
Kuliah hari ini tidak ada yang menarik menurut Chloe, Seperti biasa hanya ada Mos di hari kedua. Entah apa saja yang diperintahkan kakak tingkat mereka, Jadi untuk hari ini Chloe kembali pulang cepat.
Selesai kuliah dia langsung memesan taksi dan segera menuju kantor Justin, Sejujurnya Chloe penasaran bagaimana keadaan Raizel dan Ian. Dia belum menanyakan kabar keduanya sejak tadi pagi.
"Chloe,"
Panggilan Holy membuyarkan lamunan gadis bersurai biru itu, Sesaat Netra birunya melirik Holy yang berada di pundaknya.
"Hm...Apa?"
"Ada misi nih dari Program,"
"Serius!? Misi Apa?"
"Buatin kue buat semua anggota Asrama, Hadiahnya aku bakalan Revolusi lagi jadi semakin kuat plus Kau dapat tambahan uang 2000 $," Kata Holy sambil makan permennya.
Seketika Chloe pikir ulang, Hadiahnya sih gak apa-apa tapi misinya itu kayaknya agak sulit. Dia mungkin harus minta izin ke Aiden dulu buat gunain dapur. Soalnya Aiden itu gak suka kalau ada yang pake dapur seenaknya tanpa izin darinya.
"Oke lah, Nanti aku buatnya pas pulang kerja aja," Balas Chloe sambil mengangguk kecil.
Tak lama taksi akhirnya sampai di halaman depan kantor, Chloe segera keluar dari sana tak lupa bayar ongkosnya. Dia menutup pintu taksi secepatnya.
BLAM!
Kakinya segera melangkah memasuki area dalam kantor, Menuju lift yang lenggang tanpa banyak karyawan berdiri disana. Chloe segera masuk lift dan menekan tombol lantai 8.
Pintu lift pun perlahan menutup lalu mulai naik ke atas, Sambil menunggu Chloe menyandarkan pungungnya di dinding lift.
TING!
Sang gadis melengokkan kepalanya menatap pintu lift yang perlahan terbuka lalu melangkah keluar dari sana menuju ruang staff OG.
CKLEK!
"Selamat siang Kak Gracia," Sapa Chloe usai buka pintu Staff dan menemukan Gracia yang sedang sarapan sebelum mulai kerja, Lengkap dengan seragam OG nya.
"Oh, Selamat siang Chloe. Ayo sarapan dulu sebelum kerja," ajak Gracia ramah sambil mengunyah rotinya.
"Iya kak, Tapi aku mau ganti seragam dulu,"
"Oke, silakan saja,"
Chloe bergegas menuju toilet dan mengganti seragamnya, Dia juga mengikat rambutnya poni tail dan pakai ID Cardnya. Usai ganti seragam, Dia keluar dari toilet. Dan menemui Gracia yang masih sarapan.
"Kak Gracia, Kakak udah berapa lama kerja disini?" Tanya Chloe sambil duduk berhadapan dengan Gracia, Dia ngambil bekalnya dari dalam ransel dan memakannya.
"Hm...Baru 1 tahun sih, Kakak juga baru jadi OG magang disini," Gracia yang selesai makan langsung minum air mineralnya.
"Oh, Artinya Kak Gracia udah banyak pengalaman dong disini?"
"Enggak juga, lumayan lah. Emangnya kenapa?"
"Hehehe, Aku penasaran aja. Galak-galak gak para karyawan disini?" Bisik Chloe pelan.
"Sebagian sih, Kalau kerjanya bener. Mereka gak marah-marah,"
"Oh, Untunglah. Aku masih magang disini, Jadi masih perlu bimbingan," Kata Chloe lega usai menghabiskan bekalnya. Dia kemudian minum air mineralnya.
"Hahaha, Tenang aja. Kakak bakal bimbing Chloe kok kalau ada yang gak paham," Gracia tertawa kecil sambil nyenggol lengan Chloe pelan.
"Iya, Kak,"
"Udah selesai kan? Ayo saatnya kita kerja," Kata Gracia antusias.
Chloe hanya ngangguk dan mengikuti Gracia keluar dari ruang staff.
