System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Bukti


__ADS_3

[Keesokan harinya]


Raizel pergi menuju kamar Chloe, Dia berniat mengajak sang gadis untuk pergi barsama ke dapur. Dengan ekspresi datar Raizel mengetuk pintu. Menunggu beberapa saat sahutan dari dalam.


"Chloe, Kau sudah bangun? Ayo sarapan bersama," Ajak Raizel masih mengetuk pintu.


Beberapa saat dia menunggu namun tak ada sahutan dari dalam, Pemuda bermarga Freymon itu mengerutkan alisnya. Kembali mengetuk pintu.


TOK! TOK! TOK!


"Chloe?"


Masih tidak ada sahutan dari dalam, Dengan penasaran Raizel memegang gagang pintu dan membuka nya perlahan.


CKLEK!


"Tidak dikunci?!" Pikir Raizel mengerutkan alis, Perlahan dia mengintip dalam kamar memeriksa apakah penghuni berada di dalam atau tidak.


"Chloe?"


Kakinya melangkah memasuki kamar sang gadis, Gorden yang tampak masih menutup menandakan sang pemilik tidak berada di kamar. Sejenak Raizel menatap sekeliling kamar Chloe. Netra ungu mudanya menemukan surat undangan, jam tangan, Dan selembar kertas tergeletak di nakas.


Dia bergegas mengambil surat undangan berwarna merah dan jam tangan itu, Memeriksa nya sesaat.


"Ini kan punya Chloe, Kenapa dia meninggalkan nya disini?" Gumam Raizel heran, Membolak-balikkan surat undangan merah di tangannya.


Lalu tangannya beralih mengambil selembar kertas. Mulai membaca setiap baris tulisan di kertas itu.


...Untuk semua anggota Asrama, Siapapun yang menemukan surat ini di kamarku. Tolong beritahu anggota lain termasuk pemilik Asrama. Maaf aku harus pergi dari Asrama ini, Aku tahu tindakkan ini membahayakan ku dan anggota Asrama lain....


...Tapi aku janji akan tutup mulut soal Asrama ini dan semua anggotanya, Aku hanya berharap tanpaku di Asrama ini. Kalian bisa fokus dengan tujuan masing-masing, Aku cuma tidak ingin terus merepotkan dan manjadi beban kalian jika aku terus tinggal disini....


...Aku juga gak ingin membuat Pak Ezra marah lagi dan merasa terusik dengan kehadiranku disini. Ini adalah keputusan sendiri, Semoga setelah kepergianku kalian semua bisa akur....


...Aku juga mengembalikan surat undangan dan jam tangan itu. Tolong jangan cari aku, Semua akan baik-baik saja tanpaku :-)...


^^^Chloe Amberly^^^


Usai membaca surat itu tanpa sadar Raizel mencengkeram sisi surat hingga remuk tak berbentuk, Tangannya agak gemetar saat memegang surat itu. Menunduk sedih sambil tersenyum pedih.


"Bodoh! Kenapa harus pergi tanpa pamit?! Kenapa harus pergi segala?!" Raizel duduk di sisi kasur, Mengusap wajahnya gusar. Merasa kehilangan gadis yang berharga baginya.


Sekali lagi Raizel menatap surat di tangannya, Mencengkeram erat dengan perasaan marah. "Ezra...Semua ini gara-gara dia!"


Pemuda bersurai hitam campur coklat itu meranjak dari sisi kasur, Tak lupa mengambil surat undangan dan jam tangan milik sang gadis. Melangkah cepat meninggalkan kamar itu.


*************


[Dapur]


BBRRAAKK!


Dengan kasar Raizel menendang pintu hingga terbuka lebar membuat semua anggota yang sedang menikmati sarapan masing-masing terhenti dan menatap sang pelaku (Kecuali Justin karna dia masih di rumah sakit).


"Raizel! Apaan-apaan kau?! Datang-datang langsung ngamuk," Protes Devian tak terima karna sarapan paginya terganggu dengan keributan yang dibuat Raizel.


"Kenapa Raizel?" Felix ikut bertanya, Menatap ekspresi marah Raizel dengan aura suram disekelilingnya.


TAP! TAP! TAP!


Raizel tidak menjawab dia mengacuhkan perkataan Devian dan Felix serta keheranan anggota lainnya. Melangkah cepat mendekati Ezra yang sedang sarapan.


