System Prince Charming

System Prince Charming
Hoki (Keberuntungan)


__ADS_3

"Lha ngapain ikut turun? Kan kita beda arah," Tanya Chloe heran usai dia turun dari bus yang di naikinya. Menatap Raizel yang juga keluar dari dalam bus.


"Aku ada urusan dengan kepala sekolahmu," Dengan langkah santai Raizel mendekati Chloe dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam saku jaket, Dia menurunkan sedikit topinya tak lupa memakai masker agar identitasnya tertutupi.


"Oh ya udah," Chloe berjalan memasuki area sekolahnya, Dia tidak akan bertanya urusan apa Raizel dengan kepala sekolahnya. Bukan urusannya juga.


Raizel hanya mengikuti, Berjalan sejajar dengan sang gadis. Selama perjalanan, Mereka terus menjadi pusat perhatian Siswa-Siswi disana. Beberapa dari Siswi berbisik pelan, Merasa familiar dengan ciri fisik dari Raizel. Namun sang pemuda hanya menatap cuek dengan Siswa-Siswi disekitarnya.


Tak lama mereka sampai di depan kelas sang gadis, Namun Raizel masih berada di belakang Chloe. Gadis bersurai biru itu menoleh menyadari keberadaan Raizel yang masih setia berada di belakangnya.


"Kalau ingin ke kantor kepala sekolah, Kau tinggal lurus aja. Nanti ketemu sama ruangan kepala sekolahnya," Jelas Chloe yang mengerti kenapa Raizel masih berdiri disana.


"Oke, Thanks. Belajar yang rajin, Bentar lagi lulus tuh," Kata Raizel datar, Tapi sorot matanya memancarkan kelembutan.


"Tentu saja, Kan aku juga ingin bisa masuk Universitas sepertimu," Chloe tersenyum ceria.


"Menurutmu, Kau ingin masuk Universitas mana?"


"Entahlah, Aku masih memikirkannya. Belum ada Universitas yang menarik perhatianku,"


"Bagaimana kalau jurusan? Mungkin jurusan kesukaanmu ada di Universitas tempatku," Raizel harap sih ada Jurusan kesukaan Chloe di Universitasnya, Biar dia bisa nempel terus sama Chloe. Termasuk modus juga sih.


"Hm...Kalau jurusan, Aku pengennya masuk jurusan hukum. Soalnya biar gak terlalu banyak hitung-hitungan sih,"


Chloe cecengesan kecil, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Cita-cita nya sewaktu di dunia asli memang ingin masuk jurusan hukum. Chloe paling lemah dengan yang namanya hitung-hitungan, Apalagi MTK, Fisika, Sama Kimia. Bruh langsung koit kalau Chloe berhadapan dengan mata pelajaran itu.


"Jurusan hukum ya," Raizel mengangguk kecil, Seketika otaknya berpikir keras mengingat apakah di Universitasnya terdapat jurusan hukum. "Kayak nya di Universitasku ada jurusan itu, Tapi kembali terserah padamu ingin memilih Universitas yang mana,"


"Akan kupikir-pikir lagi, Kalau cocok aku bisa memintamu menemaniku daftar kesana. Sekalian jadi Tour Guide ku. Apa kau merasa keberatan?" Tanya Chloe hati-hati yang dibalas gelengan Raizel.


"Tidak sama sekali, Akan kuusahakan mengosongkan jadwal ku untuk menemanimu. Kalau kau berminat, Telpon aku ya,"


"Baiklah, Terima kasih atas tawarannya,"


"Sama-sama, Aku pergi dulu. Dah,"


"Dah,"


Raizel berbalik ingin melangkah pergi menuju ruangan kepala sekolah, Namun sejenak dia mengurungkan niatnya karna melihat kedatangan Devian yang acuh langsung masuk dalam kelas tanpa menatap Raizel. Lalu disusul oleh Ian yang melangkah tenang melewatinya, Sesaat Netra ungu muda Raizel melirik Netra merah Ian yang ternyata juga meliriknya. Melewatinya begitu saja.


Sejujurnya kadang Raizel merasa iri dengan Ian dan Devian yang satu sekolah dengan Chloe, Mereka bisa menemui Chloe kapan saja tanpa terhalang waktu atau pun tempat. Bahkan Ian dan Devian juga sekelas dengan sang gadis, Benar-benar membuat Raizel sangat iri. Dia hanya bisa berharap semoga Chloe memilih Universitasnya nanti agar dia bisa selalu berada dekat dengan Pacarnya–////– Ralat maksudnya calon pacar.


**********************


[Istirahat]


KKRRINNGG!


