
Devian menghela napas setelah merenung cukup lama, Ia meranjak dari area rooftop menuju keluar asrama. Tak lupa dirinya memakai jubah hitam serta memakai topeng hingga menutupi seluruh wajahnya.
Disaat bersamaan dirinya berpapasan dengan Rion yang baru saja berniat masuk ke dalam Asrama, Sedangkan Rion menatap Devian heran sekaligus penasaran.
"Hei, Kau mau kemana malam-malam begini?"
"Aku ada urusan sebentar, Kau jaga Asrama dulu. Nanti aku kembali lagi," Jelas Devian datar sambil berlalu melewati Rion.
"Kapan kau akan kembali?"
"Saat pagi atau siang,"
Tanpa menunggu jawaban dari Rion lagi Devian segera menuju parkiran, Lalu segera menyalakan motornya tak lupa memakai helm miliknya.
Motornya melaju meninggalkan halaman depan Asrama tanpa menyadari Rion terus memandangnya sampai sosok Devian hilang di kegelapan.
"Hah~, Padahal aku sudah mengantuk, Kupikir Devian yang akan berjaga sampai pagi," Rion menghembuskan napasnya pelan, Melangkah pergi menuju Gazebo untuk beristirahat disana.
Sepertinya ia akan berjaga sendirian lagi kali ini.
**************
[Disisi lain]
Motor nya terus melaju melewati jalan raya membelah kegelapan malam, Jalanan begitu sepi tanpa ada transportasi lain lagi yang lewat. Devian membelokkan motornya melewati sebuah gang sempit, Tak lama dirinya sampai di sebuah rumah kosong yang terlihat suram dengan cat temboknya yang mulai kusam dan terkelupas habis dimakan waktu.
Ia mematikan mesin motor dan melepas helmnya, Menyimpan kunci dalam saku celana. Dengan acuh Devian melangkah memasuki rumah kosong itu tanpa takut sedikit pun.
Secara perlahan ia membuka pintunya dan menemukan ruangan yang sangat luas seluas lapangan basket tanpa satupun dekorasi tertinggal disana. Hanya terdapat beberapa kotak kecil dan sedang berjejer di sisi kiri ruangan.
Kakinya melangkah ke sisi ruangan lainnya, Netra beriris coklat muda itu terus memandang tajam sekelilingnya hingga akhirnya netra coklat muda itu menangkap sosok yang dicarinya sejak tadi tengah duduk santai di sebuah kursi atau lebih tepatnya singgasana sosok itu.
"Akhirnya kau datang juga, Aku sudah menunggumu Devian," Kata sosok itu sembari tersenyum lebar, Jubah merah yang dikenakannya berkibar pelan mengikuti gerakan sosok tersebut.
Devian menatap datar lalu melepas topeng yang ia kenakan. "Aku datang kesini untuk menagih janjimu sesuai kesepakatan kita,"
"Oh baik," Sosok tersebut menoleh pada seseorang sembari berseru kencang. "Bawa mereka kesini!"
Tak lama sosok lainnya dengan jubah merah dan topeng yang menutupi wajahnya datang bersama seorang wanita dan laki-laki paruh baya serta seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih muda dari Devian. Tangan mereka diikat serta mulut mereka diperban dan kaki mereka dirantai sangat kuat, Bahkan mata adik Devian sampai berkaca-kaca berharap Devian bisa menolong mereka.
Diam-diam kedua tangan Devian terkepal saat melihat keluarganya diperlakukan layaknya tahanan, Giginya bergemeletuk kecil menahan amarah, Tatapannya berubah sendu menatap keluarganya.
"Ayah, Ibu, Noah," Lirih Devian sendu.
"Ayah, ibu meski kalian lebih sayang pada Noah tapi aku tetap menyayangi kalian," Batin Devian sembari menunduk kecil.
