System Prince Charming

System Prince Charming
(End Season 2) Perpisahan


__ADS_3

WWUUSSHH!


Angin malam berhembus kencang menerpa dahan pepohonan, Di tengah gelapnya malam hanya cahaya rembulan yang menemani saat itu. Aiden terus berlari sejauh mungkin dari kobaran api yang membakar rumah kosong itu melewati hutan belantara.


Tidak ada pemukiman warga disana selain hanya rimbunan hutan sepanjang mata memandang. Setelah merasa jauh dari tempatnya semula, Aiden menghentikan larinya, Napas nya naik turun tak beraturan.


BRUK!


Aiden menjatuhkan dirinya dihamparan rumput, Secara perlahan membaringkan tubuh Chloe dan Ezra di sana dengan kekuatannya. Sejenak ia mengusap wajahnya yang terkena bercak-bercak darah dari tubuh Vivian dan Liam.


Netra ungu tuanya meredup sendu menatap kulit pucat Chloe yang dingin bagaikan es, Genangan darah masih menetes dari tubuh sang gadis. Pandangannya beralih menatap Ezra yang masih belum sadarkan diri. Chloe yang sudah tak bernyawa karna jantungnya diambil dan Ezra yang pingsan karna bertarung habis-habisan dengan Liam.


Hembusan napas terdengar dari Aiden, Pemuda itu mendongak menatap bulan di atasnya. "Jika saja aku tidak terlambat kalian tidak akan begini, Maafkan aku,"


Setetes cairan bening keluar begitu saja dari netra ungunya tanpa disadari Aiden, Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Suara-suara hewan malam pun terdengar saling bersahut-sahutan seolah ikut bersedih.


WWUUSSHH!


Angin malam kembali berhembus menerbangkan helai-helai surai ungu nya. Aiden memanggil polisi dengan jam arlojinya, Dengan begitu para polisi akan mengetahui keberadaan mereka.


Setelah memanggil para polisi, Aiden mengulurkan tangannya mengusap pipi tirus Chloe. Memandang dalam diam dengan perasaan bersalah.


"Apa yang harus kulakukan agar bisa menebus kesalahanku, Agar kau bisa hidup kembali Chloe," Aiden memejamkan mata menahan rasa sesak di dadanya, Sakit sekali melihat wanita yang dia cintai harus berakhir tragis seperti ini.


Holy diambil dari Chloe, Padahal Holy itu berperan sebagai system sekaligus jantung bagi sang gadis untuk hidup di dimensi. Tapi dia diambil paksa oleh Liam untuk keegoisan tuannya. Aiden benar-benar merasa bersalah karna tidak menepati janjinya pada permintaan terakhir Ian sekaligus tidak melindungi Chloe dengan baik.


Sejenak Aiden terdiam dia teringat dengan sesuatu yang selalu dia bawa kemana-mana. Aiden fokus dengan kekuatannya, Menatap telapak tangannya dengan serius. Beberapa detik kemudian setangkai mawar biru bercahaya terbentuk disana, Samar-samar terdengar suara detak jantung dari mawar itu. Dimana mawar itu adalah satu-satunya jantung yang ia miliki. Netranya kembali meredup sendu.


"Jika mawar ini bisa menghidupkan Chloe kembali, Biarlah aku yang menggantikannya. Lagipula tanpa Tuan Justin aku akan hidup tanpa arah, Tanpa tujuan hidup yang berarti,"


Aiden menghembuskan napasnya, Ia mengulurkan tangannya yang memegang mawar menuju tempat jantung sang gadis berada. Cahaya hijau menyelimuti mawar itu beberapa saat. Hingga perlahan mawar itu menghilang dari tangan Aiden dan luka di dada Chloe tempat jantung sang gadis berada pun menutup dengan sendirinya bersamaan dengan luka-lukanya.


Netra ungunya semakin meredup, Aiden menunduk sesaat merasakan rasa sakit sekaligus pusing di kepalanya. Seluruh tubuhnya menjadi lemah serta napasnya yang mulai sesak. Dengan tangan yang agak gemetar Aiden mengarahkan kekuatannya pada Ezra, Cahaya hijau kembali muncul dari telapak tangannya untuk menyembuhkan luka-luka yang didapat oleh Ezra.