BRAK!


Aktivitas Ezra terhenti saat selembar kertas dihentakkan di hadapannya, Membuat beberapa piring dan gelas berisi air mineral terguncang. Tak lama Raizel menarik kerah Ezra kasar membuat sang empunya mendongak.


"Ini semua salahmu sialan! Kalau saja sejak awal kau tidak mengganggu Chloe. Dia tidak akan pergi!" Bentak Raizel marah, Namun Ezra hanya menatap tanpa ekspresi.


"Apa urusannya denganku?! Kalau dia ingin pergi ya pergi aja dari sini. Malah bagus kalau dia tidak ada di Asrama," Balas Ezra tak kalah tajam.


"Cih, Pantas saja kau dibenci oleh para karyawan di perusahaan Justin. Sikapmu bahkan lebih buruk dari sampah!"


Ezra mendelik tak terima dikatain sampah oleh Raizel, Tangan ikut mencengkeram kerah Raizel. Menatap tajam.


"Dengar, Aku tidak peduli dengan cemohanmu atau anggota lain ataupun para karyawan gak becus itu! Tapi satu hal yang perlu kau ingat, Jangan pernah mengganggu Tuan Justin ataupun mengatakan hal buruk tentangnya! Jika sampai kalian melakukannya, Kalian akan berurusan denganku!"


Ezra mendorong pundak Raizel agar menjauh darinya, Memperbaiki pakaiannya yang agak berantakan karna cengkeraman Raizel. Mendecih sinis sesaat.


"Ck! Aku selesai!"


Dengan kesal Ezra pergi meninggalkan dapur bahkan sebelum dia menghabiskan sarapannya. Sedangkan anggota lainnya menatap sinis kepergian Ezra (Kecuali Devian dan Aiden).


Sesaat Felix menghela napas, Mendengus kecil sejenak. "Aku tidak habis pikir, Segitu setianya dia pada Justin,"


Rion menyahut pelan. "Kalau aku jadi Justin, Sudah pasti aku akan memecatnya dari kantor dan mengeluarkannya dari Asrama ini,"


"Dia tidak penting, Sekarang masalahnya Chloe pergi dari Asrama ini karna dia kan? Ada yang tahu dia pergi kemana?" Tanya Ian usai membaca selembar kertas yang Raizel dapatkan dari kamar Chloe.


Seketika Aiden dan Rion memilih diam, Mereka sempat melihat Chloe pergi namun mereka tidak tahu Chloe pergi kemana.

__ADS_1


"Aku bertemu dengannya malam itu sebelum dia pergi," Sahut Rion menunduk kecil dengan sedih.


"Apa yang dia katakan sebelum pergi?" Tanya Raizel serius, Mendudukkan dirinya di samping Rion.


"Nona Chloe bilang dia pergi karna keinginannya sendiri, Dengan begitu Ezra akan senang kalau dia tidak ada di Asrama lagi. Dia juga bilang sudah bersabar menghadapi sikap Ezra tapi sikap Ezra masih kasar padanya," Rion menghela napas sesaat.


"Jadi selain itu kurasa alasan nona Chloe pergi bukan hanya karna keinginannya semata tapi juga karna sikap Ezra yang benci padanya," Jelas Rion sambil minum untuk menyegarkan mulutnya yang agak kering usai cerita.


Felix mengambil alih kertas di tangan Ian, Membaca dengan seksama bersama Devian dan Aiden. Sejenak Felix bergumam lirih dengan perasaan sedih.


"Chloe...Kenapa harus pergi?"


Aiden melirik kecil Felix disampingnya, Menatap netra aqua Felix yang meredup sesaat. Dia paham Felix merasa kehilangan adiknya.


"Disini tertulis kalau kak Chloe gak ingin di cari, Sepertinya dia perlu sendirian sekarang," Kata Devian sambil makan sebatang coklat di tangannya, Menatap kertas di genggaman Felix.


"Iya benar, Untuk sementara biarkan Nona Chloe pergi. Kita bisa memberitahu kepergian nona Chloe pada Tuan Justin nanti," Sahut Aiden datar, Mengambil jam tangan serta surat undangan di meja.


"Untuk sementara saya akan menyimpan jam tangan dan undangan ini, Kalau Nona Chloe kembali lagi saya akan menyerahkan dua benda ini kembali padanya," Tambah Aiden yang diangguki anggota lainnya.


