
Freya bersiap mengenakan gaun berwarna putih, rambut yang tergerai dan wajahnya yang tanpa make up. Menampilkan wajah alami yang sangat cantik berkesan murni tak bersalah.
Setelah puas dengan penampilannya, Freya keluar dari kamarnya dan memanggil Steven -supir pribadi sekaligus pengawalnya untuk mengantarkannya ke kantor Rendi.
*
*
Mobil berhenti tepat di depan pintu kantor Rendi. Terlihat betapa besarnya gedung yang menjulang tinggi itu. Steven segera keluar mobil untuk membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.
"Terimakasih Stev," ucap Freya lembut.
Steven mengangguk sambil tersenyum. Untuk ukuran supir dan pengawal, ia termasuk pemuda yang tampan karena usianya baru menginjak dua puluh tiga tahun yang tak terpaut jauh dari umur Freya. Walaupun masih muda, Steven memiliki banyak pengalaman sebelumnya sampai akhirnya ia mengabdi pada Rendi.
Freya menurunkan kakinya dengan pelan. Kaki putih yang mungil itu tanpa sadar membuat semua pasang mata di sekitar penasaran dengan sosok yang berada di dalam mobil.
Merasakan banyak pasang mata yang memperhatikan, Freya segera keluar dari mobil. Seketika semua terdiam karena terkejut. Wajahnya memerah, dengan malu menundukkan kepalanya bersembunyi di belakang Steven.
Jari-jari mungil dan lembut berada di sekitar lengan Steven dengan kepala yang mengintip dari tubuh pengawalnya itu. Karena sedikit membungkuk, rambutnya yang lembut jatuh ke samping dengan mata besarnya yang berair memandang orang yang berada di sekitarnya takut-takut.
Tentu saja Steven yang berada di depannya menatap tajam mereka yang membuat nona kecilnya takut. Nona kecilnya memang selalu menarik perhatian banyak orang secara alami.
Freya memasuki gedung dengan Steven sebagai tamengnya. Tanpa perlu melapor ke resepsionis, dia langsung menaiki lift khusus menuju ruangan Presdir. Rendi selalu bilang kalau ingin ke ruangannya tak perlu melapor, Freya boleh langsung naik ke lift khusus.
Setelah sampai, dia berjalan menuju ruangan Presdir. Dapat Freya lihat di luar ruangan ada Mila-sekertaris dan Ray-asisten dari Daddy nya.
"Selamat siang nona Freya," Sapa mereka berdua serempak.
"Hm, siang," suara yang sedikit bergetar, berada di belakang Steven dengan kepala yang kembali mengintip.
Mila dan Ray tersenyum. Mereka tak mempermasalahkan nona nya seperti itu, karena memang begitu sifatnya, pemalu.
"Nona ingin bertemu Pak Rendi kan? Beliau ada di ruangannya, anda bisa langsung masuk," ucap Ray sopan.
Freya mengangguk. "Terimakasih," kali ini suaranya jernih dan terdengar tulus.
"Sama-sama nona," Ray tersenyum lagi.
Freya segera memasuki ruangan. Karena sedang fokus di balik meja kerjanya, Rendi tidak menyadari seseorang memasuki ruangannya.
__ADS_1
"Daddy," suara lembut dan ceria memasuki pendengarannya, sontak mendongakkan kepala melihat asal suara. Di sana dapat ia lihat anak semata wayangnya berdiri tak jauh dari pintu masuk membuat senyum lembut menghiasi wajahnya.
Rendi menutup laptop dihadapannya kemudian berjalan mendekati putri kesayangannya.
Freya pun langsung berlari kecil kearahnya dan memeluknya erat dibalas tak kalah erat oleh Rendi.
"Ada apa? Seharusnya Ya istirahat di rumah," Rendi bertanya dengan lembut setelah melepaskan pelukan anaknya.
Freya yang gugup memainkan papan nama yang bertuliskan Presdir Rendi Jaasir Mahendra. Setelah beberapa saat hening, akhirnya ia membuka suara dengan ragu.
"Daddy, Ya ingin pindah sekolah," Jawab Freya dengan pelan namun masih dapat di dengar oleh Rendi.
Rendi mengernyitkan dahinya heran. "Pindah? Kenapa? Ada yang ganggu Ya di sana?"
"Bu-bukan Dad. Ya cuma mau sekolah di luar kota. Ya mau mandiri, ga ketergantungan Daddy terus," Freya menjelaskan dengan panik.