**************
[Lantai 3]
Di lantai 3 ini khusus Kantin dimana para karyawan biasanya mengistirahatkan diri setelah kerja seharian, Saat ini banyak para karyawan hilir mudik disana bahkan beberapa meja sudah penuh oleh para karyawan.
Suara hiruk pikuk disana tidak membuat Chloe terganggu, Dia bersama Gracia sedang membantu OG lain melayani para karyawan.
Dengan tenang Chloe mengelap salah satu meja yang sudah kosong, Dia juga membereskan sisa piring dan gelas di meja itu lalu meletakkannya di wastafel.
__ADS_1
Perlahan Chloe mencuci alat makan satu persatu, Gracia bahkan sibuk melayani karyawan lain. Sedangkan OG lainnya sibuk hilir mudik mengantar pesanan dan masak.
PRANG!
Chloe tersentak saat pendengarannya menangkap suara sesuatu yang pecah. Tak lama suara bentakkan seseorang terdengar di luar sana.
"Kau punya mata gak sih!? Apa kau tidak lihat ada orang disini!? Kau membuat pakaianku kotor!"
"Maafkan saya Pak, Saya sungguh gak sengaja,"
Chloe segera mematikan air keran lalu mengeringkan tangannya, Dia bergegas keluar dari dapur kantin untuk melihat apa yang terjadi.
"Kalau gak bisa bawa nampan ya gak usah bawa! Kau mau dipecat hah!?"
"S-Saya benar-benar minta maaf Pak," Nada suara perempuan itu mulai bergetar menahan isak tangis.
Seisi kantin hanya bisa terdiam memandangi kejadian itu, Tak ada satupun karyawan yang berani menyela atau menengahi dua orang yang jadi pusat perhatian itu.
Sejenak Chloe terdiam menatap dua orang yang berada di tengah-tengah kantin dan menjadi pusat perhatian, yang satu Ezra si Road Manager dan satu lagi karyawan perempuan yang Chloe gak tahu kerja di bagian mana.
"Benar apa yang dikatakan Kak Gracia. Pak Ezra hanya kalem dan tenang jika didekat Pak Justin, Sedangkan di luar itu dia akan mudah emosional," Pikir Chloe masih menatap kejadian itu.
Lamunannya buyar ketika Ezra kembali membentak perempuan itu.
"Aku tidak butuh minta maafmu. Awas saja kalau kau mengulanginya lagi!" Bentak Ezra marah, Dia sudah tak berselera lagi menghabiskan sarapannya.
Dengan jengkel dan marah Ezra melangkah pergi meninggalkan area kantin. Usai kepergian Ezra para karyawan berbisik-bisik yang pastinya masih bisa Chloe dengar. Bahkan sekilas Chloe melihat perempuan yang dibentak Ezra tadi tersenyum sinis.
"Hihihi rasain tuh, Kena batunya kan si Pak Ezra," Bisik karyawan lelaki pada temannya.
"Iya, Jadi orang belagu banget sih,"
"Sejak awal aku juga gak suka sama sikap dia,"
"Iya, Udah kasar dan emosional lagi,"
"Memangnya dia siapa? Belagu banget ya. Padahal dia cuma beruntung diangkat jadi tangan kanan Pak Ceo karna mereka sahabat,"
"Pastinya dia pakai cara curang biar jabatannya lebih tinggi dari kita,"
Begitulah bisikan-bisikan yang terdengar dari beberapa karyawan di kantin, Chloe hanya berdiam diri tampak berpikir.
Gadis bersurai biru itu bergegas mendekati Gracia yang juga melihat kejadian tadi.
"Kak Gracia, Aku pergi dulu ya. Mau mengerjakan tugas di lantai lain," Seru Chloe cepat sambil berlari menjauh keluar dari kantin tanpa menunggu jawaban Gracia.
TAP! TAP! TAP!
Gracia yang baru sadar tersentak dan berteriak kecil memanggil Chloe. "Eh! Eh! Chloe mau kemana!? Tugas di sini belum selesai!"
Teriakan Gracia tak dihiraukan Chloe karna sang gadis udah keburu pergi menjauhi kantin.