Chloe sedikit merenggangkan badannya, Merasa agak kaku karna terus menerus diam di tempat duduknya, Usai guru keluar dari kelas. Para Siswa-Siswi ikut keluar berhamburan entah kemana. Dia membereskan bukunya, Dan memasukkan kotak pulpen dalam kolong meja.


Netra birunya melirik Holy yang tengah tidur dalam saku seragamnya, Seperti biasa meringkuk layaknya serangga kecil. Dia kemudian menoleh menatap Ian yang duduk di belakangnya, Pemuda bersurai hitam itu tampak membereskan peralatan tulisnya lalu seperti biasa membaca light novel, Kali ini entah kenapa tidak pergi ke Rooftop.


Berbeda dengan Devian, Sang pemuda bernetra coklat muda itu hanya duduk diam di kursi sambil mendengarkan lagu dari Headphone nya. Melipat kedua tangan atas meja lalu menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan. Sejak pagi Devian tidak berbicara lagi dengan Chloe maupun Ian, Mungkin dia sadar kalau keduanya tidak suka terhadapnya.


"Wah, Ada apa dengan mereka berdua. Tidak seperti biasanya hanya diam di kelas? Entah kenapa hari ini agak berbeda," Pikir Chloe heran, Sesaat kepalanya menggeleng pelan. Menyingkirkan pikiran negatif, Dia tidak ingin ikut campur urusan kedua pemuda itu. Terserah mereka mau melakukan apa.


Tangannya mengambil bekal dalam tas, Berniat keluar kelas untuk menemui Alice dan Evelyn. Namun saat hendak meranjak dari kursi, Sosok Siswi entah datang dari mana muncul berdiri di ambang pintu.


"Devian, Ian, Dan Chloe. Kalian bertiga di panggil menghadap Kepala Sekolah," Kata Siswi itu, Usai memberi pengumuman dia langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan lebih detail.


Heran deh, Sudah berapa kali Chloe masuk ruang kepala sekolah dalam beberapa bulan ini? Perasaan dia gak pernah bikin masalah lagi, Kecuali bagian mengikuti perlombaan tenis dulu bersama Ian.

__ADS_1


DDRRTT!


Suara decitan kursi yang beradu dengan lantai membuat lamunan Chloe buyar, Sesaat dia menoleh menatap Devian disampingnya yang meranjak pergi keluar kelas. Tak lama Ian juga menyusul melewatinya, Sejenak Netra merah Ian meliriknya memberi kode untuk segera pergi ke ruangan kepala sekolah.


Buru-buru Chloe meletakkan bekal nya dalam kolong meja, Dia bisa memakannya nanti setelah urusannya dengan kepala sekolah sudah selesai. Dengan sedikit berlari kecil, Sang gadis menyusul Ian dan Devian yang sudah pergi duluan.


**************


[Ruangan kepala sekolah]


"Kalian bertiga adalah Siswa-Siswi berbakat pilihan saya, Saya yakin kalian bisa memenangkan Olimpiade Nasional yang diselenggarakan setiap tahunnya," Jelas Kepala sekolah dengan senyum ramah.


Chloe terbengong-bengong mendengarnya, Mereka baru aja diminta duduk. Kepala sekolahnya langsung nyerocos aja kayak mesin jet, Yakali Chloe langsung paham apa yang dijelaskan kepala sekolahnya.


"Bentar bu, Maksud ibu memilih kami bertiga adalah untuk mewakili Olimpiade Sastra dan Fisika Nasional itu," Jelas Devian to the point, Paham situasi karna Ian yang gak ngomong sama sekali dan Chloe yang masih belum paham situasi.


"Iya benar, Ibu minta kalian buat jadi perwakilan sekolah kita. Karna cuma nilai kalian bertiga yang paling tinggi di kelas setelah pemeriksaan ulangan dadakan sebulan yang lalu. Kecuali untuk Chloe....," Kepala sekolah memandang Chloe yang terkesiap kaget.


"Ibu minta kamu jadi perwakilan Olimpiade Sastra aja ya, Soalnya ibu lihat saat ulangan dadakan sebulan yang lalu. Nilai Sastra mu paling tinggi di antara yang lain sedangkan nilai Fisika mu merah semua, Gak apa-apa kan?" Tanya kepala sekolah masih memandangi Chloe.


"Iyalah merah semua, Aku kan gak suka hitung-hitungan. Tapi miris juga ya," Pikir Chloe meringis kecil.


"Nilai Fisika anjlok semua," Holy terkekeh kecil mendengarnya.


"Iya, Bu gak apa-apa. Tapi bukannya saya sama Ian udah pernah ikut perwakilan ya? Perwakilan tenis itu lho," Jelas Chloe mengingatkan perlombaan yang pernah dia ikuti sama Ian.


