System Prince Charming

System Prince Charming
Cerita Sekolah


__ADS_3

[Kantin]


Hiruk pikuk suara gaduh di sekitar Kantin tidak membuat Alice, Evelyn, dan Chloe mengurungkan niat untuk makan disana. Mereka duduk dengan tenang di salah satu meja, bercanda tawa seperti biasa.


"Hah, sudah kuduga Kak Leo begitu perhatian padamu Alice," Kata Evelyn tersenyum, sambil memakan burger nya.


"Hehehe, sejujurnya aku agak malu menceritakannya tapi kalian tadi yang memaksa," Sahut Alice malu, menutup sedikit wajahnya dengan tangan.


"Ah, rasanya aku juga pengen punya pacar. Apalah dayaku yang single ini," Evelyn menghela napas lesu.


Chloe duduk di samping Alice hanya tersenyum, tidak berniat ikut dengan obrolan tentang pacar ini.


"Oh iya, Chloe kami dengar kau ikut perlombaan Tenis mewakili sekolah ya? Kalau gak salah sama Ian Maxwell itu kan?" Alice menoleh pada Chloe di sampingnya.


Chloe mengangguk kecil menanggapinya. "Iya, kami diminta kepala sekolah buat jadi perwakilan. Sudah terlanjur di daftarkan juga,"


"Wah, semoga sekolah kita menang ya. Semangat berlatih nya Chloe," Evelyn menepuk pelan pundak Chloe, tersenyum dengan kata-kata penyemangatnya.


"Hehehe, oke aku akan berusaha,"


Chloe hanya cecengesan kecil, Namun dalam pikiran Chloe. Dia tidak yakin bisa memenangkan perlombaan ini, sejujurnya Chloe merasa ragu dan khawatir. Apalagi dia sempat berselisihan dengan Ian yang notabanenya adalah Partner nya. Chloe sebenarnya merasa bersalah juga karna sudah memarahi Ian tapi kan bukan sepenuhnya juga salah Chloe, Sikap sang pemuda lah yang membuat Chloe jengkel dan kesal sampai pada akhirnya kesabarannya sudah habis.


Chloe lebih berharap bukan dia yang menjadi perwakilan ini, namun nasi sudah menjadi bubur. Ian juga setuju dengan perlombaan itu, Chloe hanya bisa pasrah menerimanya.


"Btw, kudengar akhir-akhir ini banyak kasus kriminal ya di sekitar daerah sana? Banyak yang mati dan sebagian katanya banyak anggota tubuh mereka hilang. Sebagian lagi juga ada kasus penculikan, sudah dengar belum?" Evelyn menatap serius Alice dan Chloe di hadapannya.


"Iya aku juga sudah dengar, ada di berita tadi pagi. Baru aja viral di semua berita, banyak orang-orang yang hilang di daerah sana. Sangat menyeramkan, mana lagi daerahnya dekat sama sekolah kita," Sahut Alice bergidik ngeri, mengusap kedua lengannya yang merinding.


Berbeda dengan Chloe yang terlihat kebingungan, mengangkat sebelah alisnya heran. Chloe juga sudah mendengar berita tentang kriminal itu tadi pagi di TV nya, namun Chloe tidak menyangka akan menjadi topik hangat di kalangan teman-teman sekolahnya. Tadi pagi Chloe juga mendengar gosip-gosip itu dari siswa lain.


Chloe merasa ada yang aneh, semakin lama Chloe tinggal dalam game ini. Game ini semakin dark saja, alur ceritanya berubah menjadi mistery dan tidak bisa ditebak lagi.


"Sulit dipercaya, ganre game ini yang awalnya romantis dan teen tiba-tiba berubah menjadi mistery dan penuh teka-teki. Apa semua alur cerita saling berhubungan?" Pikir Chloe mencoba menebak-nebak, tidak habis pikir dengan kehidupannya dalam game ini.


"Chloe, Jangan-jangan kasus kriminal yang di berita itu ada hubungannya dengan Justin? Soalnya di biodata Justin sendiri, mental nya agak terganggu. Bisa jadi semua dugaan itu mengarah padanya," Tebak Holy memandangi Chloe sesaat. Holy menyandarkan tubuh kecil nya pada gelas jus Chloe.


