System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Rafael dan Azura


__ADS_3

[Keesokan Paginya]


Hiruk pikuk gaduh terdengar sepanjang koridor kampus, Beberapa mahasiswa terlihat sibuk hilir mudik dengan kegiatan masing-masing. Termasuk Chloe yang saat ini sibuk membawa beberapa kardus berisi dekorasi untuk kelas nya nanti.


"Minggir-minggir! Jangan ngehalangin jalan," Seru Chloe yang agak kesulitan melihat jalannya karna pandangannya terhalang tumpukan kardus yang ia bawa.


Beberapa mahasiswa menyingkir dari jalan mereka agar Chloe leluasa untuk lewat, Hingga tanpa disengaja Chloe menginjak sebuah kaleng kosong (Yang dibuang sembarangan oleh sang empunya) Mengakibatkan keseimbangan gadis itu oleng, Dan siap menghantam lantai.


"Eh! Ke-Kenapa ini?!" Kata Chloe panik, Keseimbangannya tak beraturan.


TAP!


HUP!


Beruntung tangan seseorang dengan sigap menahan kardus yang dibawa Chloe, Hingga gadis itu tidak sempat jatuh.


"Syukurlah, Hampir saja," Chloe kembali menegakkan tubuhnya, Bersyukur dalam hati kalau dia tidak sempat mencium lantai, Bisa-bisa dirinya ditertawakan seisi kampus.


"Kau gak apa-apa kan?"


Chloe mendongak setelah suara seseorang menyapu pendengarannya, Senyum tipis terpatri dibibirnya saat pandangannya bertemu sosok pemuda bersurai hijau yang menjadi kakak tingkatnya.


"Gak apa-apa kok kak, Untung aja kak Ash datang tepat waktu. Kalau enggak aku bakal nyium lantai tadi," Chloe tertawa garing, Memperbaiki posisi kardusnya yang hampir jatuh.


"Hah~, kamu ini. Padahal ini tugas laki-laki, Masa kamu yang disuruh bawa," Ash menggeleng pelan, Senyum simpul terpatri dibibirnya.


Chloe melirik tumpukan kardus di pelukannya. "Gak apa-apa kak, Aku udah sering juga bawa kayak gini,"


"Tunggu ya,"


Chloe hanya memandang heran ketika Ash memungut kaleng kosong yang sempat terinjak oleh Chloe lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat. Ash kembali menghampiri sang gadis.


"Emang gak bisa jaga kebersihan yang buang kaleng itu, Padahal tempat sampah dekat tapi malah tetap buang sembarangan," Gerutu Ash dengan ekspresi kesal, Chloe hanya cekikikan mendengar gerutuan Ash.


Kemudian Ash mengambil alih sebagian kardus yang dibawa Chloe. "Aku bawa sebagian ya, Kasihan kamu bawa sendiri. Ini lumayan berat padahal,"


"Iya, Kebetulan isinya dekorasi buat festival nanti," Chloe dan Ash mulai berjalan berdampingan, Dengan begini pandangan Chloe tidak terhalang kardus lagi.


"Pantas saja," Ash mengeratkan pegangannya pada kardus yang dibawanya, Netra hijau sang pemuda memandang lurus ke depan.


"Kelas kalian sudah mulai mendekorasi ya?"


"Iya, Kami sepakat mendekorasi lebih awal biar saat hari festivalnya gak dikejar waktu lagi, Soalnya yang ingin di dekorasi juga banyak," Jelas Chloe ikut menatap lurus. "Kalau kelas Kak Ash mau ngadain apa?"


Ash hanya tersenyum simpul, Netranya bergulir kebawah menatap lantai. "Rahasia, Nanti dateng aja ke kelas kakak saat hari festivalnya,"


"Sekarang kak Ash pakai rahasia-rahasian," Chloe mengerucutkan bibirnya yang membuat Ash tertawa pelan.


"Dateng aja, Nanti bakal tau kok,"


"Iya deh,"


Ash melirik sembari tersenyum tipis pada gadis disampingnya, Selanjutnya dirinya dan Chloe larut dalam keheningan selama perjalan mereka.


**************


[Sore hari]


CKEEIIT!


Tap!


Blam!


Gadis bersurai biru itu mendongak menatap gedung sekolah yang menjulang tinggi di depannya, Terkadang setiap menatap gedung ini mengingatkan Chloe waktu dirinya masih SMA.


