
Di sebuah ruangan cukup luas, Seorang pria melangkah pelan menuju sebuah kotak kecil yang tertutup rapat. Pria itu menghancurkan gembok yang mengunci kotak kecil tersebut hingga hancur berkeping-keping. Tangannya terulur membuka penutup kotak, Memperlihatkan sebuah jantung yang tampak masih berdetak.
Tanpa merasa jijik ataupun ngeri, Sang pria mengambil jantung itu dari tempatnya dan segera melangkah menuju seorang wanita bersurai silver yang tengah terbaring lemah dalam pingsannya. Kondisinya cukup mengenaskan dengan banyaknya bekas luka di sekujur tubuhnya, Terdapat juga selang infus yang terpasang di sisi kiri tangan sang wanita.
Pria itu menunduk kecil, Netra merahnya memandang wajah sang wanita dalam diam. Sejenak ibu jarinya mengusap sudut bibir wanita itu perlahan sambil bergumam pelan.
"Tuan, Anda sangat cantik saat tidur. Begitu indah seperti bunga lily," Tatapan sang pria terpaku pada bibir sang wanita, Dia tidak berekspresi apapun namun jelas dia memikirkan hal lain. "Bibir yang indah,"
Dia sedikit membungkukkan tubuhnya, Mempertemukan bibirnya dengan bibir sang wanita. Sesaat dia melakukannya dengan waktu yang cukup lama, Setelah puas pria itu menjauhkan diri. Kembali memandang sang wanita.
Dia mendekatkan jantung yang dibawanya ke arah tubuh wanita tersebut, Samar-samar cahaya hijau menyelimuti jantung itu hingga menghilang menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Tuan, Tolong sadarlah. Kembalilah ke saya," Pria itu menatap kosong tubuh sang wanita dihadapannya. Berharap penanaman jantung yang baru di tubuh Tuannya bisa berfungsi secepatnya.
"Ugh..."
Perlahan kelopak mata sang wanita terbuka menampilkan iris merah darah miliknya, Matanya menyipit sesaat setelah menatap langit-langit ruangan. Mencoba mengenali tempat dia berada sekarang.
Merasa seseorang menggenggam tangan kanannya membuat wanita itu menoleh, Dan menemukan seorang pria bersurai hitam berdiri disamping ranjangnya.
"Liam..." Kata Wanita itu dengan nada serak, Tubuhnya sangat lemah sehingga dirinya tidak memiliki banyak tenaga untuk berbicara.
"Tuan Vivian, Anda akhirnya sadar," Liam semakin mengeratkan genggamannya, Netra merahnya berbinar senang tapi wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Kau...Selalu disini?"
"Ya, Setiap hari. Berharap Tuan Vivian sadar secepatnya, Saya menunggu anda,"
Vivian tidak menjawabnya, Dia perlahan mendudukkan dirinya dibantu Liam. Setelahnya Liam menyodorkan segelas air mineral pada Vivian.
Vivian meneguk air itu sampai habis saking hausnya, Dia menyeka mulutnya dengan punggung tangan lalu meletakkan gelas tersebut di nakas.
Tak!
"Dimana anggota Red Devil yang lain?"
"Mereka sudah tiada, Hanya tinggal kita berdua yang tersisa Tuan,"
Kedua tangan Vivian terkepal, Giginya bergemeletuk kecil menahan amarah yang memuncak secara tiba-tiba.
"Mereka! Mereka harus membayarnya! Kita tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang!" Kata Vivian dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Saya mengerti, Saya akan melakukan apa yang anda inginkan,"
Tatapan Vivian melunak saat bertemu pandang dengan Liam, Dia mengisyaratkan Liam untuk mendekat padanya. "Liam, Mendekatlah,"
Liam mendekat sesuai perintah Vivian, Tak lama Vivian tiba-tiba memeluk Liam dan menyandarkan kepalanya pada dada sang pria. Liam tidak bergeming, Dia hanya diam tak bersuara.
Perlahan Vivian mengusap pelan dada Liam yang tersembunyi di balik pakaiannya, Merasakan suhu dingin dari tubuh Liam.
"Liam, Kau akan terus setia padaku dan akan selalu menuruti perintahku kan?" Tanya Vivian, Nada suaranya merendah terkesan menggoda.
