System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Rencana Liburan


__ADS_3

"Tuan Justin! Maksud anda apa dengan menyuruh saya menggantikan posisi anda?!" Sela Ezra usai mengikuti Justin memasuki ruangan sang pemuda.


Ia melangkah mendekat tak lupa kembali menutup pintu ruangan Justin, Langkah Justin terhenti setelah mendengar protesan Ezra di belakangnya.


Sejenak terdengar hembusan napas dari Justin, Pemuda bernetra orange itu mendudukkan dirinya guna mengistirahatkan diri sembari memandang dunia luar dari balik kaca ruangannya. Dan Ezra yang masih setia menunggu jawaban Justin.


"Aku membutuhkan seseorang yang bisa kupercaya untuk mengurus perusahaanku, Selama ini hanya kau yang selalu dekat denganku Ezra. Suatu saat nanti aku tidak bisa terus mengontrol perusahaanku sendirian," Jelas Justin tanpa menoleh, Tatapannya terus terpaku pada dunia luar.


"Makanya aku memutuskan hal ini tanpa persetujuanmu, Karna aku tahu kau pasti akan menolak keputusanku. Lagipula aku sudah berdiskusi dengan keluargaku dan mereka menyetujuinya. Untuk sementara kau lah yang memegang kendali,"


Beberapa saat netra orange itu meredup kecil. "Setidaknya sampai menunggu keputusanku yang akan datang,"


Ezra tersentak sesaat, Ekspresinya berubah muram dan sedih. "Tapi kenapa harus saya? Kenapa tidak berikan saja tugas ini pada keluargamu yang lain? Bukankah harus pewaris resmi keluarga Garfield yang bisa memegang kendali perusahaan?"


"Aku anak tunggal di keluargaku Ezra, Selain kakek dan nenek ku tidak ada lagi yang bisa memegang kendali perusahaan. Dan kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, Lagipula...," Justin menoleh lalu meranjak mendekati Ezra, Ia tersenyum tipis sembari memegang kedua pundak sahabatnya itu.


"Apa kau ingat janjimu saat di rumah sakit waktu itu? Kau janji akan menuruti permintaanku. Jadi untuk kali ini saja aku minta kau menjadi penggantiku bukan sebagai sahabat ataupun orang kepercayaan melainkan sebagai saudara,"


Ezra terdiam bungkam saat netranya bersitatap dengan netra Justin, Sejujurnya ia tidak mengerti kenapa Justin bersikeras memintanya menjadi pengganti CEO di perusahaannya sendiri. Namun tampaknya Ezra harus berpikir ulang tentang permintaan Justin.


Dirinya menghela napas sesaat dan mengangguk pelan sebagai jawaban. Meski berusaha sekeras apapun dirinya selalu tidak bisa menolak permintaan Justin, Walaupun permintaan yang tak masuk akal sekalipun.


"Baiklah, Aku akan berusaha sebisaku Tuan," Sahut Ezra pasrah, Sekilas dirinya melihat senyum senang dari Justin dan hal itu membuat perasaannya kembali muncul.


"Senang mendengarnya, Aku senang mempunyai sahabat sekaligus saudara sepertimu Ezra," Justin menepuk pelan pundak Ezra.


Sedangkan Ezra hanya membalas perkataan Justin dengan senyum, Sesaat kepalanya tertunduk hingga sebagian helai-helai rambutnya menutupi wajah. Diam-diam Ezra mencengkeram kerah pakaiannya dimana letak jantungnya berada.


"Lagi-lagi perasaan ini muncul, Sekeras apapun aku berusaha rasanya aku tidak bisa menolak pesonanya," Pikir Ezra murung, Padahal dirinya sudah berjanji untuk tidak terus menerus terlibat dengan perasaannya ini namun rasanya sulit bagi Ezra menerima kenyataan bahwa dirinya masih memiliki perasaan itu pada Justin.


Semakin dekat dirinya dengan Justin maka perasaan itu malah semakin berkembang, Dan akan semakin sulit baginya untuk melupakan perasaan aneh itu.


"Ezra?"


Lamunan Ezra buyar saat suara Justin menyapu pendengarannya, Entah sejak kapan Justin sudah berada di depannya dengan sebuah dokumen tebal berada di genggaman sang pemuda. Justin tampak menyodorkan dokumen itu padanya.


