System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 2) Red Devil


__ADS_3

[J.G Entertainment]


Suara-suara gaduh terdengar sepanjang lantai kantor, Wajar itu terjadi karna sekarang sedang jam istirahat para karyawan. Tak sedikit juga terlihat para karyawan hilir mudik dengan aktivitas masing-masing. Termasuk Chloe yang saat ini membantu Gracia di Canteen sembari melayani beberapa karyawan disana.


"Chloe, Antar pesanan ini ke meja no.2," Pinta Gracia menyerahkan nampan berisi berbagai makanan dan minuman.


"Oke kak,"


Dengan sigap Chloe mengantar pesanan itu, Ia tersenyum ramah setelah menyerahkan pesanan tersebut.


Saat kembali ke meja counter, Tak sengaja dirinya mendengar percakapan antara Gracia dan OG lainnya.


"Eh eh, Ini si Pak Ceo minta dianterin pesanannya nih. Gracia, Kamu aja ya yang anterin," Kata salah satu OG sambil menyerahkan nampan pesanan Ezra ke Gracia.


Seketika Gracia panik setengah mati, Wajahnya langsung memucat begitupun dengan OG tadi.


"K-Kok Aku...? Um...," Netra Gracia melirik kesana kemari mencari OG lain disekitarnya, Hingga tatapannya tertuju pada Chloe yang baru saja selesai mencuci beberapa piring.


"Chloe, Tolong anterin pesanan ini ke Pak Ceo ya. Pliisss..." Pinta Gracia dengan memelas, Menyodorkan nampan tersebut pada Chloe.


Chloe yang bengong hanya dengan patuh menerima nampan itu, Ekspresinya tampak heran. Sembari memandangi satu-persatu wajah Gracia dan OG lainnya yang terlihat pucat.


"Kenapa wajah kalian pucat begitu? Kan cuma nganterin makanan aja,"


Refleks Gracia menarik Chloe pelan sedikit menjauh dari sana lalu Gracia berbisik.


"Masa kamu lupa Chloe? Pak Ceo itu kan galak plus nyeremin, Jabatannya jadi Road Manajer dulu aja udah galak apalagi pas udah jadi Ceo gini. Pasti lebih galak dan buas, Jadi kami pada gak berani nganterin pesanannya," Bisik Gracia pelan, Melirik sekitarnya dengan waspada takut kalau ada yang mendengar perkataannya selain Chloe.


Chloe yang mendengar alasan Gracia cuma manggut-manggut. "Ternyata pada takut sama Pak Ezra rupanya, Padahal Pak Ezra gak gigit lho. Paling cuma kena bentak dikit," Pikir Chloe speechless.


"Ya udah deh, Biar Chloe aja yang anter. Kak Gracia lanjutin lagi kerjaannya ya,"


"Huhuhu, Makasih banget Chloe. Kamu emang penyelamat terbaik kami," Gracia menangis haru disusul dengan tangisan haru dari OG lainnya. Mereka merasa lega karna gak jadi ketemu Ezra.


Chloe hanya terkekeh pelan sambil menggeleng. "Kalau begitu aku pergi dulu kak,"


"Iya, Hati-hati ya. Kami doakan kamu kembali dengan selamat,"


Seketika Chloe kembali speecheles. "Lha? Emangnya kayak mau ke medan perang?"


Alhasil Chloe buru-buru pergi dari sana dari pada situasinya semakin aneh.


***************


[Ruangan Ezra]


"Jadi, Aku juga harus memeriksa hasil laporan dari Willy?"


"Ya, Dia bilang perkembangan para idol kita tahun ini sangat baik. Jadi aku ingin kau memeriksa dokumen itu untuk membuktikannya,"


Ezra menatap dokumen yang dimaksud sambil mengangguk pelan. "Apa ada tambahan lagi tugas yang perlu kukerjakan Tuan Justin?"


Justin, Pemuda bernetra orange itu menggeleng di seberang telepon. "Tidak ada, Cukup itu saja. Nanti akan kuberitahu jika ada tugas terbaru lagi,"


"Baiklah,"


Ezra berniat memutuskan sambungan teleponnya namun terhenti karna suara ketukan di pintu ruangannya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Ini pesanan bapak,"


"Masuklah!"


