
Tap! Tap! Tap!
suasana begitu sunyi hanya terdengar suara derap langkah kaki memenuhi ruangan. Disaat semua penghuni memilih tidur bergelung nyaman dalam selimut berbeda dengan Ezra yang masih berkeliaran di sekitar asrama. Setelah kejadian dengan Victor ia tak bisa tidur karna perkataan kembaran Justin itu masih mengiang-ngiang di benaknya.
Alhasil Ezra memilih keluar kamar mencari udara segar, Ia memutuskan menuju Rooftop. Namun baru saja menaiki anak tangga samar-samar ia mendengar suara beberapa orang dari atas.
Refleks Ezra memelankan langkah kakinya agar tak menimbulkan suara terlalu keras. Semakin dekat dirinya dengan sumber suara semakin jelas pula suara itu terdengar.
Samar-samar dari jauh netra nya menangkap sosok dua bayangan sedang duduk di Rooftop, Entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Apa yang mereka berdua lakukan? Jam segini masih belum tidur," Pikir Ezra memperhatikan dua sosok bayangan itu dari jauh, Ia memutuskan mendengar pembicaraan dua sosok tersebut.
Disisi lain ternyata dua sosok yang sedang duduk di Rooftop itu adalah Ian dan Chloe, Mereka berdua terlihat tengah bersantai sembari menyeruput coklat panas sekaligus menatap bintang-bintang malam yang bersinar cerah.
Tiba-tiba Chloe menunjuk salah satu bintang yang paling besar dan bersinar dibanding bintang lainnya. Ia berseru senang. "Ian lihatlah bintang yang itu!"
"Memangnya kenapa dengan bintang yang itu?" Ian ikut menatap bintang yang ditunjuk Chloe sambil menyeruput coklat panasnya.
"lihat garis dari bintang paling besar itu, Kalau dihubungkan akan membentuk ikan,"
"Aku tahu, Sudah sejak tadi aku melihatnya. Ini permainan lama, Kau masih suka saja permainan ini,"
"Tentu saja aku menyukainya, Saat melihat bintang-bintang itu aku jadi teringat dengan adik-adikku di dunia nyata. Mereka suka main tebak-tebakkan dengan bintang," Chloe tersenyum sendu, Teringat dengan adik-adiknya. "Sekarang kabar mereka semua bagaimana ya?"
"Kau masih punya orang tua. Jadi ku yakin mereka akan baik-baik saja. Tidak sepertiku yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi," Balas Ian cuek seolah mengatakannya tanpa beban.
Chloe diam sesaat teringat dengan mimpinya dulu, Dibanding dengan dirinya hidup Ian jauh lebih menderita. Pemuda bernetra merah itu sudah kehilangan keluarganya di dunia nyata dan sekarang pun di dunia ini dia juga kehilangan keluarganya. Ian Maxwell maupun Ian Salvatore sama-sama memiliki derita dan nasib yang sama.
"Kudengar dari Holy, Dia sengaja menarik jiwamu di dunia nyata kesini agar bisa menemaniku di dunia ini," Jelas Chloe merapatkan selimut yang dipakainya.
"Jika benar begitu, Aku bersyukur bisa bertemu kau lagi dan tidak sendirian di dunia nyata," Sejenak Ian menunduk kecil. "Btw siapa Holy?"
"Dia sistemku di dunia ini, Tapi ternyata aslinya dia adalah Chloe Amberly yang asli. Dan saat ini dia memintaku mencari keluarga kandungnya,"
"Kenapa dia tidak mencarinya sendiri?"
"Katanya tidak bisa karna sudah mati didunia ini dan jiwanya tidak bisa keluar dari tempat itu, Makanya dia bilang sekarang hanya bisa membantuku dari sana. Selebihnya aku berusaha sendiri,"
"Jiwanya terjebak di sana?"
"Bisa dibilang begitu, Dia hanya memberikan beberapa kekuatan padaku agar bisa kugunakan nanti kalau terdesak,"
"Itukah alasan kenapa dia menarik jiwamu ke dunia ini, Hanya untuk mencari keluarganya?" Ian mengerutkan alis merasa agak kaget namun tidak terlihat di ekspresi datarnya.
"Benar, Sampai sekarang pun aku masih belum menemukan keluarganya. Entah kapan semua ini berakhir," Chloe menghela napas kecil, Kembali menyeruput coklat panasnya.
"Aku paham sekarang alasan keberadaanmu disini, Justin pasti mengetahui tujuanmu jadi dia ngajakmu menjadi anggota di asrama ini. Aku benar kan?"
