
Suasana tampak tenang di malam hari, Asrama begitu sunyi seakan tidak ada penghuninya. Di sebuah sofa terlihat seorang gadis tengah memeriksa beberapa bukti yang mereka temukan dari reruntuhan cafe di temani secangkir coklat panas yang masih mengepulkan asap.
Ia mengambil setangkai lily yang ditemukan Ian, Memeriksa dalam diam.
"Bunga yang sama seperti bunga sebelumnya yang ditemukan di tempat Rion terbunuh, Sosok itu pasti orang yang sama. Tapi apa tujuan dia sebenarnya?" Batin Chloe masih menatap bunga itu serius sekaligus heran.
Ia beralih menatap potongan rantai dan pistol milik Felix, Chloe memeriksa pistol itu dan mengecek isinya. Hanya tersisa dua peluru di dalamnya. Setelahnya ia kembali meletakkan pistol itu ketempat semula.
Chloe menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Menatap langit-langit ruang tamu.
"Aku masih belum bisa menyimpulkan terkait bukti-bukti ini. Tapi...Aku akan berusaha mencari bukti lain," Pikirnya sembari menyeruput coklat panasnya sesaat.
Disaat sibuk dengan pikirannya Chloe tiba-tiba merasakan seseorang memeluk lehernya dari belakang, Sang gadis sontak terkejut karna mendapat pelukan yang tiba-tiba. Dari belakang sofa ia mendengar suara seseorang menyapu pendengarannya.
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa menyimpulkan semua bukti ini?"
"Belum, Aku masih butuh banyak waktu untuk merangkai semuanya," Sahut Chloe sembari menggeleng kecil, Dari suaranya saja Chloe sudah bisa menebak kalau di belakangnya adalah Raizel.
Raizel memilih diam ia menyembunyikan wajahnya di leher sang gadis, Meresapi aroma sabun lavender yang dipakai Chloe.
"Setelah apa yang terjadi pada Rion dan Felix, Aku jadi merasa takut kehilanganmu Chloe," Bisik Raizel tepat disamping kuping sang gadis. Tentu saja Chloe mendengar nya sangat jelas.
Tangannya terangkat dan mengusap surai milik Raizel yang masih memeluknya dari belakang. "Raizel, Jangan takut. Aku bisa jaga diri kok. Lagipula aku akan jarang keluar asrama sekarang. Kau tidak perlu khawatir,"
Usapan itu terhenti saat tangan Raizel menahan tangannya, Raizel meletakkan telapak tangan sang gadis ke pipinya. "Benarkah? Apa kau janji padaku?"
"Iya, Aku janji,"
Senyum tipis terukir di bibir sang pemuda, Ia melepaskan pelukannya dan tangan Chloe lalu duduk disamping sang gadis.
Secara tiba-tiba Raizel membaringkan kepalanya pada pangkuan Chloe sembari menggenggam tangan kiri sang gadis, Netra ungu mudanya menatap teduh netra biru Chloe.
"Jika semua masalah ini sudah selesai, Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tempat yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Aku janji," Genggamannya semakin erat pada tangan Chloe.
Senyum mengembang di bibir sang gadis mendengar janji Raizel, Dengan lembut ia mengusap surai sang pemuda. "Aku akan menagih janjimu nanti,"
"Ya, Aku tidak akan mengingkarinya. Dan satu lagi, Jadilah gadis yang kuat, Jangan pernah takut dengan apapun yang kau hadapi nantinya karna kami akan selalu membantu sebagai bayanganmu,"
Chloe terdiam mendengar nasehat Raizel, Jujur dalam dirinya pun ia ingin menjadi gadis yang kuat untuk melindungi orang-orang berharganya. Namun melindungi sebagai bayangan? Ia tidak mengerti maksud perkataan yang terakhir. Disaat kepala menunduk ingin bertanya lebih dalam, Dirinya melihat Raizel sudah tertidur sambil memegang tangan kirinya.
Seketika sang gadis mengurungkan niat untuk bertanya, Ia kembali mengusap surai hitam campur coklat milik sang pemuda. Menatap wajah damai Raizel yang tertidur pulas, Senyum tipis kembali mengembang di bibir Chloe.