KKREEIITT!


Chloe memasuki ruangan, Mendekati meja Ezra untuk menyerahkan makanannya. Sesampainya disana ia lantas meletakkan pesanan itu satu persatu, Tak lama setelah selesai netra beriris biru miliknya tak sengaja menatap vidio call di handphone milik Ezra dimana saat itu yang dihubungi adalah Justin.


"Oh, Pak Justin apa kabar? Bapak masih di Asrama?" Sapa Chloe tersenyum ceria.


Justin membalas senyum Chloe saat melihat sang gadis. "Kabarku baik, Yah aku lebih sering menghabiskan waktu di asrama sekarang. Lebih nyaman mengerjakan tugas disini,"


"Baguslah, Bapak lebih baik banyak istirahat di asrama. Dan minum obat dengan benar,"


"Tentu, Tentu saja. Akan kulakukan, Aku merasa lebih baik semenjak bekerja di asrama saja. Penyakitku sekarang tidak sering kambuh,"


"Ya senang mendengarnya,"


Kening Ezra mengerut mendengar percakapan antara Justin dan Chloe, Alhasil dia mendorong wajah sang gadis menjauh dari handphone nya.


"Ck! Kau mengganggu saja tengil!"


"Yak! Pak saya kan cuma ngobrol sebentar sama Pak Justin," Chloe mendengus kecil karna obrolannya dengan Justin terpotong.


"Sepertinya setelah Ezra menggantikan posisiku, Kalian semakin akrab ya," Celetuk Justin diseberang sana sembari terkekeh pelan.


Ekspresi Ezra berubah masam, Tak senang mendengarnya. "Kami tidak akan pernah akrab! Si Tengil ini saja yang emang kerjaannya cuma ganggu,"


"Ujung-ujungnya Pak Ezra salahin aku juga," Batin Chloe speecheles.


"Apapun yang kau katakan Ezra, Itu tidak akan pernah mengubah fakta bahwa kalian berdua adalah partner. Jadi baik-baiklah kalian berdua di kantor setelah aku melepas jabatanku disana," Ucap Justin serius.


"Hah~ Baiklah Tuan Justin," Ezra menghembuskan napas pasrah. Sedangkan Chloe cuma mengangguk patuh.


Setelahnya Ezra memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Ia meletakkan teleponnya di meja sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Sejenak keheningan tercipta di ruangan itu, Ezra melirik Chloe menyadari sang gadis masih berdiri disana.


"Ngapain masih disini?"


"Itu Pak...gelasnya..." Chloe menunjuk gelas yang sudah kosong sisa kemarin di meja Ezra.


Pemuda bernetra hijau emerland itu melirik mengikuti arah telunjuk Chloe, Ia mengambil gelas kosong tersebut dan menyerahkannya pada sang gadis.


"Nih,Cepat keluar sana!"


"Iya Pak," Chloe menerimanya dengan perasaan agak kesal, Ia merasa kesal karna diusir keluar padahal dirinya memang berniat keluar dari ruangan itu tanpa harus diusir atau diperintah.


Dengan langkah terburu-buru ia keluar menuju pintu sambil memegang erat nampan dan gelas ditangannya.


**************


[Sore hari, Pulang kerja]


Srek!


"Selesai!" Gracia berseru senang usai menyelesaikan pekerjaannya, Ia mencuci lap tersebut sebentar lalu menjemurnya.


Chloe hanya tersenyum sembari melepaskan Id card nya dan memasukkan dalam ransel, Ia membawa pakaian gantinya menuju toilet.


Tak berselang lama sang gadis kembali mendekati Gracia usai ganti pakaian.


"Kak, Aku duluan ya,"


"Oh iya, Hati-hati dijalan," Gracia yang bersiap untuk ganti pakaian hanya tersenyum.


"Baik kak,"


Langkah kakinya membawanya keluar dari ruang Staff meninggalkan Gracia yang masih bersiap pulang.