"Kalian...harus tetap...hidup..." Gumam Aiden lirih, Wajahnya berkeringat menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya.


Luka-luka di tubuh Ezra menutup sepenuhnya, Cahaya hijau di tangan Aiden meredup dan perlahan menghilang. Kesadarannya diambang batas.


BRUK!


Aiden kehilangan keseimbangannya, Dirinya kembali terjatuh ke hamparan rumput. Perlahan kegelapan semakin dekat dan akhirnya mengambil alih kesadaran Aiden, Dengan hembusan napas terakhirnya.


*****************


[Disisi lain, Alam bawah sadar Justin]


BRAK! BRAK! BRAK!


"Lepaskan aku Justin sialan! Lepas!"


Wajahnya merah padam karna amarah yang meledak-ledak, Victor menendang-nendang sekuat tenaga sebuah dinding kaca yang mengurungnya, Kaca-kaca itu terlihat mengelilingi Victor dengan rapat. Kaca yang terbentuk karena keinginan dalam diri Justin sendiri.


Saat ini dia berada dalam alam bawah sadarnya dimana dia bisa berkomunikasi sekaligus bertemu secara langsung dengan Victor. Napas Justin berhembus tak beraturan, Mencoba menstabilkan rasa sakit dalam dirinya.


Sejenak netra orangenya terpejam erat kemudian terbuka kembali setelah merasa napasnya sudah stabil, Tatapan menusuk ia tujukan pada Victor yang masih berusaha keluar dari kurungan kaca.


"Gara-gara kau, Aku kehilangan sebagian anggotaku! Karnamu aku harus menebus semua kesalahanmu pada mereka. Apa lagi yang kau inginkan?! Apa tidak cukup sudah membuatku kehilangan mereka?!" Bentak Justin marah, Kedua tangannya terkepal erat menyalurkan emosinya.


Aktivitas Victor terhenti, Netra merahnya mendelik tajam membalas tatapan Justin. "Yang kuinginkan adalah kehancuranmu! Semasa orang tua kita hidup, Kau selalu mendapatkan yang kau inginkan. Sekarang aku akan mengambil semua yang menjadi milikmu!"


Justin mengusap paksa sudut matanya yang berair, Nyaris ingin menangis karna teringat sebagian anggotanya yang sudah mati. "Ambil! Ambil semua yang kau mau! Tapi kenapa harus mereka?!"


Justin mencengkeram kerah pakaiannya, Hampir tak bisa bernapas dengan benar karena emosinya yang tidak stabil.


"Justru itulah yang kuinginkan, Melihatmu menderita seperti ini sama seperti aku dulu. Merasakan bagaimana menderitanya aku saat mereka mengabaikanku," Balas Victor dingin, Dia kembali menendang kaca dengan kuat.


BRAK! BRAK! BRAK!


KRAK!


Sebagian kaca perlahan mulai retak, Victor semakin gencar memecahkan kaca dihadapannya kali ini menggunakan kepalan tangannya. Tidak peduli jari-jarinya tangannya berdarah karna memukul kaca terus menerus.


"Tanpa aku, Kau sama saja seperti sampah yang tidak berguna Justin!"


BRAK!


"Karna itu, Aku sengaja menjadikan anggotamu pion agar kau sama sepertiku. Menjadi diriku seutuhnya!"


BRAK!


"Semakin kau depresi, Kegelapan akan semakin menelanmu secara perlahan. Sedikit demi sedikit, Kau akan tersingkirkan dari sini!"


BRAK!


"Ukh...!" Justin memegangi kepalanya yang mendadak sakit seakan ingin meledak sekarang juga. Entah kenapa Justin merasa netranya sedikit demi sedikit menggelap, Sesuatu seperti menelannya dari belakang.


Victor menyerigai, Netra merahnya bersinar diantara kegelapan. "Kita ditakdirkan tidak bisa bersama dalam satu tubuh, Maka dari itu salah satu dari kita harus disingkirkan dari sini,"


PPRRAANNGG!


Kurungan Kaca itu pecah setelah Victor berhasil memecahkannya, Darah terus menetes dari kepalan tangannya. Victor keluar dari sana mendekati Justin yang meringkuk tertelan oleh sesuatu di belakangnya.