Melihat Raizel yang tertidur pulas Chloe rasanya ikut mengantuk, Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, Usapan di surai Raizel terhenti. Perlahan netra biru itu mulai menutup masuk ke alam bawah sadar.
Merasa tidak ada pergerakan lagi Raizel membuka kelopak matanya memperlihatkan netra berwarna ungu muda. Sejujurnya ia tidak benar-benar tidur, Hanya pura-pura tidur saja. Perlahan ia bangun dari pangkuan sang gadis agar tidak mengganggu tidur Chloe, Sejenak kepalanya menoleh menatap wajah damai sang gadis.
Raizel mendekat menyingkirkan helai-helai surai biru milik Chloe agar dirinya bisa melihat wajah sang gadis dengan jelas tanpa terhalang apapun. Kedua tangannya menangkup kedua pipi sang gadis pelan, sesaat netranya menatap teduh sembari berkata lirih.
"Perasaanku masih sama seperti dulu, Terima kasih sudah membuatku bahagia setiap berada di dekatmu," Raizel memejamkan mata sejenak dan kembali membukanya. "Mimpi indah sweety,"
Ia mendekatkan wajah, Menempelkan bibirnya sekilas dengan bibir sang gadis, Meski hanya sebentar Raizel rasa itu sudah cukup. Ia hanya ingin memberikan kecupan sebelum tidur untuk Chloe yah meski Chloe sudah tidur duluan.
Raizel menjauhkan tubuhnya lalu menggendong sang gadis ala Bridel style, Membawanya menuju kamar Chloe.
***************
Blam!
Usai mengantar Chloe dan menutup pintu kamar sang gadis, Ia menuju kamarnya mengambil hoodie coklat tua miliknya lalu memakai hoodie itu sekaligus memakai masker untuk menutupi separuh wajahnya.
Ia tak bisa menunggu lama untuk menyelidiki kasus Rion dan Felix, Raizel tak bisa berdiam diri membiarkan pembunuh itu berkeliaran di luar sana. Dia harus bertindak lebih dulu sebelum ada korban lagi di asrama ini.
Ia paham Justin sudah memperingatkan para anggota untuk tidak keluar asrama saat malam hari, Tapi Raizel tak bisa menunggu. Pemuda itu mengambil pisau lipat yang tergeletak di atas nakas dan menyimpannya dalam saku hoodie.
Ia bergegas menuruni tangga hingga tak sengaja netra nya menangkap pistol milik Felix yang tergeletak di meja, Raizel langsung mengambil pistol itu lalu mengisinya dengan beberapa butir peluru yang dia ambil dari laci ruang tamu, Dia juga menyimpan peluru cadangan untuk sekedar berjaga-jaga.
Setelahnya Raizel melangkah keluar dari asrama secara mengendap-endap agar tak ketahuan anggota lain.
**************
TAP! TAP! TAP!
Angin malam berhembus pelan ditemani kerlap-kerlip bintang, Raizel memasukkan kedua tangannya dalam saku hoodie membiarkan semilir angin menerbangkan helai-helai rambutnya. Kepalanya tertunduk kecil sembari menatap langkah kakinya.
"Tempat pertama yang akan kudatangi adalah tempat Rion terbunuh. Untungnya aku sudah mendapatkan lokasinya," Pikir Raizel sambil melirik jam arlojinya dimana ia mendapatkan lokasi tempat Rion terbunuh secara diam-diam dari laptop Justin.
Disaat dirinya sedang termenung suara familiar tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
TAP! TAP! TAP!
"Raizel, Kau ingin kemana malam-malam begini?" Raizel tersentak sesaat, Ia refleks menoleh mencari asal suara yang tenyata dari Devian.
"Aku ingin keluar sebentar,"
__ADS_1
Devian bersidekap dengan raut wajahnya yang tampak serius. "Apa kau tidak dengar perintah Justin!? Tidak ada yang boleh keluar dari asrama saat malam hari, Urusanmu tidak terlalu mendesak. Kau bisa pergi besok,"
"Jangan sok tau! Urusanku mendesak atau tidak bukan urusanmu! Jangan menghalangiku Devian!"
"Raizel...!" Devian menatap tajam sembari melangkah mendekati Raizel. Ia mencengkeram pundak pemuda bersurai hitam campur coklat sesaat. "Kembali ke kamarmu, Sebelum kau kuseret ke hadapan Justin!"