**************


Chloe berhenti tepat di depan halaman gedung kantor, Kepalanya celingak-celinguk untuk mencari angkutan umum atau taksi yang lewat.


Suara getaran di saku jaketnya menyadarkan sang gadis, Ia mengambil telpon genggamnya dan melihat nama sang penelpon.


"Kak Finni?"


Lantas Chloe langsung menerima panggilan itu mengetahui nama sang penelpon adalah orang yang ia kenal.


"Halo kak,"


"Halo, Apa aku mengganggu waktumu?"


"Enggak kok kak, Aku baru aja mau pulang. Kenapa kak?"


"Bisakah kita ketemu? Aku ingin membicarakan suatu hal penting padamu,"


"Boleh, Kak Finni mau ketemu dimana?"


"Cafe Roses, Akan kukirim lokasinya. Kamu tunggu saja,"


"Oke, Aku segera kesana,"


Setelahnya sambungan telepon itu terputus secara sepihak.


Ting!


Chloe menatap layar handphone setelah menerima sebuah pesan yang menunjukkan dimana lokasi Cafe tempat pertemuan mereka berada. Tak menunggu lama Chloe bergegas menaiki bus untuk kesana.


Tidak menyadari bahwa Ezra sudah sejak tadi memperhatikan gerak gerik sang gadis dari balik kaca gedung atas.


"....."

__ADS_1


Ezra menuju laci mejanya tampak mengambil sesuatu dari sana, Ia meraih sebuah tablet sembari mengutak-atik tablet tersebut.


Netra beriris hijau miliknya terus mengawasi beberapa titik merah yang berada di layar tablet dengan serius.


"Sudah sore begini, Masih saja pergi kemana-mana," Gumamnya jengkel.


****************


[Cafe Roses]


Kkrriinngg!


Suara dentingan bel terdengar saat Chloe memasuki area dalam Cafe, Disusul suara gaduh dari beberapa pelanggan. Cafe itu dipenuhi lautan manusia seakan tidak ada tempat lagi bagi Chloe untuk mencari tempat duduk.


Sesaat netra biru nya memperhatikan sekeliling Cafe mencari sosok Finnian disana sembari berjalan menghindari beberapa barista dan pelanggan yang lewat.


"Chloe!"


Mendengar namanya dipanggil netra sang gadis langsung tertuju pada sumber suara, Melihat Finnian yang melambaikan tangan padanya dengan senyum cerah.


Sontak sang gadis langsung mendekati meja Finnian yang untungnya tidak jauh dari posisinya.


"Maaf kak, Nunggu lama?" Chloe duduk berhadapan dengan Finnian.


"Enggak kok, Kakak juga baru sampai," Finnian menyodorkan salah satu jus yang baru ia pesan pada Chloe. "Nih minum, Barusan udah kakak pesan. Kamu suka takoyaki gak?"


"Suka kok,"


"Baguslah, Tadi udah dipesan juga," Finnian kembali tersenyum kemudian meminum jus bagiannya.


Chloe hanya mengangguk dan ikut meminum jusnya, Sesaat tatapannya tertuju ke luar Cafe dimana terlihat banyak pejalan kaki dan kendaraan transportasi hilir mudik.


"Situasi ini mengingatkanku saat kita masih jadi barista di Cafe Felix," Finnian sedikit menyentuh kaca Cafe, Tatapannya terlihat sendu menatap jalanan luar.


"Iya, Tapi sekarang semuanya sudah berubah," Chloe menunduk kecil menatap gelas jus dihadapannya.


Finnian hanya tertawa hambar, Ia tersenyum getir sesaat. "Yah, Tidak ada yang berubah selama kenangan itu masih ada,"


Chloe memandang wajah Finnian dan menghela napas kecil. "Um...Jadi kak, Apa yang ingin kakak bicarakan? Bukannya kakak ingin bicara tentang hal penting?"


Finnian tersadar lalu memandang Chloe balik. "Sejujurnya tidak ada hal yang penting sih, Kakak cuma ingin bertemu Chloe aja,"


Seketika sang gadis langsung speecheles, Ia terdiam sesaat lalu menggeleng pelan. "Ish, Jadi kak Finni bohong ya?!"