"Iya benar, Tapi aku merasa heran tahu dari mana dia kalau aku sedang mencari keluarga kandung Holy?"
"Itu hal yang mudah baginya, Tinggal mencari informasi tentangmu, Maka dia akan mendapat apa yang dia inginkan. Semudah menjentikkan jari,"
"Uh...Entah kenapa terdengar seperti penguntit," Gerutu Chloe pelan.
Ian hanya diam tak membalas lagi, Ia sibuk memandang bintang di atas mereka. Sejenak suasana menjadi hening hanya terdengar suara-suara hewan malam disertai deru semilir angin pelan.
"Chloe Watson," Mendengar nama lengkapnya dipanggil membuat Chloe refleks memandang Ian yang masih menatap bintang.
"Iya?"
"Aku rasanya ingin segera pergi dari dunia ini,"
"Kau sudah mulai tidak betah ya Ian?"
"Mungkin, Aku merindukan dunia asli kita. Aku ingin kita keluar dari sini bersama-sama dan berharap semua yang kita alami disini hanya mimpi," Perlahan Ian menggenggam tangan Chloe disampingnya.
Chloe hanya tersenyum hambar mendengar harapan Ian, Tangannya yang sempat dingin perlahan menghangat karna Ian menggenggamnya.
"Kau mungkin bisa keluar dari sini tapi sayangnya aku tidak bisa karna misiku belum selesai,"
"Bukankah sudah kubilang kita akan keluar bersama-sama dari tempat ini, Itu artinya aku akan membantumu sampai misimu selesai,"
__ADS_1
"Kau tidak akan meninggalkanku kan?"
"Tidak! Tidak akan pernah! Aku tidak akan meninggalkan wanita yang kucintai," Seru Ian tegas, Netra merahnya menatap netra biru Chloe dalam.
Sesaat sang gadis merasakan pipinya sedikit merona tipis saat tatapan Ian tertuju padanya. Disaat itulah Chloe sadar Ian begitu tulus mencintainya dan sabar menunggunya.
Chloe menggenggam balik tangan Ian, Tersenyum ceria. "Nanti setelah kita kembali ke dunia nyata, Aku janji akan memberikan jawabanku kembali atas perasaanmu Ian,"
"Kau serius?! Janjikan?" Ian menunjukkan jari kelingkingnya meminta ikatan janji dari Chloe.
"Iya, Aku janji," Chloe masih tersenyum, Mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ian. Mengikat janji sama seperti waktu mereka kecil.
Tak lama Chloe menjauhkan tangannya lalu menempelkan tangannya di pipi Ian membuat pemuda bernetra merah itu agak tersentak kecil.
"Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Tidak, Hanya saja pipimu mulai dingin," Chloe menjauhkan tangannya. "Kau tidak bawa selimut sih,"
"Udaranya kan memang dingin, Lagipula aku malas bawa selimut," Balas Ian acuh.
"Huh! Dasar," Gerutu Chloe pelan sembari mengambil sesuatu di sampingnya. Ia membuka sebuah kotak kecil dan mengambil isinya. Terlihat sebuah syal berwarna abu-abu dengan simbol 'i.S' di ujungnya.
Chloe memakaikan syal itu dileher Ian tanpa peringatan, Sedangkan Ian hanya diam memperhatikan wajah Chloe dari jarak dekat. Usai memakaikan syal tersebut Chloe tersenyum puas.
"Cocok sekali, Gak merasa dingin lagi kan?"
"Hm, Kau yang buat sendiri?" Ian memperhatikan syal abu-abu yang dipakainya, Ia akui dirinya merasa nyaman dan hangat saat ia memakai syal itu seolah-olah Chloe terus berada di dekatnya.
"Aku suka syal ini," Pikir Ian tersenyum tipis.
"Iya, Aku coba-coba buat syal sendiri dan kau orang pertama yang memakainya Ian. Aku belajar merajut secara otodidak, Jadi mungkin masih ada beberapa benang yang longgar,"
"Tidak masalah, Ini juga sudah nyaman dipakai. Terima kasih,"
"Syukurlah kau terlihat suka dengan syal itu Ian. Sama-sama," Balas Chloe tersenyum ceria.
Ezra yang sejak tadi memperhatikan dan mendengarkan obrolan Ian dan Chloe hanya diam, Netra hijau nya sesaat menatap datar. Tanpa berkata-kata Ezra melangkah pergi meninggalkan area Rooftop.