Berbeda dengan Ian yang hanya diam saja setelah diskusi itu, Dia menatap sarapannya yang tersisa separuh. Berpikir dalam diam.


"Meski dikertas itu tertulis dia gak ingin di cari, Tapi aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Aku akan tetap mencarinya, Mengawasinya dari jauh. Semoga dia baik-baik saja selama pergi dari Asrama," Pikir Ian kembali menyantap sarapannya.


**************


[Di sisi lain]


Chloe berlari melewati beberapa mahasiswa yang menghalangi jalannya, Tergesa-gesa menuju kampusnya. Hampir saja dia terlambat pergi karna bis yang dinaikinya terjebak macet.


"Aku lupa hari ini mapelnya si guru killer itu pula, Bisa habis aku kalau kepergok telat," Pikir Chloe bergidik ngeri, Sesekali netra birunya melirik beberapa ruangan yang dia lewati.


Karna tidak memperhatikan jalan, Chloe menabrak seseorang. Hingga membuat keduanya terjatuh, Buku-buku yang dibawa orang itu berserakan di lantai.


BRUK!


"Aaww!"


"Aduh!"


Sang gadis mengusap kepalanya yang barusan kejedot buku yang dibawa sosok itu, Dia mendongak menyadari suara familiar di hadapannya.


"Kak Ash?!" Chloe terkejut menyadari orang yang ditabraknya adalah kakak tingkatnya sendiri yaitu Si Ash. Sedangkan Ash yang mengusap kepalanya ikut mendongak.


"Kau ya...,"


Chloe buru-buru bangkit dari jatuhnya lalu segera membereskan buku-buku milik Ash yang berserakan. Ash ikut memungut buku-bukunya. Mereka berdua berdiri bersamaan. Sang gadis bergegas menyerahkan buku-buku di tangannya pada Ash.


Usai menyerahkan buku-buku itu Chloe kembali lari menuju kelasnya. Ash memegang balik buku-bukunya sambil menatap kepergian Chloe dengan heran.


"Padahal aku belum bilang apa-apa," Gumam Ash sambil menunduk menatap buku-buku ditangannya. Memeriksa apakah sudah lengkap atau belum.


Netra caramelnya menangkap sesuatu yang berkilau di bawah kakinya, Dengan perlahan Ash mengambil benda itu. Memperhatikan dalam diam. Sebuah kalung dengan logo C.M besar tertampang di liontin kalung itu.


Ash memiringkan kepalanya ke samping sesaat, Menatap logo yang tertera di kalung itu. "Ini kalung milik Chloe? Tapi kenapa rasanya aku pernah liat kalung yang sejenis seperti ini?"


"Kalau tidak salah kakak pertama juga punya kalung dengan logo yang sama seperti ini," Pikir Ash masih menatap kalung di tangannya. Walau merasa bingung, Ash putuskan untuk menyimpan kalung itu dan berniat akan mengembalikannya nanti.


*************


[Kantor]


Dengan lesu Chloe membersihkan meja makan sehabis beberapa karyawan pergi dari sana. Membereskan beberapa piring lalu menuju wastafel.


"Chloe, Cuci'in yang ini ya," Kata Gracia sambil menyerahkan sebuah cangkir kosong pada Chloe.


"Iya kak,"


Chloe menerima cangkir itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Pikirannya melayang-layang dengan kejadian di Asrama, Saat dia dikurung di gubuk itu oleh Ezra.


Memory Chloe On


Saat ini Holy tidak ada disisinya, Dia merasa sendirian sekarang. Chloe mulai memeluk lututnya, terduduk dalam diam dan gelap. Pundak dan seluruh tubuhnya bergetar, Isak tangis mulai keluar dari bibir mungilnya.


Tak lama Netra birunya terbelalak seolah melihat sesuatu yang menyeramkan berada dalam kegelapan.


Sebuah sosok bergerak mendekati Chloe, Sesosok wanita dengan wajah menyeramkan dan pakaian yang compang camping. Hampir sebagian rambut wanita itu menutupi wajah, Terdapat sebuah jahitan terlihat di kening sang wanita. Wanita itu juga membawa sebuah boneka kecil menyeramkan berbentuk seperti voodoo dengan berbagai jahitan dan jarum di boneka itu.