"Untuk pelatihan pertamamu, Kau pelajari dulu cara-cara mengurus perusahaanku ini. Semuanya penjelasannya lengkap disini, Dan besok kau sudah bisa mengerjakannya,"


"Baik, Terima kasih atas bimbingannya selama ini," Ezra menerima dokumen tersebut lalu membungkuk pelan.


"Tentu,"


Setelah tidak ada yang mereka bicarakan lagi, Ezra pergi dari sana mengurus pekerjaan lainnya.


***************


[Malam hari, Area kantor]


Hawa dingin malam membuat seorang gadis merapatkan jaketnya, Ia melangkah pelan menjauhi area kantor. Sesekali netra biru nya memperhatikan sekitar kantor tanpa terkecuali.


Tak lama sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depannya membuat langkah sang gadis terhenti, Chloe menatap pengemudi mobil yang baru saja keluar dari sana dan mendekatinya.


"Kak Felix?"


Mendengar namanya dipanggil membuat Felix tersenyum, Baru saja dirinya selesai bekerja dan berniat menjemput adiknya itu.


"Hei, Apa sudah waktunya pulang?"


"Iya, Tadinya aku mau ke halte,"


"Kebetulan sekali, Sekalian saja kakak antar,"


"Umm...Bukannya kita beda arah ya kak?" Chloe mengerutkan alisnya bingung.


"Oh, Kau tidak membaca pesan Justin? Dia meminta kakak untuk menjemputmu, Dia bilang kau harus kembali ke Asrama,"

__ADS_1


"Ke Asrama?"


Refleks Chloe membuka pesan lewat jam arlojinya, Dan benar saja disana sudah tertera pesan dari Justin bahwa dirinya harus kembali karna ada beberapa hal penting yang harus diberitahukan.


"Tapi untuk apa?"


"Entahlah, Kakak rasa benar-benar penting,"


"Baiklah, Ayo pulang. Untuk kali ini aku akan menginap disana," Sesaat Chloe menguap kecil karna sudah merasa ngantuk, Ia melangkah lebih dulu memasuki mobil diikuti Felix.


Sedangkan Felix hanya tersenyum tipis, Ia ikut memasuki mobil setelah adiknya.


************


[Asrama]


"Aku pulang semuanya," Sapa Chloe saat kakinya melangkah memasuki ruang tamu. Sesaat dirinya membenarkan tali ransel miliknya yang sempat longgar, Sedangkan Felix disamping Chloe langsung mendudukkan dirinya di sofa.


Devian dan Rion yang kebetulan berada di sana tengah bermain kartu menoleh pelan, Senyum Rion mengembang saat melihat kedatangan Chloe. Sedangkan Devian mengangguk kecil.


"Selamat datang kembali Kak Chloe," Sahut Devian.


"Selamat datang," Balas Rion masih tersenyum.


"Siapa yang datang?"


Semua anggota menoleh menyadari kedatangan Raizel dari arah dapur, Pemuda bersurai hitam campur coklat itu terlihat agak berantakan dan lesu. Namun rasa lesu itu hilang dalam sekejap saat netranya tak sengaja menangkap kehadiran Chloe di ruang tamu.


Sontak senyum Raizel mengembang lalu berlari kecil ingin memeluk Chloe dengan semangat.


"Chloe!"


Belum sempat memeluk tubuh sang gadis tiba-tiba saja Rion sudah berada di belakang Chloe dan menjauhkan Chloe dari Raizel, Alhasil Raizel hampir jatuh karna memeluk udara kosong.


"Mulai lagi dramanya," Devian memutar bola matanya bosan ngeliat tingkah Raizel, Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Jangan sembarangan meluk orang!"


"Apa sih! Sirik aja. Suka-suka aku!" Balas Raizel jutek tak mau kalah.


"Udah-udah, Jangan ribut! Udah malam juga, Kalian kayak anak kecil aja," Lerai Felix sembari melepas jas nya dan berjalan pergi menuju kamarnya.


Sesaat Chloe memperhatikan kepergian Felix lalu menoleh pada Rion disampingnya. "Yang lain mana?"


