System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Perasaan Ezra


__ADS_3

“Pak Ezra! Pak Ezra!”


Samar-samar suara lembut itu memenuhi pendengarannya, Suara lembut bercampur panik semakin terdengar jelas ketika dirinya perlahan membuka mata. Sesaat keningnya mengerut merasakan rasa hangat yang menggenggam tangan kirinya.


Ezra menggerakkan tubuh, Memposisikan dirinya dalam posisi duduk. Sejenak matanya mengerjap berusaha mengenali siapa sosok yang kini berada disamping tempat tidurnya.


“Chloe?!” Katanya terkejut sadar kalau yang saat ini berada disamping tempat tidurnya adalah si tengil yang menjadi partnernya.


Raut cemas tergambar jelas dari ekspresi sang gadis, Terlebih ketika netra hijau Ezra melirik tangannya yang digenggam erat oleh Chloe.


“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Ezra memalingkan wajahnya, Menyembunyikan semburat merah samar di kedua pipinya. Meski begitu dia juga tak berniat melepaskan genggaman Chloe dari tangannya.


“Aku mengkhawatirkan bapak tahu! Niatku kesini tadi mau ngebangunin bapak. Tapi saat masuk, Kulihat bapak manggil-manggil nama Aiden dan Pak Justin. Makanya aku khawatir, Kupikir bapak lagi sakit karna terus manggil nama mereka berdua,” Jelas Chloe semakin mengeratkan genggamannya, Raut wajahnya tetap tak berubah. Masih merasa cemas dan khawatir.


“Benarkah aku memanggil nama mereka dalam tidurku?” Tanya Ezra sembari menatap balik netra biru gadis didepannya.


“Iya, Bapak terus memanggil mereka. Apa bapak merasa kangen dengan anggota asrama?” Chloe menunduk muram merasa sedih. Ezra memilih diam sejenak.


“Sedikit, Dan aku baik-baik saja,” Ezra perlahan melepas genggaman Chloe dari tangannya, Namun tampaknya Chloe tak berniat sama sekali melepas genggamannya. Hal itu membuat kening Ezra mengerut.


“Ada apa? Kenapa kau terus menggenggam tanganku?”


“Suhu tubuh bapak meninggi, Aku merasakannya saat menggenggam tangan bapak. Bapak sakit?” Kembali Ezra menangkap ekspresi cemas Chloe, Kalau begini bagaimana dirinya bisa menghindar dan menghilangkan perasaannya dari Chloe?


Ia mendesah lirih, Menggeleng pelan sembari menempelkan kedua jarinya dengan kening sang gadis.


TUK!


Chloe diam terbengong dengan perilaku Ezra, Ia membiarkan kedua jari pemuda bernetra hijau itu menempel di keningnya. Menunggu tindakkan Ezra selanjutnya.


“Aku tidak sakit, Suhu nya saja hari ini lumayan panas. Kau saja yang terlalu negatif thingking,” Dengan sedikit dorongan, Ezra mendorong pelan kening Chloe dengan dua jarinya yang menempel. Mengakibatkan kepala sang gadis agak terdorong, Alhasil ia meringis sembari mendengus pelan.


“Pak! Aku tanya baik-baik lho, Bapak jawabnya malah main-main! Aku begini kan karna khawatir sama keadaan bapak. Kalau bapak jatuh sakit kan gak ada yang bisa menggantikan pekerjaan bapak di perusahaan,” Protes Chloe sambil berkacak pinggang. Mengingatkan Ezra dengan pekerjaannya.


Ezra mengubah posisinya, Ia mendudukkan diri di sisi kasur sembari mendengarkan setiap protesan yang keluar dari mulut gadis bersurai biru itu.


“Iya, Iya aku tahu. Aku selalu menjaga kesehatanku meski kau tidak ada di asrama. Lagipula kalau pun aku sakit, Kau bisa menggantikan pekerjaanku. Kau kan partnerku,” Balas Ezra santai membuat raut wajah Chloe berubah kaku seketika.


"Bapak gak benar-benar berniat memanfaatkan kerja sama kita kan?" Tanya Chloe dengan senyum kesal.


Ezra melirik sembari tersenyum sinis, Membalas ekspresi sang gadis. "Kalau aku punya partner, Kenapa enggak kumanfaatkan?"


