
[Malam hari di Asrama]
Malam yang begitu hening dan sunyi tampak seorang pria sedang menatap bulan di balkon nya ditemani secangkir teh hangat, Netra berwarna hijau emerland itu sesaat meredup sendu. Ia duduk dalam diam penuh keheningan, Hawa dingin sekitarnya tak ia hiraukan.
Sesaat semilir angin kecil menerpa helai-helai rambut sang pria dengan netranya yang terus terfokus pada cahaya rembulan malam. Tangannya meraih cangkir teh di sampingnya, Menyesap teh itu perlahan.
Tak lama sebuah ketukan pintu mengintrupsi kegiatan sang pria, Membuat pria itu menghentikan kegiatannya sejenak. Dia meletakkan cangkirnya ke tempat semula, Meranjak dari sana menuju pintu kamarnya.
Cklek!
"Ada apa?"
"Ezra, Kau dipanggil Justin ke ruangannya," Balas Ian datar, Tanpa basa basi dia langsung pergi meninggalkan Ezra usai memberi pesan pada sang empunya.
Ezra diam sesaat menatap kepergian Ian, Setelahnya ia keluar kamar tak lupa menutup pintunya. Berjalan santai menuju ruangan Justin.
**************
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah,"
Perlahan Ezra melangkah memasuki ruangan Justin, Kembali menutup pintu demi menghormati privasi tuannya. Sejenak ia menunduk memberi hormat setelah berhadapan dengan Justin.
"Ada apa anda memanggil saya Tuan?"
Justin bersidekap menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Netra berwarna orange itu menatap lurus Ezra dihadapannya dengan raut serius. Sebelum memulai obrolan ia melepas kacamatanya, Meletakkan benda itu di meja.
"Ada yang ingin kubicarakan dan ini sangat penting. Pertama, Sejujurnya aku masih kecewa padamu Ezra, Semua sikap dan Tindakkan mu terhadap salah satu anggota ku sudah sangat keterlaluan. Seharusnya aku tidak bisa mentoleransi semua perlakuanmu padanya," Justin menatap dingin, Sorot netra orange itu tampak tajam.
"Aku juga sudah melihat semua rekaman CCTV Asrama ini, Aku bisa saja mengeluarkanmu dari Asrama karna sikapmu yang tidak pernah berubah itu dari dulu,"
Ezra memilih diam mendengarkan semua perkataan Justin, Dia menunduk kecil. Netra hijau emerland itu meredup kosong tanpa berniat menatap Justin.
"Saya tahu, Saya akan terima semua konsekuensinya karna sikap dan perbuatan saya," Balas Ezra lirih masih menunduk.
Justin menghembuskan napas kasar sembari melirik laptopnya. "Tapi sekarang aku berubah pikiran,"
Refleks Ezra mendongak setelah suara Justin kembali menyapu pendengarannya, Netra hijau nya bertemu netra orange Justin.
"Aku dengar dari Devian, Chloe sudah memaafkan semua perlakuan kita di masa lalu dan sekarang. Jadi kurasa kau harus berterima kasih pada anak itu, Alasan itulah yang membuatku tidak jadi mengeluarkanmu dari Asrama ini Ezra," Jelas Justin tenang.
Seketika Ezra kembali diam, Dia teringat dengan perkataan Chloe pagi tadi yang mengatakan bahwa dia juga salah satu bagian keluarga sang gadis di Asrama ini.
"Apa benar aku bagian dari keluarganya? Si tengil itu padahal sudah punya keluarga di rumah nya. Kenapa dia malah menganggap semua anggota Asrama ini adalah keluarganya?" Pikir Ezra dalam diam hingga suara Justin menyadarkannya kembali dari lamunan.
"Jadi kuanggap masalah ini selesai, Ingat Ezra. Beri dia kesempatan, Jadilah partner dan teman yang baik untuk Chloe. Dia masih perlu bimbingan di perusahaanku,"
Ezra hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Kedua, Soal perasaanmu itu...," Justin diam sesaat teringat perselisihannya dengan Ezra dulu. Seketika suasana canggung memenuhi ruangan Justin. Keduanya sama-sama memilih diam, Inilah yang Ezra takutkan.
Dia takut membuat hubungannya dengan Justin jadi renggang, Dan bodohnya dia malah membocorkannya dengan dipenuhi emosi saat itu. Kedua tangan Ezra mengepal erat, Kepalanya hanya bisa tertunduk dalam tanpa berani menatap Justin lagi.