Finnian terkekeh pelan. "Gak juga kok, Kakak cuma ingin kita nostalgia aja kayak waktu kita kerja di Cafe Felix,"


"Ya ampun," Chloe menggeleng pelan tak habis pikir dengan alasan Finnian.


Tap! Tap! Tap!


Seorang barista Cafe mendekati mereka berdua membuat obrolan Chloe dan Finnian terhenti.


"Permisi,"


Barista itu meletakkan pesanan Finnian setelahnya dia berlalu dari sana.


"Yuk makan," Ajak Finnian menyodorkan sepiring takoyaki pada Chloe.


"Makasih kak,"


Finnian mengangguk kecil dengan senyum lalu menyantap makanan bagiannya diikuti Chloe.


Kkrriinngg!


Sesaat netra biru miliknya tertuju pada salah satu pelanggan yang baru saja memasuki Cafe, Penampilan pelanggan itu agak misterius dengan topi merah yang menutupi separuh wajahnya dan jaket hijau.


Sambil menyuap satu takoyakinya Chloe terus menatap pelanggan tersebut, Saat pelanggan itu memperhatikan sekitar Cafe dan akhirnya tatapannya tertuju pada Chloe. Sang gadis agak tersentak refleks menunduk menghindari tatapan pelanggan itu.


"Haduh, Aku gak sadar terus menatapnya. Moga gak ketahuan," Pikir Chloe merasa malu karna menatap pelanggan itu tadi.


Buru-buru sang gadis melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.


**************


Setelah sarapan kedua nya menuju meja kasir untuk membayar makanan masing-masing.


"Makasih sudah meluangkan waktu untuk hari ini," Kata Finnian mengambil kembaliannya lalu menatap Chloe disampingnya.


"Sama-sama kak, Aku senang kok bisa ketemu kakak lagi,"


"Aku juga," Finnian tersenyum lalu netra coklatnya memandang jam arlojinya yang menunjukkan pukul 6 sore. "Kamu mau kakak anterin? Soalnya bentar lagi malam lho,"


"Eh, Gak usah kak. Chloe bisa pulang sendiri asal gak kemaleman aja,"


"Oh ya udah, Hati-hati ya,"


Mereka berdua berniat pergi keluar dari Cafe tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan disertai kaca Cafe yang pecah membuat keduanya terhenti.


DOR!


PRANG!


"KKKYYYAAAA!"


Situasi Cafe yang tadinya ramai dan tenang kini berubah menjadi tegang, Para pelanggan berhamburan keluar Cafe dengan panik. Mereka berlarian kesana kemari tak tentu arah bahkan sampai ada yang saling menabrak agar bisa keluar dari sana.


DOR! DOR!


Suara tembakan kembali terdengar membuat suasana semakin panas. Chloe dan Finnian ikut panik plus bingung menatap orang-orang yang berlarian di sekitar mereka.


"A-Ada apa ini?! Kenapa begini?!" Kata Finnian panik.


"I-Itu pasti karna mereka!" Chloe menunjuk sekelompok orang-orang berjubah merah yang mengepung Cafe tempat mereka berada.


Orang-orang berjubah merah itu juga mengancam para pelanggan dengan senjata tajam agar tak keluar dari sana. Salah satu pelanggan tak sengaja mendorong Finnian hingga Finnian terjatuh.


BRUK!


"Ugh....,"


"Kak Finni," Refleks Chloe menolong Finnian untuk berdiri.


"JANGAN ADA YANG KELUAR DARI SINI! ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI! SEKARANG SERAHKAN SEMUA BARANG BERHARGA KALIAN!"


Teriakan dari salah satu kelompok berjubah merah itu menggelegar hingga memenuhi penjuru Cafe.


Chloe melihat satu persatu para pelanggan disana memberikan barang berharga mereka pada para orang-orang berjubah merah yang identitas mereka tidak diketahui karna memakai topeng.


"Ini namanya perampokan," Bisik Finnian pelan disamping Chloe.