"Aku tidak yakin Holy, tapi itu bisa saja terjadi. Namun apakah seorang Psikopat bisa membunuh korbannya secara bruntal seperti itu? Sampai-sampai di berita sebagian anggota tubuh korban hilang?"


"Mungkin, bahkan lebih buruk dari menghilangkan anggota tubuh korbannya. Uh...aku tidak ingin membahas soal kriminal ini, rasanya perutku jadi mual," Holy memegangi perutnya dengan wajah pucat dan jijik.


"Dunia game ini mulai tidak beres," Chloe menggelengkan kepalanya, Sang gadis cuma berharap dia tidak bertemu dengan si pelaku kriminal itu dan menjalani hidupnya baik-baik.


DUK!


Suara hentakan kecil di meja mereka membuat perhatian ketiganya teralihkan, Devian berdiri disisi meja mereka dengan sedikit senyum tipis.


"Boleh aku pinjam Kak Chloe lagi?"


"Tentu saja Devian, kami tidak keberatan selama kau bisa menjaga Chloe dengan baik, Iya kan Evelyn?" Sahut Alice sedikit mengangguk, sambil melirik Evelyn yang tentu saja langsung di angguki oleh Evelyn.


"Yo'i, jaga dia kalau mau minjam," Evelyn mengancungkan jempol nya dengan senyum ceria.


"Lagi-lagi aku disodorin kayak barang," Chloe speechles terdiam di tempat.


"Tentu saja. Ayo kak Chloe," Devian sedikit tersenyum, menggengam tangan Chloe dan menarik sang gadis dari sana.


***************

__ADS_1


"Kita, mau kemana?" Chloe susah payah mengikuti langkah Devian yang sedikit cepat. Bertanya-tanya dalam hati kenapa Devian terlihat buru-buru.


Mereka melewati Area taman belakang sekolah, tempat yang begitu sepi dan tenang dari Siswa-Siswi lain. Hanya Siswa-Siswi yang memiliki niat menyendiri saja yang bisa datang ke taman itu.


"Sssttt!...Aku ingin menunjukkan suatu tempat yang kusukai pada Kak Chloe. Aku yakin Kak Chloe pasti menyukainya," Devian menoleh sedikit pada Chloe sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir, agak tersenyum misterius.


Chloe menyipitkan matanya, sesaat agak mencurigai Devian. Tingkah sang pemuda seperti punya maksud lain, Namun Chloe masih berpikir positif. Mencoba tenang dan tetap mengikuti langkah sang pemuda yang entah membawa nya kemana.


Mereka sampai di sebuah gudang yang agak jauh dari area taman, Gudang itu terlihat sudah tua dan agak lusuh tapi kelihatan masih terawat dengan baik. Perlahan Devian membuka pintu gudang itu dengan sebuah kunci entah dapat dari mana.


Chloe hanya mengikuti langkah Devian memasuki gudang tersebut, Ternyata di dalam nya terdapat banyak sekali alat musik dan lembar-lembar lagu yang sudah tidak terpakai. Beberapa alat musik itu sudah berkarat dan berdebu, Sebagian masih tertutup dengan kain putih.


Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu melepaskan genggaman tangannya lalu mendekati sebuah kain putih yang menutupi salah satu alat musik. Dia menyibaknya, memperlihatkan sebuah gitar yang agak kusam dan tua.


Sang gadis berkeliling memperhatikan beberapa alat musik, mengusap sebuah piona tua yang sudah berdebu. Memperhatikan piano itu dengan teliti.


"Kenapa kau membawaku kesini Devian? Apa ada yang ingin kau tunjukkan?" Chloe menoleh pada Devian yang sudah memegang gitar dan duduk di salah satu kursi tua.


"Kak Chloe ingat kan dengan pembicaraan kita beberapa bulan lalu saat di kantin? Kau bilang ingin mendengarkan lagu buatanku, Tempat ini adalah tempat yang cocok untuk mendengarkannya," Sesaat Devian tersenyum miring, agak ganjil karna sang pemuda terlihat berbeda dari biasanya.