"Benar, Tapi ini beda lagi. Kemarin perlombaan memakai fisik, Sekarang perlombaan memakai otak. Kalian akan belajar di bimbing 3 Mahasiswa yang kebetulan juga sedang tes Skripsi jadi dosen, Jadi kalian akan diberi waktu belajar selama seminggu di Laboratorium Olimpiade sama mereka. Kalian paham?"


"Paham bu," Kata Chloe dan Devian serentak. Berbeda dengan Ian yang hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Nah, Jadi Ian dan Devian akan mengikuti lomba Fisika, Sedangkan Chloe akan mengikuti lomba Sastra. Nanti dosen pembimbing kalian akan mengajar sesuai kemampuan masing-masing. Sampai disini ada yang ingin ditanyakan?"


"Ujian kelulusan kami bertiga gimana dong bu? Masalahnya hari Olimpiade ini bertepatan dengan tanggal Ujian kelulusan. Gimana cara kami mengikuti Ujiannya kalau kami bertiga ikut Olimpiade?" Tanya Chloe yang agak bingung juga.


"Masalah itu sudah saya diskusi kan dengan guru-guru lain, Jadi yang ikut Olimpiade boleh gak ikut ujian kelulusan. Anggap aja Olimpiade ini adalah ujian kelulusan kalian. Jadi setelah selesai Olimpiade, Kalian akan langsung lulus bersama teman-teman seangkatan kalian," Jelas Kepala sekolah dengan senyum nya.


"Begitu ya, Terima kasih bu atas penjelasannya," Sahut Chloe balik tersenyum.


"Sama-Sama, Ingat kalian sudah harus berada di Lab.Olimpiade sebelum jam istirahat ke-1 setiap pagi ya, Khusus untuk hari ini setelah jam istirahat kalian harus berada di Lab, Paham?"


"Paham bu," Sahut Chloe dan Devian. Si Ian masih mengangguk aja.


"Ibu harap kalian menang Olimpiade ini,"


"Doa'in kami Hoki aja ya bu," Kata Chloe sambil nyengir dan mengusap tengkuknya dengan senyum ceria.


Kepala sekolah balas tersenyum dan mempersilakan Chloe, Ian, Dan Devian untuk pergi.


Chloe, Ian, Dan Devian pun pamit. Mereka segera keluar dari ruangan kepala sekolah, Lalu berpencar melakukan aktivitas masing-masing. Ian yang pergi ke Rooftop seperti biasa, Devian yang pergi ke suatu tempat untuk nongkrong bersama teman-temannya, Dan Chloe yang pergi ke kantin untuk menemui Alice dan Evelyn tak lupa kembali ke kelas dulu untuk mengambil bekalnya.


***************


[Selesai Istirahat]


KKRRIINNGG!


Para Siswa-Siswi berhamburan lalu lalang di koridor menuju kelas masing-masing, Termasuk Alice, Evelyn, Dan Chloe yang kini berpisah setelah Chloe menyimpan bekalnya kembali dalam ransel.


Dengan langkah tenang melewati area koridor yang masih terdapat sebagian Siswa-Siswi di sana, Chloe berniat menuju Lab.Olimpiade yang diperintahkan kepala sekolah tadi. Semoga saja dia tidak telat datang.


"Senang kan, Gak ikut Ujian kelulusan dan sebagai gantinya hanya ikut Olimpiade aja," Kata Holy duduk di pundak Chloe sambil makan kue.

__ADS_1


"Yah, Lumayan lah. Seenggaknya aku cuma ikut Olimpiade Sastra doang, Paling pelajarannya tentang syair atau semacamnya. Yang penting aku gak belajar Fisika, Kalau Fisika aku serahkan pada Ian dan Devian,"


"Aku tahu kok, Kau gak suka hitung-hitungan,"


"Kalau begitu jangan tanya lagi,"


"Hei, Basa-basi doang woi!"


Chloe mengacuhkan perkataan Holy, Tak lama dia sampai di depan Lab.Olimpiade. Tangan nya terulur membuka pintu tersebut, Hingga terlihatlah pemandangan yang tidak pernah dia lihat sama sekali seumur hidupnya.



(Posisi Ian, Devian, Dan Raizel👆Hanya sebagai visual).


Sejenak Chloe tercengang diam membatu di tempat, Apalagi kini semua perhatian cowok-cowok itu dalam ruangan beralih menatapnya. Beberapa detik Chloe meneguk seliva nya kasar, Merasa gugup karna seisi laboratorium menatapnya.


"Sweety ya, Selamat datang di tim kami. Kemari dan duduklah," Raizel yang pertama kali membuka suara, Memecah keheningan yang tercipta. Pemuda bersurai hitam campur coklat itu menepuk sebuah kursi kosong disampingnya.


"Apa ini!? Ini Laboratorium kan? Bukan tempat latihan para anggota boyband," Pikir Chloe yang masih tercengang, Suara Raizel dianggap angin lalu olehnya.