Mendadak Chloe tak bisa membalas perkataan Ezra, Gadis itu memasang ekspresi cemberut sembari bersidekap. "Ukh...Curang, Aku saja tidak berminat dengan pekerjaan itu. Masa bapak seenaknya menyerahkan pekerjaan itu padaku,"


Ezra menghela napas, Ia mengetuk pelan kening Chloe.


TUK!


"Dasar! Aku hanya bercanda, Aku tahu kok batasan kemampuanmu. Mana mungkin aku membiarkan kau mengacau pekerjaanku, Bukannya beres yang ada malah menambah beban," Sahut Ezra yang mendapat ringisan kembali dari Chloe.


"Terus sekarang apa yang akan bapak lakukan, Setelah kejadian kemarin?" Chloe mengusap keningnya sesaat sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Ezra.


"Tentu saja kembali bekerja seperti biasa, Dan aku ingin pulang. Tidak betah berada di sini," Sungut Ezra sembari meranjak dari duduknya.


"Ah, Bapak mau pulang sekarang? Gak mau nginap semalam lagi?" Chloe menunduk murung membuat Ezra mengernyit.


"Tentu saja, Buat apa aku berlama-lama tinggal disini. Mereka bukan keluargaku," Ezra menjeda kata-katanya menyadari wajah murung Chloe, Sejenak dirinya terdiam lalu kembali mendudukkan diri.


"Kau kesepian disini?" Tanyanya kini dengan nada rendah, Tidak setenang tadi.


Chloe mengangguk pelan, Menghela napas lirih. "Aku rasanya lebih nyaman tinggal di asrama dan sudah mengenal pak Ezra lebih lama. Sedangkan disini rasanya masih asing bagiku meski mereka baik tapi aku merasa sendiri,"


Ezra spontan mengusap tengkuknya bingung harus menjawab apa, Ia ikut menghela napas lirih. "Lalu kau mau bagaimana? Mau ikut pulang dan tinggal bersamaku di asrama? Sedangkan Ray Maximillian ingin kau kembali padanya,"


"Tapi aku masih ragu dengan dia, Bagaimana kalau dia hanya pura-pura?" Tanya Chloe cemas. "Apa aku kasih tahu saja yang sebenarnya kalau aku bukan Chloe Amberly yang asli?"


Ezra mengusap wajahnya kasar, Netra hijau emerlandnya menajam. "Jangan lakukan sesuatu yang akan berakibat fatal kedepannya tanpa persetujuan Tuan Justin! Kalau kau memberi tahunya sekarang, Dia juga pasti tidak akan percaya karna yang kau gunakan ini raga Chloe Amberly bukan ragamu sendiri!"


"Dan pastinya dia tidak menipumu karna bukti dokumen itu sudah ada," Tambah Ezra serius yang membuat Chloe mendongak.


"Kenapa bapak begitu yakin dengan dokumen itu?"


"Kau lupa perjanjianmu dengan Tuan Justin? Dia tidak pernah mengingkari janjinya, Dia telah mencocokan DNA Chloe Amberly dengan Ray Maximillian. Dan hasilnya kedua DNA itu cocok, Makanya itu menjadi bukti bahwa keluarga kandung yang kau cari adalah Ray Maximillian,"


Chloe merenung memikirkan perkataan Ezra, Sepertinya yang dikatakan Ezra ada benarnya juga. Untuk apa Ray repot-repot mengaku bahwa dia telah kehilangan adiknya sejak lama pada Chloe kalau pemilik raga ini bukan adik kandungnya.

__ADS_1


"Untuk sekarang kau ikut dulu dengan keluarga Maximillian, Kalau terjadi sesuatu. Bilang saja padaku, Aku akan membantumu," Kata Ezra mengakhiri penjelasannya, Ia mencengkeram kedua pundak Chloe pelan. Menguatkan sang gadis.


"Lalu soal identitasku yang sebenarnya bagaimana? Aku tidak mungkin terus-terusan berada di raga ini sebagai Chloe Amberly," Chloe mendongak memandangi netra milik Ezra.


"Kita akan memikirkan langkah selanjutnya nanti setelah kembali bertemu dengan Tuan Justin dan yang lainnya,"


"Baiklah, Aku akan berusaha mempercayai Ray Maximillian," Chloe mengangguk pasrah, ia kembali murung mengingat Ezra akan kembali ke asrama.


Ezra melepas cengkeramannya memandangi wajah Chloe sejenak, Melihat ekspresi Chloe yang kembali murung spontan Ezra menyentil kening si gadis.


CTAK!


"Aaww!"