"Hm...iya tapi kan tempat ini–" Chloe bingung harus menjelaskan bagaimana pada Devian, sang gadis memang ingin mendengarkan lagu buatan Devian sendiri tapi tempatnya bukan di gudang juga. Bukannya terlihat romantis malah jadi terlihat menyeramkan dan suram karna mereka berada di gudang tua.


"Jangan hiraukan tempatnya, dengar dan nikmati saja lagu nya. Kak Chloe duduk saja disana," Devian menunjuk sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat Chloe berdiri.


Gadis bersurai biru itu pun duduk di kursi yang disebutkan, diam-diam Chloe mulai waspada karna sekarang sikap Devian tampak berbeda meski sang pemuda terlihat biasa saja. Chloe menatap Devian penuh selidik dan mengintimidasi.


Samar-samar suara musik gitar mulai terdengar, Devian bernyanyi sedikit lirih dan kadang nada suaranya meninggi. Sangat menghayati lagu yang dibawanya, lagu yang terdengar sedih dan penuh perasaan.


Selama Devian menyanyi, Chloe diam mendengarkan sesaat Chloe merasa bergidik ngeri, awalnya memang bernada sedih tapi lama-lama nada nya mulai berubah seram dan horror.


Petikan gitar pun berakhir setelah lirik yang dinyanyikan Devian selesai. Kemudian Netra coklat muda nya memandang Chloe yang terdiam mematung.


"Ah, Lagu yang sangat bagus. Aku bahkan tidak bisa membuat lirik lagu sebagus itu," Kata Chloe memuji lagu buatan Devian, sedikit bertepuk tangan untuk menghargai lagu buatan sang pria.


Padahal dalam pikiran Chloe, dibanding bagus lagu itu lebih terdengar menyeramkan. Bukan tentang percintaan, Persahabatan, atau pun Keluarga tapi lirik lagu itu lebih ke tentang seorang pembunuh berdarah dingin yang sedang mencari korban. Dan Chloe menyadari arti lirik itu saat di lirik terakhir.


"Yah, aku membuat lirik lagu ini dengan penuh perasaan. Karna aku ingin kak Chloe mendengarkan lagu terbaikku," Devian tersenyum tipis, mengusap gitar di pangkuannya.


"Lagu itu tidak bagus sama sekali Chloe, nada liriknya sangat menyeramkan. Aku jadi takut," Seru Holy sambil memeluk tubuhnya yang bergetar, saking takutnya dengan lagu buatan Devian.


"Aku tahu itu Holy, pura-pura lah suka pada lagunya. Agar kita bisa cepat pergi dari sini," balas Chloe masih tenang.


"Terima kasih sudah, mengajakku untuk mendengarkan lagu mu Devian. Tapi kayaknya kita harus masuk kelas sekarang," Elak Chloe tersenyum, agar mereka segera pergi dari gudang itu.


"Tunggu dulu kak Chloe, Tour kita belum selesai. Hanya sebentar, akan kutunjukkan sesuatu yang lain,"


Devian meletakkan gitarnya di kursi, meranjak dari tempatnya. Devian berjalan ke sebuah rak tampak seperti mencari sesuatu.


"Ini dia," Sang pemuda mengambil sebuah kertas kusam yang terselip diantara buku-buku tua. Sisi Kertas itu terlihat menguning dan disalah satu sisi lainnya gosong seperti bekas terbakar.


Devian memeberikan kertas itu pada Chloe yang langsung diterima oleh sang gadis, Chloe memandangi dengan teliti. Beberapa lirik lagu di kertas tersebut sebagian memudar habis dimakan waktu.


"Itu adalah lirik lagu yang dibuat pemain band terdahulu, sisi-sisi nya gosong karna bekas terbakar," Jelas Devian ikut memandangi kertas tersebut.


Chloe tersentak lalu memandang alat musik sekitarnya. "Jadi, alat-alat musik ini...?"


"Benar, bekas kebakaran yang terjadi beberapa tahun silam. Sekolah ini sempat terbakar hampir memakan nyawa puluhan peserta band, karena dulu sekolah ini sempat mengadakan acara pencarian bakat musik. Kebakaran terjadi di sebabkan oleh korsleting arus listrik," Devian berjalan mendekati sebuah piano tua mengusap tutup piano yang berdebu.