"Victor, Kau tidak bisa seenaknya mengklaim sesuatu yang bukan milikmu!" Bentak Justin sembari berusaha menjaga dirinya tetap sadar.


"Bisa, Aku bisa melakukannya karna sekarang raga ini milikku selamanya. Dan kau akan menyatu denganku, Aku yang mengendalikan raga ini," Victor tertawa senang, Melihat Justin semakin tenggelam oleh kegelapan yang ia kendalikan.


"Uhh...Victor...Jangan...lakukan ini..." Suara Justin semakin jauh. Tangan Justin terulur berusaha menggapai Victor, Jiwanya sepenuhnya tertelan oleh kegelapan itu. Netra orangenya yang tadinya bercahaya kini meredup.


Perlahan kegelapan menguasai dirinya hingga netranya menggelap dan tenggelam bersama kegelapan milik Victor.


"Jiwa yang kuat akan tetap bertahan, Tapi jiwa yang lemah akan ditelan oleh kegelapan. Akulah yang menang,"


**************


Krak! Krak!


Kobaran api yang tersisa mulai padam meninggalkan bekas hangus disekitarnya, Tersisa api kecil yang masih menyala. Asap-asap hitam bekas kebakaran mengepul menuju udara bebas, Semua nya rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa selain benda-benda hangus disekitarnya.


Diantara reruntuhan itu seseorang bergerak menandakan ia masih memiliki nyawa untuk hidup, Perlahan tangannya bergerak menyingkirkan pecahan beton kecil yang menimpa tubuhnya.


"Uhuk!...Uhuk!..."

__ADS_1


Dengan susah payah ia berjalan menjauhi tempat tersebut, Mencoba menghirup udara segar untuk mengisi paru-parunya yang nyaris dipenuhi dengan debu dari reruntuhan.


Beruntung ia masih selamat karna reruntuhan bangunan melindunginya dari ledakan sekaligus kobaran api di dalam sana. Sejenak netra merahnya menatap kedua tangannya secara bergantian, Senyum penuh kemenangan terpatri di bibirnya.


"Akhirnya raga ini menjadi milikku selamanya, Tidak ada lagi Justin sebagai pengganggu! Hahaha,"


Dia tertawa senang merasa puas sudah berhasil menyingkirkan Justin dari hidupnya, Ditengah kesunyian malam hanya cahaya rembulan yang bersinar terang menemaninya, Menjadi saksi bisu atas kemenangan Victor.


****************


[Keesokan Harinya]


Chloe Pov


Uhh...Kepalaku sakit sekali, Seperti habis terbentur sesuatu saja. Kubuka mataku perlahan setelah tak sengaja mencium aroma obat-obatan disekitarku.


Pandanganku agak buram karna berusaha menyesuaikan mataku dengan cahaya sekitar, Hal pertama yang kulihat adalah ruangan serba putih, Begitu asing untukku. Ini bukan kamarku kurasa.


TIIT! TIIT! TIIT!


Kutolehkan kepalaku saat mendengar suara aneh disampingku, Pandanganku tertuju pada selang infus yang terpasang di tanganku. Dari sini aku mulai menyadari dimana aku berada.


Ah, Kerongkonganku agak kering. Mungkin karna aku tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Rasanya untuk mengeluarkan suaraku pun agak susah.


Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa aku bisa berada di rumah sakit? Terakhir kali yang kuingat adalah Holy yang berbicara padaku secara tiba-tiba disaat kami terjebak dalam keadaan genting.


Lamunanku buyar saat kulihat seorang suster memasuki ruanganku, Dia membawa sebuah infus di tangannya, Mungkin ingin mengganti infusku. Kebetulan sekali, Aku ingin bertanya-tanya sesuatu padanya.


"Sus-ter..." lirihku pelan, Sedikit meninggikan suaraku agar suster mendengarnya.


Suster itu tampak terkejut setelah melihatku bangun, Dia refleks meletakkan infus tersebut di nakas.


"Oh, Nona Amberly. Anda sudah sadar, Tunggu! Biar saya panggilkan dokter,"


Suster itu bergegas mendekati sebuah tombol di samping ruangan, Dia menekannya agak cepat. Hei, Tunggu. Berikan aku minum dulu! Aku nyaris tidak bisa mengeluarkan suaraku saking keringnya.