Rendi menghela nafas. "Terus Ya mau masuk SMA mana? Kalau Ya mau tinggal sendiri Daddy takut kamu kenapa-napa. Minggu lalu Ya baru aja kecelakaan,"
"Um, sebenarnya Ya mau sekolah di SMA Wisteria. Sekolah yang sama kayak Kak Jenneth," cicictnya.
Setelah berfikir, Rendi menyetujuinya. "Yaudah, Daddy akan cari apartemen untuk Ya tinggal. Kalau ada apa-apa Ya hubungi Daddy atau ke tempat Om Herry,"
Mendengar itu mata Freya berbinar-binar. Aura kebahagiaan terpancar darinya membuat Rendi ikut bahagia.
"Daddy juga sayang Ya," Rendi menerima pelukan Freya, mencium pucuk kepalanya dan membelainya dengan kasih sayang.
Freya adalah hadiah terbesar yang telah didapatnya dari wanita yang paling dicintainya. Mengingat wajah istrinya dan Freya yang begitu mirip kadang membuat Rendi sedih.
*
*
[Host sangat menakjubkan!]
"Oh ya, jelas," Sekarang Freya sudah berada di kamarnya. Setelah pulang dari perusahaan Rendi, Panpan tak henti-hentinya memujinya. Padahal kan ini baru awalan, Freya bahkan belum puas. Ia menantikan pertemuan pertama nya dengan tokoh utama wanita.
Freya saat ini sedang berbaring di kasur dengan Panpan di atas perutnya. Sebenarnya, saat Freya menuju perusahaan Rendi, Panpan berada di bahunya. Hanya saja tidak dapat dilihat oleh orang lain kecuali Freya sendiri.
Panpan juga menyaksikan bagaimana Host nya itu melakukan aksinya.
__ADS_1
"Panpan, sebelumnya kau bilang jika memiliki karma yang cukup bisa melakukan reinkarnasi. Bukankah dikehidupan sebelumnya aku sering membantu, apalagi ketika aku dikucilkan. Disini aku yang rugi. Sering membantu tapi selalu mendapatkan perlakuan buruk semua orang. Apalagi saat aku dimanfaatkan dan dikhianati," Freya membuka sesi curhatnya.
Panpan mendengus.
[Host pikir bagaimana host bisa disini sampai sekarang? Memang benar host memiliki banyak karma, tapi ingat! Host sendiri yang meminta permohonan itu sampai harus menukar seluruh karma host untuk mengabulkannya]
"Jadi intinya itu karma ku adalah bayaran untuk ini semua?" Panpan mengangguk.
Freya hanya ber-oh saja. Tiba-tiba selintas pikiran muncul di benaknya.
"Panpan, Kau itu betina atau jantan? Kenapa imut sekali," Tanya nya penasaran. Seketika si panda lucu itu berdiri tegak di atas perut Freya. Dengan ekspresi lucu ia menjawab.
[A-aku ini jantan! A-aku bukan imut tapi tampan tau!]
Dengan melipat tangannya di dada dan pandangan matanya ke arah lain menutupi pipi nya yang memerah ia berkata dengan marah tapi ujung-ujungnya imut.
"Pfft," Freya yang melihat itu menahan tawa.
[H-hei! Jangan tertawa! Walau kau host ku, aku bisa saja tidak membantumu lagi!]
"Pfft, ehem! Baik-baik, aku minta maaf. Tapi benar lho kau itu lebih imut~ daripada tampan," ucap Freya dengan nada menggoda.
[H-host!!]
"Baiklah. Panpan adalah panda yang paling tampan. Eh,--tunggu. Jangan-jangan kau memberi namamu dari kata Panda tamPan? Iya kan?" Tanya Freya sambil menatap panda yang sedang membuang wajah dengan wajah memerah. Pfft, imut sekali.
[T-tidak! Jangan salah paham! Nama itu diberi langsung oleh penciptaku tau!]
Freya yang mendengar itu hanya menggeleng geli sambil terkekeh. Dari gelagatnya saja sudah terlihat, pakai acara bohong segala lagi.
Dasar panda tsundere!
[H-hei! Jangan terta--]
Tok tok tok
Ucapan Panpan terpotong dengan ketukan pintu kamar Freya.
Segera saja Freya membuka pintu nya.
__ADS_1
"Daddy?"
Note : Maaf Author lama update! Dan maaf juga kalo cerita nya pendek, insya allah chapter selanjutnya lebih panjang. Semangat puasa nya!