"Udah, Gak usah murung. Ekspresimu yang seperti itu terlihat jelek dimataku," Kata Ezra tanpa merasa kasihan, Dengan cuek dirinya segera meranjak.


"Aduh Pak, Hobi banget nyentil keningku," Protes Chloe mengusap keningnya yang berdenyut karna Ezra menyentil dengan kencang.


"Siapa suruh wajahmu terlihat menyebalkan dimataku," Balas Ezra kesal sambil bersidekap. "Sudahlah, Kau keluar sana! Nanti para Michelle itu berpikir yang tidak-tidak lagi jika melihatmu keluar dari sini,"


"Memangnya bapak mau ngapain? Bukannya bapak bilang tadinya mau pulang. Aku disini nunggu buat antar bapak sampai pintu depan," Dengan tatapan polos Chloe memiringkan sedikit kepalanya bingung.


Alhasil Ezra yang berniat membuka pintu kamar mandi terhenti, Ia mendelik tajam pada Chloe seolah mengatakan 'Apa-kau-tidak-tahu-atau-pura-pura-tidak-tahu?'.


"Tidak lihat aku mau kemana?! Kau pikir aku langsung pulang begitu tanpa bersiap-siap?! Banyak sekali pertanyaanmu! Mau kusentil lagi hah?!" Kata Ezra dengan aura suram mengelilinginya, Netranya menajam setajam elang.


Seketika keringat dingin mengalir di kening Chloe, Dirinya berjengit kaget dan spontan mengusap tengkuknya kaku dengan senyum kikuk.


"Ahaha...Bapak mau siap-siap dulu ya. Maaf, Kupikir tadi mau langsung pulang," Chloe tertawa kikuk, Menyadari kebodohannya.


Ia langsung meranjak dari kasur lalu mengambil sebuah pakaian yang dia bawa, Perlahan Chloe menyerahkan ke Ezra.


"Ini pakaian ganti buat bapak, Aku pinjam dari Kak Rafael,"


"Hah?! Untuk apa kau kasih pakaian dari Michelle ke aku? Aku gak perlu pakaian ganti!" Ezra mendorong kembali pakaian yang Chloe sodorkan padanya, Menolak mentah-mentah.


"Udahlah Pak, Pakai aja. Lagian bapak gak bawa pakaian ganti, Nanti aku yang akan mencucinya," Chloe bersikeras menyerahkan pakaian itu pada Ezra.


Ezra berdecak kesal, Dengan terpaksa dirinya menerima pakaian itu. Melihat wajah kesal Ezra membuat Chloe tersenyum sembari terkekeh pelan, Ia sedikit berjinjit karna perbedaan tinggi tubuh mereka lalu tangannya terulur menepuk surai hitam milik Ezra sesaat.


"Hehehe...Maaf pak Ezra, Habisnya setiap aku ngeliat ekspresi kesal bapak. Aku teringat dengan adik kembarku yang laki-laki di dunia asli, Ekspresinya ketika kesal persis seperti bapak," Chloe masih terkekeh tak menghentikan tangannya untuk menepuk surai milik Ezra. "Bukannya kelihatan menyebalkan malah jadi kelihatan manis,"


Ezra diam sejenak membiarkan Chloe menepuk rambutnya, Kepalanya semakin menunduk agar Chloe lebih leluasa menepuknya. Rona samar kini kembali muncul menghiasi kedua pipinya.


"Kalau begitu, Setiap aku kesal usaplah rambutku. Aku akan merasa senang jika kau mau melakukannya," Kata Ezra dengan suara rendah hampir berbisik, Dirinya agak merasa malu karna telah mengatakannya.


Tepukan itu terhenti, Chloe menarik tangannya kembali hal itu membuat hati kecil Ezra merasa kecewa sesaat. Namun dirinya dibuat terkejut karna Chloe tiba-tiba menangkup kedua pipinya, Dan wajahnya semakin memerah karna kini jarak wajah mereka kian dekat.


"H-Hei...Tengil! Kau jangan melakukan yang tidak-tidak!" Baru kali ini Ezra merasa gugup dan panik secara bersamaan. Jantungnya berpacu cepat, Debaran yang ia rasakan begitu kencang sampai-sampai Ezra merasa hampir kehabisan napas.


Refleks Ezra memejamkan matanya, Ia tak tahan harus menatapa netra biru dihadapannya dalam waktu yang lama. Jarak mereka yang kian dekat juga membuatnya gugup setengah mati.