"Sus-ter...a-ir..." Kataku dengan nada memelas setelah suster kembali ke sisi ranjangku.


"Ah, Maaf. Saya segera kembali,"


Aku menatap lemas sembari mengangguk pelan, Suster pergi mengambilkan minuman untukku. Meninggalkanku sendiri di ruangan penuh kesunyian ini.


CKLEK!


Pintu terbuka kembali, Kali ini bukan suster yang datang melainkan seorang dokter muda. Dia terlihat sangat muda umurnya berkisar 20 puluhan ke atas mungkin. Dia mendekati sisi ranjangku dengan senyum ramahnya.


"Biar saya periksa dulu ya," Katanya ramah dan mendapat anggukan dariku.


Dia mulai memeriksa mataku lalu infus yang terpasang di tanganku, Dan beralih pada layar monitor yang menunjukkan frekuensi detak jantungku.


"Ada keluhan lain?"


Aku menggeleng menjawabnya, Dia memandang sebuah buku catatan yang dibawanya, Memperbaiki kacamatanya sesaat sambil menatap buku catatan itu.


"Menurut riset saya, Saya pikir anda tidak bisa diselamatkan karna detak jantung anda sangat lemah. Beruntungnya anda masih diberikan kesempatan untuk hidup, Sekarang detak jantung anda sudah mulai normal," Dia masih tersenyum.


"Saya pikir anda masih perlu menginap disini untuk beberapa hari,"


Seolah bisa membaca pikiranku, Dokter dihadapanku kembali berbicara. "Soal biaya, Anda tenang saja. Seseorang menanggungnya, Anda bersama Tuan Miracle tidak perlu khawatir tentang itu,"


Ah, Jadi Pak Ezra juga dirumah sakit ini. Tapi rasanya ada yang mengganjal, Aku merasa melupakan sesuatu. Entah hanya perasaanku atau tidak.


CKLEK!


Pintu kembali terbuka, Suster datang bersama segelas air di tangannya. Dia mendekati sisi ranjang lalu memberikan air itu padaku.


"Te-rima ka-sih..." Kataku terbata-bata, Meraih segelas air dengan hati-hati. Aku menyandarkan tubuhku setengah duduk, Meminum air itu perlahan.


Setelah selesai kuletakkan di nakas, Kutatap wajah dokter yang terlihat sedang fokus dengan buku catatannya. Sejujurnya aku merasa lega karna ada orang baik yang mau menanggung pengobatan kami, Siapapun orangnya aku sangat berterima kasih.


Kulihat suster mengganti infusku dengan yang baru, Aku jadi kepikiran dengan Pak Ezra. Kira-kira kamarnya di mana ya?


"Boleh saya menemui Tuan Miracle? Saya ingin melihat kondisinya," Pintaku pada dokter dengan pandangan memelas.


Dokter itu mengerjapkan matanya, Terlihat ragu dengan permintaanku. "Eh boleh saja, Saat ini Tuan Miracle juga sudah siuman, Tapi apa anda yakin? Anda baru saja sadar," Kata dokter ragu.


Aku menggeleng pelan. "Saya tidak apa-apa dokter, Lagipula saya ingin membicarakan tentang sesuatu padanya,"


Suster menatap dokter begitupun sebaliknya, Seolah mereka sedang bertukar pikiran. Kemudian dokter muda itu mengangguk pelan sambil menatapku.


"Baiklah, Suster akan mengantar anda kesana," Dia mengalihkan pandangannya pada suster disampingnya. "Suster, Tolong awasi nona Amberly dan antarkan kesana,"


"Baik dokter,"


Dokter menatapku sebentar, Setelahnya dia berlalu pergi dari kamarku tanpa sepatah kata pun lagi.


BLAM!


Suster segera mengambil kursi roda yang terletak di sudut kamar setelahnya membantuku berdiri dan mendudukkanku di kursi roda. Dia membawaku keluar dari kamar menuju suatu tempat yang tidak kuketahui.


*************


Kami sampai di sebuah ruangan, Aku diam menatap pintu dihadapanku lalu aku berdiri perlahan dibantu suster dengan hati-hati.