Raizel menggertakkan giginya kesal, Kedua tangannya terkepal. Dengan kasar ia menepis tangan Devian dari pundaknya.
Plak!
"Menyingkirlah!" Serunya marah sembari mendorong Devian agar menjauh darinya tanpa berkata apa-apa lagi, Raizel melangkah kesal menuju asrama kembali. Sedangkan Devian hanya bisa menatap kepergian Raizel dalam diam.
************
Blam!
"Heh! Dia pikir aku akan mengikuti perkataannya. Tidak semudah itu," Raizel tersenyum sinis, Dengan cepat dirinya melangkah melewati pintu belakang yang berada di dapur.
Sesampainya disana Raizel dengan hati-hati melewati kebun tanaman agar tak terinjak olehnya, Setelahnya ia melompat melewati pagar pembatas dan barlari menuju hutan hilang dalam kegelapan malam.
Disisi lain tanpa disadari Raizel ternyata Devian sempat memperhatikan Raizel yang nekat keluar dari area asrama sebelum pemuda bersurai hitam campur coklat itu hilang dalam kegelapan dari rooftop asrama.
Devian tidak berekspresi apa-apa, Ia hanya memandang kegelapan hutan dalam diam. Tak memperdulikan dinginnya angin malam yang menusuk-nusuk kulitnya.
Ia menyesap kopinya sebentar, Lalu bergumam pelan. "Dasar keras kepala, Dia mengacuhkan peringatanku,"
Devian mendesah kecil dan memejamkan matanya sembari merebahkan diri di rooftop sambil menatap kerlap-kerlip bintang di atasnya. "Terserahlah, Bukan urusanku,"
*************
Tap! Tap! Tap!
Langkah kakinya terhenti di sebuah lapangan luas tempat Rion terbunuh, Disamping lapangan itu terdapat sebuah danau berjarak tak jauh dari lokasinya saat ini. Hanya beberapa pohon lebat sebagai pembatas antara danau dan lapangan tersebut membuat danau itu agak tertutup beberapa rimbunan pohon.
Raizel memperhatikan sekitarnya dengan waspada, Sejenak ia menunduk melihat beberapa bercak darah yang telah mengering masih tersisa di sisi bagian lapangan. Sesaat dirinya masih bisa sedikit mencium aroma amis disana.
Sang pemuda berjongkok mengambil sebuah daun kering yang terkena bercak darah, Memeriksanya sesaat. Hingga pandangannya tak sengaja menangkap sebuah pipa besi dengan ujung runcing yang tergeletak tak jauh dari posisinya, Ia mengambil pipa tersebut dan menemukan bekas darah kering di ujungnya.
"Pembunuh itu menggunakan pipa ini untuk membunuh Rion?" Gumamnya heran masih memeriksa pipa tersebut.
Seketika Raizel terdiam seakan merasakan sesuatu di dekatnya, Ia melirik ke belakangnya hingga tiba-tiba sebuah benda meluncur ke arahnya disaat bersamaan Raizel lantas menghindar sebelum benda itu mengenainya.
Ia langsung memasang posisi siaga sambil menggenggam pistolnya erat, Menodongkan pada sosok misterius itu.
"Ah, Akhirnya kita bertemu juga. Kupikir kau tidak ingin mencariku tadi," Kata sosok itu sambil tertawa pelan, menatap Raizel yang masih menodongkan pistol padanya.
"Hm, Mereka berdua ya. Hahaha, Kemampuan mereka jelas-jelas masih dibawahku. Masih yakin saja kalau mereka bisa mengalahkanku," Nada tertawa terdengar dari sosok itu. "Payah dan lemah, Sungguh tidak menarik. Bagaimana denganmu? Apa kau ingin mencobanya juga?"
Raizel tak menjawab netra ungu mudanya tampak berkabut, Dirinya tak bisa berpikir jernih dan hanya dipenuhi oleh amarah. Tanpa menunggu waktu lama ia melesatkan beberapa peluru pada sosok itu.
Dor! Dor! Dor!
Sosok itu bergerak cepat menghindari tembakan Raizel, Sesaat terdengar suara tawa dari sosok itu. Menertawakan tembakan Raizel yang terus meleset.
