
Blam!
Chloe menyandarkan punggungnya pada daun pintu, Merosot turun hingga dirinya terduduk di lantai yang dingin. Gadis itu memeluk lututnya sembari menyembunyikan wajahnya diantara lutut. Isak tangis masih terdengar dari gadis itu.
Ia tidak mengerti kenapa dirinya terus menangis, Padahal hanya raganya saja milik Chloe Amberly yang asli sedangkan jantungnya milik Aiden. Tapi tetap saja Chloe seakan ikut merasa sesak dan sedih karna baru sekarang kakak kandung Chloe Amberly menemuinya.
"Kenapa...hiks...Kenapa baru menemuiku sekarang, Jika saja menemuiku sejak dulu. Chloe Amberly gak akan mati, Dia gak akan merasa sesakit ini!" Chloe menepuk-nepuk dadanya, Berusaha menghilangkan sesegukan disertai isak tangisnya.
WWUUSSHH!
Semilir angin menerbangkan tirai yang menutupi jendela, Cahaya jingga kemerahan menyinari kamar Chloe melalui celah-celah jendela. Disaat bersamaan muncul siluet sosok hitam berdiri di tengah ruangan, Menatap Chloe yang masih menangis sambil memeluk lututnya.
Sosok itu menatap sendu, Perlahan ia melangkah mendekati Chloe lalu merendahkan tubuhnya, Menjajarkan tingginya dengan sang gadis.
"Ketika aku datang, Kau selalu saja menangis seperti ini. Setelah kematian kami, Kau seperti sendirian ya?" Kata sosok itu, Tangannya terulur berniat menyentuh pundak Chloe. Namun sayangnya tangannya menembus tubuh gadis itu.
Netra merahnya meredup sedih, Kedua tangannya terkepal merasa bersalah. "Sampai akhir pun aku tidak bisa membantumu, Tidak bisa melindungimu,"
Katanya sedih, Dia tidak tahu apakah Chloe mendengar suaranya atau tidak. Tapi untuk saat ini ia hanya ingin melepaskan rindunya pada gadis bersurai biru itu.
"Maaf ya, Aku meninggalkanmu lagi untuk kedua kalinya. Kita tidak pernah bisa bersama, Selalu saja salah satu dari kita mati atau terpisah," Perlahan sosok itu memeluk tubuh Chloe, Merengkuh tubuh sang gadis dalam pelukannya meski dia yakin Chloe tidak akan merasakan apa-apa.
Kelopak matanya terpejam sejenak. "Maaf, Aku Ian Salvatore tidak bisa menepati janji kita sewaktu kecil,"
Ian masih menatap Chloe yang menangis, Senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum menyakitkan untuk dirinya sendiri. "Seandainya kau bisa melihatku untuk terakhir kalinya disini, Dan bukan di mimpi. Aku akan senang sekali. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi halusinasiku saja,"
Dia menunduk sejenak lalu kembali menatap Chloe lurus. "Aku akan selalu memperhatikanmu, Melindungimu meski sekarang aku menjadi arwah seperti sekarang,"
Ia menghembuskan napas sesaat, Ketika dirinya melihat Chloe sudah tidak menangis lagi namun jejak air mata masih terlihat jelas diwajah sang gadis. Tangan Ian terulur berusaha menghapus air mata yang tersisa itu dengan ibu jarinya, Ah dia baru menyadari kalau tangannya begitu transparan mungkin juga seluruh tubuhnya.
"Bukankah seharusnya kau senang karena sudah menemukan keluarga kandung Chloe Amberly? Itu artinya misimu selesai kan? Tapi kau malah menangis begini gara-gara dia," Senyum kecut terbit di bibirnya.
"Jika aku masih hidup dan berada disampingmu waktu itu, Aku tidak akan membiarkanmu menangis. Maaf,"
"Sepertinya percuma ya aku bicara panjang lebar, Dia juga tidak melihatku," Pikir Ian kembali menatap sendu.
Chloe masih betah diam ditempat, Dia menyapu jejak air matanya kasar.
"Uh...Sekarang aku lebih sering menangis, Padahal dulu tidak seperti ini," Gumam Chloe, Ia mengangkat kepalanya. Meski tanpa sadar beradu pandang dengan Ian dihadapannya walau dia tidak melihat keberadaan Ian sekali pun.
Sejenak sang gadis terdiam, Dia merasakan pipi kirinya menghangat seolah ada seseorang menyentuh pipinya, Padahal Chloe yakin sekali kalau dirinya sedang sendirian saat ini.
WWUUSSHH!
Semilir angin kembali masuk ke kamarnya, Membuat tatapan Chloe terfokus pada balkon kamarnya yang terdapat pot bunga. Entah kenapa terlintas nama sehabat masa kecilnya di benaknya, Kondisi seperti ini mengingatkan Chloe pada Ian.
"Ian...," Lirih Chloe dengan murung, Ia meletakkan dagunya di atas lutut.
