
"Cih, Ternyata memang benar-benar ingin membunuhku. Devian sialan!" Gerutu Chloe melangkahkan kakinya keluar dari area pesta, Bersidekap sambil mengerutkan alisnya kesal.
"Laporin ke polisi aja Chloe," Saran Holy mengikuti langkah Chloe.
"Dia bisa melakukan apa saja agar tidak tertuduh, Contohnya menyogok dengan uang. Pasti nya mudah menyogok para polisi karna dia kaya kan. Huh, Zaman sekarang para bangsawan elit semakin semena-mena," Jawab Chloe makin kesal.
"Hah, Kita juga gak punya bukti kuat untuk melaporkannya. Kalau asal lapor, Bisa-bisa kita yang kena tangkap," Holy menghela napas, Memakan kue nya.
Chloe lebih memilih diam, Memandangi langit malam yang dipenuhi bintang kerlap-kerlip. Suasana luar aula yang sepi membuat mood nya sedikit membaik.
PIP!
Holy tampak tersentak, Setelah sekian lama akhirnya Program memberi mereka misi lagi. Sontak Holy mengguncangkan pundak Chloe dengan tangan kecilnya.
"Chloe! Chloe!"
"Ada apa?" Chloe menoleh pelan, Merasakan kesenangan Holy.
"Akhirnya ada misi lagi dari Program," Kata Holy senang.
"Benarkah? Misi apa?"
"Mengajak Ian berdansa, Kalau berhasil kau bisa membuka mode terakhir plus Mendapatkan perlengkapan seragam detektif," Dengan semangat Holy memutar tubuhnya.
"Wtf! Mengajak Ian berdansa!? Selama ini aku gak pernah liat dia dansa," Sesaat Chloe terkejut, Pemuda datar dan dingin macam Ian pastinya gak bakal mau diajakin berdansa. Jangankan berdansa, Dari tadi saat diaula pun. Chloe gak liat Ian disana.
"Coba aja dulu, Mungkin saat ini dia berada di tempat Favoritnya,"
Gak ada salahnya sih, Chloe coba-coba mengikuti saran Holy. Tapi masalahnya, Ian mau gak nih?
"Tempat Favorit ya," Chloe manggut-manggut sambil bergaya ala detektif.
Oh, Seketika dia mengingat tempat Favorit Ian. Rooftop adalah tempat yang biasa ditempati pemuda bernetra merah itu.
Chloe pun bergegas menuju arah tangga dimana biasanya tangga itu terhubung dengan Rooftop.
**************
[Rooftop]
KKRREEIITT!
Perlahan Chloe membuka pintu, Netra nya memandang sekeliling mencari sosok Ian. Tak lama Netra biru nya menangkap sosok yang dicarinya, Duduk tak jauh dari pagar pembatas ditemani dengan sinar bulan dan kerlap-kerlip bintang. Chloe menutup pintu, Melangkah mendekat.
"Sudah kuduga Ian berada disini," Kata Chloe setelah dekat dengan Ian yang masih memandangi area sekolah dari atas.
Ian tidak menjawab, Dia hanya menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas. Menatap langit malam yang begitu cerah tanpa tertutupi awan mendung sedikit pun.
"Kenapa berada disini? Kau tidak mau kumpul dengan yang lain di Aula?" Tanya Chloe, Duduk di samping pemuda bernetra merah itu.
"Tidak! Aku tidak suka keramaian," Balas Ian dengan tatapan kosongnya.
Chloe paham, Sifat anti sosial Ian masih ada rupanya. Wajar jika Chloe mendapati Ian berada di tempat yang sepi. Sang gadis mendongak, Ikut memandangi sinar bulan di atas mereka.
"Kudengar, Mitos nya jika seseorang meninggal. Orang itu akan berubah menjadi bintang, Dan bintang yang paling besar serta bersinar cerah tandanya orang itu sedang melihat kita dari atas sana," Jelas Chloe, Netra nya mencari bintang yang paling bersinar di antara ribuan bintang lainnya.
Jari telunjuknya menunjuk dua bintang yang bersinar cerah ke arah barat, Chloe tersenyum lembut. Kemudian dia menoleh pada Ian disampingnya yang mengikuti arah telunjuk Chloe.
__ADS_1
"Kau disini karna teringat dengan kedua orang tua mu kan? Itu pasti mereka, Mereka melihat mu dari sana," Kata Chloe masih tersenyum, Menurunkan tangannya.
Ian hanya diam saja, Tidak menjawab perkataan Chloe. Netra merahnya beralih kembali menatap area sekolah.
"Kuanggap diam mu artinya iya," Sejenak Chloe ikut terdiam menatap sinar bulan.