Sesaat Raizel berhenti menembak, Ia mencoba mencari keberadaan sosok tersebut dengan instingnya. Netranya melirik ke segala arah dengan waspada.
"Menghilang kemana dia?"
"Heh! Kenapa berhenti? Sudah menyerah?"
"Pengecut! Jangan bersembunyi kau! Hadapi aku disini!" Tantang Raizel karna ia hanya mendengar suara sosok itu tanpa bisa melihat wujud nya.
CRING!
Mendengar suara rantai yang melesat cepat dari samping kirinya membuat Raizel langsung menghindar, Ia menoleh dengan cepat ke arah kiri dimana rantai itu berasal dan menemukan sosok itu meluncur cepat ke arahnya.
Sontak Raizel menodongkan pistol dan langsung menembak sosok tersebut tepat di kepala menembus topeng sosok itu.
Dor!
BRUK!
Seketika sosok tersebut langsung jatuh menghantam tanah, Darah mengucur deras dari kepalanya. Raizel masih memasang sikap siaga, Menatap sosok itu yang tidak bergerak sedikit pun.
"Semudah itukah dia mati? Tidak, Jangan percaya begitu saja Raizel. Bisa saja dia hanya pura-pura," Pikir Raizel menggeleng pelan sesaat, Secara perlahan Raizel mendekati sosok yang masih terbaring tak bergerak.
Namun saat hampir sampai dirinya dikejutkan dengan beberapa rantai yang tiba-tiba bergerak dan menghantamnya dengan kuat hingga membuat Raizel yang tak siap langsung terpental hingga punggungnya menabrak batang pohon. Pistolnya juga terlempar entah kemana.
SLAP!
BRAK!
"Ugh..." Raizel meringis menahan rasa sakit di punggungnya, Sekilas dirinya melihat sosok itu sudah berdiri.
Sosok tersebut mengambil peluru yang tertancap di kepalanya dan membuangnya ke sembarangan arah, Secara ajaib luka bekas peluru di kepalanya menutup dengan sendirinya. Ia tersenyum sinis dari balik topengnya.
__ADS_1
"Cuma itu kemampuanmu?"
Raizel menggertak kesal, Ia mengambil pisau lipat dari saku hoodie nya dan langsung menyerang sosok tersebut. Beberapa rantai kembali bergerak menyerang sang pemuda, Tapi Raizel berhasil menghindarinya dengan cepat.
Wuuusshhh!
Sosok itu menangkis beberapa serangan Raizel, Sesaat ia menendang perut sang pemuda hingga Raizel terpaksa menjauhkan dirinya. Namun ia juga tak mau kalah, Tanpa menunggu lama langsung memukul wajah sosok tersebut dengan kuat hingga sebagian topeng sosok itu retak.
BUAGH!
KKRRAAKK!
Sosok tersebut terhuyung kebelakang hampir jatuh, Untungnya ia bisa menyeimbangi tubuhnya.
"Kau–"
CRASS!
Perkataan sosok itu terpotong saat Raizel menusuk dadanya tepat di jantung, Cairan merah kental kembali mengalir dari bekas tusukan itu. Raizel semakin memperdalam tusukannya dengan amarah tak peduli beberapa bercak darah mengenai wajahnya.
"Kau membunuh Rion dan Felix! Sekarang aku membalaskan dendam mereka padamu, Kini giliran kau yang mati!" Teriak Raizel marah, Sosok itu hanya diam hingga akhirnya sosok tersebut kembali ambruk bersamaan dengan pisau yang tertancap di dadanya.
Napasnya tampak tak beraturan Raizel menatap sosok dibawahnya sembari mengusap bercak darah di wajahnya dengan lengan hoodie, Angin malam kembali berhembus pelan mengisi kekosongan itu.
"Akhirnya....," Raizel menghembuskan napas lega, Sesaat netra ungu muda itu menatap langit malam yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang.
Tubuhnya sudah sangat lelah dan letih akibat pertarungan sengit tadi. Raizel berbalik melangkah menjauhi sosok itu, Sekarang yang dipikirkannya hanyalah pulang ke asrama.
WWUUSSHH!
Dor! Dor!
CRASS!
Seketika langkah Raizel terhenti, Ia diam mematung saat merasakan rasa sakit di pundak kiri dan perut bagian kirinya. Refleks Raizel memegang pundaknya dan melihat darah yang sangat banyak di tangannya.