"Ya, Tanpa anda perintahkan pun saya akan tetap melakukannya sesuai keinginan anda," Kali ini Liam memeluk balik Vivian, Dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalau begitu ayo 'main' sebentar," Vivian mendekatkan wajahnya, Berbisik tepat disamping kuping Liam sembari tersenyum sensual.
"Tapi anda baru saja sadar,"
"Hm, Ini bukan pertama kalinya kita melakukannya," Vivian menjauhkan wajahnya menatap Liam yang tidak berekspresi sama sekali. "Kau meremehkanku?"
"Tidak Tuan, Hanya saja–"
Cup!
Perkataan Liam terpotong setelah Vivian menciumnya secara tiba-tiba, Liam terlihat pasrah ketika Vivian memperdalam ciuman mereka. Dia hanya memejamkan matanya menikmati aktivitas mereka.
Bruk!
Liam menahan kedua pundak Vivian di tempat tidur, Membuat ciuman mereka terlepas. Wajah Vivian merah padam dengan napas yang terengah-engah, Berbeda dengan Liam yang terus menatap Vivian dibawahnya, Dia kembali mencium Vivian kali ini agak agresif dari sebelumnya.
Sebelum akhirnya mereka melakukan hubungan 'panas' itu hingga menjelang tengah malam.
(Catatan Author: Silakan kalian lanjutkan sendiri sesuai bayangan kalian dengan apa yang terjadi selanjutnya pada Liam dan Vivian, Pliss author gak kuat buat lanjutinnya😠Gak bakat bikin cerita kayak gitu'an].
****************
Cip! Cip! Cip!
__ADS_1
Burung-burung berkicau merdu melintasi sebuah rumah sederhana, Seorang anak laki-laki membuka jendela kamarnya lebar-lebar membiarkan udara pagi memasuki kamarnya. Langit masih terlihat sedikit gelap dengan embun pagi yang berhembus.
Anak laki-laki itu merenggangkan tubuhnya sesaat, Melemaskan otot-ototnya yang agak kaku. Usai melakukan olahraga kecil, Dia melihat ke bawah jendela menatap pemandangan halaman rumah yang terbentang luas di bawahnya.
Tak lama netra hijaunya tak sengaja menangkap sesosok anak perempuan sedang tidur di teras depan rumahnya, Mirip seperti gelandangan yang tak punya rumah.
"Itu bukannya anak perempuan yang kemarin?" Gumamnya.
Kening anak laki-laki itu mengerut tak senang, Dia mendengus sebentar sebelum memutuskan menemui anak perempuan tersebut.
Tap! Tap! Tap!
Cklek!
Anak perempuan itu masih terlelap dalam tidurnya, Merasa tak terusik dengan kehadiran anak lelaki di belakangnya. Karna saat ini anak perempuan itu tidur membelakangi pintu. Tanpa belas kasih sang anak lelaki menendang pelan kaki sang anak perempuan dengan kakinya.
"Hei! Bangun!"
Merasa tidurnya terganggu membuat anak perempuan itu terbangun, Dia membuka kelopak matanya dan perlahan mendudukkan dirinya sambil mengusap matanya yang masih dilanda rasa kantuk.
Sejenak anak perempuan menatap sekitar sebelum akhirnya perhatiannya tertuju pada anak laki-laki dibelakangnya.
"Ouh, Kakak yang kemarin," Kata anak perempuan itu berdiri dari duduknya.
"Sedang apa kau dirumahku?! Mengganggu pemandangan saja," Balas anak laki-laki dengan ketus.
"Itu...aku kan benar-benar gak tau seluk beluk tempat ini, Jadi aku ikuti kakak saja. Habisnya kakak gak mau bantu aku," Cicit anak perempuan diakhir kalimatnya.
Anak laki-laki itu mendengus sebal, Dia bersidekap. "Aku saja tidak tahu asalmu dari mana, Bagaimana mau membantumu?!"
"Antarkan aku saja ke tempat kenalanku,"
"Tidak mau! Memangnya kau siapa berani-beraninya memerintahku?!"
"Uh..." Anak perempuan itu menunduk takut setelah mendapat bentakkan dari anak laki-laki dihadapannya.
"Lebih baik kau pergi deh! Jangan mengusikku!"