**************
Chloe bergegas naik lift dan menekan-nekan tombol lantai 12 karna sekilas dia ngeliat Ezra menuju lantai itu. Dia ingin tahu, Pasti pelaku yang berpura-pura sebagai Staff kantor ada hubungannya dengan Ezra dan berimbas pada perusahaan Justin dan Asrama mereka.
TING!
Dengan secepat kilat Chloe keluar dari lift sebelum pintu lift terbuka sepenuhnya, Netranya melirik kanan kiri mencari keberadaan Ezra sebelum dia kehilangan jejak sang pemuda.
Langkah kakinya terus berjalan menelusuri lantai yang ditempatinya, Melewati pintu-pintu yang tertutup rapat. Hingga akhirnya dia mendengar suara seseorang di balik salah satu pintu.
Dengan penasaran sang gadis membuka pintu secara perlahan dan mengintip ke dalam ruangan tersebut, Dia melihat Ezra tampak marah-marah ke salah satu OB (Office Boy) yang bertugas membersihkan ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan!? Aku baru meninggalkannya sebentar, Dan rumus yang sudah kukerjakan susah payah kau hapus!? Kau itu becus kerja gak sih!"
"M-Maaf Pak," Kata OB itu ketakutan dengan keringat dingin mengalir di keningnya.
Bahkan Chloe yang hanya mengintip dari luar juga bisa merasakan aura mencekam dan mengerikan dari Ezra. Pria itu selalu terlihat memiliki aura seram dimana pun dia berada.
"Maaf Maaf! Hanya itu yang bisa kalian katakan! Keluar dari sini!" Ezra benar-benar sangat marah sekarang, Bukan hanya aura seram yang dia keluarkan tapi juga aura berapi-api.
Seketika dengan panik dan takut OB itu segera lari keluar dari ruangan tersebut,Takut membuat Ezra semakin ngamuk. Untung Chloe sempat menyingkir dari pintu dan sembunyi agar tak ketahuan sebelum OB itu keluar.
Kini tinggalah Ezra sendiri di ruangan itu, Dia tampak sangat marah sampai-sampai melempar papan tulis yang dia pakai tadi buat tulis rumus ke sembarangan arah.
__ADS_1
BBRRAAKK!
Papan tulis itu menghantam lantai hingga terbelah dua saking kencangnya papan tulis itu dilempar.
"Arrrgghhh, Sialan! Kerjaan mereka semua gak ada yang becus! Seharusnya orang-orang seperti itu tidak diterima kerja disini!"
BBRRAAKK!
Kali ini Ezra meninju kencang tembok keras di depannya hingga retak dengan satu tangan. Chloe sampai tercengang di buatnya.
"Buset, Pak Ezra ngamuknya gak kira-kira. Temboknya sampai retak gitu, Apa tangannya gak sakit ya?" Pikir Chloe spcheless masih tercengang.
Sang gadis akhirnya merasa ragu mendekat ke Ezra, Sangat terlihat jelas bagaimana emosi Ezra saat ini tidak terkendali. Chloe takutnya kemarahan Ezra akan berimbas padanya.
Setelahnya ruangan itu menjadi hening tanpa ada satu pun suara lagi, Mungkin Ezra sudah lelah melampiaskan kemarahannya pada benda yang tak bersalah. Yang Chloe lihat sekarang, Kepala Ezra tertunduk lesu. Bahkan kepalan tangannya meneteskan darah bekas mukul tembok.
"Mungkin saat ini lebih baik jangan dekati Pak Ezra dulu. Dia keliatan Depresi banget tadi," Kata Holy yang terbang disamping kepala Chloe.
"Tapi kayaknya aku ngerasa kasihan sama Pak Ezra, Dia diam-diam dibenci para karyawan lain karna sikap kasarnya itu," Bisik Chloe pelan, Menatap prihatin Ezra dari balik pintu yang untungnya punya jendela kecil di depannya.
"Untuk apa ngerasa kasihan? Orang yang memiliki sikap kasar seperti itu tidak perlu dikasihani," Balas Holy cuek, Dia sejujurnya juga ngerasa sebal dengan sikap kasar Ezra.