"Uhuk...Uhuk...!" Seketika Raizel memuntahkan darah segar dari mulutnya. Darah terus mengalir tanpa henti dari pundak dan perutnya.
Wuusshh!
Sosok itu kembali muncul dihadapan Raizel, Ia melangkah mendekat sembari melepas pisau yang tertancap di jantungnnya. Perlahan bekas tusukan itu sembuh dan hilang dari tubuhnya. Di tangan kiri sosok tersebut terdapat pistol yang terlepas dari tangan Raizel tadi.
"Lihatlah, Siapa yang menang sekarang," Senyum penuh kemenangan terpatri di bibir sosok tersebut dari balik topeng. Ia berhenti tepat di hadapan Raizel. "Kau bahkan juga tidak bisa mengalahkanku,"
Napas Raizel mulai menipis, Tubuhnya gemetar hebat karna terlalu banyak kehilangan darah. Sebisa mungkin ia tetap menjaga keseimbangannya agar tetap berdiri. Dengan tenaga yang tersisa tanpa berkata-kata Raizel langsung kembali menyerang sosok itu, Ia meraih topengnya dan membukanya dengan paksa.
Sosok tersebut berusaha menahan tangan Raizel yang ingin melepas topengnya, Namun usaha itu sia-sia, Topeng tersebut terlepas dan memperlihatkan wajah yang begitu familiar bagi Raizel. Sontak netra ungu mudanya terbelalak tak percaya saat topeng itu terlepas.
"Kau! Kenapa...Melakukan–"
CRASS!
Sosok itu mendekatkan dirinya dan langsung menusukkan pisau di perut Raizel bahkan sebelum Raizel menyelesaikan kalimatnya, Membuat tenaga Raizel semakin lemah.
Ia membisikkan sesuatu tepat di kuping sang pemuda. "Kau tidak perlu tahu tujuanku, Urusanku bukanlah urusanmu,"
Seringai terpatri di bibir sosok itu. "Sekarang Go to sleep forever,"
Sosok tersebut mendorong tubuh Raizel menjauh darinya hingga tubuh sang pemuda tercebur ke dalam danau.
BBYYUURR!
Sesaat tubuhnya mengapung di permukaan danau hingga semakin lama perlahan tubuh Raizel mulai tenggelam menuju dasar danau mengikuti gravitasi. Perlahan permukaan danau mulai dipenuhi warna merah dari darah Raizel.
Netra berwarna ungu muda itu hanya menatap permukaan danau dalam diam, Untuk menyelamatkan diri pun Raizel sudah tidak punya tenaga lagi. Tangannya sesaat terulur seakan ingin meraih sesuatu.
Tubuhnya begitu lemas, Air mulai masuk ke dalam paru-parunya. Netranya mulai meredup begitu berat seakan ingin mengantuk.
"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan semuanya lagi, Hanya sampai disini. Beginilah akhirnya. Aku sudah tidak bisa merasakan tubuhku lagi,"
Sejenak Raizel tersenyum sendu. "Padahal aku sudah berjanji untuk mengajakmu ke suatu tempat setelah masalah ini selesai. Tapi...Chloe, Maaf ya sepertinya aku mengingkari janjiku,"
"Tetaplah tersenyum Chloe, Meski...Kedepannya aku sudah tidak berada di sisimu lagi. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang kau berikan kepadaku dan juga semua anggota Asrama,"
Perlahan kelopak matanya menutup tanpa ada pergerakan lagi, Hanya tubuhnya yang semakin tenggelam ke dasar danau yang gelap dan suram.
Sedangkan di sisi lain sosok itu masih berdiri di sisi danau menatap tubuh Raizel yang semakin hilang dari pandangannya, Sebagian permukaan danau dipenuhi warna merah tercampur darah Raizel.
Ia mengambil kelopak-kelopak bunga lily dari balik jubahnya dan menaburkannya di atas permukaan danau tempat Raizel tenggelam.
"Good night," Kata sosok itu dingin.
Ia melangkah mengambil topengnya yang tergeletak di tanah, Memakai topeng itu kembali. Setelahnya perlahan tubuhnya menghilang tergantikan kelopak-kelopak bunga lily yang tertiup semilir angin malam.
__ADS_1
TBC