
KKRRIINNGG!
Pelajaran telah berakhir, Guru serta semua murid berhamburan keluar kelas termasuk Chloe yang menemui Alice dan Evelyn yang sudah menunggu di ambang pintu kelas. Ketiganya pergi menuju kantin.
Berbeda dengan Devian dan Ian yang kini hanya tinggal mereka berdua saja dalam kelas, Devian membereskan alat tulisnya lalu melirik Ian yang menuju kursinya, Membereskan semua perlengkapan alat tulis.
Devian meranjak dari duduknya, Mendekati Ian yang masih sibuk dengan urusannya. Suasana kelas yang sepi sangat menguntungkan bagi Devian, Dengan begitu tidak ada yang akan mendengar pembicaraan antara dirinya dan Ian.
"Ian,"
Ian melirik sesaat tanpa berniat menyahut Devian, Dan kembali fokus mengambil light novel nya.
"Setelah selesai perlombaan itu, Akhir pekan aku akan mengajak Kak Chloe pergi ke Restoran sesuai janjiku dulu,"
"Lalu, Apa hubungannya denganku?" Balas Ian dingin. Menatap Devian dengan raut datar tanpa minat.
"Justru itulah aku perlu bantuanmu," Devian mendekat, menepuk pelan pundak Ian. Berbisik pelan tepat di kuping pemuda bernetra merah itu. "Aku ingin kau mengikuti kami secara diam-diam, Mengawasi kalau-kalau Kak Chloe kabur. Karna di Restoran itu aku akan memulai rencanaku,"
Diam tak bergeming, Ian hanya melirik sesaat tak berminat menyahut perkataan Devian. Lalu Devian menjauhkan wajahnya dari Ian dan tersenyum tipis sambil menepuk pelan pundak Ian.
"Jangan lupa ya, Akhir pekan nanti persiapkan dirimu," Kata Devian masih tersenyum.
Setelahnya Devian pergi menjauh keluar kelas, Meninggalkan Ian sendirian disana. Ian memandangi light novel nya sesaat, Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sudah dimulai ya, Jangan salahkan aku kalau tindakkan ku tidak sesuai keinginanmu Devian," Gumam Ian pelan, Menatap seisi kelas yang sepi dengan tatapan kosongnya.
****************
[Kantin]
BUK!
"Chloe, Evelyn! Aku punya ide," Seru Alice tiba-tiba dengan wajah berseri-seri di sela-sela makannya. Memukul kecil meja yang mereka tempati dengan refleks.
"Ayam copot!" Latah Evelyn tersentak saat Alice memukul meja pelan, Kemudian Evelyn mendelik sambil mencubit kecil pipi Alice yang cubby. "Alice! Kalau mau ngomong ya ngomong aja, Gak usah pakai pukul meja segala,"
"Aduh! Iya iya maaf, Evelyn. Aku kan tadi tiba-tiba langsung dapat ide," Alice meringis sambil mencoba melepaskan tangan Evelyn dari pipinya. Hampir tersedak karna Evelyn masih tak kunjung melepaskan cubitannya.
"Ide apaan sih!? Sampai kayak begitu segala," Usai puas, Evelyn melepaskan cubitannya. Sedangkan Chloe mengangguk setuju dengan Evelyn sambil sesekali memakan burger nya.
"Tapi ide nya jangan yang aneh-aneh ya," Balas Chloe. Alice sesaat nyengir lalu menggeleng pelan.
"Gak kok, Gak aneh-aneh,"
"Terus apa?" Evelyn nyahut sesekali meminum jus nya.
"Bagaimana kalau kalian berdua nginap di rumahku? Biar aku ada teman bermain nih," saran Alice dengan senyum lebar.
"Puff...," Chloe hampir menyemburkan minumannya, Sontak Chloe mengambil tisu dan menutup mulutnya.
Sedangkan Evelyn mengernyitkan alisnya, Dulu sih Evelyn waktu kecil pernah menginap di rumah Alice tapi semenjak putus hubungan pertemanan dulu dia gak pernah menginap lagi.
"Aku sih oke aja, Soalnya di rumahku cuma ada sepupu tukang usil," Evelyn manggut-manggut.