"Udah pada istirahat di kamar masing-masing, Kalau mau ketemu besok aja. Nona nginap aja dulu disini,"


"Oh, Oke. Aku duluan. Selamat malam Rion, Raizel, Devian,"


"Malam,"


Setelah mendapat jawaban dari tiga anggota yang tersisa, Chloe melangkah menuju kamarnya untuk mengistirahatkan diri. Pada dasarnya mereka semua akan berkumpul besok di ruang makan dan tentu saja Chloe harus istirahat lebih awal untuk persiapan besok pagi.


****************


[Keesokan paginya]


Seperti hari-hari biasanya semua anggota satu persatu mulai berkumpul di ruang makan, Pagi ini pun makan dengan damai tanpa keributan yang dibuat Raizel ataupun Devian. Justin pun selaku pemilik Asrama selalu memperhatikan para anggotanya di sela-sela makan mereka.


Semuanya hening dan senyap, Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Usai selesai dengan sarapan masing-masing, Tak ada satupun dari mereka yang meranjak dari tempatnya seolah-olah tahu bahwa akan ada pengumuman penting dari Justin.


"Jadi...Ada pengumuman apa lagi?" Ian lah pertama kali membuka obrolan setelah beberapa menit tidak ada yang membuka suara.


Justin melirik pelan menatap satu persatu para anggotanya yang menunggu jawaban darinya. Rion bertopang dagu selagi menunggu Justin, Devian yang sibuk makan cemilan miliknya, Ian yang bersidekap sembari memejamkan mata, Felix sibuk memainkan sendok di tangannya, Raizel yang ikut bertopang dagu dengan malas, Aiden sibuk memainkan mawar di tangannya, Ezra yang hanya duduk diam menyimak, Dan Chloe yang melipat kedua tangannya di meja sembari meletakkan dagu diantara lipatan tangan.


Tak lama senyum tipis mengembang dari bibir Justin, Ia mengambil jam arloji miliknya dan memunculkan sebuah hologram kecil dengan suasana danau yang besar disertai beberapa angsa yang berenang. Disisi danau itu terdapat sebuah taman asri yang sangat indah dilengkapi pohon-pohon sakura yang bermekaran.

__ADS_1


Semua tatapan anggota terfokus dengan layar hologram kecil itu, Beberapa dari mereka menatap heran Justin. Bertanya-tanya dalam hati untuk apa sang pemilik Asrama menunjukkan hologram tersebut.


"Kalian sudah mendengar kalau penghianat yang membuat kekacauan di perusahaan ku sudah tertangkap? Kalian tahu kan?" Tanya Justin memulai obrolannya dan diangguki semua anggota.


"Ya, Kami sudah mendengarnya. Memangnya kenapa dengan itu?" Balas Felix masih memandang Justin. Sedangkan yang lain memilih diam menyimak.


"Untuk merayakan kemenangan kita sekaligus kerja keras kalian semua, Aku punya hadiah untuk kalian,"


"Hadiah?" Devian yang sejak tadi hanya memakan cemilannya santai langsung menegakkan badannya saat mendengar kata hadiah, Tampaknya ia mulai tertarik dengan obrolan mereka.


Justin mengangguk pelan masih tersenyum. Ia menunjuk danau hologram miliknya. "Ya, Bagaimana kalau akhir pekan kita wisata liburan ke danau itu? Sekaligus menenangkan pikiran,"


"Kalian pasti lelah dengan rutinitas itu-itu terus kan?" Sambungnya masih menatap para anggota satu persatu.


Sesaat mereka semua saling pandang mendengar usulan Justin lalu Ian menghela napas kecil sembari kembali bersidekap.


"Memang benar kita semua membutuhkan liburan, Aku ikut-ikut saja," Balas Ian memandang arah lain.


"Nice, Aku memang perlu liburan juga. Rasanya melelahkan jika melakukan rutinitas itu-itu terus. Terserah tempatnya dimana, Yang penting aku ikut saja," Raizel ikut mengangguk setuju.


Mendengar beberapa anggota setuju dengan rencana liburan mereka membuat sebuah ide melintas di benak Chloe, Sang gadis mengangkat pelan tangannya membuat beberapa perhatian anggota teralihkan.


"Pak saya punya ide," Sahut Chloe dengan senyum lebar.