"Tuan Miracle ada di dalam, Anda bisa masuk ke sana. Saya akan menunggu disini,"


"Ah, Baiklah,"


Aku menatap ragu gagang pintu dihadapanku, Kuhembuskan napas sejenak setelahnya ku buka pintunya dengan hati-hati. Udara bersuhu dingin langsung menyambutku ketika kulangkahkan kakiku masuk kedalam, Begitu dingin bahkan kurasakan sampai menusuk kulitku.


Tak lupa kututup pintu kembali, Pandanganku tertuju pada siluet bayangan seseorang yang sedang berdiri di sisi sebuah ranjang. Aku melangkah mendekat, Kuperhatikan wajahnya dengan seksama setelah berada dekat dengannya.


"Pak Ezra..." Kataku ragu saat kulihat ekspresinya sangat muram, Netra hijau emerlandnya tampak redup dengan pandangan kosong.


Sekilas kulihat tubuhnya agak gemetar, Wajah dan bibirnya pun tampak pucat. Samar-samar kudengar dia mengatakan sesuatu dengan berbisik.


"Aiden...Ian...Mereka...Mereka meninggalkan kita,"


Seketika mulutku terkatup rapat, Aku diam memproses perkataannya barusan. Ian, Aiden? Mereka meninggalkan kami? Tidak mungkin kan?!


Kedua tanganku terkepal erat, Tidak! Ini pasti mimpi! Hanya mimpi! Mereka tidak mungkin meninggalkan kami!. Kucengkeram kedua pundaknya, Memaksa Pak Ezra untuk menghadapku. Kuguncangkan tubuhnya agak keras, Aku mulai histeris.

__ADS_1


"Pak, Bapak bohongkan?! Katakan padaku kalau semua ini hanya candaan?!" Pekikku histeris, Air mataku turun satu persatu membasahi kedua pipiku.


Kulihat netra hijaunya berkilat marah, Tatapannya menajam menusuk kedua netraku. Dia menjauhkan kedua tanganku dari pundaknya.


"Kau bisa melihatnya sendiri! Aku tidak berbohong! Mereka meninggalkan kita Chloe!" Nada suaranya meninggi, Pak Ezra menangkup kedua pipiku dengan tatapan sendu, Kemudian suaranya merendah hampir berbisik. "Aku pun tidak ingin mempercayai kenyataan ini,"


Air mataku semakin mengalir deras, Pak Ezra hanya diam memandang wajahku. Dia menjauhkan tubuhnya, Sejenak aku menyembunyikan wajahku yang kacau ini dibalik kedua telapak tanganku. Terisak dengan tangis yang tak kunjung berhenti terlebih sahabat masa kecilku ikut menjadi korban, Dia mati untuk kedua kalinya.


Perlahan kudekati sisi ranjang dan membuka penutup kain putih itu. Secara jelas kulihat wajah pucat dari seseorang yang sudah kuanggap sebagai keluargaku. Ian, Dia benar-benar terbaring kaku di ranjangnya. Kutempelkan telapak tanganku ke pipinya, Hanya rasa dingin yang kurasakan dari sana.


Tanpa sadar air mataku menetes mengenai wajah pucatnya, Tidak ada lagi kehangatan yang kurasakan dari tubuhnya. Sosok yang selalu menemaniku dari kecil.


Aku beralih ke sisi ranjang satunya dimana masih ada satu jasad lagi yang terbaring kaku disana, Saat kubuka penutup kain putih itu. Wajah Aiden lah yang pertama kali kulihat, Kulitnya sama pucatnya dengan Ian.


Tidak ada lagi tatapan hangat yang terpancar dari matanya, Hanya wajah dan bibir pucat itu yang kulihat. Kenyataan ini sungguh pahit, Dimana aku harus kehilangan orang-orang tersayangku.


Air mataku kembali mengalir dengan sendirinya, Sungguh aku tidak kuat melihatnya, Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya karna keadaan ini.


Dalam sekejap aku sudah berada dalam dekapan seseorang, Aku semakin menangis keras mengeluarkan semua rasa sesak dalam diriku.


"Keluarkan semua yang kau rasakan, Aku disini bersamamu,"


Bisikan pelan menyapu pendengaranku, Aku tahu betul suara ini. Suara ini milik Pak Ezra, Dia memelukku erat membuatku semakin dilanda rasa sedih yang mendalam.