"Evelyn punya sepupu!?" Kata Chloe agak kaget, Karna yang Chloe tahu keluarga Evelyn tak pernah diceritakan di biodata selain kekayaan keluarga Redlusia dan pertemuan pertama Evelyn dengan ke-5 karakter utama pria.
"Iya, Dia jarang muncul. Maka nya publik gak terlalu tahu tentangnya,"
"Pantas kita gak tahu soal keluarganya Chloe," Kata Holy duduk di meja memperhatikan tiga perempuan di depannya.
"Benar, Kita cuma tahu di biodata aja,"
"Kalau Chloe bagaimana? Bisa gak?" Alice beralih pada Chloe yang sedikit tersentak karna melamun.
"Hm...tentuin dulu kapan acara menginapnya, Aku sih nyesuain dulu sama wacana nya," Kata Chloe pikir-pikir.
"Nanti kukabari, Yang pastinya gak dalam waktu dekat," Sahut Alice.
"Kita bertukar nomor saja dulu, Setelahnya kita bisa menentukan kapan wacana nya," Saran Evelyn.
Saran Evelyn di setujui oleh Alice dan Chloe. Mereka bertiga pun saling bertukar nomor dalam kantin.
*************
__ADS_1
[Class]
Usai dari kantin, Chloe berniat bersantai di kelasnya mumpung lagi sepi. Namun saat melihat ke kolong meja nya, Chloe menemukan kotak bekal yang niatnya mau dimakan pas istirahat tapi udah keburu makan di kantin. Gadis bersurai biru itu mengambil bekalnya yang masih utuh.
"Aku lupa kalau ada bekal. Yah jadi kebuang dong," Chloe memperhatikan bekal di tangannya dengan lesu.
"Kenapa gak dimakan langsung? Kayaknya perut mu masih muat. Atau makan pas istirahat ke-2 aja?" Saran Holy terbang di samping kepala Chloe.
"Gak bisa, Aku masih kenyang. Kalau pas istirahat ke-2 biasanya aku gak makan lagi dan lebih memilih jalan-jalan atau berdiam diri di kelas,"
"Kasih ke orang aja, Siapa tahu ada yang mau,"
"Hm...benar juga, Tapi siapa?"
Chloe mengingat-ingat nama teman terdekatnya. Alice dan Evelyn mana mungkin, Mereka kan juga habis dari kantin. Kalau Devian, Chloe gak tahu dimana tempat biasa nongkrong Devian bersama teman-teman sang pemuda.
"Bagaimana kalau Ian?" Pikir Chloe.
Tiba-tiba nama Ian terlintas di benak Chloe. Benar juga, Ian kemungkinan ada di Rooftop, Mungkin pemuda bernetra merah itu mau mencicipi bekalnya yang masih utuh ini.
Bergegas Chloe menuju arah Rooftop, Ingin menemui Ian yang bisa saja berada disana.
************
[Rooftop]
KKRRIIEETT!
Sesuai dugaan Chloe, Ian berada di sana seperti biasa duduk di samping pembatas sambil membaca Light Novel kesayangannya. Tatapan Netra merah milik Ian begitu fokus dengan novel yang dibacanya.
TAP! TAP! TAP!
Perlahan Chloe mendekati Ian yang masih diam tak bergeming, Terlalu larut dengan novel nya.
"Ian,"
Tak ada tanggapan dari Ian, Tampaknya mengacuhkan panggilan Chloe.
"Aku duduk disini ya?"
"Aku membawakan bekal untukmu,"
BUK!
Secara refleks Ian menutup light novelnya, Tanpa menoleh sama sekali pada Chloe. Pandangan pemuda bernetra merah itu menatap pemandangan lantai dasar yang berada di bawah mereka.
"Langsung intinya!"
Paham yang dimaksud Ian, Chloe langsung menyodorkan bekal di tangannya sambil membuka tutup bekal tersebut. Berisi beberapa onigiri dan telur gulung.