Kembali ke sisi Chloe, Sang gadis menatap jam arlojinya yang menunjukkan pukul 10 malam beberapa saat lalu kembali menatap Ian.
"Selamat malam,"
Sang gadis segera meranjak dari tempatnya sembari memeluk selimut miliknya menuju kamar.
****************
Tap! Tap! Tap!
"Oh, Pak Ezra. Sedang apa disini?" Baru saja ia menuruni anak tangga beberapa langkah, Chloe dikejutkan dengan sosok Ezra yang bersandar di tembok seolah pemuda itu sedang menunggu sesuatu.
Pandangan Ezra beralih menatap Chloe setelah mendengar namanya dipanggil, Tidak ada Ekspresi di wajahnya. Ezra menegakkan tubuhnya menghadap sang gadis.
"Aku...tak sengaja mendengar semua obrolanmu dengan Ian. Aku dengar kalian berdua sebenarnya bukan berasal dari dunia ini. Dan alasan kau diasrama ini adalah untuk mencari keluarga kandung Chloe Amberly,"
"Jika kau bertemu dengan Chloe Amberly yang asli," Ezra menatap dingin gadis di depannya, Tatapannya begitu serius. "Lalu siapa kau sebenarnya, Jika kau bukan berasal dari dunia ini?!"
Chloe tersentak tak menyangka Ezra ternyata mendengar obrolannya bersama Ian, Seketika mulutnya terkunci rapat dan tanpa sadar dirinya memeluk selimut dengan erat saking agak gugupnya.
Sejenak Chloe menunduk kecil menghindari tatapan Ezra. "Apa jika kuberitahu yang sebenarnya, Pak Ezra akan percaya denganku? Bukankah Pak Ezra tidak pernah bertemu denganku sebelumnya,"
Ezra menghembuskan napas pelan, Lalu tanpa peringatan ia menarik tangan Chloe entah kemana.
"Kita akan buktikan jika kau memang benar-benar bukan dari dunia ini,"
"Eh? Ki-Kita mau kemana?" Chloe terkejut dengan tindakkan Ezra yang tiba-tiba menarik tangannya, Refleks ia mengikuti langkah pemuda bersurai hitam itu.
Namun Ezra tak menjawab ia hanya diam sepanjang perjalanan, Begitu juga dengan Chloe yang tak mendapat jawaban dari Ezra.
Chloe kembali bersuara memecah keheningan setelah mereka hanya diam beberapa menit, Ia berseru pelan. "Nama asliku Chloe Watson, Jika bapak ingin tahu,"
"....."
__ADS_1
Tidak ada tanggapan dari Ezra yang ia pikirkan hanyalah segera ingin sampai ke tempat tujuannya. Suara langkah kaki mereka bergema sepanjang perjalanan.
Hingga akhirnya tak lama mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu, Ezra membuka pintu tersebut sedikit kencang dan mendekati sang pemilik kamar yang sedang bersiap-siap untuk tidur.
"Aiden, Bisakah kau mengantar kami ke pohon itu?" Tanya Ezra to the point, Memperhatikan Aiden yang sedang menyiapkan alarm pagi.
Sejenak aktivitas Aiden terhenti netra ungu tuanya melirik Chloe tepat disamping Ezra, Lalu kembali memandang sang pemuda.
"Untuk apa?" Balasnya dingin.
"Ini sangat penting, Dan aku ingin membuktikannya sekarang,"
"Ini sudah malam, Kalian tidak boleh pergi keluar. Kembalilah ke kamar kalian masing-masing!" Aiden memandang serius namun Ezra juga tak menyerah dengan niatnya.
"Aku perlu bukti Aiden,"
"Apa yang sebenarnya ingin kau buktikan?"
Pandangan Ezra beralih menatap Chloe yang tampak gugup, Ia melepaskan genggaman tangannya.
"Aku ingin buktikan apakah benar si tengil ini dan Ian bukan berasal dari dunia ini. Aku tidak akan menyerah sebelum tahu kebenarannya,"
Alisnya mengerut tak senang Aiden menatap Chloe tajam dengan netra ungu tuanya, Membuat sang gadis semakin gugup dan mengeratkan pelukannya pada selimut yang dibawanya.
"Maaf," Cicit Chloe pelan tanpa memandang Aiden maupun Ezra.
Sesaat Aiden mendengus kecil kemudian ia menempelkan telapak tangannya pada tembok hingga memunculkan sebuah portal hitam tanpa dasar di tembok itu.