"Nah, Kau ingin mereka bebaskan? Kalau begitu sesuai kesepakatan berikan aku system itu. Aku sudah bersabar memberimu waktu sesuai janjimu," Sosok itu mengulurkan tangannya.
Devian terdiam membisu menatap tangan yang terulur padanya, Lalu menggeleng pelan berseru lirih.
__ADS_1
"Aku...Tidak mendapatkan system itu. Aku tidak bisa membunuhnya,"
Senyum penuh kemenangan sosok tersebut seketika luntur, Perlahan ia menarik kembali tangannya.
"Tapi...Aku bisa menggantinya dengan yang lain, Kau bisa minta yang lain pasti akan kupenuhi asal bukan membunuhnya dan bebaskan keluargaku," Kata Devian mendongak menatap sosok dihadapannya.
Ekspresi sosok tersebut berubah marah dan tangannya memukul sanggahan kursi dengan kencang.
BRAK!
"APA KAU TIDAK MENGERTI! YANG KUINGINKAN HANYALAH SYSTEM ITU! AKU MENYURUHMU MEMBUNUH GADIS ITU TAPI KAU MALAH MENGASIHANINYA!"
Seketika Devian terdiam bungkam, Kepalanya tertunduk hingga helai-helai rambutnya sedikit menutupi wajah.
"Ternyata benar apa yang dikatakan bawahanku, Malam itu kau bahkan tega membunuh rekanmu sendiri hanya untuk melindungi gadis itu. Kau sungguh menyedihkan Devian. Aku menyesal sudah percaya padamu," Kata sosok itu dingin sembari menatap tajam Devian.
"Bunuh mereka!" Perintah sosok tersebut pada bawahannya yang membawa sebuah kapak tajam.
Sontak Devian mendongak netranya membulat kaget, Refleks Devian mengeluarkan pisau miliknya dari balik jubahnya dan langsung berlari cepat menuju bawahan sosok tersebut yang sudah berancang-ancang untuk membunuh keluarganya.
"AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU JIKA KAU BERANI MENYENTUH MEREKA!" Teriaknya marah sembari menghunuskan pisau nya pada bawahan sosok tersebut.
Namun tiba-tiba sosok berjubah lainnya menahan Devian dengan sebuah tongkat besi dan memukul kepala sang pemuda dengan keras hingga membuat tubuh Devian terhuyung kebelakang hampir jatuh.
Disaat bersamaan bawahan sosok berjubah merah itu berhasil membunuh keluarga Devian tanpa belas kasih.
Tes! Tes! Tes!
Percikan darah menyembur keluar dari tubuh keluarga Devian, Genangan darah mulai menghiasi tempat itu. Tubuh Devian gemetar hebat saat matanya menangkap kepala adiknya terpisah dari tubuhnya, Begitu pun dengan kedua orang tuanya. Aroma amis mulai memenuhi tempat itu.
"Tidak! Tidak Mungkin!"
Ia memegangi kepalanya yang berdarah dengan kedua tangannya frustasi melihat pemandangan tepat dihadapannya, Perlahan mental Devian sedikit demi sedikit mulai terganggu. Ia menggeleng pelan beberapa kali mencoba menepis apa yang dilihatnya hanyalah kesalahan.
"Ayah, Ibu, Noah," Lirih Devian tanpa sadar matanya berkaca-kaca dan dirinya menangis dalam diam.
Kakinya tidak sanggup menopang berat tubuhnya hingga akhirnya ia jatuh terduduk dan pisau di tangannya ikut jatuh ke lantai, Samar-samar Devian tertawa pelan meski matanya terus menangis sembari menatap mayat keluarganya.
"Hahaha, Kalian tidak mati kan? Katakan padaku ini cuma candaan,"
"Sungguh menyedihkan, Aku muak melihatmu," Decih bawahan sosok tersebut sambil mengayunkan tongkat besi di tangannya mengarah pada kepala Devian. "Pergilah ke Neraka, Dasar sampah!"