"Nak, Kemarilah~. Ayo main sama Mama~," Sosok wanita itu semakin mendekat, Wajahnya yang menyeramkan itu menunjukkan seringai seram.


Chloe semakin meringkuk ketakutan, Tangisnya semakin menjadi-jadi. Sang gadis menggelengkan kepalanya sambil memegang kepalanya sendiri. Berteriak dalam kegelapan, Berusaha mengusir sosok wanita itu.


"Tidak! Kau bukan mamaku! Pergi! Pergi dari hadapanku!" Teriak Chloe memegangi kepalanya, Menunduk ketakutan.


"Kenapa takut sama mama?!" Mata wanita itu melotot marah, Berteriak hingga Chloe semakin menangis. "KAU ANAKKU!"


"TIDAK! AKU BUKAN ANAKMU! PERGIIII!" Gadis itu dengan gemetar mulai menekan jam arlojinya. Mencoba menghubungi Felix.


"Halo?"

__ADS_1


Saat sudah tersambung Chloe kembali menangis, Kali ini semakin kencang.


"Kak Felix....Huhuhu...Hiks, Tolong aku...Hiks,"


"Chloe, Bertahanlah!"


Memory Chloe Off


Gadis bersurai biru itu diam merenung teringat kejadian saat di gubuk itu, Tangannya masih sibuk mencuci piring namun pikirannya melayang-layang entah kemana.


"Siapa wanita yang muncul di bayanganku itu? Apa jangan-jangan dia salah satu penculik yang menculik Chloe Amberly dulu?" Pikir Chloe bertanya-tanya.


"Dia muncul di bayanganku, Pasti wanita itu juga menyebabkan rasa trauma pada Chloe Amberly muncul. Wajahnya seram sekali, Aku dibuat takut olehnya," Chloe kembali merenung, Menatap kosong piring di tangannya.


PAK!


Lamunan sang gadis buyar, Dia tersentak saat seseorang menepuk pundaknya. Chloe lantas menoleh pada sang pelaku.


"Lamunin apa sih? Asyik bener kayaknya," Kata Gracia santai sambil mengunyah rotinya. "Gak mau istirahat? Udah waktunya santai lho,"


"Bukan apa-apa kok," Chloe tersenyum kikuk, mengeringkan tangannya usai cuci piring. "Kalau gitu aku istirahat dulu,"


Gracia hanya mengangguk menatap kepergian Chloe. Chloe bergegas pergi menuju lift, Berniat ke ruang staff.


************


Di tengah perjalanan Chloe mendengar suara samar-samar di salah satu ruangan. Kebetulan suasana lantai itu sedang kosong, Dengan penasaran Chloe mengintip dari balik jendela kecil di pintu ruangan. Memeriksa siapa yang berada dalam ruangan itu.


"Pak G.M?! Ngapain dia sendirian disana?" Pikir Chloe setelah menyadari bahwa Ethan lah yang berada dalam ruangan itu.


Ethan tampak sedang menelpon seseorang, Untungnya Chloe bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Dengan penasaran plus curiga Chloe mengambil HP nya dan merekam pembicaraan Ethan dengan seseorang di seberang sana.


"Bagaimana tugasmu disana, Apa si Justin bodoh itu menyadarinya?"


Ethan tersenyum sinis sebelum menjawab. "Yah tidak sama sekali, Kurasa dia cukup bodoh untuk menyadari bahwa reputasinya kini diambang akhir. Apalagi dengan tangan kanannya itu Si Ezra Miracle. Dengan sikap kasarnya itu aku dengan mudah memprovokasi para karyawan lain untuk berontak,"


Sesaat Chloe menutup mulutnya terkejut, Tak menyangka kalau Ethan benar-benar pelaku di balik penyerangan di kantor Justin.


"Astaga Ternyata memang benar Pak G.M pelakunya?! Ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus mengawasinya lagi," Pikir Chloe serius, Tak menghentikan merekam pembicaraan Ethan.


"Hahaha, Bagus sekali kerjamu Ethan. Aku perlu perusahaan Garfield untuk memperluas wilayah perusahaanku. Terus rusak reputasi mereka berdua, Apalagi kau juga punya dendam dengan si Ezra itu kan karna mengambil posisimu?"


"Hmm...Yah memang aku masih ingat kejadian itu, Dimana dia mempermalukanku depan publik. Akan kubalas perbuatannya dan akan kupermalukan dia sama seperti dia mempermalukanku waktu itu," Kata Ethan geram, Mengepalkan satu tangannya.