"Oh benarkah? Ide apa? Kau bisa langsung mengatakannya,"


"Bagaimana kalau sekalian kita Piknik? Kudengar dari beberapa orang piknik di bawah pohon sakura itu menyenangkan apalagi jika bersama keluarga, Rasanya akan menjadi kenangan yang tak terlupakan dan indah," Usul Chloe masih tersenyum lebar.


Mendengar usulan Chloe membuat Felix dan Aiden tampaknya tertarik, Kemudian Felix ikut menoleh sembari mengangguk.


"Ide bagus, Jarang kita berkumpul bersama diluar. Kali ini aku setuju dengan Chloe,"


"Aku juga setuju," Balas Aiden ikut menimpali perkataan Felix.


"Baiklah, Kita akan liburan ke danau itu sekaligus piknik. Bagaimana menurut kalian Rion, Ezra, Dan Devian?" Justin menoleh pada anggotanya yang masih tersisa dan belum memberikan pendapat.


Sejenak Ezra memilih masih diam dibanding memikirkan tentang rencana liburan mereka, Pikirannya lebih mengarah pada pengelolaan perusahaan Justin. Dirinya hanya takut tidak bisa mengelola perusahaan itu dengan benar dan malah mengacaukan semuanya. Tapi disisi lain dia juga tak ingin membuat rasa percaya Justin padanya hilang.


"Ugh, Kacau. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang," Pikir Ezra gelisah tanpa sadar tangannya mencengkeram pelan ujung lengan bajunya.


Sejujurnya diam-diam Rion menyadari raut gelisah dari Ezra, Ini pertama kalinya bagi Rion sendiri dirinya melihat kegelisahan dari sang tangan kanan Justin itu. Namun mulutnya memilih bungkam dan menjawab pertanyaan Justin.


"Aku ikut aja, Mungkin Devian ingin menambahkan usulan lain?" Rion menyenggol pelan Devian yang duduk disampingnya membuat Devian mendengus kecil.


"Tidak ada, Kecuali aku ingin semua makanan yang dibawa untuk piknik nanti Kak Chloe yang masak," Devian melirik pelan pada Chloe, Sedangkan yang dilirik hanya menatap heran sembari nunjuk dirinya sendiri.


"Aku?"


Mendengar permintaan Devian membuat alis Aiden mengerut. "Tunggu! Kau ingin semua masakan nona Chloe yang masak? Maksudnya masakanku tidak enak?!"


"Bukan, Sekarang kan Kak Chloe jarang berada di Asrama. Jadi kurasa mencicipi masakannya sekali-sekali tidak masalah kan? Lagipula hanya khusus untuk piknik saja,"


"Tidak ada salahnya di coba Chloe," Ian ikut menimpali sambil menyenggol pelan lengan Chloe disampingnya.


"Oh, Oke tidak masalah. Selama kalian senang dengan masakanku, Aku akan berusaha sebaik mungkin," Chloe tersenyum lebar sembari mengangguk setuju.


"Baguslah, Kuharap akhir pekan nanti semua tugas kalian sudah selesai. Jadi tidak ada yang dipikirkan lagi selain liburan. Kalian mengerti?" Kata Justin setelah semua rencana mereka.


"Mengerti!"


Semuanya serempak menjawab setelahnya semua anggota pergi mengerjakan tugas masing-masing, Namun Chloe baru menyadari satu hal setelah tak sengaja bersitatap dengan Ezra yang melangkah pergi duluan.


Diantara kehebohan obrolan rencana liburan mereka tadi, Hanya Ezra saja yang tidak memberikan pendapat ataupun sekedar ikut nimbrung memberikan usulan, Sejak tadi dia hanya diam menyimak seakan banyak beban pikiran. Raut wajah pemuda itu juga tampak gelisah dan tak senang.


"Mungkin hari ini mood Pak Ezra sedang tidak bagus, Jadi dia hanya diam saja sejak tadi," Pikir Chloe setelah beberapa saat hanya menatap punggung Ezra yang semakin jauh dari ruang makan.

__ADS_1


Namun di hati kecilnya yang paling dalam Chloe berharap kesenangan dan kebahagiaan anggota Asrama yang sudah dia anggap keluarga ini bertahan lama, Meski masalah seberat apapun itu.


TBC


__ADS_2