"Kita harus mencari jalan keluar dari sini kak," Bisik Chloe balik.


"Tapi bagaimana caranya? Mereka mengepung tempat ini,"


Chloe diam sesaat memandang situasi kacau disekitar mereka, Berusaha mencari celah agar mereka bisa keluar.


Tap! Tap! Tap!


Finnian dan Chloe sontak mendongak menyadari ada orang lain didekat mereka. Sosok berjubah merah itu menyodorkan tangannya.


"Serahkan barang berharga kalian!"


"Huh! Tak ada gunanya kau merampok kami. Kami tidak memiliki uang sepeser pun!" Tolak Finnian sinis. Namun perkataannya hanya dianggap angin lalu oleh sosok berjubah merah itu.


"Serahkan semuanya atau kalian mati!" Nada sosok tersebut mulai mengancam.


Chloe berniat mengambil vas bunga didekatnya untuk menyerang sosok berjubah merah tapi Finnian tiba-tiba lebih dulu menyerang sosok berjubah merah itu, Pukulan demi pukulan dia lancarkan.


"Sialan kau!"


BUAG!


Finnian tak peduli, dia terus menyerang sosok tersebut. Keadaan semakin ricuh karna beberapa pelanggan ikut menyerang sekelompok berjubah merah tersebut. Mereka semua melawan dan memberontak.


"Kak Finni, Hentikan! Ayo pergi!" Ajak Chloe panik. Namun Finnian tak mendengarkannya.


Sosok berjubah merah itu membalas pukulan Finnian tak kalah kencang.


BUAG!


Chloe sibuk mencoba menghentikan Finnian karna merasa ini kesempatan mereka untuk kabur disaat situasi sedang kacau. Sang gadis tidak menyadari bahwa dibelakangnya terdapat salah satu jubah merah lainnya ingin menyerangnya.


BUAG!


Salah satu pelanggan tiba-tiba menendang kencang sosok berjubah merah dibelakang Chloe hingga terpental beberapa meter.


Mendengar suara pukulan di belakangnya membuat Chloe menoleh dan menemukan pria dengan topi merah dan jaket hijau yang ia lihat tadi.


Pria itu menaikkan topinya hingga wajahnya terlihat jelas oleh Chloe, Refleks sang gadis mendekat dan menggenggam kedua tangan sang pria.



"Pak Ezra!" Netra biru Chloe berkaca-kaca merasa senang dengan kehadiran Ezra disana. "Aku bersyukur bapak disini,"

__ADS_1


Kening Ezra mengerut kesal. "Kau bodoh tengil! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu. Aku yang pasti harus bertanggung jawab karna ulahmu!"


"Maaf pak," Chloe meringis pelan mendapat semprotan dari Ezra, Ia menjauhkan tangannya.


"Sudahlah, Sekarang kita tidak punya banyak waktu. Ayo pergi," Ezra menarik tangan Chloe menuju pintu keluar selagi situasi di sekitar mereka masih ricuh dan kacau.


Dengan keadaan yang seperti itu tentu sekelompok jubah merah tidak akan menyadari kepergian mereka.


"Tapi Pak, Kak Finni gimana?" Chloe menatap cemas Finnian yang sudah menumbangkan salah satu dari kelomok jubah merah namun sebagai gantinya Finnian mengalami beberapa luka ringan di bagian tubuhnya.


"Oi pirang, Kau ikut tidak?!" Seru Ezra ikut menatap Finnian.


"Pirang?" Sesaat kening Finni mengerut tak senang, Tapi tanpa berkata apa-apa ia lantas berdiri dan mengikuti Ezra serta Chloe yang sudah berlari duluan.


**************


BLAM!


Secepatnya mereka memasuki mobil milik Justin yang terparkir tak jauh dari lokasi Cafe, Ezra langsung tancap gas meninggalkan area Cafe setelah menyalakan mesinnya.


Finnian dan Chloe menghembuskan napas lega merasa mereka sudah sedikit jauh dari Cafe itu, Sesaat Finnian menatap belakangnya dimana Cafe yang mereka kunjungi tampak hancur dari jauh.


