dia mendekati meja Justin hingga berhadapan dengan sang pemilik ruangan.


"Tuan, Apa ada yang bisa saya bantu?"


Justin mendongak kecil lalu mengambil sebuah berkas di laci meja kerjanya, Menyodorkan ke hadapan Ezra.


"Ini, Tolong periksa data keuangan kemarin,"


"Baik,"


Ezra menerima berkas itu lalu duduk di sofa merah maroon yang sudah tersedia disana. Dia membuka lembar demi lembar memeriksa apakah ada yang kurang dari data keuangan perusahaan mereka.


Jam terus berputar tanpa henti tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Mereka terus berkutat dengan pekerjaan masing-masing dalam diam hingga akhirnya Justin menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Menutup layar laptopnya.


Tangannya melepas kacamata yang dia kenakan, Meletakkan atas meja. Menghela napas sesaat.


"Akhirnya selesai juga, Badanku capek," Pikir Justin sambil melemaskan jari-jari tangannya.


Ezra yang juga sudah selesai dengan pekerjaannya melirik Justin, Dia meletakkan berkas tersebut di meja tuannya.


"Ini sudah saya periksa semuanya tuan, Dan semua data-datanya sudah lengkap,"


"Bagus, Terima kasih atas kerja kerasmu Ezra," Justin tersenyum bangga sambil menyimpan berkas tadi.


"Sama-sama tuan, Apa perlu saya minta OG untuk mengantarkan minum?" Tawar Ezra masih berdiri di hadapan meja Justin.


"Boleh, Bilang padanya aku ingin Jus jeruk,"


"Baik,"


Ezra mengambil telepon kantor dan meminta salah satu OG untuk mengantarkan minuman untuk mereka. Setelahnya dia berdiri di samping kursi Justin dalam diam.


Keheningan melingkupi keduanya, Justin sibuk memeriksa tablet berisi data laporan kerja sama dengan perusahaan lain. Memeriksa peraturan apa saja yang harus dipenuhi kedua belah pihak agar kerja sama terus berjalan.


Tak lama Justin meranjak dari kursinya, Meletakkan tablet tersebut di meja lalu mendekati kaca-kaca besar yang terhubung untuk melihat dunia luar. Justin sesaat menunduk dimana dia melihat Transportasi lalu lalang di jalan raya tepat di bawah kantornya saat ini. Sedangkan Ezra hanya menatap gerak-gerik Justin dalam diam.


"Ezra, Menurutmu apakah aku sudah cukup umur untuk menikah?" Tanya Justin tanpa menoleh dan tatapannya terus tertuju pada dunia luar.


Ezra mengerutkan alisnya sesaat. "Kenapa Tuan bertanya begitu? Tentu saja di usia Tuan yang ke-22 tahun sudah cukup untuk menikah. Apa tuan berencana mencari pasangan?"


Justin mendengus kecil sebelum menjawab Ezra. "Nenek tua itu selalu memaksa ku untuk segera mencari pasangan, Mereka bilang sudah saatnya aku memiliki keluarga sendiri. Mereka mengancam kalau aku masih tidak memiliki pasangan maka mereka akan menjodohkanku dengan wanita pilihan mereka,"


Ezra merasakan dadanya berdenyut sakit saat Justin bilang akan dijodohkan dengan wanita pilihan keluarga Garfield jika masih tak memiliki pasangan. Ekspresi Ezra berubah muram.


"Apa Tuan akan menuruti keinginan mereka?" Tanya Ezra merasa sedih.


"Entahlah, Sebenarnya aku berencana menikah saat usiaku sudah 27 tahun sih. Untuk sekarang aku masih ingin sendiri, Dan masalah pasangan aku masih berusaha mencari," Jelas Justin masih memandangi dunia luar.


Ezra mendekati Justin berdiri di belakang pemuda bernetra orange itu, Ekspresinya agak cemas namun juga setengah kalem.


"Tuan Justin, Aku punya satu permintaan. Apa tuan bisa menyanggupinya?"


Justin menoleh sebentar menatap bodyguardnya. "Tentu kalau permintaanmu tidak sulit, Aku bisa sanggup. Jadi apa permintaanmu Ezra?"


Pemuda bernetra hijau emerland itu diam setelah mendengar penuturan Justin, Langkah kakinya semakin mendekat lalu tak lama Ezra melingkarkan kedua tangannya tepat di perut Justin. Memeluk tuannya dari belakang, Berbisik pelan tepat di telinga pemuda bernetra orange itu.


"Bisakah kita tinggal bersama hanya berdua saja? Tanpa ada anggota lain yang mengganggu," Bisik Ezra pelan, Menyandarkan kepalanya pada pundak Justin.


Justin tentu saja kaget dan tercengang dengan tindakkan Ezra apalagi saat Ezra memintanya tinggal bersama hanya berdua.


Deg! Deg! Deg!


Justin bahkan bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung Ezra yang memeluknya dari belakang, Rasanya lidahnya jadi kelu untuk menjawab permintaan Ezra. Jantungnya malah ikut berdetak tak karuan gara-gara permintaan itu.


"Ezra, Yang benar saja? Masa sih dia...," Pikir Justin mendadak kalut seketika, Secara tiba-tiba pikirannya jadi blank.


Astaga, Justin rasanya ingin pingsan saja karna pelukan Ezra dan permintaan itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2