"Aku tadi membuat bekal, Niat nya ingin kumakan pas istirahat tapi aku lupa memakannya karna udah pergi ke kantin sama Alice dan Evelyn. Jadi dari pada sayang di buang, Ku beri saja padamu sekalian aku ingin tahu pendapatmu tentang rasanya,"
Ian menoleh menatap bekal di tangan Chloe, Netra merahnya menajam sesaat.
"Apa maumu!?"
"Aku tidak mau apapun, Sungguh. Ini ku kasih gara-gara aku sudah kenyang. Kau bisa membuangnya kalau tidak enak, Tidak ada racun di dalam nya. Aku akan coba satu, Setelah itu kau bisa mencobanya,"
Usai mengatakan hal itu, Chloe mengambil satu telur gulung dengan sumpit yang tersedia. Lalu memakannya tepat di depan Ian yang sejak tadi memandangi Chloe.
Selama beberapa detik tidak ada yang terjadi pada Chloe setelah sang gadis menelannya. Kemudian Netra biru Chloe melirik bekal di tangannya, Mengisyarat kan Ian untuk ikut mencoba.
Tanpa ragu Ian mengambil alih sumpit di tangan Chloe, Mengambil satu nasi kepal dan memakannya dengan raut datar. Chloe masih memandangi Ian dengan penasaran, Meski Chloe juga mencobanya tadi tetap saja Chloe penasaran dengan pendapat Ian.
Risih karna terus diperhatikan, Ian melirik sinis Chloe.
"Apa!?"
"Eh? Gak, maksudku bagaimana rasanya?" Tanya Chloe ragu, Masih memegangi bekal di tangannya.
"Agak sedikit asin, Tapi lumayan enak," Ian mengambil satu telur gulung, Memakannya dengan tenang. Tampak menikmati bekal buatan Chloe.
Chloe tersenyum lebar, Lega mendengar pendapat Ian. Menurut Chloe tingkat memasak nya sudah cukup bagus, Hanya saja dia masih perlu belajar agar seenak masakan ibunya di dunia asli.
__ADS_1
"Syukurlah, Kalau begitu aku taruh disini. Habiskan saja kalau kau suka, Aku kembali ke kelas dulu," Chloe meletakan bekal itu di kursi samping Ian dan berdiri dari duduknya, Pamit pada sang pemuda.
Ian hanya melirik kecil tanpa menanggapi perkataan Chloe, Membiarkan Chloe pergi dari Rooftop meninggalkannya sendiri.
**************
[Di tangga menuju lantai dasar]
"Hehehe, Kayaknya Ian suka tuh sama masakanmu," Holy terkekeh kecil mengikuti langkah Chloe yang terus menuruni anak tangga.
"Seenggaknya aku bagi-bagi juga sama teman, Biar gak kebanyakan beban dosa,"
"Hmph...bilang aja udah kenyang," Sindir Holy sambil mendengus.
Chloe cuma cecengesan kecil, Menuruni anak tangga dengan langkah riang. Tapi sedetik kemudian langkahnya terhenti saat berada di tangga lantai 2 karna ada 3 orang siswi menghalangi jalannya. Dihadapannya berdiri si Ketua OSIS tajir alias Vivian bersama Viola dan Chelsia.
Ekspresi wajah ketiga gadis itu tampak marah dan cemburu, Chloe hanya diam memandang bingung. Holy menyipitkan matanya mencoba menebak-nebak apa yang dilakukan ke-3 gadis itu.
"Akhirnya ketemu juga si tukang caper, Sini kau!" Kata Vivian sambil memandang tajam Chloe.
Merasakan kejadian buruk akan menimpanya sebentar lagi, Chloe berusaha tetap tenang. Sebisa mungkin Chloe akan menghadapi Vivian.
"Ada apa?" Balas Chloe dingin, mengacuhkan panggilan caper dari Vivian.
Tiba-tiba Vivian menarik rambut panjang Chloe dengan kasar hingga Chloe harus mendongak menatap Vivian. Exspresi Vivian benar-benar marah sekarang.
"Berani sekali kau mendekati Ian anak SD! Apa kau tidak dengar! Ian itu punyaku dan hanya akan menjadi milikku! Dan kau ingin mencari perhatian padanya hah!? Jangan mimpi! Ian hanya mau dengan gadis yang selevel dengannya sepertiku. Gadis miskin sepertimu berani sekali mendekati nya!"