Dengan mantap ia langkahkan kakinya memasuki gedung itu, Melewati koridor kelas yang sepi hingga menaiki anak tangga menuju lantai 2.


Tap! Tap! Tap!


"Kalau tidak salah kelasnya disini kan kemarin?" Gumam Chloe pada dirinya sendiri sembari mengintip pintu kelas melalui jendela kaca, Mencoba menginga kelas Ivy yang dia masuki kemarin.


Cklek!


Krreeiit!


"Ivy?" Chloe melengokkan kepalanya mencari keberadaan gadis bersurai ungu potongan pendek itu.


Namun nihil dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Ivy disana selain kelas kosong tanpa penghuni.


"Ivy? Kamu dimana?" Chloe memasuki kelas, Memastikan mungkin Ivy hanya bersembunyi disana. Dia mencari Ivy kesekeliling kelas, Mulai dari bawah meja, lemari, sampai bawah meja guru.


Tapi tetap saja ia tidak menemukan keberadaan Ivy, Chloe mengusap keningnya yang berkeringat. Mulai merasa panik, Tapi ia berusaha menenangkan dirinya dan tetap bersikap positif.


"Dimana dia?"


Netra birunya melirik meja Ivy, Dia memastikan tidak ada tas Ivy yang tertinggal disana. Semuanya kosong, Mungkinkan Ivy pulang lebih dulu karena dirinya telat menjemput gadis itu?


Chloe memutuskan keluar kelas tak lupa menutup pintunya kembali, Gadis itu bergegas mencari keberadaan Ivy disetiap kelas sampai menuruni tangga.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kakinya menggema di koridor, Kepalanya menoleh cepat kanan kiri sembari memastikan tiap kelas melalui jendela. Hingga langkah kakinya terhenti tepat di perbatasan antara koridor dengan taman belakang sekolah.

__ADS_1


Napasnya terengah-engah akibat terus berlari tanpa henti, Chloe menopang tubuh dengan lututnya sebelum pandangannya menatap liar sekeliling. Dirinya mendengar suara-suara gaduh dan teriakan dari balik belakang gudang yang berdiri tak jauh dari taman.


Segera Chloe bergegas menuju belakang gudang, Netra birunya membulat terkejut saat melihat dua orang siswa sedang memukul Ivy bahkan tanpa segan menendang gadis itu disaat Ivy tersungkur.


BUK! BUK! BUK!


"Heh! Rasakan ini, Karna kau tidak melawan. Kami semakin bebas membullymu," Kata salah satu siswa disana. Mereka terus menendang Ivy, Sedangkan Ivy yang meringkuk di tanah hanya bisa melindungi kepalanya dengan tangan sembari menahan sakit.


Kedua siswa itu tidak menyadari kehadiran Chloe dibelakang mereka, Sang gadis celingak-celinguk mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk senjata. Hingga netranya menangkap sebuah balok kayu yang tergeletak di dekat pintu gudang, Dengan hati-hati Chloe mengambil kayu itu dan mendekati kedua siswa itu perlahan tepat di belakang mereka.


BUAK!


BUAK!


Chloe mengayunkan kayunya dengan kencang tepat di tengkuk kedua siswa itu, Salah satu dari mereka ambruk menghantam tanah sedangkan satunya masih bertahan meski menahan nyeri mendapat pukulan di tengkuknya.


Salah satu dari mereka menoleh sambil memegangi lehernya dan mendesis marah menghadap Chloe. "Ggrrr! Kau...! Beraninya mengganggu kesenangan kami!"


Chloe bersikap waspada memegangi balok kayunya erat, Tatapannya menajam. "Seharusnya aku yang bilang begitu! Beraninya sama yang lemah! Kalau berani lawan aku!"


Mendengar suara yang dikenalnya membuat Ivy perlahan membuka mata dan mendudukkan dirinya, Ia menatap tak percaya pada Chloe yang sudah berhadapan dengan salah satu siswa yang membullynya.


"Chloe..." Lirih Ivy pelan, Pandangannya tak lepas dari gadis bersurai biru yang sudah menolongnya itu.


Sang pembully menggeram marah mendengar tantangan Chloe, Dia langsung bersiap memukul gadis bersurai biru itu. Sedangkan Chloe refleks menghindar secepat kilat, tangkisan demi tangkisan dia lancarkan agar pukulan itu tidak mengenainya.