"Sejujurnya kak Ezra dan Pak Ezra adalah orang yang sama kan?"


DEG!


SET!


Ezra seketika kembali membuka matanya, Wajah Chloe yang masih berada dekat dengan wajahnya sontak membuat Ezra mendorong kencang pundak gadis itu. Alhasil Chloe yang tak siap lantas tubuhnya terdorong mundur hingga jatuh. Untungnya ia jatuh tepat di kasur empuk milik Ezra.


"GGYYAAA!"


BRUK!


Ezra hanya menatap tak percaya, Ia menyandarkan tubuhnya di tembok. Memegangi dadanya dimana letak jantungnya berada, Jantungnya terus berpacu cepat tanpa henti. Debaran aneh kembali ia rasakan, Napasnya memburu tak beraturan. Kini wajahnya benar-benar merah padam, Ia mendongak menatap Chloe yang berusaha bangun dari kasur.


"Apa ini, Kenapa aku rasanya tidak bisa berhenti. Jantungku...Saat aku menyukai Tuan Justin, Aku tidak pernah begini sebelumnya. Tidak pernah terjadi, Tapi kenapa si tengil ini...," Batin Ezra masih dengan napas memburu, Ia perlahan berdiri melangkah pelan mendekati Chloe.


Chloe mendudukkan dirinya, Kepalanya agak merasa pusing habis di dorong oleh Ezra. Setelahnya ia mendongak menyadari keberadaan Ezra di dekatnya.


"Pak Ezra...? Kau baik-baik saja, Wajahmu merah lagi," Raut wajah Chloe berubah cemas, Tatapan Ezra begitu sayu yang Chloe lihat. Apalagi napas pemuda bernetra hijau itu terus terdengar lelah, Seperti habis lari maraton.


Ezra tak menggubris pertanyaan Chloe, ia malah menerjang tubuh Chloe begitu saja menahan kedua tangan sang gadis dengan tangannya, Ia menunduk menatap Chloe yang kini berada di bawahnya.


"Pak Ezra! Apa yang kau lakukan?! Ada apa denganmu?!" Chloe panik dirinya terkejut dengan tindakkan Ezra yang tak seperti biasanya, Chloe berusaha melepas kuncian Ezra di tangannya.

__ADS_1


"Barusan kau bilang kak Ezra dan Pak Ezra adalah orang yang sama? Apa aku harus menjawabnya dua kali? Apa kau tidak bisa mengenaliku dalam sekali lihat?" Lirih Ezra, Tatapannya berubah sendu. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Chloe sebelumnya.


"Gara-gara Aiden yang menyegel ingatan kita, Kita jadi tidak bisa mengingat satu sama lain. Dan baru sekarang aku bisa mengingatmu, Setelah berbagai kejadian yang kita alami. Apa kau juga sudah mengingatku? Apakah kau juga ingat janji kita?"


"I-Iya, Aku ingat semuanya. Lewat mimpi Aiden memberi tahukan semuanya padaku, termasuk janji kita. Sekarang bisakah pak Ezra lepaskan aku?" Chloe menatap ragu, Ia seakan tidak berbicara dengan Ezra saat ini. Melihat tatapan Ezra tampak kosong dan hanya terlihat dipenuhi kabut.


"Apa dihadapanku ini Pak Ezra, Dari tadi napasnya terus memburu seperti itu? Ataukah terjadi sesuatu pada pak Ezra sampai seperti ini?" Pikir Chloe mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Ezra.


"Jangan...Memancingku! Saat ini...Aku sedang menahan diri...," Kata Ezra dengan napas terputus-putus.


"Apa maksud bapak?! Bapak gak mabuk kan?"


"...."


"Apa yang terjadi padanya?! Padahal tadi Pak Ezra terlihat baik-baik saja. Pasti ada yang tidak beres, Dan suhu tubuhnya semakin panas," Chloe menyadari wajah Ezra yang berkeringat, Tatapan itu masih terlihat sayu.


"Pasti...Aku terlihat...Menyedihkan sekarang...,"


"Lagi-lagi pak Ezra meracau tidak jelas, Apa sih yang dia pikirkan?" Chloe mengerutkan keningnya, Ia merasakan genggaman Ezra semakin erat di tangannya.


"Pak sadarlah! Kau tidak sedang baik-baik saja sekarang!"


"Aku...Tidak baik-baik saja?" Ezra perlahan tersenyum sinis, Tatapannya menajam. "Menyebalkan!...Aku kesal denganmu yang tidak peka!"