"Terus lakukan tugasmu, Bersikaplah secara natural. Jangan sampai ketahuan mereka,"


"Baiklah, Serahkan saja padaku. Oh ya. Aku punya satu permintaan, Tolong berikan aku Memory Card berisi virus. Aku berencana menukar memory berisi data presentasi milik Justin dengan data palsu. Kudengar minggu depan dia bakal presentasi di depan para kolega lain,"


"Jadi maksudnya kau berniat menghancurkan presentasinya dan mempermalukannya di depan rekan bisnisnya?"


"Benar sekali, Dengan data palsu itu dia tidak akan bisa presentasi. Sedangkan data yang asli akan kuhilangkan. Hehehe, Kudengar kolega yang satu ini sangat berpengaruh di wilayah Prancis. Dia pasti kecewa saat tahu rekan bisnisnya gagal dalam kerja sama antar perusahaan," Ethan terkekeh pelan. Menyerigai licik.


"Baiklah, Akan kuurus soal itu. Yang penting terus buat reputasi mereka rusak,"


"Baik,"


Setelah obrolan panjang itu, Sambungan terputus secara sepihak. Sedangkan Chloe menyimpan rekamannya usai obrolan itu selesai.


"Bagus, Aku sudah dapat buktinya. Tinggal satu bukti lagi yang perlu kudapatkan. Aku harus memeriksa CCTV untuk memastikan siapa yang sudah merusak Jas milik Pak Ezra," Pikir Chloe tersenyum puas sambil menatap HP di tangannya.


Dia secara mengendap-endap berbalik ingin pergi, Namun pintu di belakangnya tiba-tiba saja terbuka. Menampakkan Ethan yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Kau...! Sejak kapan disini?!" Kata Ethan menatap dingin Chloe yang tersentak, Sang gadis refleks berbalik lalu menyembunyikan HP nya di belakang tubuh dan tersenyum kikuk bersikap seolah tidak ada yang terjadi.


"Eh?! Pak G.M, Saya hanya kebetulan sedang lewat. Mau membersihkan ruangan disana," Kata Chloe sebisa mungkin tak terlihat gugup, Dia menunjuk sebuah ruangan tak jauh dari posisi mereka.


Ethan mengerutkan alisnya, Melirik belakang Chloe sesaat. Dia mendekat hingga membuat sang gadis mundur. Chloe berkeringat dingin, Dia terpojok tepat diantara dinding dan Ethan yang berada di depannya.


BATS!


Ethan dengan gesit mengambil alih HP di tangan Chloe, Pria itu menatap benda persegi panjang itu. Chloe semakin panik saat tahu HP nya sudah beralih tangan.


"Kau merekam obrolanku kan?!" Desis Ethan menatap tajam Chloe yang panik, Menggenggam erat HP sang gadis di tangannya.


"Sial! Aku ketahuan," Tanpa pikir panjang Chloe langsung menginjak kaki Ethan keras-keras membuat Ethan mengaduh kesakitan.


Dengan cepat tanpa membuang waktu Chloe mengambil alih HP nya dari tangan sang pria disaat Ethan lengah. Gadis itu berlari cepat memasuki lift, Dan Ethan segera mengejarnya dari belakang.


***************


TING!


Gadis itu berlari ke lantai dasar, Dan disana tak ada satupun karyawan yang lewat. Chloe berniat mencari tempat sembunyi, Sesekali dia menoleh ke belakang memastikan Ethan mengejarnya atau tidak.


Karna tidak fokus dengan larinya, Chloe tak sengaja menabrak seseorang untuk yang kedua kalinya. Untung dia dan sosok yang ditabraknya tidak jatuh. Sang gadis mendongak menyadari sosok di hadapannya begitu asing.


"Ck! Kalau lari tuh pakai mata! Keringatmu nempel di jasku tau gak!" Bentak sosok pria di depan Chloe. Sang gadis hanya bisa bungkam menatap pria yang memakai kaca mata hitam dengan pakaian khas orang kantoran itu.


"Hah, Kenapa aku harus ketemu sama orang yang satu spesies dengan Pak Ezra?!"

__ADS_1


Sepertinya hari ini adalah hari tersial dan terberat bagi Chloe.


TBC


__ADS_2