"Aku tidak percaya ternyata kau punya perasaan padaku," Justin memandang arah lain dengan kaku, Merasa canggung ingin berkata lagi.
"Sebenarnya saya tidak ingin mengatakannya, Dan lebih memilih memendamnya saja. Tapi karna tersulut emosi hari itu, Saya jadi tidak bisa mengendalikan diri. Dan anda tahu apa yang terjadi selanjutnya," Balas Ezra pelan masih menunduk.
"Kapan kau suka padaku?"
"Mungkin saat SMA,"
Ingatan Justin beralih saat dirinya masih SMA bersama Ezra. Mereka yang selalu bersama, Sekolah yang sama, Dan terkadang mereka memakai pakaian couple yang sama. Justin pikir hubungan persahabatan mereka akan awet selamanya. Namun tampaknya tidak sesuai yang dia bayangkan.
Kembali helaan napas itu terdengar, Dia menautkan jari-jarinya dengan serius.
"Maaf Ezra, Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kita hanya sekedar sahabat tidak lebih. Kuharap kau mengerti. Carilah yang lebih baik dariku dan bisa membuatmu bahagia,"
"Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan sekarang, Aku sedang berusaha melupakan perasaan ini. Mungkin setelah pertemuan ini, Untuk sementara kita tidak bertemu dulu Tuan Justin," Ezra menatap Justin dengan raut datarnya.
"Apa kau akan pergi dari Asrama ini?"
"Tidak, Aku hanya perlu waktu sendirian,"
"Begitu ya," Justin menunduk kecil, Dia paham perasaan Ezra. Netra orange nya kemudian beralih menatap memory di laptopnya. Tangannya terulur melepas memory itu lalu menyodorkannya pada Ezra.
"Ambillah, Aku sudah mendengar rekamannya. Kau akan tahu siapa pelaku yang sudah memprovokasi para karyawan untuk membuat reputasi mu dan reputasi ku hancur,"
Tanpa segan Ezra menerima memory itu agak bingung. "Dari mana Tuan mendapatkan memory ini?"
"Chloe yang mendapatkannya, Sekarang yang dia perlukan hanya CCTV perusahaan yang dijaga oleh karyawan bawahan si penghianat itu,"
"Saya mengerti, Kalau begitu saya permisi,"
Justin mengangguk kecil usai Ezra membungkuk hormat padanya, Setelahnya pria dengan netra hijau emerland itu keluar dari ruangan Justin.
**************
Cklek!
Blam!
Sesampainya di kamar, Ezra menghempaskan tubuhnya di kasur. Menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa klasik, Sejenak terbayang rasa penasaran siapa yang sudah memprovokasi para karyawan untuk membencinya. Netranya beralih menatap memory kecil yang berada di tangannya.
__ADS_1
Ezra segera meranjak dari kasurnya menuju sebuah meja, Sesaat dirinya mengutak-atik laptop yang berada di meja itu. Memasukkan data memory yang baru saja didapatnya.
Ia mempertajam pendengarannya setelah tak lama rekaman itu di putar, Netra hijau nya terus terfokus pada layar laptop. Beberapa menit dia terus duduk disana hingga akhirnya rekaman itu selesai.
Tampak Ezra yang terdiam membatu, Satu tangannya terkepal di meja. Rahangnya sesaat mengeras menahan amarah dalam dirinya.
"Ethan...Aku tidak akan memaafkanmu!" Desis sang pemuda geram.
***************
[Keesokan harinya]
Hiruk pikuk dari beberapa karyawan terdengar di sepanjang lantai dasar. Mereka sibuk hilir mudik mengerjakan tugas masing-masing termasuk Chloe yang kini sedang ngepel lantai.
Sesekali netra biru itu mengawasi sekelilingnya, Waspada kalau-kalau si Pak G.M berada di sekitarnya. Hingga tiba-tiba sebuah tepukan tepat di pundaknya membuat sang gadis tersentak sesaat.
Lantas kepalanya menoleh ingin tahu siapa yang sudah menepuk pundaknya barusan.
"Hai, Apa kabar? Lama gak ketemu," Sapa sosok pemuda bersurai hijau dengan netra hijau sembari tersenyum secerah matahari.
"Kak Ash?!" Walau agak sedikit terkejut, Chloe balas tersenyum ceria menyadari kakak kelasnya lah yang barusan menepuk pundaknya. "Baik kok. Iya, Lama gak ketemu. Kak Ash kayaknya sibuk banget di kampus sampai-sampai kita jarang ketemu,"
"Hahaha, Ya begitulah. Akhir-akhir ini jadwalku sangat padat. Aku kesini juga karna kebetulan dipanggil Pak direktur," Ash terkekeh kecil sambil mengusap tengkuknya.