__ADS_1


"Banyak yang terjebak di ruangan itu dan akhirnya mati mengenaskan, maka nya kepala sekolah meminta alat-alat musik ini disembunyikan ke tempat yang jauh. Dan meminta siswa-siswi yang pernah melihat insiden itu tidak membahasnya lagi. Karna insiden itu adalah sejarah terburuk dari sekolah ini,"


Gadis bersurai biru itu menatap Devian tak percaya, dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Tidak tahu kalau ternyata sekolah ini memiliki sejarah yang kelam. Pantas saja sejak tadi aura gudang ini sudah membuat nya tidak nyaman.


"Aku durut berduka cita dengan sejarah sekolah ini, Aku baru mengetahui nya," Chloe meletakkan kertas tersebut di meja yang berada di sana.


"Hm...Sejarah itu sudah berlalu. Oh iya btw...," Devian menoleh pada Chloe usai menekan beberapa tuts piano hingga menimbulkan bunyi. "Kak Chloe jangan dekat-dekat dengan Ian,"


"Kenapa memangnya?"


"Dia berbahaya dan licik. Hati-hati dengannya kalau Kak Chloe masih mau selamat,"


Chloe diam membisu, benarkah Ian orang yang seperti itu!? Padahal yang Chloe lihat selama ini Ian selalu tenang dan tidak terlihat melakukan hal yang mencurigakan. Apa Devian merasa tersaingi dengan keberadaan Ian di sekolah? Karna Ian lebih populer darinya? Jadi Devian malah menjelek-jelekkan pemuda bernetra merah itu?


"Ada apa dengan dua cowok most wanted ini?" Pikir Chloe yang hanya bisa kebingungan.


********************


TAP! TAP! TAP!


Suara langkah kaki Chloe menggema di koridor kelas, buru-buru menuju kelasnya karna sebentar lagi bel. Siswa-siswi lain pun tidak terlihat karna sudah memasuki kelas masing-masing. Devian tidak ikut bersama nya, sang pemuda bilang masih ingin di gudang itu. Jadilah Chloe sendiri yang pergi.


BUK!


"Aaawww!"


Karna terlalu fokus lari plus kecepetan. Chloe malah menabrak seseorang yang baru saja datang dari arah Rooftop.


Dia mendongak masih mengusap hidung nya yang sempat ikut tertabrak. Netra biru nya bertemu dengan Netra merah darah milik Ian. Netra merah itu tampak menatap tajam, merasa terganggu dengan kehadiran Chloe disekitarnya.


"Aduh nabrak si Ian lagi. Napa sih dia selalu muncul dimana-mana!?" Pikir Chloe agak kesal ketika melihat sang pemuda.


"Maaf," Kata Chloe singkat + cuek. Sang gadis tidak peduli permintaan maafnya di terima atau tidak.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Chloe kembali melanjutkan larinya meninggalkan sang pemuda.


Setelah kepergian Chloe, Tiba-tiba dari arah gudang tadi Devian melangkah santai mendekati Ian yang masih diam di tempat. Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu menepuk bahu Ian pelan.


"Belum ingin memulai rencana mu ya?" Tanya Devian saat sampai di samping sang pemuda.


Ian melirik sesaat. "Belum, aku tidak ingin terburu-buru,"


"Iya sih, lebih baik bermain-main dulu. Tapi sayangnya Justin memberikan waktu yang terbatas, menyebalkan sekali," Devian mendengus kecil sebagai protes nya kepada Justin.


Pemuda bernetra merah itu tidak menanggapi nya. "Apa yang kau bicarakan dengan Chloe tadi?"


"Oh hanya sebuah gertakkan kecil, Hehehe dia dulu memintaku bernyanyi untuk nya jadi aku melakukan apa yang dia minta," Devian terkekeh kecil, tersenyum miring.


"Biar kutebak, lagu buatanmu pasti seram dan tidak bagus. Sengaja agar dia takut kan,"


"Hehehe, kau tahu saja aku membuat lagu seperti itu,"


Ian melirik datar, tak tertarik dengan lagu yang dimaksud Devian. Lalu pergi dari sana meninggalkan sang pemuda bernetra coklat muda itu.


"Hei, Tunggu aku Ian!"


TBC (To Be Continue)

__ADS_1


__ADS_2