Vivian sangat marah hingga mendorong kepala Chloe sampai menabrak tembok, Untungnya tangan Chloe refleks menempel pada tembok, Jadi kepalanya tidak terbentur terlalu keras.
Chloe berbalik menghadapi ke-3 gadis itu, Dia masih mencoba sabar dan tenang. Chloe gak ingin masuk ruang kepala sekolah lagi sama seperti beberapa bulan yang lalu.
"Hah, Apa ini!? Kenapa malah menyalahkanku? Aku cuma berusaha berteman dengannya? Kenapa kau marah? Kalau kau ingin dekat dengannya, Dekati saja dia. Memangnya siapa yang akan melarangmu saat mendekatinya," Sahut Chloe tenang, Memandangi Netra Vivian.
"Tentu saja aku sangat marah, Ian itu milikku! Tidak ada yang boleh mendekatinya sedikit pun," Balas Vivian tak mau kalah.
"Iya benar tuh, Caper banget sih. Dulu Devian sekarang Ian, Mau dijuluki apa? Cewek penggoda?" Kini Chelsia yang menyahut, Sesaat Chelsia dan Viola tertawa cekikikan.
Chloe memandang dingin kedua gadis itu, Ingin sekali dia memukul ke-3 gadis itu tapi Chloe teringat dengan perkataan ibunya di dunia asli, Bahwa ibunya pernah berkata jangan menyerang lawan sebelum lawan yang menyerang duluan. Jadi Chloe masih berusaha tenang.
"Baiklah, Aku gak akan mendekati dan berteman lagi dengan Devian dan Ian. Jadi berpuas-puas lah kalian dekat dengan mereka. Permisi," Balas Chloe datar, Dia bergegas melewati ke-3 gadis itu tapi belum selangkah Chloe pergi. Vivian tiba-tiba menarik seragamnya lalu menampar Chloe dengan kencang.
PLAK!
"Kau pikir bisa lolos semudah itu dari kami!?" Kata Vivian sinis usai menampar Chloe. Chelsia dan Viola tertawa terbahak-bahak.
Sesaat pipi kanan nya berdenyut sakit, Chloe menoleh perlahan menatap Vivian tajam. Tanpa peringatan menampar Vivian balik.
PLAK!
"Sekarang kita impas," balas Chloe dingin.
Tubuh Vivian membeku, Pertama kalinya ada siswi yang berani menamparnya. Bahkan sampai membuat Chelsia dan Viola melotot kaget.
"Kau...!" Geram Vivian.
Chloe menyadari bahwa akan terjadi hal buruk, Segera berbalik berlari menuruni anak tangga. Sudah cukup dia berhadapan dengan Vivian karna sekarang mereka impas.
Viola segera menyusul mengejar Chloe, Dengan sengaja dia menjulurkan kakinya saat berdekatan dengan Chloe hingga membuat Chloe tersandung kaki Viola. Chloe melotot menyadari lantai anak tangga yang semakin dekat dengan wajahnya. Sepertinya Dia akan jatuh.
"AAAAAA!"
"CHLOE!"
Sesaat Chloe memejamkan matanya, merasakan seseorang tengah merangkul pinggangnya. Apa dia akan benar-benar jatuh dari tangga?
BBRRUUKK!
Mereka berdua jatuh sampai ke lantai dasar, Chloe merasakan tengah menindih tubuh seseorang tapi dia tidak melihat dengan jelas wajah orang itu. Sesaat dengan kesadaran nya yang mulai menipis Chloe berusaha melihat wajah seseorang yang menolongnya.
"Ian...," Lirih Chloe pelan menyadari bahwa Ian lah yang menolongnya, Pemuda bernetra merah itu terlihat pingsan karna kepalanya sempat terbentur lantai marmer.
Perlahan Chloe menutup matanya, Kesadarannya hilang dan Chloe akhirnya ikut pingsan di atas tubuh Ian. Kepalanya menyandar pada dada pemuda bernetra merah itu.
__ADS_1
TBC