Anak laki-laki berjalan pergi masuk ke dalam rumahnya, Tak lupa menutup pintu dengan agak kencang.
Blam!
**************
Sedangkan anak laki-laki yang mengetahui dirinya terus diikuti anak perempuan itu hanya acuh tak acuh, Dia tak peduli dengan keberadaan anak perempuan tersebut selama anak perempuan itu tidak mengganggu aktivitasnya.
Mulai saat dirinya sedang membantu orang tuanya membersihkan kandang ternak, menjual beberapa kayu bakar ke orang-orang desa, Bermain di sisi danau, Maupun hanya sekedar jalan-jalan di pantai. Anak perempuan itu selalu berada di dekatnya tapi tidak pernah mengajaknya bicara lagi setelah kejadian dibentak olehnya.
Terkadang keberadaan anak perempuan itu membuatnya terbantu, Seperti waktu dimana dirinya saat itu sedang memperbaiki papan skateboardnya yang rusak. Waktu itu awan terlihat mendung dan gerimis kecil mulai turun membasahi bumi. Dan disaat yang bersamaan ketika dia asyik dengan aktivitasnya, Anak perempuan itu dengan suka rela memayungi kepalanya dengan selembar daun yang cukup besar dan lebar membuatnya terlindung dari derasnya air hujan. Anak laki-laki itu hanya mendongak sejenak menatap daun yang memayungi dirinya sebelum kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.
Di waktu yang lain, Anak perempuan itu juga membantunya memancing ikan untuk lauk keluarganya. Lalu diwaktu lainnya lagi anak perempuan tersebut juga membantunya mengumpulkan kayu bakar untuk dijual.
Terkadang saat dirinya sedang berjalan-jalan di pesisir pantai, Anak perempuan itu selalu berada di belakangnya tidak berani mendekat lebih dari 1 meter. Sang anak laki-laki menghentikan langkahnya sesaat membuat anak perempuan ikut menghentikan langkah, Anak lelaki melirik sebentar sebelum kemudian melanjutkan langkah diikuti anak perempuan dibelakangnya.
Dan terkadang saat waktu ada bintang jatuh di dekat rumahnya, Anak perempuan itu selalu setia melihatnya dari teras depan rumahnya.
Bisa dibilang kedekatan mereka berawal dari sana, Berawal dari sang anak perempuan yang selalu membantu anak laki-laki dan selalu berada di dekatnya.
*************
"Pak Ceo, Bangunlah,"
Samar-samar Ezra mendengar suara asing didekatnya, Matanya begitu agak berat. Perlahan Ezra membuka kelopak matanya dan menemukan seorang OB berdiri dihadapannya.
Ezra menegakkan tubuhnya berusaha menghilangkan rasa kantuk yang masih melanda, Kemudian dia mendongak menatap OB dihadapannya.
"Pak Ceo tidak pulang?"
"Jam berapa ini?" Bukannya menjawab, Ezra bertanya balik.
"Jam 9 malam Pak," Sahut OB itu sambil mengambil cangkir kosong di meja Ezra.
"Hm, Kau boleh pergi,"
"Permisi Pak,"
OB tersebut berjalan pergi meninggalkan Ezra sendirian di ruangannya.
__ADS_1
Ezra menghembuskan napas pelan, Dia mengusap wajahnya sesaat. Lalu memandang jam arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tidurnya begitu nyenyak sampai tak sadar sudah hampir mendekati tengah malam.
Ezra mematikan laptopnya, Bergegas membereskan berkas-berkas dokumen yang tersisa lalu memasukkan dalam tas kerjanya. Selesai dengan urusan kerjanya, Dia melangkah pergi dari sana tak lupa membawa tas kerja dan mematikan lampu ruangan.
************
Sesampainya di parkiran gedung kantor, Ezra memasuki mobilnya seketika dirinya tiba-tiba teringat dengan keadaan Chloe. Chloe kan sudah dia usir dari perusahaan dan asrama, Lalu dimana gadis itu akan tinggal?
Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada gadis itu? Apakah dia sudah menemukan keluarga kandungnya?. Ezra cepat-cepat menggeleng untuk menghilangkan rasa cemasnya, Gadis itu sudah dia usir. Jadi dia bukan tanggung jawabnya lagi.