Ian diam sejenak mendengar namanya dipanggil, Perlahan dia kembali memeluk gadis itu. Memejamkan matanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mulai sekarang aku selalu disisimu. Menjagamu meski kau tidak melihatku Chloe, Tidak akan kubiarkan kejadian itu terulang lagi. Kecelakaan yang menjadi awal perpisahan kita,"
"Hiks...Ian...,"
Bulir-bulir air mata kembali membasahi pipi Chloe, Dia memeluk lututnya erat-erat. Sedangkan Ian masih setia dalam posisinya, Merengkuh gadis itu. Setidaknya dia merasa ada sedikit harapan untuknya bersama gadis yang dicintainya, Chloe Watson.
"Sedikit saja aku berharap bisa bersamamu, Sedikit saja aku harap aku bisa hidup kembali. Disampingmu, Menemani dalam suka maupun duka. Selamanya," Lirih Ian tanpa sadar netra merahnya berkaca-kaca, Selama ini dia selalu menahannya. Dia ingin tegar untuk melindungi Chloe.
Setelah kematian ibunya, Hanya Chloe lah harapan satu-satunya. Tempat dimana dia bisa bertahan sampai sekarang, Bertahan dari rasa sakit yang membelenggunya selama ini.
**************
[Keesokan harinya]
Semua berjalan normal seperti biasa, Para penghuni Mansion berkumpul di ruang makan. Selagi menunggu sarapan mereka datang, Tidak ada satupun yang membuka suara. Semuanya sunyi sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesekali Eli mencuri pandang pada Chloe yang tertunduk murung, Dia jadi merasa bersalah tidak memberitahukan sejak awal kalau dia akan menemui Ray. Tapi jika dia beritahukan lebih dulu sama saja dia akan menceritakan kondisi Ray dan bukan Ray yang menceritakan sendiri.
"Huft....Pada akhirnya Chloe belum memberi keputusan pada Ray, Aku tidak ingin ikut campur. Tapi rasanya ingin sekali memberi pengertian pada Chloe bahwa ini demi kebaikannya juga," Pikir Eli sembari menghembuskan napas pelan, Dia mengetuk meja dengan jarinya.
Bahkan sesaat Azura ikut menatap Chloe yang duduk berhadapan dengannya. "Tidak kusangka anak ini adalah bagian dari keluarga Maximillian, Tapi sepertinya dia marah sama kak Ray. Kak Ray juga keterlaluan baru menemuinya sekarang, Aku jadi merasa kasihan,"
Para Michelle bersaudara sudah tahu alasan kenapa Chloe saat itu pulang dengan keadaan menangis, Setelah Elizabeth menceritakan semua yang terjadi pada Chloe dan saat mereka mengunjungi Mansion Maximillian (Karna paksaan dari Azura dan Ash, Elizabeth terpaksa menceritakan kejadian saat Ray mengatakan bahwa dia adalah kakak kandung Chloe).
Pada akhirnya para Michelle bersaudara tidak mengungkit masalah yang terjadi antara Ray dan Chloe, Sama seperti Eli. Mereka juga tidak ingin ikut campur.
Satu persatu masakan yang sudah selesai diletakkan tepat dihadapan para Michelle bersaudara termasuk Chloe, Setelahnya Leo dan Leon ikut duduk bersama menyantap masakan buatan mereka.
Sesekali Ivy juga ikut mencuri pandang pada Chloe. Sebelum menyantap sarapannya. "Semoga masalah yang terjadi antara Chloe dan Kak Ray cepat selesai, Rasanya akan sulit bermain dengan Chloe jika kondisinya sedang buruk seperti itu,"
Setelahnya semua penghuni menyantap sarapan masing-masing dalam keheningan, Tidak ada pembicaraan satu pun diantara mereka.
***************
Detik demi detik, Menit demi menit terus berlalu dengan cepat. Tidak terasa langit menunjukkan warna jingga kemerahan, Menandakan sore hari yang akan berganti menjadi malam.
Krriinngg!
Suara bel berbunyi nyaring menandakan pelajaran hari ini telah usai, Siswa-siswi disana membereskan peralatan tulis mereka masing-masing. Suara gaduh mulai memenuhi kelas itu.
"Sekian pelajaran hari ini, Kalian boleh pulang," Seorang guru berdiri dari kursinya, Mengambil beberapa buku paketnya sebelum melangkah pergi keluar kelas.
Para siswa-siswa mulai berhamburan keluar kelas setelah guru mereka pergi, Meninggalkan Ivy yang masih betah duduk di kursinya. Usai membereskan peralatan tulisnya, Ia menopang dagu sembari memandang bingkai jendela menatap keluar dimana lapangan olahraga berada.
Seperti biasa dia akan duduk diam sambil menunggu Chloe menjemputnya. Untunglah setelah kejadian Chloe menghajar kedua pembully itu, Mereka tidak pernah mengganggu Ivy lagi. Ivy cukup lega karna kini hari-hari nya dilalui dengan normal, Yah meski masih belum dapat teman sih.