BUK!


Balok kayu milik Chloe sukses menghantam kepala siswa tersebut. Siswa itu semakin tersulut emosi, Tak mau kalah dia juga mengambil balok kayu didekatnya dan kembali menyerang Chloe.


"Chloe! Hati-hati!" Kata Ivy cemas, Dia berdiri perlahan melihat pertarungan antara Chloe dan siswa itu.


KRAK!


Kedua balok kayu saling beradu, Retakan di ujung balok kayu milik Chloe mulai terlihat. Bisa dipastikan balok kayu miliknya sebentar lagi akan patah.


Sang gadis refleks mundur berdekatan dengan Ivy, Dia berkata pelan. "Ivy, Tutup matamu!"


"Eh? Kenapa? Kenapa aku harus tutup mata?" Pertarungan yang sengit seketika sedikit mencair saat Chloe meminta Ivy menutup mata.


"Lakukan saja, Aku akan mengakhirinya sekarang!"


"Eh? B-Baik," Ivy memejamkan matanya mengikuti permintaan Chloe meski dalam hati dia merasa cemas dengan keadaan sang penolongnya itu.


"Heh! Kenapa menyuruh Ivy memejamkan mata, Apa kau takut dia melihat kekalahanmu?" Siswa itu tersenyum meremehkan.


Chloe hanya memandang dalam diam, Ia melirik Ivy memastikan apakah Ivy benar-benar memejamkan matanya. Setelah merasa aman, Tiba-tiba saja Chloe sudah berada dibelakang siswa itu. Ya dia memakai teleport miliknya agar tidak memakan banyak waktu.


Ia mengayunkan balok kayu miliknya, Sedangkan siswa itu yang merasa syok karna Chloe hilang tiba-tiba didepannya refleks menoleh ketika merasa ada sosok asing berdiri dibelakangnya.


BRAK!


KRAK!


BRUK!


Mengakibatkan tubuh siswa itu terhuyung dan tubuhnya menghantam pintu gudang saking kuatnya Chloe memukul kepalanya. Darah segar mengalir dari kepala siswa itu, Dia langsung pingsan setelah tubuhnya menghantam pintu gudang. Chloe membuang balok kayu yang sudah patah ditangannya ke sembarang arah.


Dia bergegas mendekati kedua siswa tersebut dan memeriksa apakah masih hidup atau tidak. Setelah memastikan kedua siswa tersebut masih hidup meski salah satu dari mereka mengalami pendarahan, yah walaupun nanti akibatnya mereka bakal gegar otak karna berkali-kali mendapat pukulan dikepala.


Chloe menghentikan pendarahan di salah satu siswa itu dengan kekuatan healing miliknya yang didapat dari Aiden meski hanya sedikit, Setelahnya ia mendekati Ivy.


"Ivy," Chloe menepuk pundak Ivy, Mengkode agar gadis itu membuka mata.


"Uh...Apakah sudah selesai?"


"Ya,"


Ivy membuka matanya perlahan, Sesaat ia mengerjap dan tak lama netra ungu mudanya membulat terkejut. Memandang kedua pembully yang sudah tepar tak berdaya disana.


"C-Chloe...Apa kamu yang membuat mereka pingsan begini?!" Kata Ivy terbata-bata tak percaya.


"Hm...Aku hanya memberi sedikit pelajaran pada mereka. Lagi pula ini tidak sebanding dengan kamu yang mungkin setiap hari dibully oleh mereka," Chloe menggidikkan pundaknya acuh.


Senyum tipis kemudian terukir di bibirnya. "Ya sudah, Ayo pulang,"


"Aku..." Ivy menunduk memutuskan kontak mata dengan Chloe. "Aku tidak bisa pulang dengan keadaan begini, Kalau kak Revan sampai tahu. Bisa-bisa Chloe bakal dimarahin kak Revan lagi,"


Chloe diam sesaat, Dia memperhatikan penampilan Ivy yang sangat berantakan. Pipi kirinya penuh lebam biru serta sudut bibirnya yang berdarah. Seragam milik Ivy tampak kotor dengan noda tanah, Rambutnya juga sangat berantakan.