Chloe memilih diam tak menyahut lagi, Dia merogoh sesuatu di saku celana seragam OG nya. Sebuah perban yang sengaja dia simpan untuk berjaga-jaga kalau dirinya terluka saat kerja.
CKLEK!
Perlahan Chloe memasuki ruangan tersebut mendekati Ezra yang tertunduk lesu. Langkahnya terhenti berjarak beberapa meter dari sang pemuda.
"Pak Ezra,"
Sesaat Ezra melirik tajam pada Chloe yang berada di belakangnya. "Mau apa kau kesini!? Mau menertawakan kondisiku huh!?"
Ezra berbalik menghadap sang gadis, Menatap dingin tanpa ekspresi. Sedangkan Chloe menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Pak, Kedatangan saya kesini untuk memberikan perban ini. Bapak pasti membutuhkannya," Chloe menyodorkan perban miliknya tepat di hadapan Ezra.
Ezra hanya menatap perban di tangan Chloe dalam diam, tatapannya begitu tajam bak elang lalu dengan cepat salah satu tangannya menepis tangan Chloe hingga perban itu jatuh dan terlempar jauh.
SYUTTT!
PLAK!
"Jangan sok baik! Aku gak butuh apapun darimu! Aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak suka padamu. Jadi jangan pernah dekat-dekat denganku lagi!" Kata Ezra sinis.
Gadis bersurai biru itu hanya menatap perbannya yang terjatuh dalam diam, Menatap Ezra sesaat lalu dia mengambil kembali perbannya di lantai. Ezra hanya menatap gerak-gerik Chloe dengan tatapan tajamnya seperti biasa.
"Aku tidak pura-pura sok baik, Ini murni karna aku ingin bantu Pak Ezra. Tapi kalau Pak Ezra gak ingin menerima pemberianku, Aku juga gak masalah. Namun aku cuma berharap Pak Ezra tidak lagi membenciku dan kita bisa bekerja sama seperti partner pada umumnya," Kata Chloe dengan senyum tulus.
Ezra melotot sesaat, Dia mendekat dengan cepat bersama aura suram dan mengerikan miliknya.
GREP!
Ezra menarik kerah seragam OG milik Chloe kasar hingga wajah keduanya hampir berdekatan, Dan membuat Chloe harus mendongak menatap Ezra.
"Kerja sama denganmu dan kau ingin aku tidak membencimu lagi!? Jangan mimpi! Sejak awal aku tidak sudi kerja sama dengan bocah tengil sepertimu. Satu-satunya pengganggu dalam hidupku adalah Kau! Jadi jangan harap aku akan bersikap baik padamu!" Bentak Ezra marah.
Pemuda bersurai hitam dengan netra hijau itu mendorong Chloe kencang hingga membuat sang gadis jatuh menghantam lantai.
BBRRUUKK!
"Ukh....!" Sesaat Chloe merasakan kaki kirinya berdenyut sakit, Gadis bersurai biru itu memegangi pergelangan kakinya yang berdenyut.
Namun Ezra dengan acuh meninggalkan sang gadis sendirian tanpa mau membantu sama sekali, Dia menutup pintu dengan kencang.
BLAM!
"Pak Ezra, Tunggu!" Chloe berniat menyusul Ezra, Dia berusaha berdiri namun pergelangan kaki kirinya sangat sakit untuk digerakkan.
"Chloe! Jangan bergerak! Coba lihat kakimu dulu," Peringat Holy panik.
Chloe melihat kaki kirinya seperti saran Holy. Tampak bekas memar merah di sana sepertinya kaki kirinya keseleo. Kemungkinan karna dorongan kencang dari Ezra.
"Ini hanya memar, Aku masih bisa berjalan sampai ke ruang kesehatan kok," Kata Chloe berusaha menenangkan Holy yang panik.
"Apanya yang hanya memar!? Itu bisa jadi bengkak tau! Jangan dipaksakan,"
__ADS_1
Chloe menggeleng pelan, Dia tidak mendengarkan Holy. Akhirnya dengan susah payah Chloe melangkah keluar dari sana menuju ruang Kesehatan meski dengan kaki kiri yang keseleo.
TBC