Devian hanya menoleh dan diam saat tongkat besi itu berayun ke arahnya.
Wuussh!
BBRRAAKK!
**************
__ADS_1
[Keesokan paginya]
"Hoam...Ah, Rasanya aku masih ngantuk," Gumam Chloe sembari menguap kecil tak lupa menutup mulutnya menggunakan punggung tangan.
Ia berniat membuka pintu dapur tapi tidak disangka Ezra yang baru datang juga berniat membukanya, Alhasil keduanya saling lirik seolah sedang bertukar pikiran.
"Oi tengil, Kau ini selalu berada dimana-mana. Dasar penguntit!" Ledek Ezra sambil membuka pintu dapur dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Chloe lagi.
Sedangkan Chloe terbengong-bengong sesaat mencerna perkataan Ezra, Setelahnya eskpresinya berubah kesal sembari menyusul pemuda bersurai hitam itu.
"Hei! Siapa yang bapak sebut penguntit?! Aku dari tadi udah disana duluan sebelum bapak tau!" Protes sang gadis mengikuti Ezra dari belakang.
"Siapa lagi kalau bukan kau! Nih, Buktinya mengikutiku," Ezra menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Chloe.
Alhasil Chloe yang gak sempat berhenti karna Ezra berhenti mendadak malah nabrak dada Ezra, Sang gadis langsung meringis setelah hidungnya yang menjadi korban. Refleks ia mengusap hidungnya.
"Aduh pak, Kalau berhenti itu bilang-bilang. Jadi nabrak kan,"
"Siapa suruh kau jalan dibelakangku! Aku bukan induk ayam," Balas Ezra sewot.
"Dan aku bukan anak ayam! Ya udah lain kali aku gak bakal jalan dibelakang bapak lagi! Ngeselin," Balas Chloe tak kalah sewot sambil mengalihkan pandangannya lalu mendudukkan dirinya di kursi.
"Tch!" Ezra mendecih sinis sembari ikut mendudukkan dirinya, Tak ingin memandang Chloe lagi begitupun sebaliknya.
Sedangkan Aiden yang sejak tadi sudah berada di dapur hanya menghela napas mendengar keributan keduanya, Dirinya tengah fokus masak sesekali netra berwarna ungu tua itu melirik Ezra dan Chloe yang masih saling membuang muka.
"Mereka ini selalu ribut. Tidak pernah akur padahal partner," Pikir Aiden menggeleng pelan.
Tak lama anggota lainnya mulai berdatangan, Satu persatu duduk di kursi masing-masing. Raizel yang pertama kali menyadari ketidak hadiran Devian diantara mereka.
"Dimana Devian? Tidak biasanya dia absen saat sarapan begini," Tanya Raizel sambil menatap satu persatu teman-temannya.
Yang lain juga saling pandang dan merasa bingung karna Devian tidak bersama mereka. Justin lalu memandang Rion yang duduk disamping Raizel.
"Rion, Kau tahu Devian kemana?"
"Katanya sih ada urusan dan bakal balik lagi saat pagi atau siang. Gak tau urusan apa," Balas Rion sembari menggidikkan pundaknya tak tahu.
"Nanti juga bakal balik lagi," Sahut Ian acuh.
Semuanya kembali tenang seperti yang dikatakan Rion dan Ian. Aiden pun menyajikan masakan pada semua anggota dan mereka makan dengan tenang seperti biasa.
Namun berbeda dengan Chloe yang kepikiran dengan firasatnya tadi malam.
"Aduh, Firasat burukku kok makin menjadi-jadi ya? Aku seperti mencemaskan sesuatu tapi aku gak tau apa yang kucemaskan," Pikir Chloe tak tenang, Makannya pun melambat. Kemudian ia menggeleng pelan mengusir pikiran buruknya. "Mungkin hanya perasaanku,"
Ia kembali menghabiskan sarapannya walau firasat buruk itu masih membebani pikirannya.
TBC
__ADS_1