"Tadi begitu menegangkan, Aku hampir tidak bisa bernapas dengan benar," Keluh Finni memandang kaca spion di depan.


Ezra hanya diam tak menanggapi karna dia fokus menyetir sedangkan Chloe mengangguk setuju. Beberapa saat suara sirene mobil polisi terdengar disertai beberapa mobil polisi melewati mobil mereka.


Finnian dan Chloe menatap sesaat beberapa mobil polisi itu kemudian saling pandang.


"Akhirnya bantuan datang juga," Kata Finnian.


"Iya, Tapi sedikit telat," Sahut Chloe.


Finnian mengangguk lalu memandang punggung Ezra yang membelakangi mereka, Ia berbisik pelan pada sang gadis disampingnya.


"Kau kenal sama orang ngeselin ini?"


"Pak Ezra, Dia bosku di kantor," Balas Chloe ikut berbisik.


"Serius?" Finnian agak terkejut lalu menjauhkan dirinya dari Chloe, Sadar kalau Ezra melirik mereka dari kaca spion.


"Pirang, Kau minta turunin dimana?" Suara Ezra menginterupsi obrolan Finnian dan Chloe.


"Didepan sana aja, Kita juga udah jauh dari Cafe itu kan?"


"Hm..."


Perlahan Ezra menepikan mobilnya tepat didepan halte bus. Finnian segera melepas seatbelt nya dan turun dari mobil. Chloe melambai pelan pada Finnian.


"Hati-hati ya kak Finni,"


"Iya, kalian juga hati-hati," Finnian membalas lambaian Chloe.


Mobil kembali melaju meninggalkan Finnian disana. Ezra kembali melirik Chloe dari kaca spion.


"Pak, Kita mau kemana sekarang?"


"Ke kantor, Aku tidak yakin jika kita pulang sekarang ke asrama akan aman. Saat ini para jubah merah itu sedang berkeliaran, Dan juga sudah terlalu malam untuk pulang," Tatapan Ezra terfokus pada jalanan sepi di depannya. "Telpon Aiden, Beritahu dia kalau kita akan menginap di kantor,"


"Baik,"


Chloe mengutak-atik jam arlojinya untuk memberitahu Aiden sesuai perintah Ezra. Tak lama vidio call nya terhubung dengan Aiden diseberang sana.


"Aiden, Situasinya sedang gawat," Kata Chloe tanpa basa-basi.


"Gawat kenapa?"


"Orang-orang berjubah merah menyerang Cafe tempat aku bertemu dengan temanku, Kami hampir mati. Untung Pak Ezra ada disana menolong kami,"


"Apa yang mereka lakukan?" Aiden terlihat mengerutkan alis diseberang sana.


"Mereka merampok beberapa barang berharga orang-orang disana, Dan mengancam akan membunuh kami jika tidak memberikannya,"


"Jubah merah ya...Red Devil, Itu adalah nama kelompok mereka. Bisa dibilang mereka adalah musuh dari Black Devil yang dipimpin Devian. Identik dengan jubah merah adalah ciri khas kelompok mereka," Jelas Aiden datar.


"Hah? Jadi selama ini kau tahu tentang mereka Aiden?! Selama ini mereka sudah meresahkan masyarakat sekitar,"


"Aku tidak banyak tahu tentang mereka, Aku hanya tahu dari gosip yang beredar. Akan sangat sulit menangkap mereka, Untuk sekarang kita cuma harus waspada saja,"


"Apa kalian akan pulang?"


"Pak Ezra bilang kami akan menginap dulu di kantor, Tidak aman kalau pulang malam-malam begini. Apalagi tempat yang dilewati itu sepi,"


"Lebih baik begitu,"


Chloe mengangguk setuju, Saat dirinya asyik ngobrol dengan Aiden tiba-tiba mobil berhenti secara mendadak membuat Chloe terkejut dan kepalanya membentur belakang kursi didepannya. Dan telponnya dengan Aiden terputus.


CCKIITT!


DUK!


"Aww!" Chloe meringis sambil mengusap keningnya.