Ezra menepis pemikirannya itu dan bergegas menyalakan mesin mobil, Dia segera menjalankan mobilnya meninggalkan area parkiran gedung.
**************
[Keesokan harinya]
Tap! Tap! Tap!
Chloe keluar dari bis setelah dirinya sampai di tempat tujuan, Kepalanya mendongak menatap pagar hitam yang menjulang tinggi. Sejenak Chloe mengintip dari celah-celah pagar untuk melihat sebuah rumah besar atau lebih tepatnya mansion super besar. Dia lalu melihat kartu nama yang dibawanya, Memastikan apakah dia berada di alamat yang tepat.
Dilihat dari sekelilingnya Chloe kini berada di perumahan elit yang rata-rata adalah mansion, Sesaat membuat Chloe minder karna baru pertama kali dirinya menginjakkan kaki di perumahan yang rata-rata dihuni orang kaya.
"Alamatnya benar, Semoga saja pemilik rumah ini ada," Gumamnya.
Sang gadis menghembuskan napas sesaat untuk menghilangkan rasa gugupnya, Lalu dia menekan bel yang tersedia di samping pagar.
TING! TONG!
"PERMISI!" Teriak Chloe agar pemilik rumah mendengar suaranya.
Suasana rumah itu masih tampak sepi, Tidak ada seorang pun datang menemuinya. Chloe kembali menekan kedua kalinya.
TING! TONG! TING! TONG!
Tak lama setelah menunggu beberapa menit, Seorang pria paruh baya dengan pakaian satpam datang tergopoh-gopoh menghampiri Chloe dari balik pagar.
Tap! Tap! Tap!
"Ada apa nona, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria paruh baya itu ramah.
"Apa benar ini kediaman keluarga Michelle?"
"Iya, Benar,"
"Pemilik rumahnya ada? Boleh saya ketemu?"
"Ada, Tapi mohon maaf sebelumnya nona ini ada keperluan apa ya dengan Nona Michelle?"
"Ano, Saya Chloe Amberly. Sehari sebelumnya Nona Michelle datang ke kantor tempat saya bekerja, Dan memberikan kartu ini. Dia bilang datang saja ke alamat ini, Nanti akan diberitahukan info selanjutnya," Jelas Chloe panjang lebar sambil menyerahkan kartu di tangannya.
Satpam itu menerima kartu tersebut lalu mengangguk-angguk pelan. "Oh, Jadi nona Chloe adalah tamu yang dibilang Nona Michelle waktu itu. Tunggu, Saya buka dulu pagarnya,"
Pak Satpam membukakan pagar untuk Chloe membiarkan Chloe masuk kedalamnya. "Mari ikuti saya,"
"Baik pak,"
Pak Satpam pun berjalan lebih dulu sebagai pemandu, Chloe hanya mengikutinya sambil memandang sekeliling. Mansion itu memiliki beberapa tanaman hias berjejer di samping kiri-kanannya dengan halaman depan yang begitu luas. Saat mendongak menatap mansion pun Chloe sampai melongo dibuatnya.
"Buset, Ini mansion atau istana sih? Gede bener dah," Pikir Chloe kagum plus terpana.
Mereka memasuki dalam mansion mendekati sebuah sofa yang tersedia.
"Silakan duduk dulu, Saya akan panggilkan Nona Michelle,"
"Iya,"
Chloe duduk di sofa setelah mendapat izin, Sedangkan Pak Satpam pergi entah kemana untuk menemui Nona Michelle.
Netra birunya asyik melihat sekitar, Mengagumi betapa indahnya dekorasi serta benda-benda yang ada disana. Chloe berpikir jika dirinya sudah kembali ke dunia asalnya maka dia mungkin akan membeli rumah dengan dekorasi seperti mansion ini juga, Yah jika dirinya memiliki banyak uang sih.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang mendekat menarik perhatian Chloe, Gadis itu menoleh mencari sumber suara langkah tersebut.
Seketika suara langkah kaki itu berhenti saat pemiliknya ikut memandang balik, Seorang Pria bersurai coklat berdiri tak jauh dari posisi Chloe. Pandangan mereka bertemu, Keduanya sama-sama terkejut bahkan Chloe sampai berdiri.
"Kamu!"
__ADS_1
"Kamu!"
TBC