Ezra semakin merendahkan tubuhnya, Mendekatkan wajahnya dengan wajah Chloe yang berada di bawahnya.


"Aku mencintaimu Chloe Watson! Kau tahu kan sekarang! Rasa sukaku semakin besar karna kau selalu bersamaku,"


Glek!


Chloe meneguk selivanya susah payah ketika tatapan tajam Ezra tertuju padanya, Ia tahu Ezra menyukainya karna Ezra sendiri yang bilang saat di J.G Entertainment. Namun dirinya sendiri masih bimbang.


"Aku tahu bapak menyukaiku–"


"Lalu kenapa kau belum menjawab perasaanku sampai sekarang?!" Potong Ezra cepat yang seketika membuat Chloe diam sesaat.


"Karna aku ingin mengenal bapak lebih dalam sebelum memutuskan, Aku ingin kita saling mengenal kepribadian masing-masing. Dan juga aku ingin mengenal bapak secara perlahan, Aku tidak ingin terburu-buru," Chloe menutup mulutnya setelah mengakhiri penjelasannya. Ah, Rasanya ia bisa merasakan pipinya memanas saat ini.


Ezra memandang dalam tanpa mengucapkan apapun lagi. Wajahnya semakin memerah, Tanpa peringatan ia tiba-tiba mempertemukan bibirnya dengan bibir Chloe, Mencium dengan segenap perasaannya.


Netra biru itu terbelalak kaget dengan tindakkan Ezra yang tak terduga, Mendadak pikiran Chloe seakan kosong sesaat. Jantungnya seketika berdebar kencang, Pertama kalinya ia dicium seorang pria! Ini first kiss nya dan sekarang diambil oleh Ezra.


Ciumannya begitu lembut sampai-sampai Chloe gak sadar Ezra sudah menjauhkan wajahnya, Dan kini beralih ke leher Chloe. Ezra mendekatkan wajahnya, Mengendus aroma sabun mawar yang menguar dari leher sang gadis. Sepertinya ia akan menyukai aroma ini.


Chloe seketika kembali tersadar setelah merasakan napas hangat Ezra menggelitik lehernya, Apalagi kini ia sudah berada dalam pelukan pemuda itu.


"Aku...Suka aromamu...,"


"Pak sudah cukup! Hentikan, Jangan lakukan lebih dari ini!" Chloe panik, Dirinya refleks mendorong tubuh Ezra menjauh sebelum Ezra berniat menggigit lehernya.


DUAK!


Entah kekuatan dari mana, Tiba-tiba tubuh Ezra terdorong jauh hingga punggungnya membentur sandaran tempat tidur. Padahal Chloe sama sekali tidak menendangnya. Tubuh Ezra limbung dan akhirnya ia jatuh menghantam kasur tepat disamping Chloe.


BRUK!


"Hosh...Hosh...Hosh...," Ezra berkeringat dingin, Napasnya semakin tak beraturan. Wajahnya begitu kacau dengan surai hitamnya yang acak-acakan.


Sesaat tangannya mencengkeram seprei kasur dengan erat, Kepalanya mendadak pusing seakan habis dijatuhi berton-ton batu bata.


"S-Sakit...!" Lirih Ezra dengan pandangan sayu. Tangannya semakin erat mencengkeram seprei kasur menyalurkan rasa sakitnya.


Chloe sontak mengambil posisi duduk, Dirinya sesaat masih dalam rasa terkejut karna Ezra yang tiba-tiba terdorong seolah habis ditendang. Padahal ia yakin dirinya tidak menendang Ezra. Setelahnya ia tersadar dan mendekati Ezra.


"Pak! Bertahanlah!" Gadis itu panik, Ia lantas memeriksa kening Ezra yang berkeringat dengan punggung tangannya.


Sontak Chloe kembali menarik tangannya dengan cepat.


"Astaga, Seharusnya aku sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Suhunya tinggi sekali, Bahkan lebih tinggi dibanding aku menangani Raizel waktu demam," Pikir Chloe kaget.


"Bapak tunggu disini ya, Aku akan cari bantuan," Perlahan Chloe meranjak dari kasur. Ia bergegas keluar kamar meninggalkan Ezra disana.


BLAM!


Ezra diam tak bergeming, Pandangannya hanya tertuju pada kepergian Chloe dengan sayu. Napasnya semakin memburu, Perlahan ia memejamkan mata hingga pandangannya menggelap.

__ADS_1


TBC


__ADS_2