Dari atas Rooftop, Ribuan bintang dan bulan terlihat sangat jelas ditambah dengan semilir angin malam menambah kesejukan malam itu.
"Btw, Apa kau mau berdansa denganku?" Dengan ragu Chloe melirik Ian disampingnya.
Sejenak ekspresi Ian berubah terkejut, Dia tidak menoleh. Namun kembali memasang ekspresi datar setelahnya.
"Tidak!"
Chloe mengerjapkan matanya, Kemudian menghela napas lirih.
"Gagal Holy," Kata Chloe dalam hati.
"Coba lagi, Masa baru ditolak sekali langsung nyerah," Cibir Holy yang duduk di pagar pembatas.
Chloe memutar otak, Mencari akal agar Ian mau berdansa dengannya.
"Kalau begitu, Apakah kau mau mengajakku berdansa?" Chloe harap Ian tidak menolak permintaannya ini.
Sesaat Ian menoleh menatap Netra biru Chloe, Semilir angin kecil menerbangkan helai-helai rambut keduanya. Dalam keheningan tanpa menjawab pertanyaan sang gadis, Ian meranjak dari duduknya.
Sang pemuda mengambil HP nya dalam saku celana, Mengotak-atik sebentar lalu Meletakkan benda persegi panjang itu di kursi. Tak lama sebuah lagu musik klasik terdengar dari HP Ian.
Ian berdiri dihadapan Chloe yang masih duduk dengan ekspresi datarnya, Lalu sedikit membungkuk layaknya pangeran gentleman. Meletakkan tangan kiri hampir mengenai pundak kanannya dan tangan kanannya terulur berniat meraih tangan Chloe.
"Mau kah kau berdansa denganku?"
"Dengan senang hati," Jawab Chloe tersenyum lembut. Dia meranjak dari duduknya, Mengikuti sang pemuda menuju ke tengah Rooftop.
Ian meletakkan tangan kirinya di pinggang sang gadis lalu tangan kanannya menggenggam tangan kiri Chloe, Sedangkan tangan kanan Chloe memegangi pundak kiri Ian, Dan tangan kirinya menggenggam tangan kanan Ian.
"Tapi aku gak bisa dansa loh," Kata Chloe terkekeh pelan. Sebelum mereka memulai dansa.
"Ikuti saja langkahku," Sahut Ian datar.
"Jangan salahkan aku kalau aku gak sengaja menginjak kakimu," Chloe hanya tersenyum teduh. Ian hanya mengangguk pelan.
Mereka mulai berdansa mengikuti alunan lagu klasik dari HP Ian, Chloe agak gugup dan kaku karna ini pertama kalinya dia berdansa dengan seseorang. Bahkan belum 5 menit mereka berdansa, Chloe sudah beberapa kali menginjak sepatu Ian. Membuat sang gadis hanya bisa tersenyum canggung. Ditambah tatapan insten dari sang pemuda, Manambah kegugupan 99% dalam diri Chloe.
"Sumpah, Awkward banget. Mana lagi tatapan Ian insten banget, Aku gak bisa natap matanya," Pikir Chloe malu, Dia menundukkan kepalanya hingga beberapa helai poni nya menutupi sebagian wajah. Gerakan dansa Chloe jadi tambah kaku karenanya.
"Hehehe, Sabar Chloe. Yang penting misi nya udah berhasil," Teriak Holy dari pagar pembatas, Menatap dua sejoli yang masih berdansa.
Chloe hanya melirik kecil Holy, Lalu kembali menunduk.
"Gerakanmu payah juga, Kau harus sering berlatih agar seirama denganku," Kata Ian datar yang masih menatap Chloe.
Mendengar suara Ian membuat Chloe mendongak, Netra biru nya beradu tatap dengan Netra merah Ian.
"Kan aku sudah bilang, Aku gak bisa–"
Tiba-tiba dengan sekali tarikan, Ian merangkul pinggang Chloe. Mendekatkan tubuh sang gadis padanya, Chloe tersentak hampir jatuh karna tarikan Ian. Kini tubuhnya benar-benar dekat dengan sang pemuda. Apalagi tatapan Ian semakin Insten.
__ADS_1
(Begitulah posisi mereka👆)
Deg! Deg! Deg!
Rasanya Chloe bisa mendengar suara detak jantung nya sendiri yang tak beraturan, Pipi nya tanpa sadar merona tipis. Tunggu dulu! Suara ini bukan hanya detak jantungnya tapi juga suara jantung Ian yang berdetak cepat. Karena Chloe sangat dekat dengan sang pemuda, Otomatis dia bisa mendengar detak jantung itu.