"Pantas saja jarang keliatan. Kak Ash sendirian aja kesini?"
"Iya, Kalau Revan, Ian, Raizel, Dan Al mereka sibuk latihan di gedung lain,"
Chloe manggut-manggut menanggapi obrolan Ash, Tak lama Ash merogoh saku jaketnya dan menunjukkan sebuah benda berkilau tepat di hadapan Chloe.
"Oh iya, Kalung ini milikmu kan? Maaf baru mengembalikannya sekarang,"
Tatapan Chloe tertuju pada kalung dengan logo C.M di tengahnya tepat di genggaman Ash, Tangannya segera meraih kalung itu sembari agak kaget.
"Iya benar ini kalungku, Aku juga baru sadar kalau kalungku hilang," Sejenak Chloe memperhatikan kalung itu dengan seksama, Lalu tersenyum sumringah. "Dimana kak Ash menemukan kalungku?"
"Sewaktu kita tak sengaja tabrakan, Dan kau terlihat buru-buru saat itu. Jadi mungkin kalungmu jatuh saat kita tak sengaja tabrakan," Jelas Ash dengan senyum yang masih tertampang di bibirnya.
"Makasih banyak kalau begitu Kak Ash,"
"Hm, Sama-sama. Aku pergi dulu ya,"
Chloe hanya mengangguk menanggapi sang pemuda, Ash segera pergi dari sana melanjutkan perjalanannya. Sedangkan sang gadis segera memakai kalung itu kembali. Dia menyembunyikan liontin kalung tersebut di balik seragam OG nya.
Setelahnya Chloe kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, Namun tangannya kembali berhenti seakan dia merasakan seseorang tengah mengawasi dirinya. Sesaat Chloe menoleh ke sekitarnya, Memastikan apakah memang seseorang tengah mengawasinya atau tidak.
"Mungkin hanya perasaanku," Pikir sang gadis menepis rasa penasarannya.
Dirinya kembali fokus pada pekerjaannya saat ini.
***************
Chloe mematikan keran usai mencuci tangannya di wastafel, Tugas membersihkan lantai sudah selesai. Dirinya tinggal membawa dua kotak kardus berisi berkas-berkas tak terpakai.
Blam!
Sang gadis keluar dari toilet mendekati dua kardus berukuran sedang tergeletak di lantai. Dengan sekuat tenaga dia mengangkat dua kardus bertumpuk itu hingga agak menutupi pandangan Chloe, Membawanya secara perlahan.
"Kardus-kardus ini berat juga,"
Baru saja kakinya melangkah beberapa meter dari posisi toilet, Tiba-tiba dirinya merasakan sedang menabrak seseorang.
BRUK!
"Aduh, Hei! Kalau jalan tuh liat-liat dong! Jadi OG yang bener!" Bentak seorang karyawan wanita yang barusan Chloe tabrak.
"Maaf kak, Pandangan saya terhalang kardus,"
"Halah alasan! Pakai otak dong! Kan bisa bawa satu-satu! Gitu aja repot!"
"Kak aku mau nanya, Kalau kakak di posisi saya bawa kardus satu-satu ke gudang bolak-balik dari lantai dasar ke lantai 5. Capek gak? Capek kan, Apalagi isi nya berat-berat," Balas Chloe dengan senyum tertampang di bibirnya.
Seketika karyawan wanita itu kicep, Berpikir dalam diam bahwa yang dikatakan Chloe ada benarnya. Kalau dirinya di posisi Chloe, Mana mau dia bolak-balik naik turun lift cuma buat mengantar kardus-kardus berat ke gudang. Wanita itu berdecih kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Kau berani sekali bicara begitu padaku! Status mu cuma OG disini tau gak!"
"Iya, Saya tau! Terus apa salahnya kalau saya cuma OG disini? Saya juga gak bakalan ganggu anda,"
Karyawan wanita itu semakin dibakar rasa kesal, Mulutnya terbuka siap kembali melontarkan kata-kata pedas plus caci maki. Namun niatnya terhenti saat netra nya menangkap sosok Road Manager melangkah mendekati mereka.
"Ada apa ini?"
"Ah, Kebetulan ada Pak Manager disini," Pikir wanita itu dengan senyum sinis.