"Kak Chloe, Kenapa berdiri disana? Ayo kemari dan duduklah," Kini Devian yang membuka suara, Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu masih berdiri di belakang kursi Ian. Dia cuma numpang baca rumusnya doang.


Refleks tanpa menjawab Perkataan Raizel dan Devian, Chloe segera kembali menutup pintu nya. Namun sebelum tertutup, Tangan seseorang menahan pintu dari belakang Chloe.


"Eeittss! Kenapa di tutup? Bukankah kau salah satu perwakilan Olimpiade?" Suara seseorang yang terdengar Familiar di belakang Chloe, Sontak membuat sang gadis berbalik.


"K-Kak Felix!" Kata Chloe terkejut, Tidak menyangka Felix berada di sekolahnya. Ada urusan apa, Sampai Felix berada disini?


"Oh, Chloe ya. Kakak pikir orang lain tadi. Jangan berdiri depan pintu, Ayo masuk. Yang lain sudah menunggu," Ajak Felix dengan senyum ramahnya, Memegangi kedua pundak Chloe dan mendorong sang gadis masuk dalam Laboratorium secara perlahan.


"Tapi, Bagaimana bisa kak Felix berada disini?" Chloe agak terbata-bata karna masih merasa gugup, Kini dirinya sudah berada dalam Laboratorium karna dorongan dari Felix.


"Oh, Kakak ada tugas tes Skripsi jadi dosen dari kampus kakak. Dan Sekolah ini menjadi rekomendasi terbaik dari Dosen kakak di kampus, Hanya saja kakak tidak menyangka kalau Chloe ikut menjadi salah satu perwakilan Olimpiade," Jelas Felix sambil mengambil sebuah berkas yang dia letakkan di atas meja. Membaca nama-nama Siswa yang ikut Olimpiade berdasarkan peringkat.


"Lalu Raizel?" Chloe menoleh pada Raizel yang sedang duduk, Tampak mengotak-atik HP nya. Lalu Raizel menatap Chloe balik dengan datar, Mengingat Chloe dan Raizel beda sekolah tentu saja membuat Chloe heran juga. Untuk apa Raizel berada di sekolahnya.


"Sama seperti Felix, Aku juga mendapat tugas tes Skripsi dari dosenku. Meski aku masih menjadi Maba (Mahasiswa baru), Entah kenapa kelasku mendapat tugas Skripsi seperti ini di awal-awal semester," Raizel memutar pulpen nya di meja, Membuat seperti mainan.


What!? Itu artinya, Apa mereka semua bekumpul dalam satu ruangan? Semua pemeran utama pria berada dalam satu ruangan yang sama!?


TAP! TAP! TAP!


BLAM!


Suara langkah kaki seseorang yang baru saja masuk disertai dengan tertutupnya pintu Laboratorium membuat semua pasang mata menatap seseorang yang baru masuk itu.


"Yak, Apa semuanya sudah terkumpul? Bisa kita mulai belajarnya sekarang?" Kata sosok pria bersurai hitam dengan netra orange itu, Menatap satu persatu orang-orang yang berada di dalam sana.


Sampai akhirnya Netra orange sang pria berhenti tepat di tempat Chloe yang masih berdiri sekarang, Sesaat sang pria bernetra orange itu tersenyum sinis yang tentu saja ditujukan untuk Chloe.


"Hooo...Ternyata Si Nona kecil, Ikut Olimpiade juga ya? Sudah lama tidak bertemu ya Nona kecil," Sapa pria itu masih tersenyum sinis, Netra orange nya menatap tajam Chloe.


Seketika Chloe merasa lutut nya lemas, Tidak percaya akan bertemu dengan Si Psikopat yang sejak dulu sudah mengincar nyawanya. Ya itu adalah Justin Garfield, Berdiri di depan pintu yang sudah tertutup. Saat kedatangan Justin, Entah kenapa Chloe merasa Afmosfer dalam ruangan ini tiba-tiba menjadi mencekam dan dingin disaat yang bersamaan.


Dia satu-satu nya perempuan disana, Berada dalam satu ruangan dengan ke-5 karakter utama pria di sekelilingnya. Disaat yang bersamaan, nyawanya terasa terancam dengan kehadiran Justin.


Ingin rasanya Chloe lari sejauh mungkin dari Laboratorium, Namun sayangnya tubuh Justin menghalangi akses jalan keluar satu-satu nya di ruangan ini. Membuatnya harus terjebak dalam ruangan dengan cowok-cowok ini.


"Rasanya pengen nangis tapi gak bisa, Aku harus bagaimana? Huhuhu....," Pikir Chloe yang hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati.


TBC

__ADS_1


__ADS_2