"Masuklah, Aku sedang malas memakai teleportasi. Jadi kita akan cepat sampai memakai portal ini. Dan Chloe...," Aiden melirik pelan sang gadis dibelakangnya. "Letakkan selimut itu disana, Kau akan kesulitan berjalan nanti jika terus membawa selimut itu,"
"Baik," Chloe segera meletakkan selimutnya sesuai perintah Aiden dan ia segera menyusul Ezra yang sudah masuk duluan disusul Aiden hingga portal itu menutup dengan sendirinya.
**************
Pohon-pohon menjulang tinggi menutupi langit malam, Udara yang begitu dingin disertai hembusan angin malam menambahkan kesan seram dari hutan itu.
Langkah kaki mereka terus berpijak menelusuri jalan setapak di temani cahaya dari senter yang mereka bawa, Suara-suara hewan malam ikut menemani perjalanan mereka.
Krak!
Chloe tak menghiraukan suara ranting yang tak sengaja terinjak olehnya, Tatapannya terus fokus mengikuti langkah Aiden di depannya sebagai pemandu. Beberapa kali Chloe mengarahkan senternya ke segala arah untuk berjaga-jaga.
Hingga netra biru laut itu melirik Ezra yang berada tak jauh di belakangnya, Ia memelankan langkah agar sejajar dengan Ezra. Lalu menoleh menatap sang pemuda, Bertanya-tanya dalam hati mengapa Ezra bersikeras ingin pergi menuju pohon itu.
Merasa risih terus diperhatikan Ezra melirik tajam sembari berucap pelan. "Apa liat-liat?!"
Sontak sang gadis mengalihkan pandangannya sambil menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, Hanya saja tadi aku sudah mengakui kalau aku bukan berasal dari dunia ini dan sudah memberitahu nama asliku juga. Tapi mengapa bapak bersikeras ingin tetap ke pohon itu?"
"Asal kau tahu, Aku bukan orang yang gampang percaya sebelum melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri,"
"Hah~, Aku sudah menduganya. Tak selama aku bisa menyimpan rahasia ini, Cepat atau lambat beberapa dari kalian pasti akan mengetahuinya," Chloe menghembuskan napas kecil, Pasrah akan nasibnya nanti.
"Aku lebih penasaran bagaimana kau bisa bertemu tuan Justin dan berakhir disini," Balas Aiden tanpa menoleh yang ternyata dia juga mendengarkan obrolan Chloe dan Ezra.
"Panjang ceritanya, Yang pasti pertemuan kami bukanlah pertemuan yang baik. Butuh banyak pejuangan hingga aku bisa ke titik ini. Setidaknya sebelum bertemu Pak Justin aku terus ditemani Holy,"
"Aku percaya bahwa perjuanganmu tidak akan sia-sia nantinya," Balas Aiden yang hanya didengarkan oleh Chloe dan Ezra.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan mereka sampai di sebuah pohon cukup besar dengan dedaunan yang begitu lebat. Beberapa kunang-kunang mengitari pohon itu menambah keindahan di dalamnya.
Chloe yang sudah lelah langsung mendudukkan dirinya dibawah pohon mengistirahatkan kakinya yang letih, Sedangkan Ezra memilih duduk di rerumputan.
Dan Aiden, Pria bersurai ungu kehitaman itu memetik beberapa kelopak bunga lalu menyodorkannya kehadapan Ezra dan Chloe.
"Letakkan ditelapak tangan kalian, Bunga itu akan memberikan efek setelahnya,"
"Aku seperti habis minum obat tidur saja setelah memegang bunga ini," Gerutu Chloe sembari meletakkan kelopak bunga itu ditangannya.
"Itu beda lagi, Bunga ini akan memberikan efek tidur sekaligus memasukkan jiwa kita ke dimensi yang kita inginkan. Sedangkan obat tidur hanya memberikan efek tidur, Itu saja kau tak tahu," Ezra mendengus sinis sembari ikut meletakkan kelopak bunga di tangannya.
"Aku kan memang gak tau," Chloe cemberut kecil mendengar penjelasan Ezra.
__ADS_1
Aiden memilih diam tak ikut campur dengan obrolan itu, Ia ikut meletakkan kelopak bunga di tangannya hingga tak lama hembusan angin kecil muncul secara tiba-tiba membuat mereka bertiga yang merasakan hembusan angin itu merasa mengantuk dan akhirnya tertidur memasuki alam dimensi.
TBC