Ia memandang punggung Ezra sesaat. "Pak, Kenapa berhenti?"


"Ada batang pohon yang menghalangi jalan," Ezra menatap batang pohon yang menghalangi perjalanan mereka, Pohon kecil itu terlihat tumbang.


Chloe ikut menatap didepannya dan menyadari bahwa jalan yang mereka lewati bukan jalan yang biasanya Chloe kenal, Otomatis ia agak panik.


"Tunggu Pak, Ini kok jalannya beda. Bukan jalan yang biasanya aku lewati,"


"Ini jalan memutar, Jalan yang biasa sedang masa perbaikan dan ditutup. Apa kau tidak lihat tadi pagi banyak transportasi berat di depan kantor?"


"Iya, sih. Cuma aku gak tau kapan ditutup jalannya. Ternyata sore tadi,"


"Hm...Baru saja ditutup setelah aku pergi,"


"Memangnya bapak tau jalan sini? Agak sepi ya,"


"Pernah lewat dua kali,"


Setelahnya Ezra melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil untuk memindahkan batang pohon yang seukuran tubuh manusia agar tak menghalangi jalan.


BLAM!


Sedangkan Chloe memilih memandangi sisi-sisi jalanan yang hanya terdapat pepohonan, Rumah-rumah warga juga ada namun sedikit jauh dari posisi mereka.


Disisi Ezra. Pemuda bersurai hitam itu sesaat menendang batang pohon dengan kakinya.


"Tidak terlalu berat, Aku bisa mengangkatnya sendiri,"


Ezra bersiap memindahkan batang pohon tersebut tapi sebuah pisau tiba-tiba meluncur ke arah nya yang berasal dari balik rimbunan pepohonan.


SRET!


Ezra lantas menghindar sadar bahwa mereka diserang, Ia berbalik ingin bergegas menuju mobil. Tapi sebuah batang kayu mengayun ke kepalanya dengan keras, Membuat tubuhnya terhuyung hampir jatuh.


BRAK!


"Akh...!"


Seseorang dibelakang Ezra dengan sigap menutup hidung sang pemuda dengan kain yang sudah diberi obat bius sebelumnya, Ezra memberontak marah ia berusaha melepaskan kain itu.


Disisi Chloe, Gadis bersurai itu tersentak saat mendengar suara perkelahian didepannya. Netra biru miliknya membulat terkejut melihat Ezra yang jatuh pingsan karna ulah sosok berjubah merah disamping Ezra.


"Pak Ezra!"


Chloe panik dan berusaha membuka pintu mobil untuk keluar dari sana. Guncangan di mobil terasa oleh sang gadis, Ia menoleh kesampingnya dan semakin terkejut karna dua orang dari kelompok Red Devil memasuki mobil.


Yang satu di depan kemudi dan satu lagi berada di samping Chloe.


"Tiga anggota Red Devil sekaligus?!" Pikirnya terkejut.


"Diam! Jangan bergerak!" Ancam salah satu jubah merah itu mengacungkan pistolnya di depan wajah sang gadis.


Sejenak Chloe memilih diam tapi beberapa detik kemudian ia menggigit tangan salah satu jubah merah itu dengan keras hingga meninggalkan bekas.


"Aarrggghh...! Tanganku! Cewek sialan!"


Tanpa membuang waktu Chloe menendang wajah anggota Red Devil dengan keras hingga tersungkur dan ia berhasil keluar dari sana. Buru-buru Chloe mendekati Ezra yang masih pingsan.


"Pak! Pak Ezra!" Dengan panik Chloe menepuk-nepuk pipi Ezra agar terbangun.


"Hei! Jangan lari kau!"


anggota Red Devil mengejarnya, Lantas Chloe menghubungi Aiden dengan jam arlojinya secepat kilat.


"Chloe, Tadi kenapa–"


"Aiden, Tolong kami–"


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Chloe merasakan sebuah kain menutupi hidungnya hingga membuat Chloe sulit bernapas.


BBRRUUKK!

__ADS_1


"Chloe?!"


TBC


__ADS_2