"Pak, Si OG ini gak becus kerjaannya. Masa saya lagi jalan di tabrak sih, Alasannya cuma gara-gara pandangannya terhalang kardus!" Adu sang wanita sambil menunjuk Chloe yang tangannya sudah agak gemetar menahan berat dua kardus di tangannya pada sang Road Manager alias Ezra.
Sejenak Ezra memandang datar dua gadis di hadapannya, Lalu tatapannya beralih memandang Chloe.
"Kau sudah minta maaf padanya?" Tanya Ezra masih memandang Chloe yang diangguki sang gadis.
"Sudah Pak, Saya juga pengen secepatnya pergi tadi,"
"Heh! Tapi yang buat masalah kan kau duluan!" Hardik wanita itu tak terima.
__ADS_1
"Saya sudah minta maaf kak, Tapi kakak ngalangin jalan saya,"
Ezra menghembuskan napas kasar, Memandang dingin wanita yang suka membesarkan masalah sepele itu.
"Kau dengarkan tadi? Sekarang menyingkirlah dari jalannya atau kau akan lembur malam ini. Jangan terus cari perhatian orang lain! Kau bukan satu-satu nya karyawan yang perlu diperhatikan. Masih banyak karyawan lainnya,"
Wanita itu menggertak kesal, Memandang tajam Chloe sesaat. Lalu segera pergi dari sana sembari menggerutu.
"Cih! Gak Pak Manager, Gak OG nya. Sama-sama buat masalah di kantor ini," Gerutu wanita itu pelan berjalan melewati Ezra dan Chloe.
Tentu saja gerutuan wanita itu masih bisa didengar Ezra dan Chloe karna sang wanita masih belum berjalan terlalu jauh dari posisi keduanya. Seketika bulu kuduk Chloe meremang saat merasakan aura suram dari Ezra, Tatapan netra beriris hijau emerland itu tampak tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya.
"Haduh, Plis Pak Ezra jangan ngamuk lagi. Entar reputasinya makin rusak," Batin Chloe komat-kamit dalam hati agar tak terkena amukan Ezra.
Sekilas dirinya melihat Ezra kembali mendekati wanita itu atau lebih tepatnya menghalangi langkah sang wanita. Sorot mata nya lebih dingin dari sebelumnya, Samar-samar Chloe mendengar obrolan antara Ezra dan karyawan wanita itu.
"Saya tidak menyangka kau berani menjelek-jelekkan saya, Malam ini kau lembur ya. Kerjakan 3 map berkas penuh dan besok pagi jam 8 tepat serahkan ke saya. Lewat dari jam itu maka kau akan lembur lagi dan tugasmu akan diperbanyak. Paham kan?" Ezra tersenyum dingin penuh penekanan diakhir kalimatnya.
Seketika wanita itu tercengang hingga diam membatu sesaat, Lututnya mendadak hampir lemas setelah mendengar kata 'lembur' dari Ezra. Dari pandangannya sosok Ezra sudah seperti iblis mengerikan baginya.
"Astaga, Pak Manager ternyata mendengar gerutuan ku. Padahal aku yakin sudah jauh darinya,"
"Tapi Pak–"
Tanpa menghiraukan karyawan wanita itu lagi, Ezra melangkah pergi. Netra hijau nya melirik Chloe yang masih diam ditempat, Tak lama Ezra mengambil salah satu kardus berisi berkas itu sehingga pandangan Chloe tidak terhalang lagi.
Sang gadis hanya mengerjapkan matanya sejenak merasa heran sekaligus agak kaget dengan tindakkan Ezra.
"Cepat pergi! Jangan lama kayak siput!" Kata Ezra yang ditujukan untuk Chloe.
Sontak Chloe segera bergegas mengikuti Ezra yang sudah pergi memimpin jalan lebih dulu.
*************
[Lantai 5]
TING!
Keduanya segera keluar dari lift menuju sebuah ruangan bertuliskan gudang, Ezra membuka pintu gudang dan segera masuk kedalamnya diikuti Chloe.
Chloe meletakkan kardus di tangannya pada sebuah rak bersamaan dengan Ezra, Setelahnya sang gadis tersenyum puas karna tugasnya sudah selesai.
Sesaat dia menepuk-nepuk pelan tangannya sekedar menghilangkan debu-debu kecil yang menempel. Kemudian melengokkan kepalanya pada Ezra yang masih berada di sampingnya.
"Makasih Pak udah bantuin, Untung ada Pak Ezra. Kalau gak saya bakalan terus dihalangin sama kakak itu," Chloe tersenyum ceria sesaat.