"Huaaa!...hiks...hiks..."


Diruangan ini berakhir dengan tangisan kerasku, Dan Pak Ezra yang hanya diam sambil memeluk sekaligus menenangkanku.


Chloe Pov End


**************


[Pemakaman]


Di hari yang cerah ini suasana pemakaman tampak sepi dan sunyi, Hanya beberapa orang yang menghadiri acara pemakaman termasuk pihak rumah sakit. Setelah acara pemakaman selesai, Satu persatu dari mereka membubarkan diri meninggalkan Chloe dan Ezra yang memilih menetap disana untuk beberapa saat.


WWUUSSHH!


Semilir angin berhembus pelan menerbangkan beberapa dedaunan kering disekitar pemakaman, Ezra menjajarkan dirinya dengan batu nisan yang bertuliskan nama 'Aiden'. Sejenak ia mengusap batu nisan itu.


"Terkadang hidup itu seperti roda berputar, Ada pertemuan dan ada juga perpisahan. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti takdir," Kata Ezra pelan.


Chloe menatap sendu, Ikut menjajarkan dirinya dengan batu nisan bertuliskan nama 'Ian Maxwell', Berdampingan dengan batu nisan Aiden.


"Tapi juga terkadang takdir bisa diubah jika kita berusaha walau kemungkinannya kecil. Tidak ada yang tahu apa yang sedang direncanakan oleh tuhan kepada kita para manusia," Balas Chloe menaburkan kelopak bunga di atas makam Ian dan Aiden.


Kesunyian melingkupi keduanya, Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Sejenak Ezra memandang langit cerah diatas mereka, Ia kembali membuka suaranya.


"Jika benar hanya tinggal kita berdua anggota yang tersisa, Maka aku ingin kau berjanji selalu berada disisiku sebagai partner setidaknya sampai aku sendiri yang memutuskan hubungan partner ini berlanjut atau tidak,"


"Aku bisa berjanji tapi tidak tahu sampai kapan, Seiring waktu lah yang akan menjawabnya nanti," Chloe berdiri sembari mengusap pakaiannya sesaat.


Lalu pandangannya beralih menatap langit cerah diatas mereka, Yah mungkin awal baru dan perjalanan baru akan dimulai lagi dengan adanya Ezra sebagai partnernya sekarang...


TBC


Perkenalan karakter baru:



..."Aku suka bunga lily karna mereka terlihat rapuh dan tak tersentuh, Warnanya yang indah memikat siapapun yang melihatnya,"...


Nama: Liam


Umur: Tidak diketahui


kelompok: Red Devil


Status: Petinggi Red Devil (Wakil Red Devil).


About Him: Bawahan Vivian sekaligus wakil terpecaya Vivian, Dia berasal dari organisasi penelitian sama seperti Aiden, Dijadikan kelinci percobaan atas keinginannya sendiri, Liam berambisi memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan untuk balas dendam pada orang-orang yang meremehkannya sewaktu dirinya masih menjadi manusia. Bertemu dengan Vivian saat dirinya dalam keadaan sekarat akibat terjebak dalam kebakaran yang buat Aiden untuk menghancurkan organasisi penelitian. Dia ibarat mesin pembunuh, Yang akan menghancurkan siapapun jika ada yang berani menghalangi ambisinya. Bisa dibilang Liam adalah 'Senjata pembunuh' terbaik Vivian dalam gengnya. Sama seperti Aiden, Liam juga meminum darah manusia sebagai penunjang hidupnya sekaligus penambah kekuatannya. Dibalik sifat dinginnya, Dia sangat menyukai bunga lily alasannya karna bunga lily melambang kematian meski tidak sepenuhnya benar, Setiap Liam membunuh seseorang dia akan melemparkan bunga lily sebagai tanda kemenangannya sekaligus penghormatan darinya.



..."Secara perlahan dunia ini akan menjadi milikku, Tidak ada yang bisa menghentikanku!"...


Nama: Vivian Scarlett


Umur: 19 tahun (Seumuran sama Chloe)


kelompok: Red Devil


Status: Petinggi Red Devil (Ketua Red Devil).