Sekilas Chloe seakan berhadapan dengan teman masa kecilnya, Netra merah itu terlihat dalam seakan penuh kerinduan. Tanpa sadar Netra biru nya berkaca-kaca, Rasanya Chloe ingin menangis mengingat teman masa kecilnya itu.
Sesaat dansa mereka terhenti membiarkan lagu klasik itu menghilang, Ian terdiam menatap Netra biru Chloe yang berkaca-kaca. Ibu jarinya mengusap sudut mata sang gadis dengan lembut. Namun akhirnya air mata yang sejak tadi Chloe tahan akhirnya tumpah, Sang gadis menangis terisak sambil menyandarkan kepalanya pada dada Ian yang tertutup setelan Tuxedo. Memeluk Ian agak erat.
Ian memilih diam, menundukkan kepalanya menatap Chloe yang sedang menangis. Memeluk balik sang gadis dengan lembut.
"Kenapa kau menangis? Apa kau merindukan teman masa kecilmu itu?" Kata Ian lirih, Tepat di samping telinga sang gadis. Dia meletakkan dagunya di pundak Chloe, Masih dalam posisi memeluk.
"Iya, Aku rindu Moonshi...hiks...Aku rindu Ian...hiks," Kata Chloe sesegukan, agak terbata-bata karna menangis. Membayangkan bahwa yang dipeluknya ini adalah teman masa kecilnya.
"Apa kau suka padanya?"
"Tidak, Aku sudah menganggap dia seperti saudaraku," Lirih Chloe pelan.
Ian terdiam, Jantungnya masih berdetak tak karuan. Sesaat menghela napas lirih. Sang pemuda melepas pelukannya, Membuat Chloe ikut melepaskan pelukan. Ian menatap wajah Chloe yang tampak kacau, Mata sang gadis agak bengkak karna menangis. Kemudian kedua ibu jarinya mengusap kedua sudut mata sang gadis. Chloe hanya diam menerima perlakuan seperti itu.
Ian mendekatkan wajahnya, Mempertemukan kening mereka masing-masing. Menatap dalam Netra biru milik Chloe dalam jarak dekat.
"Dengar, Kau bisa memanggilku Moonshi seperti panggilan mu pada teman masa kecilmu, Kau bilang aku mirip dengannya. Jadi panggil saja aku begitu, Dan aku akan memanggilmu Sunshi. Kau mengerti?" Kata Ian masih menempelkan keningnya pada kening Chloe.
"Iya," Chloe mengangguk pelan, Meski dirinya sudah berhenti menangis tapi sesegukannya masih ada.
Perlahan sudut bibir Ian tertarik membentuk senyuman tipis, Ini pertama kalinya Chloe melihat Ian tersenyum walau hampir tak terlihat saking tipisnya. Sesaat Ian memejamkan matanya.
"Terima kasih Moonshi," Chloe berlahan ikut tersenyum membiarkan kening mereka masih menempel.
"Terima kasih kembali Sunshi," Lirih Ian pelan, Netra merah nya menatap tepat di Netra biru Chloe.
Sejenak semilir angin menerbangkan helai-helai rambut keduanya dalam diam, Tak lama Ian menjauhkan wajahnya, Mencium kening sang gadis dengan lembut. Sedangkan Chloe diam sambil memejamkan matanya, Membiarkan Ian.
DDUUAARR!
Suara kembang api yang tiba-tiba melesat dan meledak di udara, Membuat keduanya menoleh menatap kembang api yang meluncur dan meledak satu persatu.
Bahkan kini terdengar suara riuh Siswa-Siswi bergembira di bawah mereka, Siswa-Siswi itu keluar dari Aula untuk melihat kembang api yang menghiasi langit malam.
Ian dan Chloe menatap kembang api itu, Kemudian Ian merangkul pundak sang gadis agar mendekat padanya. Sesaat pipi Chloe merona tipis, Gadis bersurai biru itu tak berani menatap Ian.
"Apa masih dingin?" Tanya Ian tak mengalihkan pandangannya dari Chloe, Masih merangkul pundak sang gadis.
"Tidak, Ini sudah cukup,"
Keheningan kembali melingkupi keduanya, Menatap kembang api yang masih menghiasi langit malam, Lalu Ian dan Chloe sama-sama saling pandang.
"Terima kasih sudah hadir di hidupku," Kata keduanya bersamaan. Chloe yang tersenyum ceria dan Ian yang tersenyum tipis.
Mereka kembali menikmati hiburan kembang api tersebut sambil duduk di kursi, Dan kepala Chloe yang menyandar pada pundak Ian.
__ADS_1
Malam yang tidak akan terlupakan oleh keduanya, Serta kegembiraan di hati masing-masing.
TBC