Ezra mendengus kecil sembari bersidekap, Mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa menatap Chloe.
"Cih! Jangan salah paham, Bukannya aku peduli atau apa padamu. Aku hanya merasa kasihan karna kau harus berurusan dengannya!" Sahut Ezra dengan rona merah samar di kedua pipinya, Saking tipisnya sampai tidak terlihat.
Chloe terkekeh kecil walau dirinya merasa heran dengan sikap Ezra agak berbeda sekarang dibanding dulu yang terlihat jutek dan kasar. Tapi Chloe merasa senang kalau sekarang Ezra mulai agak kalem.
"Hehehe, Bapak baik juga ternyata,"
"Tentu saja aku baik! Memangnya kau pikir aku jahat?!" Ezra mendelik setelah suara Chloe kembali menyapu pendengarannya.
"Hm...Waktu pertama kali kerja di kantor ini bareng bapak saya berpikir bapak orang yang kasar dan mudah tersulut emosi, Jadi saya rasa waktu itu bapak terlihat jahat," Cicit sang gadis sambil memilin ujung baju seragamnya agak menunduk.
Ezra terdiam sejenak, Dia mengusap tengkuknya canggung. Sesekali netra hijaunya melirik Chloe, Teringat semua sikap kasarnya pada sang gadis.
"Aku...Mulai sekarang ingin merubah sikapku. Maaf atas semua perlakuan ku selama ini padamu, Dan terima kasih sudah menolongku beberapa kali dan sudah sabar menghadapi sikap kasarku selama ini,"
Chloe mendongak menatap Ezra yang tampak canggung, Pemuda itu beberapa kali melirik ke arah lain.
"Kau adalah partner ku, Jadi aku akan secara perlahan menerimamu sebagai rekan kerja ku,"
Mendengar hal itu membuat Chloe tersentak sesaat, Kemudian senyum secerah matahari terbit dari bibirnya. Dengan netra berbinar senang sang gadis meraih kedua tangan Ezra dan menangkup dalam genggaman tangannya. Perilaku itu sontak membuat Ezra agak terkejut.
"Pak Ezra memberi saya kesempatan? Kita akan bekerja sama seperti partner pada umumnya?" Tanya Chloe senang.
"Iya,"
"Senang mendengarnya, Saya juga sudah memaafkan semua sikap bapak. Saya akan membantu Pak Ezra merubah sikap bapak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu kita sebagai partner harus saling melindungi dan bekerja sama. Mulai sekarang mohon bantuannya ya Pak Ezra,"
Chloe semakin tersenyum lebar hingga matanya agak menyipit hampir menunjukkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi, Tangannya masih menangkup kedua tangan Ezra depan dada.
Sesaat Ezra diam terpana dengan perhatian dan ketulusan Chloe, Dia cukup tersentuh dengan kata-kata gadis di hadapannya. Belum pernah dirinya menemukan cewek setulus dan sesabar seperti Chloe, Malahan dia lebih sering menemukan cewek yang sama jutek nya dengan dirinya.
"Saling melindungi dan kerja sama ya...," Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Tentu, Mohon bantuannya juga Partner ku," Ezra ikut tersenyum hingga matanya agak menyipit disertai rona tipis di kedua pipinya.
Sinar matahari dari celah-celah jendela ikut menyinari keduanya yang saling tersenyum, Membuat suasana gudang itu seolah penuh kegembiraan.
Tak lama tiba-tiba Ezra menarik kembali kedua tangannya dari Chloe, Membuat sang gadis menatap heran. Sedangkan Ezra berdehem kecil untuk menghilangkan rasa canggungnya yang tiba-tiba muncul kembali dia terlalu terbuai dalam suasana tadi.
"Ehem! Kita memang sudah berjanji akan saling melindungi dan kerja sama sebagai partner. Tapi jangan lupakan, Aku masih membencimu tahu! Sangat benci padamu. Jadi jangan menyusahkanku saat kita kerja sama nanti!" Kata Ezra kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya.
Chloe kembali terkekeh pelan. "Tidak masalah Pak Ezra masih benci saya, Yang penting Pak Ezra sudah mau mengakui saya sebagai partner bapak,"
"Huh!" Ezra memalingkan wajahnya ke arah lain sedikit rona tipis samar kembali muncul di kedua pipinya.
__ADS_1
Tanpa menjawab lagi, Ezra bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan Chloe yang hanya mengikuti Ezra dari belakang sembari masih tersenyum kecil.
TBC