Chloe kembali menunjukkan senyumnya, Dia mengusap rambut Ivy bermaksud merapikan surai milik gadis itu. "Hei, Aku punya sebuah rahasia. Kau ingin tahu?"


Ivy mendongak heran. "Sebuah rahasia? Kenapa tiba-tiba?"


"Aku akan menunjukkannya tapi ingat, Ini hanya akan menjadi rahasia kecil kita berdua ya," Chloe meletakkan jari telunjuknya dibibir masih memasang senyum tipis.


"Sepertinya menarik," Ivy mengangguk antusias. "Aku akan menjaga rahasiamu, Tunjukkan apa itu?"


Chloe menunjukkan telapak tangannya, Tak lama cahaya hijau muncul disana. Ivy sontak terkejut, Disaat bersaman ia merasakan hembusan angin menerpa pipi kirinya ketika Chloe mendekatkan cahaya hijau itu kesana. Berangsur-angsur lebam di pipi kiri Ivy dan luka disudut bibirnya mulai pulih, Ia bahkan juga tidak merasakan sakit lagi disekujur tubuhnya.


Ivy diam mematung masih tak percaya dengan keajaiban yang baru saja dilihatnya. Setelah merasa cukup, Cahaya hijau itu memudar lalu hilang dengan sendirinya. Chloe menjauhkan tangannya sambil menatap ekspresi kaget Ivy dengan lekat.


"Itu...Tadi apa? Hebat sekali, Rasa sakit ditubuhku langsung sembuh dalam sekejap," Ivy meraih tangan Chloe penuh keterkejutan, Membolak-balikkan tangan sang gadis bersurai biru seolah ingin melihatnya lagi. "Apakah ini hanya halusinasiku atau memang nyata kau memiliki kekuatan?"

__ADS_1


"Ini nyata," Sahut Chloe tersenyum simpul.


"B-Baru kali ini aku bertemu manusia seajaib kamu. Mustahil tapi disaat yang bersamaan juga keren," Netra ungu muda milik Ivy berbinar cerah, Rasanya ia ingin melihat cahaya itu sekali lagi.


"Kekuatan ini hanya keluar saat aku menyembuhkan diri ataupun orang lain, Jadi tidak akan muncul ketika aku masih baik-baik saja," Jelas Chloe memperhatikan tindakkan Ivy.


"Uh, Begitu ya," Ivy menjauhkan tangannya. "Tapi sekarang aku mulai yakin, Chloe adalah Bodyguard terbaik yang dipilihkan Kak Eli untukku,"


Chloe tersenyum kecut mendengarnya, Gadis itu menghembuskan napas sejenak. "Tapi tidak bagi kakak-kakakmu yang lain kecuali Nona Michelle, Sejujurnya pekerjaanku pun awalnya bukan begini. Jadi ini pertama kalinya bagiku bekerja sebagai Bodyguard seseorang,"


"Eh? jadi ini bukan pekerjaanmu sejak awal?"


"Iya,"


Chloe memandang langit jingga di atas mereka, warna orange kemerahan menandakan sebentar lagi akan berganti malam. Ivy ikut mendongak.


"Hampir malam, Ayo pulang. Lukamu juga sudah kusembuhkan," Ajak Chloe melangkah lebih dulu. Ivy bergegas menyusulnya dan menahan tangannya secara tiba-tiba.


Sret!


"Chloe,"


Panggilan Ivy membuat Chloe menoleh dan memelankan langkahnya. "Ada apa?"


"Etto...Sebelum pulang, Bisakah kita mampir ke Cafe dulu? Aku merasa lapar sekarang," Pinta Ivy menarik ujung baju yang Chloe kenakan sambil menunjukkan wajah memelas.


Sang gadis hanya tersenyum dan menepuk surai milik Ivy pelan. "Ya sudah, Ayo pergi,"


"Iya~" Senyum sumringah terpatri di wajah Ivy, Dia lantas berjalan sejajar di samping Chloe.


****************


[Di sebuah Cafe]


Kring!


Bunyi bel kecil menyambut kedatangan Azura, Netra birunya menajam menatap lautan menusia disana. Beberapa barista tampak berjalan hilir mudik melayani pesanan pelanggan, Diantara lautan manusia itu sesosok seorang gadis menarik perhatiannya, Gadis yang sudah lama tidak ia temui dan Azura rasa dia merindukan gadis itu.