Senyum tipis tersungging di bibirnya. Sambil membayangkan apa yang akan dia lakukan setelah pulang dari sekolah.
"Sebelum pulang, Nanti mampir dulu deh ke Cafe. Jadi kangen makan Ramen, Chloe suka ramen gak ya? Mungkin sekali-kali aku traktir dia, Dia kan sudah banyak membantuku," Pikir Ivy membayangkan ramen yang akan dia makan nanti, Membayangkannya membuat Ivy semakin lapar.
__ADS_1
Sesaat netra biru safir miliknya melirik jam arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, Sebentar lagi jam itu menunjukkan pukul setengah 5 sore.
"Mungkin sebentar lagi," Gumam Ivy menyadari Chloe agak terlambat menjemputnya, Biasanya gadis itu selalu datang saat jam tepat menunjukkan pukul 4 sore.
Beberapa kali jarinya mengetuk-ngetuk meja, Berharap Chloe datang secepatnya. Ia bosan menunggu, Dengan malas Ivy membuka buku tulis miliknya, Membaca lembar demi lembar.
Tak lama suara derap langkah terdengar dari luar kelasnya, Semakin lama suara itu semakin dekat. Ivy sontak menutup bukunya setelah mendengar suara itu, Berharap Chloe lah yang datang.
Segera ia menyimpan kembali bukunya ke dalam ransel, Disaat bersamaan pintu kelas terbuka agak kencang.
Brak!
"Chloe!" Kata Ivy senang setelah ia menoleh ke arah sumber suara, Namun senyum senangnya luntur seketika saat melihat sosok yang ia kira Chloe ternyata bukan gadis itu.
Dia berdiri diambang pintu, Sosok seorang wanita bersurai silver berkilau dengan netra merahnya yang tajam. Senyum misterius terlihat jelas dari wajah wanita itu.
Sosok itu tampak asing dimatanya dan seingat Ivy dia tidak pernah melihat sosok itu dimanapun, Salah satu staff guru juga tidak mungkin. Mungkinkah guru baru selama Ivy bersekolah disini?
Ivy menegakkan tubuhnya gugup, Mengingat hanya tinggal dirinya sendiri di kelas ini. Dia sendirian sekarang, Hal itu membuatnya merasa takut ketika wanita bersurai silver itu mulai melangkah memasuki kelas.
"Kamu yang bernama Ivy Michelle kan?" Tanya wanita itu masih tersenyum misterius.
"Y-Ya, Ada yang bisa saya bantu?" Sejujurnya Ivy bertanya-tanya dalam hati bagaimana wanita itu bisa tahu namanya, Namun untuk situasi was-was seperti sekarang dia menyampingkan pemikiran itu.
"Ah, Akhirnya aku menemukanmu. Kebetulan ada yang ingin kubicarakan denganmu,"
"Maaf, Kalau boleh tahu anda siapa? Dan kenapa anda mencari saya?"
Wanita itu tertawa pelan, Menertawakan kepolosan Ivy dimatanya. Tanpa berniat menjawab pertanyaan Ivy sebelumnya. "Ah, Kepolosanmu begitu mirip dengan anak itu. Yah itu dulu sih tapi sekarang dia jadi berbeda setelah lulus,"
"Eh? Siapa yang kau maksud?" Sesaat Ivy memiringkan kepalanya kesamping, Dirinya semakin bingung dengan sikap wanita aneh dihadapannya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, Dan orang yang kumaksud. Yang terpenting aku sudah menemukanmu. Kulihat sepertinya kau lebih lemah dari yang kubayangkan," Netra merah sang wanita menatap dalam tepat di netra ungu milik Ivy.
Ivy tersentak dirinya diam membisu setelah beradu pandang dengan netra merah sang wanita, Semakin lama dirinya menatap netra wanita itu semakin dirinya merasa seolah-olah pikirannya kosong. Seakan terhipnotis dengan netra merah sang wanita yang bagaikan batu ruby.
Pandangan Ivy berubah kosong, Cahaya matanya meredup seperti kehilangan jiwa. Pandangannya hanya tertuju pada tembok putih polos di depannya setelah wanita itu sedikit menyingkirkan tubuhnya.
Seringai seram terpatri di bibir sang wanita setelah berhasil melakukan rencananya, Ia sedikit menunduk menatap Ivy yang agak pendek darinya.
"Setelah ini ikut aku ya, Nanti kukasih makanan setelah sampai dirumahku. Dan juga panggil aku Master," Kata Wanita itu masih menyerigai.
Ivy hanya mengangguk pelan, Pandangannya begitu kosong. "Iya...Master...,"
"Anak pintar," Wanita bersurai silver menepuk sesaat surai ungu milik Ivy, Kemudian netra merahnya melirik sebuah buku yang tergeletak di lantai.
Ia mengambil buku itu sembari tersenyum misterius, Berkata pelan. "Heh! Lihatlah pembalasanku setelah apa yang kau lakukan padaku dan Liam di masa lalu, Chloe!"
TBC
__ADS_1