About Her: Vivian anak dari kepala sekolah di Guard High School dulu sekaligus anak dari pengusaha tajir ke-4 sedunia, Tapi itu dulu sekarang ia jatuh miskin bersama keluarganya, Perusahaan ayahnya gulung tikar akibat salah satu pegawai yang dipercayainya ternyata mencuri semua uang perusahaan, Lalu ibunya yang dipecat jadi kepala sekolah karna dituduh mencoreng nama baik sekolah setelah ketahuan menjadi pengedar obat-obatan terlarang. Sejak itu Vivian menderita karna perlakukan kedua orang tuanya berubah, Dia menjadi semakin dendam pada Chloe karna dia berasumsi semua akar permasalahannya terjadi berawal dari ulah gadis bersurai biru itu. Sejak saat itu dia bertekad untuk menghancurkan Chloe Watson terutama Chloe Amberly. Dia jugalah yang sebenarnya membunuh Chloe Amberly yang asli, Semata-mata karna menginginkan semua kekuatan dari Chloe Amberly yang asli dan dia berambisi untuk mengusai dunia dengan kekuatan itu agar semua orang tunduk padanya sekaligus ditakuti oleh mereka.


************


(Note Author: Yosh, Akhirnya Season 2 kelar juga. Butuh waktu beberapa bulan buat nyelesain season 2 ini [Plus terkadang harus naikin mood dulu biar bisa nulis nih cerita, Dan masalah lainnya di RL yang bikin cerita ini terbengkalai]. Dan kemungkinan Novel ini bakal selesai di season 3 soalnya keluarga asli Chloe Amberly belum terungkap kan, Terus masih banyak misteri lainnya yang belum disebutkan juga dalam novel ini. Ya mohon maaf kalau update nya agak lama, Tahukan sekarang udah masa PTM jadi waktu buat nulis sedikit😢.


Mohon maaf juga kalau cerita di season 2 ini kurang memuaskan dan malah sebagian anggotanya jadi mayat semua penuh dengan bawang yang readers😅, Mau gimana lagi alur yang author pikirin kaya gitu sih biar greget aja yang baca. Bisa dibilang untuk Season 2 ini bad ending sih, cuma gak tau season 3 nya dapet ending apa entar.


Untuk Season 3 nanti anggota yang tersisa hanya Chloe dan Ezra. Perjalanan mereka bakal penuh kebenaran yang terungkap nantinya, Sekaligus mengungkap fakta di balik keluarga kandung Chloe, Miracle [Marga Ezra], Dan Michelle [Nah udah Author kasih spoiler dikit]. Intinya tunggu aja Season 3 nya.


Btw soal kematian para anggota asrama, Beberapa ada yang tragis. Menurut kalian mana yang paling tragis?


–Devian Orlindo, Dibunuh oleh Liam dengan cara kepalanya dipenggal bersama keluarga Devian, Dan kepala mereka diawetkan lalu dijadikan pajangan sebagai hiasan.


–Kazuhara Rion, Dibunuh oleh Liam dengan cara jantungnya ditusuk [Kayanya cara bunuh yang ini udah biasa ya di dunia pernovelan].


–Felix Edricson, Terbunuh karna terkena ledakan yang dibuat oleh Liam, Tubuhnya tertusuk besi sekaligus tertimbun bangunan cafe.


–Raizel Freymon, Dibunuh oleh Liam dengan cara ditenggelamkan ke dasar danau, Ditambah dia kehabisan darah karna serangan Liam.


–Ian Maxwell/Salvatore, Mati karna kehabisan darah setelah mendapat luka yang cukup dalam dari serangan bertubi-tubi oleh Vivian sekaligus mendapat tusukan di bagian pundaknya.


–Aiden, Dia rela mati karna memberikan jantungnya pada Chloe untuk menghidupkan Chloe kembali, Padahal dia tahu mawar itu adalah jantung yang dia miliki satu-satunya, Tanpa mawar itu Aiden tidak bisa bertahan hidup.


–Justin Garfield, Jiwa nya menghilang dan mati karna disingkirkan oleh Victor secara paksa demi raga Justin yang ingin diambil alih olehnya selamanya. Justin mati karena ditelan kegelapan yaitu kekuatan milik Victor yang bisa Victor kendalikan.


Itulah rekap kematian para anggota asrama, Menurut kalian siapa yang paling tragis?).

__ADS_1


__ADS_2