Dengan senyum antusias Azura menghampiri mantan pacarnya yang mungkin sebentar lagi mereka akan balikan, Namun baru beberapa langkah. Seorang laki-laki menghampiri mantan pacarnya itu lebih dulu dibanding dirinya.


Azura diam mematung, Pasalnya dia sangat mengenali perawakan dari laki-laki tersebut. Suara yang sangat ia kenali, Dari jarak dekat Azura bisa mendengar jelas pembicaraan antara laki-laki tersebut dengan mantan pacarnya.


"Honey, Kenapa kesini? Sebentar lagi temanku datang," Kata sang gadis dengan raut panik.


"Memangnya kenapa? Kau bilang temanmu cewek, Jadi tidak masalah kalau aku ikut nimbrung," Balas sang lelaki santai sambil meletakkan makanannya. "Lagipula kita ini sedang kencan, Harusnya aku yang bertanya kenapa kau malah mengajak teman perempuanmu disaat yang tidak tepat,"


"Ah, Kami cuma mau nostalgia karna sudah lama tidak bertemu. Honey, Cepat kamu pindah dulu sana!" Kata gadis itu berusaha menjauhkan pacarnya.


"Gak!"


"Honey!" Gadis itu memasang ekspresi memelas.


Sedangkan Azura yang melihat interaksi antara mantan pacarnya dengan laki-laki itu mulai tersulut emosi, Wajahnya merah padam menahan amarah. Dadanya begitu sakit dan sesak tanpa terkendali.


Dengan langkah yang semakin berat, Azura menghampiri kedua sejoli itu. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang disekitarnya, Sekarang fokusnya hanya ingin menghajar laki-laki itu dengan tangannya sendiri.


"Kak Rafael!"


BRAK!


Bunyi gebrakan meja yang memekakan telinga sontak membuat seisi Cafe menoleh bahkan sampai membuat Rafael dan pacarnya terkejut.


"A-Azura...," Gadis disamping Rafael terkejut bukan main ketika kedatangan Azura yang sudah tersulut emosi.


"Azura! Kenapa disini?" Rafael sontak berdiri dan mendapat tatapan tajam dari Azura.


"Kenapa?! Masih tanya kenapa aku disini?!" Azura memandang serius tanpa ingin menjawab pertanyaan Rafael. "Kakak macam apa kau yang tega menusuk adiknya sendiri dari belakang hah?! Ini yang disebut saudara?!"


Rafael mengernyitkan alisnya bingung. "Apa maksudmu Azura? Aku tidak–"


"Jangan pura-pura tidak tahu?! Dia dulunya adalah pacarku! Dan kakak malah merebutnya dariku! Memangnya aku punya salah apa sama kakak?" Azura mencengkeram erat meja didepannya, Menahan rasa sakit.


Netra Rafael membulat terkejut sedangkan gadis disampingnya semakin panik, Gadis itu memegang tangan Azura.


"Azura tunggu! Aku bisa menjelaskannya," Sela gadis itu dengan pandangan memohon.


"Kalau kau dulunya adalah pacar Azura, Kenapa kau mendekatiku?! Kenapa kau tidak bilang kalau kau adalah pacar adikku?" Kedua tangan Rafael mengepal, Memandang tajam gadis disampingnya dengan kecewa. "Jika saja kau bilang sejak awal, Aku tidak pernah mau berpacaran denganmu!"


"Aku..." Gadis itu kehilangan kata-katanya dihadapan kakak adik Michelle ini. Dia mencengkeram ujung pakaiannya takut.


Azura yang sudah tersulut emosi, Tanpa peringatan langsung memukul Rafael membuat Rafael jatuh karna tidak siap dengan pukulan Azura.


BUAK!


BRAK!


KKYYAAA!


Teriakan histeris terdengar dari pengunjung wanita termasuk gadis disamping Rafael, Rafael hanya diam sambil memegangi pipinya yang kena pukulan Azura.


Kedua tangan Azura mengepal. "Dasar kakak penghianat!"


Netra birunya beralih memandang mantan pacarnya itu. Berkata penuh penekanan. "Dan kau! Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi dihadapanku!"

__ADS_1


Setelahnya Azura berbalik melangkah pergi dari sana, Menghiraukan suara Rafael yang terus memanggilnya.


TBC


__ADS_2